D INEGERI Tiongkok, tentu engkau tahu, kaisarnja seorang Tiong- hoa, dan semua orang jang ada disekelilingnjapun orang-orang Tionghoa djuga. Ketika itu telah sangat lama dimasa jang lampau, akan teta p i oleh karena itulah benar orang harus mendengarkan kisahnja sebelum ia dilupakan. Istana kaisar itu ialah istana jang seperm ai-perm ainja diseluruh dunia ini, dari bawah hingga diatas Terbuat dari pada porselen halus seluruhnja, sangat fnahalnja, tapi sangat pula mudahnja petjah, sehingga tak d a p a t kita menjentuhnja dengan tia d a merasa tjemas akan membuat petjah barang sesuatu- dan oieh karena itu haruslah orang berhati-hati.
Didalam taman kaisar itu tumbuh bunga-bungaan jang seadjaib' adjaibnja, dan pada bunga-bungaan jang terindah diikatkan orang ■ genta-genta ketjil dari perak jang berdenting-denting terus-meneruS' supaja orang tak dapat lalu disitu dengan tiada terta rik perhatiaH' nja pada bunga-bungaan itu, Semua jang ada didalam taman itu telah diatur orang dengan sebaik-baiknja, dan taman itu demikian besarnja, sehingga pendjaganja sendiripun tidak mengetahui dimana batasn|a. Djika orang berdjalan terus sadja, akan sampailah ia ke- pada sebuah hutan jang permai dengan pokok-pokok kajunja jan<3 tinggi-tinggi dan danaunja jang dalam-dalam. Hutan itu terbentafl^
hingga ketepi laut, airnja biru dan dalam. Kapal jang besar-besar dapat berlajar terus dibawah-bawah tjabang-tjabang p o k o k -p o k o ^
kaju jang mendjulur kelaut itu ; dan disalah satu dari tjabang-tjaban<3 itu tinggallah seekor burung bulbul jang bernjanji sangat indahnj9'
*) Sedjenis burung kira-kira sebesar murai, jang tidak didapat di Indones'a Nama ..bulbul" berasal dari bahasa Parsi. Burung bulbul sangat kenamaan karefi njanjinja. Dalam bahasa Eelanda ia disebut: nachtegaal.
sehingga nelajan-neiajan miskin jang memang sudah banjak jang harus diperhatikannja itu berdiam diri mendengarkan burung itu bernjanji, djika mereka itu pada malam hari ada dilautan untuk mengangkat pukatnja.
mO !” kata mereka itu, ,.alangkah indahnja njanji itu !" Tetapi mereka itu haruslah memperhatikan pukatnja dan burung itupun dilupakannjalah. Tetapi pada malam jang berikutnja, djika burung itu bernjanji pula, dan nelajan-neiajan itu ada dekat disitu, mereka- pun berkatalah lagi seperti jang sudah-sudah r ,,0 , alangkah indah njanji burung itu !"
Dari segala negeri didunia ini, datanglah pelantjong-pelantjong kekota baginda itu, dan mereka kagum melihat kota itu, dan demi- kianlah djuga istana dan tamannja, tetapi djika mereka mendengar bulbul itu bernjanji, berkatalah mereka itu semuanja : Jnilah jang paling baik dari semuanja !" Dan pelantjong-pelantjong itu bertje- ritera-tjeriteralah djika mereka itu tiba dirumahnja kembali, dan orang-orang jang berilmu pengetahuanpun lalu mengarang buku- buku tentang kota dan istana dan taman itu, dan burung bulbul itu tidak mereka lupakan ; Jnilah jang terutama sekali, dan mereka fang pandai membuat sjair lalu menuliskan sadjak-sadjak jang terindah, semuanja tentang burung bulbul didalam hutan ditepi laut fang da
lam itu.
Buku-buku itu tersebar sekeliling dunia, dan sekali, sampailah beberapa buah dari buku-buku itu ketangan baginda. Baginda ber- semajam d ikursi keemasannja, dibatja dan dibatjanja buku-buku itu, dan setiap kali baginda mengangguk-anggukkan kepalanja, karena baginda senang hatinja membatja lukisan-fukisan jang indah tentang kota dan istana dan tamannja itu.
..T e ia p i burung bulbul ifulah jang paling baik !" demikian ter- +ulis dalam buku-buku itu.
