Tidak boleh memaksakan kehendak kepada orang lain. Mengutamakan musyawarah dalam mengambil keputusan untuk kepentingan bersama.
Musyawarah untuk mencapai mufakat diliputi oleh semangat kekeluargaan.
Menghormati dan menjunjung tinggi setiap keputusan yang dicapai sebaga hasil musyawarah.
Dengan i'tikad baik dan rasa tanggung jawab menerima dan melaksanakan hasil keputusan musyawarah.
Di dalam musyawarah diutamakan kepentingan bersama di atas kepentingan pribadi dan golongan.
Musyawarah dilakukan dengan akal sehat dan sesuai dengan hati nurani yang luhur.
Keputusan yang diambil harus dapat dipertanggungjawabkan secara moral kepada Tuhan Yang Maha Esa, menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia, nilai nilai kebenaran dan keadilan mengutamakan persatuan dan kesatuan demi kepentingan bersama.
Memberikan kepercayaan kepada wakil wakil yang dipercayai untuk melaksanakan permusyawaratan.
@
Mengembangkan perbuatan yang luhur, yang mencerminkan sikap dan suasana kekeluargaan dan kegotongroyongan.
Mengembangkan sikap adil terhadap sesama. Menjaga keseimbangan antara hak dan kewajiban. Menghormati hak orang lain.
Suka memberi pertolongan kepada orang lain agar dapat berdiri sendiri.
(3
bersifat pemerasan terhadap orang lain.
Tidak menggunakan hak milik untuk hal hal yang bersifat pemborosan dan bergaya hidup mewah.
Tidak menggunakan hal milik untuk bertentangan dengan atau merugikan kepentingan umum.
Suka bekerja keras.
Suka menghargai hasil karya orang lain yang bermamfaat bagi kemajuan dan kesejahteraan bersama.
Suka melakukan kegiatan dalam rangka mewujudkan kemajuan yang merata dan berkeadilan sosial.
(4
=========================================== Disajikan Oleh : M.Djahir Basir *)
Istilah Pendidikan Budi Pekerti sirna dari hazanah kurikulum persekolahan di Indonesia sejalan dengan berlakunya kurikulum tahun 1968 dan diganti oleh Pendidikan Moral Panca Sila, Pendidikan Civics dan Kewarganegaraan, Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, dan terakhir lahir kembali Pendidikan Budi Pekerti sejalan dengan berlakunya Kurikulum Berbasis Kompetensi pada tahun 2001. Selanjutnya, pada tahun 2010 yang lalu telah diwacanakankan satu komponen baru dalam kurikulum kita yang dinamakan Pendidikan Karakter. Berikut ini akan dibahas pengertian pengertian/ istilah yang digunakan tersebut dengan maksud untuk mendapat pemahaman sehingga memungkinkan kita untuk menarik benang merah maknanya agar lebih focus pada pembicaraan substansial ketimbang retorikal. Pengertian pengertian/istilah tersebut meliputi pendidikan nilai, budi pekerti, moral, etika, prilaku, tingkahlaku, akhlak, dan karakter.
Budi Pekerti dan Nilai
Membicarakan budi pekerti tidak dapat dilepaskan dari makna “nilai”. Nilai dalam hal ini dimaknai sebagai makna suatu objek bagi yang mengamatinya (Basir: 2002). Makna dalam hal ini dapat berbentuk rasa indah atau tak indah atau pantas dan tidak pantasnya suatu tingkahlaku. Sehubungan dengan itulah kajian tentang nilai dipilah menjadi dua bagian yaitu estetika dan etika. Penilaian indah dan tak indah (estetika) suatu objek bersifat subjektif individual yaitu penilaian itu diberikan tergantung pada pengalaman subjektif seseorang. Sedangkan pantas dan tidak pantasnya tingkahlaku(etika) yang ditampilkan seseorang dinilai berdasarkan rasa subjektif kelompok. Sehubungan dengan itu maka, baik buruknya tingkahlaku seseorang dinilai berdasarkan norma bersama sekelompok orang, dan tidak dapat diukur berdasarkan ukuran secara individual. Dengan demikian tidak ada istilah etika saya, yang ada adalah etika yang berlaku pada sekelompok orang misalnya kelompok etnik , suku bangsa dan atau bangsa tertentu.
