1
PENGARUH KEJELASAN SASARAN ANGGARAN, AKUNTABILITAS PUBLIK, DAN SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN TERHADAP KINERJA MANAJERIAL INSTANSI PEMERINTAH
DAERAH KABUPATEN TANGERANG
SKRIPSI
Diajukan Kepada Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa
Dalam Rangka Memenuhi Sebagai Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Ekonomi (SE)
Diajukan Oleh:
Winda Dwi Lestari 5552131347
JURUSAN AKUNTANSI
FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA
SERANG
2017
2
3
ii LEMBAR PERSEMBAHAN
Dengan mengucapkan Alhamdulillahirobbil’alamin, berkat segala limpahan rahmat dan ridho
Allah SWT, penulis dapat menyelesaikan karya ini.
Kupersembahkan karya ini untuk:
Ibuku tercinta Ibu Kusmiyati, atas segala do’a disetiap sujudnya dan atas segala nasihat serta pengorbanannya selama ini yang selalu menjadi motivasi bagi
penulis untuk menyelesaikan skripsi ini,
Ayahku tercinta R Doni Supriyatna, atas segala pelajaran hidup,nasihat dan pengorbanannya agar penulis menjadi manusia yang lebih baik dan berguna di
masa depan,
Kakakku tersayang Gita Larissa dan Adikku tersayang Fidella Helga Philbertha yang memberikan keceriaan, semangat dan motivasi dalam mengejar cita-cita,
Sahabat, dan teman-temanku: Seluruh Mahasiswa Jurusan Akuntansi Untirta 2013,Seluruh Mahasiswa Kelas C Akuntansi 2013,Kawan-kawan Kelompok 13
KKM Perumpera Untirta 2016.
Terima kasih atas semua cinta, sayang, perhatian, semangat ,do’a, dan saran yang kalian berikan tanpa pamrih yang selalu menguatkan saya menjalani suka
duka dalam menyelesaikan karya ini.
iii LEMBAR MOTTO
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita
gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(Q.S. Al-Baqarah : 155)
“Sesungguhnya penolong kamu hanyalah Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman, yang mendirikan shalat dan menunaikan zakat, seraya mereka
tunduk (kepada Allah).”
(Q.S. Al-maidah : 55)
“Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat,kecuali bagi orang-orang yang khusyu”
(Q.S. Al-Baqarah : 45)
“Yakinlah ada sesuatu yang menantimu selepas banyak kesabaran (yang kau jalani) yang akan membuatmu terpana hingga kau lupa pedihnya rasa sakit”
(Imam Ali Bin Abi Thalib AS)
“Setiap kali kau merasa beruntung,Percayalah! Do’a Ibumu telah didengar”
iv KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena dengan segala rahmat serta karunia-Nya yang tercurah limpahkan kepada penulis sehingga penulis dapat menyusun dan menyelesaikan skripsi ini dengan baik. Shalawat serta salam senantiasa selalu tercurahkan kepada Nabi Muhammad SAW, para sahabat, dan para pengikutnya.
Penulisan skripsi yang berjudul “Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran, Akuntabilitas Publik dan Sistem Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang” dibuat oleh penulis agar memenuhi salah satu syarat untuk menempuh ujian Sarjana program S1 (Strata Satu) Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
Dalam penyusunan skripsi ini penulis banyak mendapatkan bantuan dan dukungan moril maupun materil dari berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Prof. Dr. H. Soleh Hidayat, M.Pd, selaku Rektor Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
2. Dr. H. Fauji Sanusi, Drs., M.M., selaku Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
3. Roni Budianto, SE., Ak., M.E., C.A., CPA selaku Ketua Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
4. Galih Fajar Muttaqin, SE., M.Ak selaku Sekretaris Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
5. Andi,SE., M.Si selaku Dosen Pembimbing I (satu) yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing, memotivasi, dan memberikan
v arahan serta saran kepada penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
6. Ayu Noorida Soerono, SE, Ak., M.Si., CA selaku Dosen Pembimbing II (dua) yang telah bersedia meluangkan waktunya untuk membimbing dan selalu memberikan motivasi serta segala kritik, saran dan semua bantuannya dan mengarahkan penulis hingga skripsi ini dapat terselesaikan dengan baik.
7. H. Seandy Ginanjar, SE., M.Ak selaku dosen penelaah 1 (satu), Mazda Eko Sri T,S.Pd., SE., M.Akt selaku dosen penelaah 2 (dua) yang telah meluangkan waktu, tenaga dan pikiran untuk memberikan bimbingan, motivasi , kritik dan seluruh sarannya.
8. Seluruh Dosen Jurusan Akuntansi, Staff Akuntansi, Staff FEB, Staff Laboraturium Studi Akuntansi, Staff OB gedung, Staff Perpustakaan FEB dan Staff Perpustakaan Universitas Sultan Ageng Tirtayasa.
9. Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (KESBANGPOL) Provinsi Banten dan Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang yang telah memberikan kesempatan kepada penulis untuk melakukan penelitian dalam proses menyelesaikan skripsi ini.
Penulisan menyadari bahwa dalam penulisan skripsi ini masih jauh dari kata sempurna dan masih banyak hal yang perlu diperbaiki dan ditambahkan. Oleh karena itu, penulis mengharap kritik dan saran yang sifatnya membangun guna memperbaiki skripsi ini. Akhir kata semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi pembaca dan pihak-pihak lainnya.
Serang, Oktober 2017
Winda Dwi Lestari
vi DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL LEMBAR PENGESAHAN
LEMBAR PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI... i
LEMBAR PERSEMBAHAN... ii
LEMBAR MOTTO... iii
KATA PENGANTAR... iv
DAFTAR ISI……… vi
DAFTAR TABEL... xi
DAFTAR GAMBAR... xiii
DAFTAR LAMPIRAN... xiv
ABSTRAK... xv
ABSTRACT... xvi
BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang………....………... 1
1.2 Rumusan Masalah……...………... 9
1.3 Tujuan Penelitian ………...……….... 10
1.4 Manfaat Penelitian... 10
1.4.1 Manfaat Akademik... 10
1.4.2 Manfaat Praktik... 11
vii BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori... 12
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)... 12
2.1.2 Kejelasan Sasaran Anggaran... 13
2.1.3 Indikator Kejelasan Sasaran Anggaran... 14
2.1.4 Akuntabilitas Publik... 15
2.1.5 Macam-macam Akuntabilitas Publik... 17
2.1.6 Indikator Akuntabilitas Publik... 17
2.1.7 Sistem Pengendalian Manajemen... 18
2.1.8 Indikator Sistem Pengendalian Manajemen... 19
2.1.9 Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah... 20
2.1.10 Indikator Kinerja Manajerial Instansi Pemeritah Daerah... 21
2.2 Penelitian Terdahulu... 23
2.3 Pengembangan Hipotesis... 25
2.3.1 Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 25
2.3.2 Pengaruh Akuntabilitas Publik Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 26
2.3.3 Pengaruh Sistem Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupeten Tangerang... 27
2.4 Kerangka Konsep Penelitian ... 29
viii BAB III METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian... 30
3.2 Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel... 30
3.3 Jenis dan Sumber Data... 32
3.4 Metode Pengumpulan Data... 32
3.5 Definisi Operasionalisasi Variabel Penelitian... 32
3.5.1 Variabel Dependen... 33
3.5.2 Variabel Independen... 33
3.6 Metode Analisis Data... 35
3.6.1 Analisis Statistik Deskriptif... 36
3.6.2 Uji Kualitas Data…... 36
3.6.2.1 Uji Validitas... 36
3.6.2.2 Uji Reliabilitas... 36
3.7 Alat Pengujian Hipotesis... 37
3.7.1 Structural Equation Modelling (SEM) melalui Partial Least Square (PLS)... 37
3.7.2 Menilai Outer Model atau Measurement Model... 38
