BAB III PROBLEMATIKA MASYARAKAT MODERN
A. Problematika Masyarakat Modern
93
94
pekerjaan yang berat menjadi ringan, air laut yang asin bisa menjadi tawar, dan lain sebagainya.239
Segala perkara yang selama ini dipandang sebagai perkara sulit dan sukar, sekarang sudah mudah. Segala hal yang dikatakan rahasia, sampai ke dasar yang paling bawah, telah ditaklukan. Kutub utara dan selatan telah jatuh ke bawah kuasa manusia, perjalanan yang dahulunya sangat lamban, sekarang setiap hari diperbaiki kecepatannya. Ilmu kesehatanpun telah maju pesat, sehingga tinggal beberapa penyakit saja yang masih belum bisa diobati.
Penyakit yang ada di dalam dada dan perut sudah dapat diketahui dengan jelas dan nyata.240 Jika kita melihat semua ini, tentu kita patut merasa senang hidup di zaman modern. Kepandaian dan penyelidikan manusia telah membuat hidup jadi lebih senang.
Namun disisi lain, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi ternyata memberi dampak pada kehidupan masyarakat sehari-hari. Baik langsung maupun tidak langsung, ilmu pengetahuan dan teknologi menuntut biaya material, mental, kultural, dan moral. Seperti kolonialisme, rusaknya lingkungan akibat teknologi eksploitasi alam yang berlebihan, sakit mental seperti stres dan kekerasan, munculnya rasa alienasi diri dari lingkungan, penyalah gunaan obat-obatan, dan dekadensi moral.241 Senada dengan ungkapan Hamka, hidup yang serba maju, serba kilat, serba otomatis, dan serba mesin ini, pada kenyataanya memperlihatkan hidup yang serba gelisah, serba
239 Sukron Kamil, Islam...., hlm. 1.
240 Hamka, Lembaga..., hlm. 363-364.
241 Ibid., hlm. 2.
95
tidak ada pegangan, dan serba diliputi ketakutan.242 Untuk itu, hidup yang hanya bersandar pada teknologi menjadikan manusia dependent terhadap rasionalisme, sehingga menyebabkan mereka mengalami kegersangan jiwa.243
Menurut Hamka, kesalahan hidup masyarakat sekarang ini ialah karena terpisahnya antara kebendaan dengan kejiwaan. Ilmu sudah sangat maju, namun tidak lagi diketahui kemana tujuannya. Kemajuan, kepandaian, dan penyelidikan yang sangat mengagumkan, menunjukkan hasil yang luar biasa, namun jiwa masyarakatnya menjadi kerdil.244 Bahkan kemajuan zaman modern adalah penyembahan berhala kebendaan secara modern pula. Hasil benda yang amat mengagumkan menjadi sebab dia disembah. Padahal yang membuatnya adalah manusia, tetapi manusia kehilangan kesadaran diri karena sudah diperbudak oleh benda, itu sebabnya benda dipertuhankan.245
Rasa cinta telah hilang, kasih sayang dengan sendirinya dipandang sebagai suatu kelemahan. Manusiapun sudah hidup seperti benda, beku dan kaku, yang lemah termarginalkan, dengan tidak usah mengharap bantuan dari sesama manusia. Hidup tidak lagi mengenal apa yang dikatakan indah dan seni, sekarang yang penting ialah pabrik, uang, jajahan, koloni, bom atom, dan rudal. Siapa yang keras bunyi meriamnya, dialah yang akan diperhatikan, sedangkan yang tidak diabaikan.246
Maka suara peperangan yang senantiasa ditimbulkan dan dianjurkan oleh negara-negara yang besar atau adikuasa berebut ekonomi, jajahan dan
