PEMERINTAH/DIRJEN LK (DR. DARMIN NASUTION) : BaikPak,
Jadi ini memang bagian dari manajemen, bukan penerbitan. Jadi kalau penerbitan tetap saja yang tadi tujuannya. Jadi konkritnya seperti ini, direncanakan mau meredim Rp 1 trilyun surat utang tahun depan. Jatuh temponya misalnya bulan Oktober tahun depan, karena suasana bagus Pemerintah mengeluarkan Surat Utang untuk meredimnya itu, misalnya sudah disetujui BPPN begitu, pada bulan Juni. Karena suasananya penjualan surat utangnya itu permintaannya lagi bagus misalnya, dijual dia untuk membeli yang itu nanti uangnya, bulan Juni dapat uangnya Oktober, atau September, atau apapun nama bulannya, mau dibayar ini. Nah uang ini mau dibiarkan menganggur tidak?
Pemerintah mengusulkan bolehlah uang ini dipakai karena ada bunganya Pak, waktu dikeluarkan bulan Juni ada bunganya ini. Supayajangan kita sekedar membayar bunga menunggu waktu sampai Oktober, maka diinvestasikanlah ini pada surat utang, sebenarnya istilah yang kita pakai memang karena istilah umum beresiko rendah, ini sebenarnya sovereign ini, haras yang sovereign baru bisa, misalnya bonds Pemerintah Malaysia yangjangka pendek, treasury bill-nya dia yang resikonya rendah tetapi tetap tidak 0 (no I) Pak, kalau Malaysia bubar kan ini juga. Tetapi ini resiko yang sebetulnya normalnya mendekati 0 (nol), atau di dalam negeri mana yang sovereign. SBI, hanya SBI Pak yang sovereign di sini.
Salim Group itu, itu bukan sovereign. Yang sovereign adalah kalau di Indonesia hanya SBI, tetapi di negara tetangga kita ada Pak, di Singapura ada, Pemerintahnya punya, di Malaysia ada, kita bisa beli dan itu semuanya elektronik Pak, itu mudah dibeli dan mendapat bunga. Itu saja, dan ini tidak pernah panjang, hanya 1 bulan, kalau 3 bulan itu sudah hebat. Hanya suatu kebetulan, permintaan sedang tinggi maka dijual, normalnya sebulan sebelumnya sudah mulai dijual, tetapi sebulan itu kan lumayanjuga Pak bunganya.
Itu saja Pak, tidak ada di luar itu sama sekali.
KETUA RAPAT :
Silakan kami kembalikan kepada Fraksi PDIP kemudian Partai Golkar.
Silakan Pak.
ANGGOTA F. PDIP (MATHEOS PORMES) : (Rekaman tidakjelas)
KETUA RAPAT :
Ada yang mau menambahkan dari Fraksi PDIP?
ANGGOTA F. PDIP (DRS. POLTAK SITORUS) : Terima kasih Pimpinan.
Itu juga apa yang dikemukakan oleh rekan kami tadi ini menyangkut juga mengenai masalah pengawasan dalam pelaksanaan. Ini juga bagaimana mekanismenya ini, ini kan juga perlu. Siapa yang melaksanakan ini dan bagaimana pengawasannya, ini juga menjadi permasalahan. Oleh karena itu usulan dari rekan kami itu memang kalau ini masuk ya dimasukkan dalam ayat tersendiri.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Selanjutnya kami persilakan Fraksi Partai Golkar.
ANGGOTA F. PG (H. AZHAR MUCHLIS) : Saya belum memahami Ketua, itu saja. Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baik, Fraksi PPP. Setuju aslinya? Baik, silakan Fraksi KB.
ANGGOTA F. KB (DRS. H. ALY AS' AD):
Terima kasih Pak.
Waktu kita berbicara mengenai akuntansi keuangan Pemerintah, kemudian waktu itu kita menuntut supaya uang Pemerintah itu ditaruh di rekening-rekeningyang ada bunganya, lalu diberi alasan bahwa itu nantijustru akan mengganggu inflasi sehingga kita sering diskusi kenapa sih uang Pemerintah itu ditaruh di BI yang tidak ada bunganya. Itu alasannya karena supaya tidak mengganggu inflasi, itu yang pertama.
Yang kedua memang Pemerintah itu tidak profit Pak. Kalau in gin profit kan mempunyai BUMN, yang menerbitkan surat utang ini kan Pemerintah yang tidak profit. Kemudian secara tiba-tiba di sini berpikir profit, tentu saja inijuga tidak sesuai dengan dikeluarkannya Surat Utang Negara itu.