3.7.3 Menilai Inner Model atau Structural Model... 40
3.8 Uji Hipotesis... 41
BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN 4.1 Gambaran Umum Responden... 43
4.2 Statistik Deskriptif... 46
4.2.1 Jenis Kelamin... 46
4.2.2 Usia... 46
ix
4.2.3 Jabatan... 47
4.2.4 Masa Kerja... 47
4.2.5 Pendidikan... 48
4.3 Pengujian Kualitas Data... 49
4.3.1 Uji Validitas... 49
4.3.2 Uji Reliabilitas... 50
4.4 Analisis Data... 51
4.4.1 Outer Model (Measurement Model)... 51
4.4.1.1 Outer Model Variabel Kejelasan Sasaran Anggaran... 53
4.4.1.2 Outer Model Variabel Akuntabilitas Publik.... 54
4.4.1.3 Outer Model Variabel Sistem Pengendalian Manajemen... 55
4.4.1.4 Outer Model Variabel Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 56
4.4.2 Pengujian Hipotesis dengan Inner Model... 57
4.5 Pengujian Hipotesis... 59
4.5.1 Kejelasan Sasaran Anggaran Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 59
4.5.2 Akuntabilitas Publik Berpengaruh
Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi
x
Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 60
4.5.3 Sistem Pengendalian Manajemen Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 61
4.5.4 Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis... 62
4.6 Pembahasan Hipotesis... 62
4.6.1 Kejelasan Sasaran Anggaran Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 62
4.6.2 Akuntabilitas Publik Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 64
4.6.3 Sistem Pengendalian Manajemen Berpengaruh Signifikan terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 65
BAB V SIMPULAN DAN SARAN 5.1 Simpulan... 67
5.2 Keterbatasan Penelitian... 68
5.3 Saran... 68
DAFTAR PUSTAKA………....……….. 70
xi DAFTAR TABEL
Halaman
Tabel 1.1 Laporan Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah
Kabupaten Tangerang Tahun 2015... 2
Tabel 1.2 Laporan Anggaran dan Pendapatan Belanja Daerah Kabupaten Tangerang Tahun 2016... 3
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ... 23
Tabel 3.1 Instansi Pemerintah Kabupaten Tangerang... 31
Tabel 3.2 Operasional Variabel Penelitia... 34
Tabel 4.1 Daftar Sampel... 43
Tabel 4.2 Persentase Pengiriman dan Pengambilan Kuesioner... 45
Tabel 4.3 Persentase Jenis Kelamin Responden... 46
Tabel 4.4 Persentase Usia Responden... 46
Tabel 4.5 Persentase Jabatan Responden... 47
Tabel 4.6 Persentase Masa Kerja Responden... 47
Tabel 4.7 Persentase Pendidikan Responden... 48
Tabel 4.8 Average Variance Extracted (AVE)... 49
Tabel 4.9 Composite Reliability... 50
Tabel 4.10 Nilai Outer Loading Variabel Kejelasan Sasaran Anggaran... 53
Tabel 4.11 Nilai Outer Loading Variabel Akuntabilitas Publik... 54
Tabel 4.12 Nilai Outer Loading Variabel Sistem Pengendalian Manajemen... 55
Tabel 4.13 Nilai Outer Loading Variabel Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang... 56
xii
Tabel 4.14 Result for Inner Weight... 58
Tabel 4.15 R-Square... 58
Tabel 4.16 Hipotesis 1... 59
Tabel 4.17 Hipotesis 2... 60
Tabel 4.18 Hipotesis 3... 61
Tabel 4.19 Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis... 62
xiii DAFTAR GAMBAR
Halaman
Gambar 2.1 Kerangka Konsep Penelitian ... 29 Gambar 4.1 Full Model Structural Partial Least Square... 52
xiv DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran I Surat Penelitian Lampiran II Kuesioner Penelitian Lampiran III Tabulasi Data
Lampiran IV Output SmartPLS Versi 3 Lampiran V Kartu Bimbingan
xv ABSTRAK
PENGARUH KEJELASAN SASARAN ANGGARAN, AKUNTABILITAS PUBLIK, SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN TERHADAP
KINERJA MANAJERIAL INSTANSI PEMERINTAH DAERAH KABUPATEN TANGERANG
Oleh:
Winda Dwi Lestari
(5552131347)
Penelitian ini bertujuan untuk meneliti tentang pengaruh kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang. Sampel dalam penelitian ini adalah responden dengan teknik sampel secara purposive sampling yaitu pegawai negeri sipil Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang. Data dikumpulkan dengan menyebarkan kuesioner secara langsung kepada responden yang bersangkutan. Dari 48 kuesioner disebarkan, jumlah kuesioner yang kembali adalah 36 kuesioner. Metode analisis yang digunakan adalah analisis Structural Equation Modeling (SEM). Data dalam penelitian ini diolah dengan menggunakan Software Smart Partial Least Square (SmartPLS) versi 3. Hasil dari penelitian ini mengungkapkan bahwa semua variabel independen dalam penelitian ini yaitu kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen berpengaruh terhadap kinerja manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang.
Kata kunci : Kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik, sistem pengendalian manajemen, kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang
xvi ABSTRACT
EFFECT OF BUDGET TARGETS, PUBLIC ACCOUNTABILITY, MANAGEMENT CONTROL SYSTEM TO MANAGERIAL PERFORMANCE
INSTITUTIONS LOCAL GOVERNMENT OF TANGERANG REGENCY
By:
Winda Dwi Lestari
(5552131347)
This study aimed to examine the effect of clarity of budget targets, public accountability and control systems to the managerial performance of the Regional Government Institutions of Tangerang Regency. The sample in this study were 48 respondent to the sampling technique is purposive sampling employees in Government Institution of Tangerang Regency. The data were collected by distributed, the number of questionnaires returned was 36 questionnaires. The analytical method used is the analysis of Structural Equation Modeling Method (SEM). The data were processed using software Smart Partial Least Square Software (SmartPLS) version 3. The results of this study revealed that all the independent variables in this study, namely effect of budget targets, public accountability and control systems to the managerial performance of the Regional Government Institutions of Tangerang Regency.
Keyword: Clarity of budget targets, public accountability and management control systems, managerial performance of Tangerang District Government Agencies.
1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Terselenggaranya good governance merupakan prasyarat bagi setiap pemerintahan untuk mewujudkan aspirasi masyarakat dan mencapai tujuan serta cita-cita bangsa bernegara. Dalam rangka itu diperlukan pengembangan dan penerapan sistem pertanggung jawaban yang tepat, jelas, dan terukur sehingga penyelenggaraan pemerintahan dan pembangunan dapat berlangsung secara berdayaguna, bersih dan bertanggungjawab serta bebas dari korupsi, kolusi dan nepotisme. Dengan kata lain kinerja aparatur pemerintah kini lebih banyak mendapat sorotan, karena masyarakat kini mulai merasakan manfaat yang mereka peroleh atas pelayanan pada instansi pemerintah. Kondisi ini mendorong meningkatnya kebutuhan atas pengukuran kinerja manajerial pada instansi pemerintah.
Kejelasan sasaran anggaran merupakan sejauhmana tujuan anggaran ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan tujuan agar anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggungjawab atas pencapaian sasaran anggaran tersebut (Hazmi dkk, 2012:1). Faktor sumber daya manusia merupakan modal dasar dalam pelaksanaan pembuatan suatu anggaran namun, karena dalam sistem pemerintahan bahwa pegawai negeri sipil yang menduduki suatu jabatan tidak selalu orang yang memiliki kemampuan dan pendidikan yang sesuai dengan pelaksanaan pekerjaannya maka hasil yang dicapai kurang optimal (Helmi, 2016:8).
