Pendekatan lanjut adalah suatu cara bagaimana mengajak anak didik untuk dapat lebih mengenal ilmu matematika lewat kehidupan sehari harinya, misalnya lewat pertanyaan pertanyaan terkait aktifitas kesehariannya yang lebi hmembuat anak berfikir matematika. Sebagai contoh ialah, “Nisa berangkat ke sekolah pukul 06.15 WIB, jika Nisa naik kendaraan bermotor membutuhkan waktu 30 menit, maka pukul berapakah Nisa sampai di sekola? ….”
Melalui contoh ini anak disuruh untuk berfikir lebih dibandingkan menggunakan pendekatan lanjut. Disinilah guru dapat melihat anak dalam memahami konsep dalam proses pembelajaran matematika dan anak dengan sendirinya dapat memahami kembali apa itu matematika. Sehingga dengan menggunakan contoh contoh dasar ini maka akan terlahirnya suasana belajar yang gembira dan anak merasa rileks sewaktu belajar dan akhirnya anak akan terus mengajak belajar melalui cara cara yang sudah diterapkan oleh guru. Dan tanpa kita sadaripun motivasi pada diri setiap anak akan timbul dengan sendirinya. Dengan adanya proses belajar yang demikian maka konsep diri anak akan berkembang dengan baik pula.
Matematika bukan merupakan pelajaran yang harus menjadi momok menakutkan bagi anak pada masa usia dini dengan cara proses pembelajaran matematika sebagai proses yang manusiawi, menyenangkan, dan mampu membantu anak untuk membentuk konsep diri positif, yaitu seorang guru harus dapat memahami prikologis anak ketika belajar, seorang guru harus mengajar dari kedalaman cinta, dan guru harus dapat menerapkan pembelajaran yang efektif dalam setiap proses pembelajaran yang dimulai sejak anak memasuki dunia pendidikan.
<
Setyono, Ariesandi, 2007. Mathemagics, Jakarta : Gramedia Pustaka Umum. Sutikno, Sobry, Pembelajaran Efektif.
86
Sajirun, Muhammad. 2006. Mengajar Dari Kedalaman Cinta. Palembang : IAIN Raden Patah Press.
Hadis, Abdul. 2006. Psikologi Dalam Pendidikan. Bandung : Alfabeta. Koeswara. 1991. Teori teori Kepribadian. Bandung : PT. ERESCO.
8
A
< B .
Rohana
Dosen Prodi Pend.Matematika Univ.PGRI Palembang e mail: [email protected]
# $
Berbagai hasil penelitian menunjukkan bahwa perlunya memahami konsep matematika terlebih dahulu agar dapat menyelesaikan soal soal dan mampu mengaplikasikan pembelajaran tersebut di dunia nyata. Konsep konsep dalam matematika terorganisasikan secara sistematis, logis, dan hirarkis dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks. Oleh karena itu diperlukan alternatif model pembelajaran yang mampu menggiring mahasiswa ke arah menemukan konsep sendiri (reinvention).
Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak ada pengaruh PBM terhadap pemahaman konsep mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas PGRI Palembang. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester 3 Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas PGRI Palembang TA 2010/2011 yang berjumlah 346 mahasiswa dan terdistribusi dalam 8 kelas paralel. Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik acak kelas dan yang terpilih adalah kelas 3A(sebagai kelas kontrol) yang berjumlah 48 orang serta kelas 3B (sebagai kelas eksperimen) berjumlah 47 orang mahasiswa. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif karena untuk menguji perbedaan pemahaman konsep yang diperoleh kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol.
Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis didapatkan t hitung > t tabel, artinya tolak
Ho dan terima Ha. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh PBM
terhadap pemahaman konsep mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Palembang TA 2010/2011 dengan taraf signifikansi 5%.
