Terima kasih Bapak Pimpinan.
Jadi kalau tadi dicoba, sebetulnya diambil dari yang lama juga, hanya diubah strukturnya.
Jadi dimulai dengan begini Pak, bunyinya: "Surat Utang Negara merupakan salah sa sumber pembiayaan dalam negeri". Jika suatu saatAPBN mengalami defisit, maka salah sal sumber pembiayaan adalah penerbitan Surat Utang Negara. Pilihan atas Surat Utang Negai sebagai sumber dari berbagai sumber pembiayaan lainnya, harus didasarkan atas perhitunga yang cermat yang dapat meminimalkan biaya utang pada anggaran negara". Kemudian kit lanjutkan ditutup dengan: "Kemampuan Pemerintah untuk memperoleh pembiayaan dai penerbitan Surat Utang Negara dapat menurunkan ketergantungan pada pinjaman luar neger sebagaimana diamanatkan oleh GBHN".
Ini sementara Pak Pimpinan, hanya untuk membalik saj a, spiritnya adalah tadi yang saya tangkap,jangan sampai laluAPBN ini menjadi tujuannya begitu.
Saya kira demikian.
KETUA RAPAT :
Oke, saya rasa kalau menurut saya ini lebih bagus. Apa hi sa kita setujui?
lya, silakan.
ANGGOTA F. PG (DRS. T.M. NURLIF):
Ini hanya untuk pertimbangan saja Pak.
Dengan perubahan Undang-Undang Dasar 1945 sekarang dan nanti Pemilihan Presiden itu tidak lagi dilakukan oleh MPR, sangat mungkin pola GBHN yang ada sekarang itu akan berbeda. Nah kalau sekarang kita mengacu kepada GBHN, artinya ketergantungan kepada pinjaman luar negeri itu karena ada dalam GBHN. Nah saya khawatir kalau itu nanti menjadi program masing-masing Presiden sebagai pengganti GBHN dalam kerangka Pemilihan Presiden langsung, apakah alasan ini, argumentasi ini masih relevan untuk itu. ltu yang pertama.
Yang kedua, kalau di sini kan kita mengkaitkan dengan point a, artinya yang kita bahas di sini adalah dalam rangka menutup defisit APBN, makanya ada penjelasan tentang salah satu sum her dalam rangka untuk menutup defisit APBN, salah satu sumbernya adalah Surat Utang Negara.
Oleh karena itu, saya pikir tidak perlu dikaitkan dengan yang lain, kaitannya hanya di APBN saja dulu. Jadi tidak seperti di bawah itu kan untuk kepentingan-kepentingan lainnya dapat digunakan Surat Utang Negara. Kira-kira itu pengertiannya.
Nah kalau saya lebih cenderung karena kita bicara point a_ dalam rangka menutup defisit APBN. Itu yang pertama.
Yang kedua, mungkin relevansi untuk beberapa tahun yang akan datang Undang-undang ini berlaku, kalau GBHN itu tidak lagi menjadi pedoman kita dengan sistem Pemilihan Presiden langsung mungkin perlu kita pertimbangkan itu.
Itu Pak Anggito. Terima kasih.
KETUA RAPAT : Terima kasih.
Dari dua alternatif itu saya menangkap, bahwasanya yang pertama mungkin kita "dititik" dari "pinjaman luar negeri itu saja". Sebagaimana diamanatkan oleh APBN itu kita "hilangkan". Itu tawarannya.
Kemudian kalau dihadapkan dua alternatif ini, kalau Pak Nurlifkatakan tadi, judul pokoknya itu "pemberian defisit Anggaran APBN". Baru pelengkapnya itu yang subjeknya itu bam predikatnya itu Surat Utang Negara.
Sehingga rumusan yang pertama kelihatannya akan lebih bagus daripada rumusan yang kedua, dengan menghilangkan sebagaimana diamanatkan oleh GBHN. Jadi cukup pinjaman luar negeri saja.
Ya, silakan.
ANGGOTA F. PPP (DRS. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):
Sebentar Ketua.
