• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.2 Pembahasan

5.2.1 Representasi Chaos Menuju Order

5.2.1.1 Kisah Mayadawa dan Hari Raya Galungan

Mengacu kepada pendapat Beilharz (2003: 74), teori dekostruksi dapat digunakan untuk mengkaji Taman Permandian Tirta Empul, untuk membongkar bagian-bagian dari suatu keseluruhan. Pembongkaran tersebut merupakan upaya untuk mengungkap kekuatan-kekuatan atau makna yang tersembunyi pada teks visual karya desain taman dan wacana-wacana di masyarakat yang terkait dengan keberadaan taman permandian tersebut. Pendekonstruksian terhadap desain Taman Permandian Tirta Empul, adalah untuk menemukan nilai-nilai pada taman, yang dapat bersinar berdasarkan makna yang dikandungnya. Oleh karena, makna selalu ada pada rajutan tanda, yang disebut teks. Dalam hal ini, Taman Permandian Tirta Empul, merupakan objek yang ada dalam jaringan tanda, yang keberadaannya terkait dengan jejak-jejak peristiwa yang mendahuluinya. Melalui dekonstruksi terhadap karya desain Taman Permandian Tirta Empul, dapat ditemukan jejak-jejak peristiwa yang terkait dengan keberadaan taman tersebut.

Jejak-jejak tersebut dapat ditemukan dalam ceritera rakyat Bali tentang Tirta Empul, yang senantiasa dikaitkan dengan ceritera peperangan Raja Mayadawa dengan Bhatara Indra, sebagai peperangan antara kejahatan (adharma) dengan kebenaran (dharma). Mata air suci yang disebut Tirta Empul, disebutkan sebagai ciptaan Bhatara Indra, untuk menghidupkan pasukannya yang tewas akibat minum air beracun ciptaan Mayadanawa. Peperangan akhirnya dimenangkan oleh Bhatara Indra dan pasukannya yang didukung rakyat Bali. Kemenangan ini kemudian dirayakan sebagai Hari Raya Galungan. Ceritera yang bersifat mitologi ini, tertuang dalam naskah tua Usana Bali, Tatwa Mayadanawa, Mayadanawantaka (karya sastra Dang Hyang Nirartha). Ceritera rakyat ini, antara lain telah ditulis dalam bentuk buku berjudul

―Perabu Mayadanawa‖ oleh Djasa (1958), dan ada juga dalam bentuk lontar tentang ―Babad Mayadawa‖, yang ditranskripsi oleh Sukiya (1983)dan menjadi koleksi Museum Bali No.

5381/VI.b.

Di dalam lontar Usana Bali, antara lain diuraikan bahwa keberadaan Tirta Empul berhubungan dengan peristiwa peperangan Sri Danawaraja dengan Indra. Ceriteranya disusun

sedemikian rupa, sehingga menyerupai suatu mitologi, namun banyak menyebutkan peristiwa sejarah (Mirsha, dkk., 1978: 55). Dalam sebuah buku kecil tentang Galungan yang merujuk ke kitab Usana Bali dan kekawin (kidung) Mayadawantaka, seorang penulis anonim (1982: 1-5) menguraikan bahwa Raja Mayadawa adalah putra Dewi Danu, bertahta di wilayah Blingkang (sebelah utara Gunung Batur). Dalam buku tersebut, diuraikan bahwa Raja Mayadanawa hidup sejaman dengan Mpu Kulputih, yang tinggal di Besakih. Mayadawa sangat sakti dan dapat mengubah dirinya menjadi bermacam-macam rupa dan bentuk. Wilayah kekuasaannya, disebutkan meliputi Bali, Lombok, Sumbawa, Makasar, Bugis dan Blambangan. Mayadanawa melarang rakyat Bali bersembahyang kepada Tuhan, dilarang melakukan ibadat keagamaan dan tempat-tempat suci dirusak oleh Mayadawa, sehingga rakyat Bali sangat ketakutan dan sengsara. Bali kemudian mengalami suasana chaos, sehingga Mpu Kulputih melakukan yoga semadi di Pura Besakih, memohon petunjuk untuk dapat mengatasi masalah ini.