Tanpa adanya suatu kejelian dalam menganalisa anggaran yang akan dibuat, maka
2 tidak akan didapat realisasi yang sesuai dalam anggaran yang tentunya akan berakibat pada kurang optimalnya hasil pencapaian kinerja (Helmi, 2016:9).
Adanya sasaran anggaran yang jelas, maka akan mempermudah untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan tugas organisasi dalam rangka untuk mencapai tujuan-tujuan dan sasaran-sasaran yang telah ditetapkan sebelumnya (Putra, 2013:2). Permasalahan yang terjadi dalam lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Tangerang adalah rendahnya realisasi program atau kegiatan dan lemahnya permasalahan daya serap anggaran pada APBD 2015 – 2016 Kabupaten Tangerang.
Tabel 1.1
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tangerang Tahun 2015
Total Pendapatan Rp 4.010.370.872.405,-
Realisasi Pendapatan Rp 4.228.353.166.861,-
Anggaran Belanja Rp 4.867.750.687.557,-
Penyerapan Anggaran Rp 4.183.244.741.221,-
Sumber : app.tangerangkab.go.id
3 Tabel 1.2
Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Kabupaten Tangerang Tahun 2016
Total Pendapatan Rp 4.340.507.387.660,-
Realisasi Pendapatan Rp 4.790.190.061.558,-
Anggaran Belanja Rp 4.956.992.921.274,-
Penyerapan Anggaran Rp 4.427.183.597.639,-
Sumber : app.tangerangkab.go.id
Berdasarkan tabel 1.1 menunjukkan bahwa APBD Kabupaten Tangerang untuk tahun 2015 penyerapan anggaran masih belum maksimal, hal ini dilihat dari realisasi atau penyerapan anggaran sebesar Rp 4.183.244.741.221,- dari anggaran belanja sebesar Rp 4.867.750.687.557,-. Berdasarkan tabel 1.2 menunjukkan bahwa APBD Kabupaten Tangerang untuk tahun 2016 penyerapan anggaran masih tetap belum maksimal, hal ini dilihat dari realisasi atau penyerapan anggaran sebesar Rp 4.427.183.597.639,- dari anggaran belanja sebesar Rp4.956.992.921.274,-. Hal ini menunjukkan bahwa pengelolaan anggaran belum efektif karena anggaran yang telah ditetapkan tersebut merupakan sasaran anggaran yang hendak dicapai untuk kegiatan atau program yang tidak dapat dilaksanakan pada tahun anggaran yang bersangkutan. Penyerapan anggaran yang tidak optimal menunjukkan adanya permasalahan yang terjadi dalam pengelolaannya. Dari fenomena tersebut dapat diartikan bahwa pemerintah daerah Kabupaten Tangerang masih terdapat masalah terkait tidak maksimalnya penyerapan anggaran belanja pada APBD 2015 dan 2016, anggaran tersebut tidak dapat terealisasi atau tepat sasaran sesuai dengan tujuan anggaran yang hendak dicapai sebelumnya, sehingga
4 hal ini dapat diartikan bahwa kinerja manajerial instansi pemerintah Kabupaten Tangerang belum optimal.
Akuntabilitas publik merupakan salah satu elemen terpenting dan merupakan tantangan utama yang dihadapi pemerintah dan pegawai negeri sipil (Manurung, 2012:3). Akuntabilitas juga sangat terkait dengan sikap dan semangat pertanggungjawaban seseorang (Manurung, 2012:3). Akuntabilitas adalah pertanggungjawaban kepada publik atas setiap aktivitas yang dilakukan (Hazmi dkk, 2012:3). Akuntabilitas publik adalah kewajiban pihak pemegang saham (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (Hazmi dkk, 2013:3). Akuntabilitas publik sangat penting diterapkan karena dengan adanya akuntabilitas publik kepada masyarakat dan DPRD, masyarakat dan DPRD tidak hanya untuk mengetahui anggaran tersebut tetapi juga mengetahui pelaksanaan kegiatan yang dianggarkan sehingga instansi pemerintah daerah berusaha dengan baik dalam melaksanakan seluruh perencanaan yang ada karena akan dinilai dan diawasi oleh masyarakat dan DPRD.
Permasalahan yang terjadi dalam lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Tangerang adalah ditemukan dugaan penyelewengan dana desa yang dilakukan oleh kepala desa diwilayah Gembong, Kecamatan Balaraja, Kabupaten Tangerang, Banten. Dana desa di wilayah Gembong diduga diselewengkan mencapai Rp383.000.000,- untuk kegiatan pemerintahan dan pos pembangunan fisik sebesar Rp200.000.000,-. Selain itu, ada juga dugaan penyelewengan dana desa sebesar
5 Rp123.000.000,- pada bidang pemberdayaan dan pembinaan masyarakat. Barhum HS sebagai Wakil Ketua DPRD Kabupaten Tangerang beranggapan bahwa penggunaan dana APBD harus dipertanggungjawabkan ke publik. Aparat pemeritah harus selektif dan tidak mencairkan dana desa tahap berikutnya sebelum kepala desa menyerahkan Laporan Pertanggungjawaban Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa (LPJ-APBDes) (www.harnas.co). Dari fenomena tersebut dapat diartikan bahwa masih terdapat penggunaaan dana APBD Kabupaten Tangerang yang belum seluruhnya dipertanggungjawabkan kepada publik, sehingga hal ini dapat diartikan bahwa kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang belum optimal.
Dalam suatu organisasi sektor publik, pemerintah dituntut untuk memberikan kinerja pelayanan yang berorientasi pada kepentingan masyarakat dan tanggap dengan lingkungannya. Setiap instansi pemerintah memiliki tujuan yang hendak dicapai. Untuk mencapai tujuan tersebut, pemerintah memerlukan strategi yang dijabarkan dalam bentuk program-program atau aktivitas (Amelia, 2015:1).
Organisasi pemerintah memerlukan sistem pengendalian manajemen untuk dapat memberikan jaminan dilaksanakannya strategi organisasi secara efektif dan efisien sehingga tujuan organisasi dapat dicapai(Amelia, 2015:1). Dengan adanya sistem pengendalian manajemen, hal ini dapat dijadikan alat untuk pengendalian penyimpangan-penyimpangan yang mungkin dapat terjadi dan juga sebagai alat untuk mengkoordinasikan, mengkomunikasikan, memotivasi dan mengevaluasi suatu prestasi. Sistem pengendalian manajemen sebagai sebuah proses seorang manajer atau pimpinan dalam memastikan sumber daya yang diperoleh dan
6 dipergunakan secara efisien dan efektif dalam usaha untuk mencapai tujuan organisasi (Manurung, 2012:9).
Permasalahan yang terjadi dalam lingkungan pemerintah daerah Kabupaten Tangerang adalah masih terdapat penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan pegawai negeri sipil pada instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Hal ini terbukti ditemukannya kasus korupsi yang menyangkut pegawai negeri sipil pada Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang yaitu Wahyono yang ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus korupsi pengadaan alat peraga di lingkungan Sekolah Menengah Pertama (SMP). Kepala Subdit Tindak Pidana Korupsi Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya beranggapan bahwa wahyono selaku kuasa pengguna anggaran tidak melakukan tahapan lelang sebagaimana diatur dalam Kepres No 80\/2003 tentang pedoman pengadaan barang dan jasa pemerintah. Lelang tersebut dilakukan pada tahun 2010. Adapun, dana untuk pengadaan alat peraga di tingkat SMP ini bersumber dari Dana Alokasi Khusus (DAS) Bidang Pendidikan Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang dengan pagu anggaran sebesar Rp 7.000.000.000,06 miliar. Unit Layanan Pengadaan (ULP) ini dilaksanakan dari lintas sektoral seperti Dinas Bina Marga dan Dinas Kesehatan.
