Sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan tumbuh 6,86% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya yang sebesar 8,32% (yoy). Perlambatan ini disebabkan karena melambatnya pertumbuhan seluruh subsektor yang ada, kecuali subsektor sewa bangunan.
Gambar 1.25
Perkembangan PDRB Riil Sektor Keuangan, Persewaan dan Jasa Perusahaan
Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah
Subsektor bank tumbuh 8,58% (yoy), dimana pada triwulan sebelumnya pertumbuhan yang terjadi adalah 13,73% (yoy). Subsektor lembaga keuangan tanpa bank tumbuh 7,15% (yoy), dimana pada triwulan III-2010 sektor ini tumbuh 11,08% (yoy). Subsektor sewa bangunan sedikit mengalami peningkatan kinerja, dari 6,31% (yoy) pada triwulan III-2010 menjadi 6,39% (yoy) pada triwulan IV-2010. Adapun subsektor jasa perusahaan tumbuh 4,67% (yoy), dimana pertumbuhannya pada triwulan III-2010 adalah 6,21% (yoy).
I. Jasa-jasa
Sektor jasa-jasa tumbuh 7,36% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan pada triwulan III-2010 yang tercatat sebesar 8,33%
0 5 10 15 20 25 30 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14% 16%
I II III IV I II III IV I II III IV 2008 2009 2010
Keuangan, Persewaan & Js. Prsh. (Milyar Rp) Pertumbuhan (yoy)
Kinerja sektor jasa-jasa melambat…
(yoy). Perlambatan ini disebabkan karena melambatnya jasa pemerintahan umum maupun jasa swasta.
Gambar 1.26
Perkembangan PDRB Riil Sektor Jasa-jasa
Sumber: BPS Provinsi Maluku Utara, diolah
Jasa pemerintahan umum tumbuh 8,72% (yoy), dimana pada triwulan sebelumnya pertumbuhan yang terjadi adalah 9,85% (yoy). Jasa swasta tumbuh 3,56% (yoy), dimana pertumbuhannya pada triwulan III-2010 adalah 4,18% (yoy). Perlambatan pertumbuhan pada jasa swasta disebabkan karena melambatnya kinerja jasa sosial kemasyarakatan, hiburan dan rekreasi, serta perorangan dan rumah tangga. 0 10 20 30 40 50 60 70 0% 2% 4% 6% 8% 10% 12% 14%
I II III IV I II III IV I II III IV 2008 2009 2010 Jasa‐jasa (Milyar Rp)
24 Gambaran Umum
Secara Geografis wilayah Halmahera Timur berbatasan di sebelah utara dengan wilayah Kabupaten Halmahera Utara dan Teluk Kao, di sebelah selatan dengan wilayah Kabupaten Halmahera Tengah (Kecamatan Patani dan Kecamatan Weda) dan wilayah Kabupaten Halmahera Barat, disebelah barat Teluk Kao (Wilayah Kabupaten Halmahera Utara) dan Kota Tidore Kepulauan dan Teluk Buli, di sebelah timur Laut Halmahera serta Samudra Pasifik.
Kabupaten Halmahera Timur terletak antara 00
40’-10
4’ Lintang Utara dan antara 1260
45’-1290
30’ Bujur Timur, dengan luas daratan 6.468,30 km2
atau kurang lebih sebanyak 54 persen. Kabupaten yang terbentuk sejak tahun 2003 ini beribukota di Maba, dan sampai dengan tahun 2009 dibagi menjadi 10 kecamatan dan 73 desa. Daerah Halmahera Timur merupakan daerah pantai karena kurang lebih 80% Desa/Kelurahan berada di daerah pantai, sedangkan 20% lainnya di daerah pegunungan. Kabupaten Halmahera Timur juga memiliki 27 buah pulau, dimana pulau-pulau tersebut belum ada yang dihuni manusia.
Jumlah penduduk di Kabupaten Halmahera Timur pada tahun 2009 adalah 69.912 jiwa, dengan jumlah penduduk usia kerja adalah 40.867 jiwa, dan memiliki tingkat partisipasi angkatan kerja (TPAK) sebesar 69,10%. Sementara itu tingkat pengangguran terbuka (TPT) adalah 4,83%. Sebanyak 70% penduduk bekerja di sektor pertanian.
