BAB IV ANALISIS DAMPAK EKONOMI
A. Analisis Makroekonomi
4.4. Nilai Dampak Ekonomi
Pada bagian ini dipaparkan dampak ekonomi secara makro sebagai kontribusi dari kehadiran PTFI yang beroperasi di Provinsi Papua. Dampak ekonomi mencakup indikator output perekonomian, nilai tambah bruto dan pendapatan pekerja atau rumah tangga. Dampak ekonomi kemudian dipisahkan ke dalam dampak skala nasional dan skala Provinsi Papua.
Setiap indikator dampak dibagi ke dalam 3 komponen, yaitu dampak langsung, dampak antar-industrial, dan dampak induksi pendapatan. Dampak langsung adalah peningkatan indikator yang terjadi di perusahaan PTFI, baik dalam bentuk output perusahaan atau penjualan perusahaan, nilai tambah bruto di perusahaan, maupun pendapatan pekerja di perusahaan. Sebagai catatan yang tercakup dalam nilai tambah bruto perusahaan adalah komponen upah/gaji, surplus perusahaan, depresiasi, pajak tidak langsung dan subsidi (jika ada).
Kemudian dampak antar-industrial adalah kenaikan output (dan indikator lainnya) yang muncul di bisnis-bisnis sektor lainnya, yang terhubung langsung dan tidak langsung dengan kegiatan produksi PTFI. Sektor yang terhubung langsung adalah bisnis yang memasok kebutuhan bahan baku dan penolong serta jasa-jasa lainnya yang dibutuhkan untuk operasional PTFI. Sektor-sektor tersebut kita sebut sebagai layer pertama. Sektor yang tidak terhubung langsung dengan PTFI adalah sektor yang memasok bahan baku dan penolong yang dibutuhkan oleh sektor-sektor di layer pertama, ketika mereka meningkatkan produknya karena permintaan dari PTFI. Sektor yang 52
berhubungan dengan layer pertama kita sebut kelompok bisnis layer kedua. Demikian seterusnya akan terbentuk hubungan antar-industri layer ketiga, keempat dan seterusnya. Pada akhirnya semua sektor perokonomian terhubung secara tidak langsung dengan kegiatan PTFI.
Selanjutnya dampak induksi pendapatan adalah dampak kenaikan output, nilai tambah bruto dan pendapatan yang disebabkan oleh adanya kenaikan belanja rumah tangga. Kenaikan belanja rumah tangga bersumber dari penambahan pendapatan para pekerja PTFI, pendapatan pekerja di sektor-sektor bisnis layer pertama, layer kedua, ketiga dan seterusnya.
Penjumlahan dampak langsung, dampak antar-industrial dan dampak induksi pendapatan menghasilkan dampak total. Rasio dari dampak total dan dampak awal kita sebut sebagai angka pengganda atau multiplier ekonomi. Sebuah angka stimulus (biasanya berupa belanja barang modal atau nilai produksi, atau tenaga kerja) dikalikan dengan angka multipliernya akan menghasilkan angka dampak ekonomi. Angka dampak ekonomi bisa berupa output, nilai tambah bruto, pendapatan rumah tangga ataupun jumlah tenaga kerja.
Pada Tabel 4.7 disediakan angka penciptaan output sebagai dampak dari operasional PTFI dalam periode 2010-2014 pada skala nasional. Angka dampak pada skala nasional selalu lebih besar daripada angka dampak dalam skala kabupaten atau pun provinsi. Sebab angka dampak nasional menampung dampak lokal dan dampak yang muncul di provinsi-provinsi luar Papua. Kemunculan dampak di luar Provinsi Papua sangat dimungkinkan, karena PTFI dan sektor terkait lainnya di Papua memiliki kaitan dengan bisnis di luar Papua. Secara rata-rata dalam periode 2010-2014 bahwa untuk setiap juta rupiah nilai penjualan PTFI akan menciptakan kira-kira 1,75 juta rupiah output nasional (rata-rata periode 2010-2014). Satu juta berasal dari output PTFI, dan 0,75 juta berasal dari penambahan output di sektor-sektor lapangan usaha lain yang terkait langsung dan tidak langsung dari kegiatan operasional PTFI. Dari tahun ke tahun multiplier output tidak sama, penyebabnya adalah adanya perbedaan proporsi nilai penjulan konsentrat yang diekspor dan diolah dalam negeri. Jika konsentrat diekspor, maka mutliplier outputnya adalah 1,524, sedangkan jika konsentrat tembaga diolah atau dilebur di dalam negeri maka multiplier outputnya menjadi 1,871. Dalam hal ini pengolahan konsentrat di dalam negeri akan lebih menguntungkan, karena akan memberikan dampak penciptaan output perekonomian yang lebih tinggi ketimbang diekspor.
