BAB IV ANALISIS DAMPAK EKONOMI
C. Diskusi tentang Ketimpangan Makroekonomi dan Mikroekonomi
C.1 Ketimpangan Makroekonomi dan Mikroekonomi Pasar Barang
Bagian ini akan mendeskripsikan bukti-bukti kondisi ketimpangan pendapatan per kapita secara makro dan pendapatan per kapita secara mikro. Bukti ini akan sebagai argumen belum optimalnya pemanfaatan kehadiran PTFI untuk mensejahterakan masyarakat Papua. Adapun pendapatan per kapita secara makro maksudnya adalah pendapatan per kapita yang ditimbulkan oleh kehadiran PTFI yang dihitung dengan model makroekonomi. Sedangkan pendapatan per kapita secara mikro adalah pendapatan yang didekati oleh angka pengeluaran per kapita yang diolah dari data Susenas.
PDRB menggambarkan nilai tambah perekonomian secara agregat dari berbagai aktor dalam perekonomian. Agen perekonomian yang dihitung mencakup rumah tangga, perusahaan, serta pemerintah. Di sisi lain, hasil data susenas menggambarkan pengeluaran (proxy dari pendapatan) rumah tangga yang berada di dalam suatu daerah.
Pada kondisi ideal, besaran pengeluaran per kapita seharusnya sama antara lingkup makro maupun mikro. Sebab, nilai tambah yang dihasilkan oleh perekonomian sebagian besar menjadi pendapatan bagi rumah tangga di wilayah tersebut. Bagian lain yang tidak menjadi pendapatan bagi rumah tangga akan menjadi surplus usaha, pajak tidak langsung, subsidi. Akan tetapi pada akhirnya bagian yang disebutkan belakangan akan menjadi pendapatan rumah tangga.
Tabel 4.24 menjabarkan data makro (PDRB) maupun mikro (susenas). Keduanya dapat digunakan sebagai gambaran pendapatan penduduk di Provinsi Papua dan Kabupaten Mimika. Untuk Kabupaten Mimika pada tahun 2011, besarnya PDRB adalah Rp. 53,23 Triliun, dengan porsi PDRB yang dihasilkan oleh PTFI sebesar Rp. 45,66 Triliun atau 86% dari total PDRB Mimika. Kabupaten Mimika memiliki jumlah penduduk sebanyak 191.907 jiwa. Sehingga pendapatan per kapita per tahun dari hasil kontribusi PTFI adalah sebesar Rp. 237,94 juta (Rp.19,83 juta per bulan). Angka pendapatan per bulan tersebut berbeda secara kontras dengan angka sejenis yang dihasilkan dari Susenas. Berdasarkan data Susenas 2011, pendapatan per kapita per bulan di Kabupaten Mimika Rp. 0,86 juta. Sehingga terdapat selisih sekitar Rp. 18,97 juta. Dari perbedaan yang sangat signifikan ini dapat dikatakan bahwa sebagian besar nilai tambah yang dihasilkan oleh PTFI tidak
menjadi bagian pendapatan rumah tangga di Kabupaten Mimika.
Disparitas angka pendapatan per kapita tersebut tetap berada pada kondisi serupa pada beberapa periode. Sebagai gambaran, pada tahun 2014 kontribusi PDRB dari PTFI di Kabupaten Mimika adalah sebesar Rp. 30,85 triliun (78% dari PDRB Kabupaten Mimika) dengan jumlah penduduk 198.835 jiwa. Maka besarnya PDRB per kapita adalah sebesar Rp. 155,16 juta (Rp. 12.93 juta per bulan). Sedangkan hasil Susenas 2014 untuk Kabupaten Mimika pendapatan per kapita per bulan adalah sebesar Rp. 1,13 juta. Besarnya selisih adalah sebesar Rp. 11,80 juta. Meskipun besarnya selisih jauh berkurang bila dibandingkan tahun 2011, namun tetap terdapat disparitas yang besar antara pendapatan (PDRB) dari perspektif cakupan makro dengan pendapatan rumah tangga dari sudut pandang mikro.
Tabel 4.24 Perbandingan PDRB per Kapita Kontribusi PTFI dan Pengeluaran per Kapita Tahun 2011 dan 2014.
