BAB II IMPLIKASI KLAUSULA PILIHAN HUKUM (CHOICE
B. Kewenangan Mengadili (Kompetensi) Pengadilan di Indonesia
Kompetensi hakim Indonesia dalam mengadili perkara-perkara perdata yang memiliki unsur asing tidak secara khusus diatur oleh HIR, yang merupakan hukum acara yang berlaku untuk Indonesia saat ini.290 Namun HIR mengatur landasan
289Ibid., h. 202.
290Sudargo Gautama IV, op.cit., h. 210.
101
penentuan kompetensi relatif pengadilan merujuk kepada asas-asas yang ditentukan pasal 118 HIR jo 142 RBg Jo 99 Rv.
Asas actor sequitur forum rei (asas yang menetapkan bahwa "tempat tergugat berada menentukan tempat pengadilan") yang umumnya digunakan untuk menetapkan yurisdiksi pengadilan dalam perkara-perkara lokal, ternyata tidak selalu dapat digunakan secara efektif karena connection dalam perkara-perkara di bidang hukum perdata internasional sering kali dibentuk melalui titik-titik taut lain, seperti pelaksanaan kontrak.291
Penentuan dasar yurisdiksi suatu pengadilan, dalam praktik litigasi internasional, umumnya dibedakan ke dalam yurisdiksi in personam, in rem, dan quasi in rem.
Yurisdiksi in personam adalah yurisdiksi atas orang (persons). Jenis yurisdiksi ini umumnya dianggap sebagai yurisdiksi tidak terbatas (unlimited jurisdiction), dalam arti bahwa pengadilan yang memiliki yurisdiksi in personam atas
"seseorang tergugat" akan dianggap memiliki kewenangan untuk memutus perkara atas tergugat itu untuk jumlah yang tidak terbatas dan menyangkut seluruh aset miliknya. Yurisdiksi in personam dapat terbit karena kehadiran (presence), tempat kediaman (domicile), penundukan sukarela (consent), dan adanya pertautan minimum (minimum contacts).292
291Bayu Seto Hardjowahono, op.cit., h. 175.
292Ibid., h. 175-176.
Yurisdiksi in rem adalah yurisdiksi atas benda yang berada di dalam wilayah negara forum, yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan perkara yang sedang dihadapi. Pengadilan yang memiliki kewenangan yurisdiksi in rem memiliki kewenangan untuk mengadili sengketa-sengketa yang berkenaan dengan title atas benda-benda tertentu yang berada di wilayah forum.293
Yurisdiksi quasi in rem, untuk perkara-perkara yang secara tidak langsung menyelesaikan gugatan atas kepemilikan tergugat atas suatu kebendaan yang berkaitan dengan perkara, tetapi hanya karena penggugat menuntut agar kekayaaan tertentu milik tergugat yang ada di wilayah forum "dilekatkan" (attached) pada perkara walaupun tidak ada kaitan langsung antara kekayaan itu dan pokok perkara.294
Menetapkan kewenangan mengadili pengadilan di Indonesia terhadap sengketa kontrak bisnis internasional harus memperhatikan masalah prinsip-prinsip yang berkaitan dengan kewenangan mengadili.
Hakim dalam menentukan kewenangan forum juga harus berpegang pada prinsip-prinsip hukum acara perdata internasional. Beberapa prinsip penetapan yurisdiksi dalam proses litigasi perdata internasional, yaitu:
293Ibid., h. 176.
294Ibid.
103
1. Yurisdiksi Teritorial Atas Dasar Domisili (Tergugat)
Berdasarkan prinsip actor sequitur rei, gugatan umumnya diajukan di tempat di mana tergugat berdomisili atau berkediaman tetap.
