BAB II IMPLIKASI KLAUSULA PILIHAN HUKUM (CHOICE
A. Wewenang Mengadili (Kompetensi) Pengadilan Negeri
2. Kompetensi Relatif Terhadap Sengketa Kontrak Bisnis
Kompetensi Relatif diartikan sebagai kekuasaan pengadilan yang satu jenis dan satu tingkatan, dalam perbedaannya dengan kekuasaan pengadilan yang sama jenis dan sama tingkatan lainnya. Atau dengan kata lain bahwa setiap lembaga Peradilan mempunyai wilayah hukum tertentu, dalam hal ini meliputi satu kotamadya atau satu kabupaten.278
Setiap Pengadilan Negeri terbatas daerah hukumnya. Hal itu sesuai dengan kedudukan Pengadilan Negeri, hanya berada pada wilayah tertentu. Menurut Pasal 4 ayat (1) UU No. 2 Tahun 1986 yakni Pengadilan Negeri berkedudukan di Kotamadya atau di ibukota Kabupaten dan daerah hukumnya, meliputi wilayah Kotamadya atau Kabupaten yang bersangkutan.279
Perkara yang disengketakan meskipun termasuk dalam yurisdiksi absolut lingkungan peradilan umum, namun kewenangan absolut itu dibatasi oleh
277Ibid., h. 398.
278Roihan Rasyid, op.cit., h. 27.
279M. Yahya Harahap I, op.cit., h. 190.
kewenangan relatif Pengadilan Negeri. Jika perkara yang terjadi di luar daerah hukumnya, secara relatif Pengadilan Negeri tersebut tidak berwenang mengadilinya.
Apabila terjadi pelampauan batas daerah hukum, berarti Pengadilan Negeri yang bersangkutan melakukan tindakan melampaui batas kewenangan (exceeding its power). Tindakan itu berakibat, pemeriksaan dan putusan yang dijatuhkan dalam perkara itu, tidak sah. Oleh karena itu, harus dibatalkan atas alasan pemeriksaan dan putusan yang dijatuhkan, dilakukan oleh Pengadilan Negeri yang tidak berwenang untuk itu.280
Landasan penentuan kompetensi relatif suatu peradilan merujuk kepada asas-asas yang ditentukan pasal 118 HIR jo 142 RBg Jo 99 Rv.281 Beberapa patokan yang ditentukan undang-undang dalam menentukan kompetensi relatif, agar pengajuan gugatan tidak salah dan keliru, sebagai berikut:
a. Actor Sequitur Forum Rei (Actor Rei Forum Sequitur)
Patokan ini digariskan Pasal 118 ayat (1) HIR yang menegaskan bahwa yang berwenang mengadili suatu perkara adalah Pengadilan Negeri tempat tinggal tergugat oleh karena itu, agar gugatan yang diajukan penggugat tidak melanggar batas kompetensi relatif, gugatan harus diajukan dan dimasukan pada Pengadilan Negeri yang berkedudukan di wilayah atau daerah hukum tempat tinggal tergugat.
280Ibid., h. 191-192.
281Randang S. Ivan, “Tinjauan Yuridis Tentang Peranan Identitas Domisili Dalam Menentukan Kompetensi Relatif Pengadilan, Lex Privatum”, Vol. IV/No. 1, UNSRAT, Manado, 2016, h. 29.
97
Asas Actor sequitur forum rei sebetulnya merupakan salah satu implementasi dari asas Audi et alteram partem (hakim harus memperhatikan kepentingan kedua belah pihak secara adil), karena pada dasarnya gugatan diajukan untuk kepentingan penggugat yang “belum tentu benar”. Oleh karena itu tergugat yang “belum tentu bersalah” harus dihormati sedemikian rupa dan tidak boleh dipaksa untuk bersusah payah datang ke pengadilan yang berada di wilayah hukum penggugat yang bisa jadi jauh dari tempat tinggal Tergugat.282
Tempat tinggal tergugat adalah tempat tinggal yang berdasarkan KTP, Kartu Keluarga atau surat pajak. Perubahan tempat kediaman setelah gugatan diajukan tidak akan mempengaruhi keabsahan gugatan secara relatif. Hal ini untuk menjamin kepastian hukum dan melindungi kepentingan penggugat.283
Penerapan kompetensi relatif, dalam hal Tergugat memiliki dua atau lebih tempat tinggal atau kediaman yang jelas, telah ada putusan Mahkamah Agung tanggal 28 September 1985 No. 604 K/PDT/1984, yang dalam pertimbangannya mengatakan:
bahwa berdasarkan bukti yang diajukan penggugat atau tergugat, ditemukan fakta yang membuktikan tergugat mempunyai dua tempat tinggal atau kediaman yang jelas, maka tidak ada larangan bagi penggugat untuk memilih mengajukan gugatan kepada Pengadilan Negeri dari salah satu tempat tinggal tergugat, yang paling menguntungkan baginya. Oleh karenanya gugatan yang diajukan penggugat kepada
282Ibid., h. 26-27.
