• Tidak ada hasil yang ditemukan

Khitbah dalam Tradisi Perkawinan Pariaman

BAB II TEORI UMUM TENTANG KHITBAH DALAM ISLAM DAN

C. Khitbah dalam Tradisi Perkawinan Pariaman

Secara umum pengertian khitbah dan tata cara pelaksanannya tidak jauh berbeda dengan tradisi perkawinan di Minangkabau. Masyarakat Pariaman memiliki sistem pernikahan yang berlainan dengan daerah lainnya. Mempelai lelaki (marapulai) dijemput secara adat dalam suatu perkawinan merupakan sesuatu yang lumrah dan umum terjadi dalam masyarakat di daerah lain di Minangkabau. Akan tetapi, marapulai dijemput dengan mensyaratkan adanya uang japuik(jemputan) adalah tradisi khas masyarakat dan merupakan ciri daerah Pariaman.

Bajapuik (jemputan) adalah tradisi perkawinan yang menjadi ciri khusus di daerah Pariaman. Bajapuik dipandang sebagai kewajiban pihak keluarga

32

suami) sebelum akad nikah dilangsungkan.33

Uang japuik pada umumnya berwujud benda yang bernilai ekonomis. Dalam perjalanan tradisi uang japuik terus mengalami perubahan mulai dari model sampai kepada wujud. Dari segi model terdapat pada wujud uang japuik yang berwujud emas, di mana pada awalnya model awalnya berupa rupiah dan ringgit emas.34 Karena model itu sudah ketinggal zaman, sehingga tidak diminati masyarakat dan berubah menjadi cincin, gelang dan kalung emas. Jumlah uang japuik dalam wujud emas ini berkisar antara 2 hingga 20 emas tergantung kepada kesepakatan dan kemampuan dari pihak perempuan. Kemudian pada dekade terakhir ini wujud uang japuik tidak hanya berbentuk emas, tetapi juga dalam bentuk benda lainnya, seperti kendaraan roda dua ataupun roda empat, hingga dibuatkan sebuah rumah.35

Penetapan uang japuikbiasanya ditetapkan dalam acara sebelum perkawinan, biasanya mamak (paman dari pihak ibu) akan bertanya pada calon anak daro, apakah benar-benar siap akan menikah, karena biaya baralek (pesta) beserta isinya termasuk uang japuikakan disiapkan oleh keluarga wanita. Bila keluarganya termasuk sederhana, maka keluarga akan mempertimbangkan menjual harta pusako (harta pusaka/warisan) untuk membiayai pernikahan. Uang japuiksendiri akan ditetapkan oleh kedua belah pihak setelah acara batimbang

33

Welhendri Azwar, Matrilokal Dan Status Perempuan Dalam Tradisi Bajapuik, (Yogyakarta, Galang Press: 2001), h.52.

34

1 rupiah emas berjumlahnya 16,6 gram atau lebih kurang 6,5 emas. Kemudian 1 ringgit emas berjumlah 33 gram atau lebih kurang 13 emas

35

Maihasni, “Eksistensi Tradisi Bajapuik Dalam Perkawinan Masyarakat Pariaman Minangkabau Sumatera Barat", h.95-96.

32

tando dan akan diberikan saat akad nikah oleh pihak keluarga mempelai wanita kepada keluarga pria saat acara manjapuik marapulai.36

Kemudian uang japuik itu akan dikembalikan lagi oleh pihak laki-laki kepada pihak perempuan pada acara manjalang mintuo, biasanya jumlah yang dikembalikan lebih banyak dari uang japuik tadi, misalnya uang japuik 1.000.000 dikembalikan oleh pihak laki-laki 1.500.000 atau 2.000.000.37Lazimnya uang japuik ini berupa benda berharga seperti uang japuik laki-laki senilai rupiah emas polos dan dikembalikan pada pihak perempuan dalam bentuk kalung setelah diberi tampuk sekaligus dengan rantainya. Bagi pihak laki-laki, nilai lebih yang diberikan pada perempuan ini merupakan prestise tersendiri. Keluarga laki-laki akan merasa malu dan terhina apabila nilai pengembalian uang japutan sama atau malah lebih rendah dari yang diterima.38

Jadi uang japuik mengandung makna yang sangat dalam yaitu saling menghargai anatara pihak perempuan dan pihak laki-laki, keika laki-laki dihargai dalam bentuk uang japuik, maka sebaliknya pihak perempuan juga dihargai dengan uang dan emas yang dilebihkan nilainya dari uang japuik, saat pengembalian inilah disebut dengan uang agiah jalang.

