• Tidak ada hasil yang ditemukan

1 0 L 1. ' / DONGENG2 ANDERSEN

N/A
N/A
Protected

Academic year: 2022

Membagikan "1 0 L 1. ' / DONGENG2 ANDERSEN"

Copied!
112
0
0

Teks penuh

(1)
(2)
(3)

7 - K ’ *- r f

h i ,

1 0

L 1 . ' /

DONGENG 2 ANDERSEN

Saduran

d a r m a w i d j a j a

BALA I PU ST A KA D JA K A R T A

1949

F A K . S A S T . I

(4)

H arga / 2,50

F A K . SaSTRA

T a n g g a l ...

N o ... 3 . 4 ^ 9 ...

B. P. N o . 1 7 2 6 HAK PENGARANG D ILIN D U N G I OLEH UNDANG-UNDANG

(5)

SIPUT DAN M A W A R

D

ISEKELILING sebidang ke- bun ada pagar-hidup dari belukar-bidji, dan diluar pagar itu ada tegalan dan padang ru m p u t; dan ditegalan dan padang rumput itu ada lembu dan biri- biri ; tapi ditengah-tengah kebun itu ada sebatang mawar sedang berbunga, dibawahnja duduk seekor siput jang sudah merasa puas dengan dirinja sendiri, sangat merasa puas dengan dirinja sendiri,

,,Tunggulah sampai waktuku nanti tiba !" katanja, „akan ku- perbuat jang lebih baik lagi dari pada mengeluarkan bunga mawar, menghasilkan bidji, atau memberikan susu sebagai lembu dan biri- b iri."

,,Dari perkataan-perkataanmu itu banjak sungguh jang kuharap- kan," kata mawar. ..Dapatkah barangkali aku bertanja apabila masa- mu itu tiba ?"

..Tjukuplah waktu buat aku," kata siput. ,,Engkau ini memang benar-benar tidak sa b ar! Jang demikian itu tidak akan mengatasi segala harapan."

Setahun sesudah itu, siput masih djuga kira-kira berada ditem- patnja jang dulu, didalam sinar matahari dibawah batang mawar,

(6)

jang mengeluarkan kuntjup dan mengembangkan bunga mawar se sadia bun9 a ian<3 segar, selalu sadja bunga jang baru.

Dan siput itu setengah merangkak keluar dari rumahma ' d\

d|ulurkannja m.sai-perabanja, dan kemudian ditariknja kembali ..Semuanja kelihatan sebagai ditahun jang lalu diuga I Tak ad tam pak kemad|uan ; mawar tinggal pada mawarnja, lebih dari itu *

tak sanggup !” ,a

Kemarau telah lalu, musim gugur telah lalu, batang mawar dengan t,dak putus-putusn,, mengeluarkan'bunga dan kuntjup sam pai sald|u berd|atuhan, han djadi buruk dan dlngin ■ b a t , „ „ „ tunduklah hingga diatas tanah, dan siput masuk kedalam t a n a T "

..Sekarang engkau sudah mendjadi batang mawar jang tua "

katan.a, bolehlah kausaks.kan, bahwa engkau dengan segera a k l mat,. Engkau telah membenkan kepada dunio semua ianq ad damu : apakah png kauberikan itu ada sesuatu gunanm J j

s u a tu pertanjaan jang tak sempat aku memikirkannja ; fe ta p i t 7 pun begitu djelaslah sudah, bagaimana djuga, bahwa'apa ian \ perbuat itu ialah untuk kemadjuan batinmu, karena diika f d ^ mikian tentulah dari padamu akan ada hasil fang lebih b a V n ^ kah engkau mempertanggungdjawabkannja ? Denqa ' pQt' akan ada lagi jang iingga! dari padamu itu ’ selainnl* talc potong sadja. - Dapatkaf, engkau mengerti apa j j g ^

„Kaubuaf aku terkedjut,” kata batang mawar itn u , • belum pernah kupikirkan." ' " a 1+11

„T!dak, engkau ini fenfulah tak pernah banjak berpikir ! A d kah pernah engkau mentfoba untuk mendjelaskan bagimu s T ' mengapa engkau berkembang, dan dengan tjara jang ba a &n ^ engkau berkembang itu ? Begifulah sifaim u, dan tidaklah l a i^ d ^

itu !" ari

„Tidak I" kata batanc, mawar itu. „Aku berkembang dalam b g emb,raan karena tak ada iang |oin dapa+ 9 a am

b e r s m a r dem,k,an sedap udara begitu meniegarkan, dan aku m Z , embun |ang d/ermh, dan hudjan jang lebat, aku bernafas, aku hidup-

(7)

lah ! D ari dalam tanah keluar te n a g a dalam diriku, d a ri atas d a ta n g pula tenaga, aku rasai bahagia jang selalu sadja baru dan besar, oleh karena itu haruslah aku selalu b e rbu n g a ; itulah hidupku, ta ada jang d a p a t k u p e rb u a t lain d a ri pada itu I "

uKau ini ingin hid u p dengan seenak-enaknja dan sem udah mu dahnja sadja," kata siput itu.

uTentu ! Semua telah dianugerahkan kepadaku ! kata b a ta n g m aw ar itu ; ,,ta p i engkau m e n d a p a t jang lebih banjak lag i ! E ng au ini adalah salah satu d a ri pada jang m em punjai s ifa t jang se a u b e rp ikir, s ifa t jang dalam ; salah satu d a ri pada jang sa n ga t pan ai, jang akan m e m bu a t dunia te rtje n g a n g ."

..Itu sama sekali bukan m aksudku," kata s i p u t itu . ,,Dunia masa bodohlah bagiku ! A p a urusanku d e n g a n d u n ia ? T ju k u p la h aku e

ngan diriku s e n d iri."

