• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah

Dalam dokumen SKRIPSI. Diajukan Oleh: Winda Dwi Lestari (Halaman 38-0)

BAB I PENDAHULUAN

2.1 Landasan Teori

2.1.9 Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah

Kinerja adalah gambaran pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan, program, kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi (Hazmi dkk, 2012:1). Kinerja manajerial adalah kinerja para individu anggota organisasi dalam kegiatan manajerial, yang meliputi: perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pengaturan staf, negoisasi, perwakilan (Hazmi dkk, 2012:1). Dalam sisi pemerintahan kinerja merupakan prestasi kerja seorang pegawai atas tugas yang diberikan oleh atasan (Hazmi dkk, 2012:3). Dalam organisasi pemerintahan, kinerja pemerintah daerah dapat diketahui melalui tingkat pencapaian hasil (out put) dari pelaksanaan anggaran (Hazmi dkk, 2012:3). Kinerja manajerial instansi pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur pemerintah (Astini dkk, 2014:1).

21 Kinerja instansi pemerintahan dinilai dari bagaimana unit kerja aparatur pemerintahan berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik dengan mendayagunakan sumberdaya yang ada. Pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu manajer publik atau pimpinan dalam menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial dan non finansial (Ardiansyah, 2010:73). Anggaran yang telah disusun memiliki peranan sebagai perencanaan dan sebagai kriteria kinerja, yaitu anggaran digunakan sebagai sistem pengendalian untuk mengukur kinerja manajerial (Ardiansyah, 2010:73). Seiring dengan peranan anggaran tersebut, juga menyatakan bahwa kunci dari kinerja yang efektif adalah apabila tujuan dari anggaran tercapai dan partisipasi dari bawahan memegang peranan penting dalam mencapai tujuan tersebut (Ardiansyah, 2010:73).

2.1.10 Indikator Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah

Indikator kinerja manajerial instansi pemerintah daerah (Putra, 2013:4) sebagai berikut :

1. Perencanaan adalah penentuan tujuan, kebijakan rencana kegiatan seperti penjadwalan kerja, penyusunan anggaran dan penyusunan program.

2. Investigasi adalah kegiatan untuk melakukan pemeriksaan melalui pengumpulan dan penyampaian informasi sebagai bahan pencatatan, pembuatan laporan. Hal ini dilakukan agar mempermudah dilaksanakannya pengukuran hasil dan analisis terhadap pekerjaan yang telah dilakukan.

22 3. Pengkoordinasian adalah menyelaraskan tindakan yang meliputi pertukaran informasi dengan orang-orang dalam unit organisasi lainnya. Hal ini dilakukan agar dapat berhubungan dan menyesuaikan program yang akan dijalankan.

4. Evaluasi adalah pimpinan melakukan penilaian terhadap rencana yang telah dibuat untuk menilai pegawai dan catatan hasil kerja. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar dari hasil penilaian tersebut dapat diambil keputusan yang diperlukan.

5. Pengawasan adalah penilaian atas kinerja dengan mengarahkan, memimpin, membimbing, menjelaskan segala aturan yang berlaku, memberikan dan menangani keluhan pelaksanaan tugas para pegawai.

6. Pemilihan staf adalah menyeleksi menempatkan dan mempromosikan pekerjaan tersebut dalam unit atau unit kerja lainnya.

7. Negosiasi adalah usaha untuk memperoleh kesepakatan dalam hal pembelian, penjualan atau kontrak untuk barang-barang dan jasa.

8. Perwakilan adalah menyampaikan informasi tentang visi, misi, dan kegiatan-kegiatan organisasi dengan menghadiri pertemuan kelompok bisnis dan konsultasi dengan kantor-kantor lain.

