• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. USULAN PROGRAM KATEKESE BAGI KAUM MUDA

4. Proses Katekese Kaum Muda dengan Model SCP

Dalam pelaksanaan katekese model SCP (Shared Christian Praxis) ini ada

lima langkah yang harus dilaksanakan yaitu: pertama, pengungkapan pengalaman

hidup faktual peserta, kedua refleksi kritis atas pengungkapan pengalaman hidup

faktual, ketiga mengusahakan supaya tradisi dan visi Kristiani lebih terjangkau,

keempat interprestasi atau tafsir dialektis antara tradisi dan visi Kristiani dengan

tradisi dan visi peserta, serta kelima keterlibatan baru demi semakin terwujudnya

Kerajaan Allah di dunia (Sumarno, 2006:18).

a. PengertianShared Christian Praxis(SCP)

Menurut Thomas GroomeShared Christian Praxis(SCP) adalah:

Suatu katekese yang bersifat dialogis partisipasif di mana orang-orang berefleksi secara kritis terhadap pengalaman hidup mereka sendiri pada suatu waktu dan tempat dan terhadap realitas sosiokultural mereka, mempunyai akses bersama ke dalam cerita atau visi dan mampu

mengambil keputusan demi terwujutnya nilai-nilai kerajaan Allah. Melalui pengertian ini dapat dipahami bahwa pengalaman hidup secara faktual itulah yang akan direfleksikan dan kemudian dikonfrontasikan dengan visi tradisi Kristiani, bagi seluruh ciptaan demi makin terwujudnya nilai-nilai Kerajaan Allah (Heryatno Wono Wulung, 1997: 1).

Jadi diharapkan pemilihan katekese model Shared Christian Praxis (SCP) dapat

menjadi salah satu alternatif pemecahan masalah yang terjadi dalam

penyelenggaraan pendampingan kaum muda di Paroki Kristus Raja Sintang.

Dengan demikian pemakaian model ini ingin menggarisbawahi

persoalan-persoalan yang sedang berkembang yang menyangkut persoalan-persoalan psikologis

maupun persoalan kaum muda, yang akan diolah secara bersama dan

dikonfirmasikan dengan Tradisi atau Visi Kristiani demi mewujudkan nilai-nilai

Kerajaan Allah.

b. Shared

Istilah shared menunjuk pengertian komunitas yang timbal balik, sikap

partisipasi aktif dan kritis dari semua peserta, terbuka (inklusif) baik untuk

kedalaman diri pribadi, kehadiran sesama, maupun untuk rahmat Tuhan. Dengan

demikian proses ini menekankan adanya proses yang menggarisbawahi aspek

dialog, kebersamaan, keterbukaan dan keterlibatan semua orang untuk mampu

menjadi peserta yang aktif dalam mengikuti proses dengan semangat

kebersamaan.

Semangat kebersamaan dalam berdialog sangat diperlukan supaya orang

yang berbicara dapat mengungkapkan pengalaman dirinya secara lebih leluasa dan

dan dapat saling melengkapi satu dengan yang lainnya (Heryatno Wono Wulung,

1997: 4). Untuk membicarakan atau mendengarkan merupakan dua hal pokok

yang sangat penting dalam proses katekeseShared Christian Praxis.

Membicarakan tidak berarti berbicara saja atau omong-omong terus

menerus tanpa memberi kesempatan kepada orang lain berbicara. Membicarakan

berarti menyampaikan apa yang menjadi kebenaran dan pengalaman kita secara

pribadi. Sedangkan mendengarkan berarti mendengar dengan hati dan rasa tentang

apa yang dikomunikasikan oleh orang lain. Oleh karena itu berbicara

membutuhkan suasana yang bersahabat, adanya keterbukaan dan yang

mendengarkan perlu siap untuk mendengarkan dengan sepenuh hati (Sumarno,

2007: 17).

c. Christian

Kata christian menekankan kesempatan untuk membuat jalan masuk bagi

peserta kepada tradisi atau visi Kristiani sepanjang zaman dan memberi peluang

kepada kaum muda untuk mengambil maknanya sehingga tradisi atau visi

Kristiani tersebut semakin relevan dengan situasi dan kondisi saat ini.

