• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISILAH RAPAT PANJA KOMISI IX DPR RI

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "RISILAH RAPAT PANJA KOMISI IX DPR RI"

Copied!
142
0
0

Teks penuh

(1)

RISILAH

RAPAT PANJA KOMISI IX DPR RI

Tahun Sidang : 2002-2003 Masa Persidangan : I

Hari/Tanggal : Jum'at, 13 September 2002 Pukul

Temp at Acara Ketua Rapat Sekretaris Rapat Hadir

Pembahasan RUU tentang Surat Utang Negara Drs. SUDIRMAN, S.E., M.Si

USIJANA, S.H.

(Lihat Daftar Hadir)

(2)

KETUA RAPAT (Drs. SUDIRMAN, SE, MSi.:

Assalamualaikum Warrahmatullahi Wabarakatuh Salam sejahtera bagi kita semua.

Pertama-tama marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas berkah dan rahmat-Nya pada pagi hari ini kita diberi kesehatan untuk dapat berkumpul bersama dalam rangka melaksanakan tugas Panja yang diberikan oleh Pansus, berkenaan dengan Rancangan Undang- Undang tentang Surat Utang Negara.

Kami menghaturkan terima kasih atas partisipasi dari unsur-unsur terkait dan dengan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim Rapat ini dengan resmi saya nyatakan dibuka.

Bapak-bapak/Ibu-ibu yang kami hormati, sebelum kami menyampaikan acara pada penugasan kita, terlebih dahulu kami mengingatkan dalam tata cara pembahasan tentang RUU Surat Utang Negara yang kita sudah sepakati bersama, maka kita sudah memenuhi persyaratan dimana Panja telah dibentuk oleh Pansus, kemudian Panja akan membahas secara mendalam dan cermat DIM-DIM yang dilimpahkan kepada Panja. Kemudian Panja akan membentuk Tim Kecil dan Tim Perumus, kemudian hasilnya akan dilaporkan Paripuma Komisi. Kemudian pada dasamya Rapat Panja adalah tertutup.

J adi kriteria yang dinyatakan dalam tata cara pembahasan kita sudah memenuhi syarat. Demikianjuga terhadap perwakilan-perwakilan Fraksi sudah dapat rapat ini kita mulai.

Sebelum kita masuk kepada pembahasan mated, kami terlebih dahulu minta persetujuan Anggota Panja tentang jadwal acara yang sudah dibagikan kepada kita., dimana kemarin jam 5 ada yang sudah check-in, kemudian malam kita mempelajari naskah Panja. Dan kebetulan naskah Panja itu sebetulnya kemarin itu sudah selesai, tetapi begitu saya check, belum ada Penjelasan.

Saya minta diperbaiki, sehingga bentuk format yang sekarang. Sehingga kita nanti membahas dalam Pasal-pasal itu.

Jadi mungkin di depan Bapak-bapak sewaktu masuk sudah diberikan acara. Jadi naskah ini yang sekarang sehingga saya mengharapkan nanti bila kita membahas pasal, langsung ke Penjelasan. Sehingga semuanya bisa kita tuntaskan. Dan karena kita Panja ini adalah nantinya akan membentuk juga Tim Perumus dari kita-kita juga, maka secara komprehensif kami akan

(3)

menyaranakan mulai dari DIM 1, kita sisir saja yang sudah diputus oleh Pansus tetap saja kita ketuk, tidak usah kita komentari. Yang penting kita alumya itu dari depan ke belakang kita bisa lebih memahami. Sehingga hari Jumat ini kita sudah bisa memulai Rapat Panja yang tadinya kalau kita sudah cukup 17 orang itu hadir, kita akan tunjuk Tim Kecil yang kami menyarankan cukuo dari kita 4 orang saja yang diwakili oleh Fraksi yang terbesar, dari PDIP 1, dari Golkar 1, dari Reformasi 1, dari PKB 1, untuk hanya merumuskan konsideran "Menimbang", "Mengingat" dan "Ketentuan Umum".

Nanti mangannya sudah disiapkan, nanti dari Pemerintah kira-kira berapa, itu nanti kami minta persetujuannya. Nanti setelah kita banyak terkumpul b am itu kita tentukan.

Kemudian nanti Sholat Jumat, jadi diharapkan pagi ini kita bisa, kita stop Pukul 11.30 W1B, kemudian kita Sholat Jumat, Istirahat makan, kemudian Pukul14. 00 WIB kita mulai lagi sampai Pukul 17.00 WIB. Kemudian malam Pukul19.30 WIB, kemudian kita selesaikan Puku122.00 WIB. Besok Pukul 08.3 0 sampai 12.00 WIB, dan setemsnya. J adi mungkin ini sudah ada di depan Bapak -bapak sekalian.

Jadi untuk itu yang pertama kami ingin persetujuan daripada kita semua, apakahjadwal acara ini dapat kita setujui?

Silakan.

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS):

Pertama, kami menyatakan bahwa untuk Tim Kecil dibentuk dalam rangka membicarakan "Konsiderans", itu kami menyetujui.

Yang kedua, mengenai jadwal acara yang telah tersusun ini, kami mengusulkan karena memang kita sudah ikhtiar untuk menyelesaikan Panja ini dapat menyelesaikan RUU SUN, maka bagaimana kalau kita upayakan barangkali kalau sampai malam kita selesaikan sampai batasyang bisa kita kerjakan, tidak usah terbatas Puku122. 00. Dengan pertimbangan upaya kita 2 hal ini, Jumat-Sabtu ini bisa kita selesaikan. Sedangkan hari Minggu itu kalau bisa barangkali kalau sampai setengah hari saja kalaupun kita mau ada kerjakan. Itu usulan kami sehingga hari Minggu itu kita berupaya mungkin tidak ada acara, tetapi kalau masih diperlukan kita lanjutkan mungkin di Pagi harinya saja, tidak usah penuh, apalagi sampai sore, kita lanjutkan lagi pada smngnya.

Terima kasih Pimpinan.

(4)

KETUA RAPAT:

Baik, jadi usul yang bagus sekali.

Memang di sini kita upayakan begitu dan kalau bisa kita ulur itu bisa mempercapat, saya rasa itu usulan yang akomodatif, sehingga Minggu itu kita bisa tinggal menyusun laporan Panja saja.

Terima kasih.

Ada yang lain?

Jadi sementara biar ini saja dahulu Pak Poltak, nanti kita lihat situasi sambil berjalan.

Baik, ada lagi yang lain? kalau tidak ada bisa ini kita sepakati?

Terima kasih.

(RAPAT SETUJU)

Baiklah Bapak -bapak sekalian karena kita bel urn dapat membentuk Tim Kecil, maka kitamulai saja dari DIM I. DIM 1 ini sudah dapat disetujui oleh Pansus sehingga kita tidak perlu bahas lagi.

Sekarang kita masuk ke DIM 2. DIM 2 ini sampai DIM 15 nanti kita serahkan ke Tim Kecil. Sehingga itu kita serahkan Tim Kecil, maka kita langsung masuk ke DIM 16. Jadi DIM 2 sampai DIM 15 diserahkan ke Tim Kecil dan "Penjelasan Unium".

Sekarang kita masuk ke DIM 16. DIM 16 "Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia", disini ada 3 usul:

1. FPG; "dengan menghendaki" menjadi "dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia".

2. Dari PKB "dengan persetujuan bersama antara Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia".

3. Fraksi TNIIPOLRI, "dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia"

Jadi di sini masing-masing berargumentasi mempunyai referensi yang baku, yang terakhir. Dan di sini terlihat FPG dan TNIIPOLRI sama acuannya dengan Undang-Undang yang terakhir. Sehingga kita melihat kepada FKB.

(5)

Untuk itu pertama kami berikan kesempatan ke FPG; silakan.

ANGGOTA F.PG (Drs. BAHARUDDIN ARITONANG):

Kami masih tetap seperti "usulan semula", tetapi mungkin ada dengan FKB ini sebenarnya tidak berbeda. Hanya kalinat "antara'~nya saja yang berbeda. Karena itu mungkin bisa dikawinkan konsep ini dengan cara penulisan.

Jadi seperti yang usulan FKB ini, tetapi kemudian "antara"nya dibuang, itu saJa.

Jadi "Dengan persetujuan bersama Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dan Presiden Republik Indonesia".

Barangkali itu saja Ketua, Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Terima kasih, silakan KB.

ANGGOTA F.KB (H. M. MUKHTAR NOERJAYA, MSi):

Saya kira mungkin kalau kita melihat bahwa apa yang diungkapkan Pak Aritonang memang hanya mungkin faktor penulisan saja, sebenamya tujuannya sama Pak.

Saya kira begitu Pak.

J adi kalau rap at ini saya kira bagi PKB tidak, diluar hanya berdasarkan mungkin tata susunan saja barangkali.

KETUA RAPAT:

Oke, terima kasih.

Silakan Fraksi TNI/POLRI.

ANGGOTA F.TNIIPOLRI (R. SULISTYADI, SIP., MM.):

(tidak terekam) KETUA RAPAT:

Setelah itu kami minta Pemerintah.

(6)

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (ANGGITO ABIMANYU):

Terima kasih Pak Ketua Panja.

Ini barangkali wilayahnya rekan kami dari hukum. Mungkin dengan ijin Ketua saya minta tolong Pak Hadiyanto untuk menanggapi. Silakan Pak Hadiyanto.

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (HADIYANTO):

Terima kasih Bapak Pimpinan melalui Bapak Anggito.

Jadi sebenarnya draft awal dari Pemerintah memang "Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia" ini memang ada wacananya Pak. Karena inisiatifnya dari Pemerintah sehingga seperti ini.

Namun apabila kami merujuk pada Dndang-Dndang terbaru, Dndang-Dndang Tindak Pidana Pencucian Dang, Dndang-Dndang No. 15 tahun 2002, tata penulisannya menjadi "Dengan persetujuan bersama" diatas hurifkecil, kapital pertamanya saja "Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia" satu baris, kemudian "dan" di tengah, kecil, "Presiden Republik Indonesia", di bawahnya.

Itu ada contoh dalam Dndang-Dndang Tindak Pidana Pencucian Dang, yang terbaru Pak, tahun 2002.

Terima kasih Bapak Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Baik, kalau begitu kita ambil formatnya dari PKB, "antara"nya itu dihapus.

Begitu Pak Hadiyanto ya? ini bisa kita putus ya?

INTERUPSI:

ANGGOTA F.PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):

Sebentar Pak Ketua.