Selama tahun 2009 Realisasi Total Pendapatan Pemerintah Daerah Kabupaten Halmahera Timur tahun 2009 adalah sebesar 419,246 miliar rupiah atau mengalami penurunan sebesar 14,69 miliar rupiah (3,39%) dibandingkan realisasi pendapatan tahun 2008. Total pendapatan terbesar berasal dari dana perimbangan sebesar 357,723 miliar rupiah (78,18%), lalu diikuti oleh penerimaan lain-lain pendapatan daerah yang sah sebesar 66,755 miliar rupiah (15,92%) dan pendapatan asli daerah sebesar 24,738 miliar rupiah (5,90%). Dana alokasi umum (DAU) memberikan sumbangan terbesar terhadap total pendapatan daerah yaitu sebesar 195,098 miliar rupiah (46,54%).
25
miliar rupiah (34,01%) dibandingkan realisasi total belanja tahun 2008. total belanja tersebut berasal dari belanja langsung sebesar 447,677 miliar rupiah (80,15%) dan belanja tidak langsung sebesar 110,852 miliar rupiah (19,84%). Pengeluaran terbesar daerah digunakan untuk belanja modal yaitu sebesar 317,381 miliar rupiah (56,82%).
Profil Ekonomi Unggulan
PDRB Kabupaten Halmahera Timur atas dasar harga konstan tercatat sebesar Rp 237.090,98 juta pada tahun 2009, atau tumbuh sebesar 7,98% dibandingkan tahun sebelumnya. Pertanian merupakan sektor yang memberikan kontribusi terbesar dalam perekonomian yaitu 44,25%, diikuti oleh sektor pertambangan dan penggalian (23,93%) serta sektor jasa-jasa (3,25%). Untuk sektor pertanian, subsektor yang dominan ialah pertanian tanaman bahan makanan, dan untuk sektor pertambangan dan penggalian, sub sektor yang dominan ialah bahan tambang non migas.
Lahan sawah di Kabupaten Halmahera Timur pada tahun 2009 seluas 14.370 hektar, dimana lahan terluas berada di Kecamatan Wasile Timur (43,02%) dan Kecamatan Wasile (42,27%). Menurut jenis pengairannya, lahan sawah di Kabupaten Haltim terdiri dari lahan sawah irigasi teknis 3.496 hektar (38,75%), irigasi setengah sederhana 3.325 hektar (35,86%) dan irigasi sederhana 2.200 hektar (24,39%). Produksi tanaman pangan terbesar di Kabupaten Halmahera Timur pada tahun 2009 adalah padi, yaitu sebesar 12.051,3 ton, kemudian jagung sebanyak 109,67 ton, ubi kayu 77,9 ton, ubi jalar 72,65 ton, kacang tanah 50,33 ton, dan kedelai 12,25 ton. Sementara itu untuk holtikultura, luas panen tanaman sayuran terbesar pada tahun 2009 adalah kacang panjang (85,05 ha), tomat (81 ha) dan kangkung (78,55 ha). Sementara itu produksi tanaman sayuran tertinggi pada tahun 2009 adalah labu siam (26,9 ton), kacang panjang (25,7 ton) dan tomat (19,25 ton). Untuk buah-buahan yang memberikan kontribusi produksi terbesar adalah pisang (242,15 ton), mangga (82,55 ton) dan semangka (40,5 ton).
Sektor pertambangan berperan cukup besar dalam perekonomian Kabupaten Halmahera Timur. Sektor ini tetap diharapkan sebagai sumber penerimaan devisa,
26 1. Nikel (Ni), terutama di sekitar Buli
2. Magnesit (Fe), di sepanjang S. Mancalele, Kec. Wasile
3. Batu gamping (Ca), di Desa Subaim, Kec. Wasile dan Desa Fayaul, Kec. Wasile Selatan
4. Talk (Ca), di desa Fayaul sepanjang S. Mancalele, Kec. Wasile 5. Minyak Bumi di Desa Lolobata, Kec. Wasile
Dari jenis-jenis tambang tersebut, yang telah dieksploitasi baru nikel, yaitu di P. Gee (1997) dan Tanjung Buli (2001), keduanya di Kecamatan maba, serta di Mornopo, Desa Wailukum, Kecamatan Maba Selatan (2004). Lokas lainnya adalah di P. Pakal, Kecamatan Maba dan Desa Soa Sangaji, kecamatan Maba Selatan. Lokasi-lokasi tersebut berada di sekitar Teluk Buli.