,,Tapi, bukankah semua kita d iatas dunia ini harus m em berika^

apa jang te rb a ik d a ri pada jang kita punjai kepada jang M enghasilkan apa-apa jang d a p a t kita hasilkan ? ^ a ' a^ u d a p a t m em berikan bunga m a w a r! — Tapi e n g k a u ?

banjak m enerim a, apakah jang telah kauberikan kepadanja . ^ ,,A p a jang telah kuberikan ? A p a jang kuberikan ? , dia ! la ta k ada gunanja ! A ku tid a k m e m p e d u lik a n dia. Kau asi bunga, lebih d a ri itu engkau ta k d a p a t ! Biarlah beluka r-pa g a r me g hasilkan b id ji ! Biarlah lem bu dan b iri-b iri menghasilkan susu , masi g^

m asing mereka itu m em punjai langganannja sendiri ; aku m em pu | ^ langgananku dalam diriku ! A ku turun kedalam diriku sen iri,

1 * * ‘ 1 ’ 1 disitulah te m p a tk u tin g g a l. A p a peduliku dunia ini -

Kem udian m erangkaklah s ip u t itu masuk kedalam rum dan b e rtu tu p d irila h ia ra p a t-ra p a t. ^ _

,,Sedih san ga t h a tik u ," kata m aw ar itu, ,,dengan keinginan u jang te rb a ik ta k d a p a t aku m erangkak kedalam, aku s e la m a n ja arus kem bang te rb u ka, kem bang te rb u ka m e n dja d i bunga. Daun-daun u b e rd ja tu h a n , b e te rb a n g a n d ib a w a angin ! T api kulihat, bahwa se- kuntum d a ri bungaku d itaruhkan o ra ng dalam k ita b njanjian sut|i seorang ibu, jang satu lagi m e n d a p a t te m p a t d ia ta s d a da seorang

(8)

gadis muda jang manis, dan jang sekuntum jang lain lagi diketjup oleh mulut anak ketjil dalam kegembiraan jang penuh bahagia.

Sedap benar rasa ha+iku oleh semua itu, itulah rahmat jang sebenar- nja. Itulah kenang-kenanganku, hidupku !"

Dan batang mawar itupun berkembanglah dalam kenjamanan- nja, dan siput itu bermalas-malasan didalam rumahnja, dan tiadalah ia peduli akan dunia ini.

Dan sudah beriahun-tahun berlalu.

Siput telah mendjadi tanah didalam tanah, batang mawar telah mendjadi tanah didalam tanah ; djuga mawar kenang-kenangan dalam kitab njanjian indjil telah punah, — tapi didalam kebun ber- kembanganlah batang-batang mawar jang baru, didalam kebun hi- duplah siput-siput jang baru ; mereka itu merangkak dalam rumahnja, meludah-ludah, — dan dunia ini tiadalah dipedulikannja.

Kita ulangkah lagi kisah ini dari mulanja ? — Kisah ini tidaklah akan mendjadi berbeda.

(9)

SERDADU T IM A H J A N G TEGUH HATI

S

EKALI peristiwa adalah dua puluh lima orang serdadu timah ; mereka itu semuanja ber- saudara, karena semuanja berasal dari satu sendok timah djuga. Mereka memegang bedilnja kuat-kuat, mukanja lurus kehadapan menudju musuh ; merah dan biru uniform- nja, sangat indahnja.

Jang paling pertama sekali jang didengarnja didalam dunia ini ketika tutup kotak tem pat mereka itu dibuka, ialah : ,,0 , serdadu timah !" Perkataan ini diteriakkan oleh seorang anak ketjil dan ia bertepuk-tepuk tangan oleh kegembiraan. Ketika itu ialah hari ulang tahunnja, dan karena itu ia mendapat serdadu-serdadu timah itu, dan dibariskannja mereka itu semuanja diatas medja. Semuanja sama benar, ketjuali jang seorang, jang agak' berlainan ; ia hanja mempunjai kaki sebelah sadja ; dan ialah jang paling achir sekali ditjitak dan waktu itu timahnja sudah tak tjukup lagi ; tapi meskipun demikian ia tegak sama teguhnja diatas kakinja jang sebelah itu seperti jang Iain-lain diatas kedua kakinja ; dan benar-benar tentang dialah pula, karena nasibnja jang luar biasa itu, akan ditjeritakan dibawah ini.

Diatas medja, tem pat serdadu-serdadu timah itu dibariskan, banjak lagi benda-benda permainan jang lain, tetapi jang paling bagus dari semuanja itu ialah sebuah puri jang permai terbuat dari pada kertas. Dari djendela-djendelanja jang ketjil-ketjil dapat kita melihat langsung kebangsal-bangsal didalam puri itu. Diluar puri itu,

(10)

disekeliling danau jang te rb u at dari sepotong gelas katja, ada pohon- pohonan jang ketjil-ketjil. Angsa-angsa undan dari pada lilin bere- nang-renang didanau itu dan betjermin pada airnja. Semua itu sa- ngatlah manisnja ; ta p i biarpun begitu jang paling bagus sekali ialah seorang nona jang ketjil jang berdiri ditengah-tengah pintu puri itu.

Nona itupun te rb u at dari pada kertas djuga, tapi ia memakai rok dari sutera dan sehelai pita ketjil dari bahu-kebahunja, dan ditengah- tengah pita itu pada dadanja ia memakai sekeping logam hiasan jang berkilat-kilat, sebesar mukanja. Nona itu merentangkan kedua belah tangannja, sebab ia itu adalah seorang nona tukang dangsa, dan kakinja sebelah diangkatnja tinggi-tinggi, sehingga serdadu timah itu sama sekali tak dapat melihat kaki itu, dan oleh karena itu ia me- njangka, bahwa nona itupun hanja sebelah sadja kakinja seperti dia.

,,Inilah agaknja seorang isteri jang baik bagiku," pikirnja, ,,te- ta p i dia ini sangat mulia ; dia tinggal didalam puri dan aku tidak mempunjai apa-apa, ketjuali sebuah kotak dan dua puluh lima orang pula jang tinggal didalamnja, sehingga tidaklah akan ada lagi tem ­ pat baginja ! Tapi biarpun begitu akan kutjoba djuga berkenalan dengan dia !"

Lalu berbaringlah ia dengan sepandjang badannja dibelakang sebuah kotak tembakau diatas medja. Dari situ dapatlah ia dengan sebai'k-baiknja melihat nona jang halus jang tidak letih-letihnja tegak diatas sebelah kakinja dengan tidak kehilangan kesetimbangan badannja.

