• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Ketersediaan Obat Sesuai Dengan Pola Penyakit

Dalam perencanaan kebutuhan obat dapat menggunakan pencatatan penggunaan total semua jenis obat pada pasien di puskesmas, sisa stok obat, dan pola penyakit. Perencanaan kebutuhan obat dengan melihat pola penyakit merupakan pendekatan secara epidemiologi. Pendekatan secara epidemiologi ini

memiliki keunggulan yaitu lebih tepat dan sesuai dengan realitas, dimana obat yang keluar atau terdistribusi disebabkan oleh penggunaan yang riil.

Infeksi saluran pernapasan bagian atas merupakan penyakit yang sering terjadi di Puskesmas Induk Tegalrejo Yogyakarta. Dari tahun 2008 hingga 2010 penyakit infeksi saluran pernapasan bagian atas selalu berada pada peringkat pertama atau kedua dari 10 besar penyakit yang terjadi di puskesmas.

Tabel VI. Obat Yang Digunakan Dalam Terapi Infeksi Saluran Pernapasan Bagian Atas Tahun 2008 – 2010

2008 2009 2010

No Nama Obat

Pakai Kelompok Pakai Kelompok Pakai Kelompok

1 Amoksisilin 125mg/5ml, sirup 665 C 557 C 622 C 2 Amoksisilin 250 mg 9514 B 4338 B 3746 B 3 Amoksisilin 500 mg 79682 A 83396 A 88174 A 4 Doxyciclin 100 mg 219 C 216 C 150 C 5 Eritromisin 250 mg 945 C - - -6 Eritromisin 500 mg 2570 B 2615 B 3535 B 7 Kotrimoksazol 120 mg 455 C 1 C 0 C 8 Kotrimoksazol 240 mg/5ml, sirup 239 C 140 C 204 C 9 Kotrimoksazol 480 mg 10619 B 8772 B 8162 B 10 Antalgin 500 mg 51481 A 57245 A 55828 A 11 Asetosal 100 mg - - - - 1354 C 12 Ibuprofen 200 mg 12182 A 15530 A 25865 A 13 Ibuprofen 400 mg 0 C 3260 B 3630 B 14 Parasetamol 100 mg 6383 B 6034 B 1429 C 15 Parasetamol 120mg/5ml, sirup 658 C 946 C 800 C 16 Parasetamol 500 mg 76666 A 69454 A 76987 A 17 Efedrin HCl 25 mg 2624 B 4092 B 4689 B 18 Klorfeniramin Maleat 4 mg 68340 A 73688 A 67764 A 19 Dextromethorphan HBr 10 mg/5ml, 60ml 33 C 16 C 3 C 20 Dextromethorphan HBr 15 mg 12077 A 13214 A 13561 A

21 Obat Batuk Hitam 200ml 704 C 805 C 728 C

22 Gliseril Guaiacolat 100 mg 62973 A 57243 A 52888 A

23 Asam Askorbat (Vit C) 50

Tabel VI. Tabel Lanjutan

2008 2009 2010

No Nama Obat

Pakai Kelompok Pakai Kelompok Pakai Kelompok

24 Becefort 670 C 100 C - -25 Becefort Syrup 58 C - - - -26 Becom C 45 C 1285 C 740 C 27 Elkana Syrup 1057 C 1 C 241 C 28 Calcidol Syrup 89 C 211 C 124 C 29 Zamel syrup 216 C 157 C 148 C 30 Pehavral 2480 B 4564 B 6380 B 31 Bodrex 20 C - - - -32 Bestocol 2279 B 3917 B 4257 B