Secara mitologis, kemudian diuraikan bahwa untuk mengatasi chaos di Bali akibat ulah Raja Mayadawa, datanglah bantuan dari Sorga (Khayangan) yang dipimpin oleh Bhatara Indra. Mayadanawa yang sudah mengetahui kerajaannya akan diserang, segera melakukan persiapan perang. Ketika pecah peperangan, jatuh korban yang banyak di kedua belah pihak. Pada saat pasukan yang dipimpin oleh Bhatara Indra dapat mengungguli pasukan Mayadawa, peperangan harus dihentikan karena hari menjelang malam. Pada malam harinya, saat pasukan di kedua belah pihak beristirahat, Mayadawa mendekati pasukan Bhatara Indra dan menciptakan mata air beracun (tirthamala). Agar jejaknya tidak diketahui, Mayadanawa berjalan dengan memiringkan telapak kakinya, sehingga tempat itu kemudian disebut Desa Tampaksiring. Keesokan harinya saat pasukan Bhatara Indra meminum air ciptaan Mayadawa, banyak yang menderita sakit dan ada yang meninggal. Melihat kejadian itu, Bhatara Indra kemudian menciptakan mata air yang disebut Tirta Empul, untuk mengobati pasukan yang sakit dan menghidupkan yang meninggal. Aliran air Tirta Empul kemudian menjadi Sungai Pakerisan.

Bhatara Indra dan pasukan kemudian melakukan pengejaran terhadap Mayadawa. Pada saat itulah Mayadawa berganti-ganti rupa dan bentuk. Mayadanawa antara lain berubah menjadi burung besar (manuk raya) dan bidadari dari Kedewatan (tempat para Dewa). Tempat Mayadawa berubah menjadi burung besar, kemudian disebut Desa Manukaya dan tempat berubah menjadi bidadari disebut Desa Kedewatan. Ketika Mayadawa dan Patih Kala Wong terdesak, kemudian mengubah diri menjadi batu padas. Bhatara Indra kemudian memanah batu padas (cadas) ini, sehingga Mayadawa dan Patih Kala Wong menemui ajalnya. Darahnya mengalir menjadi sungai, yang kemudian disebut Sungai Petanu. Air sungai ini

kemudian dipastu (dikutuk) oleh Bhatara Indra, jika digunakan untuk mengairi sawah dapat memberi kesuburan, tetapi jika padinya dipetik akan mengeluarkan darah dan berbau bangkai. AKutukan ini berlaku selama seribu tahun. Ada juga teks menyebut kutukan berlaku 1.700 Kemenangan Bhatara Indra dan pasukannya melawan Mayadawa, pada hakikatnya adalah kemenangan rakyat Bali. Kemenangan ini kemudian dirayakan sebagai Hari Raya Galungan, yang merupakan hari kemenangan dharma (kebajikan) melawan adharma (kebatilan).

Di dalam naskah tentang filsafat atau Tatwa Sang Mayadawa, penguraian kisah Mayadawa pada prinsipnya sama, tetapi perbedaannya, Raja Mayadanawa disebutkan sebagai Raja Bedaulu, bukan Raja Blingkang. Air beracun (tirthamala) disebutkan dibuat oleh Patih Kala Wong di kawasan hutan Pegulingan, bukan dibuat oleh Mayadanawa di Tampaksiring. Selanjutnya Mayadanawa dan Kala Wong berhasil dipanah hingga tewas, ketika merubah diri menjadi batu padas di sebuah pangkung (sungai kecil) bertebing cadas. Darah mereka yang mengalir menjadi air Sungai Petanu, disebutkan dikutuk (dipastu) selama sepehe satus (1.700) tahun, sedangkan dalam Usana Bali disebutkan kutukan berlaku 1000 tahun. Setelah berhasil membunuh Mayadawa dan Kala Wong, Bhatara Indra dan pasukan disebutkan bermalam di Bedahulu. Kemudian keesokan harinya menuju Besakih dan kembali ke Kahyangan (Anonim, 1982: 1—6 dan Gambar, 1989: 11-23).

