BAB III GAMBARAN UMUM PROVINSI PAPUA
3.1. Geografis dan Demografis
3.1.2 Pendidikan dan Ketenagakerjaan
Kondisi dan kualitas pendidikan merupakan salah satu indikator penentu kualitas SDM di suatu wilayah. Data kualitas pendidikan di Tanah Papua yang dapat terlihat di Tabel 3.3 menunjukan kualitas pendidikan di Provinsi Papua barat lebih maju dibandingkan dengan Provinsi Papua. Dilihat dari aspek lama sekolah pada tahun 2013, rata-rata lama sekolah di Provinsi Papua hanya sebesar 6,78 tahun nilai ini lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Papua Barat sebesar 8,53 tahun. Untuk tingkat partisipasi kasar sendiri jika dibandingkan masing-masing tingkat sekolah, Provinsi Papua Barat jauh lebih unggul jika dibandingkan Provinsi Papua walaupun jumlah penduduknya jauh lebih besar.
Tabel 3.3 Gambaran Pendidikan Provinsi Papua dan Papua Barat 2009-2013
Indikator 2009 2010 2011 2012 2013
Propinsi Papua
Angka Partisipasi Kasar ( APK) SD/MI 9.129 9.327 8.459 8.416 864 Angka Partisipasi Kasar ( APK) SMP/MTs 5.835 6.005 6.869 7.099 9.345 Angka Patisipasi Kasar (APK) SMA/MA 5.257 482 7.469 4.448 6.341
Lama Sekolah Penduduk 15 Tahun ke atas 657 666 669 687 687
Propinsi Papua Barat
Angka Patisipasi Kasar (APK) SD/MI 1.175 11.531 10.457 10.521 105,3 Angka Partisipasi Kasar ( APK) SMP/MTs 6.629 6.732 8.763 9.095 138,06 Angka Patisipasi Kasar (APK) SMA/MA 6.204 7.291 6.674 7.048 90,8
Lama Sekolah Penduduk 15 Tahun ke atas 801 821 826 845 8,53
Sumber: Simreg Bappenas, 2015
Angka melek huruf di Tanah Papua masih jauh dari rata-rata nasional. Pada tahun 2013 rata-rata angka melek huruf kabupaten/kota provinsi Papua adalah 59,72 persen. Sedangkan di tingkat nasional saat ini adalah sebesar 94,1 persen. Angka melek huruf yang rendah bersumber dari beberapa kabupaten di wilayah pegunungan yang mungkin dikarenakan karena akses pendidikan yang masih rendah disana. (Panel Kiri Gambar 3.3).
Penduduk di kabupaten/kota yang berada di pantai atau pulau bagian utara umumnya memiliki angka melek huruf yang lebih tinggi (≥ 90 persen) bahkan di beberapa kabupaten seperti Kota Jayapura, Kabupaten Biak Numfor dan Kabupaten Jayapura memiliki angka melek huruf yang lebih besar dari Nasional.
Angka rata-rata melek huruf kabupaten/kota Provinsi Papua Barat tahun 2013 masih dibawah angka tingkat nasional akan tetapi lebih tinggi dibandingakan dengan Provinsi papua. Pada tahun 2013 angka melek huruf papua Barat adalah 88,96 persen yang dimana masih rendah jika dibandingak dengan Nasional 2013 sebesar 94,1 persen. Angka ini mengimplikasikan bahwa kemampuan baca wilayah Provinsi Papua Barat jauh lebih baik jika dibandingkan dengan Provinsi Papua. Penduduk Kota Sorong, Kabupaten Fak-Fak dan Kabupaten Kaimana merupakan 3 kabupaten/kota yang memiliki tingkat melek
huruf tertinggi dibandingkan wilayah lainnya di Provinsi Papua Barat (Panel Kanan Gambar 3.3)
Sumber: Simreg Bappenas, 2015
Gambar 3.3 Angka Melek Huruf kabupaten/kota di Provinsi Papua dan Papua Barat
Tahun 2013
Indikator lainnya untuk mengukur perkembangan suatu wilayah maju atau tidak dapat melihat Indikator indeks Pembangunan Manusia (IPM). Data perkembangan IPM di Tanah Papua menunjukkan nilai IPM Provinsi Papua dan Papua Barat masih jauh dibawah IPM Nasional. Pada tahun 2013 dan 2014 menunjukan bahwa terjadi peningkatan untuk Provinsi Papua Barat dan Provinsi Papua serta Nasional (Gambar 3.4). Besarnya IPM di Provinsi Papua pada tahun 2012 dan 2013 berturut-turut sebesar 56,25 dan 56,75, sedangkan untuk Provinsi Papua Barat secara berturut-turut adalah sebesar 60,91 dan 61,28 masih rendah dibandingkan Nasional sebesar 68,31 dan 68,90. Akan tetapi peningkatan setiap tahunnya menunjukkan bahwa setiap tahun Tanah Papua terus berkembang dari sisi indeks pembangunan manusia.