Saya kira bukan berarti usulan yang pertama lebih bagus yang kedua.
Yang tadi saya tangkap dari Pak Nurlif, pertama adalah kata-kata "GBHN", itu tidak relevan lagi ke depan, itu yang harus dicabut. Itu satu ya.
Yang kedua, justru tadi Pak Anggito menangkap spirit dari rekan-rekan di sini bahwajangan sampai point a ini menjadi tujuan. Karena itu maka, ada kata "jika". Jadi "JikaAPBN mengalami defisit, maka diterbitkanlah", ini saya kira untuk mengunci, saya kira sudah bagus kalimat ini. Pertama menonjolkan bahwa Surat Utang Negara itu dalam rangka untuk defisit, tetapi dengan persyaratan "jika", itu begitu. Saya kira sudah bagus ini.
Yang penting dari Pak Nurlif tadi itu, GBHN itu saya kira betul harus dibuang itu.
Terima kasih.
KETUA RAPAT :
Oke, bagaimana kita ''titik" pada altematifkedua ini, ''titik" pada "pinjaman luar negeri", "sebagaimana yang diamanatkan oleh GBHN" itu kita "hapus".
Bisa setuju? Jadi yang dipilih ini. Kemudian "sebagaimana diamanatkan oleh GBHN" itu dihapus.
ANGGOTA F. PDU (DRS. H. ABDULLAH AL WAHDI):
Yang dipilih yang mana Saudara Ketua, yang bawah atau yang atas.
KETUA RAPAT :
Yang di bawah dipilih, terns "sebagaimana yang diamanatkan oleh GBHN"
itu dihapus. Jadi cukup "titik".
Begitu ya Pak Nu'man ya. Bagaimana Pak Nurlif.
ANGGOTA F. PG (DRS. T.M. NURLIF):
Kalaupun GBHN-nya tidak dihapus, kalaupun mau ditambah Pak: "dan atau kebijakan lainnya yang berlaku mungkin".
KETUA RAPAT :
Silakan. A Jangan ya. lya, silakan. Bagaimana Pak Nurlif.
ANGGOTA F. PG (DRS. T.M. NURLIF):
lya, itu memang problem-nya. Sebelum Pemilihan Presiden secara langsung kan GBHN masih berlaku.
KETUA RAPAT :
Untuk tambahan informasi, sebetulnya yang mengamanatkan tidak GBHN saja, tetapi beberapa TAP juga mengamanatkan begitu. Dengan rumusan lain bahwasanya pinjaman luar negeri itu sebagai pelengkap. ltu ada dalam TAP yang lain.
Nah sekarang bagaimana kita meramunya, jadi ternyata tidak hanya GBHN saja satu alternatif, yang kedua GBHN itu masih berlaku, yang ketiga kalau kita "dititik" di situ apa konsekuensi logisnya begitu.
INTERUPSI:
ANGGOTA F. PPP (DRS. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):
Ada, ada Ketua. Saya tambahkan.
KETUA RAPAT : Siapadulu?
ANGGOTA F. PPP (DRS. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):
Saya dulu sebentar.
KETUA RAPAT : Pak Nu'man silakan.
ANGGOTA F. PPP (DRS. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):
Tadi us ulan Pak N urlif sudah bagus ini kita pegang, sekarang problem-nya 2 tahi masih berlaku. Saya kira kita puproblem-nya Pasal Peralihan yang mengakomodasi pertama a bahwa Surat Utang yang diterbitkan sebelum Undang-undang ini kita akomodasikan sel Surat Utang Negara, itu di urutan Peralihan ya Pak Darmin.
Yang kedua kita masukkan, 2 tahun ini walaupun tidak ada kata GBHN, itu juga akomodasikan di Aturan Peralihan maksudnya. Jadi persoalan-persoalan yang kira-kira problem selama 2 tahun ini, kita masukkan di Aturan Peralihan, tidak di sini.
Jadi kira-kira kalau pikiran saya mengenai GBHN yang berlaku 2 tahun ini, masukkan di Aturan Peralihan.
Itu saja.
