BAB II IMPLIKASI KLAUSULA PILIHAN HUKUM (CHOICE
A. Wewenang Mengadili (Kompetensi) Pengadilan Negeri
1. Kompetensi Absolut Terhadap Sengketa Kontrak Bisnis
Kompetensi Absolut artinya kekuasaan pengadilan yang berhubungan dengan jenis perkara atau jenis pengadilan, atau tingkatan pengadilan, dalam
259Subekti, Hukum Acara Pedata, Bina Cipta, Jakarta, 1977, h. 28.
260M. Yahya Harahap I, op.cit., h. 180.
261Ibid.
262Ibid.
89
perbedaanya dengan jenis perkara atau jenis pengadilan, atau tingkatan pengadilan lainnya.263
Pengadilan yang berwenang menyelesaikan sengketa hukum kontrak, menurut Pasal 25 UU No. 48 Tahun 2009, adalah pengadilan negeri sebagai peradilan umum, yang merupakan badan peradilan yang berada di bawah Mahkamah Agung. 264
Putusan pengadilan dalam rangka penyelesaian sengketa hukum kontrak, dilakukan oleh panitera dan juru sita dipimpin oleh ketua pengadilan dengan memperhatikan nilai kemanusiaan dan keadilan berdasarkan Pasal 54 ayat (2) dan ayat (3) UU No. 48 Tahun 2009. Yang di maksud dengan "dipimpin" dalam ketentuan ini mencakup pengawasan dan tanggung jawab sejak diterimanya permohonan sampai dengan selesainya pelaksanaan putusan.265
Pasal 15 UU No. 48 Tahun 2009 adalah dasar hukum pembentukan pengadilan khusus di lingkungan peradilan umum, antara lain pengadilan niaga dan pengadilan hubungan industrial, yang pembentukannya harus diatur dengan undang-undang. Kemudian, dalam Pasal 10 Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2004 dan Undang-Undang Nomor 49 tahun 2009 tentang Peradilan Umum, secara tegas juga
263Roihan Rasyid, Hukum Acara Peradilan Agama, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, h.
26.
264Muhammad Syaifuddin, op.cit., h. 392.
265Ibid., h. 395.
dinyatakan bahwa "di lingkungan peradilan Umum dapat diadakan pengkhususan yang diatur dengan undang-undang".266
Pengadilan niaga sebagai pengadilan khusus di lingkungan peradilan umum, pertama kalinya didirikan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat berdasarkan Pasal 281 ayat (1) Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1998 yang kemudian ditetapkan sebagai undang-undang berdasarkan Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1998. Pengadilan niaga di maksud, kemudian dinyatakan tetap berwenang memeriksa dan memutus perkara yang menjadi lingkup pengadilan niaga sebagaimana ditegaskan dalam Pasal 306 Undang- Undang Nomor 37 Tahun 2004 tentang Kepailitan dan Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (selanjutnya disingkat UU No.37 Tahun 2004). 267
Kompetensi pengadilan niaga ditentukan secara tegas dalam Pasal 300 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004, yaitu memeriksa dan memutus permohonan pernyataan pailit dan penundaan kewajiban pembayaran utang (PKPU) serta memeriksa dan memutus perkara lain di bidang perniagaan yang penetapannya dilakukan dengan undang-undang. Ini berarti bahwa pengadilan niaga selain mempunyai kewenangan absolut memeriksa setiap permohonan pernyataan pailit dan PKPU, juga berwenang memeriksa perkara lain di bidang perniagaan yaitu ditetapkannya dengan
266Ibid.
267Ibid.
91
undang. Contoh dari perkara lain di bidang perniagaan yang juga menjadi kompetensi pengadilan niaga saat ini adalah perkara hak kekayaan intelektual.268
Memperhatikan substansi Pasal 300 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004, dapat dijelaskan bahwa pengadilan niaga berwenang menyelesaikan sengketa hukum kontrak utang piutang dan kontrak yang mendasari pengalihan hak kekayaan intelektual (hibah, jual beli, lisensi).269
Pasal 300 UU No. 37 Tahun 2004 juga mempertegas kewenangan pengadilan niaga yang terkait dengan kontrak yang memuat klausula arbitrase, yaitu pengadilan niaga tetap berwenang memeriksa dan menyelesaikan permohonan pernyataan pailit dari para pihak yang terkait kontrak yang memuat klausul arbitrase, sepanjang utang yang menjadi dasar permohonan pernyataan pailit telah memenuhi ketentuan sebagaimana di maksud dalam Pasal 2 ayat (1) undang-undang ini, yaitu adanya dua atau lebih kreditor dan tidak membayar lunas sedikitnya satu utang yang telah jatuh waktu dan dapat ditagih.270
Kemudian, hukum acara yang berlaku bagi penyelesaian perkara kepailitan dan PKPU di pengadilan niaga menurut Pasal 299 UU No. 37 Tahun 2004 adalah Hukum Acara Perdata, kecuali ditentukan lain dalam UU No. 37 Tahun 2004 ini. 271
268Ibid.
269Ibid., h. 396.
270Ibid.
271Ibid.
Selain pengadilan niaga, pengadilan khusus di lingkungan peradilan umum adalah pengadilan hubungan industrial sebagaimana diatur dengan Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2004 tentang Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial (selanjutnya disingkat UU No. 2 Tahun 2004).
