• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 c Menentukan batas batas kelompok

Dalam dokumen PROSIDING SEMNAS U PGRI 2011 (Halaman 192-200)

Kelompok atas

Semua siswa yang mempunyai skor sebanyak skor rata rata plus satu standar deviasi keatas

Kelompok sedang

Semua siswa yang mempunyai skor antara 1 SD dan +1 SD. Kelompok kurang

Semua siswa yang mempunyai skor 1 SD dan yang kurang dari itu. Tes kemampuan awal matematika menggunakan bentuk pilihan ganda dengan empat pilihan dan disertai dengan memberikan alasan dan cara mengerjakannya. Butir soal KAM tersebut sebanyak 15 soal. Kualitas soal soal dilihat dan dianalisis melalui uji validitas, reliabilitas, daya pembeda dan analisis tingkat kesukaran. Validitas yang digunakan adalah validitas butir soal. Validitas dilakukan melalui pertimbangan para ahli yang bergelar Doktor dan Master di bidang pendidikan matematika. Hasil pertimbangan para ahli, uji validitas, reliabilitas, daya pembeda dan analisis tingkat kesukaran soal KAM. 2) Tahap kedua

Setelah guru membagi siswa dalam beberapa kelompok, maka:

a. Guru membagikan bahan ajar, kemudian siswa membaca bahan ajar yang telah diberikan. Siswa memeriksa pemahaman dengan cara saling menanyakan hal hal yang belum dimengerti.

b. Setelah selesai membaca, siswa diberi tugas untuk merangkum hal hal yang penting, menyusun pertanyaan, menjelaskan dan menyusun prediksi dari hasil bacaan bahan ajar dengan cara berdiskusi dalam kelompok.

c. Setelah proses di atas selesai, siswa diminta mengerjakan soal latihan, guru memberikan pengarahan dan bimbingan seperlunya bagi kelompok siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal soal latihan.

d. Guru memperagakan peran sebagai pemimpin dialog dengan menjelaskan bahan ajar yang telah disimpulkan, menyampaikan pertanyaan pertanyaan atau memberikan rangsangan kepada siswa untuk menyusun prediksi dari bahan ajar.

5(

e. Guru menjelaskan bahwa pada pertemuan selanjutnya akan dipilih seorang anggota kelompok secara acak yang akan berperan sebagai pemimpin diskusi. 3) Tahap ketiga

Seperti pertemuan sebelumnya, guru membagikan bahan ajar dan siswa berdiskusi dalam kelompok dengan melakukan aktivitas reciprocal teaching. Kemudian dipilih seorang siswa untuk menjadi pemimpin diskusi yang berperan aktif bersama teman temannya membahas bahan ajar.

2# ' + " ! " $ ') 7 8 C' 8:

Alur pembelajran RT bisa dimulai dari arah manapun. Seperti contoh pembelajarannya:

Pembelajran materi lingkaran yang dimulai dari G& ! > Predecting > claryifing > Summarizing;

1. Berbentuk apakah roda sepeda itu?... Coba kamu sebutkan benda benda di

sekelilingmu yang mempunyai bentuk seperti roda sepeda.

2. Jika roda sepeda diputar, adakah bagian yang tidak bergerak?...

a. Disebut apakah bagian itu?...

b. Perhatikan jeruji sepeda, adakah jeruji yang panjangnya tidak sama? ...

c. Jika roda sepeda tersebut berbentuk lingkaran, disebut apakah bagian yang tidak bergerak dan jeruji sepeda itu?...

2# ' + "&2&' " ) " 1 !

Borobudur adalah candi kuno di Kabupaten Magelang Jawa Tengah. Stupa dari candi ini disusun dari batu batu dan alasnya berbentuk lingkaran yang berdiameter 2 m. Tentukan luas daerah lingkaran tersebut C " $ :

5*

% ) " 1 !

1. Apakah kamu mempunyai sepeda? Perhatikan rantai sepeda, seperti pada Gambar:

2. Dapatkah kamu mencari contoh lain yang berkaitan dengan bentuk lingkaran dan benda yang menyinggung lingkaran tersebut. Contohnya sumur?