283Ibid., h. 29.
salah satu Pengadilan Negeri tersebut, tidak melanggar asas Actor Sequitor Forum Rei, sebagaimana ditentukan Pasal 118 ayat (1) HIR - Pasal 142 ayat (1) RBg.284 b. Actor Sequitur Forum Rei dengan Hak Opsi
Diatur dalam Pasal 118 ayat (2) HIR, yakni jika tergugat lebih dari seorang, sedangkan mereka tidak tinggal di dalam itu, dimajukan kepada ketua pengadilan negeri di tempat salah seorang dari tergugat itu, yang dipilih oleh penggugat.285
c. Actor Sequitur Forum Rei Tanpa Hak Opsi, tetapi Berdasarkan Tempat Tinggal Debitur Principal
Kalimat kedua Pasal 118 ayat (2) HIR dan Pasal 99 ayat (6) Rv menjelaskan jika yang digugat itu adalah seorang debitur utama dan seorang penanggungnya maka, tuntutan itu diajukan kepada ketua Pengadilan Negeri di tempat tinggal debitur utama atau salah seorang debitur utama.
Menghadapi kompetensi relatif yang berkenaan dengan sengketa yang timbul antara kreditur dengan debitur serta penjamin, undang-undang tetap mempertahankan sifat aksesoir perjanjian penjaminan, sehingga untuk menentukan kompetensi realtif Pengadilan Negeri dalam penyelesaian sengketa, mutlak berpatokan pada tempat tinggal debitur pokok (principal).286
d. Pengadilan Negeri di Daerah Hukum Tempat Tinggal Penggugat
284H. Djafni Djamal, Permasalahan Hukum Acara perdata Secara Holistik, Komisi Yudisial, Jakarta, 2013, h. 4.
285R. Soesilo, RIB/HIR dengan penjelasan, Politeia, Bogor, 1985, h. 77.
286M. Yahya Harahap I, op.cit., h. 196-197.
99
Ketentuan Pasal 118 ayat (3) HIR - Pasal 142 ayat (3) RBg ini memberi hak kepada penggugat untuk mengajukan gugatan kepada Pengadilan Negeri ditempat tinggal penggugat atau salah seorang penggugat, apabila orang yang digugat tidak diketahui tempat tinggalnya.
Penerapan ketentuan Pasal 118 ayat (3) HIR ini harus diwaspadai tentang kemungkinan penerapannya dimanipulasi oleh pihak penggugat oleh karena itu gugatan harus disertai dengan Surat Keterangan dari pejabat yang berwenang yang menyatakan tempat tinggal tergugat tidak diketahui.287 Apabila pihak penggugat terdiri dari beberapa orang dan mereka bertempat tinggal dalam beberapa wilayah hukum Pengadilan Negeri yang berbeda, para penggugat dapat memilih salah satu Pengadilan Negeri yang mereka anggap paling efektif dan efisien.288
e. Forum Rei Sitae (Tempat Barang Sengketa)
Pasal 118 ayat (3) HIR pada kalimat terakhirnya juga mengatur bahwa apabila gugatan itu diajukan terhadap barang tetap atau barang tidak bergerak, maka gugatan harus diajukan kepada Pengadilan Negeri yang dalam daerah hukumnya terletak barang tetap atau benda tidak bergerak tersebut.
f. Kompetensi Relatif Berdasarkan Pemilihan Domisili
Pasal 118 ayat (4) HIR memuat ketentuan bahwa para pihak dapat membuat suatu perjanjian (akta) untuk menyepakati suatu domisili pilihan tetapi domisili
287H. Djafni Djamal, op.cit., h. 5.
288M. Yahya Harahap I, op.cit., h. 197-198.
pilihan yang telah disepakati tersebut tidak bersifat mutlak. Adapun yang di maksud tidak bersifat mutlak adalah bahwa penggugat bila mau atau menghendaki dapat mengajukan gugatan kepada Pengadilan Negeri yang telah menjadi domisili pilihan tersebut, tetapi hal ini tidak menutupi apabila penggugat mau atau menghendaki dapat juga mengajukan gugatan kepada Pengadilan Negeri domisili tergugat atau salah satu tergugat bertempat tinggal.
Bertitik tolak dari kebebasan tersebut, tidak ada dasar hukum bagi tergugat mengajukan eksepsi terhadap kompetensi relatif yang dipilih penggugat. Pengadilan harus menolak eksepsi yang demikian, atas dasar pengajuan gugatan tidak melanggar batas dan sistem kompetensi relatif yang digariskan Pasal 118 ayat (4) HIR. Oleh karena itu hakim yang bersikap menerapkan kompetensi relatif berdasarkan domisili pilihan secara mutlak, bertentangan dengan undang-undang.289
B. Kewenangan Mengadili (Kompetensi) Pengadilan di Indonesia Terhadap