Tabel 4.7 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Output Nasional (Juta rupiah) Tahun Langsung: Nilai Penjualan Industri Tidak Langsung inter-industrial Tidak Langsung: Induksi pendapatan Total Dampak Output Multiplier (Rata-rata) 2010 67.610.375 15.706.572 29.740.376 113.057.323 1,67 2011 50.438.516 11.335.808 24.438.332 86.212.656 1,71 2012 39.256.038 8.568.212 20.521.286 68.345.536 1,74 2013 46.479.932 10.619.334 21.498.348 78.597.615 1,69 2014 41.367.243 8.874.117 22.538.922 72.780.282 1,76
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Nilai output yang tercipta dari kegiatan produksi PTFI ditambah dengan penciptaan ouput pada sektor-sektor lain yang terkait langsung dan tidak langsung dengan proyek, kemudian melahirkan penambahan pendapatan rumah tangga. Akumulasi pendapatan rumah tangga pada gilirannya menjadi stimulus tambahan dalam meningkatkan nilai output sektor-sektor perekonomian lainnya. Oleh sebab itu nilai output yang tercipta akan menyebar ke seluruh sektor perekonomian, dimana output terbesar muncul di sektor pertambangan (dimana PTFI berada), kemudian diikuti oleh kenaikan output pada sektor-sektor lainnya. Distribusi dampak output secara sektoral dijabarkan oleh angka-angka pada Tabel 4.8. Distribusi penciptaan output antar sektor sangat tidak merata, dan memang demikian katrakteristik distribusi dampak output antara sektor dari proyek pertambangan. Output terbesar muncul di sektor pertambangan itu sendiri kemudian diikuti oleh sektor industri pengolahan. Sektor-sektor lain yang menerima dampak lumayan besar adalah sektor perdagangan dan bengkel kendaraan; sektor transportasi & pergudangan; dan sektor jasa keuangan dan asuransi; serta jasa lainnya. Sektor-sektor yang disebutkan di atas adalah sektor-sektor yang dibutuhkan dan didorong oleh pertambangan. Sektor-sektor tersebut terkait kuat dalam sebuah rantai-pasokan barang/jasa berbasis industri pertambangan bijih logam tembaga.
Tabel 4.8 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Output Nasional (Juta rupiah)
No. Sektor Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 2014 %
1 Pertanian, Kehutanan, Perikanan 2.426.873 1.737.935 1.304.254 1.634.469 1.344.944 1,85 2 Pertambangan dan Penggalian 68.639.707 51.168.320 39.798.642 47.169.750 41.923.564 57,60 3 Industri Pengolahan 25.061.199 20.653.384 17.379.339 18.143.997 19.108.569 26,26 4 Pengadaan Listrik dan Gas 475.634 323.543 230.953 312.352 230.673 0,32 5 Pengadaan Air, pengelolaan sampah, limbah 66.257 50.843 40.514 46.211 43.267 0,06
6 Konstruksi 4.324.307 3.735.255 3.246.641 3,210.946 3.627.976 4,98
7 Perdagangan, Reparasi Mobil dan Speda Motor 2.899.872 2.014.216 1.468.224 1,923.830 1.486.642 2,04 8 Transportasi dan Pergudangan 1.774.334 1.244.866 916.325 1,182.941 933.609 1,28 9 Akomodasi dan Makan-minum 1.070.693 760.876 566.931 718.354 582.043 0,80
10 Informasi dan Komunikasi 559.951 380.993 272.030 367.768 271.745 0,37
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 1.319.545 900.020 644.223 867.686 644.614 0,89
12 Real estate 610.227 412.546 292.619 399.548 291.024 0,40
13 Jasa Perusahaan 464.715 327.890 242.664 310.687 248.085 0,34
14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 374.048 342.221 308.467 286.686 350.702 0,48
15 Jasa Pendidikan 517.319 418.187 346.979 370.724 378.735 0,52
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan social 383.928 298.656 240.603 269.661 258.511 0,36
17 Jasa Lainnya 2.088.715 1.442.906 1.046.129 1.382.003 1.055.580 1,45
TOTAL 113.057.323 86.212.656 68.345.536 78.597.615 72.780.282 100,00
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Peningkatan nilai output atau penjualan PTFI secara otomatis melahirkan nilai tambah bruto (NTB) dalam pertambangan bijih logam tembaga dan sektor-sektor lainnya. Nilai tambah bruto yang berasal dari PTFI adalah penjumlahan empat komponen yaitu: upah/gaji pekerja produksi dan non produksi PTFI, surplus usaha PTFI, depresiasi barang model PTFI, dan pajak tidak langsung (pajak keluaran yang dibayar pembeli dikurangi pajak masukan yang dibayar PTFI). Nilai tambah bruto dari bisnis-bisnis lain di luar PTFI adalah penjumlahan empat komponen NTB tersebut, yang terjadi karena bisnis mengalami kenaikan omset atau penjualan sehubungan dengan adanya kegiatan PTFI.