Karena nilai berkaitan dengan perasaan sedangkan perasaan seseorang dapat dipengaruhi oleh ambisi, aspirasi, dan suasana emosi seseorang makanya penilaian selalu bersifat subjektif. Artinya, tergantung pada keadaan factor perasaan tersebut. Oleh karena itu, untuk menjaga objektivitas setiap penilaian perlu ada upaya mengendalikan pengaruh ambisi, emosi, dan aspirasi yg ada pada penilai.
Secara etimologis (Bertens:2000, Siswomiharjo;1997, dan Poespoprojo;1999) menyimpulkan bahwa kata etika sama dengangan moral. Kamus Umum Bahasa Indonesia(Purwadarminta;1988) mengartikan etika sebagai;
1. Ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk, dan tentang hak dan kewajiban moral .
2. Kumpulan azas atau nilai yang berkenaan dengan akhlak.
3. Nilai mengenai benar atau salah yang dianut oleh suatu golongan masyarakat. Oleh karena itu baik istilah etika maupun moral berkaitan dengan tingkah laku nyata seseorang terhadap sesuatu objek. Sedangkan budi pekerti setara dengan istilah prilaku yaitu norma yang tidak nyata mengenai ukuran baik buruknya suatu perbuatan.Oleh karena sifat budi pekerti atau prilaku itu tidak nyata maka ukuran itu
(5
berada dalam perasaan setiap orang, dan diperoleh dari pengalaman hidup seseorang.Pengalaman hidup dimaksud dapat diwarnai oleh nilai nilai budaya, nilai agama, maupun aturan aturan formal sebagai pedoman hidup bermasyarakat.
( %
Pendidikan Budi Pekerti sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru dalam khazanah kurikulum pendidikan kita. Bagi kita yang p e r n a h m e n g e n y a m p e n d i d i k a n s a m p a i t a h u n e n a m p u l u h a n t e n t u mengalami mata ajar Budi Pekerti yang menuntut kita untuk hidup bersopan santun, bertata kerama, berdisiplin, dan memiliki rasa saling menghormati. Mata ajar Budi Pekerti itu pun didukung oleh sebagian besar buku ajar yang syarat dengan pesan pesan moral secara terintegrasi melalui berbagai mata ajar. Bahkan kitab "lembaga", pelajaran bahasa Arab pun ketika itu penuh dengan pesan pesan moral.
Perkembangan kemudian (1968) mata ajar Budi Pekerti digantikan oleh mata ajar Civics, PMP, dan selanjutnya PPKn. Hanya mata ajar Agama yang secara konsisten tertera dalam kurikulum yang salah satu materinya ditujukan untuk pembinaan akhlak, dan juga relevan dengan pendidikan Budi Pekerti.
Kemajuan semu yang kita capai selama Orde Baru membuat kita bangsa Indonesia, yang semula dikenal ramah tamah dan sopan santun, seolah kehilangan pegangan hidup. Mencuri, menjarah, membakar, membunuh, memperkosa, dan menyalahgunakan `obat' tampaknya menjadi tren Baru dalam kehidupan kemasyarakatan kita. Keadaan ini diperparah oleh makin lemahnya peran lembaga kekerabatan dalam mengontrol anggota masyarakatnya. Perubahan yang sangat cepat sebagai dampak dari kemajuan di sisi yang lain, telah menyebabkan ketidakpastian hampir di segala bidang kehidupan. Ketidakpastian seperti itu menyebabkan ketegangan dalam kehidupan individu, keluarga, maupun masyarakat. Perubahan, ketidakpastian, dan akhirnya ketegangan menuntut kemampuan adaptif yang bijaksana dari setiap anggota masyarakat. Ketegangan yang tak terkendali merupakan lahan subur bagi tindakan yang tidak bermoral.