Kata kunci: PBM, pemahaman konsep matematika
" %&'&
Umumnya lapangan kerja sekarang ini lebih menuntut kemampuan menganalisis daripada melakukan pekerjaan yang bersifat prosedural ataupun mekanistis. Dengan demikian, peserta didik memerlukan lebih banyak matematika untuk menjawab tantangan hidup terlebih lagi di era persaingan global saat ini. Selain itu matematika juga dapat digunakan untuk mengasah pola pikir seseorang agar dapat mengaplikasikan keterampilan yang dimilikinya untuk menyelesaikan permasalahan dalam kehidupannya. Menyadari arti pentingnya matematika tersebut, maka matematika
dirasakan perlu untuk dipahami dan dikuasai oleh segenap lapisan masyarakat, mulai dari jenjang pendidikan dasar hingga perguruan tinggi. Sebagai ilmu yang mengedepankan logika berpikir, dalam memahami konsep matematika diperlukan kemampuan generalisasi serta abstraksi yang cukup tinggi. Sedangkan saat ini penguasaan peserta didik terhadap materi konsep – konsep matematika masih lemah bahkan dipahami dengan keliru. Sebagaimana yang dikemukakan Ruseffendi (2006:156) bahwa terdapat banyak peserta didik yang setelah belajar matematika, tidak mampu memahami bahkan pada bagian yang paling sederhana sekalipun, banyak konsep yang dipahami secara keliru sehingga matematika dianggap sebagai ilmu yang sukar, ruwet, dan banyak memperdayakan. Padahal pemahaman konsep merupakan bagian yang paling penting dalam pembelajaran matematika seperti yang dinyatakan Zulkardi (2003:7) bahwa ”mata pelajaran matematika menekankan pada konsep”. Artinya dalam mempelajari matematika peserta didik harus memahami konsep matematika terlebih dahulu agar dapat menyelesaikan soal soal dan mampu mengaplikasikan pembelajaran tersebut di dunia nyata. Konsep konsep dalam matematika terorganisasikan secara sistematis, logis, dan hirarkis dari yang paling sederhana ke yang paling kompleks. Pemahaman terhadap konsep konsep matematika merupakan dasar untuk belajar matematika secara bermakna.
Untuk mencapai pemahaman konsep peserta didik dalam matematika bukanlah suatu hal yang mudah karena pemahaman terhadap suatu konsep matematika dilakukan secara individual. Setiap peserta didik mempunyai kemampuan yang berbeda dalam memahami konsep – konsep matematika. Namun demikian peningkatan pemahaman konsep matematika perlu diupayakan demi keberhasilan peserta didik dalam belajar.
Statistika merupakan salah satu cabang dari ilmu matematika terapan. Tanpa kita sadari, sesungguhnya statistika telah menjadi bagian hidup kita walaupun dalam bentuk yang sangat sederhana. Statistika telah mengubah cara kerja manusia dari yang bersifat tradisional ke yang bersifat rasional ilmiah. Bahkan kemajuan suatu negara sangat ditentukan oleh sejauh mana negara itu dapat menerapkan ilmu statistika dalam memecahkan masalah masalah pembangunan dan perencanaan pembangunan. Menurut Boediono (2004:3) statistika merupakan pelajaran yang ditakuti, dijauhi, dan dianggap sulit bagi pelajar maupun mahasiswa sebagaimana mereka memandang matematika, bahkan masyarakat telah menjadikan statistika dan matematika sebagai momok dalam
(
kehidupan sehari hari. Begitupun yang diakui oleh beberapa mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika yang diwawancarai secara informal oleh peneliti. Hal ini menjadi kendala utama dalam memajukan ilmu statistika dan matematika, sehingga kita belum berhasil menjadikan statistika dan matematika menjadi bagian hidup dan budaya masyarakat.
Meskipun pembelajaran yang dilakukan di Prodi Pendidikan Matematika sudah berpusat pada peserta didik/mahasiswa, namun pembelajaran masih berorientasi pada penguasaan materi saja. Hal tersebut mengakibat mahasiswa belajar secara hafalan tanpa memahami makna dari materi yang dipelajari. Agar dapat memahami statistika, mahasiswa tidak cukup hanya dengan hanya menghafal rumus rumus saja, tetapi membutuhkan pengertian, pemahaman, dan keterampilan yang mendalam.
