• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II LATAR SOSIAL HISTORIS KEHIDUPAN HAMKA

D. Kiprah dan Peran Hamka

80

misalnya dewasa ini banyak yang mengatakan bahwa perkembangan tasawuf Islam banyak dipengaruhi oleh ajaran kristen maupun filsafat yunani. Hamka sendiri mengiakan bahwa pada perkembangannya terjadi ambil-mengambil dengan pengaruh yang lain, namun pada awal timbulnya tasawuf Islam murni berasal dari agama Islam sendiri, dasarnya ialah al-Qur‟an, hadits Nabi SAW, serta kehidupan para sahabat-sahabatnya. Melalui buku ini, Hamka memberi kita cara pandang untuk melihat tasawuf Islam seperti apa adanya.

81

beberapa tokoh ini banyak yang menjadi orang-orang penting di lingkungan Muhammadiyah.197

Amanah yang pernah Hamka emban selama hidupnya antara lain; pada tahun 1928 Hamka menjadi Peserta Muktamar Muhammadiyah di Solo. Sejak saat itulah ia selalu hadir dalam Muktamar Muhammadiyah hingga akhir hayatnya dan ia juga sudah mengemban beberapa amanah, mulai dari ketua bagian taman pustaka, ketua tablig, sampai menjadi ketua Muhammadiyah cabang Padangpanjang. Pada tahun 1930 ia mendirikan Muhammadiyah di Bengkalis. Tahun 1931 Hamka berangkat ke Makasar untuk menjadi mubalig Muhamadiyah dalam rangka menggerakkan semangat untuk menyambut muktamar Muhamadiyah ke-21 (Mei 1932) di Makassar. Di tahun 1934 ia diangkat menjadi Majelis Konsul Muhammadiyah Sumatera Tengah. Pada tanggal 22 Januari 1936 ia pindah ke Medan dan mempelopori gerakan Muhammadiyah di Sumatera Timur. ia juga memimpin majalah “Pedoman Masyarakat” dan ditahun 1942 Hamka terpilih menjadi pemimpin Muhammadiyah Sumatera Timur. Pada tahun 1945 ia pindah ke Sumatera Barat dan terpilih menjadi pemimpin Muhammadiyah Sumatera Barat pada tahun 1946-1949. Saat muktamar Muhammadiyah ke-32 di Purwokerto 1953, Hamka terpilih menjadi Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah dan sejak itulah ia selalu dipilih dalam muktamar, pada tahun 1971 ia diangkat menjadi Penasehat Pengurus Pusat Muhamadiyah sampai akhir hayatnya.198

197 Hiadar Musyafa, Buya..., hlm. 197-198.

198 Salihin, “Pemikiran..., hlm. 50.

82

Pada tahun 1947-1949, Hamka diangkat sebagai pimpinan Front Pertahanan Nasional (FPN), tahun 1948 sebagai pimpinan Sekretariat Bersama Badan Pengawal Negeri dan Kota (BPNK), tahun 1950 menjadi Pegawai Negeri pada Departemen Agama RI di Jakarta,199 di waktu yang bersamaan juga pemerintah mengangkat beliau menjadi anggota Majelis Pimpinan Haji (MPH). Kenyataanya karena memang beliau adalah seorang ulama yang alim baik dalam ilmu agama maupun dalam memimpin umat.200 Pada tahun 1952 beliau melawat ke Amerika Serikat selama empat bulan atas ajakan State Departement (Kementrian Luar Negeri). Pada tahun 1954 beliau berkunjung ke Burma sebagai wakil Departement Agama Indonesia dalam rangka perayaan 2000 tahun Buddha Gautama. Pada tahun 1967, Hamka menjadi tamu (Perdana Menteri Tengku Abdul Rahman) kerajaan di Malaysia.201

Pada tahu 1968, Hamka ditunjuk sebagai Dekan Fakultas Usuluddin Universitas Prof. Moestopo Beragama,202 di waktu yang bersamaan juga Hamka menganggotangi Delegasi Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Islam di Rabbat, ketua delegasi adalah KH. M. Ilyas, selain itu juga beliau ke Aljazair untuk menghadiri peringatan Masjid An-Nabah, dan terus melawat ke Spanyol, Roma, Turki, London, Saudi Arabia, India dan Thailand. Di tahun 1971, beliau menghadiri Seminar Islam Aljazair dengan membawa kertas kerja Muhammadiyah di Indonesia.203 September 1973 Hamka dan majalah Islam

