• Tidak ada hasil yang ditemukan

V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3 Kinerja Pemasaran

42 4. Jumlah Tanggungan Keluarga

Tabel 17. Jumlah Tanggungan Keluarga Pedagang di Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang.

No. Tanggungan Keluarga Jumlah Pedagang

(Orang) Persentase (%)

1. 1 – 2 2 22,2

2. 3 – 4 4 44,4

3. 5 – 6 3 33,3

Jumlah 9 100

Sumber : Data Primer Setelah diolah, 2021.

Tabel 17. Menjelaskan bahwa jumlah tanggungan keluarga pada pedagang cukup bervariasi yaitu yang tertinggi berada pada jumlah tanggungan 3 – 4dengan jumlah 4 orang dengan persentase 44,4%, jumlah tanggungan 5 – 6 dengan jumlah 3 orang, sedangkan jumlah terendah berada pada jumlah tanggungan 1 – 2 dengan jumlah 2 orang. Hal ini menunjukkan bahwa pedagang yang berbeda – beda juga mempunyai tanggungan keluarga yang berbeda pula, dan masing – masing memiliki motivasi dan kemauan yang lebih dalam mendapatkan atau memperoleh suatu penghasilan.

43 dan mampu meningkatkan kepuasan konsumen maka dapat dikatakan bahwa sistem pemasaran tersebut efisien.

1. Margin Pemasaran Kubis

Margin pemasaran merupakan perbedaan harga tingkat produsen dengan keuntungan yang diinginkan oleh masing-masing lembaga pemasaran, analisis margin pemasaran yang dapat mengefektifkan saluran – saluran pemasaran, namun hanya dengan melihat besarnya margin pemasaran saja belum cukup untuk menyimpulkan bahwa pemasaran itu sudah tepat, oleh sebab itu harus dilihat distribusi keuntungan maupun biaya-biaya yang dikeluarakan setiap lembaga pemasaran yang terlibat semakin banyak pedagang perantara yang ikut dalam saluran pemasaran maka semakin besar margin pemasaran yang terbentuk.

Margin pemasaran sangat penting untuk para petani sebab dengan mengetahui margin pemasaran maka petani dapat memilih saluran pemasaran mana yang lebih menguntungkan untuk petani kubis di Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang. Hasil analisis margin pemasaran pada setiap saluran pemasaran dapat dilihat pada tabel berikut.

44 Tabel 18. Margin Pemasaran Pada Setiap Saluran Pemasaran Kubis di Desa

Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang.

Saluran Status Harga Jual

(Rp/Kg)

Harga Beli

(Rp/Kg) Margin I Petani

Pedagang Besar

4000 6000

- 4000

- 2.000

TOTAL 2.000

II

Petani

Pedagang Pengumpul Pedagang Pengecer

3000 5.500 8000

- 3000 5.500

- 2.500 2.500

TOTAL 5.000

III Petani

Pedagang Pengumpul Pedagang Besar

3000 5.500 8.000

- 3000 5.500

- 2.500 2.500

TOTAL 5.000

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2021

Tabel 18. Menjelaskan bahwa pada saluran pemasaran I pedagang besar membeli kubis dari petani dengan harga rata-rata Rp.4.000/kg mengikuti harga pasaran yang ada di lokasi penelitian. Dalam saluran pemasarannya kubis yang sudah di beli kemudian dijual dipasar kecamatan terdekat dengan harga Rp.6.000/kg. sehingga pedagang besar mendapatkan margin pemasaran yaitu sebanyak Rp.2000/kg. pada saluran ini merupakan saluran yang paling pendek karena hanya melibatkan petani dengan pedagang besar dan merupakan saluran pemasaran yang pembayarannya kepada petani cukup lama sekitaran 1 minggu.

Pada saluran pemasaran II. Menjelaskan bahwa petani menjual kubis mereka ke pedagang pengumpul yang ada di lokasi penelitian dengan harga rata-rata Rp. 3.000/kg. Dalam saluran pemasarannya, kubis kemudian dijual ke pedagang pengecer dengan harga Rp. 5.500/kg sehingga dari penjualan tersebut

45 masing-masing pedagang pengumpul menghasilkan margin pemasaran sebanyak Rp.2.500/kg, selanjutnya pedagang pengecer menjualnya ke konsumen akhir dengan harga Rp.8000/kg. sehingga margin pemasaran yang diperoleh sebanyak Rp.2.500/kg.