Pada kondisi seperti itu, para pakar ilmu sosial, para pendidik, dan anggota masyarakat lainnya kembali berpaling kepada peran pendidikan yang sesungguhnya, bukan hanya untuk memupuk kecerdasan berpikir dan keterampilan berkarya, tetapi tidak kalah pentingnya, sebagai tempat pembinaan akhlak mulia. Untuk itulah, melalui proses dan diskusi yang panjang pendidikan Budi Pekerti dihadirkan kembali dalam kurikulum persekolahan kita seiring dengan diterapkannya Kurikulum Berbasis Kompetensi pada tahun 2001.
Bagaimana halnya dengan pendidikan budi pekerti? Dikatakan oleh Sedyawati, dkk. (1999) bahwa pengertian yang hakiki dari budi pekerti adalah perilaku. Oleh karena itu budi pekerti bersifat lebih abstrak daripada moral atau etika karena hal itu berkaitan dengan sikap. Unsur sikap yang paling tinggi adalah kecenderungan bertingkah laku. Atau dapat dikatakan bahwa budi pekerti lebih setara dengan istilah "moralitas", yaitu kandungan moral suatu perbuatan. Selanjutnya Sedyawati, dkk. (1999) mengemukakan bahwa jangkauan sikap dan perilaku meliputi sikap dan perilaku dalam hubungannya dengan Tuhan, diri sendiri, keluarga, masyarakat, dan bangsa, serta dalam hubungannya dengan alam sekitarnya. Sedangkan rumusan formal dalam kurikulum berbasis kompetensi dinyatakan, "Budi Pekerti berisi nilai/nilai perilaku manusia yang diukur menurut kebaikan dan keburukannya melalui norma agama, hukum. tata kerama, dan sopan santun, budaya/adat istiadat masyarakat"(Depdiknas, 2001).
Bagaimana dengan pendidikan karakter ? Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan nilai, pendidikan budi pekerti, pendidikan moral, pendidikan watak, yang bertujuan mengembangkan kemampuan peserta didik untuk menentukan baik buruk, memelihara yang baik, dan mewujudkannya dalam kehidupan sehari hari
(6
dengan sepenuh hati (Mendiknas: 2010). Dalam kamus umum Bahasa Indonesia, karakter diartikan sebagai tabiat, perangai, dan sifat sifat seseorang. Meskipun demikian, karakter bukan saja berlaku bagi seseorang tetapi dapat mencerminkan tabiat, perangai, dan sifat sifat sekelompok orang atau suatu bangsa.Terlepas dari perdebatan mengenai metode penyampaiannya, 36 butir Pancasila sebagai materi P4 dimasa lalu sesungguhnya menunjukkan keinginan yang kuat untuk membentuk karakter bangsa atas dasar falsafah Negara Pancasila. Karakter pada gilirannya menjadi ciri khas seseorang, sekelompok orang, atau suatu bangsa.
Berdasarkan konsep yang sudah dikemukakan itu, maka sesungguhnya inti persoalan pendidikan yang dikandungnya adalah sama yaitu membantu peserta didik agar memiliki nurani yang jernih, perbuatan yang baik dan menghindari perbuatan yang buruk sesuai dengan norma norma yang ada. Bahkan Muhaimin (Republika, 8 November 1999) dalam penjelasannya mengemukakan bahwa mata pelajaran Budi Pekerti yang dicanangkan untuk diajarkan kembali di sekolah bertujuan menanamkan nilai nilai moral. Dengan demikian pendidikan budi pekerti dan pendidikan moral/etika laksana dua sisi mata uang yang dapat menggambarkan karakter seseorang, sekelompok orang, atau suatu bangsa. Bahkan Ki Supriyoko (Mustakim:2011) mengemukakan bahwa, oramg yang karakternya baik identik bahkan sama dengan orang yang budi pekertinya luhur atau akhlaknya baik.