Angka dampak nilai tambah bruto yang terjadi di PTFI dan pihak-pihak lain yang terkait pada skala nasional disajikan pada Tabel 4.9. Perlu dipahami bahwa nilai tambah bruto tidak sama dengan nilai output. Nilai tambah bruto adalah sebuah fraksi atau bagian tertentu dari nilai output, sehingga nilai tambah bruto selalu lebih kecil daripada nilai output. Secara matematis nilai tambah bruto adalah nilai output dikurangi oleh jumlah pengeluaran untuk bahan baku dan penolong (input antara) yang habis sekali proses produksi. Besar-kecilnya nilai tambah bruto bergantung pada intensitas relatif sektor menggunakan input langsung dalam proses produksinya. Industri yang bersifat ekstraktif (pertanian dan pertambangan) fraksi nilai tambah bruto relatif nilai output adalah lebih besar daripada fraksi nilai tambah bruto di 55
sektor manufaktur, bangunan, dan sektor-sektor lainnya. Secara umum dapat dikatakan bahwa setiap juta rupiah nilai tambah bruto di PTFI akan menciptakan nilai tambah bruto nasional menjadi 1,35 juta rupiah.
Tabel 4.9 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Nilai tambah Bruto Nasional (Juta rupiah)
Tahun Langsung: Nilai Tambah Bruto di Perusahaan Tidak langsung: Efek antar-industrial Tidak langsung: Efek induksi pendapatan Dampak Total Nilai Tambah Multiplier Rata-rata 2010 54.742.325 7.509.084 11.493.884 73.745.293 1,35 2011 40.838.727 5.448.693 9.001.308 55.288.727 1,35 2012 31.784.571 4.138.542 7.290.130 43.213.244 1,36 2013 37.633.566 5.090.607 8.101.184 50.825.358 1,35 2014 33.493.958 4.298.917 7.855.403 45.648.278 1,36
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Jika dikaitkan dengan dengan angka PDB nasional pada harga berlaku, maka nilai PDB yang disumbang secara langsung dan tidak langsung oleh kehadiran PTFI adalah sekitar 1,14% dari total PDB nasional pada tahun 2010 (Tabel 4.10). Kontribusi PTFI berkurang menjadi 0,45% pada tahun 2014. Angka-angka kontribusi PTFI tersebut tergolong besar, jika mengingat terdapat ratusan perusahaan pertambangan yang beroperasi di Indonesia.
Tabel 4.10 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan PDB Nasional Tahun PDB Kontribusi PTFI (Miliar Rupiah) PDB-Nasional (Miliar Rupiah) % terhadap Nasional 2010 73.745 6.446.852 1,14% 2011 55.289 7.419.187 0,75% 2012 43.213 8.230.926 0,53% 2013 50.825 9.087.277 0,56% 2014 45.648 10.094.929 0,45%
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Sektor pertambangan beserta sektor eksploitatif lainnya adalah sektor-sektor yang secara alami memberikan fraksi nilai tambah bruto yang lebih besar dibandingkan sektor-sektor lainnya. Lebih besar di sini dilihat dari fraksi nilai tambah relatif terhadap nilai output. Fraksi output yang menjadi nilai tambah bruto adalah seklitar 80%, artinya dari satu juta rupiah nilai
produksi pertambangan akan menghasilkan nilai tambah bruto sebesar 0,80 juta rupiah. Sebagai pembanding, angka fraksi nilai tambah bruto dari sektor industri manufaktur sekitar 0,38. Dengan penjelasan tersebut, maka sangat wajar jika distribusi sektoral dari nilai tambah bruto yang ada pada Tabel 4.11 sangat timpang. Dari Tabel diketahui bahwa sektor pertambangan dan penggalian menghasilkan angka terbesar, lalu diikuti oleh sektor industri pengolahan, perdagangan, dan pertanian, kehutanan dan perikanan; serta jasa keuangan dan asuransi. Angka nilai tambah bruto dalam bahasa sehari-hari disebut sebagai Produk Domestik Bruto atau disingkat PDB.