% ) G& !

$& $ # 2 2 2&:

Gambarlah lingkaran berpusat di titik O dan mempunyai diameter AB, seperti Gambar dibawah ini:

Pada Gambar garis a melalui O dan tegak lurus AB.

a. Garis a memotong lingkaran di berapa titik? Gambarlah garis b, c, d sejajar a. b. Setiap garis itu memotong lingkaran di dua titik.

c. Adakah garis yang sejajar a dan memotong lingkaran tepat di satu titik? Gambarlah garis e dan f yang sejajar garis a dan memotong lingkaran di satu titik. Garis e dan f disebut garis singgung pada lingkaran, titik A dan B disebut titik singgung.

Karena a AB dan e // amaka e AB

Bagaimana sudut yang dibentuk garis e dengan AB ? O

A

5,

Bagaimana sudut yang dibentuk garis f dengan AB ? Diskusikan kembali bersama temanmu:

1. Gambarlah lingkaran yang berpusat di O dan titik A pada lingkaran, seperti Gambar:

2. Gambarlah garis singgung pada lingkaran melalui titik A. Ada berapa banyaknya garis singgung lingkaran melalui A

yang dapat kamu buat?

3. Gambarlah lingkaran yang berpusat di P dan titik Q di luar lingkaran, seperti Gambar 6.24. Dari titik Q gambarlah garis singgung pada lingkaran yang berpusat di titik P. Ada berapa banyaknya garis singgung lingkaran yang dapat kamu buat?

% ) 1' / !

Gambar dibawah ini cocokan dengan hasil diskusimu,

% ) &22 D !

Dari hasil diskusi diatas didapat sifat sifat garis singgung lingkaran, sebutkan:

"& ' $ '

Penelitian eksperimen ini dilaksanakan melalui tahapan dan alur kerja seperti terlihat pada Gambar 3.1. Dalam penelitian ini peneliti berperan sebagai guru yang memimpin pembelajaran di kelas. Hal ini dilakukan dengan pertimbangan untuk lebih terjaminnya pelaksanaan pendekatan pembelajaran. Selain itu peneliti juga bisa langsung mengamati aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung. Hasil pengamatan ini digunakan untuk analisis data secara kualitatif, di samping terhadap jawaban jawaban siswa pada tes yang diberikan pada akhir penelitian.

50

2# *

% ) ' $ '

Studi Pendahuluan: Identifikasi Masalah

Rumusan Masalah, Studi Literatur, dll

Pengembangan, Validasi dan Uji Coba : Bahan Ajar dan Instrumen Penelitian

Pemilihan Subyek Penelitian

Kelas eksperimen Kelas kontrol

Tes KAM Tes KAM

Pembelajaran Konvensional Pembelajaran Reciprocal Teaching Posttest Posttest Data Analisis Data Temuan

Kesimpulan, Saran dan rekomendasi

53

2)&'

Dalam pembelajaran dengan pendekatan Reciprocal Teaching dapat meningkatkan kemampuan dan sikap siswa yang lebih positif ketika membaca, mengorganisir, dan merekam informasi dalam proses pembelajaran matematika.

Pada pelaksanaan pembelajaran dengan pendekatan Reciprocal Teaching seorang guru diharapkan dapat menjadi fasilitator, motivator serta pembimbing yang baik untuk membantu siswa yang mengalami kesulitan memahami materi.

/ & $

Arikunto, Suharsimi. (2009). Dasar/Dasar evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara. Djaali. 2004. Evaluasi Pendidikan. Jakarta : Rineka Cipta

Djamarah Bahri, Syaiful, 2005. Guru dan Anak Didik Dalam Interaksi Edukatif Suatu Pendekatan Teoritis Psikologis. Penerbit PT Reneka Cipta, Jakarta.

Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Manajemen peningkatan mutu berbasis sekolah. Jakarta: Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah.