( % ( 4
Sebagaimana etika, objek material kajian tentang budi pekerti adalah perbuatan manusia, sedangkan objek formalnya adalah kebaikan dan keburukan perbuatan tersebut (Siswomiharjo, dkk, 1988), yaitu perbuatan baik yang berhubungan dengan dirinya sendiri maupun dalam kaitannya dengan pihak lain. Setiap perbuatan manusia dapat dinilai secara moral dalam rentang baik buruk. Baik buruknya suatu perbuatan dapat dilihat melalui ukuran hati nurani maupun norma norma yang hidup dalam masyarakat, termasuk norma norma yang bersumber dari agama.
Hati nurani adalah abstraksi dari suatu proses penilaian baik buruknya suatu perbuatan. Karena sifatnyayang tidak berwujud, dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia (Purwadarminta, 1988) dituliskan kata nurani sebagai hati yang telah mendapat cahaya Tuhan. Yang mana dimaksud dengan hati tersebut? Sesungguhnya bukan hati dalam arti fisik seperti yang telah kita ketahui, tetapi hati yang abstrak, yang memberi keputusan (Poespoprodjo, 1999) mengenai perbuatan kita. Dalam pemberian keputusan tersebut dapat terjadi melalui proses rasional maupun irrasional. Meskipun demikian, baik Bertens (2000) maupun Poespoprodjo (1999) sependapat dengan para ahli sebelumnya yang memandang keputusan hati nurani sebagai proses rasional. Karena merupakan proses rasional, maka keputusan nurani dapat salah manakala premis premis yang digunakan salah. Namun demikian, disamping melalui proses rasional, keputusan nurani dapat juga hadir dari proses yang irrasional dan bersifat instingtif. Tidak jarang terjadi ketika seseorang bertemu dengan suatu persoalan yang memerlukan pemecahan, segera muncul jalan keluar pilihan perbuatan yang harus dilakukan. Keputusan seperti ini juga dapat salah sebagaimana keputusan yang diambil melalui proses rasional.
Secara operasional Pendidikan Budi Pekerti berupaya membekali peserta didik melalui kegiatan bimbingan, pengajaran, dan latihan, agar memiliki hati nurani yang bersih, berperangai baik, serta menjaga kesusilaan dalam melaksanakan kewajiban terhadap Tuhan dan sesama mahluk (Depdiknas, 2001). Wujud nyata yang diinginkan melalui upaya tersebut berupa kepribadiaan yang utuh yang tercermin dari ucapan, perbuatan, sikap, pikiran, perasaan, dan hasil karya yang bersangkutan.
*8
Terlepas dari proses yang dilalui untuk menetapkan apakah suatu perbuatan itu baik atau buruk, yang jelas bahwa hati nurani yang abstrak itu mempunyai fungsi sebagai barometer perbuatan kita. Melalui proses rasional atau irrasional hati nurani akan memberi `bisikan' apakah suatu perbuatan layak dilakukan atau tidak. Sepanjang hati nurani masih berfungsi dia tetap memberikan 'sinyal', dan sinyal itu akan makin menghilang, seiring dengan makin seringnya dilakukan 'pemerkosaan. terhadap hati nurani. 'Pemerkosaan. tersebut dapat terjadi karena seringnya seseorang melakukan perbuatan yang, bertentangan dengan nurani ataupun akibat penggunaan obat obat terlarang yang pada dasarnya merusak hati nurani. Fungsi pendidikan dalam hal adalah melatih berfungsinya hati nurani secara layak dan benar, serta mencegah kemungkinan perusakan hati nurani. Proses melatih hati nurani tersebutlah yang dimaksud dengan fungsi pendidikan Budi Pekerti (Depdiknas, 2001) yaitu meliputi pengembangan, penyaluran, perbaikan, pencegahan, pembersihan, dan penyaringan potensi yang telah ada dalam hati nurani peserta didik.