,,Apakah artinja ini ?" Seru baginda. ,.Burung bulbul ? Sama sekali tak ada aku mengenal dia i Adakah burung jang demikian itu dalam daerah kekaisaranku dan dalam ta’manku pula ! Tak pernah
Dongeng-dongeng Andersen
aku mendengarnja ! Jang demikian itu harus kuketahui dari buku pula 1"
Kemudian dipanggil baginda akan menteri dalamnja ; m enteri dalam ini bukan main-main mulianja, sehingga, djika ada orang jang lebih rendah deradjatnja dari padanja memberanikan diri memban- tah perkataannja, atau memohonkan sesuatu kepadanja, tak lain djawabnja dari pada ,,P !", Dan ,,P !" ini sama sekali tak ada artin ja .
,,Didalam keradjaanku ini haruslah ada seekor burung jang adjaib, jang disebut orang burung bulbul !" sabda baginda, ,,kata orang burung itulah jang paling baik dari segala apa jang ada dalam keradjaanku ini ! Mengapakah tak ada orang jang m entjeriterakan itu kepadaku ?"
pernah patik mendengar orang jang menje- but-njebutnja, tuanku," sembah menteri dalam itu, ,,ia tidak pernah dipersembahkan orang kedalam istana !"
i.Aku perintahkan : nanti malam burung itu harus ada disini, dan bernjanji dihadapanku !" titah baginda. ,,Seluruh dunia menge- tahui apa jang mendjadi kepunjaanku, tapi aku sendiri tidak menge
tahuinja !"
,,Belum pernah patik mendengar orang jang mempertjakapkan- nja, tuanku !" sembah menteri dalam itu, ,.tetapi patik akan men- tjarinja, dan patik akan mendapatkannja !"
Tetapi dimanakah burung itu akan d itja ri ? M enteri dalam itu pergilah, naik tangga turun tangga, melalui bangsal-bangsal dan gang-gang, tetapi tidak seorangpun dari mereka jang didfumpainja jang pernah mendengar tentang burung bulbul itu ; dan menter?
dalam kembalilah lagi menghadap baginda, mempersembahkan;
bahwa tjeritera tentang burung itu hanjalah dibuat-buat sadja oleK orang-orang jang mengarang buku-buku itu.
,,Duli tuanku kaisar, djanganlah kiranja tuanku pertjaja akan apa- jang tertulis dalam buku-buku itu ; semuanja itu hanjalah karangan belaka, dan termasuk kepada jang dikatakan orang ilmu sihir !"
,,T etapi," sabda baginda, ,,buku jang telah kubatja itu dikirim- kan kepadaku oleh kaisar Djepun jang mahakuasa ! Pada malam inE
djuga burung itu harus ada disini. la m endapat karuniaku jang se- tin g g i-tin g g in ja ! Dan djika ia tidak ada disini, seluruh isi istana inf, nanti sesudah makan malam, akan kusuruh tin d ju perut besarnja !"
,,Tsing-pe !" sembah menteri dalam itu, dan pergilah pula ia, naik ta n g g a turun tangga, melalui bangsal-bangsal dan gang-gang ; dan seluruh istana itupun tu ru t serta dengan dia ; sebab mereka itu tak suka d itin d ju i p e ru t besar mereka. Ramai bukan buatan orang mentjari dan menanjakan bulbul jang adjaib itu, jang dikenal oleh setiap orang, te ta p i jang tid a k dikenal oleh seluruh isi istana itu.
A c h irn ja mereka m elihat seorang anak perempuan pelajan da- pur jang k e tjil dan miskin, dan anak itu berkata : ,,O t karunia, burung bulbul itu ! Ja, kukenal benar burung itu ! O, alangkah pandai ia bernjanji ! S etiap malam aku boleh membawakan ibuku jang sakit beberapa sisa-sisa makanan ; ia tinggal disana dite pi p a n ta i, dan djika aku pulang dan sedikit merasa lelah dan duduk beristirahat di- hutan itu , kudengarlah bulbul itu bernjanji ! Keluar air mataku oleh- nja, seolah-olah ibuku sedang mentjiumi aku I
,,Anak d a pu r 1" kata menteri dalam itu, ,,akan kuusahakan ba- gimu pekerdjaan jang te ta p didapur dan kuberi engkau izin untuk m elihat baginda santap, djika engkau dapat membawa kami.kepada burung bulbul itu, karena pada malam ini burung itu harus ada dalam istana."