Jadi Pak Ketua, saya kira argumen yang diberikan Pak Hadiyanto saya kira bukan mencontoh. Saya lebih mengusulkan standar yang baku penyusunan Dndang-Dndang seperti apa? Kalau Bapak mencontoh salah satu Undang- Dndang, misalnya Dndang-Undang Tindak Pidana Pencucian Uang, itu mungkin di Dndang-Dndang lain berbeda. Karena itu argumennya kurang kuat. Jadi barangkali yang paling bagus kira-kira standar umum legal drafting itu seperti apa. Ini kami mohon penjelasan kembali, tidak sekedar mencontoh Pak.

(7)

Pak. Saya kira begitu ya Pak Poltak?

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS):

Terima kasih Pimpinan, memang kami dari PDIP mengusulkan "tetap".

N amun demikian kalau perubahannya kita lakukan mengikuti dengan standar legal draftnya, maka kami dapat "menyetujui perubahan dengan menyesuaikan dengan draft yang baru".

Terima kasih KETUA RAPAT:

Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (HADIYANTO):

Terima kasih Bapak Pimpinan.

Seperti sudah kami sampaikan apabila mengacu pada Tata Cara Penyusunan Peraturan Perundang-undangan berdasarkan Keputusan Presiden, maka draft yang disampaikan oleh Pemerintah yaitu seperti yang tertera sejak semula "Dengan Persetujuan Dewan Perwakijlan Rakyat Republik Indonesia", itu merupakan draft menurut Ketentuan Tata Cara Penyusuan Perundang-undangan Pak. Namun karena selalu di pembahasan dengan Bapak -bapak itu ada berbagai pandangan, sehingga beberapa waktu yang lalu terhadap RUU yang diajukan dan dibahas bersama itu selalu me- refer pada Undang-Undang yang sudah disahkan pada terakhir 2002 setelah Amandemen Undang-Undang Dasar 1945.

Oleh karena itu kami tadi mencontohkan seperti itu Pak. Tetapi kalau mau acuannya kepada Keputusan Presiden, maka usulan dari Pemerintah itu yang sesuai dengan Ketentuan Keppres itu.

Demikian Pak Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Baik, sudah cukup Pak Nu'man?

ANGGOTA F.PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):

Sebetulnya kan ada standar dulu Pak Ketua. Standar tentang tata cara penyusunan Undang-Undang yang itu diatur oleh Keppres. Tata cara itu sudah diikuti oleh Pemerintah yaitu isinya seperti ini. Sekarang di perkembangan pembahasan Pansus timbul usulan-usulan baru. Ini kita

(8)

mau pegang yang mana? Jangan-jangan nanti eli Pansus lain juga berkembang berbeda, tidak kata "bersama" lagi, "beserta" misalnya. Kan jadi tidak ada standar lagi kita. Jadi saya kira harus ada standar baku mengenai penyusunan ini. Ini yang maksud saya Ketua, bukan persoalan "bersama" atau "tidak bersama". Ini kata "bersama", "beserta" atau "dan" ini kan bisa berkembang, tetapi kalau kita mengikuti standar baku tentang tata cara penyusunan yang diatur oleh Keppres berarti ini akan sama. Ini barangkali yang harus kita sepakati.

Terima kasih, Ketua.

KETUA RAPAT:

Silakan.

INTERUPSI:

ANGGOTA F.REFORMASI (Drs. H. MUNAWAR SHOLEH):

Masalah ini tempo hari seingat saya sudah dibahas. Ketika itu lang sung diambil oleh Sekretariat contoh yang kedua-duanya ada. Yang satu ada kata

"bersama"nya, yang satu tidak, kalau tidak salah. Ketika bicara itu lantas kesimpulan kita waktu itu tolong konsultasikan kepada legal drafter serta ahli bahasa. Jadi bukan di sini kita diskusinya. Jadi lebih disimpelkan lah, disederhanakan saja, toh dua-duanya bisa. Kalau mau ke rujukan dua-duanya ada semua. Yang pakai kata "bersama" juga ada contohnya, ya produk DPR kita, dalam arti tahun 2000 ke sini. Kemudian yang tidak pakai juga ada.

Maka waktu itu kalau tidak salah seingat kami serahkan kepada legal drafter saja, ahlinya begitu loh. Kebetulan beliau legal drafter juga ini.

Persoalannya adalah dan juga ahli bahasa. Ini juga umpama ketika ada kata

"bersama antara", ini kan berkembang. Sudahlah kalau menurut saya, kalau diskusi di sini nanti sampai siang.

Pak Pirnpinan menurut saya coba kita agak ... (tidak jelas) tinggal sebentar dengan catatan konsultasikan intensif antara legal drafter dan ahli bahasa. Rujukannya dua-duanya ada lah, kita diskusi dalam persoalan ini tidak begitu penting sekali, substantif.

KETUA RAPAT:

Oke, Pak Aritonang silakan.

(9)

ANGGOTA F.PG (Drs. BAHARUDDIN ARITONANG):

Ini penting, bukan persoalan legal drafter dan ahli bahasa. Waktu itu juga kesepakatannya bukan dikonsultasikan dengan legal drafter dan ahli bahasa, tetapi dengan Baleg. Saya ingat sekali waktu itu. Karena begini, kalau memang berdasarkan Keppres itu, itu kan yang lama, sebelum perubahan Undang-Undang Dasar. Ketika kemudian perubahan Undang-Undang Dasar bahwa titik legislasi itu di DPR, maka kemudian kita sesungguhnya bersepakat tata cata penyusunan Undang-Undang itu diatur dengan Undang-Undang.

Sampai sekarang memang belurn ada, harus kita akui. Kemudian itu kita harapkan Baleg yang menyiapkan dan sampai sekarang memang belum. Tetapi sampai sekarang kemudian kami memang titik tolaknya, maka dengan perubahan Undang-Undang Dasar itu, pola-pola penyusunan Undang-Undang ya memang jadinya seperti ini. Dan sampai saat ini Baleg itu kalau tidak salah, morion juga konfirrnasi Ketua, sampai saat ini seperti ini. Tetapi oke lah, barangkali supaya tidak menimbulkan keraguan nanti lebih bagus kita, untuk sementara seperti ini, tetapi nanti kita konsultasikan dengan Baleg. Bukan lagi dengan legal drafter. Kalau ini persoalannya karena itu sebenamya legal draftemya pasti dari Pemerintah. Sementara titik tolak daripada Undang- Undang adalah di DPR. Bukan saya mengabaikan legal drafter, tetapi legal drafter juga barangkali perlu memahami itu. Tetapi nanti kalau yang lain-lain ya bagaimanapun kita minta legal drafter yang lebih dominan. Tetapi ini di Baleg, karena bagaimanapun nanti harus kita serahkan ke situ untuk menyamakan a tau membuat standar nanti dan bagaimanapun nanti juga ketika Undang-Undang Penyusunan Undang-Undang sudah disepakati dan kemudian juga harus sejalan.

Sejak perubahan Undang-Undang Dasar, maka itu kemudian Baleg sudah membuat suatu standar. Paling tidak yang sudah disepakati oleh Baleg. Belum dalam bentuk Undang-Undang , karena Undang-Undang nya belum selesai.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Jadi saya rasa yang dari Pak Poltak sudah ditambah informasi oleh Pak Aritonang dan Pak Munawar tidak perlu karena ini kan semuanya dasamya sudah ada. ltu contohnya saja yang terakhir yang disampaikan Pemerintah.

Karena dari FPG punya argumentasi, dari TNI/POLRJ punya argumentasi, PKB punya argumentasi. Jadi saya kira putus saja ini.

(10)

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS):

Atau Pimpinan ini begini saja, saya pikir ini kan toh bagian dari kita, serahkan saja ke Tim Kecil nanti "Konsideran" sampai kepada "Menetapkan"

itu.

KETUA RAPAT:

Tim Kecil itu dalam tata cara kita hanya konsiderans "Menimbang",

"Mengingat" dan "Ketentuan Umum". Saya rasa tidak apa-apa kita putus, kita kan sudah berargumentasi. Oke Pak ya. Oke ini saya putus seperti yang tertera itu. Terima kasih.

(RAPAT SETUJU)

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (HADIYANTO):

Ketua, mohon maaf, "dan"nya itu barangkali tidak huruf besar.

KETUARAPAT:

Ya itu redaksional, tolong dirubah sekalian, "dan" d-nya hurufkecil.

Sekarang kita langsung masuk ke DIM 17. Ini Pansus "tetap".

Langsung masuk ke DIM 18 Pansus "tetap".

DIM 19 "tetap".

Sekarang ke DIM 20, disini ada catatan usul PKB untuk menambah satu ayat.

SilakanKB.

Tetapi di sini yang Pasall itu sudah "disetujui", dan PKB sudah "cabut", jadi ini "tetap" ya.

Sekarang DIM 21 "disetujui" Pansus dengan perubahan redaksional menjadi dan sebagai berikut.

Maaf, sebagaimana komitmen saya pertama dari Pasal kita langsung ke Penjelasan. Jadi yang tadi sudah oke, tidak ada Penje1asan. Pasal 1 "cukup jelas", itu saya rasa sudah ada.

Sekarang kita ke DIM 21, "disetujui" Pans us dengan perubahan redaksional menjadi sebagai berikut: "Surat Utang Negara adalah surat

(11)

pengakuan utang dalam mata uang Rupiah maupun val uta asing yang dijamin pembayaran bunga dan pokoknya oleh negara republik sesuai degan masa berlakunya", ini sesuai dengan usul PDIP.

ya?

Bisa kita putus?

Setuju?

Terima kasih.

(RAPAT SETUJU)

Sekarang "Penjelasannya", apa "cukup jelas"? tetap ya? "cukup jelas"

(RAPAT SETUJU)

Langsung kita masuk ke DIM 22. Apabila diperlukan, usulan PDIP untuk menambah ayat (2), barn disetujui untuk dibahas lebih lanjut dalam Pansus, pada waktu pembahasan mengenai "Aturan Peralihan".

Kami berikan waktu kepada PDIP.

Masuk ke "Aturan Peralihan", hanya Bapak minta masuk ke sana saja/\kalau sudah masuk di sana sudah aman.

Jadi berarti ini tidak kita perlukan, ini masuk ke "Aturan Peralihan", bagaimana yang diminta oleh PDIP. Jadi ini tidak diperlukan, kita putus ya?