Tabel 4.11 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Nilai tambah Bruto Nasional (Juta rupiah)
No. Sektor Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 2014 %
1 Pertanian, Kehutanan, Perikanan 1.847.590 1.320.996 989.897 1.243.346 1.019.858 2,23
2 Pertambangan dan Penggalian 55.604.889 41.448.859 32.237.197 38.210.954 33.957.386 74,39
3 Industri Pengolahan 7.689.282 6.196.430 5.129.391 5.501.272 5.592.026 12,25
4 Pengadaan Listrik dan Gas 136.800 93.056 66.426 89.837 66.345 0,15
5 Pengadaan Air, pengelolaan sampah, limbah 29.403 22.562 17.979 20.507 19.200 0,04
6 Konstruksi 1.546.457 1.335.801 1.161.063 1.148.298 1.297.436 2,84
7 Perdagangan, Reparasi Mobil dan Speda Motor 1.895.664 1.316.705 959.787 1,257.619 971.827 2,13
8 Transportasi dan Pergudangan 707.006 497.022 366.550 471.820 373.916 0,82
9 Akomodasi dan Makan-minum 477.306 339.607 253.332 320.430 260.270 0,57
10 Informasi dan Komunikasi 437.174 297.454 212.383 287.129 212.161 0,46
11 Jasa Keuangan dan Asuransi 866.526 590.917 422.889 569.744 423.091 0,93
12 Real estate 507.053 342.795 243.144 331.994 241.819 0,53
13 Jasa Perusahaan 255.753 180.452 133.549 170.985 136.532 0,30
14
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib
216.425 198.010 178.480 165.878 202.918 0,44
15 Jasa Pendidikan 311.481 251.793 208.918 223.215 228.038 0,50
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan sosial 182.648 142.081 114.463 128.287 122.982 0,27
17 Jasa Lainnya 1.033.837 714.186 517.796 684.041 522.474 1.14
TOTAL 73.745.293 55.288.727 43.213.244 50.825.358 45.648.278 100,00
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Indikator dampak ekonomi lainnya yang penting adalah pendapatan pekerja yang diterima rumah tangga, sebagaimana angka-angkanya dicantumkan pada Tabel 4.12. Pendapatan pekerja adalah indikator yang lebih baik dibandingkan NTB dalam menggambarkan manfaat kehadiran entiti bisnis di
suatu wilayah. Manfaat ekonomi NTB belum tentu dirasakan oleh masyarakat domestik atau masyarakat setempat. Karena bagian keuntungan perusahaan (komponen kedua dari NTB) umumnya tidak dirasakan oleh masyarakat setempat, melainkan oleh pemilik usaha yang domisilinya di luar lokasi perusahaan. Apalagi perusahaan PMA, maka sebagian dividen keuntungan akan dikirim keluar negeri. Komponen depresiasi (komponen ketiga dari NTB) juga tidak dirasakan oleh masyarakat setempat, karena komponen ini akan dinikmati oleh pemodal besar yang berasal dari luar wilayah. Komponen pajak tidak langsung (komponen keempat NTB) juga tidak seutuhnya dinikmati oleh masyarakat setempat, karena dipungut oleh pemerintah pusat. Jika kita rasiokan antara angka dampak pendapatan total pada skala nasional dan pendapatan pekerja PTFI maka diperoleh angka pengganda pendapatan (income multiplier) nasional pada sektor pertambangan tembaga PTFI. Dari Tabel 4.12 diperolah rata-rata income multiplier sebesar 1,89. Artinya untuk setiap juta rupiah pendapatan upah/gaji pekerja PTFI akan meningkatkan pendapatan pekerja skala nasional menjadi 1,89 juta rupiah. Satu juta adalah angka pendapatan yang diterima pekerja PTFI dan 0,89 juta rupiah adalah pendapatan yang diterima oleh seluruh pekerja di sektor lain yang terkait langsung dan tidak langsung dengan aktifitas PTFI.
Dari Tabel 4.12 menyajikan angka-angka dampak pendapatan masyarakat yang diciptakan oleh keberadaan PTFI. Sumber pendapatan masyarakat terbesar adalah dari efek langsung, yaitu bersumber dari pendapatan para pekerja langsung baik berstatus pekerja produksi maupun pekerja non produksi di PTFI. Urutan kedua terbesar berasal dari efek induksi pendapatan, mencapai 29,63% dari total dampak pendapatan. Artinya efek penambahan output pada sektor-sektor ekonomi lainnya lebih banyak berasal dari efek tidak langsung belanja barang rumah tangga, ketimbang efek dari belanja perusahaan. Efek kenaikan output secara otomatis berimplikasi pada kenaikan pendapatan rumah tangga.