Oleh karena itu nanti dalamAmandemen Undang-Undang BI kita usulkan supaya rekening Pemerintah itu diberi bunga. Mengapa BI hams begitu, karena kalau BI itu nanti, seperti kita ketahui bersama, dia bisa melakukan kontrol secara pasti apakah ini akan mempengaruhi inflasi atau tidak, yang direncanakan semula kan itu. Kalau kemudian uangnya ini juga diprofitkan, saya pikir bertentangan atau tidak konsistenlah dengan pemikiran-pemikiran yang selama ini berkembang mengenai sistem akuntansi keuangan Pemerintah.
Saya bisa paham Pak bahwa uang kalau idle itu tidak ada hasilnya, ya memang itulah Pemerintah. Pemerintah kan memang tidak profit, dan ini kan Surat Utang Negara, nirlaba itu, di BI kan begitu nanti. Jadi ada ketidakkonsistenanlah di sana, di samping tujuannya juga tidak pas, selain nanti juga pengawasannya dan lain sebagainya. Kalau memang ada itu, biar BUMN saja yang mengeluarkan obligasi, surat utang, yang memang bergerak di bidang ini. Misalnya apa, reksa dana atau apalah, saya tidak mengerti, biar dia yang berprofit di sana.
Jadi kalau begitu ini tentu tidak relevan kalau menjadi salah satu butir pengelolaan keuangan negara.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Kami teruskan dengan Fraksi Reformasi. Tidak ada. Kami teruskan, Fraksi TNI/POLRI.
ANGGOTA F. TNIIPOLRI (R. SULISTYADI, SIP., M.M.) : Kami setuju sesuai dengan yang diusulkan Pemerintah karena ini sudah meliputi penjelasan yang di atas tadi, yaitu "sekurang-kurangnya", seperti itu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT : Kemudian Fraksi PBB.
ANGGOTA F. PBB (H. M. S. KABA, S.E., M.Si) :
Kalau kami sejak awal setuju dengan hal itu,jadi tidak ada masalah.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Kami berikan dulu kesempatan kepada Pemerintah sekali lagi.
PEMERINTAHIDIRJEN LK (DR. DARMIN NASUTION) : Baik Pak.
Jadi tolong dilihat bahwa ini bukan tujuan penerbitan yang baru.
Penerbitan tetap tujuannya sesuai dengan yang sudah disepakati, yaitu salah satu di antaranya kita mau merubah, meredim sebagian dengan menerbitkan surat utang baru, merubah struktur, itu tetap tidak keluar dari situ.
Pelaksanaannya ini kan tidak mungkin tanggalnya sama Pak, pasti lebih awal dia. Kalau Pak Aly tadi mengkhawatirkan soal inflasi, tidak Pak, uang yang diambil keluar lagi, dia sama persis jumlah uang beredar. Tidak ada dampaknya sama sekali ke inflasi karena ini pada mom en yang sangat pendek ditarik dan dikeluarkan lagi, tidak mengubahjumlah uang beredar.
Adapun kalau dikatakan profit motif, bukan Pak, ini mengurangi kerugian. Yang profit motifkalau kesemuanya sudah dihitung untuk mengejar laba. Ini betul-betul, ini ada dana, kita mau simpan saja di laci tidak ada bunganya, atau kita taruh di BI kalau BI lebih bagus bunganya, kalau nanti bisa digolkan di Undang-Undang Bank Indonesia, masuk dia di situ, itu
investasi Pak. Kalau itu yang Iebih baik, itu yang akan kita lakukan. Kita mulai khawatir itu nanti tidak boleh di Undang-Undang BI, tetapi kalau itu tersedia, itu investasi namanya, investasijangka pendek kita taruh di BI kalau bunganya menarik, tetapi kalau bunganya nanti hanya 7% sedangkan SBI-nya 12%, ya kita memilih SBI-nya karena ini sovereign juga.
ltu saja Pak. Lebih baik kan dibeli SBI-nya daripada menaruh di BI kalau nanti diputuskan bunganya hanya 7% atau 5%, sayang sekali.
ANGGOTA F. KB (DRS. H. ALY AS' AD) : Saya mau bertanya Pak.
Uang-uang Pemerintah sekarang itu kalau mendapat uang Ialu ditaruh di mana? Rekening di BI kan? Mengapa itu misalnya tidak ditaruh di rekening-rekening bank komersial biasa supaya mendapat bunga, kenapa ditaruh di BI?
Itu kenapa, kan memang karena seperti itu tadi alasannya.