INTERUPSI:

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS):

Perlu dipertegas Pak, apa ini sudah kita sepakati di "Aturan Peralihan", barangkali nanti saja di "Peralihan" kita bahas. Kecuali memang mungkin sudah sepakat, bahwa ini tidak masuk di sini. Kami menyetujui ini tidak masuk di sini, oleh karena itu kitajuga sudah membaca.

Baik, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Langsung kita masuk ke DIM 23, disetujui Pansus "tetap" sesuai dengan naskah RUU. Di sini usul PICB untuk merubah ayat 2 "dicabut". Oke, bisa kita putus ya?

(RAPAT SETUJU)

(12)

Baik, "Penjelasan" bagaimana? "cukup jelas"? oke "cukup jelas"

(RAPAT SETUJU)

DIM 24 disetujui untuk dibahas lebih lanjut dalarn Panja. Usul Fraksi Reformasi untuk rnenarnbah ini dalam Penjelasan. "Pasar sekunder meliputi perdagangan di bursa yang rnencakup jual beli langsung dan/atau tanpa perantara rneliputi pola perdagangan".

Kami berikan kesernpatan Fraksi Reformasi.

ANGGOTA F.REFORMASI (Drs. H. MUNAWAR SHOLEH):

Apakita langsung bahas Penjelasan? Saya kira asal substansi yang dirnaksud Fraksi Reformasi nanti masuk ke dalam Bab Penjelasan, saya kira tidak ada masalah. Kemarin begitu Pak.

Ini tentang pengertian pasar sekunder di situ, penjelasan pasar sekunder.

Kalau kita baca "Pasar sekunder adalah kegiatan perdagangan Surat Utang Negara yang telah dijual di pasar primer". Lantas penjelasan lebih lanjut di sitiAFraksi Reformasi rnengusulkan "pasar sekunder meliputi perdagangan di bursa yang rnencakup hal jual beli langsung dan/a tau tanpa perantara, rneliputi pula perdagangan di luar bursa". Kalau rnemang substansi yang dimaksud seperti kalimat yang ada di pasal ini rnencakup itu dan sernua orang pada dunia ini paharn, ya tidak apa-apa. Hanya kalau ditegaskan lagi akan lebih baik. Kira-kira begitu rnaunya Fraksi Reformasi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik. Jadi betul rnaunya Fraksi Reformasi dernikian. Namun dari ternan- ternan juga arena ini rnerupakan Ketentuan Urnum, Ketentuan Umum tidak ada Penjelasan, maka itu yang keberatan oleh ternan-ternan kernarin. Namun demikian kami minta dari Pemerintah silahkan.

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (ANGGITO ABIMANYU):

Terima kasih Pak Ketua.

Saya kira Ketentuan Umum tentunya tidak ada Penjelasan. Dan apa yang dimaksud leh Fraksi Reformasi itu barangkali nanti bisa dirujuk pada Pasal 2 ayat (2). J adi apa yang lapakmaksud itu nanti akan kita liliat kembali di dalam Pasal 2 ayat (2). Penjelasannya Pak taawar.

(13)

Demikian Pak Ketua.

KETUA RAPAT:

Baik, cukup Pak Munawar?

Jadi ini kita kembali kepada semula tanpa ada Penjelasan karena ini merupakan Ketentuan Umum''.

Terima kasih.

Kita lanjut ke Pasal 25. Disetujui untuk "dibahas lebih lanjut" dalam Panja. Pemerintah imyi konsepnya.

INTERUPSI:

ANGGOTA F.PG (Drs. BAHARUDDIN ARITONANG):

Mohon maaf Pak. Saya kadang-kadang kan sudah tua juga jadi agak lambat. Jangan cepat-cepat. Saya boleh Pak kembali ke DIM 24.

Mungkin apa yang kemudian perlu dijelaskan oleh PakAnggito itu tadi apa dengan aijelasan seperti ini memang sudah jelas untuk umum? Itu saja.

Jadi DIM 24 ini "Pasar sekunder adalah kegiatan dan seterusnya", sudah cukup jelas? Karena memang peran yang Fraksi Reformasi itu nanti supaya tidak menciptakan persoalan di berikutnya. Kalau ini memang sudah cukup jelas, ya tidak ada persoalan.

KETUA RAPAT:

Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH/JAJARAN ABIMANYU):

DEPKEU (ANGGITO

Betul Pak Aritonang. Saya kira ini sudah cukup jelas dan lazim dipakai, dan di pengertian umum memang sudah demikian halnya.

KETUA RAPAT:

Oke, baik. Sudah mengangguk-angguk berarti kita bisa langsung.

Kembali kita ke DIM 25, "Pemerintah adalah Pemerintah Pusat Negara Republik Indonesia". Usulan Golkar kata "Pusat" dihapus sehingga berbunyi

"Pemerintah adalah Pemerintah Negara Republik Indonesia". PKB untuk mengubah 4, itu dicabut. Jadi sekarang ini kita kembalikan kepada FPG

(14)

Saya persilakan.

Usulan kami memang rasional sekali ini. Karena kalau ada "Pusat", ya tentu adapula di bawah "Pusat", kan jadi susah juga pemahamannya. Karena dengan catatan bahwa "Pemerintah Negara Republik Indonesia", itu sudah sekaligus secara keseluruhan. Artinya khususnya adalah memang dikendalikan dari Pusat. Karena itu kami menyarankan supaya "tetap". "Pemerintah adalah Pemerintah N egara Republik Indonesia".

Barangkali itu saja Pak Dirman, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU :

Saya kira Pemerintah "tetap pada usulan semula". Karena memang Undang-Undang ini atau Surat Utang yang akan dikelola ini adalah Surat Utang yang dikelola Pemerintah Pusat. Di dalam Undang-Undang No.25 memang dimungkinkan Daerah itu akan juga menerbitkan Obligasi atau Surat Utang dan itu tidak diatur di dalam Undang-Undang Surat Utang Negara ini.

J adi itu kami merencanakan untuk mengambil inisiatif nanti di kemudian hari membuat RUU bagi penerbitan Obligasi ataupun Surat Utang yang dikelola Daerah. J adi memang ini khusus untuk Surat Utang yang dikelola oleh Pemerintah Pusat Pak Aritonang.

KETUA RAPAT:

Bagaimana Golkar?

ANGGOTA F.PG (Drs. BAHARUDDIN ARITONANG):

Pada prinsipnya tidak perlu kalimat "Pusat", karena itu nanti pengertian Pemerintah itu dimplementasikan kepada pasal-pasal berikutnya. Karena disamping melaksanakan Menteri. Menteri itu Tingkat Pusat. Tidak ada Menteri di Daerah, karena kita tidak punya negara bagian dan seterusnya. Karena itu dengan Pemerintah Negara Republik Indonesia ini dalam konteks ini sesungguhnya sudah dijabarkan dalam pasal-pasal berikutmya. Karena kalau pengertian "Pusat" itu nanti tidak lumrah, dan kita tidak mengenali itu sesungguhnya kan. Yang kita kenai adalah Pemerintah Negara Republik Indonesia. Tidak ada "Pusat" atau di bawah "Pusat" yang ada di Undang- Undang Dasar memang ada Pemerintah Daerah.

(15)

Jadi Pernerintah ini terdiri dari, kernudian Pernerintah Daerah yang terdiri dari Gubemur Provinsi, kernudian Kabupaten dan Kota. Dan tidak ada istilah

"Pusat", tidak kita kenal. ltu kan sebenamya dalarn wacana urnurn sebenamya, dalarn Perundang-undangan tidak lazin1. Karena itu karni tetap berpegang kepada Pernerintah N egara Republik Indonesia, kernudian nanti penjabarannya itu adalah mencerminkan Pusatnya. Bahwa misalnya ayat ini "Merited adalah Menteri Keuangan Republik Imdonesia", implementasi dariapada Pemerintah Pusat tadi. Atau dan seterusnya nanti akan terjabar di situ.

Barangkali itu Pak Ketua.

KETUA RAPAT:

Baik, kalau begitu saya gilir. Silakan komentar FPDI Perjuangan.

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS):

Terima kasih Pimpinan.

Saya pikir memang Ketentuan Umurn ini adalah untuk lebih memberikan kejelasan terhadap kewenangan penerbitan Surat Utang Negara ini. Kalau sebagaimana disarankan oleh rekan dari adanya pengertian "Pemerintah Negara Republik Indonesia" itu kan terbagi ada di Pusat dan Daerah.

Oleh karena itu kami mengusulkan di dalam Ketentuan Umum ini pada usulan "tetap", karena upaya kami adalah untuk memberikan kejelasan bahwa kewenangan menerbitkan Surat Utang Negara ini hanya dilakukan oleh Pemerintah di Pusat. Artinya tidak menjadi kewenangan Pemerintah Daerah.

Sehingga dengan demikian ini untuk memberikan kejelasan. Karena itu kami rnenyetujui ada perkataan "Pusat" di dalam kalimat itu. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silakan PPP.

ANGGOTA F.PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):

Saya kira apa yang diusulkan Pemerintah secara substansial rnemang sudah bisa kita pahami Pak Aritonang. Masalahnya Surat Utang ini harus hati -hati dikelola. Siapa yang berwenang mengeluarkannya adalah Menteri atas nama Pemerintah Pusat. Sedangkan kalau kita amati sejak awal bahwa itu Surat Utang Negara, bisajuga Pemerintah apa saja, di Pusat dan Daerah.

Menteri atas nama Pemerintah Pusat bisa saja juga mewarisi Surat Utang

(16)

Jadi Pemerintah ini terdiri dari, kemudian Pemerintah Daerah yang terdiri dari Gubemur Provinsi, kemudian Kabupaten dan Kota. Dan tidak ada istilah

"Pusat", tidak kita kenai. Itu kan sebenamya dalam wacana umum sebenamya, dalam Perundang-undangan tidak lazim. Karena itu kami tetap berpegang kepada Pemerintah Negara Republik Indonesia, kemudian nanti penjabarannya itu adalah mencerminkan Pusatnya. Bahwa misalnya ayat ini "Merited adalah Menteri Keuangan Republik Imdonesia", implementasi dariapada Pemerintah Pusat tadi. Atau dan seterusnya nanti akan tetjabar di situ.

Barangkali itu Pak Ketua.

KETUA RAPAT:

Baik, kalau begitu saya gilir. Silakan komentar FPDI Perjuangan.

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS):

Terima kasih Pimpinan.