Ketika hari telah malam, semua serdadu timah itu dimasukkan orang kedalam kotaknja, dan orang-orang rumah itupun pergilah tidur. Maka mulailah benda-benda permainan itu bermain-main ; sekali mereka bermain ,,kundjung-kundjungan", kemudian mereka bermain Mrampok-rampokan" pula atau ,,sembunji-sembunjian • Serdadu-serdadu timah itu berguntjang-guntjang didalam kotaknja, karena merekapun ingin djuga turut bermain, dan tutup kotak itu tak dapat dibuka mereka. Sang katjip melompat-lompat diudara, dan anak batu tulis berdangsa-dangsa diatas batu tulis ; ributnja bukan kepalang, sehingga burung kenari terdjaga lalu tu ru t ber-

(11)

tjakap-tjakap ; tapi ia bertjakap-tjakap itu dalam bahasa sjair. Satu- satunja jang tetap pada tempatnja ialah serdadu timah dan nona tukang dangsa itu : tegak nona itu sangat manisnja, ia berdiri lurus- lurus diatas udjung djari kakinja dan kedua belah lengannja terentang lebar-lebar. Serdadu timah itu tegak dengan tegangnja diatas se- belah kakinja, dan matanja tak dipalingkannja sekedjappun dari pada nona tukang dangsa itu. Tiba-tiba berbunjilah lontjeng dua belas kali ! Dan dengan tiba-tiba terbukalah pula tutup kotak tembakau itu, tapi isi kotak itu bukanlah tembakau, tetapi seorang setan hitam, sangat tjerdik buatannja.

,.Serdadu tim ah," kata setan itu, ,,maukah engkau memelihara matamu itu untuk dirimu sendiri ?"

Tapi serdadu timah itu berbuat seolah-olah ia tak mendengar perkataan setan itu.

,,Ja, tunggulah sadja besok pagi," kata setan ketjil itu.

Ketika hari telah pagi dan anak-anak telah bangun, maka ser­

dadu timah itu diletakkan diatas ambang djendela. Entah disebab- kan oleh setan ketjil itu, entah karena angin, dengan tiba-tiba djen­

dela itu terbuka dan serdadu timah itu terdjatuhlah dengan kepala nja dulu kebawah, dari tingkat ketiga rumah itu. Alangkah tjepatnja ia djatuh itu ! Kakinja terdjulur lurus keudara dan terpantjanglah ia diatas tjepiaunja dan bajonetnja diantara batu-batu djalan.

Pelajan rumah dan anak laki-laki itu dengan segera turun ke­

bawah akan mentjari serdadu timah itu, tetapi meskipun mereka itu hampir-hampir memidjaknja, mereka tak dapat menemuinja kembali.

Djika sekiranja serdadu timah itu berseru sadja : ,,Disini aku ! Tentu sudah lama ia diket'emukan, tetapi pada pikirannja tidaklah sopan untuk berteriak seperti itu, karena ia sedang berpakaian uniform.

Kemudian turunlah hudjan, titik -titik air berdjatuhan bertambah lama bertambah tjepat, achirnja hudjan itupun mendjadi hudjan lebatlah. Ketika hudjan itu reda, datanglah dua orang anak laki-laki jang nakal.

,,Kaulihat itu ?" Kata jang seorang, ,,serdadu timah, ia harus berlajar ..."

(12)

Mereka itu lalu membuat kapal-kapalan dari kertas surat kabar, ditaruhnja serdadu timah itu ditengah-tengah kapal-kapalan itu, lalu dihanjutkannja didalam selokan ; kedua anak itu mengikuti kapal itu d ite p i selokan dan mereka bertepuk-tepuk tangan karena keriangan.

W ah ! Besar-besar ombak dalam selokan itu, dan alangkah deras air mengalir ! Ja, ta p i hudjanpun seolah-olah ditjurahkan tadi itu.

Kapal kertas itu menari-narilah, dan kadang-kadang dengan tib a -tib a ia berputar-putar, sehingga berkunang-kunanglah mata serdadu timah itu, te ta p i ia te ta p tegak teguh, tak sedikit djuga berubah mukanja, pandangnja lurus kehadapan dan bedil dita- ngannja.

Tiba-tiba hanjutlah kapal itu kebawah sepotong papan, diba- wah papan itu amat sangat gelapnja seolah-olah ia berada dalam kotaknja jang dulu itu. ,,Apakah jang akan terdjadi dengan diriku ini !" pikirnja, ,,semua ini tentu karena perbuatan setan itulah jang menjebabkannja ! Ah ! Kiranja adalah sadja nona itu didekatku, biarlah dua kali lebih gelap lagi dari ini !"

Kemudian datanglah seekor tikus air jang besar, jang tinggal dibawah papan selokan itu.

;,Ada surat pasmu ?" tanfa tikus itu. ,,Mana pasmu !"

Tapi serdadu iim a h itu diam sadja dan bedilnja dipegangnja lebih kuat lagi. Kapal hanjut terus dan tikus itu berenang mengikuti- nja. Duh, gemeletuk-gemeletuk giginja karena marah, dan ia berte- riak-teriak kepada sampah-sampah jang h a n ju t: ,,Tahan dia ! Tahan dia ! Dia tidak membajar tjukai ! Dia tidak menundjukkan surat pasnja !"

Tapi alir air makin bertambah-tambah deras djuga, serdadu itu telah dapat melihat tjahaja matahari dikedjauhan diudjung papan itu ; ta p i bersama-sama dengan itu iapun djuga mendengar deru jang kuat, jakni suara jang dapat mengedjutkan seorang laki-laki jang gagah berani, karena tjoba sadjalah pikir, air selokan itu djatuh kedalam kanal jang lebar, dan hal itu bagi seorang serdadu timah sematjam dia itu samalah bahafanja sebagai kita djatuh hanjut diair terdjun.

F A K . SAST.

(13)

la telah berada demikian dekatnja sehingga tak mungkinlah ia bertahan lagi. Dan kapal itu hanjut menudju kesitu, dan ditegangkan- nja badannja setegang-tegangnja, seorangpun tak dapat menuduh dia, bahwa dia telah memedjamkan matanja barang sekedjappun.

Tiga empat kali kapal itu berputar-putar, kemudian kapal itu penuh- lah dengan air hingga tepi-tepinja, dan kapal itu tenggelamlah.

Serdadu timah itu tegak didalam air hingga lehernja, dan kapalpun tenggelam bertambah lama bertambah dalam, dan kertas itu makin lama makin lemas. Sudah itu air meliputi kepala serdadu itu dan pada ketika itu terkenanglah ia kepada nona tukang dangsa jang manis itu, bahwa ia tidak akan melihat-lihatnja lagi. Dan ditelinganja terdengar njanjian :

,,Pergllah berdjuang, o p e rd ju rit!