242 Ibid., hlm. 365.
243 M. Afif Anshori, Peran..., hlm. 1.
244 Hamka, Lembaga..., hlm. 366.
245 Ibid., hlm. 367.
246 Ibid., hlm. 368.
96
sebagainya, semuanya itu adalah dosa besar terhadap masyarakat dan kemanusiaan, sebab terlalu banyak jiwa manusia dikorbankan, bukan untuk kepentingan masyarakat melainkan untuk kepentingan segelintir orang saja, seperti kaum modal, kapitalis, imperealis, atau kaum kolonial. Tegasnya untuk kepentingan mereka yang kuat dan berkuasa saja.247
Hanya mereka yang lebih pintar dan bermodal itulah yang menguasai masyarakat. Sedangkan mereka yang terbelakang dan melarat terpaksa menjual keringatnya kepada mereka yang lebih pintar dan bermodal. Golongan yang lebih besar, tetap menjadi budak, dulu budak gereja, sekarang budak mesin.248 Senada dengan ungkapan Nurcholish Madjid, problem yang selalu menyertai modernitas ialah problem kesenjangan antara yang kaya dan miskin, setiap wajah cerah masyarakat modern di balik dirinya menyembunyikan wajah yang suram, yaitu kemiskinan yang menyayat hati.249 Jadi menurut Hamka, kesenangan hidup masyarakat modern hanya terlihat pada kulitnya saja, seperti fatamorgana di padang pasir yang disangka air oleh para musafir.250 Kemajuan manusia dewasa ini bukan dalam budi pekerti, melainkan hanyalah dalam dunia amuk dan merusak binasakan. Tidak seorangpun yang ingat hendak mencari obat.251
Kondisi ini semakin diperparah karena adanya ekses seperti sekulerisme, liberalisme, rasionalisme, positivisme, dan materialisme.252 Di Barat,
247 Ibid., hlm. 15.
248 Ibid., hlm. 23-24.
249 Nurcholish Madjid, Islam…, hlm. 534.
250 Hamka, Lembaga..., hlm. 365.
251 Hamka, Tasawuf..., hlm. 23.
252 Muhammad Rusydi, “Modernitas..., hlm. 98-99.
97
khususnya di Eropa, Tuhan telah dianggap sebagai otiosus (tidak berguna), dipandang sebagai suara keterasingan, bahkan menurut Jean Paul Satre, agama berbahaya, karena gagasan tentang Tuhan menafikan kebebasan manusia. Bagi mereka, jika sekiranya Tuhan belum mati, maka tugas manusia yang rasional ialah membunuhnya. Dengan paradigma sekulernya, agama dan ilmu keagamaan disepelekan dan dianggap rendah.253 Persetan dengan Tuhan, moral, akhlak, dan batin. Jiwa, akhirat, dosa, dan pahala hanya bicara omong kosong.254
Dalam kemegahan material, manusia dewasa ini justru kehilangan aspek fundamental dalam hidupnya, yaitu aspek spiritualitas. Hamka mengungkapkan, di masa runtuhnya moral karena hidup kebendaan ini, orang-orang kerap putus asa dari pengaruh agama atas kehidupan. Pengaruh gereja atau masjid dan rumah-rumah suci dipandang telah hilang. Guru-guru agama dan pendeta dipandang telah ketinggalan zaman.255 Kebenaran fundamental dari agama dipandangan sekedar teoritis. Kebenaran absolut dinegasikan dan nilai-nilai relatif diterima. Konsekuensinya ialah penegasian Tuhan dan akhirat serta menempatkan manusia sebagai satu-satunya kekuatan yang berhak mengatur dunia. Sehingga akhirnya manusia di tuhankan dan tuhanpun di manusiakan.256
Menurut Seyyed Hossein Nasr, masyarakat modern yang didominasi oleh padangan hidup materialistik, pragmatis dan sekuleristik. Pandangan hidup
