• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pengaturan Hak Anak

Dalam dokumen BAB II HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS (Halaman 31-40)

B. Hasil Penelitian

2. Pengaturan Hak Anak

Pengaturan mengenai hak anak dalam UU Perkawinan diatur dalam Pasal 45 sampai dengan Pasal 49 UU Perkawinan. Hak anak dalam UU Perkawinan terdapat pada Pasal 45 ayat (1) UU Perkawinan, dalam Pasal tersebut bahwa anak harus dipelirahara dan diberi pendidikan oleh kedua orang tuanya.

KHI juga menuliskan mengenai hak dan kewajiban anak. Dalam KHI menyatakan Hak anak bahwa anak juga berhak mendapatkan tempat tinggal dan mendapatkan biaya untuk hidup dari orang tuanya.20

Dalam hak yang dincantukan hanya terhadap anak Pasal 52 sampai dengan Pasal 66 UU HAM. Hak anak dalam UU HAM yang pertama pada Pasal 52 UU HAM yang menyatakan:

(1) Setiap anak berhak atas perlindungan oleh orang tua, keluarga, masyarakat, dan negara.

20 Lihat Pasal 80 dan 81 Kompilasi Hukum Islam

46 (2) Hak anak adalah hak asasi manusia dan untuk kepentingannya hak anak

itu diakui dan dilindungi oleh hukum bahkan sejak dalam kandungan.

Pada Pasal yang lain seperti pada Pasal 56 UU HAM menyatakan:

(1) Setiap anak berhak untuk mengetahui siapa orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuannya sendiri.

(2) Dalam hal orang tua anak tidak mampu membesarkan dan memelihara anaknya dengan baik dan sesuai dengan Undang-undang ini, maka anak tersebut boleh diasuh atau diangkat sebagai anak oleh orang lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.

Pengaturan secara khusus mengenai hak seorang anak diatur didalam Undang – Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak yang selanjutnya disebut UU Perlindungan Anak. Tidak hanya hak dan kewajiban anak saja, tapi pada UU Perindungan Anak juga dicantumkan kewajiban orang tua.

Hak seorang anak tercantum dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 19 UU Perindungan Anak, dalam hal ini hak anak yang mengacu pada orang tua dan berlangsung pada masa perkawinan terdapat pada Pasal 7 ayat (1) UU Perlindungan Anak yang mengatakan:

Setiap anak berhak untuk mengetahui orang tuanya, dibesarkan, dan diasuh oleh orang tuanya sendiri,

Pada Pasal 14 UU Perlindungan Anak yang mengatakan:

Setiap anak berhak untuk diasuh oleh orang tuanya sendiri, kecuali jika ada alasan dan/atau aturan hukum yang sah menunjukkan bahwa pemisahan itu adalah demi kepentingan terbaik bagi anak dan merupakan pertimbangan terakhir.

47 Dalam UU Perlindungan anak tidak hanya menjelaskan mengenai hak anak, melainkan juga menjelaskan kewajiban orang tua untuk merawat anaknya, sehingga juga dapat dikatakan merupakan hak anak. Kewajiban orang tua yang merupakan hak anak tercantum pada Pasal 26 ayat (1) UU Perlindungan anak yang menyatakan:

Orang tua berkewajiban dan bertanggung jawab untuk mengasuh, memelihara, mendidik, dan melindungi anak, serta menumbuhkembangkan anak sesuai dengan kemampuan, bakat, dan minatnya, selain itu orang tua berkewajiban mencegah terjadinya perkawinan pada usia anak-anak.

Dalam KUHPer juga menjelaskan hak anak dalam waris. Dalam Pasal 852 KUHPer menyatakan:

Anak-anak atau keturunan-keturunan, sekalipun dilahirkan dan berbagai perkawinan, mewarisi harta peninggalan para orangtua mereka, kakek dan nenek mereka, atau keluarga-keluarga sedarah mereka selanjutnya dalam garis lurus ke atas, tanpa membedakan jenis kelamin atau kelahiran yang lebih dulu. Mereka mewarisi bagian-bagian yang sama besarnya kepala demi kepala, bila dengan yang meninggal mereka semua bertalian keluarga dalam derajat pertama dan masing-masing berhak karena dirinya sendiri;

mereka mewarisi pancang demi pancang, bila mereka semua atas sebagian mewarisi sebagai pengganti.

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak mengatur juga mengenai hak anak, pengaturan hak anak terdapat pada Pasal 2 sampai dengan Pasal 8 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak.