23

24

25

2.3.1 Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Anggaran adalah alat perencanaan dan pengendalian yang sangat penting oleh karena itu, pencapaian keberhasilan dalam suatu organisasi sangat ditentukan pada proses penyusunan anggaran tersebut, jika kualitas anggaran pemerintah daerah rendah, maka kualitas fungsi-fungsi pemerintah cenderung lemah (Astini dkk, 2014:2). Anggaran daerah harus bisa menjadi tolak ukur pencapaian kinerja yang diharapkan, sehingga perencanaan angggaran daerah harus bisa menggambarkan sasaran kinerja secara jelas (Astini dkk, 2014:2). Kejelasan sasaran anggaran merupakan sejauhmana tujuan anggaran ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan

26 tujuan agar anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggungjawab atas pencapaian sasaran anggaran tersebut (Hazmi dkk, 2012:4). Kejelasan sasaran anggaran dimaksudkan untuk meningkatkan tanggungjawab individu dan organisasi dalam pencapaian sasaran anggaran (Hazmi dkk, 2012:1). Sehingga diharapkan organisasi akan lebih membuka ruang dan perencanaan yang sebaik mungkin dalam menyusun anggarannya (Hazmi dkk, 2012:1). Jika sasaran anggaran bisa ditetapkan dan dibuat secara jelas dan spesifik, maka anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggungjawab atas pencapaian anggaran tersebut sehingga akan membantu aparatur pemerintah daerah untuk mencapai kinerja yang diharapkan (Hazmi dkk, 2012:1). Berdasarkan pernyataan tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Hazmi dkk (2012), Putra (2013), Astini dkk (2014) dan Solina (2014) yang menunjukkan bahwa variabel kejelasan sasaran anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis pertama dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:

H1 : Kejelasan sasaran anggaran berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

2.3.2 Pengaruh Akuntabilitas Publik Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Akuntabilitas merupakan prinsip pertanggungjawaban yang berarti bahwa proses penganggaran dimulai dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan harus benar-benar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada DPRD dan masyarakat (Astini dkk, 2014:1). Akuntabilitas publik adalah kewajiban pihak

27 pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (Hazmi dkk, 2012:3). Masyarakat tidak hanya memiliki hak untuk mengetahui anggaran tersebut tetapi juga berhak untuk menuntut pertanggungjawaban atas rencana ataupun pelaksanaan anggaran tersebut (Astini dkk, 2014:1). Dengan adanya akuntabilitas publik, maka masyarakat akan mengetahui penggunaan anggaran sehingga aparatur pemerintah akan berusaha untuk melaksanakan seluruh perencanaan dengan sebaik mungkin (Hazmi dkk, 2012:1). Berdasarkan pernyataan tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Hazmi dkk (2012), Putra (2013), Astini dkk (2014), dan Solina (2014) yang menunjukkan bahwa variabel akuntabilitas publik berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut. Terhadap latar belakang ini, hipotesis kedua dirumuskan sebagai berikut:

H2 : Akuntabilitas publik berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

2.3.3 Pengaruh Sistem Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Sistem pengendalian manajemen adalah sebagai sebuah proses seorang manajer atau pimpinan dalam memastikan sumber daya yang diperoleh dan dipergunakan secara efisien dan efektif dalam usaha untuk mencapai tujuan organisasi (Manurung, 2012:9). Tujuan adanya sistem pengendalian manajemen

28 sektor publik pada dasarnya tidak terlepas dari upaya untuk memperbaiki kinerja manajerial dan meningkatkan suatu pertanggungjawaban yang berdampak pada masyarakat (Astini dkk, 2014:9). Dengan adanya sistem pengendalian manajemen yang terstruktur maka akan dapat membantu dan memberikan kemudahan dari seluruh pelaksanaan proses manajemen mulai dari perencanaan sampai dengan proses pengawasan atau pengendalian (Dameria dkk, 2013:5). Struktur pengendalian manajemen tersebut dilihat dari adanya pusat-pusat pertanggungjawaban yang cukup jelas (Astini dkk, 2014:9). Dengan kata lain sistem pengendalian manajemen memiliki peran yang penting dalam pencapaian kinerja manajerial dalam suatu organisasi (Dameria dkk, 2013:5). Dengan semakin meningkatnya pelaksanaan sistem pengendalian manajemen maka dapat meningkatkan kinerja manajerial dalam suatu organisasi. Berdasarkan pernyataan tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Manurung (2012) dan Astini dkk (2014) yang menunjukkan bahwa variabel sistem pengendalian manajemen berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut. Terhadap latar belakang ini, hipotesis ketiga dirumuskan sebagai berikut:

H3 : Sistem pengendalian manajemen berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

29 2.4. Kerangka Konsep Penelitian

Kerangka konsep penelitian ini digunakan untuk mempermudah jalan pemikiran terhadap penelitian yang dibahas, terkait dengan pengaruh kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

Adapun kerangka konsep penelitian ini digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1 Model Penelitian

H1

H2

H3

Sumber : Penulis, 2017 Kejelasan Sasaran

Anggaran (X1)

Sistem Pengendalian Manajemen

(X3)

Akuntabilitas Publik (X2)

Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah

Daerah Kabupaten Tangerang

(Y)

30

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif.

Penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka-angka) yang diolah dengan metode statistik. Pada dasarnya pendekatan kuantitatif dilakukan pada jenis penelitian inferensial dan menyandarkan kesimpulan hasil penelitian pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil. Dengan metode kuantitatif akan diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan antar variabel yang diteliti.

3.2 Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel

Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai negeri sipil pada 28 instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Sampel dalam penelitian ini adalah pegawai negeri sipil yang bekerja pada 8 (delapan) instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang, alasan peneliti karena kesibukan pekerjaan responden sehingga pada akhirnya penulis hanya dapat menjangkau 40 pegawai negeri sipil yang bekerja pada 8 (delapan) instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

31 Tabel 3.1

Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan menggumpulkan informasi yang dibutuhkan dari responden yang wilayahnya dapat dijangkau oleh peneliti. Pengambilan sampel dilakukan pada pemerintah daerah Kabupaten Tangerang berdasarkan subjektivitas peneliti dengan alasan non-random, karena keterjangkauan lokasi penelitian dan wilayah geografis yang berdekatan. Kriteria pemilihan responden data dalam penelitan ini adalah:

1. Pegawai negeri sipil pada instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang yang telah menduduki jabatan tersebut minimal selama satu tahun dengan alasan bahwa yang bersangkutan telah dianggap memiliki pengalaman dibidangnya sehingga mampu memberikan informasi terkait tentang

NO NAMA

1 Dinas Tata Ruang dan Bangunan 2 Dinas Perpustakaan dan Arsip

3 Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air 4 Dinas Perindustrian dan Perdagangan 5 Dinas Pertanian dan Peternakan 6 Dinas Kesehatan

7 Dinas Pendidikan

8 Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia

32 kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik, sistem pengendalian manajemen dan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

3.3 Jenis dan Sumber Data

Data merupakan keterangan yang dapat memberikan gambaran atas suatu keadaan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang bekerja pada 8 (delapan) instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

3.4 Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner agar diperoleh data yang relevan, dapat dipercaya, objektif dan dapat dijadikan landasan dalam proses analisis. Prosedur pengumpulan data melalui metode kuesioner digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik, dan sistem pengendalian manajemen sehingga dapat dianalisis pengaruhnya terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

3.5 Definisi Operasional Variabel Penelitian

Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel penelitian juga

33 didefinisikan sebagai suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012:2-3).

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain variabel dependen adalah kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang (Y).

Sedangkan variabel independen terdiri dari kejelasan sasaran anggaran (X1), akuntabilitas publik (X2) dan sistem pengendalian manajemen (X3). Masing-masing variabel diukur dengan model skala Likert 1-5, yaitu Skor 1 = Sangat Tidak Setuju (STS); Skor 2 = Tidak Setuju (TS); Skor 3 = Ragu-ragu (RR); Skor 4 = Setuju (S) dan 5 = Sangat Setuju (SS).

3.5.1 Variabel Dependen

Variabel dependen atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012:4).

3.5.2 Variabel Independen

Variabel independen atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau variabel terikat (Sugiyono, 2012:4).

34 Tabel 3.2

Operasional Variabel Penelitian

Variabel Definisi Variabel Indikator Skala

Kejelasan

35

Analisis data merupakan suatu rangkaian kegiatan dalam menyederhanakan data yang dikumpulkan dari penelitian agar data yang telah dikumpulkan dapat diubah kedalam bentuk yang lebih mudah ditafsirkan (Sugiyono, 2012:6).

