BAB II. KETERLIBATAN KAUM MUDA DALAM HIDUP
B. Kaum Muda Katolik Dalam Hidup Menggereja
3. Keterlibatan Kaum Muda dalam Hidup Menggereja
Keterlibatan kaum muda dalam Gereja pada umumnya sama dengan
peranan kaum awam yaitu sebagai warga Gereja yang tidak ditahbiskan atau
orang-orang yang beriman kristen yang oleh pembaptisan menjadi
anggota-anggota Tubuh Kristus. Keterlibatan kaum muda dalam Gereja diharapkan agar
perkembangan Gereja ke depannya dapat lebih hidup, sehingga Gereja ke
depannya terus berkembang.
Pada bagian ini penulis akan memaparkan mengenai beberapa peranan
kaum muda dalam Gereja antara lain; terlibat dalam perayaan (Liturgi), terlibat dalam tugas pewartaan (Kerygma), terlibat dalam tugas paguyuban (Koinonia),
terlibat dalam pelayanan (Diakonia) dan, terlibat dalam tugas kesaksian (Martiria).
a. Terlibat dalam Perayaan (Liturgi)
Konsili Vatikan II menyebut Gereja sebagai “persekutuan iman, harapan
dan cinta” (LG 8), “persekutuan orang yang menerima Yesus dengan iman dan
cinta kasih” (GS 32). Maka sesungguhnya Roh Kuduslah yang menciptakan
persekutuan umat beriman dengan menghimpun mereka dalam Kristus, sebagai
prinsip kesatuan Gereja (UR 2) sebab oleh Roh Kudus “ Kasih Allah dicurahkan
ke dalam hati kita” (Rm 5:5) konsili mengajarkan bahwa Gereja dibentuk karena
“perpaduan unsur manusiawi dan Ilahi” (LG 8). Kesatuan Gereja bukan hanya
karya Roh Kudus, tetapi juga hasil komunikasi antarmanusia, khususnya
perwujudankomunikasi imandiantara para anggota Gereja. Komunikasi ini terjadi terutama dalam perayaan iman. Maka dikatakan bahwa “penampilan Gereja yang
istimewa terdapat dalam keikutsertaan penuh dan aktif seluruh umat kudus Allah
dalam perayaan liturgi” (SC 41), dan Gereja sendiri disebut “persekutuan
keimanan” (LG 11) khususnya “persekutuan di sekitar altar” (LG 26).
Liturgia (perayaan) adalah segala bentuk kegiatan ibadat kepada Tuhan yang dilakukan oleh umat, baik secara pribadi ataupun bersama baik sakramen
maupun yang bukan sakramen. Liturgi bukan merupakan tontonan, melainkan
perayaan. Melalui perayaan itu sebagai pengungkapan iman Gereja, orang
mengambil bagian dalam misteri yang dirayakan. Tentu saja bukan hanya dengan
partisipasi lahiriah. Yang pokok adalah hati yang ikut menghayati apa yang
Demikianlah halnya dengan orang muda sebagai anggota Gereja perlu
terlibat aktif dalam seluruh perayaan liturgi Gereja. Keterlibatan itu dapat
diwujudkan dengan menjadi peserta liturgi, petugas liturgi atau pun
penanggungjawab liturgi (menjadi petugas misdinar, koor, lektor, organis, dirigen,
petugas kolektan dan keamanan selama perayaan liturgi berlangsung). Peran serta
dan keterlibatan kaum muda akan memberikan warna bagi gerak hidup Gereja.
Oleh karena itu, kaum muda dituntut berperan aktif dalam setiap perayaan ekaristi
yang berlangsung guna menampakkan dan mengembangkan imannya kepada
Kristus bagi sesama. Dalam hal ini ajaran Konsili Vatikan II menjelaskan bahwa:
“Umat beriman janganlah menghadiri misteri iman sebagai orang luar atau penonton yang bisu, melainkan sedemikian rupa sehingga melalui upacara dan doa-doa mereka memahami misteri itu dengan baik, dan ikut-serta penuh khidmat dan secara aktif. Hendaknya mereka dengan rela hati menerima pelajaran dari sabda Allah, disegarkan oleh santapan Tubuh Tuhan, dan bersyukur kepada Allah” (SC 48).