Untuk mentjari mati !''

Maka kertaspun tjabiklah, dan serdadu itupun tenggelamlah — tapi pada ketika itu djuga ia ditelan oleh seekor ikan jang besar. O, alangkah gelap didalam perut ikan itu ! Lebih gelap lagi dari pada dibawah papan selokan, dan sempitnja bukan buatan pula ! Tetapi serdadu timah itu tetap berteguh diri dan terbaringlah ia dengan sepandjang-pandjang badannja dengan bedil ditangannja. Ikan itu berputar-putar dan membuat gerak-gerakan jang seaneh-anehnja : achirnja terdiamlah ia, dan seolah-olah ada kilat memantjar kedalam perut ikan itu, tiba-tiba teranglah, dan terdengar suara orang ber- teriak dengan kuat : ,,Serdadu timah !''

Ikan itu rupanja telah dapat ditarigkap orang dan dibawa ke- pasar, kemudian ia didjual dan dibawa kedapur dan disitu pelajan membedahnja dengan pisau jang besar.

Dengan dua djari dipegangnja serdadu itu pada pinggangnja, dan dibawanja masuk kedalam kamar. Mereka itu semuanja ingin melihat orang jang aneh jang telah melakukan pelantjongan kedalam perut ikan itu ; akan tetapi serdadu timah itu sama sekali tiada merasa bangga. Pelajan menegakkan serdadu itu diatas medja. — O, alangkah adjaibnja kedjadian-kedjadian didalam dunia ini ! —

(14)

Serdadu timah itu sekarang berada dalam kamar itu djuga, kamar te m p a t dia dulu berada ; dilihatnja anak-anak jang dulu djuga, dant barang-barang permainan terletak diatas medja ; puri jang permai’

denqan nona tukang dangsa jang sangat manis itu ; nona itu rnasih- sadja tegak diatas sebelah kakinja, dan kakinja jang sebelah lagi diangkatnja tin g gi-tin g gi diudara. Nona itupun teguh djuga hatinja;

hal itu menjebabkan serdadu timah itu terharu. Ingin ia menangis mengeluarkan air mata timah, teta p i jang demikian itu tidaklah pan- tas. la memandang kepada nona tukang dangsa itu, dan nona itu memandang pula kepadanja, tetapi mereka tidaklah berkata-kata' sepatah djuapun.

Tiba-tiba seorang dari pada kanak-kanak itu memegang serdadu itu, dan dilemparkannja benda itu kedalam api pediangan ; dan tidak:

ia mengatakan apa sebabnja maka ia berbuat jang demikian itu r tentulah sebabnja setan dalam kotak itu pula.

Serdadu timah itu berada ditengah-tengah njala api, dan d i- rasainja panas jang sepanas-panasnja ; tetapi apakah panas itu pa- nas api atau panas tjinta, tak dapat ia mengatakannja. Warna-war- nanja hilang sama sekali ; apakah hal itu disebabkan oleh kesedihan atau oleh perdjalanannja, seorangpun tiada jang mengetahuinja.

memandang kepada nona manis jang ketjil itu, dan nona manis jang ketjil itu memandang kepadanja, dan serdadu itu merasa dirinja mendjadi tjair, tapi ia tegak djuga dengan keras hati, dengan bedil ditangannja.

Kemudian pintupun terbukalah, oleh angin jang bertiup keda­

lam ; nona tukang dangsa itu terbawa oleh angin itu ; ia melajang' dengan halusnja, langsung kedekat serdadu timah dalam api pe'' diangan itu. la menjala, kemudian habislah ia ; serdadu itu tja ir men­

djadi satu gumpalan, dan ketika pada keesokan harinja pelajan ru­

mah mengangkat abu pediangan itu, didapatinja serdadu itu telah mendjadi sebingkah hati tim a h ;'d a ri pada nona penari itu jang tinggal hanjalah kepingan logamnja sadja, dan kepingan logam in^

telah pula terbakar mendjadi hitam sebagai ter.

(15)

BERTJINTA-TJINTAAN

S

EBUAH bola dan sebuah gasing berkumpul ber- sama-sama didalam latji de­

ngan barang-barang per- :mainan jang lain, dan kemudian berkatalah gasing itu kepada bola : ...Marilah kita bersuami-isteri sadja, karena kitapun ada bersama- sama didalam latji !" Bola itu dari pada kulit maroko jang halus dan

■disangkanja sungguhlah ia gadis jang paling manis, dan sebab itu tiadalah ia mendjawab pertanjaan jang sematjam itu.

Pada suatu hari datanglah anak ketjil jang empunja permainan :itu ; ditjatnja gasing itu dengan tja t merah dan tja t emas, dan di- pakunja pada tengah-tengahnja dengan paku kuningan ; maka sa- ngatlah indah tampaknja djika ia berputar-putar dengan mende- ngung-dengung.

..Tjobalah pandang aku sekarang !" katanja kepada bola itu, ,,Bagaimanakah pendapatmu ? Apakah kita sekarang tidak pantas mendjadi bersuami isteri ? Sesuai benar kita berdua ini ; engkau melompat dan aku berputar ! Pada pikiranku tiadalah akan ada orang jang demikian berbahagia sebagai kita berdua ini !"

,,Djadi begitukah pikiranmu !" kata bola itu. ,.Engkau tentu tidak tahu, bahwa ibu bapaku dulu dari pada kulit maroko, dan bahwa ada kaju gabus dalam badanku ini ?"

,,Ja, tapi aku dari kaju mahoni !" kata gasing, ,,dan wali-kota sendiri jang telah membuat aku, ia ada mempunjai perkakas bubut sendiri dan adalah suatu kesenangan besar baginja untuk membuat aku !"

,,Ja, tapi dapatkah aku pertjaja kepada perkataanmu itu ?"

kata bola.

(16)

,,Aku bersumpah, kiranja tidak aku akan mendapat-dapat tjam- buk lagi, djika perkataanku ini tidak benar !" kata gasing.