36 3.6.1 Analisis Statistik Deskriptif

Statistik deskriptif adalah statistik yang digunakan untuk menganalisa data dengan cara mendeskripsikan atau menggambarkan data yang telah terkumpul sebagaimana adanya tanpa bermaksud membuat kesimpulan yang berlaku untuk umum atau generalisasi atau tidak menarik kesimpulan hanya memberikan gambaran secara deskriptif (Sugiyono, 2012:6).

3.6.2 Uji Kualitas Data

Uji kualitas data dilakukan meliputi uji reliabilitas dan uji validitas dengan PLS (Partial Least Square).

3.6.2.1 Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan atau pernyataan kuesioner tersebut mampu mengungkapkan suatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut. Uji validitas dilakukan dengan membandingkan nilai square root of average variance extracted (AVE) setiap konstruk dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. Suatu kuesioner dikatakan valid apabila nilai AVE masing-masing konstruk nilainya ≥ 0,50 (Ghozali, 2014:40).

3.6.2.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dimaksud untuk mengukur internal consistency suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Reliabilitas adalah sejauh mana hasil suatu pengukuran dapat dipercaya, maksudnya apabila dalam beberapa pelaksanaan pengukuran terhadap kelompok yang sama diperoleh hasil

37 yang relatif sama. Pengukuran reliabilitas dilakukan dengan uji Composite Reliability dan Cronbach Alpha ≥ 0,70 (Ghozali, 2014:43).

3.7 Alat Pengujian Hipotesis

3.7.1 Structural Equation Modelling (SEM) melalui Partial Least Square (PLS) Pengumpulan data yang dilakukan dengan pendekatan Structural Equation Model (SEM) dengan menggunakan software Partial Least Square (PLS) versi 3.

PLS adalah model persamaan struktural (SEM) yang berbasis komponen atau varian (variance). PLS merupakan pendekatan alternatif yang bergeser dari pendekatan SEM berbasis kovarian menjadi berbasis varian (Ghozali, 2014:31). Untuk tujuan prediksi pendekatan PLS lebih cocok karena diasumsikan bahwa semua ukuran varian adalah varian yang berguna untuk dijelaskan (Ghozali, 2014:31). PLS merupakan metode analisis yang powerfull karena tidak didasarkan pada banyak asumsi (Ghozali, 2014:7). Misalnya, data tidak harus terdistribusi normal, sampel tidak harus besar. Selain dapat digunakan untuk mengkonfirmasi teori, PLS juga dapat digunakan untuk menjelaskan ada tidaknya hubungan antar variabel laten (Ghozali, 2014:7). PLS dapat sekaligus menganilisis konstruk yang dibentuk dengan indikator refleksif dan formatif (Ghozali, 2014:8). Hal ini tidak dapat dilakukan oleh SEM yang berbasis kovarian karena akan menjadi unidentified model (Ghozali, 2014:8). Model persamaan struktural merupakan persamaan teknik analisis multivariate yang memungkinkan peneliti untuk menguji hubungan antar variabel yang kompleks baik recursive maupun non recursive untuk memperoleh gambaran menyeluruh tentang keseluruhan model. Tidak seperti model

38 multivariate biasa (analisis faktor regresi berganda) SEM dapat menguji bersama-sama sebagai berikut :

a. Model structural: hubungan antara konstruk independen dan dependen.

b. Model measurement: hubungan (nilai loading) antara indikator dengan konstruk (variabel laten). Digabungkannya pengujian model struktural dengan model pengukuran tersebut memungkinkan untuk sebagai berikut:

c. Menguji kesalahan pengukuran (measurement error) sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari SEM.

d. Melakukan analisis faktor bersamaan dengan pengujian hipotesis.

Dalam analisis dengan menggunakan PLS ada 2 hal yang dilakukan sebagai berikut:

1. Menilai Outer Model atau Measurement Model.

2. Menilai Inner Model atau Structural Model.

3.7.2 Menilai Outer Model atau Measurement Model

Ada tiga kriteria untuk menilai outer model yaitu Convengent Validity, Discriminant Validity, dan Composite Reliability. Convergent validity dari model pengukuran dengan refleksif indikator dinilai berdasarkan korelasi antara item score atau component score yang dihitung dengan PLS. Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0,70 dengan konstruk yang diukur.