Sumber: Simreg Bappenas, 2015
Gambar 3.4 Perkembangan IPM Provinsi Papua dan Papua Barat
Melihat Tanah Papua dari sisi tenaga kerja, dapat dilihat pada Tabel 3.4, pada tahun 2014 bulan Februari dan Agustus jumlah penduduk usia kerja di Provinsi Papua secara berturut-turut sebanyak 2,097 juta dan 2,129 juta dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 1,68 juta jiwa dan 1,67 Juta jiwa. Sedangkan untuk Provinsi Papua Barat sendiri jumlah penduduk usia kerja berturut-turut bulan Februari dan Agustus sebanyak 573 ribu jiwa dan 583 ribu jiwa dengan jumlah angkatan kerja sebanyak 407 ribu jiwa dan 398 ribu jiwa.
Data tingkat Pengangguran terbuka di Provinsi Papua dan Papua Barat menunjukkan lebih rendah dibandingkan nasional. Tingkat penggangguran terbuka bulan Februari dan Agustus di tahun 2014 secara berturut-turut sebesar 3,48% dan 3,44% untuk Provinsi Papua dan 3,70% dan 5,02% untuk Papua Barat dimana lebih rendah dibandingkan nasional sebesar 5,81% dan 5,94%. Hal ini mengindikasikan sudah cukup banyak tenaga kerja yang teserap di Tanah Papua. Untuk lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 3.4.
Tabel 3.4 Gambaran Ketenagakerjaan Provinsi Papua dan Papua Barat
Indikator Februari 2013 Agustus Februari 2014 Agustus
Provinsi Papua
Penduduk Usia Kerja (Jiwa) 2.110.417 2.165.070 2.097.242 2.129.404
Angkatan Kerja (jiwa) 1.693.694 1.688.878 1.689.030 1.675.113
Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Termasuk
Pengangguran Terbuka (Jiwa) 47.700 54.544 58.811 57.676 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) (%) 80,25 78,01 80,54 78,67
Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 2,81 4,62 3,48 3,44
Provinsi Papua Barat
Penduduk Usia Kerja (Jiwa) 549.724 558.262 573.822 583. 374
Angkatan Kerja (jiwa) 375.189 370.750 407.707 398.424
Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Termasuk
Pengangguran Terbuka (Jiwa) 16.800 17.131 15.073 19.988 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) (%) 68,25 66,41 71,05 68,30
Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 4,47 3,23 3,70 5,02 Nasional
Penduduk Usia Kerja (Jiwa) 175.098.712 176.662.097 181.169.972 182.992.204
Angkatan Kerja (jiwa) 121.191.712 118.192.778 125.316.991 121.872.931
Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Termasuk
Pengangguran Terbuka (Jiwa) 7.170.523 7.388.737 7.147.069 7.244.905 Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) (%) 69,21 66,9 69,17 66,6
Tingkat Pengangguran Terbuka (%) 5,70 6,25 5,81 5,94
Sumber: Simreg Bappenas, 2015
Data lainnya untuk melihat kondisi tenaga kerja adalah angkatan kerja berdasarkan pendidikan yang ditamatkan dimana terdapat kondisi yang cukup berbeda antara Provinsi Papua dan Papua Barat. Dapat kita lihat (Tabel 3.4) penduduk usia kerja di Papua lebih di dominasi oleh tenaga kerja yang belum pernah sekolah dan SD sebanyak 604 ribu jiwa dan 296 ribu jiwa. Sedangkan di Provinsi Papua Barat penduduk angkatan kerja didominasi oleh penduduk dengan pendidikan universitas kemudian di ikuti oleh diploma sebanyak 134 ribu jiwa dan 81 ribu jiwa. Hal ini mengindikasikan bahwa dari sisi tenaga kerja Provinsi Papua Barat memiliki nilai lebih dari sisi kualitas dilhat dari tingkat pendidikan penduduk yang termasuk angkatan kerja sedangkan dari sisi kuantitas tentu Provinsi Papua jauh lebih unggul.