Tradisi Kristiani mencakup Kitab Suci, Liturgi, simbol, ritus, dogma,

pengakuan iman, riwayat hidup orang-orang kudus dan visi Kristiani dapat

diartikan sebagai cita-cita Kerajaan Allah (Sumarno, 2007: 17). Oleh karena itu

semua jemaat beriman khususnya kaum muda mengemban tugas mulia ini melalui

dialog ataupun komunikasi iman berdasarkan pengalaman hidup faktual yang

Kristiani yang terjadi sepanjang sejarah umat manusia sungguh menjadi milik

jemaat secara pribadi maupun secara kelompok (HeryatnoWono Wulung, 1997:

2).

d. Praxis

Praxis dalam pengertian model katekese ini bukanlah hanya suatu

“praktek” saja, tetapi suatu tindakan yang sudah direfleksikan. Praxis sebagai

perbuatan atau tindakan meliputi seluruh keterlibatan manusia dalam dunia, segala

sesuatu yang diperbuat oleh manusia dengan tujuan tertentu.Praxismengacu pada

tindakan manusia yang mempunyai tujuan untuk perubahan hidup meliputi

kesatuan antara praktek dan teori (yang membentuk suatu kreativitas), antara

refleksi kritis dan kesadaran historis (mengarah pada keterlibatan baru).

Praxis merupakan suatu praktek yang didukung oleh refleksi teoritis dan

sekaligus suatu refleksi teoritis yang didukung oleh praktek.Praxisini merupakan

ungkapan pribadi yang meliputi ungkapan fisik, emosional, intelektual, spiritual

dari hidup kita. Tindakan ini meliputi sesuatu yang kumiliki, kurasakan, kualami.

Sesuatu yang faktual dan bukan sesuatu yang teoritis, atau apa yang dikatakan

oleh orang tanpa pembuktian. Dalam peristilahan ini, Praxis masa kini meliputi

sesuatu yang terjadi di masa lampau, yang sedang terjadi dan sesuatu yang akan

terjadi di masa depan.

Praxis memiliki tiga unsur pembentuk yang saling berkaitan: aktivitas,

refleksi dan kreatifitas. Ketiga unsur pembentuk itu berfungsi untuk

Praxis baru yang dapat dipertanggungjawabkan secara etis dan moral (Sumarno,

2007: 23).

Secara ringkas, ketiga unsur itu dapat dijelaskan sebagai berikut:

1) Aktivitas meliputi mental dan fisik, kesadaran, tindakan personal dan sosial,

hidup pribadi dan kegiatan publik bersama yang merupakan medan masa kini

untuk perwujudan diri manusia. Karena bersifat historis, tindakan manusia

perlu ditempatkan dalam konteks waktu dan tempat tertentu.

2) Refleksi menekankan refleksi kritis terhadap tindakan historis pribadi dan

sosial pada masa lampau, terhadap Praxis pribadi dan kehidupan bersama

masyarakat serta terhadap “Tradisi” dan “Visi” iman Kristiani sepanjang

sejarah

3) Kreativitas merupakan perpaduan antara aktivitas dan refleksi yang

menekankan sifat transenden manusia dalam dinamika menuju masa depan

untukPraxisbaru.

e. Langkah-langkahShared Christian Praxis(SCP)

Dalam kedua bukunya Thomas H. Groome mengemukakan 5 (lima)

langkah pokok. Pada prinsipnya langkah-langkah dalam kedua buku tersebut tidak

jauh berbeda. Namun dalam buku yang kedua, Groome menyampaikan beberapa

perubahan, dan tetap mengemukakan 5 (lima) langkah pokok yang didahului

langkah 0, sebagai berikut:

1) Langkah 0 (Awal)

a) Tujuan:

Mendorong kaum muda (subyek utama) menemukan topik yang bertolak

dari kehidupan kongkret yang selanjutnya menjadi tema dasar pertemuan.

Dengan demikian tema dasar sungguh-sungguh mencerminkan

pokok-pokok hidup, keperihatinan, permasalahan, dan kebutuhan mereka.

b) Sarana

Bisa simbol, keyakinan, cerita, bahasa foto, poster, video, kaset suara, film,

telenovela, atau sarana lainnya yang menunjang peserta menemukan salah

satu aspek yang bisa menjadi topik dasar untuk pertemuan tersebut.

c) Pemusatan aktivitas, mengungkapkan apa?

Mengungkapkan keyakinan bahwa Allah senantiasa aktif mewahyukan diri

dan kehendak-Nya di tengah-tengah kehidupan manusia. Melalui refleksi,

sejarah manusia dapat menjadi medan perjumpaan antara pewahyu Allah

dan tanggapan manusia terhadap-Nya.

d) Petunjuk pemilihan tema dasar

Pertama, tema dasar hendaknya sungguh-sungguh mendorong peserta

(kaum muda) untuk terlibat aktif dalam pertemuan; kedua, pemilihan tema

dasar konsisten dengan model “Shared Christian Praxis” yang menekankan

partisipasi dan dialog; ketiga, tema dasar tidak bertentangan dengan iman

kristiani.

