• Tidak ada hasil yang ditemukan

KETUA RAPAT : Silakan Pemerintah

Dalam dokumen RISILAH RAPAT PANJA KOMISI IX DPR RI (Halaman 36-46)

KETUA RAPAT:

Ya, jadi kami ingatkan kembali disetujui Pansus "tetap sesuai naskah RUU". Makanya itu kita sampai sekarang ke "Penjelasan",jadi mohon yang kita tanggapi adalah Penjelasannya saja. Apakah ini terlalu panjang, apa kurang konkret, kurang fokus, bagaimana bagusnya.

Siapa sekarang yang ingin komentar?

Silakan.

ANGGOTA F. PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM) : Kalimat yang panjang, siapa pun barangkali itu menyusahkan pembaca.

Kalau memberikan penjelasan, bagaimana menghemat kalimat tetapi juga secepatnya memberikan pengertian. Saya membaca memang tidak tabu apa, memang saya bukan ahlinya di bidang ekonomi tetapi memang agak sulit memahaminya, karena itu yang disebut nilai bersih itu seperti apa ? Kira-kira rumusannya agak singkatlah penjelasannya.

KETUA RAPAT : Silakan Golkar.

ANGGOTA F.PG ( ... ):

Saya ingin ada penjelasan saja dari di Pemerintah sama dengan Pak Nu'man. Nilai bersih ini kalau dicontohkan saja dulu dalam praktek itu bagaimana. Jadi nanti kita rumuskan, kalau melihat rumusannya tambah ruwet say a.

Terima kasih.

KETUA RAPAT :

Silakan PDI Perjuangan, mungkin sudah siap?

ANGGOTA F. PDIP (Drs. POLTAK SITORUS) :

Kami pikir juga demikian Pimpinan. Jadi memang penjelasan ini kami mengusulkan seperti ayat yang lalu, yang kita lakukan. Sehingga dengan demikian lebih mudah dipahami begitu.

Terima kasih.

ANGGOTA F.PG ( H. AZHAR MUCHLIS ) :

Pak Ketua, apa yang disampaikan Pak Poltak ini bel urn selesai. Malah tadi saya juga bingung, tak cari yang mana. Ketentuan sebagaimana yang dimaksud dalam Pasal 11. Kalau Pak Poltak yang tidak heres, ya syukur itu.

KETUA RAPAT:

Silakan dikomentari "Penjelasan DIM 52", penjelasannya. Apa lewat PPP dulu.

ANGGOTA F.PPP ( Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM) : Tidak ini kan us ulan PDIP, saya harap minta komentar dari Pemerintah.

Fraksi-fraksi belakangan ini belum bisa memahami ini.

KETUA RAPAT:

Ini "Batang Tubuh"-nya sudah Pak Nu'man. Sekarang ini kita hanya

"Penjelasan" saja, komentar penjelasannya.

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS ) :

Kalau begitu kami kemukakan Pak di sini. Kami memang menambahkan tam bah an kata-kata sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11, yakni yang mencakuo hal-hal termasuk antara lain juga bahwa tidak hanya pada nilai bersihnya, tetapi juga mermkup hal-hal yang mencantumkan ketentuan-ketentuan yang termasuk dalam setiap Surat Utang Negara tersebut.

ANGGOTA F.PG (H. AZHAR MUCHLIS ) ::

Kalau saya lihat di Pasal11 ini, Pak Poltak ingin menambahkan. Tetapi di Pasal 11 ini bunyinya "Setiap Surat Utang Negara mencantumkan sekurang-kurangnya". Pak Poltak ini ingin mencantumkan itu di DIM 52 dengan penambahan ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 11. Menurut saya Pak, kalau ini sudah dicantumkan di Pasal 11 selanjutnya optimis itu akan terjadi. Jadi kalau saya seperti yang dikonsepkan Pemerintah ini, perlu ditambahi lagi. Mungkin dalam konteks Penjelesannyalah yang baru akan kita bincangkan.

Terima kasih.

kekurangan Kas jangka pendek dan mengelola portofolio Surat Utang j Negara. Sedangkan pembelian kembali sebelum jatuh tempo adalah bagian dari kegiatan 1 pengelolaan portofolio Surat Utang Negara. Ketentuan ini memberikan fleksibilitas kepada Menteri untuk melakukan pengelolaan Surat Utang Negara yang sehat, yang memperhatikan kondisi fiskal dan kebutuhan pasar yang sangat dinamis.

Kami persilakan pertama dari PDI Perjuangan untuk mengomentari.