48 Hak anak dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak adalah anak berhak atas kesejahteraan, perawatan, asuhan dan bimbingan berdasarkan kasih sayang baik dalam keluarganya maupun di dalam asuhan khusus untuk tumbuh dan berkembang dengan wajar, anak berhak atas pelayanan untuk mengembangkan kemampuan dan kehidupan sosialnya, sesuai dengan kebudayaan dan kepribadian bangsa, untuk menjadi warganegara yang baik dan berguna, anak berhak atas pemeliharaan dan perlidungan, baik semasa dalam kandungan maupun sesudah dilahirkan, anak berhak atas perlindungan terhadap lingkungan hidup yang dapat membahayakan atau menghambat pertumbuhan dan perkembangannya dengan wajar.21 Dalam keadaan yang membahayakan, anaklah yang pertama-tama berhak mendapat pertolongan, bantuan, dan perlindungan. Anak yang tidak mempunyai orang tua berhak memperoleh asuhan oleh negara atau orangatau badan. Anak yang tidak mampu berhak memperoleh bantuan agar dalam lingkungan keluarganya dapat tumbuh dan berkembang dengan wajar. Anak yang mengalami masalah kelakuan diberi pelayanan dan asuhan yang bertujuan menolongnya guna mengatasi hambatan yang terjadi dalam masa pertumbuhan dan perkembangannya.

Pelayanan dan asuhan, juga diberikan kepada anakyang telah dinyatakan bersalah melakukan pelanggaran hukum berdasarkan keputusan hakim. Anak cacat berhak memperoleh pelayanan khusus untuk mencapai tingkat pertumbuhan dan perkembangan sejauh batas kemampuan dan kesanggupan anak yang

21 Lihat Pasal 2 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak

49 bersangkutan. Bantuan dan pelayanan, yang bertujuan mewujudkan kesejahteraan anak menjadi hak setiap anak tanpa membeda-bedakan jenis kelamin, agama, pendirian politik, dan kedudukan sosial.

Dalam Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak juga menjelaskan mengenai kewajiban orang tua terhadap anak yang merupakan hak anak, sehingga kewajiban orang tua yaitu, orangtua bertanggungjawab atas terwujudnya kesejahteraan anak baik secara rohani, jasmani maupun sosial, orangtua yang terbukti melalaikan tanggungjawabnya, sehingga mengakibatkan timbulnya hambatan dalam pertumbuhan dan perkembangan anak, dapat dicabut kuasa asuhnya sebagai orang tua terhadap anaknya. Dalam hal itu ditunjuk orang atau badan sebagai wali. Pencabutan kuasa asuh tidak menghapuskan kewajiban orang tua yang bersangkutan untuk membiayai, sesuai dengan kemampuannya, penghidupan, pemeliharaan, dan pendidikan anaknya Pencabutan dan pengembalian kuasaasuh orang tua ditetapkan dengan keputusan hakim.22

Tabel 1.1

Tentang Hak Istri dan Anak

Hak diatur dalam

Istri Anak

22 Lihat Pasal 9 sampai dengan Pasal 10 Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak

50 UU

Perkawinan

 Hak Istri yaitu seorang istri harus mendapat perlindungan

51

52 KUHPer  Hak istri dalam KUHPer yaitu

mengenai hak waris dari suaimi

53 dilayani dengan baik dan bisa diasuh oleh panti asuhan atau sesorang yang ingin merawatnya yang sesuai dengan peraturan undang-undang, serta bagi anak cacat berhak untuk mendapatkan pelayanan yang sesuai.

Sumber: Diolah dari UU Perkawinan, KHI, UU HAM, UU Perlindungan Anak, UU Perlindungan Perempuan (CEDAW), Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan.

C. Analisis

Dalam tulisan ini terkait perumusan masalah mengenai: Adakah hak anak dan istri dengan tidak dicatatkannya suatu perkawinan?.

Perlindungan hukum terhadap anak dan istri dalam tidak dicatatkannya perkawinan, timbul karena adanya ketiadaan hak-hak anak dan istri dengan tidak dicatatakannya suatu perkawinan.

Hak-hak yang seharusnya diapatkan pada anak dan istri jika melangsungkan perkawinan secara sah tercantum pada UU Perkawinan, KHI, UU HAM, UU Perlindungan anak, UU perlindungan permpuan (CEDAW), dan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1979 Tentang Kesejahteraan Anak, maka anak dan istri dalam perkawinan yang tidak dicatatkan tidak dapat memiliki hak untuk hidup layak, hak waris, hak hatas harta kekayaan, dan hak kesetaraan dalam perkawinan yang

54 seharusnya didapatkan jika perkawinan langsung dicatatakan secara resmi oleh negara.

Dengan adanya hak-hak yang hilang milik anak dan istri, maka perlu dilakukan sebuah perlindungan hukum secara preventif, yang berarti perlindungan yang diberikan oleh pemerintah dengan tujuan untuk mencegah sebelum terjadinya pelanggaran. Hal ini terdapat dalam peraturan perundang-undangan dengan maksud untuk mencegah suatu pelanggaran serta memberikan rambu-rambu atau batasan-batasan dalam melakukan suatu kewajiban.23 Perlindungan hukum bagi anak terdapat dalam Pasal 1 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 35 Tahun 2014 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dan untuk perlindungan perempuan terdapat Undang-Undang Nomor 7 Tahun 1984 tentang pengesahan konvesi penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap wanita atau UU Perlindungan Perempuan (CEDAW) yang berisi tentang konvensi CEDAW.

Dalam dokumen BAB II HASIL PENELITIAN DAN ANALISIS (Halaman 31-40)

Dokumen terkait