Sesudah itu semua mereka itu pergilah masuk hutan, ketem pat burung bulbul itu biasanja bernjanji, dan setengah isi istana tu ru t serta. Ketika me reka telah djauh berdjalan itu, terdengarlah seekor lembu melenguh.
„ 0 !" kata perwira istana, „itulah dia ! Alangkah luar biasanja tenaga jang ada dalam diri binatang jang seketjil itu ! Tetapi pernah
rasanja aku mendengar fang demikian itu !
,,Tidak, itu lembu jang sedang melenguh !" kata anak perem- puan da pu r itu, „k ita masih djauh dari te m p a t jang kita tudju itu !"
Kemudian berkuak-kuaklah katak didalam paja.
mO , alangkah sedapnja," kata pendeta istana, ,.sekarang telah kudengar dia. Benar-benar seperji genta kuil jang ketjil-ketjil !"
,,Tidak, itu katak !" kata anak perempuan itu pula, ,.sekarang agaknja kita telah hampir mendengar dia !"
Kemudian bernjanjilah burung bulbul itu.
,,Itulah dia !" kata anak perempuan itu, ..dengarlah, dengar- lah, itu dia bertengger disitu," dan dengan djarinja menundjuklah ia kepada seekor burung jang ketjil, kelabu warnanja.
..Bagaimanakah mungkin !" kata menteri dalam itu. ,,Seperti jang demikian itu tak pernah aku membajangkannja ! Alangkah se- derhana rupanja ! Tentulah ia berubah warnanja karena kemalu-ma- luan melihat disekelilingnja begitu banjak orang-orang jang mulia !
■ ,,Burungku jang ketjil !" seru anak perempuan itu dengan nja- ring, ,.baginda kita jang sangat penjajang sangat ingin mendengar njanjimu."
,.Dengan sebesar-besar suka hati !" kata burung itu, lalu ia bernjanji dengan seindah-indahnja.
,,Serupa benar dengan bunji genta gelas 1" kata menteri da- lam, ,,dan lihatlah kerongkongannja jang ketjil itu ! A djaib, mengap9 tak pernah kita mendengarnja terdahulu dari ini ! Akan beruntun<3 benar ia dalam istana nanti 1"
..Haruskah aku bernjanji sekali lagi untuk baginda kaisar ? : tanja bulbul itu, karena pada sangkanja baginda ada disitu.
,,Bulbul ketjilku jang tak ada bandingnja !" kata menteri dalan1 itu, ,,dengan kesenangan jang sangat aku mengundang engkau ma' lam ini untuk hadir dalam perdjamuan diistana. Diistana engkau 1 dengan njanjimu jang indah itu akan membuat duli jang dipertuan merasa berbahagia."
..Njanjiku jang seindah-indahnja ialah diantara daun kaju jan^
hidjau-hidjau !" kata burung itu, teta p i meskipun demikian ia ing|f1 djuga tu ru t keistana, ketika didengarnja, bahwa kaisar mengharap kan dia.
Didalam istana semua dihiasi sebagaimana biasanja djika dakan perdjamuan. Dinding-dinding dan lantai-lantai jang terbu9 dari pada porselen itu, berkilat-kilat oleh tjahaja beribu-ribu lamp^
em a s; bunga-bungaan jang seindah-indahnja jang semuanja dapa
berdentingan dengan halus, dipasang orang digang-gang, dan orangpun keluar-masuk melalui pintu-pin+u fang terbuka, dan karena itu semua genta berbunji serempak bersama-sama ; sepatah katapun orang tak dapat mendengar perkataan-perkataannja sendiri. Dite- ngah-tengah bangsal besar, ditem pat baginda bersemajam, diletak- kan tiang ketjil dari emas tem pat bulbul itu bertengger ; seluruh istana ada disitu, dan anak perempuan pelajan dapur jang ketjil itu mendapat Tzin untuk berdiri dibelakang dekat pintu, karena sekarang ia telah mendapat gelar anak perempuan pelajan dapur kekaisaran.
Semua orang memakai pakaian jang seindah-indahnja, dan semua orang melihat kepada burung ketjil jang kelabu itu, dan baginda menganggukkan kepala baginda kepadanja.