Tabel 4.12 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Pendapatan Pekerja atau Rumah Tangga Nasional (Juta rupiah)
Tahun Langsung: Perkiraan Pendapatan Pekerja di Perusahaan Tidak Langsung: Efek intar-industrial Tidak Langsung: Efek induksi Pendapatan Angka Dampak Total Pengganta Pendapatan (income multiplier) 2010 6.768.112 2.259.177 3.551.451 12.578.740 1,86 58
2011 5.049.129 1.647.409 2.820.051 9.516.589 1,88 2012 3.929.711 1.256.851 2.308.573 7.495.136 1,91 2013 4.652.857 1.535.353 2.521.283 8.709.493 1,87 2014 4.141.053 1.309.028 2.501.987 7.952.068 1,92
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Pola distribusi dampak pendapatan disajikan pada Tabel 4.13, dimana pendapatan lebih tersebar ke lebih banyak sektor dibanding distribusi dampak output. Walaupun dampak output dan NTB masih terpusat dari sektor pertambangan dan pengalian, namun dampak pendapatan lebih tersebar ke sektor-sektor lainnya. Penjelasannya adalah karena fraksi pendapatan-output di sektor-sektor lain lebih besar daripada fraksi pendapatan-output di sektor pertambangan dan penggalian. Oleh karena itulah, walaupun nilai tambah brutonya kecil, tetapi penciptaan pendapatan rumah tangganya relatif lebih besar. Inilah suatu fenomena eksternalitas positif dari pertambangan dalam rantai penciptaan pendapatan rumah tangga. Rantai penciptaan pendapatan rumah tangga akan semakin besar lagi jika produk-produk pertambanga diolah lebih lanjut menjadi produk-produk setengah jadi atau produk akhir. Selain itu kontribusi pendapatan akan dapat ditingkatkan sejalan dengan peningkatan input domestik.
Tabel 4.13 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan pendapatan Rumah Pekerja Nasional (Juta rupiah)
No. Sektor Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 2014 %
1 Pertanian, Kehutanan, Perikanan 422.813 303.914 228.859 285.287 236.494 2,97 2 Pertambangan dan Penggalian 6.890.848 5.138.299 3.997.516 4.736.115 4.211.533 52,96 3 Industri Pengolahan 2.190.113 1.761.850 1.456.567 1.565.479 1.586.858 19,96 4 Pengadaan Listrik dan Gas 42.007 28.575 20.397 27.586 20.372 0,26 5 Pengadaan Air, pengelolaan sampah, limbah 12.303 9.441 7.523 8.580 8.034 0,10
6 Konstruksi 574.752 496.460 431.517 426.773 482.201 6,06
7 Perdagangan, Reparasi Mobil dan Speda Motor 537.699 373.479 272.240 356.720 275.656 3,47 8 Transportasi dan Pergudangan 292.385 205.573 151.629 195.136 154.689 1,95 9 Akomodasi dan Makan-minum 170.784 121.392 90.468 114.595 92.891 1,17 10 Informasi dan Komunikasi 87.977 59.860 42.740 57.782 42.695 0,54 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 259.522 176.783 126.373 170.546 126.339 1,59
12 Real estate 25.602 17.309 12.277 16.763 12,.210 0,15
13 Jasa Perusahaan 94.469 66.655 49.330 63.158 50.432 0,63
14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 190.705 174.478 157.269 146.165 178.802 2,25
15 Jasa Pendidikan 246.055 198.904 165.035 176.329 180.140 2,27
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan sosial 115.886 90.147 72.624 81.395 78.030 0,98
17 Jasa Lainnya 424.820 293.470 212.771 281.084 214.693 2,70
TOTAL 12.578.740 9.516.589 7.495.136 8.709.493 7.952.068 100,00
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Kemudian pada Tabel 4.14 disajikan dampak output kehadiran PTFI di Provinsi Papua, periode 2010-2014, dimana dampak total dikomposisi menjadi Dampak Langsung, antar-industrial dan dampak induksi pendapatan. Dampak langsung output (nilai penjualan PTFI) mencapai 72,5% dari total dampak, sedangkan dampak tidak langsung output hanya 27,5% dari total dampak output. Fraksi dampak tidak langsung output yang kecil disebabkan oleh lemahnya keterkaitan antar-industri secara lokal. Hal ini menggambarkan rendahnya kemampuan lokal dalam memasok input yang dibutuhkan PTFI. Demikian pula rendahnya fraksi dampak induksi-pendapatan disebabkan oleh tidak mampunya perekonomian lokal menyediakan seluruh barang/jasa yang dibutuhkan rumah tangga pegawai PTFI dan rumah tangga pada umumnya.