Menyikapi permasalahan permasalahan dalam pembelajaran di atas, maka diperlukan model pembelajaran yang menekankan pada peningkatan pemahaman konsep mahasiswa sehingga tujuan pembelajaran dapat dicapai. Salah satu alternatif model pembelajaran adalah Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM). Dalam pembelajaran ini, dosen tidak harus menyajikan konsep dalam bentuk yang sudah jadi, namun melalui kegiatan pemecahan masalah menggiring mahasiswa ke arah menemukan konsep sendiri (reinvention). Apabila dalam proses reinvention ini mahasiswa mengalami hambatan sehingga mendorong ia untuk bertanya, dosen tidak selalu harus menjawab pertanyaan mahasiswa secara langsung tetapi mengarahkannya pada proses penemuan terbimbing.
Berdasarkan latar belakang inilah, peneliti tertarik melakukan penelitian tentang “Pengaruh Pembelajaran Berbasis Masalah (PBM) Terhadap Pemahaman Konsep Mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas PGRI Palembang”.
&2& " ' %
Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan di atas, rumusan masalah dalam penelitian ini adalah “Adakah pengaruh PBM terhadap pemahaman konsep mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FKIP UPGRI Palembang?”
Agar penelitian ini lebih terarah maka peneliti memberikan pembatasan masalah sebagai berikut:
*
1. Pengaruh yang dimaksud dalam penelitian ini adalah membandingkan hasil tes kelas eksperimen dengan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, mahasiswa diajarkan dengan menggunakan PBM, sedangkan pada kelas kontrol menggunakan pembelajaran biasa.
2. Pemahaman konsep adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan mahasiswa mampu mengungkap konsep Statistika Matematika 1 yang ditunjukkan melalui skor yang diperoleh mahasiswa setelah mengikuti tes pemahaman konsep dengan menggunakan indikator pemahaman Killpatrick & Findell.
3. Pembelajaran berbasis masalah adalah suatu model pembelajaran yang dirancang untuk mengembangkan kemampuan peserta didik memecahkan masalah.
4. Pembelajaran biasa adalah pembelajaran yang biasa digunakan dosen pada perkuliahan, didominasi dengan metode ekspositori, dosen menyampaikan dengan ceramah dan tanya jawab sedangkan mahasiswa memperhatikan penjelasan dosen. 5. Mata kuliah yang diajarkan adalah Statistika Matematika 1 dengan pokok bahasan
Distribusi Peluang Diskrit.
6. Mahasiswa yang diteliti adalah mahasiswa semester 3 Prodi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas PGRI Palembang.
. &+& '
Sesuai dengan rumusan masalah yang diajukan, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak ada pengaruh PBM terhadap pemahaman konsep Prodi Pendidikan Matematika Jurusan PMIPA FKIP Universitas PGRI Palembang.
/ '
Adapun manfaat yang diharapkan dalam penelitian ini adalah:
1. Bagi dosen, sebagai alternatif pembelajaran untuk diterapkan dan dikembangkan di perkuliahan serta membantu dosen untuk menemukan salah konsep yang terjadi pada mahasiswa.
2. Bagi peneliti lain, sebagai bahan pertimbangan atau informasi untuk mengkaji lebih dalam tentang PBM.
,
3. Bagi lembaga, sebagai bahan kajian dalam menyiapkan mutu lulusan dengan mengoptimalkan proses pembelajaran melalui pemilihan alternatif pembelajaran yang dapat diterapkan dan dikembangkan di perkuliahan.