Adapun sumber indikator moral yang kedua adalah masyarakat. Apakah perbuatan seseorang dapat diterima atau ditolak oleh masyarakat, tergantung pada norma norma yang disepakati oleh masyarakat di tempat perbuatan itu dilakukan, termasuk norma nonna yang bersumber pada agama, kebiasaan, dan hukum negara (Linda & Eyre, 1999). Ketergantungan kepada masyarakat di mana perbuatan itu dilakukan memungkinkan terjadinya kesenjangan dari berbagai segi.
Perbuatan seseorang yang menurut hati nuraninya, dan dalam konteks budayanya baik, dapat dinilai buruk dalam konteks budaya yang lain. Hal ini terjadi disebabkan oleh perbedaan nilai nilai yang mendasarinya. Pertanyaan kemudian muncul, ketika terjadi kesenjangan antara dua atau lebih segi penilaian, maka mana kebaikan/ kebenaran yang sesunggullnya? Secara teori pertanyaan itu tidak dapat dijawab karena perdebatan tidak mungkin habis habisnya untuk menetapkan mana yang baik antara 'makan dengan tangan kanan' dan `makan dengan tangan kiri', misalnya. Yang dapat dilakukan adalah melalui pendekatan praktis, yaitu melalui kepastian nurani. Kebenaran itu adalah tidak ragu. Tak banyak yang dapat diselesaikan oleh si 'peragu'. Proses menyelesaikan keraguan praktis tanpa menyentuh keraguan teoretis adalah apa yang disebut membentuk hati nurani (Poespoprodjo, 1999), dan ini juga merupakan tugas pendidik.
2 ( % (
Berdasarkan uraian terdahulu, dapat disimpulkan bahwa isi pendidikan budi pekerti itu meliputi antara lain: memperkenalkan nilai n i l a i m o r a l y a n g b e r a s a l d a r i l i n g k u n g a n p e s e r t a d i d i k , membandingkannya dengan nilai/nilai moral yang berasal dari budaya, hukum, maupun agama; melatih kepekaan nurani melalui diskusi moral ataupun
teknik lain (bermain peran, drama, dan sebagainya) yang memungkinkan
terungkapnya aspirasi, emosi, dan ambisi sebagai faktor nilai.
Dilihat dari bobot masalahnya, maka materi pendidikan yang mengandung nilai nilai moral dapat dibedakan dalam nilai nilai universal dan lokal. Nilai nilai moral yang universal artinya kebenarannya diakui oleh lintas budaya, bahkan lintas agama. Linda dan Eyre (1999) mengemukakan bahwa nilai yang benar dan diterima secara universal adalah nilai yang menghasilkan suatu perilaku, dan perilaku itu berdampak positif, baik bagi yang menjalankannya maupun bagi orang lain. Meskipun definisi tersebut menyebut kata universal namun dapat juga diberi makna untuk nilai nilai lokal. Artinya nilai nilai universal maupun lokal sama menyenangkan baik bagi si pelaku maupun bagi orang lain. Hanya saja nilai universal ruang lingkupnya berlaku lebih luas daripada nilai nilai lokal.
Dari 12 katagori nilai yang dikemukakan oleh Linda dan Eyre (1999) dan 56 sifat sifat budi pekerti luhur yang dikemukakan oleh Sedyawati. dkk (1999) serta 18 nilai budi pekerti yang diamanahkan oleh kurikulum pendidikan Budi Pekerti, sebagai
*
bahan pedoman penanaman budi pekerti luhur, dapat dirangkum dalam nilai nilai: kejujuran, cinta kasih, tahu diri, kesucian, tanggungjawab, dan religius.