Tabel 4.14 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Output Provinsi Papua (Juta rupiah)
Tahun Nilai Penjualan Langsung: PTFI Tidak langsung: Efek antar-industrial Tidak langsung: induksi pendapatan Total Dampak
Output Multiplier Aggregat
2010 67.610.375 16.518.734 9.001.408 93.130.517 1,38
2011 50.438.516 12.323.263 6.715.207 69.476.986 1,38
2012 39.256.038 9.591.132 5.226.411 54.073.581 1,38
2013 46.479.932 11.356.092 6.188.175 64.024.199 1,38
2014 41.367.243 10.106.947 5.507.490 56.981.680 1,38
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Selanjutnya pada Tabel 4.15 dicantumkan angka kontribusi PTFI dalam pembentukan nilai tambah bruto di wilayah Provinsi Papua. Angka Nilai tambah bruto lebih kecil daripada nilai output, karena angka merupakan bagian dari nilai output dengan fraksi tertentu. Dari angka-angka pada Tabel 4.15 yang menarik dicermati adalah kontribusi relatif PTFI dalam penciptaan PDRB Papua, yang angkanya menunjukkan pola menurun dalam periode 2010-2014. Jika sebelum tahun 2010, PTFI pernah memberikan kontribusi sekitar 60% terhadap PDRB Papua1, maka pada tahun 2010 hanya menyumbang sekitar 58,33% terhadap PDRB Provinsi Papua. Kemudian menyusut menjadi 32,10% pada tahun 2014. Penurunan kontribusi relatif PTFI dalam PDRB Papua disebabkan oleh dua hal, yaitu: pertama pertumbuhan PDRB Papua (harga berlaku) yang lebih tinggi di sektor-sektor luar tambang, terutama sektor pemerintahan dan jasa-jasa lainnya (pasca pemekaran wilayah), dan kedua stagnan atau menurunnya kuantitas produksi dan nilai penjulan produk PTFI. Sangat mungkin, ke depan kontribusi relatif PTFI akan
1
Dampak Ekonomi dan Fiskal PTFI terhadap Perekonomian Papua, LPEM-FEUI, 2008.
60
berkurang secara bertahap, sebagai konsekuensi dari stagnannya tingkat produksi. Sedangkan perekonomian di Papua diperkirakan akan semakin berkembang, terindikasi dari semakin intensnya pemerintah pusat dan daerah mengembangkan infrastruktur untuk menopang tumbuh dan berkembangnya industri berbasis sumber daya alam.
Tabel 4.15 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Nilai Tambah Bruto (PDRB) di Provinsi Papua (Juta rupiah)
Tahun Langsung: Nilai Tambah Bruto di Perusahaan Tidak langsung: Efek inter-industrial Tidak Langsung: Efek Induksi Pendapatan Dampak Total Nilai Tambah Bruto PDRB Papua Harga Berlaku (Miliar Rp) Persen Kontribusi dalam PDRB Papua 2010 47.380.213 11.512.698 5.740.662 64.633.572 110.808 58,33% 2011 35.346.463 8.588.673 4.282.633 48.217.769 108.189 44,57% 2012 27.509.971 6.684.520 3.333.152 37.527.642 112.813 33,27% 2013 32.572.354 7.914.605 3.946.518 44.433.477 119.772 37,10% 2014 28.989.468 7.044.016 3.512.410 39.545.894 123.180 32,10%
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Kemudian pada Tabel 4.16 dicantumkan angka perkiraan pendapatan rumah tangga, sebagai kontribusi atas kehadiran PTFI di Provinsi Papua. Angka multiplier pendapatan di atas 2 (dua) atau tepatnya 2,06 yang mengandung arti bahwa dampak tidak langsung lebih besar daripada dampak langsung. Dampak langsung hanya 48,54% dari dampak total, atau dampak tidak langsung mencapai 51,46% dari dampak pendapatan total. Penyebab kejadian tersebut sudah dijelaskan pada bagian terdahulu yaitu fraksi pendapatan pekerja terhadap output di PTFI adalah lebih rendah dibandingkan fraksi pendapatan di sektor-sektor perekonomian lainnya yang ada di Papua. Sedangkan fraksi dampak induksi pendapatan yang sangat kecil disebabkan oleh kebocoran finansial, yaitu para pekerja dan rumah tangga lebih besar menggunakan uang untuk membeli barang dari luar Papua.