Kerugian negara yang ditimbulkan akibat praktik korupsi ini ditaksir mencapai Rp3.698.959.000,- (news.detik.com). Dari fenomena tersebut dapat diartikan bahwa masalah lemahnya sistem pengendalian dalam manajemen pada Dinas Pendidikan Kabupaten Tangerang yang menjadi faktor pegawai negeri sipil melakukan penyimpangan, sehingga hal ini dapat diartikan bahwa kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang belum optimal.
7 Kinerja sektor publik sebagian besar dipengaruhi oleh kinerja aparat atau manajerial (Putra, 2013:2). Kinerja manajerial adalah kinerja para individu anggota organisasi dalam kegiatan manajerial yang meliputi perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pengaturan staf, negoisasi, perwakilan (Putra, 2013:2). Kinerja manajerial instansi pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur pemerintah (Astini dkk, 2014:1). Kinerja manajerial khususnya instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang merupakan sesuatu hal yang menarik untuk di kaji lebih lanjut. Dari berbagai tulisan yang berhasil di unduh dari internet, ternyata ditemukan masih terjadi penyimpangan-penyimpangan yang dilakukan. Pada tahun 2014 laporan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja pemerintah Kabupaten Tangerang mendapatkan kategori cukup baik (CC) (www.kabar6.com).
Pada tahun 2015 laporan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja pemerintah Kabupaten Tangerang masih tetap mendapatkan kategori cukup baik (CC) (www.tangeranghits.com). Laporan hasil Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kemenpan RB) pada tanggal 25 Januari 2017 kembali menyerahkan Laporan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja pemerintah Kabupaten Tangerang untuk tahun 2016 yang menjelaskan bahwa wilayah Kabupaten Tangerang mengalami peningkatan peringkat menjadi B (Baik) (www.radarbanten.co.id). Kabupaten Tangerang mengalami peningkatan peringkat menjadi kategori B atas laporan hasil evaluasi akuntabilitas kinerja pemerintah untuk tahun 2016 namun, masih terjadi penyimpangan-penyimpangan di beberapa
8 instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Buruknya absensi pegawai negeri sipil pemerintah daerah Kabupaten Tangerang, H. Yani Sutisna, SH., Msi menjelaskan bahwa pada tahun 2015 ada 6 orang pegawai negeri sipil yang dipecat.
Pada tahun 2016 ada 2 orang pegawai negeri sipil yang dipecat. Dalam rangka pengawasan disiplin pegawai negeri sipil dan peningkatan kualitas pelayanan publik, Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Menpan RB), Yuddy Chrisnandi mengunjungi Kantor Badan Kepegawaian Daerah (BKD) Kabupaten Tangerang. Kegiatan kunjungan kali ini bertujuan untuk melihat sejauh mana produktifitas pegawai negeri sipil dalam absensi, karena dilihat bahwa kelemahan utama pemerintah daerah Kabupaten Tangerang adalah pengawasan dalam produktifitas kerja dari sisi absen yang masih manual dan sering disalahgunakan. Walaupun sekarang sudah banyak menggunakan electronic finger print, tetapi sistem datanya yang masih belum terintegrasi karena sistemnya masih offline, sedangkan yang diinginkan oleh Menpan RB adalah system real time atau system online (www.forwatnews.com).
Permasalahan lain ditemukan pada Dinas Tata Ruang yang berada di gedung pekerjaan umum pusat pemerintahan Kabupaten Tangerang di Tigaraksa, instansi yang mengurusi penataan wilayah ini jarang terlihat pegawai negeri sipil yang bekerja. Masyarakat yang membutuhkan pelayanan tidak menemukan jajaran birokrasi yang seharusnya bekerja maksimal dan berkinerja bagus. Aktivis pemerhati kinerja birokrasi LSM Cakar Nusantara yang ditemui disaat yang sama di komplek pemerintah daerah Kabupaten Tangerang Tigaraksa menyayangkan kinerja birokrasi seperti ini dan beranggapan bahwa sepinya kantor Dinas Tata Ruang sebagai sesuatu hal yang sering terjadi. Seharusnya mereka secara maksimal
9 memberikan pelayanan sehingga keperluan masyarakat dapat terlayani dengan baik (Citizen6.liputan6.com). Dari fenomena yang dijelaskan diatas dapat diartikan bahwa kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang masih belum optimal.
Berdasarkan latar belakang yang telah dipaparkan di atas, peneliti ini mengambil judul “Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran, Akuntabilitas Publik dan Sistem Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang”.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah pada uraian di atas, maka identifikasi masalah dalam penelitian ini sebagai berikut:
1. Apakah kejelasan sasaran anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang?
2. Apakah akuntabilitas publik berpengaruh terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang?
3. Apakah sistem pengendalian manajemen berpengaruh terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang?
10 1.3 Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah yang diuraikan diatas, maka penelitian ini mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk meneliti pengaruh kejelasan sasaran anggaran terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
2. Untuk meneliti pengaruh akuntabilitas publik terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
3. Untuk meneliti pengaruh sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
1.4 Manfaat Penelitian
Berdasarkan tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini, maka penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi beberapa pihak sebagai berikut:
1.4.1 Manfaat Akademik
Penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuan, wawasan serta kajian teoritis khususnya mengenai pengaruh kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah. Penelitian ini dapat digunakan sebagai sumber referensi dan bahan masukan bagi penelitian yang sejenis untuk studi kontribusi literatur yang berfokus pada variabel kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik, sistem pengendalian manajemen dan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah.
11 1.4.2 Manfaat Praktik
Hasil penelitian ini diharapkan mampu menjadi pertimbangan bagi pihak yang terkait dalam menerapkan kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen sehingga dapat meningkatkan persepsi yang dapat memaksimalkan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang secara keseluruhan.
12
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Landasan Teori
2.1.1 Teori Keagenan (Agency Theory)
Menurut Halim dan Abdullah (2006:22) teori keagenan adalah teori yang menganalisis susunan kontraktual di antara dua atau lebih individu, kelompok, atau organisasi. Salah satu pihak (principal) membuat suatu kontrak baik secara implisit maupun eksplisit dengan pihak lain (agent) agar agen akan melakukan pekerjaan seperti yang dinginkan oleh prinsipal (dalam hal ini terjadi pendelegasian wewenang) (Sari, 2016:3). Mengacu pada teori keagenan, Mahsun (2006) menjelaskan bahwa akuntabilitas publik dapat diartikan sebagai kewajiban pihak pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan dan mengungkapkan segala aktifitas dan kegiatan yang menjadi tanggung jawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (Hazmi dkk, 2012:3). Akuntabilitas publik terdiri dari dua macam,yaitu pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi (akuntabilitas vertikal) dan pertanggungjawaban kepada masyarakat luas (akuntabilitas horizontal).
Pemerintah yang bertindak sebagai agen mempunyai kewajiban menyajikan informasi yang bermanfaat bagi para pengguna informasi baik keuangan maupun non keuangan, pemerintah yang bertindak sebagai prinsipal dalam menilai kinerja dan membuat keputusan, baik keputusan yang berkaitan dengan ekonomi, sosial maupun politik baik secara langsung atau tidak langsung melalui wakil-wakilnya.