Namun, untuk penelitian tahap awal dari pengembangan skala pengukuran nilai loading 0,5 sampai 0,6 dianggap cukup memadai (Ghozali, 2014:39). Discriminant Validity dari model pengukuran dengan refleksif indikator dinilai berdasarkan Cross Loading pengukuran dengan konstruk. Jika korelasi konstruk dengan item pengukuran lebih besar daripada ukuran konstruk lainnya, maka hal tersebut

39 menunjukkan konstruk laten memprediksi ukuran pada blok tersebut lebih baik daripada ukuran blok lainnya. Metode lain untuk menilai Discriminant Validity adalah membandingkan nilai Root Of Average Variance Extracted (AVE) setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka dikatakan memiliki nilai Discriminant Validity yang baik (Ghozali, 2014:40). Berikut ini rumus untuk menghitung AVE:

Sumber : Ghozali, 2014:40

Dimana λi adalah component loading ke indikator ke var ( εi ) = 1 - λi2. Jika semua indikator di standardized, maka uraian ini sama dengan Average Communalities dalam blok. Fornell dan Lacker menyatakan bahwa pengukuran ini digunakan untuk mengukur reliabilitas component score variabel laten dan hasilnya lebih konservatif dibanding composite reliability. Direkomendasikan nilai AVE harus lebih besar dari 0,50 (Ghozali, 2014:40). Composite reliability blok indikator yang mengukur suatu konstruk dapat dievaluasi dengan dua macam ukuran yaitu internal consistency yang dikembangkan oleh Wert et. Al (Ghozali,2014:40), dengan menggunakan output yang dihasilkan PLS maka Composite reliability dapat dihitung dengan rumus :

Sumber : Ghozali, 2014:40

40 Dimana λi adalah component loading ke indikator dan var ( εi ) = 1 - λi2.

Dibanding dengan Cronbach Alpha, ukuran ini tidak mengasumsikan tau quivalence antar pengukuran dengan asumsi semua indikator diberi bobot sama.

Sehingga Cronbach Alpha cenderung lower estimate reliability, sedangkan ρc merupakan closer approximation dengan asumsi estimate parameter adalah akurat.

ρc sebagai ukuran internal consistence hanya dapat digunakan untuk konstruk reflektif indikator (Ghozali, 2014:41).

3.7.3 Menilai Inner Model atau Structural Model

Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat hubungan antara konstruk, nilai signifikasi dan R-square dari model penelitian.

Model struktural dievaluasi dengan mengggunakan R-square untuk konstruk dependen, Stone-Geisser Q-square test untuk predictive relevance dan uji-t serta signifikansi dari koefesien parameter jalur struktural (Ghozali, 2014:41). Dalam menilai model dengan PLS dimulai dengan melihat R-square untuk setiap variabel laten dependen. Perubahan nilai R-square dapat digunakan untuk menilai pengaruh variabel laten independen tertentu terhadap variabel laten dependen apakah mempunyai pengaruh yang substantif. Pengaruh besarnya dapat dihitung dengan rumus sebagai berikut:

Sumber : Ghozali, 2014:41

41 Dimana R2included dan R2excluded adalah R-square dari variabel laten dependen ketika predictor variabel laten digunakan atau dikeluarkan di dalam persamaan struktural. Disamping melihat R-square, model PLS juga direvaluasi dengan melihat Q-Square predictive relevance untuk model konstruk. Q-Square predictive relevance mengukur seberapa baik nilai observasi dihasilkan oleh model dan juga estimasi parameternya. Nilai Q-Square predictive relevance lebih besar dari 0 menunjukkan bahwa model mempunyai nilai predictive relevance, sedangkan nilai Q-Square predictive relevance kurang dari 0 menunjukkan bahwa model kurang memiliki predictive relevance (Ghozali, 2014:41).

3.8 Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen secara keseluruhan terhadap variabel dependen. Ketentuan penerimaan atau penolakan uji hipotesis (Hipotesis 1 – Hipotesis 3) sebagai berikut:

a. Bila T-statistik > T-tabel (1,96) = Hipotesis diterima.

b. Bila T-statistik < T-tabel (1,96) = Hipotesis ditolak.