Nilai nilai kejujuran misalnya akan mendorong orang untuk berbuat apa yang seharusnya diperbuat, baik bagi dirinya .sendiri, keluarga, masyarakat, lembaga tempat dia bekerja, dan sebagainya. Konsistensi penerapan nilai nilai kejujuran ini akan membuat orang di sekitarnya senang, dan bagi dirinya hal ini merupakan modal yang kuat untuk mengembangkan diri secara lebih luas. Selanjutnya cinta kasih antar anggota keluarga, tetangga, teman sekerja, antarnegara, dan umat manusia akan mendorong perbuatan yang mengarah kepada kedamaian, menghindari pertengkaran, tolong menolong ketika mendapat kesusahan, tidak mau menang sendiri, ramah, dan murah hati. Berikutnya tahu diri. Perbuatan orang yang tahu d i r i t i d a k a k an m e la m pa ui b a t a s b at a s k e we n a n g a n d a n batas kemampuannya. Ia tahu mana hak dan kewajibannya, mana posisinya dan apa peran yang harus dimainkannya. Dia tidak akan rnerambah hak orang lain, apalagi mengambil hak orang lain, atau menghilangkannya. Orang yang menjunjung tinggi nilai nilai kesucian tentulah berupaya untuk menjaga kesucian dirinya, keluarga, maupun orang lain. Dengan demikian, sifat sifat seperti munafik, `berminyak air', dan sebagainya sangat dihindari oleh orang orang yang mempertahankan nilai nilai kesucian.
Sifat bertanggung jawab sangat didambakan oleh setiap orang. Lawannya adalah sikap 'lempar batu sembunyi tangan'. Bukan hanya bertanggung jawab atas perbuatannya sendiri, melainkan atas perbuatan orang lain yang berkaitan dengan tugasnya maupun yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat lebih luas, termasuk terhadap lingkungan hidupnya.
Orang yang religius memandang, keharusan menjunjung tinggi nilai nilai kejujuran, cinta kasih, tahu diri, kesucian, tanggun g j awab, bukan semata untuk kepentingan dirinya dan lingkungannya, tetapi lebih penting lagi demi kepentingan pengabdiannya yang lebih tinggi yaitu kepada Sang Pencipta. Semakin tinggi kadar religiusitas seseorang, makin tinggi pula hasrat untuk mewujudkan nilai nilai luhur tersebut dalam perbuatannya.
( ( % (
Pelaksanaan pendidikan Budi Pekerti dilakukan melalui pengintegrasian baik melalui mata ajar, melalui praktek kehidupan se h a ri h a r i , ma u p u n me l a l ui ke g i a ta n ya n g t e rp ro gr a m. Pengintegrasian ke dalam mata ajar meliputi seluruh mata ajar di SD hingga SMU, terutama Agama dan Kewarganegaraan. Pengintegrasian mata ajar lain (termasuk Ilmu Sosial) hanya terbatas pada tema tema tertentu yang relevan.Dalam mata ajar IPA misalnya, pokok bahasan tentang saling ketergantungan antar mahluk dapat menjadi lahan yang subur untuk menanamkan nilai nilai kesetiakawanan dan cinta kasih antar semua mahluk.
Dalam kaitannya dengan pendidikan Budi Pekerti, ternyata dari kelompok Ilmu Sosial yang paling banyak bertanggung jawab dalam pengintegrasian materinya adalah mata ajar Kewarganegaraan dan Sejarah. Sedangkan kelompok mata ajar Ilmu Sosial yang lain, Ekonomi, Geografi Sosial, dan Sosiologi (Program Ilmu Sosial) nampaknya, misinya dititikberatkan pada penanaman pemahaman mengenai dasar dasar Ilmu Sosial, kandungan Budi Pekertinya hanya terintegrasi pada topik topik tertentu yang relevan. Kesimpulan ini diperkuat setelah menelaah delapan kompetensi yang akan diwujudkan melalui mata ajar I lmu Sosial dari SD hingga SMU yang intinya berupa materi ajar pokok Ilmu Sosial (Siskandar, 2002), dan tidak secara nyata mencantumkan Budi Pekerti sebagai kompetensi yang harus dicapai.
Pengalaman dalam mewujudkan pendekatan integratif di masa lalu (seperti PKLH dan pendidikan Lalu Lintas) kendala utamanya terletak pada kemampuan guru mengimplementasikannya secara nyata dalam kegiatan belajar mengajar. Kesadaran, kemauan
*(
dari pihak guru, pengawasan dari kepala sekolah dan pengawas, serta dukungan masyarakat merupakan kunci keberhasilan pendekatan ini.