Selain dua sektor unggulan diatas, Haltim masih memiliki potensi lain yang dapat dikembangkan seperti:
1. Perikanan dan Kelautan
a. Sumberdaya Ekosistem Pesisir dan Laut
Ekosistem pesisir dan laut disusun oleh beberapa tipe ekosistem yang khas seperti ekosistem hutan Mangrove, Padang Lamun, Terumbu Karang, Estuaria dan sebagainya yang masing-masing memiliki produktifitas tinggi, dan interaksi diantaranya sangat berpengaruh pada produktifitas wilayah pesisir secara keseluruhan. Data yang diperoleh dari hasil interpretasi citra Landsat 7 ETM 2004 menunjukkan bahwa ternyata Kabupaten Halmahera Timur mempunyai hamparan Mangrove yang terluas dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Provinsi Maluku Utara yaitu seluas 22,500 hektar, dan Kabupaten Halmahera Timur mempunyai terumbu karang yang cukup luas dibandingkan dengan kabupaten-kabupaten lain di Maluku Utara yaitu seluas 47,008 hektar.
b. Sumberdaya Perikanan (a) Perikanan Tangkap
Secara umum produksi dan nilai ikan di Kabupaten Halmahera Timur setiap tahun meningkat. Produksi perikanan di Kabupaten Halmahera Timur pada tahun 2007 adalah 16.380,1 ton dengan nilai Rp
27
ikan kering sebanyak 455 ton. Nelayan Halmahera Timur tidak/belum mendaratkan ikan dalam bentuk ikan asap dan pindang.
(b) Perikanan Budidaya
Sebagai Kabupaten kepulauan yang memiliki wilayah luas, Kabupaten Halmahera Timur memiliki potensi pengembangan budidaya tambak (air payau) dengan komoditas udang dan bandeng, dan laut (marikultur) dengan komoditas ikan kerapu, lobster, rumput laut dan mutiara. Saat ini telah teridentifikasi lahan yang cocok untuk budidaya tambak, yakni di Kecamatan Maba dengan luas sekitar 35.000 Ha dan di Kecamatan Wesilei dengan luas sekitar 15.635 Ha. Sementara itu Teluk Kao telah teridentifikasi sebagai perairan yang cocok untuk pengembangan budidaya laut/marikultur.
2. Perdagangan dan Jasa
Kegiatan perdagangan dan jasa merupakan kegiatan ekonomi yang memegang peranan penting dalam pembangunan perekonomian daerah Kabupaten Halmahera Timur. Pasar merupakan sarana perdagangan terpenting yang merupakan pusat koleksi dan distribusi barang bagi wilayah yang dilayani. Hingga tahun 2007 sarana perekonomian yang terdapat di wilayah Kabupaten Halmahera Timur masih sangat terbatas.
3. Industri
Pertumbuhan dan pembangunan kegiatan ekonomi di Kabupaten Halmahera Timur menunjukkan kecenderungan yang semakin meningkat dengan indikasi berkembangnya sektor-sektor basis yang akan menjadi tumpuan bagi kegiatan sektor lainnya. Secara ekonomi di Kabupaten Halmahera terdapat 9 (sembilan) sektor lapangan usaha yang berkembang yaitu sektor pertanian, pertambangan dan penggalian, industri dan pengolahan, listrik, gas dan air minum, bangunan, pengangkutan dan komunikasi, keuangan, persewahan dan jasa-jasa, serta sektor jasa.
4. Kehutanan
Di kabupaten Haltim terdapat beberapa jenis hutan yaitu, hutan produksi terbatas, hutan produksi tetap, hutan konversi, dan hutan lindung. Produksi kayu masih berbentuk gelondongan yang dikirim ke pabrik penggergajian di
28 5. Pariwisata
Terdapat beberapa kawasan wisata yang potensial untuk dikembangkan yaitu, Bendungan Mancalele, Pantai Wasile, Air terjun Cibcebi, air terjun Ngosngonne dan bungker peninggalan tentara jepang yang terletak di desa Foli Kecamatan Wasile Tengah.