13 Hubungan antara teori keagenan dengan penelitian ini adalah pemerintah yang bertindak sebagai agen (pengelola pemerintahan) yang harus menetapkan strategi dan pengendalian tertentu agar dapat memberikan kinerja atau pelayanan terbaik untuk publik (masyarakat) sebagai pihak prinsipal. Pihak prinsipal tentu menginginkan hasil kinerja yang baik dari agen (pemerintah) dan kinerja tersebut salah satunya dapat dilihat dari laporan-laporan yang dipublikasi serta pelayanan secara maksimal yang diberikan oleh pemerintah. Apabila kinerja pemerintah baik, maka masyarakat akan mempercayai pemerintah.
2.1.2 Kejelasan Sasaran Anggaran
Pengertian anggaran menurut Hansen dan Mowen (2004) mendefinisikan sebagai rencana keuangan untuk masa depan, rencana tersebut mengidentifikasi tujuan dan tindakan yang diperlukan untuk pencapaiannya (Setiawan, 2013:3).
Menurut Narafin (2004) anggaran adalah suatu rencana keuangan periodik yang disusun berdasarkan program yang telah disahkan (Setiawan, 2013:3). Anggaran dapat diinterprestasikan sebagai paket pernyataan menyangkut perkiraan penerimaan dan pengeluaran yang diharapkan akan terjadi dalam satu atau beberapa periode mendatang (Setiawan, 2013:3). Terdapat beberapa karakteristik sistem penganggaran (Suwandi, 2013:3). Salah satu karakteristik anggaran adalah kejelasan sasaran anggaran. Kejelasan sasaran anggaran merupakan sejauhmana tujuan anggaran ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan tujuan agar anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggungjawab atas pencapaian sasaran anggaran tersebut (Hazmi dkk, 2012:1).
14 Salah satu penyebab tidak efektif dan efisiennya anggaran dikarenakan ketidakjelasan sasaran anggaran, yang mengakibatkan aparatur pemerintah daerah mengalami kesulitan dalam penyusunan target-target anggaran (Suwandi, 2013:3).
Ketidakjelasan sasaran anggaran akan menyebabkan pelaksana anggaran menjadi bingung, tidak tenang dan tidak puas dalam bekerja hal ini menyebabkan pelaksana anggaran tidak dapat memotivasi individu dalam mencapai kinerja sebagaimana yang diharapkan (Hazmi dkk, 2012:1). Jika terdapat kejelasan sasaran anggaran yang jelas, maka aparat pelaksana anggaran juga akan terbantu dalam perealisasiannya, secara langsung ini akan mempengaruhi terhadap kinerja aparat instansi pemerintahan. Sasaran anggaran yang jelas akan memudahkan instansi pemerintah daerah untuk menyusun target anggaran (Suwandi, 2013:3).
Selanjutnya target-target anggaran yang disusun akan sesuai dengan sasaran yang akan dicapai pemerintah daerah oleh karena itu, kinerja sendiri merupakan hasil akhir (output) organisasi yang sesuai dengan tujuan organisasi (Suwandi, 2013:3).
2.1.3 Indikator Kejelasan Sasaran Anggaran
Indikator kejelasan sasaran anggaran (Putra, 2013: 6) sebagai berikut:
1. Tujuan: membuat secara terperinci tujuan umum tugas tugas yang harus dikerjakan.
2. Kinerja: menetapkan kinerja dalam bentuk pertanyaan yang diukur.
3. Standar: menetapkan standar atau target yang ingin dicapai.
4. Jangka Waktu: menetapkan jangka waktu yang dibutuhkan untuk pengerjaan.
5. Sasaran Prioritas: menetapkan sasaran yang prioritas.
15 6. Tingkat Kesulitan: menetapkan sasaran berdasarkan tingkat kesulitan dan
pentingnya.
7. Koordinasi: menetapkan kebutuhan koordinasi.
2.1.4 Akuntabilitas Publik
Pengertian akuntabilitas adalah merupakan pemberian informasi dan pengungkapan (disclosure) atas aktivitas dan kinerja finansial pemerintah daerah kepada pihak-pihak yang berkepentingan (Wulandari, 2013:5). Akuntabilitas publik adalah kewajiban pihak pemegang saham (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (Wulandari, 2013:5). Ruang lingkup akuntabilitas pemerintah didasarkan pada konsep demokrasi yang berarti bahwa rakyat mempunyai hak untuk mengetahui, sehingga pelaporan keuangan merupakan hal yang penting untuk memenuhi kewajiban pemerintah dalam memberikan pertanggungjawaban (Wulandari, 2013:17). Tuntutan masyarakat kepada pemerintah daerah untuk melakukan akuntabilitas publik mengakibatkan pemerintah daerah harus juga melakukan pelaporan secara horizontal yang ditujukan kepada DPRD dan masyarakat dalam bentuk akuntabilitas horizontal (Wulandari, 2013:5).
Akuntabilitas juga merujuk pada pengembangan rasa tanggungjawab publik bagi pengambil keputusan di pemerintahan, sektor privat dan organisasi kemasyarakatan sebagaimana halnya kepada para pemilik (Wulandari, 2013:5).
16 Khususnya dalam birokrasi, akuntabilitas merupakan upaya menciptakan sistem untuk memonitor dan mengontrol kinerja dalam kaitannya kualitas, inefisiensi, dan perusakan sumber daya, serta transparansi dalam manajemen keuangan, pengadaan, accounting, dan pengumpulan sumber daya (Wulandari, 2013:5). Standar yang digunakan untuk menilai akuntabilitas adalah peraturan atau legalitas yang dibuat oleh DPRD sebagai controller external kepada orang yang bertanggungjawab (Wulandari, 2013:6). Pengujian legalitas melibatkan ketentuan yang ada dalam undang-undang dan peraturan instansi pemerintah (Wulandari, 2013:6). Agar diperoleh objektifitas sesuai dengan peraturan perundang-undangan untuk melindungi penggunaan sumber daya publik, pemerintah membuat prosedur yang harus diikuti secara fair dan adil (Wulandari, 2013:6). Prosedur tersebut merupakan sarana penting untuk menjamin akuntabilitas sesuai dengan perhitungan anggaran keuangan (Wulandari, 2013:6).
Fokus utama akuntabilitas adalah efisiensi dan ekonomi penggunaan dana publik, properti, tenaga kerja, dan sumber daya lainnya (Wulandari, 2013:6).
Akuntabilitas menghendaki pejabat publik harus bertanggungjawab tidak hanya sekedar mematuhi (Wulandari, 2013:6). Akuntabilitas merupakan prinsip yang menjamin bahwa setiap kegiatan penyelenggaraan pemerintahan dapat dipertanggungjawabkan secara terbuka oleh pelaku kepada pihak-pihak yang terkena dampak penerapan kebijakan (Wulandari, 2013:6). Pengambilan keputusan di dalam organisasi-organisasi publik melibatkan banyak pihak oleh karena itu,wajar saja apabila rumusan kebijakan merupakan hasil kesepakatan antara warga pemilih (constituency) para pemimpin politik, teknorat, birokrat, serta para pelaksana di lapangan (Wulandari, 2013:6). Sistem akuntabilitas kinerja instansi
17 pemerintah pada pokoknya adalah instrumen yang digunakan instansi pemerintah dalam memenuhi kewajiban untuk mempertanggungjawabkan keberhasilan dan kegagalan pelaksanaan misi organisasi terdiri dari berbagai komponen yang merupakan satu kesatuan, yaitu perencanaan strategis, perencanaan kinerja, pengukuran kinerja, dan pelaporan kinerja (Wulandari, 2013:6).
2.1.5 Macam – macam Akuntabilitas Publik
Akuntabilitas publik terdiri atas dua macam (Putra, 2013:5) sebagai berikut:
1. Akuntabilitas Vertical
Akuntabilitas vertical adalah pertanggungjawaban atas pengelolaan dana kepada otoritas yang lebih tinggi, misalnya pertanggungjawaban unit-unit kerja seperti dinas kepada pemerintah daerah, pertanggungjawaban pemerintah daerah kepada pemerintah pusat, dan pemerintah pusat kepada MPR.