+
Pemahaman Konsep
Dalam proses mengajar, hal terpenting adalah pencapaian pada tujuan yaitu agar mahasiswa mampu memahami sesuatu berdasarkan pengalaman belajarnya. Kemampuan pemahaman ini merupakan hal yang sangat fundamental, karena dengan pemahaman akan dapat mencapai pengetahuan prosedur. Menurut Purwanto (1994:44) pemahaman adalah tingkat kemampuan yang mengharapkan siswa mampu memahami arti atau konsep, situasi serta fakta yang diketahuinya. Sementara itu Gordon (Mulyasa, 2005 : 78) menyatakan bahwa pemahaman adalah kedalaman kognitif dan afektif yang dimiliki oleh individu. Bloom (Ernawati,2003:8) mengemukakan bahwa yang dimaksud dengan pemahaman adalah kemampuan menangkap pengertian pengertian seperti mampu mengungkapkan suatu materi yang disajikan dalam bentuk lain yang dapat dipahami, mampu memberikan interpretasi dan mampu mengklasifikasikannya. Menurut Hewson dan Thorley (dalam Virlianti, 2002:6) mengemukakan bahwa pemahaman adalah konsepsi yang bisa dicerna atau dipahami oleh peserta didik sehingga mereka mengerti apa yang dimaksudkan, mampu menemukan cara untuk mengungkapkan konsepsi tersebut, serta dapat mengeksplorasi kemungkinan yang terkait. Berdasarkan pendapat pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa dengan pemahaman mahasiswa dituntun agar mampu memberikan argumen argumen dari materi yang diberikan bukan sekedar mengetahui dan mengingat kembali apa yang dimengerti
.Mahasiswa dikatakan memahami suatu konsep atau paham terhadap konsep yang diberikan dalam pembelajaran jika mereka mampu mengemukakan dan menjelaskan suatu konsep yang diperolehnya berdasarkan kata kata sendiri tidak sekedar menghafal. Selain itu mahasiswa juga dapat menemukan dan menjelaskan kaitan suatu konsep dengan konsep lainnya yang telah diberikan terlebih dahulu. Killpatrick dan Findell (Dasari, 2002:71), menyatakan tujuh indikator pemahaman konsep yaitu;
0
1. Kemampuan menyatakan ulang konsep yang telah dipelajari.
2. Kemampuan mengklasifikasikan objek objek berdasarkan dipenuhi atau tidaknya persyaratan yang membentuk konsep tersebut.
3. Kemampuan menerapkan konsep secara algoritma.
4. Kemampuan memberikan contoh dan non contoh dari konsep yang telah dipelajari.
5. Kemampuan menyajikan konsep dalam berbagai macam bentuk representasi matematika.
6. Kemampuan mengaitkan berbagai konsep.
7. Kemampuan mengembangkan syarat perlu dan syarat cukup suatu konsep.
Pembelajaran Berbasis Masalah dan Karakteristik Pembelajarannya
Karakteristik umum pembelajaran matematika di Indonesia masih terpusat pada guru, materi disampaikan melalui ceramah, siswa pasif, pertanyaan jarang muncul, berorientasi pada satu jawaban yang benar, dan kegiatan mencatat masih menyita waktu (Armanto, 2002:20). Kegiatan pembelajaran seperti ini yang kita kenal dengan pembelajaran konvensional, tentu tidak memberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam pemecahan masalah, penalaran, koneksi, dan komunikasi matematis, karena aktivitas peserta didik tergolong rendah dan mereka hanya berperan sebagai penerima ilmu saja.
Dalam Standar Isi Pendidikan Tinggi, disebutkan bahwa standar kompetensi yang harus dicapai lulusan Program Pendidikan Sarjana adalah menguasai dasar dasar disiplin ilmu dalam bidang ilmu tertentu sehingga mampu mengidentifikasi, memahami, menjelaskan, mengevaluasi/menganalisis secara kritis dan merumuskan cara penyelesaian masalah yang ada dalam cakupan disiplin ilmunya.
Pembelajaran berbasis masalah (PBM) merupakan salah satu alternatif untuk menanggulangi permasalahan pendidikan matematika ini. PBM merupakan suatu pendekatan pembelajaran yang diawali dengan menghadapkan mahasiswa dengan masalah matematik. Untuk itu, mahasiswa dituntut dapat menyelesaikan masalah dengan menggunakan pengetahuan, kemampuan, dan pengalaman yang dimiliki. Dalam pembelajaran ini dosen melalui kegiatan pemecahan masalah, menggiring mahasiswa kearah menemukan konsep sendiri (reinvention). Pada proses reinvention,
3
mahasiswa tidak segera menemukan solusi sehingga mendorong mereka untuk bertanya. Dosen pun tidak berarti harus selalu menjawab pertanyaan mahasiswa secara langsung, namun balik bertanya dengan menggunakan teknik bertanya serta mengarahkannya pada proses penemuan terbimbing.