36

Ririanty Yunita, Syaiful, M. Basri, “Jurnal Penelitian Kebudayaan Uang Japuik Dalam Adat Perkawinan Padang Pariaman di Bandar Lampung”, (Bandar Lampung: 2012).

37 Muhammad Rani Ismail “Perakawinan Adat Pariaman” Talk Show di Minangtv,

dipublikasikan 1 Maret 2013, diakses pada 8 september 2016 dari https://www.youtube.com/watch?v=iOX1KlrwSh8

38 Bunga Moeleca, “Konstruksi Realitas Makna Bajapuik Pada Pernikahan Bagi Perempuan Pariaman Di Kecamatan Pasir Penyu” diakses pada 24 April 2016 dari http://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/viewFile/5048/493

aktivitas-aktivitas menjelang perkawinan, aktivitas saat perkawinan dan sesudah perkawinan. Berikut penjelasannya:

a.Dalam aktivitas sebelum perkawinan di Pariaman terdiri dari maratak

Tanggoyaitu jika telah merasa ada kecocokan antara keduanya maka pihak perempuan mengunjungi keluarga laki-laki, mamendekkan hetonganyaitu musyawarah antara kedua keluargatentang biaya baralek (pesta) beserta uang japuik yang harus dikeluarkan oleh pihak perempuan dan berbagai persyaratan lainnya, acara ini hanya melibatkan mamak tungganai saja.Batimbang tando (meminang) yaitu keluarga perempuan termasuk didalamnya ninik mamak mendatangi rumah laki-laki membawa berbagai macam persyaratan yang telah dibicarakan sebelumnya. Dalam acara ini calon mempelai laki-laki dan perempuan menerima tanda bahwa mereka akan menikah, kemudian setelah itu meningkat pembicaraan mengenai uang japuik, mahar dan hari pernikahan.

b.Lalu saat perkawinan terdiri dari bakampuang-kampuangan, alek randam, malam bainai, badantam, bainduak bako, manjapuik marapulai, akad nikah, basandiang di rumah anak daro, dan manjalang mintuo.

c.Kemudian aktivitas setelah perkawinan yang wajib dilaksanakan yaitu manganta limau, berfitrah, mangantaperbukoan, dan bulan lemang.39

Setiap tradisi yang dilakukan oleh suatu masyarakat tentu terrdapat nilai-nilai yang terkandung didalamnya. Begitupun dengan tradisi uang japuik,

39Ririanty Yunita, Syaiful, M. Basri, “Jurnal Penelitian Kebudayaan Uang Japuik Dalam Adat Perkawinan Padang Pariaman di Bandar Lampung”, (Bandar Lampung: 2012).

34

setidaknya ada tiga nilai yang terkandung dalam tradisi ini yaitu nilai sosial, nilai budaya dan nilai agama.40

1. Nilai sosial yang ada pada adat tradisi uang japuik ialah untuk menghargai pihak laki-laki yang akan menjadi orang pedatang di keluarga pihak perempuan, agar wibawanya seorang laki-laki yang akan menjadi suaminya lebih ada dan dianggap ada dan untuk menaikkan harkat dan martabat pihak laki-laki makanya mereka di jemput secara adat dan orang pariaman menginterprestasikan kedalam bentuk benda dan uang jemputan yang telah di kenal selama ini.

2. Nilai budaya yang ada pada adat tradisi uang japuikadalah, bahwa tradisi ini merupakan tradisi yang unik yang hanya dimiliki daerah Pariaman dan diluar Pariaman khususnya Sumatera Barat tidak ada tradisi bajapuik dengan menggunakan uang jemputan.

3. Nilai agama yang ada pada adat tradisi uang japuik ini adalah, bahwa dulunya masukknya Islam ke Pariaman. lazimnya Islam masuk dan berkembang pada suatu daerah melalui pendekatan kultural, maka tradisi bajapuik menjadi terlegitimasi oleh nilai agama. Islam dalam pandangan orang Minangkabau adalah sebagai penyempurnaan adat, “adat basandi syarak, syarak basandi kitabullah, syarak mangato adat mamakai (adat bersendi syarak, syarak bersendi kitabullah, syarak mengatur adat melaksanakan).