e) Tanggung jawab pembimbing, pertama menciptakan lingkungan psikologis

dan fisik yang mendukung (kondusif); kedua, memilih sarana yang tepat;

2) Langkah I (Pertama)

Pengungkapan pengalaman hidup faktual kaum muda (mengungkapkan

pengalaman hidup peserta)

a) Tujuan

Berdasarkan tema dasar, langkah ini membantu kaum muda untuk

mengungkapkan pengalaman hidup faktual.

b) Isi

Berdasarkan pengalaman kaum muda sendiri, atau kehidupan dan

permasalahan yang terjadi di dalam masyarakat.

c) Cara yang dipakai

“Sharing”, peserta membagikan pengalaman (to share) pengalaman hidup

yang sungguh-sungguh dialami dan tidak boleh ditanggapi sebagai suatu

laporan. Dalam dialog ini peserta boleh diam, karena “diam” pun

merupakan salah satu cara berdialog. “Diam” tidak sama dengan “tidak

terlibat”

d) Bentuk

Lambang, tarian, nanyi, puisi, pantonim, dan sebagainya. Yang penting,

bentuk tersebut dapat dimengerti oleh peserta lain dan betul-betul

mengungkapkan pengalaman hidup faktual.

e) Peran dan tanggungjawab pendamping

Pertama, berperan sebagai fasilitator yang menciptakan suasana pertemuan

menjadi hangat dan mendukung peserta untuk mebagikan praxis hidupnya

kelompok-kelompok kecil; kedua, merumuskan pertanyaan-pertanyaan yang

(1) jelas, (2) terarah, (3) tidak menyinggung harga diri seseorang, (4) sesuai

dengan latar belakang peserta, dan (5) bersifat terbuka dan obyektif

(misalnya: gambarkan, lukiskan, atau ceritakan apa yang anda temui, lihat,

dengar dan lakukan?).

f) Sikap pembimbing

Ramah, sabar, hormat, bersahabat, peka pada latar belakang keadaan dan

permasalahan peserta, katakan pada peserta bahwa mereka boleh memilih

pertanyaan yang cocok.

3) Langkah II (kedua)

Refleksi kritis atas sharing pengalaman faktual (mendalami pengalaman

hidup peserta)

a) Tujuan

Memperdalam saat refleksi dan mengantar peserta pada kesadaran kritis

akan pengalaman hidup dan tindakannya.

b) Tanggungjawab pembimbing

Pertama, menciptakan suasana pertemuan yang menghormati dan

mendukung setiap gagasan serta sumbang saran peserta; kedua,

mengundang refleksi kritis setiap peserta; ketiga, mendorong peserta supaya

mengadakan dialog dan penegasan bersama yang bertujuan memperdalam,

menguji pemahaman, kenangan, dan imajinasi peserta; keempat, mengajak

pertanyaan yang menggali tidak mengintrogasi dan mengganggu harga diri

dan apa yang dirahasiakan oleh peserta; keenam, menyadari kondisi peserta,

lebih-lebih mereka yang tidak bisa melakukan refleksi kritis terhadap

pengalaman hidupnya.

4) Langkah III (ketiga)

Mengusahakan supaya tradisi dan visi kristiani lebih terjangkau (menggali

pengalaman iman kristiani)

a) Tujuan

Mengkomunikasikan nilai-nilai tradisi dan visi kristiani agar lebih

terjangkau dan lebih mengena untuk kehidupan peserta yang konteks dan

latar belakang kebudayaan beriman.

b) Tradisi dan visi

Tradisi dan visi Kristiani mengungkapkan pewahyuan dari dan kehendak

Allah yang memuncak dalam misteri hidup dan karya Yesus Kristus serta

mengungkapkan tanggapan manusia atas pewahyuan tersebut. Sifat

pewahyuan Ilahi: dialogal dan menyejarah, normatif,, seperti terungkap

dalam Kitab Suci, dogma, pengajaran Gereja, liturgi, spiritualitas, devosi,

seni dalam Gereja, kepemimpinan, dan kehidupan jemaat beriman.

c) Peranan pembimbing

Untuk menafsirkan, pembimbing perlu: pertama, menghormati Tradisi dan

Visi Kristiani sebagai yang otentik dan normatif; kedua, cara dan isi tafsiran

dan Visi Kristiani menjadi miliknya; ketiga, menggunakan metode yang

tepat. Pembimbing bisa menggunakan metode kuliah, diskusi kelompok,

memanfaatkan produk-produk audio visual atau media murah; keempat,

bersifat tidak mendikte tetapi mengantar peserta pada pusat kesadaran, tidak

mengulang-ulang rumusan, tidak bersikap sebagai ‘Guru”; kelima, tafsiran

dari pembimbing mengikutsertakan kesaksian iman, harapan, dan hidupnya

sendiri; keenam, harus membuat persiapan yang matang dan studi sendiri.