Karya sastra berupa kekawin Mayadanawantaka atau kidung tentang kematian Raja Mayadawa karya Dang Hyang Nirartha, disebutkan bahwa Mayadanawa adalah seorang pertapa teguh, putra Dewi Danu. Mayadanawa melakukan tapa di Gunung Ksitipogra. Setelah mendapat anugerah dewata atas tapanya, ternyata kelobaannya menjadi-jadi, sehingga Bali mengalami chaos, rakyatnya diselimuti ketakutan. Menurut Ki Nirdon (dalam Warta Hindu Dharma, No. 259 Januari 1989: 35), bila menyimak karya sastra ini, maka kisah di dalam Mayadanawantaka akan dinilai sebagai sastra sejarah. Mayadanawa akan dinilai benar-benar ada dan memerintah di seputar Danau Batur, Kintamani. Mmenurut Ki Nirdon, pesan yang ingin disampaikan karya sastra ini adalah:

―…purihing dadi wwangika tan kateguhana langgenging praja/ ikang hurip kadi kilat prawalanika tuhun ksana praba/ lalu tan haneng anemu tusta sang angkesi drewya ring grehe/ ..‖

Artinya: ― …manusia tidak bisa hidup langgeng di dunia, hidup ini sangat singkat

seperti kilat, tidak seorang pun akan memperoleh kebahagiaan sejati dengan harta benda

di rumah...‖

Karya sastra kekawin tentang kematian Mayadanawa menurut Ki Nirdon, diuraikan dengan kalimat-kalimat yang sangat indah. Dang Hyang Nirartha pengarang kakawin

Mayadanawa, adalah seorang pendeta yang datang dari Majapahit. Di dalam karyanya, Dang Hyang Nirartha ingin menghadirkan tokoh utama Mayadawa sebagai penguasa di Bali, namun pikirannya diselimuti ilusi, sifat loba, tamak dan ingin merusak keyakinan masyarakat Bali, serta menginjak-injak kebenaran akibat penghayatan keagamannya. Sifatnya yang kurang baik inilah kemudian menimbulkan ketakutan dan kekacauan di Bali. Karya sastra tentang Mayadanawa ternyata tak hanya ada di Bali. Menurut Shastri (1963: 109-111), ceritera Mayadanawa juga ditemukan di dalam ceritera Ramayana, yang diuraikan pada bagian Utarakanda. Dalam ceritera itu disebutkan, bahwa ketika Rahwana sedang berburu, kemudian bertemu dengan Mayadanawa. Oleh karena Mayadanawa takut pada Rahwana, atas permintaan Rahwana, puteri Mayadanawa yang bernama Mendodari kemudian dinikahkan dengan Rahwana. Berdasarkan ceritera tersebut, maka Rahwana adalah menantu dari Mayadanawa.

Apakah kisah tentang Mayadawa benar-benar ada atau hanya mitos? Ardika, Guru Besar Fakultas Sastra Universitas Udayana pada bidang ilmu arkeologi, mengatakan bahwa ceritera Mayadawa hanya buatan pengarang, tidak memiliki data arkeologis (wawancara pada 24 Juli 2013). Pada 11 Oktober 1992, sehari sebelum peresmian candi Buddha di Pura Pegulingan Tampaksiring, Suteja, Kepala Suaka Peninggalan Sejarah Purbakala di Bedulu, menjelaskan bahwa pada masa Bali kuno pernah terjadi konflik antar sekte keagamaan. Terkait Mayadanawa, meskipun data kearkeologiannya tidak ada, tetapi ada wacana yang menyebutkan bahwa Mayadanawa adalah seorang tokoh yang beragama Buddha dan berkonflik dengan paham Siwais. Pemangku Pura Besakih Sang Kulputih, kemudian memohon bantuan dewata, agar perilaku Mayadawa yang membuat ketakutan penduduk Bali, segera berakhir (informasi diberikan di Museum Purbakala/ Gedung Arca Bedulu, Gianyar).