Liturgi juga bukanlah upacara perorangan, melainkan perayaan bersama. Liturgi
merupakan perayaan bersama dari seluruh anggota Gereja sebagai sakramen
kesatuan. Karena itu kehadiran dan keterlibatan masing-masing kaum muda
merupakan sikap yang menunjang keberhasilan dari perayaan itu sendiri. Karena
kaum muda terdiri dari beranekaragam orang dan fungsi, maka keterlibatan kaum
muda dalam berliturgi juga beranekaragam sesuai dengan fungsinya. Artinya,
meskipun liturgi merupakan perayaan seluruh gereja, liturgi merangkum
keterlibatan berbagai peran dan tingkatan yang sebenarnya melayani satu
kepentingan yakni pembangunan tubuh Kristus. Dasar keterlibatan kaum muda ini
adalah rahmat Imamat yang dimiliki setiap orang berkat sakramen baptis dan
bukan sekedar untuk membantu imam, tetapi merupakan pelaksanaan imamat
umum semua umat.
b. Terlibat dalam Pewartaan (Kerygma).
Kerygma adalah segala bentuk pewartaan, pengajaran iman dan komunikasi iman untuk saling meneguhkan, berbagi pengalaman iman dan saling
meluruskan pandangan iman. Setiap orang yang menerima pewartaan Kristus
mengemban tugas pewartaan seperti yang telah diperintahkan oleh Yesus kristus.
Pewartaan Injil adalah tugas setiap orang Kristen (LG 16-17). Pewartaan
hendaknya diterima dalam arti luas dan tidak terbatas hanya pada homili,
pelajaran agama ataupun pendalaman Kitab Suci saja. Pewartaan hendaknya
selalu kita bawa dalam kehidupan kita sehari-hari. Oleh karena itu, seluruh umat
beriman dalam hal ini adalah kaum muda diharapkan bekerjasama dalam karya
pewartaan Injil khususnya dalam lingkup karya dan kehidupan keluarga mereka
(Suharyo, 1995: 57).
Dalam injil Matius, Yesus bersabda; Pergilah, ajarilah semua bangsa, dan
baptislah mereka atas nama Bapa dan Putera dan Roh Kudus, dan ajarilah mereka
menaati segala sesuatu yang telah Kuperintahkan kepadamu Dan ketahuilah Aku
menyertai kamu senantiasa sampai akhir zaman (Mat, 28: 19-20)”. Kaum muda
sebagai anggota dan harapan Gereja diharapkan untuk dapat mewartakan segala
sesuatu yang telah Yesus perintahkan kepadanya untuk semua orang. Pewartaan
dilaksanakan agar orang mengenal Kristus, percaya kepada Kristus, dan
imannya akan Yesus Kristus, pengantara Allah yang bersabda kepada kaum muda
dan pengantara kaum muda untuk menanggapi sabda Allah. Dengan terlibatnya
kaum muda dalam tugas pewartaan diharapkan kaum muda mampu
menumbuhkan dan memperkembangkan imannya lewat pewartaan baik bagi diri
secara pribadi maupun orang lain.
Kaum muda yang merupakan bagian dari Gereja juga memiliki tugas dan
tanggungjawab untuk meneruskan pewartaan tentang Kristus. Kaum muda
diharapkan untuk dapat meningkatkan keterlibatannya dalam Gereja salah satunya
adalah dengan ikut ambil bagian dalam tugas pewartaan gereja misalnya
mengikuti katekese, doa lingkungan atau sebagai pendamping PIA (pendidikkan
iman anak), (Bagiyowinardi, 2003: 134). Dalam menampakkan dan mewujudkan
iman tersebut kaum muda harus memiliki kesadaran dan tanggung jawab sosial
bersama, dengan demikian mereka bersedia menanggalkan keinginan diri untuk
bersama yang lain berbuat sesuatu demi masa depan Gereja. Karya pewartaan
iman merupakan hal yang mendasar untuk perkembangan iman kaum muda. Oleh
karena itu kaum muda diharapkan untuk dapat terlibat dalam mewartakan sabda
Allah baik itu di lingkungan keluarga, sekolah, tempat bekerja, masyarakat dan
Gereja (Bagiyowinardi, 2003: 134).
c. Terlibat dalam Paguyuban (Koinonia)
Koinonia adalah segala usaha untuk semakin mewujudkan dan mengukuhkan persaudaraan murid-murid Kristus dengan saling membantu,
kesejahteraan bersama dalam komunitas. Paguyuban merupakan bentuk
persekutuan atau kebersamaan keanekaragaman umat yang disatukan oleh iman
akan Yesus Kristus dalam batas teritorial atau kategorial tertentu untuk
mewujudkan misi Yesus Kristus yang menghadirkan Kerajaan Allah. Dengan
demikian, paguyuban terutama adalah persekutuan orang-orang yang menghayati
pengalaman mistik, yaitu pengalaman persatuan mesra dengan Allah yang
diwujudkan dalam bentuk keterlibatan konkrit (ARDAS KAS, 2005: 7).
Dalam 1 Kor 15:57-58, Santo Paulus menyampaikan nasihatnya “syukur
kepada Allah, yang telah memberikan kepada kita kemenangan oleh Yesus
Kristus, Tuhan kita. Karena itu, saudara-saudaraku yang terkasih, berdirilah teguh,
jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa
dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia” (1 Kor 15:57-58).
