• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ketiadaan Hak Istri Jika Perkawinan Tidak Dicatatkan

Dalam dokumen BAB II HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS (Halaman 40-45)

B. Hasil Penelitian

1. Ketiadaan Hak Istri Jika Perkawinan Tidak Dicatatkan

Dalam sebuah perkawinan seorang istri sah memiliki hak-hak yang didapatkan agar seorang istri dapat hidup dengan layak. Berbeda dengan pasangan yang perkawinannya tidak dicatatkan, diamana seorang istri dapat kehilangan haknya jika perkawinan tidak dicatatkan tersebut.

23 Muchsin, Op.cit, h. 14

55 Hak-hak yang tidak dapat diperoleh seorang istri yang tidak mencatatkan perkawinannya adalah hak untuk hidup layak, hak waris, hak atas harta kekayaan, dan hak sesetaraan dalam perkawinan. Hak layak hidup adalah hak dimana seorang dapaat terpenuhi kebutuhan pokoknya berupa sandanng, pangan, dan papan, sedangkan hak waris merupakan hak seseorang istri maupun suami jika salah satunya meninggal maka istri atau suami yang hidup terlama akan menjadiahli waris, dan hak kesetaraan adalah hak antara suami dan istri adalah sama dalam suatu hubungan perkawinan diamana memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam suatu perkawinan.

Hak istri sah menyangkut hak untuk hidup layak diatur hanya diatur dalam UU Perkawinan dan KHI. Dalam UU Perkawinan hak seorang istri diatur dalam Pasal 34 ayat (1) UU perkawinan, dimana seorang istri harus mendapat perlindungan dari seorang suami dan mendapatkan kebutuhan hidup yang layak semasa perkawinan.

Dalam KHI mengatur juga tedapat pada Pasal 80 KHI dan Pasal 81 KHI seorang istri berhak mendapatkan perlindungan dari seorang suami dan pendidikan agama dari suaminya, selain itu perihal tempat tinggal, seorang istri berhak mendapatkan kediaman yang layak sesuai dengan kempauan suami, serta dalam Pasal 82 KHI jika suami memiliki istri lebih dari seorang maka hak istri untuk memperoleh perilaku dan biaya yang hidup secara adil oleh suaminya.

Hak waris merupakan hak seorang istri juga dalam suatu perkawinan, hak waris terdapat dalam KUHPer. Dalam KUHPer status istri dalam pembagian

56 waris terdapat pada Pasal 832 KUHPer adalah dengan adanya hubungan darah di antara pewaris dan ahli waris, kecuali untuk suami atau isteri dari pewaris, dengan ketentuan mereka masih terikat dalam perkawinan ketika pewaris meninggal dunia, karena Pasal 852 huruf (a) KUHPer menyatakan istri merupakan golongan pertama yang juga mendapatkan hak waris suami jika meninggal dunia. Dalam perkawinan yang tidak dicatatkan suami meninggal dunia maka seorang istri tidak dapat menjadi ahli waris suami, karena tidak adanya bukti sah yang menyatakan istri yak tidak mencatatatkan perkawinan merupakan istri sah menurut negara.

Hak atas kekayaan merupakan hak seorang istri dalam perkawinan. Dalam UU Perkawinan dan KHI menjelaskan tentang hak-hak harta kekayaan dalam perkawinan yang seharusnya didapatkan seorang istri. Dalam UU Perkawinan mnegatakan akan ada percampuran harta jika terjadi suatu perkawinan yang disebut harta bersama, pada Pasal 35 ayat (1) UU Perkawinan mengatakan harta benda yang diperoleh selama perkawinan menjadi harta bersama, sehingga perkawinan yang tidak dicatatakan suami pergi meninggalkan istri sah maka harta bersama yang berada di tempat istri sah akan sepenuhnya dikuasai istri sah, kecuali terdapat perjanjian perkawinan mengenai pembagian harta bersama. Pada KHI tidak mengatur mengenai harta bersama namun mempertegas mengenai hak harta bawaan istri maupun suami, hal tersebut tercantum dalam Pasal 86 ayat (2) yang menyatakan harta istri tetap menjadi hak isteri dan dikuasi penuh olehnya, demikian juga harta suami tetap menjadi hak suami dan dikuasi penuh olehnya,

57 sehingga hak atas harta kekayaan istri dalam KHI hanya harta bawaannya saja.