Saya pikir memang Ketentuan Umum ini adalah untuk lebih memberikan kejelasan terhadap kewenangan penerbitan Surat Utang Negara ini. Kalau sebagaimana disarankan oleh rekan dari adanya pengertian "Pemerintah Negara Republik Indonesia" itu kan terbagi ada di Pusat dan Daerah.

Oleh karena itu kami mengusulkan di dalam Ketentuan Umum ini pada usulan "tetap", karena upaya kami adalah untuk memberikan kejelasan bahwa kewenangan menerbitkan Surat Utang Negara ini hanya dilakukan oleh Pemerintah di Pusat. Artinya tidak menjadi kewenangan Pemerintah Daerah.

Sehingga dengan demikian ini untuk memberikan kejelasan. Karena itu kami menyetujui ada perkataan "Pusat" di dalam kalimat itu. Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silakan PPP.

ANGGOTA F.PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):

Saya kira apa yang diusulkan Pemerintah secara substansial memang sudah bisa kita pahami Pak Aritonang. Masalahnya Surat Utang ini hams hati-hati dikelola. Siapa yang berwenang mengeluarkannya adalah Menteri atas nama Pemerintah Pusat. Sedangkan kalau kita amati sejak awal bahwa itu Surat Utang Negara, bisajuga Pemerintah apa saja, di Pusat dan Daerah.

Menteri atas nama Pemerintah Pusat bisa saja juga mewarisi Surat Utang

(17)

jadi nanti jangan kemudian kita semua juga akan atau ada yang kemudian menertawakan.

Kalau kali ini mungkin nanti dengan legal drafter dengan ahli bahasa, barn mungkin perlu dipertanyakan. Karena pengertian Pemerintah Negara itu ya "Pusat" Pak.

Prinsip dasamya kita sepakat kalau SUN ini hanya diatur oleh Pemerintah Pusat, setuju. Tetapi Pak, dalam tataran legal itu kan tidak ada Pemerintah Pusat. Tetapi kalau sudah Pemerintah Negara itu ya sudah pengertiannya nasional sifatnya, pengaturannya. Tetapi kalau memang nanti juga legal drafter mungkin bisa memberikan argumentasi, kita juga tidak terlalu "ngotot". Bukan persoalan "otot-ototan", ini persoalan pemahaman.

Jadi jangan nanti kemudian tidak lazim, jadi kemudian atau tataran yang wacana umum menjadi kemudian lagi wacana legal atau hukum.

Barangkali lebih bagus kita tanya dulu legal drafter.

KETUA RAPAT:

Baik, saya minta dari legal drafter dan ahli bahasa.

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (HADIYANTO):

Terima kasih Bapak Pimpinan.

Memang konsep atau usulan Pemerintah itu dimaksudkan untuk memberikan ketegasan bahwa yang berwenang untuk menerbitkan Surat Utang N egara itu adalah Pemerintah Pus at melalui Menteri Keuangan, sehingga definisi atau pengertian yang dicantumkan dalam RUU juga dengan semangat untuk membedakan secara jelas wewenang Pemerintah Pusat.

Yang kedua, dalam perumusan RUU Jtu juga kami menggunakan referensi pada misalnya Undang-Undang Otonomi Daerah. :ai situ dibedakan antara Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah. Jadi pemikiran institusi ada Pemerintah Pusat, Pemerintah Daerah pembedaan kewenangannya dan sebagainya juga ada pada Undang-Undang Otomomi Daerah. Oleh karena itu kami mengacu memberikan "rumusan" pada ditonj olkan mengenai

"Pemerintah" itu yang dimaksud adalah Pemerintah Pusat.

Barangkali demikian Bapak Pimpinan.

KETUA RAPAT:

(18)

KETUA RAPAT:

Baik, oke? Terima kasih. Oke, ini kita sepakati?

(RAPAT SETUJU)

Kita lanjut ke DIM 26, "Merited adalah Menteri Keuangan Negara".

Disetujui Pansus "letap", sesuai naskah. Kita lewatkan.

Kemudian DIM 27, Pansus "tetap".

Kemudian DIM 28, disetujui Pansus "tetap".

DIM 29, disetujui Pansus "tetap".

DIM 30, usul Fraksi Reformasi untuk menambah ayat ( 6) pada Ketentuan Umum tentang pengawasan tentang Surat Utang Negara. Disetujui untuk dibahas lebih lanjut dalam Panj 'a.

Silakan Fraksi Reformasi.

ANGGOTA F.REFORMASI (Drs. H. MUNAWAR SHOLEH):

Baik, maksud dari kami ... (rekaman tidak jelas) KETUA RAPAT:

Baik, silakan Pemerintah.

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (ANGGITO ABIMANYU):

Terima kasih Pak Ketua.

Saya kira apa yang dipraktekkan oleh Pak Munawar ... (rekaman tidakjelas)

KETUA RAPAT:

Bagaimana Pak Munawar?

Masuk ke Pasall5 nantinya.

Oke ya, jadi ini "tetap" seperti semula.

Baik, terima kasih.

Kita lanjut ke DIM 31, disetujui Pansus "tetap" sesuai naskah RUU.

Kemudian Penjelasan tidak perlu.

Kemudian DIM 32 Pasal2, disetujui Pansus "tetap" sesuai naskah RUU.

(19)

Kemudian kita lihat sekarang kepada Penjelasan: "Surat Utang Negara dengan warkat adalah surat berharga yang pemilikannya berupa sertiflkat baik atas nama maupun atas unjuk. Sertiflkat atas nama adalah sertiflkat yang nama pemiliknya tercantum, sedangkan sertiflkat atas unjuk adalah sertifikat yang tidak mencantumkan nama pemilik, sehingga setiap orang yang menguasainya adalah pemilik yang sah. Surat Utang Negara tanpa warkat atau scriptless adalah surat berharga yang kepemilikannya dicatat secara elektronik (Book Entry System). Cara pencatatan elektronis dimaksudkan agar pengadministrasian data kepemilikan (register) dan penyelesaian transaksi perdagangan Surat Utang Negara di pasar sekunder dapat diselenggarakan secara eflsien, cepat, aman dan transparan".

Bagaimana dengan rumusan ini?

Silakan PDIP.

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS):

(rekaman tidak jelas) KETUA RAPAT:

Dari Fraksi PPP silakan.

ANGGOTA F.PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):

(rekaman tidak jelas) KETUA RAPAT:

Fraksi PKB.

( rekaman tidak jelas) Fraksi Reformasi silakan.

ANGGOTA F.REFORMASI (Drs. H. MUNAWAR SHOLEH):

(rekamantidakj elas)

Surat Utang Negara itu diterbitkan dalam bentuk warkat atau tanpa warkat. Logikanya bagaimana? Berarti dua~duanya begini saja. Surat Utang Negara pasti 2 hal, warkat atau tanpa warkat. Maka waktu itu PKB usul supaya dibuang saja pasal itu. Tetapi barangkali itu kan bahasa pondok, bahasa pondok pesantren. Kalau bahasan hukum memang harus diwujudkan.

(20)

Kalau dari kami Fraksi Reformasi kalau memang ini bahasanya bahasa tekhnis semacam itu dan dipahami oleh dunia perbankan semacam itu dan dengan penjelasan yang sudah disepakati bagi saya cukup memadai. Kemarin saya ingat Pak Poltakjuga sudah bertanya ke BI. Dan nampaknyajuga yang model scriptless juga bisa dipertanggung jawabkan, ya sudah mau apa lagi, bahasanya memang begitu. Kemarin kami hanya menuntut adalah bahasa umpamanya saja "Surat yang warkat", jangan pakai tanpa warkat. "Surat Utang Negara adalah diterbitkan dalam bentuk warkat atau" apa yang lainnya, iangan "warkat dan tanpa warkat". Memang di nalar agak tidak pas, begitu loh. Tetapi lantas M'telah diotak-atik kemarin Pak Menteri jawab, memang bahasanya begitu. Kami tidak bisa menjawab, itu sudah menyangkut pasaram tekhnis kita kan tidak menguasai dunia itu.

ini.

Dari Fraksi Reformasi, "tetap" saja lah kalau Penjelasannya semacam

Terima kasih Pak Pimpinan.

KETUA RAPAT:

Dari TNI/POLRI silakan.

ANGGOTA F.TNIIPOLRI (R. SULISTYADI, SIP., MM.):

(tidak terekam) KETUA RAPAT:

Dari PBB silakan

ANGGOTA F.PBB ( ... ):

Terima kasih Pimpinan.

Rasanya Pasal2 ini Penjelasannya sejak awal kita sudahjelas. Jadi sudah tidak perlu dipersoalkan lagi ini. Jadi karena memang "beginilah biasanya".

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Dari Pemerintah, silakan.

INTERUPSI:

ANGGOTA F.PG (H. AZHAR MUCHLIS):

Sebelum Pemerintah.

(21)

Saya hanya bertanya saja, tidak ada kaitannya dengan ini, hanya lebih memahami, begitu raaksud kami. Seandainya ada satu peristiwa karena pencatatan elektronik itu, terus kebakaran, musibah. Bagaimana cara menyelamatkan administrasinya itu.

Terima kasih KETUA RAPAT:

Silakan Pemerintah, mungkin menanggapi Fraksi-fraksi tadi sekaligus menjawab pertanyaan Pak Azhar tadi. Silakan.

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU :

Ketua, saya memahami apa yang diresahkan Pak Rahman. Itu karena kekhawatiran-kekhawatiran. BI seperti dulu pemah kebakaran, coba lah. BI yang sudah sangat secret sekali kebakar, apalagi Dewan, mudah sekali disulut.

Tetapi peristiwa seperti WTC itu kan memang ratusantahun barn terjadi.

Kalau itu terjadi ya sudah lah, tidak apa-apa.

KETUA RAPAT:

Baik, Bapak -bapak dan Ibu sekalian.

Jadi tadi kita sudah putar 2 kali untuk penjelasan usulan dari PDIP ditambah "yang dapatdipertanggungjawabkan". Kita terima semuanya ya?

Baik, kita terima usulan PDIP.

Kemudian untuk Pasal2 ini tetap "Surat Utang Negara diterbitkan dalam bentuk warkat a tau tanpa warkat". Karena istilah warkat dan tanpa warkat sudah given dari sana. Smoking area dan No Smoking Area. Area merokok dan area tidak merokok. Jadi itu sudah given dari sana, istilah perekonomian.

Jadi saya kira tidak perlu diutak-atik lagi.