2. Akuntabilitas Horizontal
Akuntabilitas horizontal adalah pertanggungjawaban kepada masyarakat luas beberapa bentuk dimensi pertanggungjawaban publik oleh pemerintah daerah.
2.1.6 Indikator Akuntabilitas Publik
Indikator akuntabilitas publik (Solina, 2014:14) sebagai berikut:
1. Kebijakan: Pertanggungjawaban pemerintah, baik pusat maupun daerah, atas kebijakan-kebijakan yang diambil pemerintah terhadap DPR/DPRD dan masyarakat luas.
2. Program: Pertimbangan anggaran dapat dicapai sesuai dengan realisasinya bagi kepentingan publik.
18 3. Manajerial: Program-program anggaran yang dirancang mempertimbangkan
alternatif program yang memberikan hasil yang maksimal.
4. Manfaat: Program-program anggaran yang dirancang mempertimbangkan prinsip efektifitas agar mencapai target/tujuan.
5. Horizontal: Pelaksanaan pertanggungjawaban program-program APBD kepada masyarakat.
6. Perencanaan: Anggaran yang dibuat mencerminkan visi,misi,tujuan,sasaran, dan hasil yang ditetapkan.
7. Proses: Pengalokasian dana anggaran mengikuti proses-proses dan prosedur yang berlaku.
8. Hukum: Penggunaan dana publik didasarkan atas hukum dan peraturan yang berlaku.
9. Keuangan: Audit kepatuhan selalu dilakukan agar setiap penggunaan dana dilandasi peraturan dan hukum yang berlaku.
2.1.7 Sistem Pengendalian Manajemen
Sistem pengendalian manajemen menurut Anthony dan Govindrajan (1995) merupakan sebuah proses seorang manajer atau pimpinan dalam memastikan sumber daya yang diperoleh dan dipergunakan secara efisien dan efektif dalam usaha untuk mencapai tujuan organisasi (Manurung, 2012:9). Definisi lain menurut Langfield-Smith (1997) bahwa sistem pengendalian manajemen merupakan sesuatu yang sangat luas yang meliputi pengendalian yang didasarkan atas informasi akuntansi dari perencanaan, pemantauan aktivitas, pengukuran kinerja dan mekanisme integratif (Lekatompessy, 2012:59). Sistem pengendalian
19 manajemen menurut Simons (1987) dipandang sebagai prosedur dan sistem formal yang menggunakan informasi untuk mencapai atau mengubah berbagai pola dalam suatu aktivitas organisasi (Lekatompessy, 2012:59). Sistem pengendalian manajemen didefinisikan juga oleh Flamholtz, et al. (1985) sebagai proses untuk mempengaruhi perilaku (Lekatompessy, 2012:60). Berdasarkan pada uraian diatas maka konsep sistem pengendalian manajemen merupakan suatu proses formal yang digunakan oleh pimpinan organisasi dalam upaya mempengaruhi perilaku anggota organisasi untuk menggunakan semua sumber daya secara efektif dan efisien dalam upaya mencapai tujuan yang telah ditetapkan sebelumnya dan didasarkan pada informasi (Lekatompessy, 2012:60). Tujuan sistem pengendalian manajemen adalah untuk menyediakan informasi yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan, perencanaan, pengendalian, dan evaluasi (Lekatompessy, 2012:61).
2.1.8 Indikator Sistem Pengendalian Manajemen
Indikator sistem pengendalian manajemen (Manurung, 2012:9) sebagai berikut:
1. Perencanaan Strategi
Perencanaan strategi adalah suatu proses mengikuti program-program utama yang ditetapkan oleh pimpinan dalam rangka implementasi rencana strategi.
2. Penyusunan Anggaran
Penyusunan anggaran adalah mengikuti arahan pimpinan untuk suatu proses dalam rangka implementasi penyusunan anggaran.
20 3. Pelaksanaan
Pelaksanaan adalah menunjukkan laporan yang dibuat dan menyediakan informasi tentang program dan pusat pertanggungjawaban.
4. Evaluasi Kinerja
Evaluasi kinerja adalah membandingkan antara realisasi anggaran dengan anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya. Dengan adanya hal ini yaitu evaluasi kinerja bisa dilihat efisiensi atau efektif tidaknya suatu pusat pertanggungjawaban menjalankan tugasnya.
2.1.9 Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah
Kinerja adalah gambaran pencapaian pelaksanaan suatu kegiatan, program, kebijaksanaan dalam mewujudkan sasaran, tujuan, misi dan visi organisasi (Hazmi dkk, 2012:1). Kinerja manajerial adalah kinerja para individu anggota organisasi dalam kegiatan manajerial, yang meliputi: perencanaan, investigasi, pengkoordinasian, evaluasi, pengawasan, pengaturan staf, negoisasi, perwakilan (Hazmi dkk, 2012:1). Dalam sisi pemerintahan kinerja merupakan prestasi kerja seorang pegawai atas tugas yang diberikan oleh atasan (Hazmi dkk, 2012:3). Dalam organisasi pemerintahan, kinerja pemerintah daerah dapat diketahui melalui tingkat pencapaian hasil (out put) dari pelaksanaan anggaran (Hazmi dkk, 2012:3). Kinerja manajerial instansi pemerintah daerah adalah gambaran mengenai tingkat pencapaian sasaran atau tujuan sebagai penjabaran dari visi, misi, dan strategi instansi pemerintah daerah yang mengindikasikan tingkat keberhasilan atau kegagalan pelaksanaan kegiatan-kegiatan sesuai dengan tugas pokok dan fungsi aparatur pemerintah (Astini dkk, 2014:1).
21 Kinerja instansi pemerintahan dinilai dari bagaimana unit kerja aparatur pemerintahan berupaya untuk memberikan pelayanan terbaik dengan mendayagunakan sumberdaya yang ada. Pengukuran kinerja sektor publik adalah suatu sistem yang bertujuan untuk membantu manajer publik atau pimpinan dalam menilai pencapaian suatu strategi melalui alat ukur finansial dan non finansial (Ardiansyah, 2010:73). Anggaran yang telah disusun memiliki peranan sebagai perencanaan dan sebagai kriteria kinerja, yaitu anggaran digunakan sebagai sistem pengendalian untuk mengukur kinerja manajerial (Ardiansyah, 2010:73). Seiring dengan peranan anggaran tersebut, juga menyatakan bahwa kunci dari kinerja yang efektif adalah apabila tujuan dari anggaran tercapai dan partisipasi dari bawahan memegang peranan penting dalam mencapai tujuan tersebut (Ardiansyah, 2010:73).
2.1.10 Indikator Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah
Indikator kinerja manajerial instansi pemerintah daerah (Putra, 2013:4) sebagai berikut :
1. Perencanaan adalah penentuan tujuan, kebijakan rencana kegiatan seperti penjadwalan kerja, penyusunan anggaran dan penyusunan program.
2. Investigasi adalah kegiatan untuk melakukan pemeriksaan melalui pengumpulan dan penyampaian informasi sebagai bahan pencatatan, pembuatan laporan. Hal ini dilakukan agar mempermudah dilaksanakannya pengukuran hasil dan analisis terhadap pekerjaan yang telah dilakukan.
22 3. Pengkoordinasian adalah menyelaraskan tindakan yang meliputi pertukaran informasi dengan orang-orang dalam unit organisasi lainnya. Hal ini dilakukan agar dapat berhubungan dan menyesuaikan program yang akan dijalankan.
4. Evaluasi adalah pimpinan melakukan penilaian terhadap rencana yang telah dibuat untuk menilai pegawai dan catatan hasil kerja. Hal ini dilakukan dengan tujuan agar dari hasil penilaian tersebut dapat diambil keputusan yang diperlukan.