Sebagai orang muda katolik yang memiliki semangat dan kreativitas yang
tinggi, sudah seharusnya kaum muda dapat berdiri teguh, tidak goyah dan giat
dalam setiap pekerjaan Tuhan. Kaum muda juga harus mampu melibatkan diri
dalam setiap kegiatan dan usaha yang dilakukan oleh Gereja guna meningkatkan
kreativitas dan masa depan Gereja yang lebih mapan. Beberapa contoh paguyuban
yang dapat diikuti kaum muda dalam kegiatan hidup menggereja antara lain
adalah terlibat dalam kelompok teritorial (wilayah atau lingkungan), selain itu
Gereja juga mempunyai wadah paguyuban dalam kelompok kategorial
berdasarkan kekhasan atau minat setiap orang seperti Legio Maria, Orang Muda
Panggilan dan perutusan Gereja sebagai paguyuban menuntut para
anggotanya untuk menjadi pribadi yang lebih matang. Pribadi yang matang
melihat segala sesuatu dalam terang rencana Allah yang hendak menyelamatkan
dunia. Sifat-sifat pribadi yang matang tampak antara lain pada sikap percaya diri
yang bertumpu pada Tuhan, kreatif dalam keterbukaan pada bimbingan Roh, serta
berani dalam memperjuangkan tugas panggilan dan perutusan hidupnya. Dengan
kata lain, kaum muda sebagai pribadi yang matang menyadari dan
mengembangkan semua karunia Allah bagi kehidupan bersama menurut semangat
kasih. Hidup bersama dalam iman, harapan dan kasih menjadi karunia bagi kaum
muda untuk mampu mengenali kehendak Allah melalui penegasan bersama
seluruh paguyuban. Cara hidup yang demikian tentu akan berbuah bagi seluruh
kaum muda, masyarakat, dan memiliki daya pikat.
d. Terlibat dalam Pelayanan (Diakonia).
Diakonia(pelayanan) adalah segala bentuk pelayanan kepada semua orang yang membutuhkan pertolongan atau pelayanan. Umat beriman saling melayani
dan memperhatikan kebutuhan sesamanya, baik yang seiman maupun setiap orang
yang membutuhkan.
Gereja adalah persekutuan orang beriman atau komunikasi iman.
Pengungkapan iman saja tidak cukup, Gereja sendiri bukan tujuan. Tujuannya
adalah Kerajaan Allah, yang oleh Allah sendiri telah dimulai di dunia. Gereja
dipanggil untuk melayani manusia, seluruh umat masnusia. Oleh karena itu
panggilan Gereja yakni sebagai pelayan bagi sesama baik di lingkungan keluarga,
sekolah, masyarakat maupun di lingkungan Gereja (KWI, 1996: 444).
Diakonia hendaknya dimengerti dalam arti luas dan tidak hanya terbatas
pada bidang atau segi tertentu saja. Kaum muda Katolik dituntut supaya
mengembangkan sikap pelayanan, sebagai intisari sikap Kristus, bukan hanya
dalam orang yang melayani, melainkan juga dalam dia yang dilayani, membantu
orang supaya menyadari dan menghayati bahwa kemerdekaan itu adalah
kesempatan untuk melayani seorang dengan yang lain.
Salah satu sikap Kristus yang amat mencolok adalah penolakan-Nya
terhadap feodalisme atau masyarakat yang bertingkat-tingkat dengan
membedakan golongan orang. Gereja dipanggil untuk melayani manusia, seluruh
umat masnusia. Oleh karena itu sebagai orang muda katolik, sudah seharusnya
kaum muda mampu mengikuti panggilan Gereja yakni sebagai pelayan bagi
sesama baik di lingkungan keluarga, sekolah, masyarakat maupun di lingkungan
Gereja (KWI, 1996: 444). Dalam Injil Matius 20: 25-28 Yesus bersabda:
“Kamu tahu bahwa pemerintah-pemerintah para bangsa memerintah rakyat mereka dengan tangan besi dan pembesar-pembesar menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka, dan ingin disebut pelindung. Tidaklah demikian dengan kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar diantara kamu, hendaklah ia penjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin terkemuka diantara kamu, hendaklah ia menjadi hambamu. Aku ada ditengah-tengah kamu sebagai pelayan” (Mat 20: 25-28).
Sabat untuk manusia, dan bukan manusia untuk Sabat” (Mrk 2:27). Berpedoman
pada sabda Yesus itu kiranya dapat dikatakan bahwa bukan manusia untuk Gereja,
datanglah Kerajaan Allah dan terwujudlah keselamatan segenap bangsa manusia
(GS 45).