Tabel 4.16 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Pendapatan Pekerja atau Rumah Tangga Provinsi Papua (Juta rupiah)
Tahun Langsung: Pendapata n Pekerja PTFI Tidak Langsung: antar-industrial Tidak Langsung: induksi pendapata n Total Dampak Pendapata n Multiplier Pendapata n 2010 4.561.546 3.650.488 1.189.213 9.401.247 2,06 2011 3.402.992 2.723.327 887.174 7.013.494 2,06 2012 2.648.532 2.119.552 690.483 5.458.566 2,06 2013 3.135.914 2.509.592 817.546 6.463.051 2,06 2014 2.790.971 2.233.542 727.617 5.752,130 2,06 Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Perincian dampak penciptaan output, nilai tambah bruto dan perkiraan pendapatan rumah tangga secara sektoral di Provinsi Papua sebagai kontribusi dari kehadiran PTFI dapat dibaca secara berurutan pada Tabel 4.17, 4.18 dan 4.19. Dampak output terbesar muncul di sektor pertambangan dan penggalian, kemudian diikuti oleh sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan; sektor perdagangan, reparasi mobil dan sepeda motor; dan transportasi dan pergudangan. Terpusatnya dampak pada sektor pertambangan dan penggalian mengindikasikan bahwa pertama kurangnya keterkaitan industrial kegiatan sektor pertambangan. Kedua barang/jasa yang dibutuhkan pertambangan masih didatangkan dari luar Papua.
Tabel 4.17 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Output Provinsi Papua (Juta rupiah)
No. Sektor Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 2014 %
1 Pertanian, Kehutanan, Perikanan 3.855.249 2.876.083 2.238.441 2.650.358 2.358.825 4,14 2 Pertambangan dan Penggalian 82.143.465 61.280.454 47.694.262 56.470.958 50.259.279 88,20 3 Industri Pengolahan 606.807 452.688 352.325 417.160 371.273 0,65
4 Pengadaan Listrik dan Gas 6.494 4.845 3.771 4,465 3.973 0,01
5 Pengadaan Air, pengelolaan sampah, limbah 1.746 1.303 1.014 1.201 1.068 0,00
6 Konstruksi 162.191 120.997 94.171 111.501 99.236 0,17
7 Perdagangan, Reparasi Mobil dan Speda Motor 1.646.227 1.228.114 955.835 1.131.728 1.007.240 1,77 8 Transportasi dan Pergudangan 1.424.882 1.062.987 827.317 979.560 871.811 1,53 9 Akomodasi dan Makan-minum 176.280 131.508 102.352 121.187 107.857 0,19 10 Informasi dan Komunikasi 761.426 568.037 442.100 523.455 465.876 0,82 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 254.814 190.095 147.950 175.176 155.907 0,27
12 Real estate 304.827 227.406 176.989 209.559 186.508 0,33
13 Jasa Perusahaan 223.151 166.474 129.566 153.409 136.534 0,24
14
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial
Wajib 74.364 55.477 43.178 51.123 45.500 0,08
15 Jasa Pendidikan 392.792 293.029 228.063 270.032 240.329 0,42
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan sosial 398.601 297.363 231.436 274.025 243.883 0,43
17 Jasa Lainnya 697.201 520.124 404,.810 479.303 426.581 0,75 TOTAL 93.130.517 69.476.986 54.073.581 64.024.199 56.981.680 100,00 Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
NTB terbesar akibat kehadiran PTFI di Provinsi Papua adalah di sektor pertambangan dan penggalian yaitu sektor dimana aktifitas PTFI berada. Sektor lain yang terdampak adalah pertanian; kehutanan dan perikanan; serta sektor perdagangan (Tabel 4.18). Alasan terpusatnya dampak NTB pada sektor pertambangan dan penggalian, karena lemahnya keterkaitan industrial sektor pertambangan.
Tabel 4.18 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan Nilai tambah Bruto Provinsi Papua (Juta rupiah)
No. Sektor Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 2014 %
1 Pertanian, Kehutanan, Perikanan 2.504.591 1.868.469 1.454.220 1.721.825 1.532.428 3,88 2 Pertambangan dan Penggalian 57.564,758 42.944.311 33.423.337 39.573.897 35.220.857 89,06 3 Industri Pengolahan 289.854 216.236 168.295 199.265 177.346 0,45
4 Pengadaan Listrik dan Gas 1.312 979 762 902 803 0,00
5 Pengadaan Air, pengelolaan sampah, limbah 947 707 550 651 580 0,00
6 Konstruksi 60.905 45.436 35.363 41.870 37.264 0,09
7 Perdagangan, Reparasi Mobil dan Speda Motor 1.272.550 949.345 738.870 874.837 778.607 1,97 8 Transportasi dan Pergudangan 802.012 598.315 465.666 551.357 490.709 1,24 9 Akomodasi dan Makan-minum 95.940 71.573 55.705 65.955 58.700 0,15 10 Informasi dan Komunikasi 457.564 341.350 265.671 314.560 279.959 0,71 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 186.290 138.976 108.164 128.068 113.981 0,29
12 Real estate 207.597 154.871 120.535 142.716 127.017 0,32
13 Jasa Perusahaan 146.811 109.524 85.242 100.928 89.826 0,23
14
Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial
Wajib 66.928 49.929 38.860 46.011 40.950 0,10
15 Jasa Pendidikan 327.133 244.047 189.940 224.893 200.155 0,51
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan sosial 258.496 192.843 150.088 177.708 151.60 0,40
17 Jasa Lainnya 389.885 290.861 226.376 268.033 238.550 0,60
TOTAL 64.633.572 48.217.769 37.527.642 44.433.477 39.545.894 100,00 Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Pendapatan rumah tangga terbesar akibat kehadiran PTFI di Provinsi Papua adalah di sektor pertambangan dan penggalian itu sendiri atau sektor dimana aktifitas PTFI berada. Sektor lain yang terdampak adalah pertanian; kehutanan dan perikanan; serta sektor perdagangan; serta jasa pendidikan (Tabel 4.19). Berbeda dengan distribusi sektoral output dan NTB, maka distribusi sektoral dampak pendapatan relatif lebih menyebar. Penyebab kejadian tersebut sudah dijelaskan pada bagian terdahulu yaitu fraksi pendapatan pekerja terhadap output di sektor pertambangan adalah lebih rendah dibandingkan fraksi pendapatan di sektor-sektor perekonomian lainnya yang ada di Papua.