KETUA RAPAT :
Jadi bunyinya bagaimana kongkritnya dalam rumusan ini. Jadi tetap GBHN dimunculkan lagi. Jadi GBHN dimunculkan kembali. Baik, silakan.
ANGGOTA F. PG (H. AZHAR MUCHLIS):
Teri1na kasih.
Kalau kita berbicara tentang "Penjelasan", kita tidak perlu menyangkutkan TAP MPR GBHN di dalam hal ini. Kita ini hanya menjelaskan satu pasal, amanatnya ya Undang-undang ini. Jadijangan terbalik-balik menurut saya.
Jadi tidak perlu itu karena apa, karena GBHN itu mengamanatkan Surat Utang Negara. nah kita buat ini Pak, sudah. Jadi tidak perlu di dalam satu pasal ayat ini kitajelaskan lagi itu tentang GBHN, TAP MPR, satu saat itu bisa muspro, satu saat itu ya berlaku padajangka pendek. Makanya itu baik TAP MPR dan GBHN itu terlalu panjangpenjelasannya, semakin menyulitkan menurut saya.
"Surat Utang Negara merupakan salah satu sumber pembiayaan dalam negeri. Jika suatu saatAPBN mengalami defisit", ini kan niat kita tadi. Maka salah satu pembiayaan adalah penerbitan Surat Utang Negara. Pilihan atas Surat Utang Negara sebagai sumber dari berbagai sumber pembiayaan lainnya hams didasarkan atas perhitungan yang cermat dan dapat meminimal biaya utang pada Anggaran Negara". Kemampuan dan lain-lain tidak perlu itu.
KETUA RAPAT : Titik-titik saja ya.
Itu lebih bagus.
ANGGOTA F. PPP (DRS. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):
Saya kira bagus sampai ke tingkat itu sudah cukup.
KETUA RAPAT : Itu, itu ya.
lya, terakhir Pemerintah.
PEMERINTAH (ANGGITO ABIMANYU):
Saya kira Pemerintah "sepakat" kal i ini dengan Pak Azhar Muchlis.
KETUA RAPAT : Baik, terima kasih.
Jadi "kemampuan Pemerintah" itu "dihapus", kita memilih rumusan itu, to long yai lain dihapus.
Oke ya, baik kita ketuk. Setuju?
( RAPAT SETUJU )
Sekarang kita lanjut ke DIM yang berikutnya adalah DIM 42.
"Disetujui untuk dibahas lebih Ian jut dalam Panja".
Usul dari PDIP, "dihapus".
Usul Golkar, b menjadi a.
Usul PPP, hurufb "diubah" dan seterusnya.
ANGGOTA F. PPP (DRS. H. NU'MAN ABDUL HAKIM):
Saya kira Ketua, tadi sudah selesai. Tujuan ini a, b, c, sudah selesai, sekarang tinggal Penjelasan saja yang kita bahas.
KETUA RAPAT :
Baik, kita lanjut ke Penjelasan.
"Di dalam pelaksanaan APBN, INTERUPSI:
ANGGOTA F. PG (H. AZHAR MUCHLIS):
Sebentar Pak Ketua.
A, b, c, itu sudah oke, tetapi kami hanya minta tadi loh.
Jadi itu saja saya minta.
KETUA RAPAT : Oke.
Sekarang kita Penjelasan b.
"Di dalam pelaksanaan APBN, pada suatu saat tertentu dapat terjadi jumlah Kas Negara yang tersedia tidak mencukupi untuk membayar berbagai kegiatan yang telah ditetapkan. Hal ini terjadi sebagai akibat penerimaan Kas Negara melampaui waktu yang telah ditargetkan atau sering disebut dengan istilah cash missmatch Agar pelaksanaan pembangunan dan pelayanan masyarakat tidak mengalami hambatan, maka penerbitan Surat Utang Negara berjangka pendek dapat menalang kekurangan kas tersebut".
Tentu saya gilir lagi.
Silakan pertama PDI Perjuangan.
ANGGOTA F. PDIP (DRS. POLTAK SITORUS):
Pimpinan, terima kasih.