Berbeda dengan pengintegrasian melalui mata ajar, pengintegrasian budi pekerti melalui kegiatan sehari hari selama ini telah secara rutin dilakukan. mlalui keteladanan, teguran, dan sebagainya. Demikian pula dengan berbagai bentuk pengintegrasian yang berprogram, seperti melakukan peringatan hari hari besar kenegaraan dan hari besar keagamaan dengan berbagai kemponen acara. Disadari atau tidak kegiatan tersebut merupakan arena menumbuhkan nilai nilai religius, kesetiakawanan, tanggungjawab, kejujuran, tahu diri, dan sebagainya.
Para pakar telah banyak mengemukakan teori tentang pendidikan moral (Budi Pekerti). Hersh, dkk (1980) mengemukakan b ah wa ad a b eb er apa te ori ya ng b a n ya k d igu na ka n, y ait u pendekatan pengembangan rasional, pendekatan pertimbangan, klarifikasi nilai, pengembangan moral kognitif, dan pendekatan prilaku sosial. Diantara berbagai teori yang ada, nampaknya pendekatan pendidikan nilai yang dikemukakan oleh Superka, dkk (1976) mengandung tipologi nilai yang lebih jelas dan l e b i h p r a k t i s k a r e n a k e s i m p u l a n n y a b u k a n h a n y a didasarkan pada hasil kajian teoretis tetapi juga telah melalui penelaahan praktis. Terdapat lima pendekatan yang dikemukakannva yaitu : (1) pendekatan penalaran nilai (inculcation approach), (2) Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approach), (3) Pendekatan analisis nilai (values analysis approach), (4) Pendekatan klarifikasi nilai (value clarification approach), (5) Pendekatan pembelajaran berbuat (action learning approach).
Kelima model pendekatan yang dikemukakan di atas dapat dipandang sebagai alternatif atau kombinasi dalam melaksanakan pendidikan Budi Pekerti. Penanaman nilai misalnya, lebih tepat digunakan bila kegiatan dimaksudkan untuk tujuan tujuan transfer nilai, seperti nilai nilai agama dan Pancasila yang telah diyakini sebagai nilai bersama. Model perkembangan moral kognitif dapat digunakan untuk melakukan pencerahan terhadap isu isu yang dilematik. Melalui diskusi misalnya, dapat diangkat persoalan persoalan antar etnik, antar suku, atau kelompok masyarakat lainnya, sehingga potensi konflik dapat secara bertahap dikurangi. Pendekatan pembelajaran berbuat memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan perbuatan moral tertentu secara sendiri sendiri atau bersama sama. Melalui kegiatan organisasi misalnya, peserta didik dapat mempraktekkan sendiri nilai nilai yang dianggapnya baik dan praktek ini akan diuji sendiri apakah dapat diterima oleh masyarakatnya sehingga ia tahu bahwa sesungguhnya setiap orang terikat dengan nilai nilai masyarakat di sekitarnya.
Seperti telah di uraian terdahulu, maka dapat dikemukakan bahwa pendidikan Budi Pekerti pada dasarnya merupakan upaya membantu terbentuknya nilai nilai dalam diri peserta didik. Membantu bukan saja melalui keteladanan, tetapi lebih lebih melalui diskusi moral. Untuk melakukan diskusi moral, maka pertama tama yang harus dilakukan adalah mengkaji implikasi setiap perubahan terhadap nilai etik. Artinya, peserta didik hendaklah diajak mendiskusikan apa saja yang mungkin timbul akibat suatu perubahan. Orientasi pendidikan dari berpusat pada guru menjadi berpusat pada murid misalnya, dapat berpengaruh terhadap nilai nilai etik dalam hubungan guru dan murid. Jika pada masa lalu murid memprotes guru dipandang tabu, maka orientasi baru justru guru mengharapkan keberanian murid untuk mengemukakan pikirannya, karena melalui pendapat murid guru malah mendapat bahan baru untuk melakukan tugasnya lebih lanjut. Lebih jauh