Demikian Bapak/Ibu sekalian kita setujui ya Pasal2 DIM No.32.

Untuk Penjelasan ditambah "transparan serta dapat dipertanggungj awabkan".

Baik, kita Ian jut ke DIM 3 3. Di sini disetujui untuk dibahas lebih Ian jut dari Panja. Di smi dari usul Fraksi TNI/POLRI.

Kami persilakan TNI/POLRI.

(22)

ANGGOTA F.TNI/POLRI (R. SULISTYADI, SIP., MM.):

(rekaman tidak jelas) KETUA RAPAT:

Jadi saya tambahkan saja, tempo hari itu kan "Surat Utang Negara sebagaimana dimaksud ayat 1 ". Ayat I itu kan "Surat Utang Negara diterbitkan dalam bentuk warkat atau tanpa warkat". Dalam ayat (1) "diterbitkan dalam bentuk yang diperdagangkan atau dalam bentuk yang tidak diperdagangkan di pasar sekunder". J adi berarti kalau kita kembangkan, maka ada 4 kemungkinan di sini. Jadi berarti Surat Utang Negara sebagaimana dimaksud ayat ( 1), berarti kita acukan ke warkat saja. "War kat ditebitkan dalam bentuk yang diperdagangkan atau dalam bentuk yang tidak diperdagangkan".

Kemudian, bel urn itu "tanpa warkat". Bila kita masukkan lagi tanpa warkat, maka kelanjutan dari kalimat tadi, "Surat Utang Negara sebagaimana dimaksud dengan ayat 1 tanpa warkat diterbitkan dalam bentuk yang diperdagangkan atau dalam bentuk yang tidak diperdagangkan di pasar sekunder".

Untuk itu Fraksi TNI/POLRI untuk membedakannya itu perlu ditambahkankata "dan/atau". Jadidisitu tidak2 altematifuya, tetapialtematifhya itu 4, untuk penghubungkannya itu maka ditambahkan kata "dan/atau".

Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH:

(rekaman tidak jelas) KETUA RAPAT:

Baik, kalau begitu ini ditarik oleh TNIIPOLRI. Berarti ini bisa kita setujui?

(RAPAT SETUJU)

Langsung kita kepada Penjelasan. Penjelasan "Surat Utang Negara yang diperdagangkan adalah Surat Utang Negara yang diperjualbelikan di pasar sekunder, baik di dalam maupun di luar negeri. Perdagangan yang dilakukan melalui bursa dan atau di luar bursa yang biasa disebut Over The Counter (OTC). Sedangkan Surat Utang Negara yang tidak

(23)

diperdagangkan adalah Surat Utang Negara yang tidak diperjualbelikan di pasar sekunder dan biasanya diterbitkan secara khusus untuk investor institusi tertentu baik domestik maupun asing yang berminat untuk memiliki Surat Utang Negara sesuai dengan kebutuhan spesifik yang portofolio investasinya".

Ada komentar? Kalau tidak ada komentar bisa kita setujui?

Setuju?

(RAPAT SETUJU) Terima kasih.

Sekarang kita meningkat kepada DIM 34. Disetujui Pansus "tetap" sesuai naskah RUU. Kemudian dalam Pe~elasan "cukup jelas". Bisa kita sepakati?

(RAPAT SETUJU)

DIM 35, "disetujui Pansus" dengan perubahan redaksional menjadi sebagai berikut "Surat Perbendaharaan Negara, (titik koma)''.

INTERUPSI:

ANGGOTA F.REFORMASI (H. SYAMSUL BALDA, SE., MBA, MM, MSc):

Jadi ada usulan kita perlu koordinasikan dengan RUU Bidang Keuangan Negara khususnya RUU Perbendaharaan Negara. Supaya tidak ada kontradiksi atau overlap di sini.

Yang kedua, juga perlu koordinasi dengan revisi Undang-Undang BI, untuk Pasal yang ini. Supaya tidak kontradiksi antara kedua RUU ini.

ANGGOTA F.PG (Drs. BAHARUDDIN ARITONANG):

Tetap Penjelasan Pak Syamsul Balda ini kan sebelum ada kalimat dicabut karena wakil dari Fraksi Reformasi tidak hadir pada saat pembahasan. Ya sudah, berarti sudah dicabut.

ANGGOTA F.REFORMASI (H. SYAMSUL BALDA, SE., MBA, MM, MSc):

Bukan masuk dalam pasal tetapi memberikan peringatan.

(24)

KETUA RAPAT:

Untuk apanya mungkin kita berikan ke Pemerintah sebelum, maaf Pak Williem. Silakan Pemerintah.

Bukan, apakah ini sudah perlu dikoordinasikan dengan RUU bidang Keuangan dan Undang-Undang BI.

ANGGOTA F.REFORMASI (Drs. H. MUNAWAR SHOLEH):

Jadi begini Pak Anggito ya, maksud dari Fraksi Reformasi, ketika di dalam pembahasan mengenai Surat Utang Negara menyebut istilah, menyangkut pada area lain, yakni tentang perbendaharaan negara dan lain sebagainya supaya dikonsultasikan ke sana agar matching, tidak kontradiktif, agar smerg1s.

Memang nanti tidak dimunculkan di sini kalimatnya. Hanya ada koordinasi lah ya dengan konsep di sana. Jadi bukan dituliskan, tidak masuk pada tekstualnya. Tetapi ketika memunculkan kalimat ini, substansi pasal ini, dikomunikasikan atau dikoordinasikan dengan Undang-Undang lain terutama yang terkait dengan Undang-Undang Keuangan, Undang-Undang Perbendaharaan Negara, sehingga matching begitu loh. Kira-kira begitu maksud dari Fraksi Reformasi.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Silakan Pak Williem.

ANGGOTA F.PDIP (WILLIEM M. TUTUARIMA, SH):

Saya dengar masalah Undang-Undang tentang Keuangan Negara ini sudah masuk ke Panj'a juga. Nah yang saya harapkan justru pada saat ini kalau perlu ada Tim Sinkronisasi, bagaimana kita selesaikan. Sebab kalau tidak saya khawatir di kemudian hari setelah Undang-Undang ini kita sahkan, materinya sangat bertentangan atau berlawanan dengan Undang-Undang tentang Keuangan N egara. Kita ikut bertanggungj awab di sini, karena kita tahu sebelumnya sudah akan terjadi kemungkinan itu, terus baiknya kita selesaikan di sini dulu.

Sekian, Terima kasih.

(25)

KETUA RAPAT:

Baik. Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU (ANGGITO ABIMANYU):

Saya kira begini Pak Williem dan Pak Munawar, Pasal 31 a dan b itu nama sebetulnya Pak ... (rekaman terputus)

J adi yang dimaksud itu adalah nama, Pak. Nah pertanyaannya, bukan hanya T-bill saja yang hams dikoordinasikan, T-bonds-nya juga Pak, kalau soal koordinasi ya. Tetapi yang dimaksud itu adalah nama.

Jadi Surat Perbendaharaan Negara itu adalah nama dari Surat Utang Negara yang berjangkapanjang. Jadi itu nama, Pak.

Nah bentuk dari singkronisasi, mungkin saya ingin merujuk kepada rekan kami yang menangani RUU Keuangan Negara ini.

KETUA RAPAT : lya, silakan.

PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU :

Baik, Terima kasih atas perkenan Bapak Pimpinan melalui BapakAnggito Abimanyu.

Saya akan menjelaskan bahwa sebenamya DIM 3 5 ini sebagaimana tadi disampaikan, hanya merupakan nama. N amun demikian keterkaitannya dengan RUU Perbendaharaan Negara, itu adalah di dalam Pasal2 ayat h atau butir h yang mengatakan tentang "Kewenangan Menteri Keuangan untuk melakukan pinjaman". Tadi disampaikan oleh BapakAnggito bahwa Surat Perbendaharaan itu digunakan untuk menutup match-match mungkin ya. J adi berkaitan dengan masalah penutupan jangka pendek.

Lalu kemudian keterkaitannya dengan Rancangan Undang-Undang Keuangan Negara, bisa saya sampaikan dalam PasallO ayat (2) yang dikatakan bahwa: "Di dalam rangka penutupan defisit anggaran, Menteri Keuangan atau Pemerintah dapat melakukan pinjaman".

Baik, kira-kira demikian Pak.

Terima kasih.

(26)

PEMERINTAH/DIRJEN LK (DR. DARMIN NASUTION) : Iya Pak, artinya uncreditable begitu Pak. Kita membayangkan ini kalau mendapat persetujuan dulu padahal ini yang uncreditable dan waktunya pendek, ini bisa-bisa sudah lewat memontumnya, rugi telah terjadi bam kita mendapat ijin.

Kelak kasus khusus ini kita harapkan, ini tentu dipertanggungjawabkan Pak, kalau nanti lebih mahal hasilnya maka tidak tahulah bagaimana mekanisme politik itu untuk menyalahkan Menteri Keuangan, bahwa dia telah salah. Ini maksudnya harus buat lebih murah semua, atau tidak mengakibatkan rugi yang lebih besar. Cash miss match tadi itu Pak, tidak pemah dimasksudkan kalau pajak tidak tercapai atau harga minyak turun dari rencana, bukan. Dia semua sesuai dengan rencana tetapi cashnya bel urn masuk, itu saja. Maka ini kan tidak bisa di predik ini Pak. Jadi kita hanya mohon klausul itu dibolehkan dilakukan tetapi mungkin di laporkan salah kata-katanya maka kita rubah Pak, diapakan begitu.

ANGGOTA F. PPP ( DRS. NU'MAN ABDUL HAKIM) : Saudara Ketua,

Sebenarnya apa yang dijelaskan oleh Pak Darmin ini bisa diambil kebijakan internal dari pada Menkeu tetapi secara yuridis, kalau kita ini sudah menentukan satu pasal ini harus didahului dengan persetujuan tetapi di pihak lain pasal yang lain memberikan kelonggaran seperti ini kan lucu namanya.

Oleh karena itu saya rasa apa yang diharapkan Pak Darmin itu kita pada prinsipnya bisa menerima tetapi tidak bisa kita cantumkan seperti ini, karena

· apa ? Karena di dalam DIM 51 Pasal 7 ini sudah berbunyi seperti ini

"Menerbitkan surat utang suatu negara harus terlebih dahulu mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat? Kiau kemudian di sini ada penerbitan yang sebelumnya disetujui, ini kan lucu.