Burung itu bernjanji demikian indahnja, sehingga baginda me
ngeluarkan air mata ; air mata itu b ertitik-titik dipipinja, dan kemu
dian bulbul itu bernjanji lebih indah lagi, sehingga langsung meresap kedalam hati. Dan bagindapun sangat sukanja, dan diberikannja hak kepada bulbul itu untuk mengenakan kasut emas baginda dilehernja.
Tetapi burung itu menjatakan terima kasihnja ; tjukuplah sudah ka- runia jang didjatuhkan baginda atas dirinja.
,,Patik telah menjaksikan air mata duli tuanku ! Itulah harta patik jang sebesar-besarnja ! A ir mata seorang kaisar mempunjai kekuatan iang gaib ! Sesungguhnfalah patik telah tju ku p dikaruniai !" Sudah i+u ia bernjanji lagi dengan suaranja jang halus dan dirahmati itu.
■ Jnilah senda-gurau berkasih-kasihan jang paling manis jang Pernah k u lih a t!" kata dajang-dajang dan b iti-b iti perwara, lalu Mereka menuangkan air kedalam mulut mereka dan dengan air dalam mulut itu mereka mengeluarkan bunji bertjeguk-tjeguk djika seseorang berkata kepada mereka ; mereka menjangka, bahwa me- reka itupun burung bulbul djuga. Bahkan para pesuruh istana dan dajang-dajangpun menjatakan kepuasannja dan hal ini adalah pen
ding sekali artinja, karena mereka itulah jang paling sukar tabiatnja dan paling sukar dipuaskan keinginannja. Sungguhlah, bulbul itu telah
^e n tja p g i hasil jang besar!
Sekarang ia harus tin g g a l didalam istana, ia m endapat sang- karnja sendiri, dan izin untuk keluar dua kali dalam sehari dan satu kali dalam semalam.
Dua belas orang pelajan harus serta dengan burung itu, dan masing-masing memegang benang sutera jang diikatkan kepada kedua belah kaki burung itu dan teguh pula mereka memegang be- ,
nang itu ; sajang ! Tak banjak kesenangan berdjalan-djalan dalam ,
keadaan jang demikian itu. ,
Seluruh kota mempertjakapkan burung jang adjaib itu, dan , djika dua orang bertem u ditengah djalan, maka jang seorang m e
ngatakan tak lebih dari pada ,,Bui !" dan jang seorang lagi b erkata : . ,,-bul !" *) Lalu mereka mengeluh, dan m engertilah masing-masing ; bahkan ada sebelas anak tukang daging jang d ib e ri nama m enurut , nama burung itu, te ta p i tidak seorangpun dari mereka itu jang pandai bernjanji !
Sekali, pada suatu hari, baginda m endapat sebuah bungkusan jang besar. ,,Buku baru lagi tentang burung kita jang term asjhur itu !"
sabda baginda ; te ta p i bungkusan itu bukan berisi buku ; dalam bungkusan itu ialah sebuah kotak jang berisi suatu hasil pekerdjaan seni : burung-burungan bulbul jang sama rupanja dengan burung bulbul jang sebenarnja, ta p i penuh berikat intan, manikam
dan
safir. *) Djika burung buatan itu d ip u ta r pernja, ia pandai m enjanji
kan salah satu dari lagu-lagu jang dinjanjikan oleh bulbul jang sebe- narnja, dan ekornjapun lalu turun-naik dan berkilat-kilat karena emas dan perak. Lehernja berkalungkan sehelai p ita dan diatas p ita itu te rtu lis :
Bulbul Kaisar Djepun adalah hina dibanding dengan Bulbul Kaisar Tiongkok.
..Alangkah indahnja !" kata mereka itu semuanja, dan orang jang membawakan burung itu dengan segera m endapat g e la r : ..Pembawa T ertin g gi Bulbul Kekaisaran".
,,Sekarang mereka itu haruslah bernjanji bersama-sama ! Tentu akan m endjadi njanji-bersama jang indah sekali !"
*) Permainan, kafa jang tak dapat diterdjemahkan. Dalam bahasa Danm ark bulbul ialah ..nattergal” dan „gal ’ artinja ,,gila
1) Safir, sematjam permata.
Dan kedua burung itu harus bernjanji bersama-sama, te ta p i njanji itu tid a k begitu bagus, karena bulbul jang sebenarnja bernjanji menurut tjaranja sendiri, dan njanji burung buatan itu menurut per.