ANGGOTA F.PDIP ( Drs. POLTAK SITORUS ) :

Hal yang menyangkut Surat Utang Negara ini menurut hemat kami memang menerbitkan pada ayat-ayat sebelumnya kita sudah minta kepada kecermatan daripada Pemerintah di dalam merenchakan untuk penerbitan Surat Utang Negara ini. bleb karena itu kita menganggap memang di dalam rangka Hak budget DPR ini termasuk sebenarnya bukan hanya Surat Utang Negara dalam rangka perubahan ini. Tentunya kan, barangkali untuk yang kedepannya, yang akan datang kita harapkan sebenarnya dalam rangka perubahan APBN itu, kalau memang ada kecermatan kita. Mungkin hal-hal tertentu saja yang bisa memungkinkan terjadinya perubahan. Sehingga tidak terlalu longgar.

Oleh karena itu di dalam hubungan ini berdasarkan pemikiran dari PDIP bahwa memang Penerbitan Surat Utang Negara ini, yang dilakukan oleh Pemerintah pengelolaannya harus lebih mengandung asas kepastian di dalamnya. Karena itu kami mengusulkan agarterhadap Penerbitan Surat Utang Negara yang melebihi nilai bersih maksimal yang telah disetujui itu tidak memberikan kelonggaran. Karena nanti kan akhimya tidak ada kepastian nanti setiap waktu bisa muncul hal-hal yang permintaan-permintaan dan hanya dilaporkan dalam rangka perubahan APBN. Karena itu kami "usulkan butir 54 ini dihapus".

KETUA RAPAT:

Jadi memang Pak Poltak apa, memang sarannya dihapus pada DIM 54.

Tetapi sekarang ini kita pada "Penjelasan 52". Jadi satu halaman saja Pak terlewatkan. Jadi 54 belum, nanti Bapak sampai di sana memang dihapus DIM 54. Silakan yang lain dulu. Jadi yang dikomentari sekarang adalah "Penjetosan DIM 52". Saya teruskan Golkar.

KETUA RAPAT:

Oke, ditambahkan. "haras terlebih dahulu".

Oke ya? Baik. Ini ada catatan di kolom keterangan Pansus, Penjelasan ayat 7 Pasal 7 ayat ( 1) akan dibahas Pans us berkaitan dengan penggunaan kata "atas" dua kali. Tidak ada kaitannya ya.

PEMERINTAHIDIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ):

Kedua kata "atas". Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat atas penerbitan Surat Utang Negara mencakup persetujuan atas pembayaran itu.

ltu yang dimaksud.

KETUA RAPAT:

Mungkin ini ahli bahasa bisa komentar. Silakan. Kalau begitu Kum Dang PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ) : Diusulkan begini saja Pak. "Persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat terhadap Penerbitan Surat Utang Negara mencakup persetujuan atas pembayaran semua'.

KETUARAPAT

Oke, bagus diganti "terhadap".

Oke kita putus ini ya?

Setuju?

(RAPAT SETUJU) Terima kasih.

Kita lanjut ke DIM 52. Disetujui Pansus "tetap sesuai naskah RUU"

Setuju?

(RAPAT SETUJU)

Kemudian dalam penjelasan, nilai bersih adalah tambahan atas jumlah Surat Utang N egara yang beredar. Jumlah ini merupakan selisih antara jumlah Surat Utang Negara yang diterbitkan dengan yang ditarik kembali sebelum jatuh tempo dan dilunasi selama 1 tahun Anggaran. Jumlah Surat Utang Negara yang diterbitkan adalah dalam rangka pembiayan ; defisit, menutup

Ada komentar?

PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ):

Kalimat ini Pak Ketua apa tidak mengganggu pengertian, "penerbitan Surat Utang Negara harus mendapat persetujuan Dewan perwakilan Rakyat".

Artinya begini, bisa diartikan semacam begini kalimat ini, bahwa setiap Surat Utang, memang DPR dipenta kompli mesti menyetujui. Apakah begitu maksudnya? Coba rumusan seperti apa ya kira-kira, makanya kami bertanya sepertinya.

ANGGOTA F.PG ( H. AZHAR MUCHLIS ) :

Sebetulnya kita yang harus mendapat persetujuan dari DPR, bukan DPR yang harus memberi persetujuan. Terbalik itu Pak. Pemerintah yang harus mendapat persetujuan dulu. ltu tidak tahu apa ada keraguan kalimat ini.

PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ):

Oleh karena itu kalimatnya perlu diubah coba PakAzharya. Apa dimulai dengan Pemerintah meminta persetujuan DPR. Kalau dengan kalimat

"penerbitan Surat Utang Negara harus mendapat persetujuan", itu tekanannya seolah-olah bahwa setiap Surat Utang lembarannya harus disetujui.

ANGGOTA F.PG ( H. AZHAR MUCHLIS ) : Kalimatnya harus ditambah dengan "terlebih dahulu".