40 Bunga Moeleca, “Konstruksi Realitas Makna Bajapuik Pada Pernikahan Bagi Perempuan Pariaman Di Kecamatan Pasir Penyu” diakses pada 24 April 2016 dari http://jom.unri.ac.id/index.php/JOMFSIP/article/viewFile/5048/493

terdapat dua dasar pertukaran yakni; gelar kebangsawanan atau gelar keturunan (sidi, bagindo, sutan)41dan status sosial ekonomi atau yang disebut prestasi. Jika pada awalnya diperioritas pada laki-laki yang bergelar keturunan (bangsawan) saat ini berubah menjadi status sosial ekonomi (prestasi). Perubahan itu disebabkan oleh faktor ekonomi khususnya pertumbuhan penduduk yang mengakibatkan menyempitnya lahan. Selain itu faktor pendidikan merantau dan modernisasi secara tidak langsung turut pula dalam perubahan itu.42

Oleh sebab itu pada awalnya dalam tradisi bajapuik, laki-laki yang diterima sebagai menantu adalah yang mempunyai gelar. Meskipun pada saat itu tidak mempunyai pekerjaan yang tetap, laki-laki yang bergelar mendapat perioritas utama diterima sebagai menantu. Pertimbangan pihak keluarga perempuan mencari seorang laki-laki adalah untuk mendapatkan keturunan yang baik. Oleh sebab itu laki-laki tersebut harus mempunyai asal-usul yang jelas. Sementara itu untuk ekonomi rumah tangganya ditanggung oleh keluarganya (dari harta pusaka). Dengan demikian pertimbangan menerima laki-laki--laki yang bergelar adalah agar mendapatkan keturunan yang baik.

Terjadinya perubahan penghargaan dari status sosial gelar kebangsawanan ke status sosial ekonomi (prestasi) jelas merupakan konsekuensi dari berbagai faktor yang mempengaruhi kehidupan masyarakat. Oleh karena itu, pertukaran

41

Gelar sidi berasal dari Syaidina: yakni Syaidina Muhammad artinya penghulu atau pemuka agama; gelar bagindo berasal dari baginda: yakni baginda Rasul yang artinya raja atau pimpinan dan gelar sutan berasal dari kata sultan yang berarti raja atau pemimpin.

42

Maihasni, “Eksistensi Tradisi Bajapuik Dalam Perkawinan Masyarakat Pariaman Minangkabau Sumatera Barat", h. 116

36

sosial tidak selalu dapat diukur dengan nilai uang, sebab dalam berbagai transaksi sosial pertukaran juga mencakup nyata (materi) dan tidak nyata (non materi).43

Dalam penelitian Maihasni, terkait dengan jumlah uang japuik berdasarkan status sosial ekonomi menunjukkan kisaran uang japuik dalam tradisi bajapuik antara Rp 3 sampai 100 juta. Artinya pihak keluarga perempuan akan memberi uang japuik paling rendah Rp 3 juta dan paling tinggi Rp 100 juta. Selain itu terdapat pula jumlah uang japuik melebihi kisaran di atas. Ini terjadi bila pihak keluarga perempuan mempunyai kemampuan ekonomi lebih (orang kaya) dan calon marapulai dipandang mempunyai status sosial ekonomi yang tinggi pula, maka tidak segan-segan pihak keluarga perempuan akan memberikan uang japuik yang lebih tinggi.44 Berikut di tampilkan dalam tabel dibawah:

No Uraian Jumlah

1

Seorang sarjana yang bekerja sebagai PNS 10-15 Juta 2 Seorang sarjana yang tidak mempunyai pekerjaan tetap 5-10 Juta 3 Seorang sarjana yang berpropesi sebagai dokter 25-50 Juta

4

Seorang tamatan AKABRI yang berprofesi sebagai

Angkatan Bersenjata Republik Indonesia 75-100 Juta

5 Seorang tamatan SMA yang bekerja sebagai PNS 5-10 Juta 6 Seorang tamatan SMA yang bekerja sebagai Polisi/TNI 20-30 Juta 7 Seorang tamatan SMA yang bekerja sebagai pegawai

swasta 5-7 Juta

8 Seorang yang tamatan SMA, SMP dengan pekerjaan

sebagai pedagang, buruh tani, sopir, nelayan, 3-5 Juta

43

Maihasni, “Eksistensi Tradisi Bajapuik Dalam Perkawinan Masyarakat Pariaman Minangkabau Sumatera Barat", h. 3-4.

44

Maihasni, “Eksistensi Tradisi Bajapuik Dalam Perkawinan Masyarakat Pariaman Minangkabau Sumatera Barat", h. 119

Data Primer 2008 Penelitian Disertasi Maihasni

Jadi pertukaran yang terjadi dalam tradisi uang japuik ini tidak hanya terdiri dari satu unsur yakni pertukaran uang dengan seorang laki-laki, tetapi juga terdiri dari unsur yaitu pertukaran uang yang berkombinasi dengan nilai/norma. Inilah yang kemudian harus dipahami oleh masyarakat bahwa setiap tradisi itu mempunyai nilai-nilai filosofi secara tersirat mengandung maksud dan tujuan dalam menata kehidupan bermasyarakat.

37

Dokumen terkait