Pengadilan hubungan industrial, menurut Pasal 1 angka 17 UU No. 2 Tahun 2004, adalah "pengadilan khusus yang dibentuk di lingkungan pengadilan negeri yang berwenang memeriksa, mengadili dan memberi putusan terhadap perselisihan hubungan industrial". Adapun "perselisihan hubungan industrial"
menurut Pasal 1 angka 1 UU No. 2 Tahun 2004, adalah "perbedaan pendapat yang mengakibatkan pertentangan antara pengusaha atau gabungan pengusaha dengan pekerja/buruh atau serikat pekerja/serikat buruh, karena adanya perselisihan mengenai hak, perselisihan kepentingan, perselisihan pemutusan hubungan kerja dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan". Yang di maksud dengan "perselisihan hak" adalah "perselisihan yang timbul karena tidak dipenuhinya hak, akibat adanya perbedaan pelaksanaan atau penafsiran terhadap ketentuan peraturan perundang-undangan, perjanjian kerja, peraturan perusahaan atau perjanjian kerja bersama" (vide Pasal 1 angka 2). Kemudian "perselisihan kepentingan" adalah "perselisihan yang timbul dalam hubungan kerja, karena tidak adanya kesesuaian pendapat mengenai pembuatan, dan/atau perubahan syarat-syarat kerja yang ditetapkan dalam perjanjian kerja atau perusahaan, atau perjanjian kerja bersama" (vide Pasal 1 angka 3). Selanjutnya, "perselisihan pemutusan hubugan kerja" adalah "perselisihan yang timbul karena tidak adanya kesesuaian pendapat
93
mengenai pengakhiran hubungan kerja yang dilakukan oleh salah satu pihak" (vide Pasal 1 angka 4).272
Pasal 3 ayat (3) UU No. 2 Tahun 2004 memuat ketentuan imperatif bahwa perselisihan hubungan industrial wajib diupayakan penyelesaiannya terlebih dahulu melalui perundingan bipartit secara musyawarah untuk mencapai mufakat. Jika perundingan bipartit secara musyawarah tidak mencapai mufakat, maka para pihak baru dapat mengajukan penyelesaian perselisihan hubungan industrialnya kepada pengadilan hubungan industrial.273
Pengadilan hubungan industrial menurut Pasal 55 UU No. 2 Tahun 2004 merupakan pengadilan khusus yang berada pada lingkungan peradilan umum.
Selajutnya, berdasarkan Pasal 56 UU No. 2 Tahun 2004 Pengadilan hubungan industrial bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus:
a. di tingkat pertama mengenai perselisihan hak;
b. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan kepentingan;
c. di tingkat pertama mengenai perselisihan pemutusan hubungan kerja;
d. di tingkat pertama dan terakhir mengenai perselisihan antar serikat kerja/serikat buruh dalam satu perusahaan. 274
Memperhatikan substansi Pasal 56 UU No. 2 Tahun 2004, dapat dijelaskan bahwa pengadilan hubungan industrial berwenang menyelesaikan sengketa hukum
272Ibid., h. 396-397.
273Ibid., h. 397.
274Ibid.
kontrak ketenagakerjaan (kontrak kerja dan kontrak kerja bersama). Adapun hukum acara yang berlaku pada pengadilan hubungan industrial adalah Hukum Acara Perdata yang berlaku pada pengadilan dalam lingkungan peradilan umum, kecuali yang diatur secara khusus dalam UU No. 2 Tahun 2004 ini. 275
Menurut Pasal 108 UU No. 2 Tahun 2004, ketua majelis hakim pengadilan hubungan industrial dapat mengeluarkan putusan yang dapat dilaksanakan lebih dahulu, meskipun putusannya diajukan perlawanan atau kasasi. Adapun Pasal 109 UU No. 2 Tahun 2004 memutuskan bahwa putusan pengadilan hubungan industrial pada pengadilan negeri mengenai perselisihan kepentingan dan perselisihan antar serikat pekerja/serikat buruh dalam satu perusahaan merupakan putusan akhir dan bersifat tetap.276
Memperhatikan substansi Pasal 25 UU No. 48 Tahun 2009 dalam kaitannya dengan Pasal 10 UU No. 2 Tahun 1986 sebagaimana telah diubah dengan UU No.8 Tahun 2004 dan UU No. 49 Tahun 2009, serta Pasal 300 ayat (1) UU No. 37 Tahun 2004 dan Pasal 56 UU No. 2 Tahun 2004 sebagaimana diuraikan di atas, dapat ditegaskan kembali, sebagai berikut:
a. Pengadilan negeri berwenang menyelesaikan sengketa hukum kontrak pada umumnya;
275Ibid.
276Ibid., h. 397-398.
95
b. Pengadilan niaga berwenang menyelesaikan sengketa hukum kontrak utang-piutang dan kontrak yang mendasari pengalihan hak kekayaan intelektual (hibah, jual beli dan lisensi);
c. Pengadilan hubungan industrial berwenang menyelesaikan sengketa hukum kontrak ketenagakerjaan (kontrak kerja dan kontrak kerja bersama).277