ANGGOTA F.PDIP (Drs. POLTAK SITORUS ) : Saya kira usul Pak Darmin itu bagus.

ANGGOTA FRAKSL ... ( ... ,):

Saya kira haras ada satu penegasan ya, mungkin usulan Pak Darmin malah memberikan arti yang diingin oleh PPP. Menurut saya begitu.

KETUA RAPAT:

Jadi ramusannya bagaimana?

ANGGOTA F.PDIP ( Drs. POLTAK SITORUS ) :

'Penerbitan Surat Utang Negara haras terlebih dahulu mendapat persetujuan Dewan perwakilan Rakyat":

KETUA RAPAT:

Baik, "Batang Tubuh" ini apakah bisa kita puturs.

Masih ada? Silakan.

ANGGOTA F.PG (H. AZHAR MUCHLIS) ::

Kami kiraFraksi Partai Golkar sejakawal tidakmemasalahkan. Karena memang memahami apa yang dimaksudkan Pemerintah, terutama yang ditanyakan oleh Fraksi PPP, temyata setelah saya cermati di Penjelasan dan dijelaskan Pak Darmin semakinjelas.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik, kalau begitu Batang Tubuhnya bisa kita putus ya?

Setuju?

(RAPAT SETUJU) Terima kasih.

Sekarang kita Ian jut ke "Penjelasan", "Pemerintah mengadakan konsultasi dengan Bank Indonesia pada saat merencanakan penerbitan Surat Utang Negara untuk 1 Tahun Anggaran. Konsultasi ini dimaksudkan untuk mengevaluasi implikasi moneter dari penerbitan Surat Utang Negara agar keselarasan antara kebijakan fiskal termasuk manjemen utang dan kebijakan moneter dapat tercapai. Pendapat Bank Indonesia terse but menjadi masukan di dalam mengambil keputusan oleh Pemerintah agar penerbitan Surat Utang Negara dimaksud dapat dilakukan tepat waktu dan dilakukan dengan persyaratan yang dapat diterima pasar serta menguntungkan Pemerintah".

Bisa ini kita putus?

Setuju?

Terima kasih.

(RAPAT SETUJU)

Kita lanjut ke DIM 51. Disetujui Pansus "tetap sesuai naskah". Masuk penjelasan, persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat atas penerbitan Surat Utang Negara mencakup persetujuan atas pembayaran semua kewajiban pokok dan bunga yang timbul sebagai akibat penerbitan Surat Utang Negara.

utang dengan kebijakan moneter dapat tercapai. Pendapat Bank Indonesia tersebut menjadi masukan di dalam pengambilan keputusan oleh Pemerintah agar penerbitan Surat Utang Negara yang dimaksud dapat dilakukan tepat waktu dan dilakukan dengan persyaratan. Persyaratan itu menyangkut bunga, menyangkut jatuh tempo. Itu pada dasamya persyaratan utama yang dapat diterima pasar serta menguntungkan Pemerintah. Maksudnya dua-duanya perlu ditimbangjangan sampai kondisi pasaryang ada diamil keputusan persayaratan di bandingkan dengan kondisi pasar sebenamya merugikan Pemerintah, tetapi jangan pula mengabaikan kehendak pasar, nanti dia tidak ingin membeli susah.

Kira-kira demikian Pak.

KETUA RAPAT:

Kemudian dari PPP minta penjelasan bentuk-bentuk konsultasi.

PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ):

Sebetulnya inilah bentuk konsultasi itu. J adi biasanya pad a waktu, ini sekali setahun nantinya. Kita akan menyampaikan ke Bank Indonesia inilah rencana Pemerintah mengeluarkan Surat Utang, yang sebelum kita datang ke DPR ini Pak, kita tunjukkan semua kapan, jumlah berapa, bunganya berapa?

Jatuh temponya kapan? Itu semua dimasukkan di situ. Kita sampaikan ke BI, kita kemudian berdiskusi dengan Bl. Mereka tentu harus punya waktu untuk diskusi itu, karena dia akan menghitung dampak monetemya. Nanti setelah kita diskusi itu, dianggap lah ini sudah bisa selaras ini fiskalnya tidak menyusahkan moneter, moneternya tidak menyusahkan fiskalnya. Kalau dia sudah sepakat, baru kita maju ke DPR dalam RA.PBN Pak.

KETUA RAPAT:

Baik, PPP cukup puas?

ANGGOTA F.PPP ( Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM ) : Saya kira cukup, yang saya maksud memang pertanyaan itu Pak Darmin.