33 Pacdin baby cough syrup 247 C - - -

-34 Paratusin syrup 1 C - - -

-35 Tremenza 1217 C 2062 C 2526 C

36 Anacetin Syrup 13 C 260 C 259 C

Antibiotik Analgesik Dekongestan Antihistamin Pereda batuk

vitamin tunggal multivitamin bermerek obat ISPA Non-generik

Pada tabel VI menjelaskan tentang obat-obatan yang digunakan oleh Puskesmas Induk Tegalrejo Yogyakarta dalam terapi pengobatan penyakit infeksi saluran pernapasan bagian atas pada tahun 2008-2010. Antibiotik yang digunakan dalam terapi lini I untuk infeksi saluran pernapasan bagian atas adalah amoksisilin, eritromisin, doxycicilin dan kotrimoksazol. Pemakaian terbesar dalam tiga periode ini adalah amoksisilin. Amoksisilin yang digunakan di puskesmas terdapat 3 macam yaitu amoksisilin 500 mg dalam bentuk kaplet, amoksisilin 250 mg dalam bentuk kapsul dan amoksisilin 125 mg/5 ml dalam bentuk suspensi kering. amoksisilin 500 mg dalam tiga periode dengan analisis ABC selalu masuk dalam kelompok A. Hal ini dikarenakan amoksisilin 500 mg memiliki tingkat pemakaian terbanyak yaitu dengan pemakaian rata-rata sebesar

83751. Pada amoksisilin 250 mg dalam bentuk kapsul selama tiga periode dari tahun 2008-2010 selalu masuk dalam kelompok B dengan pemakaian rata-rata sebesar 5866, dan pada penggunaan amoksisilin 125 mg/5ml dalam bentuk suspensi kering selalu memiliki pemakaian terendah dibanding amoksisilin 500 mg dan 250 mg. Amoksisilin 125mg/5ml selama tiga periode dari tahun 2008-2010 selalu masuk dalam kelompok C dengan pemakaian rata-rata sebesar 615. Dosis dewasa amoksisilin yang digunakan dalam terapi pengobatan infeksi saluran pernapasan bagian atas adalah 500 mg dan untuk dosis anak biasanya disesuaikan dengan berat badan anak. Pada Puskesmas Induk Tegalrejo Yogyakarta terapi amoksisilin untuk dewasa menggunakan amoksisilin 500 mg sedangkan anak berusia antara 8-9 tahun menggunakan amoksisilin 250 mg dan anak-anak diberikan amoksisilin sirup tetapi terkadang juga diberikan dalam bentuk pulveres dengan pembagian dosis dari 500 mg atau 250 mg. Hal inilah yang membuat pemakaian amoksisilin 500 mg dan 250 mg lebih banyak daripada amoksisilin 125mg/5ml dalam bentuk suspensi kering. Pengadaan amoksisilin 125mg/5ml lebih baik tetap diadakan setiap bulannya karena obat ini sangat berguna bagi anak-anak yang tidak dapat menelan tablet. Kotrimoksazol memiliki 3 sediaan yaitu kotrimoksazol 480 mg tablet, kotrimoksazol 120 mg tablet, kotrimoksazol 240mg/5ml dalam bentuk suspensi. Dari tiga sediaan ini yang paling banyak digunakan yaitu kotrimoksazol 480 mg. Kotrimoksazol 480 mg dengan metode ABC selama 3 periode masuk dalam kelompok B dengan rata-rata pemakaian sebesar 9184. Kotrimoksazol 120 mg dan kotrimoksazol 240 mg/5ml selama tiga periode selalu masuk dalam kelompok C dengan rata-rata pemakaian

sebesar 152 dan 194. Kotrimoksazol 240 mg/5ml selalu diadakan tiap bulannya tetapi pemakaiannya tidak terlalu banyak, tetapi pengadaan obat ini harus selalu diadakan sesuai dengan tingkat konsumsinya karena obat ini dapat lebih praktis dalam pemberian untuk anak-anak yang tidak bisa menelan tablet. Pemakaian kotrimoksazol 120 mg biasanya diberikan pada pediatrik sehingga dapat diganti dengan kotrimoksazol 480 mg dengan pembagian dosis sesuai dengan berat badan pasien atau dengan pemberian kotrimoksazol 240mg/5ml. Sehingga kotrimoksazol 120 mg dapat dikurangi pengadaannya atau tidak diadakan sama sekali. Eritromisin yang diadakan di Puskesmas Induk Tegalrejo Yogyakarta terdapat dua sediaan yaitu eritromisin 500 mg dan 250 mg. Eritromisin 500 mg lebih sering digunakan dibanding dengan eritromisin 250 mg. Sehingga dapat dilihat dalam tabel pada tahun 2009 dan 2010 eritromisin 250 mg tidak dilakukan pengadaan kembali, karena penggunaan eritromisin 250 mg dapat digantikan dengan eritromisin 500 mg. Pengadaan doksisiklin 100 mg selama tiga periode ini selalu masuk dalam kelompok C dengan pemakaian rata-rata sebesar 195, dengan begitu dalam pengadaan dosksisiklin lebih baik dibatasi karena penggunaan doksisiklin hanya diberikan pada pasien dewasa dan doksisiklin di kontraindikasikan pada wanita hamil dan anak-anak.