,,Ja, pandai sekali engkau berkata jang baik-baik untuk dirimu sendiri !" kata bola itu, ,,tapi meskipun demikian aku tak dapat djuga i aku ini kira-kira sudah setengah bertunangan dengan seekor burung lajang-lajang ! Setiap hari, djika aku melambung keudara, burung lajang-lajang itu mendjengukkan kepalanja dari sarangnja dan berkata : ,,Maukah engkau ? Maukah engkau ?" dan dalam hati- ku sebenarnja aku telah mengatakan ,,ja" dan hal ini bolehlah di- pandang sebagai sudah setengah bertunangan ; tapi aku berdjandji tidak akan melupakan engkau !"

,■ Ja. begitupun djadilah djuga ! kata gasing itu, dan sudah itu tiadalah mereka berkata-kata lagi.

Pada keesokan harinja bola itu dikeluarkan dari dalam latji.

Gasing melihat betapa tinggi ia melambung keudara sebagai se­

ekor burung, sampai tak dapat lagi orang melihatnja ; setiap kali ia kembali lagi ketanah, lalu melambung pula, dan hal itu barangkali sebabnja karena hasrat hatinja dan barangkali djuga karena ia mempunjai kaju. gabus didalam badannja. Pada jang kesembilan kalinja ia hilang dan tidak kembali lagi ; anak itu mentjari dan men- tjari, tapi bola itu hilang, dan tetaplah ia hilang.

"Tahulah aku dimana d ia l" kata gasing itu sambil mengeluh, „ia ! ada didalam sarang lajang-lajang dan telah kawin dengan burung itu !"

Bertambah banjak gasing memikirkan hal itu bertambah pula besar tjintanja ; djusteru karena ia tak mungkin lagi memperoleh dia itu, maka lebih banjaklah ia mengenangkan bola itu, dan lebih- lebih karena bola itu telah memilih fang lain, itulah jang'paling me- ; njedihkan hatinja. Dan gasing itupun berputar-putar dan berde- ; ngung-dengunglah, teta p i selalu sadja ia terkenang kepada bola, | jang baginja bertambah lama bertambah indah djua.

Demikianlah berdjalan beberapa lamanja, dan oleh karena itu i

tjin ta itupun lalu mendjadi tjinta lama. i

(17)

Dan gasing itu sudah tak muda lagi — ! Tapi sekali, pada suatu hari, ia disepuh seluruh dirinja ; belum pernah ia kelihatan sebagus itu : sekarang ia telah mendjadi gasing emas, dan melompatlah ia, hingga lama masih djuga ia mendengung-dengung. Ja, ja, hebat sungguh ! Tapi pada suatu kali ia melompat terlampau tinggi dan hilanglah ia ! Orang mentjari dan mentjari, sampai kedalam-dalam gudang dibawah tanah ia ditjari, tapi gasing itu tidak djuga ber- temu, — dimanakah dia ?

la telah melompat kedalam tahang kotoran tem pat segala matjam kotoran berkumpul, tulang-tulang kubis, kotoran-kotoran penjapuan dan kotoran-kotoran jang djatuh dari talang ') atap rumah.

,,Bagus benar tem pat aku djatuh ini ! Disinilah rasanja sepuh emasku segera akan hilang ; dan machluk-machluk apakah pula jang ada disekelilingku ini." Maka memandanglah ia dengan sudut mata- nja kepada sebuah tulang kubis jang pandjang, jang amat dekat kepadanja dan kepada sebuah benda jang merah dan aneh, rupanja sebagai sebuah appel tua tapi benda itu bukanlah appel ; benda itu ialah sebuah bola, jang telah bertahun-tahun terletak ditalang atap, dan sama sekali telah lembab oleh air. ’

,,Bersjukur aku kepada Tuhan ! Djadi achirnja dapat djugalah aku bergaul dengan sesamaku, dengan jang sederadjat dengan aku.

dan berkata-berkata dengan dia !" kata bola itu dan ia memandai>g kepada gasing. ,,Sebenarnja aku ini dari pada kulit maroko jang halus, didjahit oleh tangan njonja-njonja, dan aku mempunjai kaju gabus dalam badanku, tapi tak seorangpun jang melihat hal itu. Aku sebenarnja telah hendak kawin dengan seekor burung lajang-lajang, tetapi malang aku djatuh kedalam talang atap, dan disitulah aku selama lima tahun. Waktu jang selama itu adalah terlalu lama buat seorang nona muda sebagai aku ini !"

Tapi gasing itu tidak berkata-kata suatupun djua ; ia terkenang pada tjintanja jang dulu itu, dan makin ia terkenang makin pula djelas baginja, bahwa bola itulah kekasihnja jang dulu itu.

1) tjutjuran, saluran

(18)

Kemudian datanglah seorang pelajan rumah untuk membersih- kan tahang kotoran itu. ,,Hai, ini dia gasing jang bersepuh itu !"

katanja.

Dan gasing itupun kembalilah lagi kedalam bilik dengan segala kehormatan dan segala penghargaan, tapi tentang bola itu tidak.lah ada orang jang mendengar-dengarnja lagi, dan gasingpun tidak pula bertjakap-tjakap lagi perihal tjintanja jang dulu itu ; karena tjinta itu akan hilang djuga djika kekasih itu selama lima tahun pernah bila hudjan kehudjanan dan panas kepanasan didalam talang atap ; kita tidak akan mengenalnja lagi bila kita kelak bersama-sama de­

ngan dia didalam tahang kotoran.

(19)

A N A K PEREMPUAN PENDJUAL API-API

I IA R I bukan main dinginnja

* ' disendjakala itu; gelap mu- lai turun. Malam itupun malam achir tahun ; malam tahun baru.

Dalam dingin dan gelap itu seorang anak perempuan duduk dipinggir djalan seorang anak ketjil jang miskin, kepalanja tidak ber- tutup dan kakinja telandjang. Ja, mulanja ada djuga ia memakai kasut, ketika ia keluar dari rumahnja, tetapi kasut itu tidak banjak melindunginja. Kasut itu terlalu besar bagi kakinja, ibunjalah mema- kainja jang terachir sekali, demikianlah besarnja kasut itu. Anak perempuan itu telah kehilangan kedua belah kasut itu, ketika ia bergegas-gegas menepi djalan, karena ada dua buah kereta kuda lalu jang bukan main tjepatnja. Kasut jang sebelah sama sekali tak dapat ditjarinja kembali, dan jang sebelah lagi dibawa lari oleh seorang anak laki-laki jang nakal ; katanja akan dibuatnja buaian, djika ia nanti mendapat anak.

