• Tidak ada hasil yang ditemukan

Uji Hipotesis

Dalam dokumen SKRIPSI. Diajukan Oleh: Winda Dwi Lestari (Halaman 59-0)

BAB I PENDAHULUAN

3.8 Uji Hipotesis

Uji hipotesis dilakukan untuk melihat pengaruh variabel-variabel independen secara keseluruhan terhadap variabel dependen. Ketentuan penerimaan atau penolakan uji hipotesis (Hipotesis 1 – Hipotesis 3) sebagai berikut:

a. Bila T-statistik > T-tabel (1,96) = Hipotesis diterima.

b. Bila T-statistik < T-tabel (1,96) = Hipotesis ditolak.

Sedangkan untuk hubungan langsung dan tidak langsung dilakukan analisis jalur (path analysis) untuk mengetahui apakah variabel terikat memediasi antara variabel-variabel independen terhadap variabel dependen dengan membandingkan pengaruh langsung dan pengaruh tidak langsung. Ketentuan penerimaan atau penolakannya sebagai berikut:

a. Bila pengaruh langsung > pengaruh tidak langsung = Hipotesis ditolak.

b. Bila pengaruh langsung < pengaruh tidak langsung = Hipotesis diterima.

42

BAB IV

ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN

4.1 Gambaran Umum Responden

Responden yang digunakan dalam penelitian ini adalah pegawai negeri sipil pemerintah daerah Kabupaten Tangerang terdiri dari kepala bagian perencanaan dan umum, kepala bagian kepegawaian, kepala bagian keuangan, dan staff yang bekerja pada instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Responden tersebut dipilih dengan menggunakan teknik purposive sampling yang telah dijelaskan dalam bab sebelumnya. Pengolahan data dalam penelitian ini menggunakan pendekatan Struktural Equation Model (SEM) dalam Software SmartPLS (Partial Least Square) versi 3. Data yang diolah adalah jawaban responden mengenai Kejelasan Sasaran Anggaran (KSA), Akuntabilitas Publik (AP), Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) dan Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang (KMIPDKT).

Tabel 4.1 Daftar Sampel

No Nama Instansi Alamat Nomor Telepon

1 Dinas Tata Ruang dan Bangunan

Kantor Gedung Lingkup Dinas Pekerjaan Umum Tigaraksa

(021) 5991510

2 Dinas Perpustakaan dan Arsip JL. Abdul Hamid Sektor C Komplek Perkantoran Pusat Pemerintahan

Kabupaten Tangerang, Tigaraksa

081287875448

43 3 Dinas Bina Marga dan Sumber

Daya Air

4 Dinas Perindustrian dan Perdagangan

5 Dinas Pertanian dan Peternakan

8 Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Penelitian ini dilakukan dengan cara menyebar kuesioner sebanyak 7 (tujuh) kuesioner kepada setiap 8 (delapan) instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang sehingga jumlah keseluruhan ada 56 kuesioner.

44 Tabel 4.2

Persentase Pengiriman dan Pengembalian Kuesioner No Responden Kuesioner

yang

Kuesioner yang kembali = (40/56) x 100% = 71,4%

Kuesioner yang tidak kembali = (16/56) x 100% = 28,6%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Berdasarkan tabel diatas, jumlah kuesioner keseluruhan sebanyak 56 kuesioner. Kuesioner yang kembali adalah sebanyak 40 kuesioner sehingga kuesioner yang dapat diolah sebanyak 40 kuesioner atau sebesar 71,4%.

45 4.2 Statistik Deskriptif

4.2.1 Jenis Kelamin

Tabel 4.3

Persentase Jenis Kelamin Responden

Keterangan Jumlah Persentase

Pria 24 60%

Wanita 16 40%

Total 40 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Data yang tersaji dalam tabel 4.3 menunjukkan bahwa sebagian besar responden berjenis kelamin pria, yaitu sebanyak 24 orang atau 60%, dan sisanya adalah responden yang berjenis kelamin wanita sebanyak 16 orang atau 40%.