Kemudian secara tiba-tiba kita mendapat uang banyak karena menjual obligasi, apakah inijuga ada perlakuan lain terhadap uang-uang yang diperoleh oleh Pemerintah. Kalau memang boleh begitu, ya semua uang ini saja diinvestasikan untuk hal-hal yang beresiko kecil, begitu kan? Dang yang lain tidak usah ditaruh di BI, di BI tetapi untuk SBI, misalnya seperti itu, kalau memang bisa seperti itu.
PEMERINTAH/DIRJEN LK (DR. DARMIN NASUTION) : Mengenai pertanyaan ini Pak, di negara lain begitu Pak, kita yang tidak.
Harus ke BI, ya sudah. Di negara lain itu cash yang dipegang Pemerintah dalam uang cash itu ada minimumnya, kecil sekali, yang lain bisa diinvestasikan macam-macam.
KETUA RAPAT :
Saya rasa mungkin ini kita pending saja seperti yang ini karena Fraksi PDIP dan Fraksi Partai Golkar yang substansi mengusulkan DIM ini. Untuk itu bagaimana kalau ini kita pending saja dulu dalam Panja?
(RAPAT SETUJU) Terima kasih.
Kita lanjutkan ke DIM No. 70, disetujui Pansus sesuai dengan naskah RUU. Penjelasan cukup jelas, ada komentar? Catatan : "perlu ada penjelasan
penjelasan mengenai aktivitas lain beserta contohnya ". Ini ada catatan seperti itu, mungkin Pemerintah bisa mengomentari?
PEMERINTAH/DIRJEN LK (DR. DARMIN NASUTION) : Jadi memang "aktivitas lain" ini sebenarnya maksudnya aktivitas pengelolaan lain ya Pak, karena ini dalam kerangka, misalnya apa, mengembangkan market maker, kan belum disebut Pak di atas. Nah itu dia, kalau mau dimasukkan dalam penjelasan itu bisa Pak dimasukkan bahwa aktivitas lain itu terutama adalah pengembangan infrastruktur, antara lain infrastruktur pasar primer maupun pasar sekunder dari surat utang.
KETUA RAPAT :
Oke, telah dikutip dalam Penjelasan, "aktivitas-aktivitas lain dalam rangka pengembang pasar primer, pasar sekunder", kemarin "an tara lain" lagi itu,
"pengembangan infrastruktur" atau bagaimana? Jadi aktivitas yang dimaksud dalam batang tubuhnya itu dalam penjelasannya "antara lain infrastruktur pengembangan pasar primer dan pasar sekunder ".
Market maker itu mungkin ada tanda dalam kurungnya "( ... )" atau apa.
Pengembangan infrastruktur lain itu bagaimana?
Silakan Pak Herwi.
BAPEPAM (HERWIDAYATMO) :
Ini sebenarnya kalau diijinkan menggunakan usulan Pemerintah "cukup jelas" saja karena ini akan sangat banyak. Ini tidak seperti pembentuk pasar jelas market maker. Infrastruktur itu bisa selalu berkembang Pak, contohnya sekarang kita menggunakan sistem scriptless itu ada yang namanya central registral, ada central custody, dan lain sebagainya Pak. Nanti kalau kita harus mengikuti sistem kliring intemasional yang sudah disepakati seperti yang terjadi di negara-negara lain misalnya, kliring surat utang di Eropa itu sudah menjadi satu melalui lembaga yang namanya Euro Saddle. Bukan tidak mungkin nanti kita pun juga ikut seperti itu Pak. Pengembangan infrastruktur itu selalu berke1nbang, berubah terus. Jadi kita bisamemerinci sekarang, hanya nanti akan ada lainnya lagi, nanti Pak Kahan akan bertanya lagi "apa lagi, apa lagi", begitu Pak.
Kalau sekarang melihat yang berkembang di Eropa, itu yang terjadi demikian Pak. Tadinya hanya negara per negara, mereka sudah menciptakan untuk efisiensi pasar itu ada regional sistem, network-nya menjadi satu Pak.
KETUA RAPAT :
Baik, diusulkan Penjelasannya "cukup jelas". Ada yang mengomentari?
Begitu, kecuali Pak Kahan tidak bertanya "apa lagi, apa lagi".
Baiklah kita kern bali "cukup jelas". Bisa kita setujui?
(RAPAT SETUJU) Terima kasih.
Kita lanjutkan ke DIM No. 71, "Disetujui oleh Pansus tetap."
(RAPAT SETUJU) DIM No. 72, "Disetujui oleh Pansus tetap."