Saya kira mengatasi apa yang di sampaikan Pak Darmin tadi, yang pertama mungkin dari keuangan tadi bisa mengantisipasi, kira-kira bulan depan atau beberapa bulan yang akan datang akan terjadi yang seperti ini. Sehingga jauh-jauh sudah diadakan suatu rancangan untuk meminta persetujuan, sehingga sewaktu-waktu terjadi, ini bisa dilakukan atau mungkin hal yang seperti itu bisa dilakukan tanpa persetujuan lebih dulu tetapi tidak seperti akhin1ya dilaporkan seperti ini, harus tetap mendapat persetujuan terlebih dulu. Tentang nanti kalau sudah dilakukan ternyata tidak disetujui

(27)

Menurut saya dengan diaturnya di dalam Undang-Undang ini, Pemerintah sendiri supaya dalam menggerakkan aparatnya khususnya pajak, bea cukai, dan lain sebagainya inijuga dengan sungguh-sungguh. Jadi walaupun dikatakan Pak Darmin adalah situasi hal-hal tertentu tetapi itu juga bisa menyurutkan pola kerja mereka, ada satu mekanisme yang bisa kita atur, laporkan saja nanti. Justru ini yang menurut saya yang menjadi pembaharuan kita. Jadi dilaporkan setelah dilaksanakan ini yang sepertinya tidak menjadi kesepakatan kita, di sini pokonya ini. Ini yang menurut saya kecuali kalau itu diatur dalam mekanisme perubahan berarti kita masih mengasih peluang setelah itu dilaksanakan anggarannya. Lalu setelah dilaksanakan anggaran itu tahun-tahun ada berjalan hal-hal tertentu lalu juga dilakukan oleh Pemerintah, mending pada saat perencanaan sudah harus detail kira-kira apa yang terjadi. Misalnya contoh di dalam Panitia Anggaran, imflasi sudah ditentukan, harga minyak sudah di tentukan, perkembangannya ini mestinya harus di antara itu. Dengan demikian tidak terjadi apa yang akan dimasukan dalam konsep ini.

Itu menurut saya, Pak.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi kelihatannya ada kompromi-kompromi, silakan Pemerintah.

PEMERINTAHIDIRJEN LK (DR. DARMIN NASUTION) : Jadi Bapak-bapak yang terhormat,

Jadi begini, sebetulnya "cash miss match" itu tadikan tidak dimasukkan karena pajak tidak tercapai atau karena harga minyak turun, bukan. Dia tercapai tetapi cash-nya belum masuk, begitu. Kalau kasusnya karena harga minyak turun atau pajak tidak tercapai, tidak bisa Pak., tadi "cash miss match"

itu tidak bisa digunakan untuk itu.

ANGGOTA F. PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM) : Sebentar Pak Darmin,

J adi pasal ini mengatur yang berkaitan dengan cash miss match atau itu.

(28)

KETUA RAPAT :

Jadi ada tidak ini dirubah rnaksudnya itu tetap, ternan-ternan ini terkesan tait accornple dan lain sebagainya. Jadi rurnusannya mungkin Pemerintah, bagaimana?

ANGGOTA F. FG (H. AZHARJMUCHLIS) : Boleh saya memberikan kornentar Bapak.

KETUA RAPAT : Silakan

ANGGOTA F. FG (H. AZHAR MUCHLIS) :

Saya kira begini, prinsip bahwa ada dimungkinkan ada tambahan pinjaman itu saya kira bisa memahami. Hanya kita rnemakai satu prinsip bahwa harus mendapat persetujuan terlebih dahulu, karena kalau tidak, kami khawatir bahwa nanti bisa semaunya saja karena di sini dilaporkan, berarti kita sudah di fait accornple petakompli bahwa itu sudah terjadi.

Jadi biar bagaimana pun juga saya kira dengan tidak mengurangi maksud baik tentunya dari keinginan ini tetapi hams tetap mendapat persetujuan terlebih dahulu. Oleh karena kalau tidak tadi lantas rnenjadi apa yang kita lakukan bertentangan dengan prinsip yang sudah kita sepakati.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Jadi kelihatannya Pak Darnin dengan tidak mengurangi rnaksud rnaknanya itu tetap jalan tetapi perbedaannya satu sisi Menteri desisaint dulu setelah itu Iapor DPR, tetapi ternan-ternan rnenghendaki yang saya tangkap lapor dahulu DPR sehingga itu jalan. Ini kelihatannya di situ letaknya.

ANGGOTA F. FG (H. AZHAR MUCHLIS) :

Menurut kami F. PDU sudah rnalah berkembang, tidak rnenghapus tetapi tetap pada posisi yang kami sarnpaikan. Boleh tetapi tetap pada konteks rnekanisrne perubahan itu, kalau perubahan kan diatur oleh undang-undang, pasti. Bagaimana cara mengatasi kalau terjadi begini Pak Darmin? Kami kira hal ini sudah terjadi saat ini, pernah terjadi kan kemarin itu. Itu bagairnana cara mengatasinya.

(29)

KETUA RAPAT : Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH/DIRJEN LK (DR. DARMIN NASUTION) : Terima kasih, Pak.

Jadi memang ini bukan prinsip umum, ini pengecualian yang mungkin atau bisa terjadi dan ini tidak bisa diprediksi sebelumnya. Maksudnya itu begini, tadi misalnya sudah diminta dan sudah mendapat persetujuan waktunya RAPBN menjadi Undang-Undang, Rp. 5 trilyun tambahan bersih dengan rencana 15 diterbitkan barn, 10 ditarik. Itu sudah terlaksana sampai dengan bulan Juli misalnya, sudah ini klop segitu, sudah 5 tambahnya. Tiba-tiba pada bulan September diketahui ada "cash miss macth", ada proyek yang sudah berjalan yang sudah dibangun kalau cash belum masuk. Kalau ini tidak di biayai, ini akan terjadi penundaan penyelesaian proyek yang mengakibatkan biaya. Pemerintah kemudian mengeluarkan surat utangjangka pendek untuk menutupi ini, yang nanti tetap saja ditutup lagi, dibeli lagi pada saat uangnya masuk tetapi ada satu moment terjadi melebihi dia dari pesetujuan itu dan itu kan salah kalau tidak dengan prinsip umum tadi salah. Ini yang Pemerintah menganggap, pengecualian ini kita tuangkan dalam kalimat "Dalam hal tertentu", asal dijelaskan hal tertentunya. Jangan kemudian hal tertentu tidak ada penjelasan apa-apa lagi.

ANGGOTA F. PDI P (SOEKARDJO HARDJOSOEWIRJO, SH)

Tambahannya Rp. 5 trilyun, 15 di terbitkan 10 ditarik. Pada waktu sudah keluar 15 sampai bulan Juni misalnya, pada bulan September bunga naik, itu tidak di prediksi sebelumnya. Kalau dikeluarkan ini, tadi yang di DIM sudah terjadi 1 Juni misalnya, pada bulan September bunga naik. Ini kalau di terbitkan mestinya bunganya tinggi ini,jangan diterbitkan dulu, atau terjadi sebaliloiya sudah diredim 10, 15 mau diterbitkan atau sudah diterbitkan I 0 tinggal 5 lagi, mau diterbitkan bulan September bunga naik. Dari pada kita menanggung bunga yang tinggi maka tunda sajalah penerbitan ini atau tunda saja by back itu sehingga lewat dia ke tahun anggaran berikutnya. Pada satu moment atau pada satu periode terjadi kelebihan Pak, tetapi untuk menghindarkanjangan kena bunga yang mahal, itu saja. Ini kalau bisa kita katakan di laporkan di APBNP tentu saja kalau ditolak oleh DPR bisa juga tetapi konsekuensinya Menteri Keuangan berhenti itu Pak. Ini dilaporkan itu tetap harus disetujui maksudnya, kalau tidak disetujui kan tidakjalan walaupun dilaporkan tetapi sudah terjadi, itu saja.

(30)

memberikan ini kepada debitur. Kalau sekarang tidak, tetapi mana tahun yang di umumkan akan datang lebih maka repot kita. Oleh karena itu koordinasi dengan pihak DPR tetap harus dilaksanakan, ini karena menyangkut Perubahan Anggaran, berarti be ban bagi rakyat seluruh Indonesia. Jadi kalau pun dikeluarkan memang harus benar-benar dalam keadaan darurat.

Itu saja, Pak.

Terima kasih.

KETUA RAPAT : Baik, dilanjutkan F. PDU.

ANGGOTA F. PDU (Drs. H. ABDULLAH AL WAHDI) :

Usul F. PDU, pertama adalah ingin memperjelas "Dalam hal tertentu"

kami tambah dengan "hal-hal tertentu", karena sesuatu yang mungkin terjadi pada waktu kekurangan kas jangka pendek di dalam anggaran prosesnya memang harus mendapat persetujuan DPR tetapi juga harus dijaga jangan sampai melebihi seperti yang tadi diusulkan dari Fraksi Reformasi,jor-joran untuk menerbitkan surat utang itu sendiri, tetapi lebih jelasnya kami minta apakah dalam tahap masih terjadi atau sudah sering terjadi. Tentunya hal ini Pemerintah memberikan penjelasan pada kita ini. Kami memahami terhadap materi di sini. Jadi kami memahami terhadap kepentingan Pemerintah untuk mengantisipasi tetapi prosedumya tetap harus mendapat persetujuan dewan, di mana pelaksanaanya dirubah di dalam Perubahan Anggaran yang berjalan.

Terima kasih Saudara Ketua.

ANGGOTA F. PPP (H. AZHAR MUCHLIS):

Ketua, kami akan menambahkan,

Tadi kan saya sudah katakan bahwa nuansanya kami sama dengan PDI P, tetapi kalau itu disetujui dalam Perubahan dan mekanisme Perubahan itu ada memang, tidak ada masalah. Jadi kalaupun bagi kami dihapuskanpun tidak ada masalah tetapi kalau ada harus tetap mendapat persetujuan tetapi pada saat penentuan di APBN Perencanaan itu, kira-kira kita sudah mengatakan biasanya, sudah sampai segini saja, tidak ada yang lain. Sudah iya tetapi namanya perubahan kan bisa saja terjadi, maksud kamijuga begitu.

Itu kita OK tetapi di dalam Perubahan itu dengan pesetujuan. Terima kasih.

(31)

Menurut saya kalau pengertiaannya seperti itu memang harus dihapus.

KETUA RAPAT : Selanjutnya F. KB.