Permasalahan Sektor Pertanian
Kabupaten Halmahera Timur (Haltim) selama ini dikenal sebagai lumbung pangan Maluku Utara. Puncaknya adalah pada tahun 2007 dimana kabupaten ini mengalami surplus produksi beras untuk penduduknya. Pencapaian tersebut tak lepas dari peran program transmigrasi di beberapa kecamatan sejak tahun 1982.
Namun akhir-akhir ini produksi beras serta tanaman pangan lainnya di kabupaten ini terus mengalami penurunan. Bahkan saat ini kabupaten ini sudah tidak mampu ber-swasembada beras lagi dan mulai mengimpor beras dari daerah lain untuk memenuhi kebutuhan masyarakatnya. Kepopuleran “Beras Gunung Wato-wato” yang selama ini menjadi brand beras produksi Haltim ini pun mulai redup. Merosotnya produksi bahan pangan di kabupaten ini disebabkan beberapa hal utama:
1. Pola tanam yang salah akibat kurangnya pengetahuan petani
Berdasarkan hasil identifikasi, saat ini rasio hasil produksi padi di kabupaten Haltim tiap hektarnya sangat rendah, yaitu sekitar 2 s/d 3 ton perhektar. Padahal apabila pola budidaya tanaman dirubah, setiap hektarnya bisa berpotensi memproduksi sekitar 6 s/d 8 ton perhektar atau bahkan lebih mengingat kondisi tanah yang subur di daerah ini. Belum lagi ditambah oleh kondisi cuaca di Haltim dimana dalam tiga dekade terakhir saja belum pernah dilanda musim kemarau sama sekali.
Menurunnya rasio produktiviitas padi perhektar ini terutama disebabkan ketidaktahuan petani setempat yang secara terus-menerus menggunakan benih yang belum pernah diperbaharui sampai saat ini. Selain kemampuan produksi menjadi terus menurun, hal ini juga menyebabkan tanaman padi lebih rentan terhadap hama dan penyakit. Untuk mengatasinya, petani kemudian menggunakan pupuk NPK dan pestisida secara tidak terkontrol. Dan kondisi ini
29 2. Rendahnya kualitas beras
Selain masalah pola tanam, petani juga menghadapi fakta rendahnya kualitas beras hasil produksi mereka. Hal ini disebabkan oleh curah hujan yang tinggi sepanjang tahun di daerah Haltim. Meskipun baik untuk pertumbuhan tanaman padi, curah hujan yang tinggi membuat petani kesulitan menjemur gabah mereka ketika musim panen tiba. Sehingga beras hasil produksi petani Haltim biasanya masih memiliki kandungan air yang tinggi dibanding beras dari daerah lain sehingga kualitasnya kurang kompetitif.
3. Beralihnya profesi masyarakat dari petani menjadi pekerja perusahaan tambang Menurunnya pendapatan ini telah menyebabkan banyak petani yang beralih profesi. Hal ini menyebabkan utilisasi lahan pertanian di Haltim terus mengalami penurunan sehingga banyak lahan pertanian yang menganggur.
Mayoritas petani beralih profesi menjadi pegawai perusahaan tambang nikel yang mulai marak dibangun di Kabupaten Haltim sejak akhir tahun 2007 sampai sekarang. Padahal sebelum dibangunnya tambang-tambang tersebut seluruh penduduk khususnya di daerah Wasilei yang merupakan basis produksi padi, berprofesi sebagai petani.
4. Buruknya infrastruktur yang menyebabkan mahalnya biaya pengangkutan hasil pertanian
Buruknya kondisi jalan yang menghubungkan Kabupaten Haltim dengan kabupaten lainnya mengakibatkan biaya angkut yang mahal apabila hasil pertanian dari kabupaten ini diangkut ke kabupaten lain. Bahkan di musim hujan, truk tidak bisa melalui jalur-jalur tersebut sehingga pengangkutan dilakukan dengan menggunakan mobil pick-up bergardan ganda yang biaya operasionalnya berlipat. Kondisi ini menyebabkan harga beras hasil produksi Haltim menjadi tidak kompetitif di luar kabupaten itu sendiri. Konsumen akhirnya lebih memilih beras dari daerah lain karena kualitasnya lebih bagus dan harganya pun kurang lebih sama.