Saluran pemasaran III, menjelaskan bahwa petani menjual kubis mereka ke pedagang pengumpul dengan harga rata-rata Rp.3000/kg lalu kemudian diangkut ke pedagang besar yang ada dipasar kecamatan terdekat dengan rata-rata harga jual Rp.5.500/kg, dari data penjualan tersebut maka dapat di tentukan margin pemasaran pedagang pengumpul sebesar Rp.2.500/kg. Setelah itu pedagang besar menjual kubis lagi pada konsumen akhir dengan harga Rp.

8.000/kg dengan margin yang diperoleh oleh pedagang besar sebanyak Rp.2,500/kg. Dimana panjangnya saluran pemasaran II dan III mengakibatkan margin pemasarannya cukup tinggi sebesar Rp.5.000/kg. Hal ini sesuai dengan pendapat (Daniel,2002) bahwa semakin banyak pedagang perantara yang terlibat dalam pemasaran maka margin pemasaran semakin besar.

Adapun dalam penelitian terdahulu yang di lakukan oleh Kaduk Janawati, Katut Dunia dan Luh Indrayani ( 2013) dengan komoditas jeruk yaitu pada saluran 1 memiliki marjin sebesar Rp. 5000/kg sementara dalam hasil penelitian ini dimana pada saluran I memiliki marjin pemasaran sebesar Rp.2000/kg dengan komoditas kubis, saluran II komoditas jeruk memiliki marjin Rp. 8000/kg sementara untuk komoditas kubis memiliki marjin Rp.5000/kg, dan pada saluran III komoditas jeruk memiliki marjin Rp. 7500/kg sementara untuk komoditas kubis memiliki marjin Rp. 5000/kg dan juga memliki perbedaan pada pola

46 saluran pemasaran dimana pada pola pemasaran jeruk memiliki 5 pola pemasaran sementara pada pola pemasaran kubis memiliki 3 pola pemasaran.

2. Keuntungan Pemasaran Kubis

Proses mengalirnya suatu barang atau produk dari produsen ke konsumen memerlukan suatu biaya seperti biaya transportasi dan tenaga kerja sehingga dengan adanya biaya pemasaran tersebut maka harga suatu produk juga akan meningkat. Untuk mengetahui besarnya biaya, keuntungan dan margin pemasaran di tingkat lembaga pemasaran pada ketiga saluran pemasaran kubis, dapat dilihat pada Tabel berikut..

Tabel 19. Biaya dan keuntungan pemasaran pada setiap saluran pemasarn kubis di Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang.

Saluran Pemasaran Marjin (Rp/kg)

Total Biaya Pemasaran

(Rp/kg)

Keuntungan Pemasaran (Rp/kg) Saluran I

Petani

Pedagang Besar Konsumen

2.000 350 1.650

Saluran II Petani

Pedagang Pengumpul Pedagang Pengecer Konsumen

5.000

550

4.450 Saluran III

Petani

Pedagang Pengumpul Pedagang Besar Pedagang Pengecer Konsumen

5.000 600 4.400

Sumber : Data Primer Setelah Diolah 2021

Tabel 19. Menjelaskan bahwa yang terlibat dalam saluran pemasaran I hanya ada satu pedagang perantara yaitu pedagang Besar yang ada di lokasi penelitian. Pada saluran I pemasaran kubis dimana pedagang besar mengeluarkan

47 biaya tenaga kerja dan biaya transportasi sebanyak Rp. 350/kg dan margin pemasaran sebanyak Rp. 2000/kg sehingga keuntungan pemasaran yang di dapatkan pedagang besar sebesar Rp. 1.650/kg.

Saluran pemasaran II yang terlibat dalam kegiatan ini yaitu pedagang pengumpul dan pedagang pengecer. Dimana biaya pemasaran yang dikeluarkan oleh pedagang pengumpul berupa biaya transportasi dan biaya tenaga kerja sebesar Rp. 250/kg, sedangkan pedagang pengecer mengeluarkan biaya transportasi dan tenaga kerja sebesar Rp.300/kg, sehingga biaya total keseluruhan yang dikeluarkan selama proses pemasaran saluran II sebesar Rp.550/kg dan margin sebesar Rp.5.000/kg. Sehingga total keuntungan pemasaran yang diperoleh pedagang pengumpul dan pedagang pengecer dalam memasarkan kubis adalah Rp.5000/kg.