Elizabeth Foster and Becky Rotoloni. (2005). Reciprocal teaching. The University of Georgia.(Online).:http://projects.coe.uga.edu/epltt/index.php?title=Reciprocal_T eaching (diakses 03 Desember 2010).

Ennis, Robert H (1996) Practical Strategies for the Direct Teaching of Thinking Skill In A.L. costa (ed) Developping Mind : A resource Book for Teaching Thinking. Alexandria : ASCD, 43 – 45.

Facione, P. (1992). Critical thinking : What it is and what it counts. (On line). Tersedia pada : http://www.insightassessment.com/pdf_files/what&why2006.pdf. (diakses 11 Desember 2010).

Fisher, A. (2009). Berpikir Kritis Sebuah Pengantar sebuah pengantar. Jakarta: Erlangga

Handayani, E. (2002). Pengembangan model pembelajaran hasil kali kelarutan untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa SMU kelas 3. Tesis pada SPS UPI.

Hayden, T. Mengakomodasi murid berkebutuhan khusus. (On line). Tersedia: http://www.torey/hayden.com. (diakses 4 Januari 2011).

54

Hendriana, H. (2002). Meningkatkan kemampuan pengajuan dan pemecahan masalah matematika dengan pembelajaran reciprocal teaching. Tesis pada SPs UPI. Lie, A. 2002. Cooveratif Learning: Memptaktikkan Cooperatif Learning di Ruang/

Ruang Kelas. Jakarta : PT. Grasindo

Palinscar, A.(1986). Reciprocal Teaching. (On line). Tersedia:

http://www.ncrel.org/sdrs/areas/issues/students/atrisk/at6lk38.htm (11 Januari 2011)

Rahman, A. (2004). Meningkatkan kemampuan pemahaman dan kemampuan generalisasi matematika siswa melalui pembelajaran berbalik. Tesis pada PPS UPI Bandung. Tidak diterbitkan

Riduwan (2006). Dasar/ dasar Statistika. Bandung : Alfabeta

Ruseffendi, E. T (2005). Dasar dasar penelitian pendidikan dan bidang non eksakta lainnya. Bandung : Tarsito

Sabandar, J (2010). “THINKING CLASSROOM” DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA DI SEKOLAH. (On Line). Diakses tanggal 2 Januari 2011. Tersedia: http://math.unipa.it/~grim/Aglazer79 84.pdf.

Sudjana. (1996). Metoda Statistika. Bandung : Sinar Baru

Suherman, E. 2001. Common Textbook: Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer. Bandung: Jica Universitas Pendidikan Indonesia (UPI)

Sumarmo, U. (2010). Berpikir dan disposisi matematik: apa, mengapa, dan bagaimana dikembnagkan pada peserta didik. Jurnal FMIPA UPI Bandung.

_________(2003). Pembelajaran keterampilan membaca matematika pada siswa sekolah menengah. Tesis pada PPS UPI Bandung.

Van de Walle. (2008). Sekolah Dasar dan Menengah MATEMATIKA Pengembangan Pengajaran. Jakarta: Erlangga.

Wan shiu Hsu. (1995). Review of Reciprocal Teaching From Emerging Perspectives on Learning, Teaching and Technology. Indiana University in Bloomington. (tersedia pada : navigation, search ), diakses 4 Januari 2011

Yulianti. (2010). Pengembangan Perangkat Pembelajaran berbasis Reciprocal Teaching untuk melatih kemampuan berpikir kritis matematika siswa di SMKN 3 Lubuk Linggau. Tesis pada PPS UNSRI Palembang. Tidak diterbitkan

55

B C > 2'- 5 2 >9!- @2 5 82B 2>&- 2& "8"' 5 88! A . % D$ 1" % 7 7 "2 % 9 < ' 2# !7 ( < ' 2# !