,.Burung buatan itu tak d a p a t dipersalahkan," kata pemimpin njanji- bersama itu, ,,ia bernjanji dengan m at jang te ta p sekali dan betul- betul m enurut aliran saja !" Djadi haruslah burung buatan itu ber- • njanji dengan sendiri sadja. — Hasilnja benar-benar sama dengan hasil jang diperoleh bulbul jang sebenarnja itu, dan ia itu lebih bagus untuk d ilih a t dari pada burung jang sebenarnja ! la berkilat-kilat seperti gelang dan kalung leher.
Tiga puluh tig a kali ia menjanjikan satu lagu jang itu-itu djuga, te ta p i meskipun demikian ia tidak djuga merasa lelah ; agaknja orang-orang masih ingin mendengar untuk jang ketiga puluh em pat kalinja, te ta p i baginda berpendapat, bahwa bulbul jang sebenarnja itupun sekali-sekali haruslah djuga bernjanji. Tetapi dimanakah bu
rung bulbul jang sebenarnja itu ? Seorangpun tak ada jang memper- hatikan dia terbang keluar melalui djendela jang terbuka, kehutan jang hidjau.
,,Apakah artinja ini ? " sabda baginda, dan semua orang istana berpendapat, bahwa burung itu binatang jang tidak tahu berterima kasih sedikit d ju g a .,.Tetapi burung jang paling bagus ada pada kita ,"
kata mereka, dan burung buatan itu haruslah bernjanji lagi dan sekali ini untuk jang ketiga puluh empat kalinja mereka mendengar njanji jang itu-itu djuga ; te ta p i mereka itu belum hafal benar akan njanji itu.'bukan main sulitnja, dan pemimpin njanji tak tjukuplah menda- patkan kata-kata untuk memudji-mudji dia, dan dengan pasti ia mengatakan, bahwa benda itu djauh lebih baik dari pada burung jang sebenarnja, bukan sadja jang mengenai pakaiannja, dan per- mata indah jang banjak itu, te ta p i djuga isi didalamnja.
,,Karena, tuan-tuan lihatlah sendiri, lebih-febih duli tuanku kai- sar, pada bulbul fang sebenarnja kita tak mungkin menghitung-hitung terlebih dulu apa jang akan datang, teta p i pa da burung buatan ini semuanja sudah ditetapkan : demikianlah kiranja, dan tidak lebih tidak kurang ! Kita dapat memberikan keterangannja, kita dapat
membukanja dan menundjukkan pikiran-pikiran manusia dalam letak pernja dan perputarannja, dan bagaimana jang satu sebagai a k ib a t dari jang lainnja lagi !"
,,Itulah djuga jang kupikirkan !" kata mereka itu semua dengan serempak ; dan pemimpin njanjipun mendapat izin untuk menerang- kan burung buatan itu kepada rakjat dihari minggu jang berikutnja ; ra k ja t boleh djuga mendengarkan dia bernjanji, sabda bagin d a.
Dan mereka itu mendengarkan dia, dan demikian gembiranja seolah- olah mereka terlalu banjak minum air teh, karena jang demikian itu benar-benarlah sifa t orang Tionghoa dan semua mereka itu berkata-:
,, 0 !" Dan mereka mengatjungkan djarinja keatas, dan sambil b e r- buat demikian mereka mengangguk-angguk. Tetapi nelajan-neiajan jang telah mendengar bulbul jang sebenarnja, mengatakan : ,,Tjukup bagus njanji itu, dan menjerupailah agaknja, te ta p i ada kurangnja, entah, tak tahulah apa jang kurang itu !"
Bulbul jang sebenarnja itu diasingkan keluar keradjaan. Burung buatan itu mendapat tem pat diatas sebuah bantal sutera disebelah te m p a t peraduan baginda. Semua persembahan jang didapatnja, emas dan permata-permata, bertebaran disekeliling burung buatan itu, dan gelarnja naik mendjadi ,,Penjanji Malam Diatas Medja Jang Dipermulia Kekaisar.an", dan jang pertama dalam tingkatnja dise
belah kiri • karena baginda memandang tem p a t jang sebelah kiri itu sebagai tem pat jang paling mulia, tem pat hati terletak, dan hati letaknfa disebelah kiri, djuga pada baginda. Dan pemimpin njanjipun mengarangkan dua puluh em pat djilid buku tentang burung buafan ; buku itu bukan main beratnja, penuh dengan kata-kata bahasa Tiong hoa jang paling sukar-sukar, te ta p i setiap orang mengatakan, bahwa ia telah membatjanja dan mengerti pula akan isinja, karena djika tidak demikian, bukankah mereka itu bodoh dan karena itu mereka itu akan ditindjui perut besarnja ?