Sedangkan untuk hubungan langsung dan tidak langsung dilakukan analisis jalur (path analysis) untuk mengetahui apakah variabel terikat memediasi antara variabel-variabel independen terhadap variabel dependen dengan membandingkan pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Ketentuan penerimaan atau penolakannya sebagai berikut:

a. Bila pengaruh langsung > pengaruh tidak langsung = Hipotesis ditolak.

b. Bila pengaruh langsung < pengaruh tidak langsung = Hipotesis diterima.

42

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Responden

Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah pegawai negeri sipil pemerintah daerah Kabupaten Tangerang terdiri dari kepala bagian perencanaan dan umum, kepala bagian kepegawaian, kepala bagian keuangan, dan staff yang bekerja pada instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Responden tersebut dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Struktural Equation Model (SEM) dalam Software SmartPLS (Partial Least Square) versi 3. Data yang diolah adalah jawaban responden mengenai Kejelasan Sasaran Anggaran (KSA), Akuntabilitas Publik (AP), Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) dan Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang (KMIPDKT).

Tabel 4.1 Daftar Sampel

No Nama Instansi Alamat Nomor Telepon

1 Dinas Tata Ruang dan Bangunan

Kantor Gedung Lingkup Dinas Pekerjaan Umum Tigaraksa

(021) 5991510

2 Dinas Perpustakaan dan Arsip JL. Abdul Hamid Sektor C Komplek Perkantoran Pusat Pemerintahan

Kabupaten Tangerang, Tigaraksa

081287875448

43 3 Dinas Bina Marga dan Sumber

Daya Air

4 Dinas Perindustrian dan Perdagangan

5 Dinas Pertanian dan Peternakan

8 Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebar kuesioner sebanyak 7 (tujuh) kuesioner kepada setiap 8 (delapan) instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang sehingga jumlah keseluruhan ada 56 kuesioner.

44 Tabel 4.2

Persentase Pengiriman dan Pengembalian Kuesioner No Responden Kuesioner

yang

Kuesioner yang kembali = (40/56) x 100% = 71,4%

Kuesioner yang tidak kembali = (16/56) x 100% = 28,6%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Berdasarkan tabel diatas, jumlah kuesioner keseluruhan sebanyak 56 kuesioner. Kuesioner yang kembali adalah sebanyak 40 kuesioner sehingga kuesioner yang dapat diolah sebanyak 40 kuesioner atau sebesar 71,4%.

45 4.2 Statistik Deskriptif

4.2.1 Jenis Kelamin

Tabel 4.3

Persentase Jenis Kelamin Responden

Keterangan Jumlah Persentase

Pria 24 60%

Wanita 16 40%

Total 40 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Data yang tersaji dalam tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin pria, yaitu sebanyak 24 orang atau 60%, dan sisanya adalah responden yang berjenis kelamin wanita sebanyak 16 orang atau 40%.

4.2.2 Usia

Tabel 4.4

Persentase Usia Responden

Keterangan Jumlah Persentase

20 – 30 6 15%

30 - 40 11 27,5%

40 - 50 19 47,5%

> 50 4 10%

Total 40 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Data yang tersaji dalam tabel 4.4 menunjukkan bahwa yang paling banyak adalah responden dengan usia 40-50 tahun yaitu sebanyak 19 orang atau 47,5%, kemudian untuk usia 30-40 tahun yaitu sebanyak 11 orang atau 27,5%, untuk usia 20-30 tahun yaitu sebanyak 6 orang atau 15%, dan yang paling sedikit adalah responden dengan usia >50 tahun yaitu sebanyak 4 orang atau 10%.

46 4.2.3 Jabatan

Tabel 4.5

Persentase Jabatan Responden

Keterangan Jumlah Persentase

Kepala Sub Bagian Perencanaan dan Umum

8 20%

Kepala Sub Bagian Kepegawaian

6 15%

Kepala Sub Bagian Keuangan 8 20%

Staff 18 45%

Total 40 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Berdasarkan jumlah kuesioner yang dapat diolah dalam penelitian ini,

Berdasarkan jumlah kuesioner yang dapat diolah dalam penelitian ini,

Dalam dokumen SKRIPSI. Diajukan Oleh: Winda Dwi Lestari (Halaman 38-0)