Tabel 4.19 Kontribusi PTFI dalam Pembentukan pendapatan Rumah Pekerja Provinsi Papua (Juta rupiah)
No. Sektor Lapangan Usaha 2010 2011 2012 2013 2014 %
1 Pertanian, Kehutanan, Perikanan 416.319 310.582 241.724 286.206 254.724 4,43 2 Pertambangan dan Penggalian 7.908.389 5.899.796 4.591.781 5.436.760 4.838.729 84,12
3 Industri Pengolahan 30.841 23.008 17.907 21.202 18.870 0,33
4 Pengadaan Listrik dan Gas 250 187 145 172 153 0,00
5 Pengadaan Air, pengelolaan sampah, limbah 69 51 40 47 42 0,00
6 Konstruksi 11.596 8.651 6.733 7.972 7.095 0,12
7 Perdagangan, Reparasi Mobil dan Speda Motor 335.847 250.548 195.000 230.884 205.487 3,57 8 Transportasi dan Pergudangan 153.443 114.471 89.092 105.487 93.884 1,63
9 Akomodasi dan Makan-minum 12.058 8.995 7.001 8.289 7.378 0,13
10 Informasi dan Komunikasi 63.420 47.313 36.823 43.599 38.804 0,67 11 Jasa Keuangan dan Asuransi 53.430 39.859 31.022 36.731 32.691 0,57
12 Real estate 8.488 6.332 4.928 5.835 5.193 0,09
13 Jasa Perusahaan 15.355 11.455 8.915 10.556 9.395 0,16
14 Administrasi Pemerintahan, Pertahanan dan Jaminan Sosial Wajib 40.781 30.423 23.678 28.035 24.952 0,43
15 Jasa Pendidikan 177.577 132.476 103.105 122.078 108.650 1,89
16 Jasa Kesehatan dan Kegiatan sosial 110.272 82.265 64.026 75.808 67.470 1,17
17 Jasa Lainnya 63.112 47.083 36.644 43.388 38.615 0,67
TOTAL 9.401.247 7.013.494 5.458.566 6.463.051 5.752.130 100,00
Sumber: Hasil Simulasi Model LPEM-FEBUI, 2015
Kehadiran PTFI di Tanah Papua memberikan dampak terhadap penciptaan kesempatan kerja di provinsi Papua dan di provinsi-provinsi lainnya. Secara nasional dampak penciptaan kesempatan kerja dicantumkan pada Tabel 4.20. Besarnya kesempatan kerja terdampak bergantung pada banyaknya tenaga kerja yang direkrut PTFI dalam kegiatan produksi tambang dan multiplier tenaga kerja. Angka multiplier tenaga kerja adalah 8,61, mengandung arti setiap pekerja PTFI mampu membangkitkan (generate) 8,61 orang, yang terdiri dari satu orang bekerja di PTFI dengan 7,61 orang bekerja di sektor-sektor luar pertambangan bijih logam.
Sumber terbesar penciptaan penciptaan kesempatan kerja adalah dari mekanisme efek antar-industrial (inter-industrials effect), lalu diikuti oleh sumber dari induksi pendapatan (induced income effect). Dampak dari antar-industrial demikian tinggi karena secara nasional keterkaitan sektor pertambangan dengan sektor-sektor lainnya adalah sangat besar. Sangat masuk akal bahwa keterkaitan ke hilir industri pertambangan ini adalah