Adapun karakteristik PBM menurut Delisle dikutip Herman (2006:8) adalah sebagai berikut: 1)memposisikan mahasiswa sebagai selfdirected problem solver melalui kegiatan kooperatif dalam pemecahan masalah, 2)mendorong mahasiswa untuk mampu menemukan masalah dan mengelaborasikannya dengan mengajukan dugaan dugaan dan merencanakan penyelesaian, 3)memfasilitasi mahasiswa untuk mengeksplorasi berbagai alternative penyelesaian dan implikasinya, serta mengumpulkan dan mendistribusikan informasi, 4) melatih mahasiswa untuk terampil menyajikan temuan, dan 5)membiasakan mahasiswa untuk melakukan evaluasi diri dan refleksi tentang efektivitas cara berpikir mereka dalam menyelesaikan masalah.
Menurut Savin, Moust & Schmidt dalam Amir (2009:23) pendekatan PBM berbeda dengan pendekatan lainnya, sebagaimana dijelaskan dalam tabel berikut:
# '
# " " ! "
" ' + $ )
Ceramah Informasi dipresentasikan dan didiskusikan oleh dosen dan mahasiswa
Kasus atau studi kasus Pembahasan kasus biasanya dilakukan di akhir perkuliahan dan selalu disertai denganm pembahasan di kelas tentang materi (dan sumber sumbernya) atau konsep terkait dengan kasus. Berbagai materi terkait dan pertanyaan diberikan pada mahasiswa.
PBM Informasi tertulis yang berupa masalah diberikan sebelum kelas dimulai. Fokusnya adalah bagaimana mahasiswa mengidentifikasikan isu pembelajaran sendiri untuk memecahkan masalah. Materi dan konsep yang relevan ditemukan oleh mahasiswa sendiri.
Sumber: Amir (2009:23)
Langkah/langkah PBM
Terdapat 5 langkah utama dalam PBM, sebagaimana dinyatakan oleh Ibrahim & Nur (dikutip Trianto, 2007:71) yaitu:
4
Tahap 2 : Mengorganisasi mahasiawa untuk belajar
Tahap 3 : Membimbing penyelidikan individual maupun kelompok Tahap 4 : Mengembangkan dan menyajikan hasil karya
Tahap 5 : Menganalisa dan mengevaluasi proses pemecahan masalah.
Kelebihan dan Kelemahan PBM
Menurut Sanjaya (2009:218) ada beberapa kelebihan dari PBM ini yaitu: 1. Merupakan teknik yang cukup bagus untuk lebih memahami isi pelajaran. 2. Menantang kemampuan peserta didik untuk menemukan pengetahuan baru.. 3. Dapat meningkatkan aktivitas peserta didik.
4. Membantu peserta didik memahami masalah dalam kehidupan nyata. 5. Mendorong peserta didik untuk melakukan evaluasi sendiri.
6. Memperlihatkan kepada peserta didik bahwa inti setiap materi pelajaran adalah melatih cara berpikir.
7. Lebih menyenangkan dan disukai peserta didik. 8. Dapat mengembangkan kemampuan berpikir kritis.
9. Memberikan kesempatan untuk mengaplikasikan pengetahuan ke kehidupan nyata.
10. Mengembangkan minat peserta didik untuk belajar sepanjang hayat.
Selain kelebihan, ada beberapa kekurangan/kelemahan PBM ini seperti yang diungkapkan oleh Sanjaya (2009:219), yaitu:
1. Jika peserta didik tidak memiliki minat atau tidak mempunyai kepercayaan bahwa masalah yang dipelajari sulit untuk dipecahkan, maka mereka enggan untuk mencoba.