Maka kaki anak perempuan jang ketjil itu telandjanglah ; hingga merah-merah dan biru-biru kedua belah kaki itu karena kedinginan.

Didalam badju roknja jang sudah usang banjak ia membawa api-api dan ditangannja ia memegang pula sekotak api-api itu. Sehari-harian itu tak ada seorangpun jang membeli api-apinja. Dan tidak seorang- pun pula jang memberi dia sesuatu ; ia merasa lapar dan dingin ;

!7

Dongeng-dongeng Andersen 2

(20)

tampaknja anak jang malang itu seolah-olah telah kaku oleh kedi- nginan. Gumpalan-gumpalan saldju berdjatuhan menghudjani ram- butnja jang perang itu ; rambut itu berkeriting dengan manisnja disekeliling kepalanja, te ta p i hal jang demikian itu tak terpikir oleh- n j a . — --- —' -

Dari semua djendela bersinar tjahaja lampu kedjalan raja dan dimana-mana tertjium bau singgang angsa jang amat sedap ; ma- lam itupun malam achir tahun ; dan pikirannja dipenuhi oleh kea-.

daan malam achir tahun baru itu.

A da suatu siidut diantara dua buah rumah, dan rumah jang satu letaknja lebih kemuka dari pada rumah jang satu lagi ; d isu d u t' itulah anak perempuan itu duduk merungkut, kedua belah kakinja ditarikkannja kebawah badannja ; teta p i meskipun demikian ia ke- dinginan djuga, dan akan pulang ia tak berani, karena bapanja tentu akan memukul dia, sebab tak ia dapat mendjual apa-apa, dan tidak pula ia membawa uang pulang ; dan dirumahpun dingin djuga. la tinggal dibawah atap jang rendah benar dan angin sebagai bersuif j lalu disitu, meskipun lubang jang paling besar telah ditutup dengan^

rum put-rum put kering dan tjarik-tjarik kain.fKedua belah tangannja jang ketjil itu hampir-hampir mati kaku karena kedinginan. Heh, tjobalah kugoreskan sebatang sadja api-api ini ! Sedap sekali agak- r;ja ! Djika berani ia mengambil sebatang sadja dari kotaknja, dan

■nenggoreskannja, bolehlah ia memanasi kedua belah tangannja ! Dikeluarkannja sebatang api-api dari dalam kotaknja, dan ,,r r ttt !" sinar dan tjahaja berpentjaran, dan alangkah sedapnja njala itu ! Njala itu panas dan terang ; njala ketjil dan sedap ketika kedua belah tangannja didekatkannfa disekeliling api itu. Njala itu njala jang aneh sekali ; dengan tiba-tiba ia merasa seolah-olah ia duduk

A y - ( r. iv

didepan perdia'n'ga-n, perdiangan jang besar dan bagus ; api rne- njala dan memanasi dia dengan sedapnja ! O, apakah itu ? — Baru sadja ia hendak mendjulurkan kakinja hendak dipanasinja — kemu­

dian padamlah njala itu. Perdiangan itupun lenjaplah, dan duduklah ia dengan puntung geretan jang baru habis terbakar ditangannja i t '1*

(21)

Digoreskannja sebatang lagi, ia menjala dan terang pula ! Dan di+empat sinarnja djatuh pada tembok, disitulah sinar itu menembus tembok seb^gai menembus gelas. Dan anak perempuan jang ketjil itupun dapat pula melihat menembus terus kedafemCbilik. Sebuah medja bertutup kain jang putih djernih, dan diatasnja ada piring- .mangkuk jang indah-indah dari pada porselen fang halus-halus.

Angsa'~singgang jang masih hangat terletak diatas medja, dan di­

dalam angsa singgang itu diisi dengan appel dan fprirr?T Jang paling indah ialah karena angsa singgang itu dapat melompat dari atas medja dan berdjalan diatas lantai dengan garpu dan pisau dipuncj- gungnja ; ia datang langsung menudju anak perempuan itu. Kemu- dialT'lapi-apipun padamlaFT dan tak ada suatupun jang dilihatnja selain dari' pada tembok jang dingin itu^Dipasangnja sebatang lagi.

atlah, fa duduk dibawah pohon kerstmis *). Pohon kerstmis itu djauh lebih terang dan hiasannja djauh lebih indah dari pohon kerst­

mis jang dilihatnja ditahun jang sudah, dari djendela rumah seorang

\saudagar jang kaja.

Beribu-ribu njala diantara tjabang-tjabang jang hidjau-hidjau dan gambar-gambar jang bagus berwarna-warna memandang ke- padanja, seperti jang pernah dilihatnja dimuka toko buku. Diren- tangkannja kedua belah lengannja keatas — tapi api-api jang di- [tangannja itu padamlah. Dan tjahaja-tjahaja hari-djadi itupun naiklah bertambah lama bertambah tinggi, dan sekarang mendjadi bintang-bintanglah tjahaja-tjahaja itu. Satu diantaranja djatuh dan membuat garis jang menjala dilangit.

,,Ada orang meninggal dunia !" kata anak perempuan ketjil itu, karena neneknja jang telah tua telah lama meninggal dunia, — dia- lah manusia jang berlaku amat baik kepadanja — pernah mengata- kan : ,,Djika ada bintang djatuh, maka artinja pergilah suatu arwah .kepada Tuhan."J^Digoreskannja lagi sebatang api-api, dan kini dili­

hatnja neneknja tegak, bersinar-sinar didalam terang dan dengan amat mani's'clan* ramahnja.

*) Kerstmis jaitu hari djadi nabi Isa, p a d a malam 25 Desember. Pohon kerstmis (kerstboom) pohon jang dihiasi dengan lilin2 sehingga terang benderang;

disebut orang djuga: pohon terang.

(22)

,,Nenek !" Seru anak perempuan ketjil itu. nO, 'nek, bawalah aku serta ! Aku tahu, aku tahu nenek akan hilang djika api-api ini padam ; hilang sebagai djuga perdiangan jang panas itu, dan sing- 'tgang^a^gsa jang enak itu, dan pohon-kersfmis jang permai itu !"