Di dalam "Penjelasan" ini, ini yang kita barangkali minta keterangan Pemerintah, oleh karena kami tadinya mengusulkan penghapusan dengan pernaharnan karni pada usulan DIM tersebut adalah barangkali upaya-upaya yang dilakukan oleh Pernerintah dengan melakukan penghernatan.
Oleh karena itu Pirnpinan, pada Penjelasan ini, apakah tidak diperjelas apa pengertian pada suatu saat tertentu tersebut. Sehingga dengan dernikian ada koridor yang bisa untuk rnernaharni ketentuan apa nantinya terjadinya kekurangan Kas jangka pendek tersebut.
, Jadi sehingga dengan pada suatu saat tertentu tersebut, tidak dijadikan suatu kernungkinan-kernungkinan yang rnernbuka untuk penerbitannya Surat Utang Negara.
J adi itu barangkali rnungkin kami rnengusulkan, rnungkin dari Pemerintah nanti untuk menjelaskan dan bisa rnernpertajam itu.
Terirna kasih.
KETUA RAPAT : Karni teruskan, Golkar.
ANGGOTA F. PG (H. AZHAR MUCHLIS):
Menurut saya ini hanya bagaimana mengakomodir a tau membuat kalimat yang lebih berurut sajalah. Misalnya sekali lagi tadi kita tidak fokuskan pembiayaan padaAPBN, walaupun itu rnemang kenyataan yang harus diikuti, karena kalau tidak, Surat Utang Negara ya utang ke luar kan begitu.
Coba kita dengan sama-sama.
"Pada suatu saat tertentu, dapat terjadijumlah Kas Negara yang tersedia tidak mencukupi untuk membiayai berbagai kegiatan yang telah ditetapkan.
Hal ini terjadi sebagai akibat penerimaan Kas Negara rnelampaui waktu yang telah ditargetkan atau sering disebut dengan istilah "cash miss match". Agar pelaksanaan petnbangunan dan pelayanan masyarakat tidak mengalami
tambatan, maka penerbitan Surat Utang Negara berjangka pendek dapat nenalangi kekurangan Kas terse but".
Jadi kalau yang baris pertama sanipai ke empat itu eke, setelah nenyangkut "agar pelaksanaan pembangunan dan pelayanan masyarakat tidak nengalami hambatan, maka penerbitan Surat Utang Negara berjangka pendek lap at menalangi kekurangan Kas terse but". Padahal di atas, di dalam
>elaksanaan ABPN, pembangunan dan pelayanan ini kan salah satu bagian :aja.
Oleh karena itu, tinggal mengurutkan. Menurut saya, dari "di dalam
>elaksanaan APBN" ini "dihapus", "pada suatu saat tertentu dapat terjadi umlah Kas, karena keterangannya ada kekurangan Kas di sini". "Jika", nungkin bukan "pada" ya. "Jika suatu saat tertentu dapat terjadijumlah Kas
~egara yang tersedia tidak mencukupi untuk membiayai berbagai kegiatan rang telah ditetapkan. Hal ini terjadi sebagai akibat penerimaan Kas Negara nelampaui waktu yang telah ditargetkan atau sering disebut dengan istilah
;cash missmatch ". lni penjelasan yang hal ini kan hanya sekedar menjelaskan, alu ini akan timbul pertanyaan, apa sib istilah "cash missmatch" itu masih liperlukan di dalam penjelasan ini, atau malah tidak kita malah tanya kern bali.
>adahal niat kita di dalam Pasal dan ayat bini adalah memberikan kejelasan.
Oleh karena itu, saya kira tidak perlu kita terangkan lagi, hal ini terjadi :ebagai akibat penerimaan Kas. Nab itu kan kita sudah tabu pada saat tertentu tu sudah akan terjadi semacam itu pikiran kita. Jadi tidak perlu ditegaskan agi di sini.
Selanjutnya, "kepentingan itu digunakan untuk", yang di sini, "penerimaan lan pengeluaran ini", supaya ada keseimbangan, maka diperlukan "penerbitan
;urat Utang Negara berjangka pendek dapat menangani kekurangan kas-kas ersebut".