253 Sukron Kamil, Islam...., hlm. 3-4.
254 Hamka, Lembaga..., hlm. 368.
255 Ibid., hlm. 373-374.
256 Adian Husaini, Wajah..., hlm. 3.
98
seperti ini sangat menjunjung tinggi nilai material dan menafikan aspek spiritual. Dampaknya terjadi desakralisasi kehidupan. realitas hidup adalah saat ini dan disini. Sedangkan masa depan, apalagi hidup sesudah mati, merupakan hal yang nisbi. Jika mereka beragama, maka agama hanya menjadi identitas simbolik, bukan sebagai suatu nilai yang tercermin dalam prilaku.257 Pandangan hidup seperti ini semakin kuat saat berpadu dengan falsafah humanistik ekstrim yang menjadikan manusia sebagai pusat dan ukuran segala-galanya. Manusia merasa mampu mengatur dirinya dan dunia. Di satu sisi mereka mengagungkan manusia sebagai makhluk yang paling mulia, namun di sisi lain mereka justru menginjak-injak harkat dan martabat manusia itu sendiri. Sehingga menyebabkan terjadinya distorsi pada nilai-nilai kemanusiaan.258
Selain itu, karena berimpitnya modernisasi dengan westernisasi (pembaratan), karena meskipun menurut watak dan dinamikanya sendiri modernitas adalah budaya dunia, namun dalam berbagai kenyataan periferalnya ia banyak membawa serta sisa limpahan budaya Barat.259 Sebagaimana ungkapan H. Faisal Islamil, bahwa westernisasi pada kenyataanya sangat berhubungan erat dengan sekulerisasi (pemisahan hal-hal yang agamawi dari hal-hal yang duniawi).260 Disadari atau tidak, hari demi hari umat Islam tengah bergerak mendekati Barat, baik dalam segi pemikiran maupun penampilannya. Ini bisa dilihat dari setiap gaya hidup yang nampak
257 Seyyed Hossein Nasr, “Sufisme..., hlm. 123.
258 Ibid., hlm. 128.
259 Nurcholish Madjid, Islam..., hlm. 528.
260 H. Faisal Ismail, Studi..., hlm. 90.
99
disekeliling kita, sungguh memang pembaratan sedang menggelora dinegeri-negeri Muslim. Pendapat ini juga diperkuat oleh Muhammad Hamid an-Nashir yang menyatakan, bahwa westernisasi masih menjadi momok paling berbahaya yang dihadapi oleh umat Islam dewasa ini.261
Bagaimana kehidupan individu-individu dan komunitas masyarakat Indonesia sekarang, khususnya yang beragama Islam? Apakah benar kita masih patut disebut sebagai bangsa yang santun, ramah, sabar, rendah hati, hemat, menghargai idealisme, senang bergotongroyong membantu sesamanya, dan menjaga tali silaturahmi? Yang Islami, yang ikhlas, tawadhu, tawakkal, dan seimbang dalam mengelola kepentingan dunia dan akhirat?
Sungguh, ciri-ciri masyarakat Indonesia yang dulu diunggulkan yaitu sopan, sabar, tertib, penuh toleransi, menghargai hak orang lain, gotong royong, idealis, hemat, dan sejumlah budi luhur lainnya, ternyata tampa kita sadari telah berubah menjadi pragmatis, hedonis, individualis, materialis, dan narsis.262
Gaya hidup konsumtif, serba instan, dan individual yang dahulu tidak pernah dijumpai, seolah menjadi suatu tren yang biasa terjadi di masyarakat.
Sopan santun, peduli, gotong royong, hemat, sederhana, dan kebersamaan dalam bermasyarakat yang merupakan ikon dari masyarakat Indonesia, mulai tergerus terutama di masyarakat perkotaan yang serba modern.263 Senada dengan ungkapan B. Wiwoho, masyarakat dewasa ini memperlihatkan suatu
261 Muhammad Hamid an-Nashir, Mengupas Hakikat Gerakan Modernisasi, Liberalisasi, dan Westernisasi Ajaran Islam, terj. Abu Umar Basyir, (Jakarta: Darul Haq, 2016), cet. Ke-2, hlm. 92.
262 B. Wiwoho, Bertasawuf..., hlm. 2-3.
263 Bahru Rozi, “Akhlak..., hlm. 45.
100
kehidupan yang penuh persaingan, sangat ketat, dan menekan, mendorong sikap hidup yang pragmatis, hedonis, individualis, materialis, konsumtif, dan narsis.264
B. Dampak yang Ditimbulkan dari Problematika Masyarakat Modern