Bagi kaum muda dalam melaksanakan pelayanan hendaklah memiliki
ciri-ciri pelayanan seperti yang diperintahkan oleh Yesus kepada para murid-Nya
yaitu; selalu bersikap rendah hati sebagai “yang paling rendah dari semua dan
sebagai pelayan dari semua (Mrk. 9:35), kesetiaan kepada Kristus sebagai Tuhan
dan Guru: “dalam hal inilah Bapa-Ku dipermuliakan, jika kamu berbuah banyak
dan dengan demikian tampil sebagai murid-Ku (Yoh. 15: 8), mengambil bagian
dalam sengsara dan penderitaan Kristus, yang tetap senasib dengan semua orang
yang menderita; “segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari
saudara-Ku yang paling hina ini, kamu lakukan untuk Aku (Mat 25: 40).
Sebagai kaum muda yang memiliki kereativitas dan spiritualitas yang
tinggi, kaum muda diwajibkan untuk memiliki sikap dasar melayani dan bukan
untuk dilayani. Sikap dasar melayani kaum muda dapat dimulai dengan melayani
sesama kaum muda itu sendiri salah satu contohnya adalah menolong teman yang
sedang tertimpa musibah. Selain itu dalam melaksanakan tugasnya sebagai
pelayan, kaum muda hendaknya memiliki iman yang kokoh, artinya iman
merupakan pegangan utama untuk kaum muda dalam melayani sesama.
Iman yang mendalam harus diungkapkan dan harus diwujudkan dalam
kehidupan kaum muda sehari-hari. Salah satu bentuk sikap pelayanan yang dapat
dilakukan oleh kaum muda dalam kehidupan sehari-hari adalah dengan
memberdayakan mereka yang kecil, lemah, miskin, tersingkir dan difabel
kunjungan ke panti jompo dan anak asuhan, menolong mereka yang sedang
tertimpa musibah, dan menjenguk tetangga yang sedang tergolek karena sakit.
Sebagai anggota Gereja, begitu banyak kegiatan pelayanan yang bisa kita lakukan
sesuai dengan bakat, minat dan kemampuan yang dimiliki. Seberapa pun talenta
kita, bila dipersembahkan kepada Tuhan, niscaya akan menjadi berkat yang
berlimpah bagi banyak orang (Bagiyowinadi 2003: 136).
e. Terlibat dalam Kesaksian (Martiria)
Martiria atau kesaksian akan Kristus dapat dilakukan oleh siapa saja, kapan saja dan di mana saja. Artinya semua orang beriman, yang secara pribadi
memilih Kristus dan secara bebas berkumpul untuk lebih mengenal Kristus,
memahami Kristus, mengikuti Kristus serta mengimani Kristus. Kehendak Tuhan
untuk tempat dan situasi saat ini hendaknya kaum muda bawa dan teruskan,
terlebih melalui kesaksian hidup. Suasana kerajaan Allah adalah kejujuran,
kebenaran, keadilan, dan kasih. Itulah yang selalu Allah tanamkan kepada setiap
umatnya, tidak hanya berhenti di gereja saja, tetapi diteruskan juga di lingkungan
keluarga, tempat kerja, tempat kuliah, sekolah, lingkungan dan masyarakat.
Sehingga dengan melihat perbuatan kita yang baik, semua orang memuji Bapa di
Surga (Bagiyowinadi 2003: 137).
Meneladan St. Paulus, kaum muda harus memiliki tekat, niat dan juga
semangat dalam memberikan kesaksian akan Kristus. St. Paulus adalah seorang
yang mempunyai tekat, niat dan semangat yang tinggi dalam menemukan karya
mengembangkan pengetahuan dan pengalamannya dengan Allah. Ketika
berjumpa dengan Yesus, ia menemukan kepenuhan karya penyelamatan dari
Allah tersebut. Perjumpaan ini semakin meneguhkan komitmen hidupnya untuk
mewartakan karya penyelamatan Allah dan menggugah sekaligus mengubah
dunia, (ARDAS KAS 2005).
Kaum muda sebagai bagian dan masa depan Gereja hendaknya mampu
untuk dapat melibatkan diri dalam melaksanakan tugasnya untuk terus bersaksi
akan Kristus yang telah menyelamatkan umat manusia, terutama di lingkungan
sekitar kaum muda itu sendiri. Kaum muda dalam melaksanakan tugasnya sebagai
saksi iman akan Yesus Kristus mulai dari sekarang ini diharapkan agar cita-cita
dan masa depan Gereja ke depannya dapat semakin maju dan terus berkembang
sesuai dengan yang diharapkan serta menemukan kesempurnaan akan Allah itu
sendiri.
C. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KETERLIBATAN