Menurut saya demikian. Terima kasih.
ANGGOTA F.PPP ( Drs. H. HU'MAN ABDUL HAKIM ) : Penjelasan ini atau dimulai dengan tujuan yang b ini. Sebetulnya kita ngin member! ruang kepada kemungkinan terjadinya ketidakseimbangan antara
>enerimaan dan pengeluaran. PNB sebetulnya kita ingin memberi ruang kalau
;eandainya terjadi kemungkinan ketidakseimbangan antara Kas, penerimaan lan pengeluaran.
Saya ingin bertanya saja soal aplikasi di lapangan. Waktu Penerbitan Surat Utang Negara itu kan Pemerintah meminta persetujuan DPR dan itu di Pasal belakang sudah kita sebut bersamaan dengan APBN kalau tidak salah.
Ini kerjanya kapan, kan di tengahjalan, setelah APBN ditetapkan.ltu proses pesertujuan, seperti apa ini.
Kira-kira itu saja dulu. Saya mohon ya Pak Ketua sebelum ada rumusan penjelasan, mohon penjelasaan dari Pemerintah.
KETUA RAPAT:
Baik, selanjutnya PKB.
ANGGOTA ( H. ARIS AZHARI SIAGIAN, S. H ):
PKB ini tidak mau komentar lagi daripada mempersulit ini kan.
KETUA RAPAT:
Silakan PDU.
ANGGOTA FPDU ( Drs. H. ABDULLAH AL WAHDI ) : Dari "substansi" ayat b, kami dapat menangkap bahwa hal ini terjadi adanya ketidakserasian antara arus Kas dan penerimaan, pengertian kami begitu menangkap. Hanya di dalam "Penjelasan" ini justru menimbulkan ketidakjelasan.
Oleh karena itu apakah tidak bisa di dalam bahasanya yang lebih simple, untuk menjelaskan mengenai masalah alustrasi ini. Yang pertama di dalam pelaksanaan APBN pada suatu saat tertentu, terjadi jumlah kas negara yang tersedia tidak mencukupi untuk membiayai berbagai kegiatan yang ditetapkan.
Karena hal ini terjadi sebagai akibat penerimaan kas negara melampui waktu yang telah ditetapkan, ditargetkan atau sering disebut dengan istilah cash missmatch. Agar pelaksanaan pengeluaran dan pelaksanaan masalah tidak mengalami hambatan pada penyelesaian Surat Utang Negarajangka pendek dapat menalangi kekurangan tersebut.
Oleh karena itu di dalam bahasa ini terlalu panjang ini Pak, menimbulkan suatu ketidakjelasan. Sebenamya sudahjelas, pengertiannya sudahjelas. Jadi tolong hanya kami usulkan bahwa bahasa ini diperbaiki dengan kata-kata yang agak sederhana dan simple, sehingga jelas sasarannya.
Terima kasih Saudara Ketua.
KETUA RAPAT:
Kami kembalikan Pemerintah
PEMERINTAH/JAJARAN DEPKEU ( ANGGITO ABIMANYU ):
Pak Pimpinan saya kira sebetulnya dengan membaca point b ini, sebenarnya sudah cukup jelas, sebetulnya kalau kita baca cermat. Sebetulnya kalau mau kita cermati betul kalimat ini, tidak ada keraguan-keraguan lagi.
KETUA RAPAT:
Silakan Pak Darmin mau mmabahkan. Tadi pertanyaan Pak AI Wahdi mengenai cash missmatch seperti apa?
PEMERINTAH/DIRJEN LK ( DARMIN NASUTION ):
Mohon maafBapak-bapak yang terhormat. Jadi inilah sebetulnya di masa lalu pada waktu kita masih bisa, APBN bisa menerima kredit dari Bank Indonesi. Maka pintu kalau terjadi kekurangan Kas karena terlambat penerimaan, bukan karena misalnya harga minyak turun tidak tercapai penerimaan. Itu cerita lain itu Pak. Ini benar-benar ada ini penerimaannya, hanya mestinya perkiraannya masuk bulan September, tidak masuk dia. Ada inyiangnya, ya bukan karena harga minyak turun. Itu lain cerita Pak, tidak bisa ditutup,pakai ini.-jadi kalau di masa lalu kita akan minta kredit ke BI, sekarang kan tidak boleh lagi. irilah dia pintu katupnya ini, pengamannya. Di berbagai negara memang inilah katup pengamannya dan begini. Pada saat penerimaannya yang terlambat itu masuk, inilah uangnya untuk memberi kern bali Surat Utangjangka pendek yang dikeluarkan itu.