“Panji Masyarakat” diundang Panitia Seminar Peringatan 100 Tahun Maulana

199 Irfan Hamka, Ayah..., hlm. 290.

200 Salihin, “Pemikiran..., hlm. 56.

201 Ibid., hlm. 59.

202 Irfan Hamka, Ayah..., hlm. 290.

203 Salihin, “Pemikiran..., hlm. 59-60.

83

Iqbal di Pakistan. Ada empat orang yang diundang dari Indonesia, yaitu Hamka dan Irfan Hamka mewakili “Panji Masyarakat”, Drs. Soemarsono dari “Harian Abadi”, dan Yunan Hilmi Nasution, seorang budayawan. Di acara tersebut Hamka berkesempatan untuk menyampaikan pidatonya dihadapan para peserta seminar mancanegara yang juga ikut hadir.204

Pada tahun 1975, ia menghadiri Muktamar Masjid di Mekkah sebagai ketua delegasi Masjid di Indonesia. Pada tahun 1976, ia menghadiri Konferensi Islam di Kuching Ibu Kota Sarawak Malaysia Timur serta menghadiri seminar 2000 tahun Malaysia di Kuala Lumpur, selain itu juga beliau menghadiri Seminar Islam dan Kebudayaan Malaysia di Universitas Kebangsaan Kuala Lumpur dengan kertas kerja Pengasuh Islam pada Kesusasteraan Melayu. Pada tahun 1977, Hamka menghadiri pengislaman Gubernur Sarawak Malaysia Timur.205 Selain itu juga, dari tahun 1975 sampai 1979, Hamka dipercaya oleh para ulama sebagai ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI).206 Aktivitas-aktivitas Hamka setiap pagi hari yaitu pergi ke RRI untuk siaran kuliah subuh dan juga ke TVRI untuk rekaman dakwah. Selain menjadi ketua MUI ia juga memimpin majalah “Panji Masyarakat”, menghadiri undangan ke luar daerah, dan seminar di luar negeri.207

Di tahun 1955-1957, setelah Pemilihan Umum Hamka ditetapkan menjadi anggota Konstituante dari Partai Masyumi. Setiap ada sidang-sidang

204 Irfan Hamka, Ayah..., hlm. 250.

205 Salihin, “Pemikiran..., hlm. 60.

206 Irfan Hamka, Ayah..., hlm. 290.

207 Ibid., hlm. 225.

84

Konstituante yang diselenggarakan Hamka selalu ikut serta.208 Sebagai seorang anggota Konstituante dari Fraksi Partai Masyumi, Hamka cukup aktif dalam sidang merumuskan Dasar Negara Republik Indonesia. Dalam sidang ada dua pilihan sebagai Dasar Negara, yaitu; Pertama, UUD 45 dengan Dasar Negara Pancasila, dan Kedua, UUD 45 dengan Dasar Negara Berdasarkan Islam. Dari kedua pilihan itu, menyebabkan timbulnya dua kubu yang berlawanan. Kubu pertama, kelompok Islam dengan partai Masyumi sebagai pimpinannya, mengajukan dasar negara berdasarkan Islam. Kubu kedua, dipimpin Partai Nasional Indonesia (PNI), yang ingin berdasarkan Pancasila.209

Kedekatan Hamka dengan Partai Masyumi, menyebabkan ia banyak mendapat musuh dari orang-orang PKI yang memang tidak pernah akur dengan Partai Masyumi dan ditambah lagi karena kedekatan orang-orang PKI dengan pemerintah waktu itu. Maka tidak heran kalau Hamka banyak mendapatkan tuduhan dari mereka.210 Orang-orang komunis dengan medianya terus menerus melancarkan tuduhan berbau fitnah, melalui koran Harian Rakyat dan Bintang Timur, yang menjadi tokoh sentral dalam melancarkan fitnah itu ialah seorang sastrawan bernama Pramoedya Ananta Toer, Hamka dituduh sudah melakukan plagiat dalam penulisan karyanya yang berjudul Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Disamping itu, pihak pemerintah melalui Badan Intelijen Indonesia juga menuduh Hamka melakukan rencana pembunuhan kepada Presiden Soekarno, dan sekitar tahun 1964 Hamka ditangkap dengan tuduhan tersebut.211