Selain pemberian antibiotik terdapat terapi tambahan seperti pemberian analgesik, dekongestan, antihistamin, antitusif, ekspektoran, dan vitamin. Dalam terapi infeksi saluran pernapasan bagian atas analgesik yang digunakan adalah parasetamol, ibuprofen, asetosal, dan antalgin. Parasetamol yang diadakan di Puskesmas yaitu parasetamol 500 mg, parasetamol 100 mg, dan parasetamol

120mg/5ml sirup. Dari ketiga sediaan ini yang sering dipakai adalah parasetamol 500 mg. Parasetamol 500 mg selama tiga periode dengan metode ABC selalu masuk dalam kelompok A dengan rata-rata pemakaian sebesar 74369. Parasetamol 100 mg pada tahun 2008-2009 selalu masuk dalam kelompok B dan pada tahun 2010 jumlah pemakaiannya berkurang sehingga masuk dalam kelompok C. Parasetamol 100 mg tidak terlalu berguna dalam terapi disini, karena parasetamol 100 mg dapat diantisipasi dengan parasetamol 500 mg dengan pembagian dosis sesuai dengan umur pasien anak-anak. Penggunaan parasetamol 100 mg di Puskesmas Induk Tegalrejo Yogyakarta lebih banyak digunakan saat pemberian imunisasi sehingga obat ini tidak terlalu sering untuk terapi infeksi saluran pernapasan atas. Parasetamol 120mg/5ml dalam bentuk sirup lebih sedikit penggunaannya dibanding parasetamol 500 mg dan 100 mg, pada tahun 2008-2010 selalu masuk dalam kelompok C, hal ini dikarenakan obat dalam bentuk sirup dengan pemberian 1 botol itu dapat digunakan beberapa kali. Sebaiknya pengadaan obat parasetamol sirup selalu diadakan setiap bulannya sesuai dengan tingkat konsumsi di daerah tersebut. Ibuprofen juga merupakan salah satu analgesik yang diadakan di Puskesmas. Selama tiga periode ini ibuprofen yang sering digunakan adalah ibuprofen 200 mg dibanding dengan ibuprofen 400 mg. Ibuprofen 200 mg selalu masuk dalam kelompok A. Sebaiknya dalam pengadaan ibuprofen ini dipilih salah satu saja yang lebih efektif sehingga dapat memberikan pengelolaan obat yang lebih efisien. Asetosal yang diadakan di Puskemsas yaitu asetosal 100 mg, tetapi obat ini baru diadakan pada tahun 2010 dan masuk dalam kelompok C dengan jumlah pemakaian 1354. Sebaiknya asetosal 100 mg tidak

perlu diadakan karena kegunaan asetosal sama seperti parasetamol. Antalgin memiliki indikasi yang sama dengan parasetamol, di puskesmas ini antalgin selama 3 tahun masuk dalam kelompok A dengan pemakaian rata-rata sebesar 54.851. Obat dekongestan yang digunakan adalah efedrin HCl 25 mg. selama tiga periode efedrin HCl selalu masuk dalam kelompok B, karena obat ini hanya merupakan terapi tambahan yang diberikan apabaila terdapat sekret dihidung atau untuk mengatasi hidung tersumbat. Apabila tidak mengalami gejala seperti ini maka obat ini tidak diberikan. Antihistamin yang diadakan di Puskesmas adalah klorfeniramin maleat 4 mg (CTM). Selama tiga periode CTM selalu masuk dalam kelompok A dengan rata-rata pemakaian sebesar 69931. Obat pereda batuk terdapat Dextromethorphan HBr 15 mg, Dextromethorphan HBr 10mg/5ml, Gliseril Guaiacolat 100 mg, dan obat batuk hitam. Obat pereda batuk yang banyak digunakan adalah Dextromethorphan HBr 15 mg dan Gliseril Guaiacolat 100 mg. Obat ini selama 3 periode selalu masuk dalam kelompok A dengan rata-rata pemakaian Dextromethorphan HBr 15 mg sebesar 12.950 dan Gliseril Guaiacolat 100 mg sebesar 57.701. Obat batuk yang dalam bentuk sirup yang sering digunakan adalah obat batuk hitam dengan rata-rata pemakaian 746 dan selama 3 tahun masuk dalam kelompok C, sedangkan Dextromethorphan HBr 10mg/5ml hanya memiliki pemakaian rata-rata sebesar 17 dan selalu masuk dalam kelompok C. Sebaiknya Dextromethorphan HBr 10mg/5ml dapat ditiadakan saja karena apabila dihilangkan tidak terlalu berpengaruh dalam terapi infeksi saluran pernapasan atas. Vitamin yang banyak digunakan adalah vitamin C dengan pemakaian rata-rata sebesar 57.101 dan selama 3 periode selalu masuk dalam