Sehingga memang tidak pasti pada Tahun anggaran itu bisa saja meleset beberapa minggu ke depan melewati itu, karena Desembernya juga belum masuk, masuknya Januari. Dia kemudian ditutup pakai dana itu. Nah barangkali yang agak membuat rancu memang tiba-tiba muncul kata-kata "pelaksanaan pembangunan dan pelayanan". Saya mengusulkan kita rubah begini, "agar kegiatan-kegiatan yang telah ditetapkan di dalam APBN tidak mengalami hambatan". Jadi konkret dia, agar kegiatanya itu tidakyang sudah ditetapkan dalam APBN loh Pak, tidak mengalami hambatan. Jadi dibuang itu
"pembangunan dan pelayanan masyarakat", memang me lam bung tinggi dia tiba-tiba. Tidak mengalami hambatan, maka Penerbitan Surat Utang Negara padajangka pendek dapat menalangi kekurangan Kas tersebut. Mungkin perlu ditambah satu kalimat lagi, yang mengatakan "apabila
penerimaan yang direncanakan terse but tetfealisir, maka dananya digunakan untuk menembus kern bali Surat Utang yang dikeluarkan".
KETUA RAPAT:
Terima kasih.
Kelihatannya tolong dipisah yang rumusan yang terakhir dari Pak Darmin.
Jadi dimulai dari "agar" tadi. "Agar kegiatan yang sudah ditetapkan APBN menerima, mengalami hambatan maka penerbitan dan seterusnya".
Itu kalimatnya. (rekaman terputus) ... mungkin pada ditambah sisi lain mungkin ya, untuk nyambung dia
kepada apabila kalimat kedua itu.
ltu saja ya.
Bagaimana Pak Willi em?
Dapat digunakan untuk "dapat digunakan untuk menutup kekurangan Kas tersebut"
"Dapaf'nya dihilangkan saja. "Dapatnya digunakan dalam jangka pendek", "dapatnya" itu hap us.
Ya silakan
ANGGOTA F.PDIP ( Drs. POLTAK SITORUS ) :
Ada pertanyaan Pimpinan ini. Itu yangkami kemukakan tadi pada saat tertentu. Termasuk juga di dalam rangka perubahan ini. kalau kita lihat dari Penjelasan pertama, maka ini dimungkinkan kepada pelaksanaanAPBN yang menyangkut Anggaran Rutin maupun Anggaran Pembangunan. Kalau kita lihat dalam Anggaran semula ada pelaksanaan pembangunan dan pelayanan masyarakat tidak mengalami hambatan. Memang kita mengetahui Pak di dalam pelaksanaan APBN sering kali terjadi.
Oleh karena terjadi cash missmate dalam pelaksanaan Anggaran, sehingga dengan demikian keluar ketentuan dilakukan penangguhan berbagai kegiatan dan proyek. Masalahnya yang pertanyaan kita adalah kepada Pak Darn1in,di situ disebutkan kegiatan-kegiatan. Kalau kegiatan-kegiatan itu pengertiaannya dalam APBN kita adalah Rutin. Sehingga dengan demikian
kalau hal itu rasional, misalnya DPR perlu membentuk Pansus lebih dulu misalnya untuk pendalaman, temyata tidak pas maka tidak bisa tetapi kalau hal itu rasional semua orang saya rasa semua orang bisa menyetujui. Sehingga seperti yang diusulkan dalam DIM 54 ini saya rasa tidak perlu dicantumkan karena sudah di dahului dengan DIM 51 ini.