208 Ibid., hlm. 44.

209 Ibid., hlm. 258.

210 Muh. Ilham, “Konsep..., hlm. 38.

211 Irfan Hamka, Ayah..., hlm. 223.

85

Setelah Jepang masuk ke Sumatera Timur, Hamka diangkat oleh pihak Jepang sebagai penasehatnya, yaitu penasehat dari Tyokan (Gubernur) Sumatera Timur, Letnan Jendral T. Nakashima. Jepang mengangkatnya menjadi anggota Syuo Singikai dan Tjuo Sangiin untuk kawasan Sumatera Timur dan Sumatera.212 Karena kedekatannya dengan pihak Jepang inilah yang menyebabkan Hamka mendapat tuduhan sebagai orang yang berkhianat karena membantu musuh.

Hamka juga pernah menjadi tokoh TKR (Tentara Keamanan Rakyat) dan sekaligus tokoh Front Kemerdekaan Sumatera Barat, dalam masa memperjuangkan kemerdekaan, Hamka banyak berkeliling ke pelosok negeri di Sumatera Barat untuk memberikan semangat dan motivasi akan perlunya mempertahankan kemerdekaan.213

Masjid Agung Al-Azhar didirikan oleh Yayasan Pesantren Islam (YPI).

YPI sendiri didirikan pada tanggal 7 April 1952 oleh empat belas orang tokoh Islam dan pemuka masyarakat di Jakarta. Tahun 1957 pembangunan Masjid hampir selesai, karena itu Hamka meminta izin kepada pengurus Yayasan agar bisa mempergunakan Masjid tersebut untuk sholat lima waktu, namun seiring berjalannya waktu Hamka kemudian menjadikan Masjid tersebut sebagai pusat dakwah, mulai dari kuliah subuh, pengajian malam selasa yaitu kajian Tasawuf, pengajian ibu-ibu, serta kegiatan-kegiatan dakwah yang lainnya.

beliau juga mendirikan sarana pendidikan yang awalnya berupa Sekolah

212 Muh. Ilham, “Konsep..., hlm. 34.

213 Irfan Hamka, Ayah..., hlm. 18.

86

Diniah untuk keluarga yang tidak mampu. Tepatnya di bawah tangga Masjid sebelah utara.214

Masjid ini awal diresmikannya tahun 1958 oleh Presiden RI, Soekarno hanya bernama Masjid Agung Kebayoran, sedangka kata Al-Azharnya diberikan oleh Syekh Mahmoud Syaltout saat beliau berkunjung ke Indonesia.

Kedatangan beliau ke Indonesia atas inisiasi Hamka, karena saat beliau mendapatkan gelar Doktor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Hamka berkeinginan untuk mengundang Syekh Mahmoud Syaltout. Melihat perannya dalam mengelola dakwah di Masjid Al-Azhar inilah Hamka akhirnya diangkat sebagai ketua umum YPI, beliau menjabat selama dua periode, mulai tahun 1976 sampai dengan 1983.215

Hamka pernah mendapat beberapa gelar kehormatan, diantaranya Doctor Honoris Causa dari Universitas Al-Azhar Mesir, gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Prof. Moestopo Beragama. Kemudian di tahun 1974 mendapatkan gelar yang sama dari Universitas Kebangsaan Malaysia, setelah meninggal Hamka mendapat Bintang Mahaputera Madya dari Pemerintah RI di tahun 1986,216 dan pada tanggal 8 November 2011, Pemerintah Indonesia memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada tujuh orang tokoh perjuangan yang dianggap berjasa terhadap Negara dan Bangsa Indonesia dan Hamka adalah salah satu dari tujuh tokoh tersebut.217

214 Ibid., hlm. 245-246.

215 Ibid., hlm. 246-248.

216 Ibid., hlm. 290.

217 Ibid., hlm. 244.

87

Menyadari akan besarnya kiprah dan peran Hamka dalam membangun sumber daya manusia di negeri ini, maka sudah seyogianya jika kehidupan, pemikiran dan perjuangannya dijadikan teladan bagi generasi yang datang sesudahnya.

Dokumen terkait