5. Struktur pasar
Selain itu pada musim panen padi, harga beli gabah kering di kalangan petani biasanya mengalami penurunan yang signifikan. Hal ini dilatarbelakangi adanya praktek monopoli oleh pengumpul. Perusda sendiri belum bisa banyak berbuat untuk mengatasi hal itu.
30 Intensification (SRI) atau Budidaya Padi Intensif
Untuk merubah pola tanam yang salah oleh petani, Dinas Pertanian Kabupaten Halmahera Timur merekrut beberapa tenaga pendamping petani yang berasal dari berbagai daerah lain di Indonesia. Para pendamping yang direkrut tersebut merupakan para petani yang telah berhasil mengaplikasikan kultur tanam organik dengan metode System Rice Intensification (SRI) di daerahnya masing-masing. Mereka direkrut untuk memberikan pelatihan kepada petani-petani di Haltim selama beberapa bulan dalam satu siklus tanam. Petani akan diajarkan langsung cara membuat pupuk organik sendiri, membuat pestisida organik sendiri, serta mengajarkan pola tanam SRI yang tidak banyak menggunakan air sebagai media tanam.
Selain diharapkan bisa meningkatkan produktivitas tanaman padi, metode ini juga diharapkan bisa mengembalikan kualitas tanah yang saat ini sudah tinggi kadar racunnya. Sebagai langkah awal, pada tahun 2010 Pemkab sudah mulai menyiapkan bantuan benih baru bagi petani (Varietas Cisantana). Selain itu saat ini Pemkab juga menghadapi tantangan berat untuk merubah paradigma serta memotivasi kembali masyarakat untuk kembali bertani.
Kemudian untuk mengatasi kualitas beras yang tinggi kadar airnya, Pemkab berencana menghadirkan mesin-mesin pengering (dryer) untuk petani sehingga beras produksi petani tidak lagi kalah bersaing dengan kualitas beras dari daerah lain. Idealnya, setiap kelompok tani bisa memiliki satu unit mesin pengering tersebut.
2. Mengatasi kurangnya SDM dengan mekanisasi pertanian
Dengan telah beralih profesinya sebagian dari populasi petani, maka untuk mensiasatinya Pemkab Haltim telah menyediakan traktor untuk disewakan kepada petani dengan harga subsidi. Namun demikian saat ini jumlah traktor masih terbatas dimana satu unit traktor harus melayani 10 kelompok tani. Jumlah traktor ini masih jauh dari mencukupi apabila dibandingkan dengan total luas lahan pertanian yang ada.
Upaya-upaya tersebut dilakukan untuk mengembalikan citra Haltim sebagai lumbung pangan Maluku Utara. Masalah ini perlu mendapatkan perhatian luas karena daerah-daerah lain di Indonesia yang selama ini menjadi lumbung padi juga
31
memenuhi kebutuhan masyarakatnya sendiri. Lahan pertanian terus berkurang disisi lain jumlah penduduk terus bertambah. Wilayah Halmahera yang masih luas dan lahannya yang belum termanfaatkan secara optimal merupakan sebuah potensi PAD yang besar apabila dikelola dengan baik.
Selain itu sebagai bahan makanan pokok, beras menjadi salah satu penyumbang utama inflasi khususnya di wilayah Maluku Utara. Apabila kebutuhan beras di Maluku Utara bisa dipenuhi oleh daerah ini sendiri, maka tekanan inflasi dari faktor eksternal bisa ditekan dan ketergantungan terhadap daerah lain pun berkurang.
Permasalahan Sektor Pertambangan
Adapun beberapa permasalahan yang dihadapi dalam sektor pertambnagan adalah sebagai berikut:
1. Lokasi cadangan nikel berada di kawasan hutan lindung, yaitu di Kecamatan Maba Selatan
2. Wilayah kegiatan pertambangan dekat ibukota Kabupaten Halmahera Timur (Maba)