Pelaku, peristiwa kebijakan, dan proses kebijakan
5. Keterlibatan pemangku kepentingan
Kegiatan berkenaan dengan pengembangan strategi interaksi dan keterlibatan pemangku kepentingan serta pelaksanaan asas FPIC, pengamanan, dan bagi‑hasil.
Strategi Nasional REDD+ merupakan bagian dari RAN‑GRK, yang didasarkan pada ICCSR. ICCSR memberi arahan bagi kegiatan mitigasi di semua sektor. Untuk sektor kehutanan, ICCSR dilaksanakan melalui Rencana Kehutanan Tingkat Nasional (RKTN 2011– 2030). RKTN menegaskan beragam kegiatan yang diperlukan untuk melaksanakan REDD+ sesuai dengan Strategi Nasional REDD+. Oleh karena itu, RAN‑GRK dan Strategi Nasional REDD+ tidak dapat dipisahkan karenanya keduanya menjabarkan ICCSR.
Sebagaimana dokumen strategis lainnya, Strategi Nasional REDD+ berfungsi sebagai pedoman, atau rujukan bagi pelaksanaan REDD+; dengan demikian, sifatnya agak umum dan memerlukan penjabaran lebih lanjut dalam dokumen teknis—Rencana Aksi Nasional (RAN) REDD+, yang perlu dimasukkan ke dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP). RAN REDD+ kemudian akan dijabarkan lebih lanjut ke dalam Rencana Aksi Daerah (RAD) REDD+. Strategi Daerah (Strada) REDD+ terkait erat dengan Strategi Nasional REDD+ sehingga rencana tingkat nasional dapat dilaksanakan di lapangan. Demikian juga, RAN GRK akan dijabarkan ke dalam Rencana Aksi Daerah Gas Rumah Kaca (RAD‑GRK).
Rencana Aksi Nasional untuk mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca (RAN‑GRK)
Pada tanggal 20 September 2011, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menandatangani Keputusan Presiden No. 61/2011 tentang Rencana Aksi Nasional untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca (RAN‑GRK). Keputusan ini dimaksudkan sebagai dokumen acuan bagi kementerian dan kepala lembaga terkait dalam merencanakan dan melakukan kegiatan yang berkaitan secara langsung dan tidak langsung dengan pengurangan emisi GRK sesuai dengan
Tabel 20. Langkah strategis untuk keberhasilan pelaksanaan REDD+ Strategi Nasional
REDD+ Tahap 1 (2011–2012) Tahap 2 (2012–2014)Masa pelaksanaan Tahap 3 (2014 dst.)
Membentuk
lembaga REDD+ • Menyusun Strategi Nasional REDD+ • Merancang lembaga
REDD+, instrumen pendanaan, dan kerangka MRV independen • Menetapkan cakupan penundaan • Memilih provinsi percontohan • Ditetapkannya lembaga REDD+ • Menetapkan instrumen pendanaan • Menetapkan sistem MRV • Menetapkan program provinsi percontohan pertama dan kedua (2011 dan 2012) • Meningkatkan kemampuan SDM dan menyusun instrumen kerja • Menyelesaikan pemenuhan prasyarat perundang‑undangan dan DPR • Melaksanakan sepenuhnya sistem REDD+ • Melanjutkan program pengurangan emisi • Menyerahkan hasil
program untuk dilakukan pemantauan dan verifikasi secara independen • Menjalankan sistem MRV berdasarkan standar UNFCCC • Memverifikasi emisi berdasarkan tingkat acuan UNFCCC • Melakukan pembayaran berdasarkan pengurangan emisi terverifikasi (VER) Meninjau dan memantapkan kebijakan dan peraturan
• Meninjau landasan hukum hak atas lahan dan mempercepat pelaksanaan tata ruang • Mempertegas penegakan hukum dan pencegahan korupsi
• Meninjau landasan hukum dan menetapkan insentif dan/atau disinsentif kepada swasta • Menetapkan landasan hukum penyelarasan data dan peta
untuk penentuan tata ruang dan pemberian izin • Melakukan kajian tentang pemberian izin
pengusahaan hutan dan penggunaan lahan maupun penyelesaian sengketa
• Menangguhkan penerbitan izin baru untuk kawasan hutan dan lahan gambut selama dua tahun
Perencanaan program strategis
1. Pengelolaan lanskap secara berkelanjutan
• Melakukan perencanaan dan pengelolaan bentang lahan/kawasan lingkungan hidup/DAS multiguna
• Meningkatkan kesempatan kerja alternatif berkelanjutan
• Mempercepat pengorganisasian dan pengoperasian Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) • Melembagakan proses pengendalian dan pencegahan kebakaran hutan dan lahan • Menyelesaikan rencana tata
ruang provinsi percontohan • Menetapkan dan memetakan kawasan adat dan tanah ulayat setempat lainnya
• Melaksanakan tukar‑guling lahan
• Menyelesaikan rencana tata ruang delapan provinsi berhutan lainnya
• Menyelesaikan rencana tata ruang seluruh provinsi lainnya • Menetapkan
kawasan khusus dan menyelesaikan persiapan tukar‑guling lahan
kepentingan nasional seperti sasaran pembangunan. Kegiatan yang dimasukkan dalam keputusan ini dikelompokkan menurut sektornya: pertanian;
kehutanan dan lahan gambut; energi dan perhubungan; industri; pengelolaan limbah; dan kegiatan penunjang lainnya. Menteri Koordinator bidang Perekonomian ditugasi untuk mengawasi dan memantau pelaksanaan kegiatan tersebut. Diharapkan juga bahwa para pemangku kepentingan lain akan merujuk pada dokumen tersebut dalam tindakan pengurangan emisi yang direncanakan.