Sekian terima kasih.
PEMERINTAH/DIRJEN LK (DR. DARMIN NASUITON) : Bapak Ketua,
Sebenanrya sistem berpikimya begini Pak, ini adalah rangkaian Pasal 7 ini, ( 1 ), (2), (3 ). ( 4 ). Kalau mau dibaca ini dalam satu kalimat, dipaksakan menjadi satu pasal tanpa ayat-ayat, ini bunyinya sebetulnya begini "Penerbitan surat utang negara harus mendapat persetujuan Dewan Perwakilan Rakyat, dimana persetujuan itu berupa nilai bersih surat utang negara yang akan diterbitkan dan persetujuan DPR itu diberikan pada waktu pengesahan APBN kecuali kalau terjadi hal begini", itu maksudnya. Ini betul-betul suatu pengecualian yang tidak bisa dipredik, bagaimana kita diharapkan mengajukannya pada waktu APBN. Padahal ini khusus untuk hal-hal yang tidak bisa dipredik dan yang tidak di prediknya kita sebutkan Pak. Ini dikunci betul ini, tidak bisa keluar dari dua contoh ini. Ini kita tidak maksud "antara lain", bukan, "terbatas pada hal-hal sebagai berikut". Itu di penjelasannya kita batasi betul, tidak boleh keluar dari sini, cash miss match begitu, terjadi begitu.
Begitu Pak.
ANGGOTA F. PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM) : PakAzhar rumusannya sudah setuju, soalnya saya usulnya dihapus, Pak.
Jadi memang persis, kalau di hukum fiqih bakari, Pak Darmin saya contohkan ya, puasa itu waj ib kecuali kalau lupa atau orang sakit, bisa. Ini juga sama, jadi bahwa yang namanya surat utang itu mau tidak mau terlebih dahulu mesti ke DPR dulu tetapi Pak Darmin.
"Dalam hal tertentu" persetujuan itu di belakang sebetulnya. Yang
"tertentu" ini yang harus kita jelaskan Pak, sebab kalau tidak artinya Pak, tidak ada artinya yang tadi itu.
Inilah yang barangkali Pernerintah harus jelaskan. Kalau pasal ini rnau dicanturnkan yang disebut, "dalarn hal-hal tertentu", itu apa ? Sehingga Pernerintah tidak terlalu longgar rnengartikan ini Pak Ketua.
KETUA RAPAT :
Ya, tetapi dalarn penjelasan itu tidak ada Pak Nu'rnan.
ANGGOTA F. PPP (Drs. H. NU'MAN ABDUL HAKIM) : Tidakjelas itu penjelasannya coba, "Yang dirnaksud dalarn hal-hal tertentu adalah termasuk, tetapi tidak terbatas kepada", tidak jelas juga itu penjelasannya.
ANGGOTA F - PG (H. ANGGOTA F. PG (H. AZHAR MUCHLIS):
Terirna kasih Ketua,
Mernang Pernerintah rnencoba rnenyakinkan kita bahwa ada hal-hal tertentu, tetapi sebenamya kan sudah bisa diprediksi sedemikian rapa sejak dia rnengajukan apa yang diinginkan sejak Perencanaan APBN itu sendiri.
Kalau di dalam perubahan itu, ini kami lihat F. PDI Pin gin hap us, F. PPP ingin rnenghapus. Karni hanya ingin itu tetap dibicarakan dulu dalam Perubahan.
Kalau ternan-ternan F. PDI P dan F. PPP rnau, itu sudah maju rnenurut kami.
Artinya belum rnaju malah hapus terus, tetapi Pak Kono juga mau tadi, ya rnasih separuh-paruhlah. Padahal ada bulan tertentu itukan kita bicarakan Perubahan Pak, ya di saat itulah mestinya dia harus mengajukan. Kalau toh
Artinya belum rnaju malah hapus terus, tetapi Pak Kono juga mau tadi, ya rnasih separuh-paruhlah. Padahal ada bulan tertentu itukan kita bicarakan Perubahan Pak, ya di saat itulah mestinya dia harus mengajukan. Kalau toh