5. Pengawasan adalah penilaian atas kinerja dengan mengarahkan, memimpin, membimbing, menjelaskan segala aturan yang berlaku, memberikan dan menangani keluhan pelaksanaan tugas para pegawai.
6. Pemilihan staf adalah menyeleksi menempatkan dan mempromosikan pekerjaan tersebut dalam unit atau unit kerja lainnya.
7. Negosiasi adalah usaha untuk memperoleh kesepakatan dalam hal pembelian, penjualan atau kontrak untuk barang-barang dan jasa.
8. Perwakilan adalah menyampaikan informasi tentang visi, misi, dan kegiatan- kegiatan organisasi dengan menghadiri pertemuan kelompok bisnis dan konsultasi dengan kantor-kantor lain.
23 2.2 Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu No Nama Peneliti
dan Jurnal
Judul Penelitian Variabel Penelitian
Hasil Penelitian 1 Yusri Hazmi, Ali
Imran, Zuarni, Yeni Irawan, dan Said Herry Safrizal (2012)
Jurnal Ekonomi dan Bisnis ISSN 1693-8852 Volume 13,No. 2 Agustus 2012
Pengaruh
Kejelasan Sasaran Anggaran dan Akuntabilitas Publik Terhadap Kinerja Manajerial Aparatur
Pemerintahan Kota Lhokseumawe (Studi Empiris Pada Satuan Kerja Perangkat Kota Lhokseumawe)
Variabel Independen : Kejelasan sasaran anggaran dan akuntabilitas publik Variabel Dependen : Kinerja manajerial aparatur pemerintahan
Hasil penelitian ini
membuktikan bahwa kedua variabel berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja
manajerial aparatur pemerintahan
2 Ni Kadek Astini, Ni Luh Gede Erni Sulindawati, dan Ni Kadek
Sinarwati (2014) e-Journal S1 Ak Universitas Pendidikan Ganesha Jurusan Akuntansi Program S1 (Volume: 2 No:
1 Tahun 2014)
Pengaruh Akuntabilitas Publik, Kejelasan Sasaran Anggaran, dan Sistem
Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial SKPD di Kabupaten Klungkung
Variabel Independen : Kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen Variabel Dependen : Kinerja manajerial di SKPD.
Hasil penelitian ini
membuktikan bahwa ketiga variabel tersebut berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja
manajerial di SKPD.
3 Deki Putra (2013)
Jurnal Fakultas Ekonomi
Universitas Negeri Padang
Pengaruh Akuntabilitas Publik dan Kejelasan Sasaran Anggaran
Terhadap Kinerja Manajerial Satuan
Variabel Independen : Akuntabilitas Publik dan Kejelasan
Hasil penelitian ini
membuktikan bahwa akuntabilitas publik berpengaruh
24 Kerja Perangkat
Daerah (Studi Empiris pada Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Padang)
Sasaran Anggaran Variabel Dependen : Kinerja Manajerial Satuan Kerja Perangkat Daerah
signifikan positif terhadap kinerja
manajerial Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD) dan Kejelasan Sasaran Anggaran berpengaruh signifikan positif terhadap kinerja
manajerial Satuan Kerja Perangkat Daerah (SKPD).
4 Daniel T.H.
Manurung (2012) Jurnal ilmiah akuntansi dan humanika
Volume 2 nomor 1 Singaraja,
Desember 2012 ISSN 2089-3310
Pengaruh Desentralisasi Fiskal,
Akuntabilitas dan Sistem
Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Palangkaraya
Variabel Independen : Desentralisasi Fiskal, Akuntabilitas dan Sistem Pengendalian Manajemen Variabel Dependen : Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah
Hasil
menunjukkan bahwa ketiga variabel tersebut berpengaruh terhadap Kinerja Satuan Kerja Perangkat Daerah
25 5 Meria Solina
(2014)
Jurnal Universitas Maritim Raja Ali Haji
Pengaruh Akuntabilitas Publik,Partisipasi Penyusunan Anggaran,
Kejelasan Sasaran Anggaran dan Struktur Desentralisasi Terhadap Kinerja Manajerial Satuan Kerja Perangkat Daerah Kota Tanjung Pinang
Variabel Independen : Akuntabilitas Publik, Partisipasi Penyusunan Anggaran, Kejelasan Sasaran Anggaran dan Struktur Desentralisasi Variabel Dependen : Kinerja Manajerial Satuan Kerja Perangkat Daerah
Hasil
menunjukkan bahwa keempat variabel tersebut berpengaruh signifikan terhadap Kinerja Manajerial Satuan Kerja Perangkat Daerah
Sumber: Penulis, 2017
2.3 Pengembangan Hipotesis
2.3.1 Pengaruh Kejelasan Sasaran Anggaran Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang
Anggaran adalah alat perencanaan dan pengendalian yang sangat penting oleh karena itu, pencapaian keberhasilan dalam suatu organisasi sangat ditentukan pada proses penyusunan anggaran tersebut, jika kualitas anggaran pemerintah daerah rendah, maka kualitas fungsi-fungsi pemerintah cenderung lemah (Astini dkk, 2014:2). Anggaran daerah harus bisa menjadi tolak ukur pencapaian kinerja yang diharapkan, sehingga perencanaan angggaran daerah harus bisa menggambarkan sasaran kinerja secara jelas (Astini dkk, 2014:2). Kejelasan sasaran anggaran merupakan sejauhmana tujuan anggaran ditetapkan secara jelas dan spesifik dengan
26 tujuan agar anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggungjawab atas pencapaian sasaran anggaran tersebut (Hazmi dkk, 2012:4). Kejelasan sasaran anggaran dimaksudkan untuk meningkatkan tanggungjawab individu dan organisasi dalam pencapaian sasaran anggaran (Hazmi dkk, 2012:1). Sehingga diharapkan organisasi akan lebih membuka ruang dan perencanaan yang sebaik mungkin dalam menyusun anggarannya (Hazmi dkk, 2012:1). Jika sasaran anggaran bisa ditetapkan dan dibuat secara jelas dan spesifik, maka anggaran tersebut dapat dimengerti oleh orang yang bertanggungjawab atas pencapaian anggaran tersebut sehingga akan membantu aparatur pemerintah daerah untuk mencapai kinerja yang diharapkan (Hazmi dkk, 2012:1). Berdasarkan pernyataan tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Hazmi dkk (2012), Putra (2013), Astini dkk (2014) dan Solina (2014) yang menunjukkan bahwa variabel kejelasan sasaran anggaran berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Berdasarkan uraian di atas, maka hipotesis pertama dalam penelitian ini dapat dirumuskan sebagai berikut:
H1 : Kejelasan sasaran anggaran berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
2.3.2 Pengaruh Akuntabilitas Publik Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang
Akuntabilitas merupakan prinsip pertanggungjawaban yang berarti bahwa proses penganggaran dimulai dari perencanaan, penyusunan, pelaksanaan harus benar-benar dapat dilaporkan dan dipertanggungjawabkan kepada DPRD dan masyarakat (Astini dkk, 2014:1). Akuntabilitas publik adalah kewajiban pihak
27 pemegang amanah (agent) untuk memberikan pertanggungjawaban, menyajikan, melaporkan, dan mengungkapkan segala aktivitas dan kegiatan yang menjadi tanggungjawabnya kepada pihak pemberi amanah (principal) yang memiliki hak dan kewenangan untuk meminta pertanggungjawaban tersebut (Hazmi dkk, 2012:3). Masyarakat tidak hanya memiliki hak untuk mengetahui anggaran tersebut tetapi juga berhak untuk menuntut pertanggungjawaban atas rencana ataupun pelaksanaan anggaran tersebut (Astini dkk, 2014:1). Dengan adanya akuntabilitas publik, maka masyarakat akan mengetahui penggunaan anggaran sehingga aparatur pemerintah akan berusaha untuk melaksanakan seluruh perencanaan dengan sebaik mungkin (Hazmi dkk, 2012:1). Berdasarkan pernyataan tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Hazmi dkk (2012), Putra (2013), Astini dkk (2014), dan Solina (2014) yang menunjukkan bahwa variabel akuntabilitas publik berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut. Terhadap latar belakang ini, hipotesis kedua dirumuskan sebagai berikut:
H2 : Akuntabilitas publik berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
2.3.3 Pengaruh Sistem Pengendalian Manajemen Terhadap Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang
Sistem pengendalian manajemen adalah sebagai sebuah proses seorang manajer atau pimpinan dalam memastikan sumber daya yang diperoleh dan dipergunakan secara efisien dan efektif dalam usaha untuk mencapai tujuan organisasi (Manurung, 2012:9). Tujuan adanya sistem pengendalian manajemen
28 sektor publik pada dasarnya tidak terlepas dari upaya untuk memperbaiki kinerja manajerial dan meningkatkan suatu pertanggungjawaban yang berdampak pada masyarakat (Astini dkk, 2014:9). Dengan adanya sistem pengendalian manajemen yang terstruktur maka akan dapat membantu dan memberikan kemudahan dari seluruh pelaksanaan proses manajemen mulai dari perencanaan sampai dengan proses pengawasan atau pengendalian (Dameria dkk, 2013:5). Struktur pengendalian manajemen tersebut dilihat dari adanya pusat-pusat pertanggungjawaban yang cukup jelas (Astini dkk, 2014:9). Dengan kata lain sistem pengendalian manajemen memiliki peran yang penting dalam pencapaian kinerja manajerial dalam suatu organisasi (Dameria dkk, 2013:5). Dengan semakin meningkatnya pelaksanaan sistem pengendalian manajemen maka dapat meningkatkan kinerja manajerial dalam suatu organisasi. Berdasarkan pernyataan tersebut diperkuat dengan penelitian yang dilakukan oleh Manurung (2012) dan Astini dkk (2014) yang menunjukkan bahwa variabel sistem pengendalian manajemen berpengaruh terhadap kinerja manajerial. Berdasarkan uraian di atas, maka dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut. Terhadap latar belakang ini, hipotesis ketiga dirumuskan sebagai berikut:
H3 : Sistem pengendalian manajemen berpengaruh signifikan terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
29 2.4. Kerangka Konsep Penelitian
Kerangka konsep penelitian ini digunakan untuk mempermudah jalan pemikiran terhadap penelitian yang dibahas, terkait dengan pengaruh kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik dan sistem pengendalian manajemen terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
Adapun kerangka konsep penelitian ini digambarkan sebagai berikut:
Gambar 2.1 Model Penelitian
H1
H2
H3
Sumber : Penulis, 2017 Kejelasan Sasaran
Anggaran (X1)
Sistem Pengendalian Manajemen
(X3)
Akuntabilitas Publik (X2)
Kinerja Manajerial Instansi Pemerintah
Daerah Kabupaten Tangerang
(Y)
30
BAB III
METODE PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuantitatif.
Penelitian dengan pendekatan kuantitatif menekankan analisisnya pada data-data numerikal (angka-angka) yang diolah dengan metode statistik. Pada dasarnya pendekatan kuantitatif dilakukan pada jenis penelitian inferensial dan menyandarkan kesimpulan hasil penelitian pada suatu probabilitas kesalahan penolakan hipotesis nihil. Dengan metode kuantitatif akan diperoleh signifikansi perbedaan kelompok atau signifikansi hubungan antar variabel yang diteliti.
3.2 Populasi dan Teknik Pengambilan Sampel
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas objek atau subjek yang mempunyai kualitas karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulannya. Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai negeri sipil pada 28 instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang. Sampel dalam penelitian ini adalah pegawai negeri sipil yang bekerja pada 8 (delapan) instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang, alasan peneliti karena kesibukan pekerjaan responden sehingga pada akhirnya penulis hanya dapat menjangkau 40 pegawai negeri sipil yang bekerja pada 8 (delapan) instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
31 Tabel 3.1
Instansi Pemerintah Daerah Kabupaten Tangerang
Sumber: Data primer yang diolah (2017)
Teknik pengambilan sampel menggunakan purposive sampling yaitu teknik pengambilan sampel dengan menggumpulkan informasi yang dibutuhkan dari responden yang wilayahnya dapat dijangkau oleh peneliti. Pengambilan sampel dilakukan pada pemerintah daerah Kabupaten Tangerang berdasarkan subjektivitas peneliti dengan alasan non-random, karena keterjangkauan lokasi penelitian dan wilayah geografis yang berdekatan. Kriteria pemilihan responden data dalam penelitan ini adalah:
1. Pegawai negeri sipil pada instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang yang telah menduduki jabatan tersebut minimal selama satu tahun dengan alasan bahwa yang bersangkutan telah dianggap memiliki pengalaman dibidangnya sehingga mampu memberikan informasi terkait tentang
NO NAMA
1 Dinas Tata Ruang dan Bangunan 2 Dinas Perpustakaan dan Arsip
3 Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air 4 Dinas Perindustrian dan Perdagangan 5 Dinas Pertanian dan Peternakan 6 Dinas Kesehatan
7 Dinas Pendidikan
8 Badan Kepegawaian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia
32 kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik, sistem pengendalian manajemen dan kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
3.3 Jenis dan Sumber Data
Data merupakan keterangan yang dapat memberikan gambaran atas suatu keadaan. Jenis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari hasil penyebaran kuesioner yang diberikan kepada pegawai negeri sipil yang bekerja pada 8 (delapan) instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
3.4 Metode Pengumpulan Data
Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner agar diperoleh data yang relevan, dapat dipercaya, objektif dan dapat dijadikan landasan dalam proses analisis. Prosedur pengumpulan data melalui metode kuesioner digunakan untuk memperoleh informasi mengenai kejelasan sasaran anggaran, akuntabilitas publik, dan sistem pengendalian manajemen sehingga dapat dianalisis pengaruhnya terhadap kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang.
3.5 Definisi Operasional Variabel Penelitian
Variabel penelitian pada dasarnya adalah segala sesuatu yang berbentuk apa saja yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari sehingga diperoleh informasi tentang hal tersebut, kemudian ditarik kesimpulannya. Variabel penelitian juga
33 didefinisikan sebagai suatu atribut atau sifat atau nilai dari orang, objek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, 2012:2-3).
Variabel yang digunakan dalam penelitian ini antara lain variabel dependen adalah kinerja manajerial instansi pemerintah daerah Kabupaten Tangerang (Y).
Sedangkan variabel independen terdiri dari kejelasan sasaran anggaran (X1), akuntabilitas publik (X2) dan sistem pengendalian manajemen (X3). Masing-masing variabel diukur dengan model skala Likert 1-5, yaitu Skor 1 = Sangat Tidak Setuju (STS); Skor 2 = Tidak Setuju (TS); Skor 3 = Ragu-ragu (RR); Skor 4 = Setuju (S) dan 5 = Sangat Setuju (SS).
3.5.1 Variabel Dependen
Variabel dependen atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan variabel terikat adalah variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat karena adanya variabel bebas (Sugiyono, 2012:4).
3.5.2 Variabel Independen
Variabel independen atau dalam bahasa Indonesia sering disebut dengan variabel bebas adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen atau variabel terikat (Sugiyono, 2012:4).