Tabel 3.5 Jumlah Penduduk Berumur 15 Tahun Ke Atas Yang Termasuk Angkatan Kerja dan Pendidikan Tertinggi yang Ditamatkan Provinsi Papua dan Papua Barat, 2011-2014
Indikator 2011 2012 2013 2014
Papua
Belum Pernah Sekolah ( Agustus ) 579.913 607.266 647.458 604.267 Belum Tamat SD ( Agustus ) 130.105 142.963 154.386 152.164
SD ( Agustus ) 229.206 253.413 267.021 296.374
SMP ( Agustus ) 199.362 180.682 190.941 223.977
SMK ( Agustus ) 82.413 81.045 78.942 69.969
SMA (Umum) ( Agustus ) 210.068 217.210 234.854 226.631 Akademi (Diploma I/II/III) (Agustus) 36.250 29.850 28.701 28.305 Universitas ( Agustus ) 69.411 73.005 86.573 220,278 Papua Barat
Belum Pernah Sekolah ( Agustus ) 12.982 12.003 9.612 12.618 Belum Tamat SD ( Agustus ) 27.019 28.148 23.172 28.043
SD ( Agustus ) 55.001 50.742 50.259 55.332
SMP ( Agustus ) 80.144 73.641 69.708 73.447
SMK ( Agustus ) 57.879 59.375 65.312 65.436
SMA (Umum) ( Agustus ) 33.919 34.587 35.250 37.765 Akademi (Diploma I/II/III) (Agustus) 69.710 74.156 77.065 81.074 Universitas ( Agustus ) 32.965 28.945 40.372 134.127 Sumber: Simreg Bappenas, 2015
Data distribusi tenaga kerja menurut sektor akan menunjukan sektor mana saja yang menyerap tenaga kerja terbesar di Tanah Papua. Melihat tenaga kerja dari sisi distribusi, di Provinsi Papua sendiri tenaga kerja terkonsentrasi di beberapa sektor. Untuk Provinsi Papua (Tabel 3.6) sendiri tenaga kerja hanya terkonsentrasi di dua sektor pada tahun 2014 yaitu sektor Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan dengan proporsi terhadap total mencapai 70,59% dan sektor jasa kemasyarakatan sosial dan perorangan sebesar 13,47%. Hal ini mengindikasikan bahwa masyarakat Provinsi Papua masih mengandalkan alam sebagai mata pencariannya sehingga alam menjadi sangat penting untuk penduduk Papua. Penyerapan sektor industri pengolahan yang masih sangat kecil mengindikasikan bahwa belum berkembangnya industri pengolahan di Provinsi Papua.
Tabel 3.6 Distribusi Tenaga Kerja (Agustus) Provinsi Papua Menurut Lapangan Usaha
Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 Share 2014
Pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan, dan
perikanan 1.133.982 1.036.520 1.112.814 1.191.356 1.141.671 70,59%
Pertambangan dan penggalian 15.671 33.174 32.100 25.706 20.160 1,25%
Industri pengolahan 18.218 19.885 16.998 22.438 16.048 0,99%
Listrik, gas, dan air minum 1.291 2.910 2.129 1.244 1.961 0,12%
Konstruksi 27.356 36.358 27.687 34.662 36.122 2,23%
Perdagangan, rumah makan, dan
jasa akomodasi 96.199 130.766 114.442 118.838 116.847 7,22%
Angkutan, penggudangan, dan
komunikasi 38.512 52.225 51.449 55.911 50.385 3,12%
Lembaga keuangan, real estat, usaha persewaan, dan jasa
perusahaan 6.477 16.483 12.098 18.959 16.447 1,02%
Jasa kemasyarakatan, sosial, dan
perorangan 118.839 147.906 158.216 165.218 217.796 13,47%
Total tenaga Kerja 1.456.545 1.476.227 1.527.933 1.634.332 1.617.437
Sumber: Simreg Bappenas, 2015
Provinsi Papua Barat tidak cukup berbeda dengan Provinsi Papua. Provinsi Papua Barat tenaga kerja terkosentrasi di tiga sektor pada tahun 2014. Sektor pertanian, perkebunan, kehutanan, perburuan dan perikanan memberikan proporsi yang tinggi sebesar 45,28% lebih rendah dibandingkan dengan Provinsi Papua, kemudian diikuti oleh sektor jasa kemasyarakatan sosial dan perorangan dengan proporsi 17,65% dan sektor perdagangan, rumah makan, dan jasa akomodasi sebesar 16,41%. Besarnya proporsi sektor perdagangan yang cukup tinggi mengindikasikan bahwa provinsi ini sudah mulai berkembang perekonomiannya dan mulai bergerak ke sektor perdagangan walaupun masih didominasi oleh sektor pertanian dan sektor perdagangan hanya terkonsentrasi di beberapa kabupaten atau kota tertentu. Akan tetapi perkembangan sektor perdagangan di Provinsi Papua Barat didominasi oleh usaha dari pendatang yang lebih cepat berkembang disana. Lebih jelasnya dapat dilihat pada Tabel 3.8.
Tabel 3.8 Distribusi Tenaga Kerja (Agustus) Provinsi Papua Barat menurut Lapangan Usaha
Sektor 2010 2011 2012 2013 2014 Share 2014
Pertanian, perkebunan, kehutanan,
perburuan, dan perikanan 171.060 163.164 158.974 172.247 171.340 45,28%
Pertambangan dan penggalian 6.757 8.932 10.362 9.537 8.532 2,25%
Industri pengolahan 12.300 11.580 17.652 12.877 16.682 4,41%
Listrik, gas, dan air minum 587 221 880 903 1.726 0,46%
Konstruksi 16.032 16.233 16.182 12.924 19.882 5,25%
Perdagangan, rumah makan, dan
jasa akomodasi 37.852 56.325 51.869 51.120 62.107 16,41%
Angkutan, penggudangan, dan
komunikasi 15.046 17.010 19.567 19.457 22.013 5,82%
Lembaga keuangan, real estat, usaha
persewaan, dan jasa perusahaan 2.843 4.392 5.622 4.310 9.344 2,47%
Jasa kemasyarakatan, sosial, dan
perorangan 54.070 58.731 60.633 70.244 66.810 17,65%
Total tenaga Kerja 316.547 336.588 341.741 353.619 378.436
Sumber: Simreg Bappenas, 2015