Mengenai keberadaan Mayadanawa, Soebandi (1981: 42) menjelaskan bahwa dari sebuah babad yang dikutip, tanpa menyebutkan nama babadnya, akibat ulah Mayadawa melarang rakyat Bali menyelanggarakan upacara di Pura Besakih, menyebabkan rakyat Bali sekitar lima belas tahun, dari tahun Saka 881—896 atau 959—974 M. Pada saat itu penduduk Bali menderita kesengsaraan dan kemelaratan, karena tanaman tidak bisa tumbuh dan hidup sebagaimana mestinya. Berdasarkan uraian Soebandi, berarti tokoh Mayadawa hidup pada abad ke-10. Akan tetapi, kalau diperhatikan tahun peresmian penataan Tirta Empul pada 962 sesuai dengan prasasti batu di Pura Sakenan desa Manukaya, maka akhir dari tahun kesengsaraan rakyat Bali akibat ulah Mayadawa pada 974 menjadi kurang tepat. Meskipun demikian, penduduk desa Tampaksiring meyakini keberadaan Mayadawa di masa lalu. Menurut A.A. Gde Rai Remawa, yang bertempat tinggal di Puri Kawan Tampaksiring, mata

air cetik (beracun) yang diyakini diciptakan oleh Mayadanawa, letaknya di sebelah barat Tirta Empul, di sebelah selatan jalan menuju Istana Presiden (wawancara dengan Remawa pada 7 Agustus 2013). Mata air cetik (beracun) tersebut kini sudah punah dan di tempat yang diyakini pernah ada mata air beracun, telah didirikan patung Kala Wong, patih yang mendampingi Raja Mayadawa sampai akhir hayatnya (lihat Gambar 5.5). Selanjutnya, Mangku Suanta, penduduk Tampaksiring yang menjadi pemangku di pura Pusat Pemerintahan Kabupaten Badung, menjelaskan bahwa penduduk Tampaksiring meyakini Mayadanawa tewas di sebuah tempat, yang disebut tanah pegat atau tanah yang terpotong, di sebelah barat desa Tampaksiring (lihat Gambar 5.5). Sungai yang mengalir di tanah pegat inilah yang disebut Sungai Petanu.

Gambar 5.5 Patung Patih Kala Wong dan Tanah Pegat

(Sumber: Dokumentasi Mugi-Raharja)

Setelah Mayadawa dan Patih Kala Wong tewas dipanah Bhatara Indra waktu berganti wujud menjadi batu di tanah pegat, rakyat Bali kemudian merayakannya sebagai Hari Raya Galungan, hari raya kemenangan kebajikan melawan kebatilan. Sejak saat itu penduduk Bali menjadi tentram kembali, suasana Bali yang sebelumnya chaos kemudian menjadi order. Tempat mata air Tirta Empul yang diyakini sebagai ciptaan Bhatara Indra, kemudian oleh Raja Sri Candrabhaya Singha Warmadewa ditata agar tidak rusah, kemudian dibangun permandian suci pada 962. Selanjutnya, pada masa pemerintahan pasangan Raja Sri Dhanadhiraja Lancana dan Sri Dhanadewi Ketu (Masula–Masuli) yang memerintah pada 1178–1255, dibangun Pura Tirta Empul. Pura yang dirancang oleh I Bandesa Wayah, dimaksudkan sebagai tempat suci untuk padharman Bhatara Indra (Soebandi, 1983: 59-60).

Berdasarkan uraian tersebut, menandakan adanya pemuliaan bagi Bhatara Indra yang telah membantu membebaskan rakyat Bali dari kekacauan (chaos) akibat ulah Mayadawa, sehinggga kehidupan di Bali menjadi tentram (order).

Dokumen terkait