5) Langkah IV (empat)

Interpretasi atau Tafsir Dialektis antara Tradisi dan Visi Kristiani dengan

Tradisi dan Visi Peserta (Menerapkan Iman Kristiani dalam situasi peserta

kongkret).

a) Tujuan

Mengajak peserta (kaum muda), berdasarkan Visi dan tradisi Kristiani,

menemukan bagi dirinya sendiri nilai hidup yang hendak digarisbawahi,

sikap-sikap pribadi yang picik yang hendak dihilangkan, dan nilai-nilai

hidup mereka ke dalam Tradisi dan Visi Kristiani, dilain pihak

mempersonalisasikan dan memperkaya dinamika Tradisi dan Visi Kristiani.

b) Apa yang terjadi?

Peserta mendialogkan hasil pengolahan mereka pada langkah pertama dan

kedua dengan isi pokok langkah ketiga. Mereka bertanya, bagaimana

nilai-nilai Tradisi dan Visi Kristiani meneguhkan, mengkritik atau

kehidupan yang lebih baik dengan semangat, nilai, dan iman yang baru demi

terwujudnya Kerajaan Allah.

c) Apa yang didialogkan?

Pesan, sikap, intuisi, persepsi, evaluasi, dan penegasannya yang menyatakan

kebenaran, nilai serta kesadaran yang diyakini.

d) Cara

Dengan tulisan, penjelasan, simbol, atau ekspresi artistik.

e) Yang perlu dihindari

Subetifisme dan obyektifisme: bahwa pendapat peserta yang paling benar;

obyektifisme: bahwa tafsiran pembimbing sebagai kebenaran satu-satunya.

f) Peranan pembimbing

Pertama; menghormati kebebasan dan hasil penegasan dari peserta,

termasuk peserta yang menolak tafsiran pembimbing; kedua, meyakinkan

peserta bahwa mereka mampu mempertemukan nilai pengalaman hidup dan

Visi mereka dengan nilai Tradisi dan Visi Kristiani; ketiga, mendorong

peserta untuk merubah sikap dari pendengar pasif menjadi pihak yang aktif;

keempat, menyadari bahwa tafsiran pembimbing bukan harga mati; kelima

mendengar dengan hati tanggapan, pendapat, dan pemikiran peserta.

6) Langkah V (kelima)

Keterlibatan baru demi makin terwujudnya Kerajaan Allah di Dunia ini

(mengusahakan suatu aksi kongkret)

Mengajak peserta (kaum muda) agar sampai pada keputusan praktis yang

dipahami sebagai tanggapan jemaat terhadap perwahyuan Allah yang terus

berlangsung dalam sejarah kehidupan manusia dalam komunitasnya dengan

Tradisi Gereja sepanjang sejarah dan Tradisi Kristiani. Keperihatiannya

adalah praktis, yakni mendorong keterlibatan baru dengan jalan

mengusahakan metanoia: pertobatan pribadi dan sosial yang kontinyu.

b) Bentuk, sifat, subyek dan arah keputusan

Karena dipengaruhi oleh topik dasar, maka keputusan dapat beraneka ragam

bentuk dan sifatnya; subyek dan arahnya. Bentuknya, ada yang menekankan

aspek kognitif (pemahaman), aspek afektif (perasaan), dan tingkah laku

(praktispolitis). Sifatnya, bisa lebih menyangkut tingkat personal,

interpersonal, atau sosial politis. Subyeknya, dapat bersifat aktivitas pribadi

atau tindakan bersama. Arahnya, dapat lebih intern untuk kepentingan

kelompok atau eksternal untuk kepentingan di luar kelompok (keterlibatan

kepada sesama).

c) Tanggungjawab pembimbing

Pertama; Menyadari hakiki praktis, inovatif, dan transformatif dari langkah

ini; kedua, merumuskan pertanyaan-pertanyaan operasional (tidak perlu

muluk-muluk) yang membantu peserta; ketiga, menekankan sikap optimis

yang realistis pada peserta; keempat, pembimbing dapat merangkum hasil

langkah pertama sampai ke empat, supaya dapat lebih membantu peserta;

bersama; keenam, sebagai penutup peserta diajak untuk merayakan liturgi

sederhana untuk mendoakan keputusan bersama.

B. Program Katekese Kaum Muda dengan Model SCP Sebagai Usaha Meningkatkan Hidup Menggereja Kaum Muda Katolik di Paroki Kristus Raja Sintang.

Dokumen terkait