Berdasarkan observasi peneliti langsung dan informasi yang didapat dari guru mata pelajaran matematika dikelas VII SMP Bina Tama Palembang mengatakan bahwa dalam proses pembelajaran yang berlangsung selama ini masih menggunakan pembelajaran konvensional (biasa) yaitu pembelajaran yang berpusat pada guru dan menjadikan siswa sebagai penerima informasi atau siswa hanya menjadi objek dalam pembelajaran, sehingga siswa merasa bosan dan jenuh belajar matematika. Hal ini berakibat rendahnya pemahaman konsep siswa padahal kemampuan pemahaman konsep sangat diperlukan siswa dalam pembelajaran matematika. Salah satu upaya yang dapat dilakukan guru agar pemahaman konsep siswa dalam pembelajaran matematika dapat tercapai adalah dengan menerapkan Model Pembelajaran SAVI yang merupakan pembelajaran yang menggabungkan dan memanfaatkan seluruh alat indera yang dimiliki (tubuh, pendengaran, penglihatan, dan kemampuan berpikir). Sampel dalam penelitian ini adalah kelas VII.1 (kelas eksperimen) dan VII.3 (kelas kontrol). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode eksperimen dengan posttest/only control design. Pengumpulan data dilakukan dengan teknik dokumentasi guru untuk mengetahui kemampuan awal matematika siswa sebelum dikenai perlakuan pembelajaran dan tes kemampuan pemahaman konsep setelah dikenai perlakuan pembelajaran. Analisis data dilakukan dengan uji/t. Hasil analisis data tes membuktikan bahwa ada pengaruh model pembelajaran SAVI terhadap pemahaman konsep siswa di SMP Bina Tama Palembang dalam pembelajaran matematika. Hal ini dapat dilihat dari nilai rata/rata hasil tes kelas eksperimen adalah 75,4 dan hasil tes kelas kontrol adalah 70,3. Ini menunjukkan bahwa pemahaman konsep siswa kelas eksperimen lebih baik daripada kelas kontrol.

56

' $ !

Pada umumnya ketidakberhasilan siswa dalam menguasai dan memahami materi terutama dalam soal soal bangun segiempat diantaranya dikarenakan kurangnya penguasaan siswa terhadap pemahaman konsep konsep matematika dan metode pembelajaran yang digunakan oleh guru kurang efektif. Hal ini dapat dilihat dari kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal soal yang membutuhkan pemahaman tentang konsep konsep suatu materi pelajaran karena kurang efektifnya model pembelajaran yang digunakan oleh guru. Sehingga kegiatan belajar mengajar yang berlangsung menjadi membosankan bagi siswa.

Dari hasil wawancara dengan guru kelas dan observasi langsung peneliti dikelas VII SMP Bina Tama Palembang, diketahui bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam menyelesaikan masalah matematika karena pemahaman konsep yang masih sangat kurang dan dalam proses pembelajaran guru masih menggunakan pembelajaran biasa (konvensional) sehingga proses pembelajaran tidak begitu efektif. Jarangnya siswa dilibatkan dalam mencari penyelesaian suatu masalah mengakibatkan siswa lebih bersifat pasif atau hanya mendengarkan penjelasan guru, hal ini memicu kebosanan siswa dalam belajar sehingga siswa tidak dapat menguasai materi ajar dari guru dan pemahaman konsep tidak tercapai. Faktor lain yaitu siswa sulit membayangkan suatu objek yang abstrak. Untuk melaksanakan pembelajaran yang sesuai dengan cara belajar siswa yang berbeda beda dan dapat mencapai pemahaman konsep pada siswa, maka perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang efektif. Dimana diharapkan dengan model pembelajaran yang berbeda dengan model pembelajaran yang biasa (konvensional), siswa dapat menguasai materi ajar dari guru dan pemahaman konsep dapat tercapai.

( 2# ' %

Agar permasalahan dalam penelitian ini tidak meluas serta tidak menyimpang dari tujuan sebenarnya, maka peneliti memberikan batas ruang lingkup dari permasalahan diatas :

Dalam dokumen PROSIDING SEMNAS U PGRI 2011 (Halaman 192-200)

Dokumen terkait