Pada tingkat daerah, RAN‑GRK memberikan pedoman bagi pemerintah daerah dalam menyusun Rencana Aksi Daerah untuk Mengurangi Emisi Gas Rumah Kaca (RAD‑GRK), yang disesuaikan dengan prioritas pembangunan masing‑masing provinsi. RAD‑GRK perlu dibuat dalam waktu 12 bulan sejak tanggal keputusan. Kementerian Dalam Negeri, yang dibantu oleh Bappenas dan Kementerian Lingkungan Hidup, akan mengawasi dan mengkoordinasikan penyusunan RAD‑GRK. Berdasarkan keputusan ini, Bappenas ditugaskan untuk menyusun pedoman RAD‑GRK guna disebarkan dalam waktu tiga bulan sejak tanggal keputusan.
Keppres No. 61/2011 tersebut menyatakan bahwa RAN‑GRK harus ditinjau secara berkala, dan dapat dimodifikasi sesuai dengan perubahan kebutuhan
nasional dan dinamika internasional. Bappenas akan memimpin proses peninjauan, yang hasil tinjauannya diserahkan setidaknya setahun sekali kepada Menteri Koordinator bidang Perekonomian, dengan tembusan kepada Menteri Koordinator bidang Kesejahteraan Rakyat.
Terdapat acuan bagi masing‑masing sektor yang tercakup dalam RAN‑GRK terkait konstribusi yang diharapkan terhadap keseluruhan sasaran pengurangan emisi GRK sebesar 26%/41% yaitu sebagai berikut: • Pertanian:0,008 Gt CO2e (26%) dan 0,011 Gt
CO2e (41%)
• Kehutanan dan Lahan Gambut:0,672 Gt CO2e (26%) dan 1,039 Gt CO2e (41%)
• Energi dan Perhubungan:0,038 Gt CO2e (26%) dan 0,056 Gt CO2e (41%)
• Perindustrian:0,001 Gt CO2e (26%) dan 0,005 Gt CO2e (41%)
• Pengelolaan Limbah:0,048 Gt CO2e (26%) dan 0,078 Gt CO2e (41%)
Berbagai sumber pendanaan akan disalurkan untuk membantu pelaksanaan RAN‑GRK; sumber tersebut mencakup APBN dan APBD maupun sumber yang sah lainnya dan sumber pendanaan yang tidak mengikat yang diizinkan menurut peraturan perundang‑undangan Indonesia.
Strategi Nasional
REDD+ Tahap 1 (2011–2012) Tahap 2 (2012–2014)Masa pelaksanaan Tahap 3 (2014 dst.)