4.2.2 Usia

Tabel 4.4

Persentase Usia Responden

Keterangan Jumlah Persentase

20 – 30 6 15%

30 - 40 11 27,5%

40 - 50 19 47,5%

> 50 4 10%

Total 40 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Data yang tersaji dalam tabel 4.4 menunjukkan bahwa yang paling banyak adalah responden dengan usia 40-50 tahun yaitu sebanyak 19 orang atau 47,5%, kemudian untuk usia 30-40 tahun yaitu sebanyak 11 orang atau 27,5%, untuk usia 20-30 tahun yaitu sebanyak 6 orang atau 15%, dan yang paling sedikit adalah responden dengan usia >50 tahun yaitu sebanyak 4 orang atau 10%.

46 4.2.3 Jabatan

Tabel 4.5

Persentase Jabatan Responden

Keterangan Jumlah Persentase

Kepala Sub Bagian Perencanaan dan Umum

8 20%

Kepala Sub Bagian Kepegawaian

6 15%

Kepala Sub Bagian Keuangan 8 20%

Staff 18 45%

Total 40 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Berdasarkan jumlah kuesioner yang dapat diolah dalam penelitian ini, jumlah responden yang memiliki jabatan kepala sub bagian perencanaan dan umum berjumlah 8 orang atau 20%, kepala sub bagian kepegawaian berjumlah 6 orang atau 15%, kepala sub bagian keuangan berjumlah 8 orang atau 20%, dan jumlah responden yang paling banyak adalah menjabat sebagai staff dengan jumlah 18 orang atau 45%.

4.2.4 Masa Kerja

Tabel 4.6

Persentase Masa Kerja Responden

Keterangan Jumlah Persentase

1 – 2 Tahun 0 0%

2 – 3 Tahun 3 7,5%

3 – 4 Tahun 8 20%

4 – 5 Tahun 10 25%

> 5 Tahun 19 47,5%

Total 40 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

47 Berdasarkan jumlah kuesioner yang dikembalikan dalam penelitian ini, terdapat responden yang masa kerjanya 1 – 2 tahun yaitu berjumlah 0 orang atau 0%, jumlah responden yang masa kerjanya 2 – 3 tahun yaitu berjumlah 3 orang atau 7,5%, dan jumlah responden yang masa kerjanya 3 – 4 tahun yaitu berjumlah 8 orang atau 20%, jumlah responden yang masa kerjanya 4 – 5 tahun yaitu berjumlah 10 orang atau 25%. Dilihat dari jumlah masa kerja pada posisi jabatan yang sedang dijalani diatas yang paling dominan adalah > 5 tahun yang berjumlah 19 orang atau 47,5%.

4.2.5 Pendidikan

Tabel 4.7

Persentase Pendidikan Responden

Keterangan Jumlah Persentase

D3 2 5%

S1 24 60%

S2 14 35%

S3 0 0%

Total 40 100%

Sumber: Data primer yang diolah (2017)

Berdasarkan jumlah kuesioner yang dikembalikan dalam penelitian ini, jumlah responden yang berpendidikan lulusan D3 sebanyak 2 orang atau 5%, untuk lulusan S1 sebanyak 24 orang atau 60%, untuk lulusan S2 sebanyak 14 orang atau 35%. Pendidikan yang paling dominan disini adalah lulusan S1 yang berjumlah 24 orang atau 60%. Hal ini menggambarkan bahwa pegawai negeri sipil yang berpartisipasi dalam pengisian kuisioner rata-rata memiliki pendidikan S1.

48 4.3 Pengujian Kualitas Data

4.3.1 Uji Validitas

Uji validitas digunakan untuk mengukur sah atau valid tidaknya suatu kuesioner. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner tersebut mampu untuk mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut.