Dalam perkawinan yang tidak dicatatakan tidak terjadi pencampuran harta suami dan istri, sehingga merugikan istri kara tidak memiliki harta untuk jaminan hidupnya, karena harta yang diperoleh suami akan menjadi harta milik suami sendiri.

Hak kesetaraan dalam perkawinan tedapat dalam UU Perkawinan, UU HAM, dan UU Perlindungan Perempuan (CEDAW). Dalam UU Perkawinan menjelasakan mengenai hak setaraan dalam rumah tangga dalam Pasal 31 ayat (1) UU Perkawinan menyatakan bahwa Hak dan kedudukan istri adalah seimbang dengan hak dan kedudukan suami dalam kehidupan rumah tangga dan pergaulan hidup bersama dalam masyarakat, sehingga dapat dikatakan bahwa suami dan istri memiliki kesataran hak dan kewajiban dalam sebuah hubungan perkawinan, selain dalam UU Perkawinan, UU HAM juga menyebutkan hak kesetaraan dalam perkawinan yaitu dalam Pasal 51 ayat (1) UU HAM hak seorang istri adalah seseorang istri selama dalam ikatan perkawinan mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dengan suaminya atas semua hal yang berkenaan dengan kehidupan perkawinannya, hubungan dengan anak-anaknya, dan hak pemilikan serta pengelolaan harta bersama. Dalam UU Perlindungan Perempuan (CEDAW) juga menyatakan hak kesetaraan dalam Article 16 ayat (1) huruf (C) CEDAW yang berisi The same rights and responsibilities during marriage and at its dissolution, yang memiliki arti dalam Bahasa Indonesia sebagai berikut; Hak dan tanggung jawab yang sama selama pernikahan dan saat

58 berpisah, sehingga suami istri dapat memiliki hak dan kewajiban yang sama semasa perkawinan maupun suda bercerai agar tidak terjadi perselisihan. Dalam perkawinan yang tidak dicatatkan istri tidak dapat memiliki pembagian hak dan kewajiban setara dengan suaminya jika suami meninggalkan sang istri, dan seluruh hak dan kewajiban harus ditanggung istri seorang diri.

Hak-hak diatas dapat didapatkan istri sah, tapi tidak dengan istri dalam pencatatan perkawinan yang tidak dicatatkan, jika hak-hak tersebut dilanggar maka istri tidak dapat mengajukan gugatan sebagaimana hak istri sah yang terdapat dalam Pasal 34 ayat (3) UU Perkawinan yang menjelaskan bahwa istri dapat mengajukan gugatak kepengadilan jika suami lalai menjalankan kewajibannya, karena berdasarkan PP No. 9 Tahun 1975 yang mengatur tentang pencatatan perkawinan dapat dipahami bahwa pencatatan tersebut adalah syarat administrasi. Artinya; perkawinan tetap sah menurut agama tetapi tidak sah menurut hukum, karena sah atau tidaknya suatu perkawinan ditentukan oleh norma-norma agama dari pihak-pihak yang melangsungkan perkawinan.

Pencatatan perkawinan diatur karena tanpa pencatatan suatu perkawinan tidak mempunyai akta perkawinan sebagai bukti adanya suatu perkawinan, sehingga perkawinan tersebut tidak memiliki kekuatan hukum, tetapi dalam Pasal 36 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan yang berisi:

Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Perkawinan, pencatatan perkawinan dilakukan setelah adanya penetapan pengadilan.

59 Dalam Pasal 36 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2006 Tentang Administrasi Kependudukan memberi ruang untuk suami dan istri dapat mengajukan pecatatan perkawinan dengan medapatkan penetapan pengadilan, dalam Pasal 7 ayat (2) KHI juga menjelaskan bahwa untuk melakukan itsbat nikah harus mendapatkan penetapan pengadilan agama sehingga istri bisa mendapatkan hak yang seharusnya didapatkan.

Dalam dokumen BAB II HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS (Halaman 40-45)

Dokumen terkait