ANGGOTA F. KB (H. M. MUKHTAR NOERJAYA, MSi) : Terima kasih,

Say a kira sej alan pemikiran say a dengan F-PG tetapi dengan adanya perubahan substansi dari pada Pasal 7 itu terlebih dahulu mendapat persetujuan memang mungkin perlu ada penjelasan dari Pemerintah. Maksud kami dari F- PKB di sini apabila karena suatu hal, sehingga Menteri ingin menerbitkan surat utang negara melebihi nilai bersih, ditekankan yang maksimal terlebih dahulu mendapat persetujuan dimaksudkan dalam ay at (2) maka Menteri segera minta persetujuan DPR atas kelebihan itu tetapi dalam konteks 51 ini memang perlu dipikirkan.

Jadi saya kira minta penjelasan dari Pemerintah ini. Tadi kan kata di sini yang diterangkan dalam Pasal 7 tidak ada tetapi dengan adanya perubahan dalam konteks ini yang mendasar maka kami minta penjelasan dari Pemerintah dulu.

Saya kira ini.

KETUA RAPAT :

Kami lanjutkan F. Reformasi.

ANGGOTA F. REFORMASI (H. SYAMSUL BALD A, S.E., MBA, M.M., MSc) :

Jadi usul Fraksi Reformasi, kalimat itu diubah, "Dalam hal tertentu menteri dapat menerbitkan surat utang negara melebihi nilai bersih maksimal setelah terlebih dahulu mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat dan dilaporkan sebagai perubahanAnggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun yang bersangkutan". Maka penjelasannya begini, ini dalam hal penerbitan suatu utang negara yang melebihi nilai bersih maksimal oleh Pemerintah tanpa persetujuan DPR itu tidak tepat, karena itu bertentangan dengan pasal sebelumnya dan juga Undang-undang lain yang mana hak budget itu ada di DPR. Oleh karena ini dikhawatirkan kalau tidak ada kalimat seperti itu terus terang dapat persetujuan DPR dikhawatirkan Pemerintah itu bisa jor-joran

(32)

kalau DIM yang ke 54 itu untuk dihapus saja, karena kalau hal ini diteruskan maka ini bisa mengakomodir dari pada Pasal 7 DIM 51.

Sementara demikian.

Terima kasih KETUA RAPAT :

Kami lanjutkan F. Partai Golkar

ANGGOTA F. PG (H. AZHAR MUCHLIS) : Terima kasih

Jadi nuansanya hampir sama hanya kami tidak menghapuskan. Jadi

"Dengan persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat surat utang negara dapat diterbitkan melebihi nilai bersih maksimal yang telah disetujui Dewan Perwakilan Rakyat sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dan dibahas Pembicaraan Perubahan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara tahun bersangkutan". Jadi konkrietnya nilai lebih itu bisajuga akan terjadi, kami memahami itu tetapi tetap harus mendapatkan persetujuan dari Dewan Perwakilan Rakyat. Intinya kalau itu memang ada, perkiraan itu memang ada maka apapun yang terjadi harus mendapatkan suatu Persetu juan Dewan Perwakilan Rakyat.

Terima kasih.

Kalau dua kata yang di atas tidak terlalu prinsip.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

I Baik, kami Janjutkan kepada F. PPP.

ANGGOTA F. PPP (Drs. H NU'MAN ABDUL HAKIM) : Ya saya kira agak mirip dengan F. POI P, Pak Ketua.

Yang pertama Pasal 7 mengatur bagaimana surat utang itu disetujui oleh Dewan Pewakilan Rakyat termasuk di dalamnya nilai bersih maksimal.

Kemudian ada lagi Pasal yang mengatur dalam hal tertentu boleh melewati tetapi tetap juga harus atas persetujuan DPR. Jadi seolah-olah betul ada seperti kontradiksi, jadi kira-kira ini to long dipikirkan kern bali Pak Darmin Pasal 5 ini maknanya seperti apa. Jadi 2 Pasal ini, DIM 52 dan DIM 54 ini saya kira untuk dicermati lagi.

(33)

KETUA RAPAT :

OK bagairnana Pernerintah, ternan-ternan banyak rnenghendaki itu dihapus, silakan Pernerintah. "Ketentuan ini dan itu" dihapus.

Setuju Pak?

Baik, jadi usul Pak Poltak disetujui, bisa ini kita putus "Ketentuan" itu dihapus. Bisa disetujui ini?

(RAPAT SETUJU) Terima kasih

Kita sekarang kita lanjutkan DIM 53, disetujui Pansus tetap sesuai naskah RUU.

Kita rnasuk sekarang kepada penjelasan.

"Persetujuan terse but didahului dengan rnengajukan rencana penerbitan dan pelunasan dan atau pernbelian kernbali yang disarnpaikan bersarnaan dengan penyarnpaian Nota Keuangan dan Rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara". Penjelasan ini akan kita kornentari, karni persilakan kepada F. PDI Perjuangan.

Kalau PDI sudah jelas, rnaka bisa ini kita putus ? Yang lain-lain ada kornentar?

Setuju?

(RAPAT SETUJU)

Sekarang kita rnasuk ke DIM 54, disetujui untuk dibahas lebih lanjut dalarn Panja. Ii baru yang Pak Poltak tadi. Jadi ini ada dari F. PDIP, ada dari F. PPP, ada F. PKB. Karni persilakan PDI Perjuangan.

ANGGOTA F. PDI P (SUKONO) : Terirna kasih,

Jadi untuk DIM yang ke 54 ini sebenamya bertentangan dengan DIM 51. Dirnana DIM 51 itu "Penerbitan surat utang negara harus terlebih dahulu rnendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat", tetapi kalau di sini "Dalarn hal tertentu Menteri dapat rnenerbitkan surat utang negara rnelebihi nilai bersih rnaksirnal yang telah disetujui oleh Dewan Wakil Rakyat", kan repot ini, narnanya ngarnbang, tidak rnantap Pasal ini. Oleh karena itu saya sepakat

(34)

ANGGOTA F. PDI P (Drs. POLTAK SITORUS):

Apa masih kita perlukan tambahan "Ketentuan ini dan seterusnya", oleh karena pada Pasal6 kan disitu sudah ada juga penjelasan yang menyangkut hal yang memperhatikan fiscal dan kebutuhan pasar dalam rangka konsultasi dengan Bank Indonesia, apakah masih kita perlukan itu.

KETUA RAPAT :

Bagaimana Pemerintah, yang "Ketentuan" itu dihapus lagi. Itu kan dengan sendirinya kan sudah memberikan fleksibilitas kepada Menteri. Lalu untuk menekankan kembali tidak perlu begitu, bisa hilang kan. Jadi usul Pak Poltak ini bisa diterima.

ANGGOTA F. PG (H. AZHAR MUCHLIS) :

Yang dengan BI itu berbeda dengan kejelasan ini, "konsultasi" itu. Di BI itu penjelasannya dengan Menteri Keuangan berbeda dengan masalah fiscal yang ada di sini. Walaupun saya memahami bahwa ini memang sudah tugasnya Menteri, mesti ya harus sehat. Apakah itu masih dijelaskan saya sepakat, tetapi pertanyaan Pak Poltak berbeda menurut saya. Kalau yang di Pasal 6, Pak Poltak tadi, "Berkonsultasi dengan Bank Indonesia" di dalam penjelasan ini ada juga masalah fiscal tetapi yang ada di sini berbeda, tetapi kalau

"ketentuan ini dan selanjutnya" itu dihapus, sayajuga sepakat.

KETUA RAPAT : Bagaimana Pemerintah ?

PEMERINTAH/DIRJEN LK (DR. DARMIN NASUTION) : Jadi memang barangkali saya mengerti ini Pak, karena tiba-tiba ada ''yang sehat", itu di situ. Maksudnya pengelolaan utang negara yang sehat itu sesuai dengan ayat yang tadi kita sudah bahas, dia harus meminimalkan penjelasan yang tadi kita bicarakan. Harus meminimalkan soal bunga dan dengan resiko yang dapat ditolelir, itu maksudnya sebenarnya, karena yang sehat memang yang begitu Pak. Kalau bunganya bank naik maka itu tidak sehat, itu maksudnya atau kalau mau ditunjuk kepenjelasan yang tadi bisa juga, sehingga menghidari munculnya kata barn, "yang sehat", yang kemudian

membuat kita bertanya, "apa pula yang sehat", itu.

ANGGOTA F. PG (H. AZHAR MUCHLIS) : Kami sepakat lah kalau itu dihapus.

(35)

ANGGOTA F. PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM) : Kami menambahkan saja Pak Ketua, pertanyaan PakAzhar, prakteknya seperti apa nilai bersih itu, dijelaskan dulu. Jadi untuk memudahkan, memahami rumusan ini, Pak Darmin ceritakan dulu, seperti apa ?

PEMERINTAH/DIRJEN LK (DR. DARMIN NASUTION) : Sebenarnya sangat sederhana Pak, jadi kalau surat utang yang ada sekarang ini yang beredar Rp. 100 trilyun misalnya, kemudian Pemerintah untuk satu tahun anggaran, permintaan persetujuan dia itu kira-kira begini "saya mau menambah" tetapi di dalamnya ada nanti management macam-macam.

Saya mau menambah dan tambahannya itu bersihnya nilai Rp. 5 trilyun, sehingga nanti dia menjadi Rp. 105, tetapi dalam rangka Rp. 5 trilyun ini, ini bisa berbagai kombinasi dalam pengertian begini, terbit 20 redim 15 maka selisihnya kan 5 Pak, bersihnya. Jadi terbit yang baru 20, dia tarik yang lama 15, bersihnya 5 atau terbit 15 dia tarik yang lama 10 maka 5 juga, itu dia persetujuannya yang diminta tambahan yang 5 itu. Di dalamnya kemudian itu sebabnya kalimat terakhir ada fleksibilitas, fleksibilitasnya kombinasinya bisa macam-macam tetapi akibatnya terhadap stock utang sama. Pada bunga itu kemudian terkait dengan Pasal lain bahwa kalau Pemerintah menjalankan management porto folio tadi, ukurannya harus Jebih murah. Kalau main tukar- tukar, harus lebih murah biayanya, kalau lebih mahal mau itu mangement parah itu.

Begitu Pak.