(RAPAT SETUJU) ANGGOTA F. PKB (DRS. H. ALY AS' AD) :
Begini Pak, DIM No. 71 itu usul Fraksi Partai Golkar begitu terus dicabut Fraksi PPP.
KETUA RAPAT : Itu salah ketik.
Baik saya teruskan ya? DIM No. 72 disetujui oleh Pansus tetap sesuai naskah RUU.
(RAPAT SETUJU)
DIM No. 73, "Disetujui Pansus tetap sesuai naskah RUU."
(RAPAT SETUJU)
DIM No. 74, "Disetujui Pansus tetap sesuai naskah RUU."
(RAPAT SETUJU)
DIM No. 75, "Disetujui Pansus tetap sesuai naskah RUU."
(RAPAT SETUJU)
Kemudian Penjelasan, "Menteri membuka rekening yang diperlukan baik untuk menampung hasil penjualan Surat Utang Negara maupun rekening menampung penyediaan dana bagi pembayaran bunga dan pokok Surat Utang Negara ".
Apakah DIM No. 75, ada komentar? Jadi dalam Penjelasan Pasal 10 ayat (1 ),
"Menleri membuka rekening yang diperlukan, baik untuk menampung hasil penjualan Sural Ulang Negara maupun rekening menampung penyediaan dana bagi pembayaran bunga dan pokok Sural Ulang Negara ". Dalam Catalan Pemerintah perlu menjelaskan substansi Pasal 1 0 ayat ( 1 ).
Kami persi1akan Pemerintah dulu.
PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (DR. ANGGITO ABIMANYU):
Pak Ketua, kalau boleh kita kembali kepada DIM No. 75, itu namanya bukan Rekening Perbendaharaan Negara, tetapi Rekening Kas Negara. Ini adalah informasi yang kami terima dari Dirjen Anggaran. Jadi ini kalau diijinkan Ketua, untuk kembali kepada DIM-nya dulu.
KETUA RAPAT : Rekening Kas Negara?
PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (DR. ANGGITO ABIMANYU):
lya, itu nama resminya sesuai dengan usulan dari PDAP. Waktu itu terlewat Bapak Pimpinan, waktu di Pansus.
KETU A RAPAT :
Oh begitu, tetapi apakah hanya ini saja atau yang lain-lain juga? Hanya di sini saja? iaiklah, hanya di sini saja di yang lainnya tidak ada. Di sini tertulis
"Rekening "erbendaharaan Negara", seharasnya yang dimaksudkan adalah
"Rekening Kas Negara". )emikian ya?
Silakan.
ANGGOTA F. KB (DRS. H. M. ALY AS' AD):
Saya setuju kalau memang namanya itu, hanya masalah mekanisme Pak, ini kan yang usul Pemerintah lalu di-DIM-i sendiri oleh Pemerintah, ini masalah mekanisme, karena akan terdokumentasi Pak.
Kita setuju saja karena memang keliru namanya, tetapi ini kan mekanisme cacat Pak, mesti di Pansus, tidak di Panja kalau seperti ini.
Yang kedua, sekarang sudah puku122.00 WIB, kita sepakat sampai pukul 22.00 WIB.
KETUA RAPAT : Silakan.
ANGGOTA F. PDIP (DRS. POLTAK SITORUS) :
Di dalam DIM-nya juga kami sebenarnya sudah mempertanyakan, di situ ada keterangan "mohon penjelasan Pemerintah apa perbedaan yang dimaksud dengan Rekening Perbendaharaan Negara atau Kas Negara". Kita sebenamya, pada waktu itu saya sendiri sebenamya bertanya kenapa memakai Rekening Perbendaharaan Negara, apakah sudah ada perubahan? Sebab yang selama ini berlangsung yang di rekening itu adalah Rekening Kas Negara, bukan Rekening Perbendaharaan Negara. Jadi kalau itu dikatakan oleh Pemerintah saya pikir sudah sesuai dengan perbaikannya. Kalau diinstruksikan agar Menteri membuka rekening ya kita buka Rekening Kas Negara di semua bank.
KETUA RAPAT :
Baiklah, kalau begitu kita persilakan Pemerintah untuk memberikan penjelasan. Jadi yang sudah berarti ini bisa kita ketuk? Terima kasih. Silakan.
Sebentar, sebelum masuk penjelasan ini kita ketuk dulu ya?
(RAPAT SETUJU) Oh, ada lagi. Silakan.