Yurisdiksi dalam arti ini pada dasarnya sama dengan yurisdiksi atas perkara-perkara domestik. Prinsip forum rei itu dimaksudkan untuk mengupayakan perlindungan hukum bagi pihak tergugat, yang mungkin akan menghadapi kesulitan dan ketidakadilan jika ia harus diadili di suatu pengadilan asing.295
Rasio di belakang prinsip ini adalah bahwa domisili merupakan tempat di mana seseorang secara terus-menerus (continously) berada dan karena itu ia dapat digugat tanpa harus ada pembatasan-pembatasan tertentu mengenai jenis pokok perkara (subject matter) dan tanpa ada persyaratan untuk membuktikan adanya connection antara domisili tergugat dan pokok perkara yang dihadapi. Karena itulah, yurisdiksi pengadilan di tempat domisili tergugat dikatakan memiliki general jurisdiction atas tergugat yang bersangkutan.296
Tergugat sebagai badan hukum, tidak ditentukan berdasarkan domisili badan hukum itu, tetapi berdasarkan lokasi badan hukum tersebut. Negara-negara tertentu menetapkan "lokasi" atas dasar tempat pengelolaan utama dan pengawasan (chief management and control, siege social) badan hukum itu berada (Prancis), atau tempat pusat operasi (central location of the companys operation) badan hukum itu (Jerman),
295Ibid., h. 177.
296Ibid.
atau tempat di mana badan hukum itu didirikan secara hukum (place of incorporation-Inggris).297
2. Yurisdiksi Khusus Dalam Perjanjian dan Perbuatan Melawan Hukum
Di banyak hukum acara negara-negara di dunia, penggugat dapat mengajukan gugatan di tempat pelaksanaan suatu kontrak (place of performance of the obligation dalam hal kontrak) atau dalam hal perbuatan melawan hukum (tort), di tempat di mana peristiwa atau perbuatan yang merugikan dianggap terjadi (place where the harmful event or tort occurred).298
Pertautan tergugat-domisili memberikan dasar bagi forum untuk mengklaim general jurisdiction, dalam hal kontrak dan perbuatan melawan hukum pengadilan setempat dapat mengklaim specific jurisdiction (jurisdiksi khusus). Dikatakan
"specific" karena harus dipenuhinya persyaratan adanya hubungan antara perikatan dan perkara. Akan tetapi, begitu sebuah forum memiliki kewenangan "spesifik" ini, maka umumnya forum dianggap memiliki yurisdiksi tak terbatas (unlimited jurisdiction) atas tergugat.299
Secara tradisional banyak negara yang mengakui kewenangan yurisdiksional dari forum di tempat di mana perjanjian dibuat (forum contractus). Namun, dalam
297Ibid.
298Ibid., h. 178.
299Ibid.
105
perkembangannya konsep forum contractus semakin bergeser ke arah forum solutionis (tempat pelaksanaan kontrak).300
3. Yurisdiksi Karena Persetujuan
Yurisdiksi dapat juga diklaim oleh sebuah forum atas dasar kenyataan bahwa para pihak (khususnya tergugat) telah secara sukarela memilih untuk mempertahankan dirinya dan harta kekayaannya di depan suatu forum asing, baik melalui suatu choice of forum clause di dalam suatu kontrak maupun melalui persetujuan tertulis yang dibuat pada saat sengketa timbul.301
4. Yurisdiksi Atas Dasar Rei Sitae
Menerbitkan kewenangan yurisdiksional pada forum dari tempat letak benda yang melekat pada gugatan pihak tergugat.302
Yurisdiksi hukum (judicial jurisdiction) pada dasarnya berkaitan dengan masalah apakah sebuah pengadilan memilki kaitan yang cukup (sufficient connection) terhadap orang atau pihak yang berkedudukan sebagai tergugat (defendant), atau hak milik kebendaan (property) yang terlibat dalam perkara, atau transaksi dasar (the underlying transaction) dari perkara sebagai dasar justifikasi klaim pengadilan tersebut untuk mengadili perkara yang bersangkutan.303
300Ibid.
301Ibid., h. 179.
302Ibid., h. 180.
303Ibid., h. 185.