2. Membutuhkan cukup waktu untuk persiapan.
3. Tidak ada belajar jika tidak memahami masalah yang akan dipelajari.
< ) '
Sesuai dengan masalah yang telah diuraikan, maka yang menjadi hipotesis dalam penelitian ini adalah “Ada pengaruh PBM terhadap pemahaman konsep matematika mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas PGRI Palembang”.
5
!&+ )
Kriteria pengujian hipotesis dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
Ho : 1 = 2, tidak ada pengaruh PBM terhadap pemahaman konsep matematika
mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika UPGRI Palembang Ha : 1 > 2, ada pengaruh PBM terhadap pemahaman konsep matematika
mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika UPGRI Palembang Pengujian hipotesis menggunakan uji pihak kanan dengan kriteria, terima Ho
jika t hitung < t tabel dan tolak Ho jika t menggunakan harga harga lain. Derajat kebebasan
untuk daftar distribusi t adalah (n1+n22) dan peluang (1 α) (Sudjana, 2005:243).
"& '
Variabel Penelitian
Variabel dalam penelitian ini adalah PBM dan pembelajaran biasa sebagai variabel bebas, sedangkan pemahaman konsep matematika mahasiswa sebagai variabel terikat.
Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa semester 3 Prodi Pendidikan Matematika FKIP Universitas PGRI Palembang TA 2010/2011 yang berjumlah 346 mahasiswa, terdiri dari 65 orang laki laki dan 281 orang perempuan, terdistribusi dalam 8 kelas paralel.
Sampel dalam penelitian ini diambil dengan teknik acak kelas dan yang terpilih adalah kelas 3A berjumlah 48 orang serta kelas 3B berjumlah 47 orang mahasiswa.
Metode Penelitian
Metode penelitian ini adalah penelitian eksperimen karena dilakukan untuk mengetahui ada atau tidaknya akibat dari suatu perlakuan yang dikenakan pada satu atau lebih kelompok eksperimen yang dibandingkan dengan kelompok yang tidak dikenai perlakuan (kelompok kontrol).
6
Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kuantitatif karena untuk menguji perbedaan pemahaman konsep yang diperoleh kelompok eksperimen dengan kelompok kontrol. Kelas yang terpilih sebagai kelas eksperimen adalah kelas 3B, sedangkan kelas 3A sebagai kelas kontrol.
Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode tes. Tes dilaksanakan setelah penerapan pembelajaran baik di kelas eksperimen maupun di kelas kontrol. Soal tes yang digunakan dalam bentuk essay dan mengacu pada indikator pemahaman konsep. Hasil jawaban mahasiswa diberi skor sesuai dengan skor batasan tertentu.
Teknik Analisis Data
Langkah awal untuk menganalisis data adalah uji kesamaan varians (uji homogenitas) dan uji normalitas distribusi sampel. Untuk uji homogenitas peneliti menggunakan uji varians terbesar dibanding varians terkecil menggunakan Tabel F (Riduwan, 2010:186). Sedangkan untuk uji normalitas, peneliti menggunakan rumus Uji Chi Kuadrat (Riduwan, 2010:187).
Langkah selanjutnya untuk melihat ada tidaknya pengaruh pembelajaran kan dilakukan uji hipotesis. Apabila disimpulkan data sampel berdistribusi normal dan kedua varians homogen, akan dilakukan teknik pengujian hipotesis menggunakan statistik uji t (Subana, 2000:171).
I. Hasil dan Pembahasan Penelitian Hasil Penelitian
Berdasarkan hasil penelitian, dengan menggunakan analisis data awal diperoleh bahwa populasi berdistribusi normal. Setelah dilakukan uji kesamaan varians diperoleh bahwa kelas eksperimen dan kelas kontrol mempunyai rata rata yang sama. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa kedua kelas tersebut homogen (kondisinya sama), dan dapat dilanjutkan dengan uji t (uji pihak kanan).