Pengujian validitas data dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan software SmartPLS versi 3 dengan outer model, yaitu convergent validity yang dilihat dengan nilai square root of Average Variance Extracted (AVE) masing-masing konstruk dimana nilainya harus lebih besar dari 0,5 (Ghozali, 2014:40). Cara lain yaitu dengan membandingkan nilai square root of Average Variance Extracted (AVE) setiap konstruk (variabel laten) dengan korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model. Apabila nilai akar kuadrat dari AVE untuk setiap konstruk lebih besar daripada nilai korelasi antara konstruk dengan konstruk lainnya dalam model, maka masing-masing indikator pernyataan adalah valid (Ghozali, 2014:40) atau dikatakan memiliki nilai discriminant validity yang baik.

Tabel 4.8

Average Variance Extracted (AVE)

AVE √AVE Keterangan

Kejelasan Sasaran Anggaran (KSA)

0.392 0.626 VALID

Akuntabilitas Publik (AP) 0.391 0.625 VALID

Sistem Pengendalian Manajemen (SPM)

0.565 0.752 VALID

Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang (KMIPDKT)

0.423 0.650 VALID

Sumber: Data primer yang diolah dengan SmartPLS (2017)

49 Tabel 4.8 menjelaskan nilai dari AVE dan √AVE dari konstruk kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik, sistem pengendalian manajemen dan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Dapat dilihat bahwa setiap konstruk (variabel) tersebut memiliki nilai √AVE diatas 0.5. Hal ini menunjukkan bahwa setiap konstruk tersebut memiliki nilai validitas yang baik dari setiap indikatornya atau kuesioner yang digunakan untuk mengetahui pengaruh kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang dikatakan valid.

4.3.2 Uji Reliabilitas

Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengukur internal consistency suatu kuesioner yang merupakan indikator dari variabel atau konstruk. Suatu kuesioner dikatakan reliabel jika jawaban seseorang terhadap pernyataan menghasilkan jawaban yang sama dari waktu ke waktu. Pengujian reliabilitas data dalam penelitian ini menggunakan software SmartPLS versi 3 dengan kriteria uji composite reliability. Suatu data dikatakan reliabel jika composite reliability lebih besar dari 0.7 (Ghozali, 2014:43).

Tabel 4.9 Composite Reliability

Composite Reliability Keterangan Kejelasan Sasaran Anggaran

(KSA)

0.816 Reliabel

Akuntabilitas Publik (AP) 0.851 Reliabel

Sistem Pengendalian Manajemen (SPM)

0.838 Reliabel

50 Kinerja Manajerial Instansi

Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang (KMIPDKT)

0.854 Reliabel

Sumber: Data primer yang diolah dengan SmartPLS (2017)

Dari tabel 4.9 dapat dilihat setiap konstruk atau variabel laten tersebut memiliki nilai composite reliability diatas 0.7 yang menandakan bahwa internal consistency dari variabel independen (kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen) dan variabel dependen (kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang) memiliki reliabilitas yang baik.

4.4 Analisis Data

4.4.1 Menilai Outer Model (Measurement Model)

Model measurement dilakukan untuk menguji hubungan (nilai loading) antara indikator dengan konstruk (variabel laten). Dalam menilai outer model dalam SmartPLS terdapat tiga kriteria, salah satunya adalah melihat convergent validity, sedangkan untuk dua kriteria yang lain yaitu discriminant validity dalam bentuk square root of Average Variance Extracted (AVE) dan composite reliability telah dibahas sebelumnya pada saat pengujian kualitas data. Untuk convergent validity dari model pengukuran dengan refleksif indikator dinilai berdasarkan korelasi antara item score/component score yang diestimasi dengan software SmartPLS.

Ukuran refleksif individual dikatakan tinggi jika berkorelasi lebih dari 0.7 dengan konstruk (variabel laten) yang diukur. Namun menurut Chin untuk penelitian tahap awal dari pengembangan, skala pengukuran nilai loading 0.5 sampai 0.6 dianggap cukup memadai (Ghozali, 2014:39).