Demikianlah berlalu setahun penuh ; baginda dan semua isi istana dan semua orang Tionghoa jang lain telah hafal setiap bunji burung buatan itu ; te ta p i oleh karena itulah mereka berpendapat, bahwa hal inilah benar jang paling bagus ; mereka. bahkan d a p a t
tu ru t bernjanji dan begitulah pula jang dilakukan mereka. Anak-anak lorong bernjanji : ,,zizizi, tju tju tju !" dan demikianlah pula baginda bernjanji. Ja, sungguh bagus !
Tetapi, sekali, pada suatu malam, ketika bulbul buatan itu se
dang bernjanji sebaik-baiknja, dan baginda telah berada disebelah- nja diatas te m p a t peraduan, sedang mendengarkannja, terdengar- lah bunji sesuatu didalam burung buatan itu : Mtra k " ; maka terde- ngarlah suatu jang putus : ,,sno rrrr!" Semua gigi berputar sampai habis — dan berhentilah musik itu. Baginda dengan segera melom- p a t dari te m p a t peraduannja, lalu menjuruh memanggil tabib-istana- nja, te ta p i apakah jang dapat dilakukan ? Kemudian tukang arlodji harus- datang menghadap, dan sesudah bertjakap-tjakap ini dan itu serta mengadakan pemeriksaan, achirnja dapatlah burung itu diper- baiki sedikit ; te ta p i ia berkata bahwa haruslah berhati-hati benar dengan burung itu, karena gigi-giginja telah aus dan tak mungkin diganti dengan g ig i-g ig i jang baru supaja bunjinja tetap tinggal mumi. Hal ini sangatlah menjedihkan ! Hanja sekali dalam setahun bolehlah burung buatan itu disuruh bernjanji, dan haruslah pula se- bentar sadja. Pemimpin njanji itu mengadakan pidato ringkas penuh dengan perkataan-perkataan jang sukar-sukar, jang maksudnja ialah bahwa burung itu sekarang sama d ju g a c/engan ja n g dults,
karena itulah lalu sama pula baiknja dengan jang dulu.
Lima tahun telah berlalu, kemudian tibalah kesedihan disegenap keradjaan tentang baginda ; karena merska dalam hakekatnja sa
ngatlah tjin ta kepada baginda. Sekarang ini baginda gering dan tak mungkin baginda akan te ta p hidup, kata orang ; sudah ada kaisar baru jang dipilih, dan orang-orang berdiri diluar istana didjalan besar dan bertanja kepada menteri dalam, bagaimana halnja dengan baginda.
,,P !" kata menteri dalam, sambil menggeleng-gelengkan ke- palanja.
Dengan dingin dan putjat berb'aringlah baginda ditem pat peraduan baginda jang besar dan permai ; segenap isi istana me- mandang baginda sebagai telah mangkat, dan semua orang lalu
pergi untuk mempersembahkan hormatnja kepada kaisar jang baru.
Pelajan-peiajan istana menarik d iri akan berunding dan dajang- dajang lalu mengadakan djamuan teh jang besar. Disemua bangsal dan gang dibentangkan orang permadani, supaja seorangpun d ja nganlah d a p a t mendengar ada orang jang berdjalan, dan oleh ka
rena itu keadaanpun sunji, sunji senjap. Tetapi baginda belum lag i m angkat ; dengan kaku dan p u tja t berbaringlah baginda diatas pe r- aduan jang permai itu, dengan kelambu sutera jang pandjang dan sapu-sapu emasnja jang berat-berat. Sebuah djendela terbuka, dan bulan bersinarlah melalui djendela itu menjinari baginda dan burung buatan itu.
rena itu keadaanpun sunji, sunji senjap. Tetapi baginda belum lag i m angkat ; dengan kaku dan p u tja t berbaringlah baginda diatas pe r- aduan jang permai itu, dengan kelambu sutera jang pandjang dan sapu-sapu emasnja jang berat-berat. Sebuah djendela terbuka, dan bulan bersinarlah melalui djendela itu menjinari baginda dan burung buatan itu.