Perkembangan modern yang diterapkan pengadilan suatu negara untuk melaksanakan yurisdiksi atas perkara hukum perdata internasional tidak lagi didasarkan pada prinsip kedaulatan teritorial atas orang dan benda yang berada di dalam wilayah negara forum. Prinsip yang semakin banyak digunakan secara internasional adalah pertimbangan adanya pertautan minimum dan prinsip kewajaran yang mendasar (minimum contacts and fundamental fairness). 304
Artinya, pengadilan hanya dapat melaksanakan yurisdiksi jika terdapat pertautan minimum antara tergugat dan negara forum sedemikian rupa sehingga pihak tergugat akan menerima perlakuan yang wajar dan adil serta yang dewasa ini membentuk kriteria penentuan ada/tidaknya minimum contacts antara forum dan perkara sehingga forum dapat mengklaim general jurisdiction atau specific jurisdiction.305
Perkembangan mutakhir menggambarkan upaya harmonisasi internasional, tampak dari penetapan Principles of Transnational Civil Procedure (2004) (PTCP).
Sekumpulan asas dan aturan-aturan hukum acara perdata transnasional ini merupakan hasil kolaborasi antara UNIDROIT dan The American Law Institute, dan jelas merupakan upaya untuk mengharmonisasikan asas dan aturan hukum acara perdata dalam penyelesaian perkara-perkara perdagangan transnasional (transnational commercial disputes), meminimalisasi perbedaan-perbedaan yang selama ini ada
304Ibid., h. 186.
305Ibid.
107
antara prinsip-prinsip dan aturan-aturan hukum acara dalam tradisi Anglo-Amerika (common law) dan tradisi Eropa Kontinental (civil law).306
Teks sementara (interim draft) yang telah disusun mengatur persoalan yurisdiksi transnasional yang pada dasarnya merupakan pengejawatan dari prinsip-prinsip PTCP, yakni:
1. Yurisdiksi pengadilan atas seorang penggugat dianggap tercipta dengan dimulainya proses gugatan oleh penggugat atau atas seseorang apabila orang itu melakukan intervensi terhadap jalannya proses pemeriksaan perkara oleh forum yang bersangkutan.
2. Yurisdiksi dapat dianggap terbentuk atas orang lain (selain mereka yang disebut pada butir 1 di atas) atas dasar:
a. Persetujuan orang itu untuk tunduk pada yurisdiksi pengadilan.
b. Tempat kediaman sehari-hari (habitual residence) dari orang itu di wilayah negara forum.
c. Penerbitan anggaran dasar sebuah organisasi/badan hukum oleh negara forum atau tempat pusat bisnis atau pusat kegiatan administratif dari badan hukum itu di negara forum.
d. Kenyataan bahwa orang itu telah menyediakan barang atau jasa di negara forum atau telah sepakat untuk melakukan itu apabila proses peradilan menyangkut barang atau jasa seperti itu, dan ataupun melakukan tindakan melawan hukum di wilayah negara forum atau prilaku lain yang berakibat langsung di wilayah forum apabila proses peradilan menyangkut tindakan-tindakan seperti itu.
3. Yurisdiksi dapat dilaksanakan terhadap seseorang yang mengklaim suatu kepentingan tertentu (kepemilikan, jaminan, dan sebagainya) properti yang terletak di wilayah forum yang berkenaan dengan kepentingan itu.
4. Yurisdiksi dapat dilaksanakan atas sebuah perkara apabila tidak tersedia forum lain yang lebih sesuai dan ditetapkan atas dasar:
a. Kehadiran atau kewarganegaraan tergugat di wilayah negara forum.
b. Kehadiran properti milik pihak tergugat, tanpa memedulikan apakah perkara memiliki kaitan dengan properti itu atau tidak, selama kewenangan itu terbatas pada properti tersebut atau nilai properti yang bersangkutan.307
306Ibid., h. 202.
307Ibid., h. 204.
C. Kewenangan Pengadilan di Indonesia Dalam Kontrak Bisnis Internasional