51 Berikut dapat dilihat secara keseluruhan korelasi setiap variabel pada gambar 4.1, yaitu gambar yang menyatakan hubungan kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik, sistem pengendalian manajemen dan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

Gambar 4.1

Full Model Structural Partial Least Square

Sumber: Data primer diolah SmartPLS (2017) Keterangan:

KSA : Kejelasan Sasaran Anggaran AP : Akuntabilitas Publik

SPM : Sistem Pengendalian Manajemen

KMIPDKT : Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

52 Berikut dapat dilihat secara keseluruhan korelasi setiap variabel pada gambar 4.1 yaitu gambar yang menyatakan pengaruh variabel independen (kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik, dan sistem pengendalian manajemen) terhadap variabel dependen (kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang).

4.4.1.1 Outer Model Variabel Kejelasan Sasaran Anggaran

Variabel kejelasan sasaran anggaran dijelaskan oleh 7 indikator yang terdiri dari KSA1 sampai dengan KSA7. Uji terhadap outer loading bertujuan untuk melihat korelasi antara score item atau indikator dengan score konstruknya.

Indikator dianggap reliabel jika memiliki nilai korelasi diatas 0.7. Namun dalam tahap pengembangan korelasi 0.5 masih dapat diterima (Ghozali, 2014:39).

Tabel 4.10

Nilai Outer Loading Variabel Kejelasan Sasaran Anggaran (KSA) Indikator

Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017)

Hasil pengolahan dengan menggunakan SmartPLS versi 3 dapat dilihat pada tabel 4.10, dimana nilai outer loadings dari indikator variabel kejelasan sasaran anggaran tidak terdapat nilai yang kurang dari 0.6 dan menunjukkan nilai outer model atau korelasi dengan variabel secara keseluruhan sudah memenuhi convergent validity. Hal ini juga dapat dilihat pada tabel 4.10, dimana nilai

T-53 statistik dari indikator KSA1, KSA2, KSA3, KSA4, KSA5,KSA6, dan KSA7 lebih besar dari pada T-tabel (dengan tingkat sig=1,96 dan n-sampel=40). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel kejelasan sasaran anggaran telah memenuhi syarat dari kecukupan model atau discriminant validity.

4.4.1.2 Outer Model Variabel Akuntabilitas Publik

Variabel akuntabilitas publik dijelaskan oleh 9 indikator yang terdiri dari AP1 sampai dengan AP9. Uji terhadap outer loading bertujuan untuk melihat korelasi antara score item atau indikator dengan score konstruknya. Indikator dianggap reliabel jika memiliki nilai korelasi diatas 0.7. Namun dalam tahap pengembangan korelasi 0.5 masih dapat diterima (Ghozali, 2014:39).

Tabel 4.11

Nilai Outer Loading Variabel Akuntabilitas Publik (AP) Indikator

Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017)

Hasil pengolahan dengan menggunakan SmartPLS versi 3 dapat dilihat pada tabel 4.11, dimana nilai outer loadings dari indikator variabel Akuntabilitas publik tidak terdapat nilai yang kurang dari 0.6 dan menunjukkan nilai outer model atau korelasi dengan variabel secara keseluruhan sudah memenuhi convergent validity.

Hal ini juga dapat dilihat pada tabel 4.11, dimana nilai T-statistik dari indikator

54 AP1, AP2, AP3, AP4, AP5,AP6, AP7, AP8 dan AP9 lebih besar dari pada T-tabel (dengan tingkat sig=1,96 dan n-sampel=40). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel akuntabilitas publik telah memenuhi syarat dari kecukupan model atau discriminant validity.

4.4.1.3 Outer Model Variabel Sistem Pengendalian Manajemen

Variabel sistem pengendalian manajemen dijelaskan oleh 4 indikator yang terdiri dari SPM1 sampai dengan SPM4. Uji terhadap outer loading bertujuan untuk melihat korelasi antara score item atau indikator dengan score konstruknya.

Indikator dianggap reliabel jika memiliki nilai korelasi diatas 0.7. Namun dalam tahap pengembangan korelasi 0.5 masih dapat diterima (Ghozali, 2014:39).