Konsultasi itu jangan ada pengertian sama dengan persetujuan itu. Karena prosesnya kan sebelum ke DPR ke BI. Kalau bentuk konsultasi ini adalah kalimat meminta izin pengertiannya, DPR berkeberatan. Tetapi kalau pengertian yang sebenamya Pak Darmin dalam rangka menyeleraskan kebijakan moneter dan fiskal, saya kira Fraksi kami bisa memahami.

ANGGOTA FRAKSI ... ( ... ):

Khusus Pak Wahdi. Jadi saya tidak mana yang benar. Seingat saya kalau kita bicara pasal itu "dalam" atau "pada". Kalau ayat "dalam" atau

"pada". Kita sesuaikan sajalah.

KETUA RAPAT:

Kalau setahu saya pada pasal itu "dalam", pada ayat itu "pada". Itu yang setahu saya. Nanti kita sesuaikan.

Sebelum kami habiskan dulu termen rekomendasi ini. Kami lanjutkan Reformasi. Silakan.

ANGQOTA F.REFORMASI (H.SYAMSUL BALDA,S.E, MBA, M.M, MSc):

Jadi sebenamya usul Fraksi Reformasi sama dengan draft yang di Pasal 6 itu. Hanya Reformasi menambahkan "Penjelasan" saja, bukan di Batang Tubuh Pasal tersebut. Tetapi penjelasan ini ditambahkan, sebagaimana tercantum. Supaya terjadi koordinasi dalam penerbitan Surat Utang Negara, karena hanya untuk memperjelas. Tetapi di sini Pemerintah sudah memberikan Penjelasan cukup jelas di kolom yang paling kanan tersebut. Sehingga Reformasi tetap sesuai dengan draft yang ada.

Terima kasih.

KETUA RAPAT:

Baik, jadi ini hanya PPP minta "Penjelasan", PDU nanti disesuaikan, Reformasi minta Penjelasan.

Silakan Pemerintah.

PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ):

Penjelasannya, maksudnya ada penjelasan untuk pasal dan ayat ini kan.

Sebetulnya kan bisa kita diskusikan saya kira penjelasan yang sudah ada, yaitu Pemerintah mengadakan konsultasi dengan Bank Indonesia pada saat merencanakan penerbitan Surat Utang Negara untuk 1 Tahun Anggaran.

Konsultasi ini dimaksudkan untuk mengevaluasi implikasi moneter dari Penerbitan Surat Utang Negara agar jangan nanti karena langkah Pemerintah menerbitkan Surat Utang Negara malah membuat persoalan di bidang monetemya. Agar keselerasan antara kebijakan fiskal termasuk manajemen

(RAPAT SETUJU) Terima kasih

DIM 50, disetujui untuk dibahas lebih lanjut dalam Panja. Ada usulan dari PPP, PKB, Reformasi, PDU.

Saya beri kesempatan kepada PPP.

Silakan.

ANGGOTA F.PPP ( Drs. H. HU'MAN ABDUL HAKIM ) : PPP tidak usul Pak, hanya minta penjelasan saja untuk konsultasi. Karena konsultasi itu bisa mengandung kalimat hukurnnya itu adalah disetujui dan tidak disetujui. Karena itu tidak ada rumusan yang penting bagi kami ada penjelasan yang lebihjelas.

KETUA RAPAT:

Baik, selanjutnya silakan KB.

ANGGOTA F.KB ( H. M. MUKHTAR NOERJAYA, M.Si ) : Saya kira PKB hanya "perubahan pasal" saja.

KETUA RAPAT:

Perubahan pasal. Silakan Reformasi Kami mulai dulu PDU.

ANGGOTA F. PDU (Drs. ABDULLAH AL WAHDI):

Kalau kami mengusulkan pengertian kata "dalam" itu diganti dengan

"pada". Karena ini pad a waktu pembahasan RUU Keuangan juga, kita sering berbicara mengenai masalah ini. Oldeh karena itu kita sesuaikan bahwa "dalam"

ini diganti dengan "pada". Seperti, lengkapnya begini, Pasal 6 "Dalam hal Pemerintah akan menerbitkan Surat Utang Negara untuk tujuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4, Menteri terlebih dahulu berkonsultasi dengan Bank Indonesia". Jadi yang dimaksud "pada" bukan "dalam" artinya "pada" ini. Ini yang kita sering perdebat di dalam RUU Keuangan dan pada dasarnya semua

"dalam" diganti "pada". Oleh karena itu kita sesuaikan. Demikian itu, terima kasih.

KETUA RAPAT:

Selanjutnya sebelum Reformasi, silakan.

berdasarkan praktek-praktek umum diberbagai negara tadi itu dibuat kalimat bam "management portofolio yang dimaksud meliputi".

Dalam dokumen RISILAH RAPAT PANJA KOMISI IX DPR RI (Halaman 36-46)

Dokumen terkait