Selanjutnya pada saluran pemasaran III, yang terlibat dalam kegiatan ini adalah pedagang pengumpul dan pedagang besar.Untuk biaya pemasaran pedagang pengumpul mengeluarkan biaya pemasaran berupa biaya transportasi dan biaya tenaga kerja sebesar Rp.250/kg, sedangkan pedagang besar mengeluarkan biaya transportasi dan tenaga kerja sebesar Rp.350/kg dan margin pemasaran sebesar Rp.5000/kg. Sehingga total keuntungan pemasaran yang diperoleh pedagang pengumpul dan pedagang besar dalam memasarkan kubis sebesar Rp.4.400/kg.

Adapun dalam penelitian Ayu Purnama Sari (2010) Analisis pemasaran jeruk di Kabupaten Bangli yaitu pada saluran I memiliki keuntungan pemasaran sebesar Rp. 3.771,4/kg sementara dalam hasil penelitian ini pada komoditas

48 kubis dimana pada saluran I memiliki keuntungan Rp. 1.650/kg. Saluran II pada komoditas Jeruk memiliki keuntungan Rp. 3.658/kg sementar pada pada komoditas kubis memiliki keuntungan Rp. 4.450/kg. Dan pada saluran III pada komoditas jeruk memiliki keuntungan Rp. 2.840,5/kg sementara pada komoditas kubis pola saluran III memiliki keuntungan Rp. 4.400/kg. Dan mempunyai persamaan di pola saluran pemasaran yaitu sama – sama mempunyai 3 pola saluran dalam pemasaran.

3. Farmer’s Share

Farmer’s share adalah alat analisis yang digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran selain margin pemasaran indikator ini juga mengukur seberapa besar bagian yang didapat oleh petani kubis sebagai balas jasa atau kontribusi yang dilakukan terhadap harga jual disaluran. Semakin besar farmer’s sharedan semakin kecil suatu margin maka dapat dikatakan suatu saluran pemasaran berjalan lancer dan efisien. Adapun farmer’s sharepemasaran kubis di Desa Tongko Kecamatan Baroko Kabupaten Enrekang sebagai berikut:

Tabel 20. farmer’s shareSetiap Saluran Pemasaran Kubis di Desa Tongko Kecamatn Baroko Kabupaten Enrekang.

Saluran pemasaran

Harga tingkat produsen

(Rp/Kg)

Harga tingkat konsumen

(Rp/Kg)

Farmer’s share (%) Saluran I

Saluran II Saluran III

4.000 3.000 3.000

6.000 8.000 8.000

66,67 50,00 50,00 Sumber :Data Primer Setelah Diolah 2021

Pada Tabel 20. Menjelaskan bahwa pada saluran I memiliki farmer’s sharetertinggi sebesar 66,67%, saluran pemasaran yang ke II sebesr 50% dan saluran yang ke III sebesar 50%.

49 Adapun patokan untuk mengukur seberapa efisiensi pemasaran dengan cara farmer’s share, apabila bagian yang diterima oleh produsen lebih dari 50%

maka pemasaran dikatakan efisien, hal ini membuat produsen mendapat bagian yang lebih besar dibandingkan yang diterima oleh konsumen.

Adapun penelitian yang dilakukan oleh Kaduk Janiwati, Katut Dunian dan Luh Indrayani (2013) pada komoditas jeruk yaitu pada saluran I memiliki farmer’s share sebesar 61,53% sementara dalam hasil penelitian ini dimana pada saluran I memiiki farmer’s share sebesar 66,67%. Pada saluran II komoditas jeruk memiliki farmer’s share sebesar 61,53% sementara pada komoditas kubis pada saluran II memiliki farmer’s share sebesar 50,00%. Pada saluran III komoditas jeruk memiliki farmer’s share sebesar 48,27% sementara pada komoditas kubis pada saluran III memiliki farmer’s share sebesar 50,00%.

Dokumen terkait