Untuk memperoleh gambaran tentang pengaruh PBM dan pembelajaran biasa terhadap pemahaman konsep matematika mahasiswa, data dianalisis secara deskriptif
(8
agar dapat diketahui rata rata dan simpangan bakunya. Rangkuman hasil analisis deskriptif data pemahaman konsep matematika mahasiswa berdasarkan kedua pendekatan pembelajaran disajikan dalam tabel berikut ini:
# ' ( $ ) 2 % 2 ) 2 $ % 9 ' $ - 2) ! $& Eksperimen 47 81,06 12,2 Kontrol 48 68,67 15,96
Dari data tabel di atas, diperoleh simpangan baku gabungan yaitu sebesar 14,22, selanjutnya akan ditentukan t hitung dan t tabel. Nilai t tabel diperoleh melalui rumus
interpolasi menggunakan Microsoft Office Excel dengan
α
=0,05 dan derajat kebebasan (db) = 47+48 2=93 diperoleh t tabel sebesar 1,986. Sedangkan nilai t hitung diperolehmelalui rumus statistik uji t, didapatkan nilai sebesar 4,2376.
Pembahasan
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ada pengaruh PBM terhadap pemahaman konsep matematika mahasiswa. Sebagaimana yang telah diungkap Sanjaya (2009:218) bahwa pembelajaran berbasis masalah merupakan teknik yang cukup baik bagi peserta didik untuk lebih memahami isi pelajaran.
Sebelum pelaksanaan PBM, dosen telah mempersiapkan materi materi penunjang bagi mahasiswa sesuai dengan kurikulum universitas. Hal tersebut dimaksudkan agar mahasiswa mampu mengembangkan pengetahuan barunya. Pembelajaran dilaksanakan dengan menggunakan metode kelompok. Meskipun mahasiswa sudah terbiasa dengan kelompok diskusi, namun masih banyak kelompok yang tampak kaku dan ragu dalam menyelesaikan masalah yang diajukan peneliti. Hal tersebut cukup dimaklumi karena PBM merupakan hal yang baru bagi mahasiswa di kelas eksperimen. Pembagian kelompok yang tidak berdasarkan kemampuan awal membuat beberapa mahasiswa kesulitan dalam memahami masalah. Pada situasi seperti ini, peran dosen sebagai fasilitator dan organisator harus maksimal dalam memfasilitasi
(
serta mengakomodasi sehingga mahasiswa termotivasi untuk menyelesaikan masalahnya.
2)&' "
Simpulan
Berdasarkan kriteria pengujian hipotesis didapatkan t hitung > t tabel, artinya tolak
Ho dan terima Ha. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa ada pengaruh PBM
terhadap pemahaman konsep mahasiswa Prodi Pendidikan Matematika Universitas PGRI Palembang TA 2010/2011 dengan taraf signifikansi 5%.
Saran
1. Dalam menerapkan PBM, sebaiknya dosen mempersiapkan secara matang rancangan permasalahan yang diberikan kepada mahasiswa dalam bentuk masalah masalah kontekstual non rutin.
2. Pembagian kelompok sebaiknya berdasarkan kemampuan awal mahasiswa.
3. Untuk mencapai target kurikulum, dosen harus mampu mengatur waktu seefisien mungkin.
4. Melanjutkan penelitian ini pada peran PBM terhadap pembentukan karakter mahasiswa.
/ & $
Amir, M.Taufiq. 2009. Inovasi Pendidikan Melalui Problem Based Learning. Jakarta: Kencana Prenada Media Group.
Armanto, D. 2002. Teaching Multiplication and Division Realistically in Indonesian Primary Schools: A Prototype of Local Instructional Theory. Thesis Doktor Kependidikan. Tidak Dipublikasikan, Universitas Twente Enschede, Nedherlands.
Boediono. 2004. Statistika dan Probabilitas. Bandung: Remaja Rosdakarya
Ernawati. 2003. Meningkatkan Kemampuan Pemahaman Konsep Matematika Siswa SMU Melalui Pembelajaran Berbasis Masalah. Skripsi Jurusan Pendidikan Matematika FPMIPA UPI (tidak dipublikasikan).
((
Dasari, D. 2002. Pengembangan Pembelajaran Matematika Berdasarkan Kurikulum Berbasis Kompetensi. Proceeding Seminar Nasional 5 Agustus 2002, hal 69 75.