2011 2014 Satuan
Mimika PDRB Total 53.230.348 39.734.532 Rp Juta
Penduduk 191.907 198.835 Jiwa
PDRB hasil Kontribusi PTFI 45.662.931 30.850.559 Rp Juta
Per Kapita 237.94 155.16 Rp Juta
Per Kapita per Bulan. 19.83 12.93 Rp Juta Pengeluaran per Kapita per bulan
(Susenas) 0.86 1.13 Rp Juta
Provinsi
Papua PDRB Total 108.188.756 123.179.719 Rp Juta
Penduduk 2.915.300 3.091.000 Jiwa
PDRB hasil Kontribusi PTFI 48.217.769 39.545.894 Rp Juta
Per Kapita 16.54 12.79 Rp Juta
Per Kapita per Bulan. 1.38 1.07 Rp Juta Pengeluaran per Kapita per bulan
(Susenas) 0.54 0.78 Rp Juta
Sumber: Diolah dari data PDRB Provinsi Provinsi Papua, dan Pengolahan Data Susenas, BPS, 2014.
Kondisi ini sedikit berbeda di tingkat Provinsi Papua. Pada tahun 2011, besarnya PDRB kontribusi PTFI adalah sebesar Rp. 48,22 triliun. Dengan jumlah penduduk sebanyak 2.915.300 jiwa, maka PDRB kontribusi PTFI per kapita Provinsi Papua adalah sebesar Rp. 16,54 juta per tahun (Rp. 1,38 juta per bulan). Sedangkan berdasarkan data Susenas tahun 2011, pendapatan per kapita untuk provinsi Papua adalah sebesar Rp. 0,54 juta. Terdapat selisih sebesar Rp. 0,84 juta. Selisih tersebut tidak sebesar yang terjadi di Kabupaten Mimika. Akan tetapi, hal ini tidak berarti bahwa kontribusi PTFI di Provinsi Papua terserap dengan baik oleh seluruh komponen perekonomian di
Provinsi Papua. Besar kemungkinan, bahwa kecilnya selisih ini dikarenakan banyaknya jumlah penduduk dan beragamnya kegiatan perekonomian di Provinsi Papua apabila dibandingkan dengan kondisi di Kabupaten Mimika. Data untuk tahun 2014 di Provinsi Papua juga tidak jauh berbeda. PDRB kontribusi PTFI adalah sebesar Rp. 39,54 triliun. Dengan jumlah penduduk sebanyak 3.091.000 jiwa, maka PDRB kontribusi PTFI per kapita Provinsi Papua adalah sebesar Rp. 12,79 juta per tahun (Rp. 1,07 juta per bulan). Sedangkan berdasarkan data Susenas tahun 2014, pendapatan per kapita untuk provinsi Papua adalah sebesar Rp. 0,78 juta. Terdapat selisih sebesar Rp. 0,29 juta. Besarnya selisih ini sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan tahun 2011.
Selisih yang ada menggambarkan bahwa nilai tambah yang dihasilkan tidak berputar dalam perekonomian internal Papua. Jika diuraikan berdasarkan tiga pasar yang menjadi dasar analisis, maka pemicu terjadinya disparitas ini adalah:
1. Pasar Barang: Terdapat impor barang modal maupun barang konsumsi dengan nilai yang cukup besar dari luar wilayah Provinsi Papua maupun Kabupaten Mimika. Besarnya impor barang modal disebabkan tingginya kebutuhan mesin dan alat untuk kegiatan pertambangan. Sedangkan besarnya impor barang konsumsi disebabkan minimnya industri penghasil barang konsumsi tersebut di provinsi Papua. Penjabaran lebih lanjut pada bagian analisis gap pasar barang.
2. Pasar Tenaga Kerja: Sejumlah pekerja di PTFI tidak tinggal dan berasal dari wilaya Provinsi Papua maupun Kabupaten Mimika. Sehingga penghasilan yang didapatkan dari bekerja di lokasi penambangan PTFI akan ditransfer ke luar wilayah Provinsi Papua. Dari sisi perekonomian secara umum, pertumbuhan penduduk di wilayah Provinsi Papua yang tinggi didominasi oleh banyak pendatang dari luar wilayah Provinsi Papua. Penjabaran lebih lanjut pada bagian analisis gap pasar tenaga kerja.
3. Pasar uang: Kepemilikan PTFI oleh pemodal asing juga membuat sebagian besar keuntungan (dividen) beralih kepada pemilik modal yang notabene berada di luar wilayah provinsi Papua. Selain itu, dari sudut pandang umum, besarnya dana yang masuk ke dalam perekonomian wilayah Papua didominasi oleh kegiatan pemerintah (APBN dan APBD), yang pemenuhannya juga menggunakan barang dan jasa dari luar wilayah Provinsi Papua. Terdapat juga faktor minimnya penyaluran kredit di Provinsi Papua.