Tabel 4.12

Nilai Outer Loading Variabel Sistem Pengendalian Manajemen (SPM) Indikator

SPM3 0.821 0.830 0.049 16.854

SPM4 0.748 0.747 0.095 7.863

Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017)

Hasil pengolahan dengan menggunakan SmartPLS versi 3 dapat dilihat pada tabel 4.12, dimana nilai outer loadings dari indikator variabel sistem pengendalian manajemen tidak terdapat nilai yang kurang dari 0.6 dan menunjukkan nilai outer model atau korelasi dengan variabel secara keseluruhan sudah memenuhi convergent validity. Hal ini juga dapat dilihat pada tabel 4.12, dimana nilai T-statistik dari indikator SPM1, SPM2, SPM3 dan SPM4 lebih besar dari pada T-tabel (dengan tingkat sig=1,96 dan n-sampel=40). Sehingga dapat ditarik kesimpulan

55 bahwa variabel sistem pengendalian manajemen telah memenuhi syarat dari kecukupan model atau discriminant validity.

4.4.1.4 Outer Model Variabel Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Variabel kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang dijelaskan oleh 8 indikator yang terdiri dari KMIPDKT1 sampai dengan KMIPDKT8. Uji terhadap outer loading bertujuan untuk melihat korelasi antara score item atau indikator dengan score konstruknya. Indikator dianggap reliabel jika memiliki nilai korelasi diatas 0.7. Namun dalam tahap pengembangan korelasi 0.5 masih dapat diterima (Ghozali, 2014:39).

Tabel 4.13

Nilai Outer Loading Variabel Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang (KMIPDKT)

KMIPDKT1 0.572 0.578 0.108 5.303

KMIPDKT2 0.565 0.576 0.120 4.692

KMIPDKT3 0.717 0.729 0.084 8.545

KMIPDKT4 0.682 0.676 0.089 7.658

KMIPDKT5 0.701 0.707 0.065 10.744

KMIPDKT6 0.623 0.609 0.206 3.021

KMIPDKT7 0.696 0.661 0.145 4.806

KMIPDKT8 0.629 0.629 0.113 5.576

Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017)

Hasil pengolahan dengan menggunakan SmartPLS versi 3 dapat dilihat pada tabel 4.13, dimana nilai outer loadings dari indikator variabel kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang tidak terdapat nilai yang kurang

56 dari 0.6 dan menunjukkan nilai outer model atau korelasi dengan variabel secara keseluruhan sudah memenuhi convergent validity. Hal ini juga dapat dilihat pada tabel 4.13, dimana nilai T-statistik dari indikator KMIPDKT1, KMIPDKT2, KMIPDKT3, KMIPDKT4, KMIPDKT5, KMIPDKT6, KMIPDKT7, dan KMIPDKT8, lebih besar dari pada T-tabel (dengan tingkat sig=1,96 dan n-sampel=40). Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa variabel kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang telah memenuhi syarat dari kecukupan model atau discriminant validity.

4.4.2 Pengujian Hipotesis dengan Inner Model

Inner model menurut Ghozali (2014:37) merupakan gambaran hubungan antar variabel laten yang berdasarkan pada substantive theory inner model yang kadang disebut juga dengan inner relation, structural model dan substantive theory.

Pengujian inner model atau model struktural dilakukan untuk melihat pengaruh antara konstruk, nilai signifikasi dan R-square dari model penelitian. Model struktural dievaluasi dengan mengggunakan R-square untuk konstruk dependen (Ghozali, 2014:41). Batas untuk menolak dan menerima hipotesis yang diajukan yaitu ± 1,96, dimana apabila nilai T-statistik lebih besar dari T-tabel (1,96) maka hipotesis diterima, sebaliknya jika nilai T-statistik lebih kecil dari T-tabel (1,96) maka hipotesis ditolak. Adapun inner model dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

57

Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017)

Berdasarkan tabel 4.14 terlihat bahwa pengaruh KSA dengan KMIPDKT positif 0.314 dan signifikan pada 0.05 (3.341>1.96). Pengaruh AP dengan KMIPDKT positif 0.231 dan signifikan pada 0.05 (2.167>1.96). Dan pengaruh SPM dengan KMIPDKT positif 0.514 dan signifikan pada 0.05 (3.682>1.96).