— dan dengan tje p a t-tje p a t diambilnja seberkas api-api dan dipa- sangnja, karena ia ingin menahan neneknja ; dan api-api itu menja- lalah dengan terang, sehingga tampaknja sebagai hari siang. Belum pernah nenek Begitu bagus dan begitu besar. Anak peremouan jang ketjil itu lalu diambil nenek itu dan diletakkannja daiam pangkuan lengannja, lalu naiklah ia, tinggi, bertambah tinggi menudju tjahaja dan kebahagiaan ; disitu tak ada lapar dan dingin — mereka itu

pergi kepada Tuhan. ,

—Tetapir'd’isuduf: sebuah rumah, pada suatu pagi jang sedjuk di- musim dingin, duduklah seorang anak perempuan jang ketjil ; pipinja merah dan senjum tampak pada parasnja — ta ^ i ia telah mati IJ^ati , kebekuan dalam malam jang sedjuk dimusim -dingTR ; 'm a la r r r jang achir ditahun itu ; malam tahun baru. Tahun jang baru telah datang i dengan melampaui majat jang ketjil itu sebagaimana ia duduk disitu | itu dengan puntung-puntung api-api, hampir seberkas banjaknja jang telah terbakar. j ‘ '

,,la ingin memanasi dirinja agaknja !" kata orang-orang, +api tak ada seorangpun jang mengetahui apa jang telah diliha+nja ten- tang jang bagus-bagus itu, dan ia menudju ke-Bahagiaan dan ke- Keriangan Tahun Baru ketempat ia dan neneknja itu pergi.

(23)

SI TJANTIK KETJIL

O EKALI peristiwa, adalah se-

v- ' orang anak ketjil, tetapi ia tiada tahu dari mana ia akan mendapat anak itu. Kemudian pergilah ia kepada seorang perempuan tukang sihir jang telah tua dan berkata kepadanja : ,,Ingin sangat aku mendapat seorang anak ketjil, dapatkah nenek mengatakan kepadaku dari mana boleh ku- dapat anak itu ?"

,,0 , ja, keinginanmu itu tentu akan dapat kita laksanakan I"

kata perempuan tukang sihir itu. ,,Inilah untukmu sebutir gandum, tapi butir gandum ini sama sekali bukanlah dari matjam jang tumbuh ditanah-tanah- pak tani, dan tiada boleh diberikan kepada ajam.

Taruhkanlah sadja gandum ini dalam pot bunga, nanti akan adalah jang kaulihat."

,,Terima kasih, ’nek !" kata perempuan itu dan diberikannja uang serupiah kepada perempuan sihir itu ; kemudian pulanglah ia dan ditanamnja butir gandum itu, dan dengan segera tumbuhlah sekun- tum bunga jang besar dan indah, jang serupa benar dengan bunga sedap malam, tetapi daun-daun bunganja amat rapat jang sehelai dengan jang sehelai, seolah-olah ia masih kuntjup.

,,Hai, alangkah indah bunga ini !" kata perempuan itu, dan di- ketjupnja bunga itu pada daun-bunganja jang merah dan kuning itu.

tetapi sedang ia berbuat demikian, kembanglah bunga itu dengan suara b e rd e ta r; sesungguhnjalah, bunga itu bunga tjulip, teta p i ditengah-tengah bunga itu, diatas benang sarinja jang hidjau, duduk-

(24)

lah seorang anak perempuan jang ketjil ; o, sangat manis dan halu.snja anak itu, tidak lebih besar dari pada ibu djari, dan oleh karena itu ia disebut ,,si Tjantik K e tjil".

Sebelah kulit katjang mendjadi buaiannja ; kasurnja dari pada daun-bunga jang lembajung dan selimutnja ialah daun-bunga bunga mawar ; disitulah ia tid u r pada malam hari, teta p i pada siang hari ia ber-main2 diatas medja. Diatas medja itu diletakkan perempuan itu sebuah piring, dan didalam piring itu diletakkannja sekarangan bunga jang besar ; tangkai-tangkai bunga itu terendarrTdidalam air.

Dan diatas air itu berhanjut-hanjutlah sehelai daun tju lip jang lebar, dan diatas itulah si Tjantik Ketjil boleh duduk dan b e r h a n ju t- h a n ju t

dari tepi jang satu ketepi jang satu lagi : dajungnja ialah dua lembar daun-bunga peliman putih. Tampaknja sangat indah. Dan pandai pula ia bernjanji, o, sangat halusnja njanji itu, belum pernah orang mendengar njanji jang sedemikian itu.

Pada suatu malam, ketika ia sedang berbaring dalam tem pat tidurnja jang bagus itu, datanglah seekor katak jang buruk masuk kedalam, melalui katja djendela jang petjah. Djidjik, besar dan lem- bab katak itu, dan benar ia merangkak diatas medja tem pat si Tjan- tik Ketjil itu sedang berbaring tid u r dibawah daun-bunga mawarnja.

..Seorang isteri jang baik bagi anakku !" kata katak itu, ditang- kapnja kulit katjang itu, lalu dibawanja melompat keluar kedalam kebun.

Dalam kebun itu ada air jang lebar, teta p i pada tepinja benar ada rawa-rawa dan penuh lum p u r; disitulah tem pat tinggal katak itu bersama-sama dengan anaknja. Anak katak itupun sama kotor dan buruknja seperti ibunja djuga.

,,Krekkkrekkkrekkrek ! inilah sadja jang dapat dikatakan oleh anak katak itu.

,,Djanganlah bertjakap-tjakap begitu keras, nanti ia terbangun!"

kata induk katak itu, ,,boleh nanti lari ia dari kita, karena ia sangat ringan, sebagai bulu angsa undan jang halus ! Marilah kita letakkan dia diatas salah sehelai dari daun-daun teratai jang lebar diatas a n a k

(25)

!j air itu, karena ia begitu ketjil maka baginja seolah-olah ia berada j diatas sebuah pulau. Disitu ia tak dapat lari dan dalam antara itu,

| djauh didalam lumpur, ditem pat engkau berdua nanti akan tinggal,

| kita siapkan bangsal untuk pesta."

! Agak ketengah diatas air itu banjak teratai tumbuh, daunnja lebar-lebar dan hidjau-hidjau. Tampaknja seolah-olah teratai itu dju­

ga mengalir dengan air. Daun jang paling djauh ialah daun jang paling besar. Kesitulah katak tua itu berenang, dan diletakkannja kulit katjang tem pat si Tjantik Ketjil itu.

Anak perempuan jang ketjil dan malang itu bangunlah waktu te- rang pagi mulai benderang, dan ketika dilihatnja dimana ia ada, menangislah ia dengan sedihnja, karena daun jang lebar dan hidjau itu pada segala tepinja dikelilingi air ; baginja tidaklah mungkin untuk pergi kedarat.