KETUA RAPAT :

Kalau begitu rumusan ini, "Nilai bersih adalah penambahan atau pengurangan". Kalau menangkapnya kan begitu, "penambahan" ya. Jadi kata

"Nilai bersih adalah tambahan atas jumlah surat utang negara yang beredar, jumlah ini merupakan selisih an tara jumlah surat utang negara yang diterbitkan dengan yang ditarik kern bali sebelum jatuh tempo dan dilunasi secara lama satu tahun anggaran. Ketentuan ini memberikan fleksibitas kepada menteri untuk melakukan pengolahan utang negara yang sehat dengan memperhatikan kondisi fiscal dan kebutuhan pasar yang sangat dinamis".

Setuju?

Silakan.

(36)

KETUA RAPAT :

Baik, silakan Fraksi Reformasi.

ANGGOTA F.REFORMASI (H.SYAMSUL BALDA,S.E.,MBA, M.M., MSc):

Jadi ini kelihatan banyak,jadi membingungkan, sebenamya tidak terlalu membingungkan, biasa-biasa saja. Ada yang berulang dari penjelasan yang sebelumnya Pak Darmin, itu bisa dihapus. Misalnya di kalimat kedua ''jumlah suatu utang negara yang di terbitkan adalah dalam rangka pembiayaan defisit rnenutup kekurangan kas jangka pendek dan rnengelola porto folio ... dst", ini tidak perlu, karena sebelumnya sudah dijelaskan. Karena ini diulang lagi maka kelihatan banyak dan membingungkan. Kalau itu dihilangkan akan lebih simple, tidak mengulang-ulang. Dari kalimat pertama langsung ke kalirnat ke tiga.

"Sedangkan pembelian kembali sebelum jatuh tempo adalah bagian dari kegiatan pengelolaan porto folio surat utang negara". Kata "pengelolaan" itu juga bisa dihapus. "Ketentuan ini memberikan fleksibilitas kepada Menteri untuk melakukan pengelolaan utang negara yang sehat dengan memperhatikan kondisi fiscal dan kebutuhan pasar yang san gat dinamis". J adi dua kalimat itu sudah cukup, Pak.

KETUA RAPAT :

Gil iran yang terakhir, Fraksi PDU.

ANGGOTA F. PDU (Drs. H. ABDULLAH AL WAHDI) :

Saya pikir sarna Pak, tetapi kalau penjelasannya mulai dari "nilai bersih antara tambahan atas jumlah surat utang negara yang beredar, dimanajumlah ini merupakan selisih antarajumlah surat utang yang diterbitkan dengan yang ditarik kern bali sebelum jatuh tempo yang dilunasi selama satu tahun anggaran", ini sudah mengerti ini Pak, sarnpai di sini. Kalau penjelasan lagi ini, itu rnembingungkan Pak. Jadi barangkali ada satu sistimatika di dalam penjelasan ini yang lebih konkriet dan jelas, dapat dicema oleh si pernbaca, saya pikir lebih bagus, iitu Pak. Pengertian sampai disini, kami rnernahami itu.

KETUA RAPAT : Silakan Pemerintah.

(37)

KETUA RAPAT:

Ya, jadi kami ingatkan kembali disetujui Pansus "tetap sesuai naskah RUU". Makanya itu kita sampai sekarang ke "Penjelasan",jadi mohon yang kita tanggapi adalah Penjelasannya saja. Apakah ini terlalu panjang, apa kurang konkret, kurang fokus, bagaimana bagusnya.

Siapa sekarang yang ingin komentar?

Silakan.

ANGGOTA F. PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM) : Kalimat yang panjang, siapa pun barangkali itu menyusahkan pembaca.

Kalau memberikan penjelasan, bagaimana menghemat kalimat tetapi juga secepatnya memberikan pengertian. Saya membaca memang tidak tabu apa, memang saya bukan ahlinya di bidang ekonomi tetapi memang agak sulit memahaminya, karena itu yang disebut nilai bersih itu seperti apa ? Kira-kira rumusannya agak singkatlah penjelasannya.

KETUA RAPAT : Silakan Golkar.

ANGGOTA F.PG ( ... ):

Saya ingin ada penjelasan saja dari di Pemerintah sama dengan Pak Nu'man. Nilai bersih ini kalau dicontohkan saja dulu dalam praktek itu bagaimana. Jadi nanti kita rumuskan, kalau melihat rumusannya tambah ruwet say a.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan PDI Perjuangan, mungkin sudah siap?

ANGGOTA F. PDIP (Drs. POLTAK SITORUS) :

Kami pikir juga demikian Pimpinan. Jadi memang penjelasan ini kami mengusulkan seperti ayat yang lalu, yang kita lakukan. Sehingga dengan demikian lebih mudah dipahami begitu.

Terima kasih.

(38)

ANGGOTA F.PG ( H. AZHAR MUCHLIS ) :

Pak Ketua, apa yang disampaikan Pak Poltak ini bel urn selesai. Malah tadi saya juga bingung, tak cari yang mana. Ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 11. Kalau Pak Poltak yang tidak heres, ya syukur itu.

KETUA RAPAT:

Silakan dikomentari "Penjelasan DIM 52", penjelasannya. Apa lewat PPP dulu.

ANGGOTA F.PPP ( Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM) : Tidak ini kan us ulan PDIP, saya harap minta komentar dari Pemerintah.

Fraksi-fraksi belakangan ini belum bisa memahami ini.

KETUA RAPAT:

Ini "Batang Tubuh"-nya sudah Pak Nu'man. Sekarang ini kita hanya

"Penjelasan" saja, komentar penjelasannya.

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS ) :

Kalau begitu kami kemukakan Pak di sini. Kami memang menambahkan tam bah an kata-kata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, yakni yang mencakuo hal-hal termasuk antara lain juga bahwa tidak hanya pada nilai bersihnya, tetapi juga mermkup hal-hal yang mencantumkan ketentuan- ketentuan yang termasuk dalam setiap Surat Utang Negara tersebut.

ANGGOTA F.PG (H. AZHAR MUCHLIS ) ::

Kalau saya lihat di Pasal11 ini, Pak Poltak ingin menambahkan. Tetapi di Pasal 11 ini bunyinya "Setiap Surat Utang Negara mencantumkan sekurang- kurangnya". Pak Poltak ini ingin mencantumkan itu di DIM 52 dengan penambahan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Menurut saya Pak, kalau ini sudah dicantumkan di Pasal 11 selanjutnya optimis itu akan terjadi. Jadi kalau saya seperti yang dikonsepkan Pemerintah ini, perlu ditambahi lagi. Mungkin dalam konteks Penjelesannyalah yang baru akan kita bincangkan.

Terima kasih.

(39)

kekurangan Kas jangka pendek dan mengelola portofolio Surat Utang j Negara. Sedangkan pembelian kembali sebelum jatuh tempo adalah bagian dari kegiatan 1 pengelolaan portofolio Surat Utang Negara. Ketentuan ini memberikan fleksibilitas kepada Menteri untuk melakukan pengelolaan Surat Utang Negara yang sehat, yang memperhatikan kondisi fiskal dan kebutuhan pasar yang sangat dinamis.

Kami persilakan pertama dari PDI Perjuangan untuk mengomentari.

ANGGOTA F.PDIP ( Drs. POLTAK SITORUS ) :

Hal yang menyangkut Surat Utang Negara ini menurut hemat kami memang menerbitkan pada ayat-ayat sebelumnya kita sudah minta kepada kecermatan daripada Pemerintah di dalam merenchakan untuk penerbitan Surat Utang Negara ini. bleb karena itu kita menganggap memang di dalam rangka Hak budget DPR ini termasuk sebenarnya bukan hanya Surat Utang Negara dalam rangka perubahan ini. Tentunya kan, barangkali untuk yang kedepannya, yang akan datang kita harapkan sebenarnya dalam rangka perubahan APBN itu, kalau memang ada kecermatan kita. Mungkin hal-hal tertentu saja yang bisa memungkinkan terjadinya perubahan. Sehingga tidak terlalu longgar.

Oleh karena itu di dalam hubungan ini berdasarkan pemikiran dari PDIP bahwa memang Penerbitan Surat Utang Negara ini, yang dilakukan oleh Pemerintah pengelolaannya harus lebih mengandung asas kepastian di dalamnya. Karena itu kami mengusulkan agarterhadap Penerbitan Surat Utang Negara yang melebihi nilai bersih maksimal yang telah disetujui itu tidak memberikan kelonggaran. Karena nanti kan akhimya tidak ada kepastian nanti setiap waktu bisa muncul hal-hal yang permintaan-permintaan dan hanya dilaporkan dalam rangka perubahan APBN. Karena itu kami "usulkan butir 54 ini dihapus".

KETUA RAPAT:

Jadi memang Pak Poltak apa, memang sarannya dihapus pada DIM 54.

Tetapi sekarang ini kita pada "Penjelasan 52". Jadi satu halaman saja Pak terlewatkan. Jadi 54 belum, nanti Bapak sampai di sana memang dihapus DIM 54. Silakan yang lain dulu. Jadi yang dikomentari sekarang adalah "Penjetosan DIM 52". Saya teruskan Golkar.

Referensi

Dokumen terkait

Untuk mengetahui respon informan tentang faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya hasil Ujian Nasional pada mata pelajaran biologi di SMA Negeri 1 Atinggola pada

Perpustakaan perguruan tinggi dan civitas akademik di dalam perguruan tinggi juga tak luput dari dampak pandemi ini.Untuk tetap memberikan layanan kepada pengguna maka

Dapat disimpulkan bahwa Ho ditolak atau terdapat hubungan yang bermakna diantara kedua variabel “prematur merupakan faktor risiko gangguan fungsi pendengaran pada

(1) Apabila cedera yang diuraikan dalam Pasal 2 merupakan sebab langsung dari kematian Tertanggung dalam jangka waktu 365 hari sejak tanggal terjadinya

bahwa dengan semakin kompleksnya, permasalahan yang berhubungan dengan penyelenggaraan reklame, dan demi efisiensi serta efektifitas dalam pemungutan Pajak Reklame,

Hasil pengamatan histopatologi glomerulus ditemukan edema, yang ditandai dengan adanya endapan protein di mesangium hingga ke ruang Bowman, sedangkan pada tubulus berupa

Dengan demikian sangat dibutuhkan cara atau media yang harus diinformasikan kepada para siswa tentang teknik pembuatan presentasi yang interaktif dan lebih menarik salah satunya

Berdasarkan koefisien jalur atau pengaruh langsung, variabel perilaku merokok berpengaruh terhadap tingkat insomnia dengan nilai koefisien sebesar 0.425 artinya