Dalam menilai model dengan SmartPLS dimulai dengan melihat R-Square untuk setiap variabel laten dependen yang ditujukkan pada tabel 4.15.

Tabel 4.15

Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017) Keterangan:

KSA : Kejelasan Sasaran Anggaran AP : Akuntabilitas Publik

SPM : Sistem Pengendalian Manajemen

KMIPDKT : Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

58 Tabel 4.15 menunjukkan nilai R-square kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang sebesar 0.936. Semakin tinggi R-square maka semakin besar variabel independen tersebut dapat menjelaskan variabel dependen, sehingga semakin baik persamaan struktural.

Variabel kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang memiliki nilai R-square sebesar 0.936 yang berarti 93.6% kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang dipengaruhi oleh variabel kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen sedangkan sisanya sebesar 6.4% merupakan kontribusi dari faktor lainnya.

4.5 Pengujian Hipotesis

4.5.1 Kejelasan Sasaran Anggaran Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Tabel 4.16

Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017)

Hipotesis 1 menyatakan bahwa kejelasan sasaran anggaran berpengaruh signifikan dengan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat indikator yang dieliminasi, hal ini disebabkan karena tidak terdapat korelasi konstruk yang kurang dari 0.6 sehingga setiap variabel memenuhi kriteria convergent validity.

59 Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 4.16 menunjukkan bahwa kejelasan sasaran anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang yang ditampilkan dengan nilai original sample estimate sebesar 0.231 dan nilai T-statistik adalah lebih besar dari T-tabel yaitu 1.96. Dengan demikian hipotesis 1 diterima.

4.5.2 Akuntabilitas Publik Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Tabel 4.17 Hipotesis 2 Original

Sample Estimate

Mean of Subsamples

Standard Deviation

T-Statistic Hipotesis

AP -> KMIPDKT 0.314 0.329 0.094 3.341 Diterima Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017)

Hipotesis 2 menyatakan bahwa akuntabilitas publik berpengaruh signifikan dengan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.

Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat indikator yang dieliminasi, hal ini disebabkan karena tidak terdapat korelasi konstruk yang kurang dari 0.6 sehingga setiap variabel memenuhi kriteria convergent validity. Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 4.17 menunjukkan bahwa akuntabilitas publik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang yang ditampilkan dengan nilai original sample estimate sebesar 0.314 dan nilai T-statistik adalah lebih besar dari T-tabel yaitu 1.96. Dengan demikian hipotesis 2 diterima.

60 4.5.3 Sistem Pengendalian Manajemen Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Tabel 4.18 Hipotesis 3 Original

Sample Estimate

Mean of Subsamples

Standard Deviation

T-Statistic Hipotesis

SPM ->

KMIPDKT

0.514 0.482 0.140 3.682 Diterima

Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017)

Hipotesis 3 menyatakan bahwa sistem pengendalian manajemen berpengaruh signifikan dengan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Berdasarkan hasil penelitian tidak terdapat indikator yang dieliminasi, hal ini disebabkan karena tidak terdapat korelasi konstruk yang kurang dari 0.6 sehingga setiap variabel memenuhi kriteria convergent validity.

Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 4.18 menunjukkan bahwa sistem pengendalian manajemen berpengaruh dan signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang yang ditampilkan dengan nilai original sample estimate sebesar 0.514 dan nilai T-statistik adalah lebih besar dari T-tabel yaitu 1.96. Dengan demikian hipotesis 3 diterima.

61 4.5.4 Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis

Berdasarkan hasil pengujian hipotesis pada bagian sebelumnya, maka kesimpulan dari pengujian hipotesis disajikan pada tabel berikut:

Tabel 4.19

Sumber: Data primer diolah dengan SmartPLS (2017)

4.6 Pembahasan Hipotesis

4.6.1 Kejelasan Sasaran Anggaran Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 4.16 menunjukkan bahwa kejelasan sasaran anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang yang ditampilkan dengan nilai original sample estimate sebesar 0.231 dan nilai T-statistik adalah

62 lebih besar dari T-tabel yaitu 1.96. Dengan demikian hipotesis 1 diterima.