ANGGOTA F. PPP (H. M. DANIAL TANDJUNG) :
Dengan catatan info bahan tadi itu kita usulkan kepada Pansus supaya jangan cacat hukum.
KETUA RAPAT :
lya, itu sudah dicatat ya Sekretaris?
Silakan.
ANGGOTA F. PG (H. AZHAR MUCHLIS) : Terima kasih.
Pertama Pemerintah perlu menjelaskan substansi Pasal 1 0 ayat (1) ini.
Dijelaskan dulu oleh Pemerintah, setelah itu di dalam penjelasan itu Pemerintah mengusulkan kepada Pansus untuk mengubah itu. Tadi kan Bank jtu hanya berbicara kata "perbendaharaan" diganti dengan kata "kas", tetapi penjelasannya tidak ada, belum paham di sini ini. Ini yang haras dipahamkan kita-kita ini, "Dalam rangka mendukung penyelenggaraan pengawasan Surat Utang Negara sebagaimana dimaksud dalam Pasal 9, Menteri membuka rekening yang merupakan bagian dari Rekening Perbendaharaan Negara".
Semestinya "Perbendaharaan" itu adalah "Kas", ini diusulkan di Pansus. Itu saja Ketua, terima kasih.
KETUA RAPAT :
Baiklah, saya berikan kesempatan kepada Pemerintah untuk secara formal dan resmi menyampaikannya. Silakan.
PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (DR. ANGGITO ABIMANYU):
Kalau mekanismenya demikian kami mengikuti Pak Ketua kalau memang harus kembali ke Pansus. Jadi ini lalu apakah penjelasannya bisa dibicarakan sekarang karena ini kanjuga di Pansus, nanti salah lagi kalau kita memberikan penjelasan.
ANGGOTA F. PBB (H. M.S. KABAN, S.E., M.Si):
Pimpinan,
Kalau pasalnya ini kembali ke Pansus kan berarti bagaimana?
KETUA RAPAT :
Jadi begini, ini semuanya saya rasa semangat kita semua ingin Undang-U ndang ini sempuma, tidak cacat hukum dan lain sebagainya. j adi mana yang bisa kita kerjakan secara optimal itu kita kerjakan dengan tidak berpretensi yang lain-lain. Jadi dalam artian kita sudah tabu tadi bahwa ada kekeliruan, oke kita kembalikan ke alurnya. Karena itu diputus oleh Pansus, kita kern bali ke Pansus. Namun di Penjelasan karena ini adalah tugas dari Panja, kita selesaikan di Panja untuk Penjelasannya, kalau pendapat kami demikian.
Baik, kita kembali ke Penjelasan seperti Bapak tadi.
Silakan Pak.
ANGGOTA F. PBB (H. M. S. KABAN, S.E., M.Si) : Saya hanya ingin menambahkan.
KETUA RAPAT :
Sebelumnya saya interupsi Pak, karena waktu sudah menunjukkan pukul 22.00 WIB, mohon kesediaan Bapak-bapak ini kita selesaikan dulu ya?
Silakan Pak.
ANGGOTA F. PBB (H. M. S. KABAN, S.E., M.Si) :
"Menteri membuka rekening yang diperlukan baik untuk menampung hasil penjualan Surat Utang Negara maupun rekening menampung ... ", saya mohon sebelum kata "menampung" ditambahkan kata "yang".
KETUARAPAT:
Ditambah "yang" sehingga menjadi "rekening yang menampung". Baik, ada komentar yang lain? Kalau tidak ini bisa kita setujui?
(RAPAT SETUJU) Terima kasih.
Sebetulnya ini sudah disetujui, ini sampai yang disetujui saja.
Terima kasih kita sudah banyak mendapat kemajuan, Laporan Tim Kecil nanti saja P; Munawar, nanti kita bicarakan tersendiri.
Baiklah Bapak-bapak dan Ibu-ibu yang kami hormati, Terima kasih,
Sudah banyak kemajuan yang kita dapat pada hari ini sampai 75 DIM bisa kif selesaikan, mudah-mudahan di masa depan akan lebih lancar lagi dengan tidak menguranA bobot daripada materi yang sama-sama kita ingin lebih sempurnakan secara komprehensij Mengingat waktu sudah sesuai dengan acara kita, maka rapat ini kami skors sampai besok kit; bertemu lagi di sini pukul 08.30 WIB. Ini kami kelihatannya harapan Pak Poltak agar har Minggu ini bebas, kalau kelihatannya ini lancar Pak, harapan Bapak kelihatannya bisa tercapai, mohon didukung oleh ternan-ternan yang lain saja.