2. Sistem ekonomi untuk pemanfaatan sumberdaya alam berkelanjutan
• Meningkatkan kesempatan kerja alternatif berkelanjutan (pembangunan ekonomi setempat) • Mempercepat praktik pengelolaan hutan berkelanjutan
• Meningkatkan produktivitas pertanian dan perkebunan • Menerapkan praktik penambangan ramah‑lingkungan • Memajukan industri hilir bernilai‑tambah tinggi 3. Konservasi
dan rehabilitasi
• Menegakkan aturan yang berkenaan dengan kawasan lindung • Mengendalikan pengalihan fungsi hutan dan lahan gambut
• Melakukan kegiatan pemulihan hutan dan rehabilitasi lahan gambut
• Menjalankan dan memantapkan pengelolaan hutan lindung dan lahan gambut
Pengubahan kerangka pikir dan budaya kerja
• Memantapkan pengelolaan sektor kehutanan
• Menjalankan kegiatan dalam rangka kampanye nasional “Pelestarian Hutan Indonesia” • Menyusun kegiatan pemberian insentif melalui program “Hutan Tahun Ini”
Keterlibatan pemangku kepentingan
• Memastikan adanya interaksi antarkelompok pemangku kepentingan (pemda, swasta, LSM, masyarakat adat/setempat, dan mitra internasional)
• Menyusun pengaman sosial dan lingkungan
• Menyusun sistem yang adil dalam pembagian manfaat
Sumber: Satuan Tugas REDD+ (2011: 85) Tabel 20. Lanjutan
Beberapa pertanyaan timbul mengenai batasan dan sasaran pengurangan emisi dalam RAN‑GRK. Batasan ‘gas rumah kaca’ (GRK) yang diberikan ialah ‘gas yang terkandung dalam atmosfer baik alami maupun antropogenik, yang menyerap dan memancarkan kembali radiasi inframerah’. Adapun ‘emisi’ diberi batasan yang mencakup tidak hanya gas antropogenik, tetapi juga gas alam (seperti gas vulkanis, penguapan air, dan lain‑lain).
Tanggapan terhadap hasil COP 16 di Cancun
Pada awal tahun 2011, Pemerintah Indonesia mulai menjabarkan keputusan yang dibuat pada COP 16 di Cancun ke dalam kerangka nasional (Masripatin 2011). Ini mencakup kegiatan berikut:
• peluncuran proses konsultasi dengan pemangku kepentingan untuk mengembangkan Sistem Informasi pengamanan (Safeguard Information System, SIS/ISS) Indonesia pada tanggal 21 Maret 2011
• menjawab undangan dari Sub‑badan Konsultasi Ilmiah dan Teknologi (SBSTA)
• menyerahkan pendapat tentang cara
pengembangan REL/RL dan sistem MRV kepada Sekretariat UNFCCC
• penyusunan pedoman pengembangan SIS/ ISS • persiapan penyerahan gabungan pendapat seluruh
negara anggota ASEAN kepada UNFCCC perihal persoalan yang sama.
Demikian juga, dalam tahun yang sama, diadakan serangkaian konsultasi yang melibatkan masyarakat madani dan pemangku kepentingan lainnya yang bertujuan untuk pengamanan lingkungan hidup dan sosial (Gambar 6).
Pengembangan kebijakan lebih lanjut
Dua tambahan peta jalan yang terkait dengan REDD+ sedang dibuat. Tujuan peta jalan yang pertama ialah untuk melakukan reformasi tata kelola di daerah yang termasuk dalam REDD+. Langkah pertama yang direncanakan dalam penyusunan peta jalan merupakan kajian partisipatif untuk menilai kesiapan pemerintah daerah dalam melaksanakan program REDD+, terutama dalam kaitannya dengan rencana untuk memilih provinsi percontohan tahap II.116 Kajian dilakukan oleh Program Pembangunan PBB (UNDP), dengan hasil yang diharapkan dapat dimanfaatkan oleh berbagai pihak, termasuk Kementerian Kehutanan,
116 Kajian tersebut direncanakan untuk dilaksanakan di 10 provinsi: Aceh, Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Timur, Kalimantan Tengah, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Papua, dan Papua Barat; lihat pemaparan oleh Irman G. Lanti (Asisten Direktur untuk Indonesia/Kepala Satuan Tata Kelola Demokratis UNDP) pada konsultasi di Daerah tentang Penilaian Tata Kelola Partisipatif, Palu, 29 Juli 2011.
Gambar 6. Unsur‑unsur dalam menerjemahkan pedoman dan pengaman REDD+ hasil keputusan COP 16 ke dalam konteks nasional
Sumber: Masripatin (2011)
Ciri-ciri:
• Keterbukaan • Ketercakupan
• Selaras dengan perundang-undangan nasional
• Sesuai dengan keadaan nasional
Rancang-bangun • Kesederhanaan • Kesempurnaan • Keterjangkauan • Pertanggungjawaban Rancang-bangun • Susunan • Cara kerja • Kelembagaan • Unsur-unsur pengaman
• Kriteria dan Indikator untuk menilai pelaksanaan pengamanan Keputusan 1 COP 16 (pengaman REDD+) Keputusan 1 COP 16 (pedoman REDD+)