Berdasarkan pernyataan diatas, hal ini menunjukkan bahwa semakin baik diterapkannya kejelasan sasaran anggaran maka kinerja pemerintah yang dihasilkan oleh pegawai negeri sipil juga akan semakin meningkat. Hal ini konsisten dengan teori yang dinyatakan oleh Kenis bahwa kejelasan sasaran anggaran merupakan sejauhmana tujuan anggaran ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan tujuan agar anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggung jawab atas pencapain sasaran tersebut (Putra, 2013:2). Dengan demikian, sasaran anggaran pemerintah daerah harus dinyatakan secara jelas, spesifik sehingga pegawai negeri sipil akan memahami sasaran anggaran yang akan dicapai oleh anggaran tersebut, mengetahui bagaimana cara akan mencapainya dengan menggunakan sumber yang ada, selanjutya target-target anggaran yang disusun akan sesuai dengan sasaran yang hendak dicapai.

Berdasarkan hasil olah data yang diperoleh bahwa indikator yang paling dominan atas kejelasan sasaran anggaran adalah indikator “kinerja” dengan pernyataan “saya memahami bagaimana kinerja saya diukur”, hal ini menandakan bahwa dalam menjalankan tugasnya, pegawai negeri sipil sudah memahami cara untuk memberikan kinerja yang optimal karena merasa bahwa kinerjanya akan diukur. Sedangkan indikator yang paling tidak dominan atas kejelasan sasaran anggaran adalah indikator “jangka waktu” dengan pernyataan “saya menetapkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk pengerjaan”, hal ini menandakan bahwa pegawai negeri sipil belum dapat menetapkan durasi berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengerjakan pekerjaannya agar selesai tepat waktu. Dengan demikian, hasil penelitian ini mendukung penelitian yang dilakukan oleh Hazmi

63 dkk (2012), Putra (2013), Astini dkk (2014), dan Solina (2014) yang menjelaskan bahwa kejelasan sasaran anggaran berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah.

4.6.2 Akuntabilitas Publik Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang

Berdasarkan hasil pengolahan data pada tabel 4.17 menunjukkan bahwa akuntabilitas publik berpengaruh positif dan signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang yang ditampilkan dengan nilai original sample estimate sebesar 0.314 dan nilai T-statistik adalah lebih besar dari T-tabel yaitu 1.96. Dengan demikian hipotesis 2 diterima. Berdasarkan pernyataan diatas, hal ini menunjukkan bahwa diterapkannya akuntabilitas publik maka akan dapat meningkatkan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang, karena dengan adanya pertanggungjawaban publik, masyarakat tidak hanya dapat mengetahui anggaran tersebut tetapi juga dapat mengetahui pelaksanaan kegiatan yang dianggarkan sesuai dengan peraturan yang berlaku, disajikan secara jujur dan lengkap dalam laporan keuangan pemerintah daerah sehingga pemerintah daerah berusaha dengan baik dalam melaksanakan seluruh perencanaan yang ada karena akan dinilai dan diawasi oleh masyarakat. Dengan diterapkannya akuntabilitas publik diharapkan dapat mengurangi kesalahan dan kecurangan aparat pemerintah dalam pengelolaan keuangan daerah.

Berdasarkan hasil olah data yang diperoleh bahwa indikator yang paling dominan atas akuntabilitas publik adalah indikator “perencanaan” dengan pernyataan “anggaran yang dibuat mencerminkan visi, misi, tujuan, sasaran dan

64 hasil yang ditetapkan”, hal ini menandakan bahwa pegawai negeri sipil dalam proses perencanaan anggaran sudah sesuai dengan visi, misi, tujuan, sasaran dan

64 hasil yang ditetapkan”, hal ini menandakan bahwa pegawai negeri sipil dalam proses perencanaan anggaran sudah sesuai dengan visi, misi, tujuan, sasaran dan

Dalam dokumen SKRIPSI. Diajukan Oleh: Winda Dwi Lestari (Halaman 59-0)