kelompok A. Di puskesmas Induk Tegalrejo Yogyakarta juga menggunkan multivitamin. Multivitamin yang pernah diadakan di puskesmas Induk Tegalrejo Yogyakarta pada tahun 2008-2010 yaitu Becefort®, Becefort® sirup, Becom C®, Elkana® sirup, Calcidol® sirup, Zamel® sirup, dan Pehavral®. Tahun 2009 hingga 2010 Becefort® sirup sudah tidak diadakan sedangkan Becefort® mulai tahun 2010 sudah tidak diadakan. Multivitamin yang diadakan selama 3 periode yaitu Becom C®, Elkana® sirup, Calcidol® sirup, Zamel® sirup, dan Pehavral®, tetapi yang sering digunakan adalah Pehavral® dengan rata-rata pemakaian sebesar 4474 dan selama 3 periode selalu masuk dalam kelompok B. Sebaiknya pengadaan multivitamin tidak perlu terlalu banyak, hal ini akan menyebabkan pengelolaan obat yang tidak efisien. Pada puskesmas Tegalrejo Yogyakarta juga melakukan pengadaan obat bermerek untuk pengobatan infeksi saluran pernapasan atas yaitu Bodrex®, Bestocol®, Pacdin baby cough®, Paratusin®, Anacetin®sirup, dan Tremenza®. Bodrex®, Pacdin baby cough®, dan Paratusin® pada tahun 2009 hingga 2010 sudah tidak diadakan. Obat yang setiap tahun diadakan yaitu hanyalah Bestocol®, Anacetin sirup®, dan Tremenza®. Bestocol® dan Anacetin® memiliki kandungan yang sama yaitu guaifenesin, CTM, parasetamol, fenilpropanolamin, hanya saja berbeda dalam bentuk sediaan, bestocol berupa tablet sedangkan anacetin berupa sirup. Bestocol® setiap tahunnya masuk dalam kelompok B dengan pemakaian rata-rata 3.484 dan anacetin selalu masuk dalam kelompok C dengan pemakaian rata-rata 177. Pengadaan obat ini sebaiknya tetap diadakan, karena obat ini dapat membantu dalam terapi ISPA. Tremenaza merupakan obat infeksi saluran pernapasan atas

yang dikarenakan alergi seperti rinitis. Pengadaan obat ini walaupun setiap tahunnya berada pada kelompok C tetapi jumlah pemakaiannya setiap tahunnya stabil yaitu dengan pemakaian rata-rata sebesar 1935. sehingga obat ini sebaiknya tetap diadakan.

Dalam tiga periode obat yang selalu banyak dipakai adalah amoksisilin 500 mg, parasetamol 500 mg, antalgin 500 mg, ibuprofen 200 mg efedrin HCl 25 mg, klorfeniramin maleat 4 mg, dextromethorphan 15 mg, Gliseril Guaiacolat 100 mg, dan asam askorbat 50 mg, sedangkan obat non generic yang mendukung dalam terapi yaitu Pehavral®, Tremenza®, Bestocol®, dan Anacetine®. Semua obat ini merupakan obat yang banyak dipakai dalam terapi infeksi saluran pernapasan bagian atas, sehingga dalam pengadaannya perlu diperhatikan yaitu dalam pemesanan kembali dan berapa jumlah yang akan dipesan karena obat-obat ini diharapkan dapat selalu tersedia di Puskesmas Induk Tegalrejo Yogyakarta. Obat-obat ini diharapkan jangan sampai terjadi kekosongan atau kekurangan. Hal ini nantinya akan mempengaruhi pelayanan obat di Puskesmas.

Dokumen terkait