Didalam lumpur katak tua menghiasi biliknja dengan pimping dan daun-daun teratai jang sudah kuning, karena untuk menantunja segala sesuatu haruslah dibuat dengan seindah-indahnja. Sesudah itu berenanglah ia dengan anaknja jang mendjidjikkan itu kedaun tem pat si Tjantik Ketjil duduk ; mereka itu hendak mengambil tempat tidur si Tjantik Ketjil ; tem pat tidur itu harus sudah ada didalam bi- lik mempelai sebelum anak perempuan ketjil itu tiba. Katak tua itu membungkuk memberi salam kepadanja didalam air dan berkata :

• ■ Ini. kuperkenalkan anakku, ia akan mendjadi suamimu, dan engkau berdua hendaklah tinggal bersama-sama didalam lumpur, disitu enak dan bagus."

,,Kwak, kwak, krekkrekek !" itulah sadja jang dapat dikatakan oleh anak katak itu.

Kemudian diambil mereka tem pat tidur jang tjantik itu, dan berenanglah mereka dengan benda itu, tetapi si Tjantik Ketjil ting­

gal seorang diri sambil menangis diatas daun jang hidjau itu, karena ia tidak mau tinggal dengan katak jang buruk itu dan tak mau mempunjai suami anak katak jang mendjidjikkan. Ikan-ikan jang be- renang-renang didalam air ada melihat katak itu, dan mereka men- dengar apa jang telah dikatakan oleh katak itu, dan oleh karena itu

(26)

mereka mengeluarkan kepalanja diatas air sebab ingin sekali menge- tahui siapakah anak perempuan jang ketjil itu. Dan ketika dilihat oleh ikan-ikan itu akan dia demikian manisnja, mereka merasa ka- sihan kepadanja, bahwa ia harus serta dengan katak itu kedalam lumpur ; tidak, jang demikian itu tak boleh terdjadi ! Dan mereka itu berkumpul semuanja didalam air disekeliling tangkai daun jang hidjau tem pat anak perempuan itu duduk, dan mereka menggigit- g ig it tangkai daun itu hingga putus, dan achirnja hanjutlah daun itu bersama-sama dengan si Tjantik Ketjil, djauh-diauh ; djauh, sangat sekali hanjutnja, sehingga katak2 itu tak dapat mengedjarnja lagi.

Si Tjantik Ketjil itu berlajarlah melalui berbagai-bagai tem pat.

Didalam hutan-hutan ketjil bertenggerlah burung-burung ketjil, dan mereka bernjanji-njanji ketika melihat dia : ,,0 , alangkah manis anak perempuan itu !"

Daun itu hanjutlah terus, terus sadja bersama-sama dia ; dan dengan demikianlah si Tjantik Ketjil berlajar dinegeri-negeri asing.

Seekor kupu-kupu ketjil putih dan sangat manis selalu sadja terbang-terbang sekeliling dia dan melajang hinggap diatas daun itu, sebab baginja si Tjantik Ketjil itu sangat manisnja ; dan si Tjan­

tik Ketjilpun bersenang hati djuga karena sekarang katak-katak itu tak dapat mendekatinja, dan dimana-mana ia berlajar semuanja sama mdahnja ; matahari bersinar diatas air, berkilat-kilat sebagai emas.

Ditanggalkannja pita pengikat pinggangnja dan dengan udjungnja jang satu diikatnja kupu itu dan udjungnja jang satu lagi diikatkannja pada daun teratai itu. Daun itupun hanjutlah djauh lebih tje p a t d i­

atas air, dan demikian pula si Tjantik Ketjil, karena ia tegak diatas daun itu.

Kemudian terbanglah kesitu seekor kumbang : ketika dilihatnja akan anak perempuan itu, lalu dengan tiba-tiba dipegangnja a na k

itu pada pinggangnja jang ramping itu lalu diterbangkannja keatas sebatang pokok kaju, tapi daun hidjau itu hanjut bersama air dan kupu-kupupun terbawa djuga serta sebab ia diikatkan pada daun itu dan tak dapat lagi terlepas.

Ah, alangkah takutnja si Tjantik Ketjil ketika kumbang itu .te r- bang membawa dia kepohon kaju, teta p i lebih lagi susahnja meng®'

(27)

nangkan rama-rama jang diikatkannja kepada daun itu ; djika rama2 itu tak dapat terlepas, ia akan mati kelaparan. Tetapi hal itu sama I sekali tidak dipedulikan oleh kumbang itu. Dengan si Tjantik Ketiil ia duduk diatas daun kaju jang paling besar, dan si Tjantik Ketjil di- berinja makanan jang manis-manis jang diperolehnja pada bunga- bungaan, dan dikatakannja, bahwa si Tjantik Ketjil itu sangat manis- nja, sekalipun tidak menjerupai kumbang. Dan semua kumbang i dipohon itu datanglah berkundjung, mereka memeriksai si Tjantik i Ketjil dengan teliti, dan kumbang-kumbang jang masih gadis meng- angkat-angkat misai-perabanja dan berkata : ,,Hanja dua kakinja, alangkah buruknja !"

,,Djuga misai-peraba ia tak punja."

,,Dan alangkah ketjil pinggangnja, rupanja sebagai manusia. O, alangkah buruknja !" kata semua kumbang-kumbang gadis itu pada achirnja bersama-sama ; tetapi meskipun demikian si Tjantik Ketjil masih djuga sangat manis.

Dan begitulah djuga kumbang jang membawa dia keatas po- hon kaju itu, tetapi ketika semua kumbang jang lain mengatakan, bahwa ia buruk, achirnja mulailah ia pertjaja bahwa si Tjantik Ketjil itu buruk, dan tiadalah ia mau memperdulikan dia lagi, dan si Tjantik Ketjil bolehlah pergi kemana ia suka. Mereka membawa dia terbang kebawah dan diletakkannja diatas bunga seruni dan disitulah ia du­

duk menangis, karena ia demikian buruknja sehingga kumbang-kum­

bang tak suka kepadanja ; padahal ialah jang setjantik-tjantiknja jang dapat dipikirkan orang, demikian halus dan ringannja laksana daun-bunga bunga mawar.

Sepandjang musim kemarau itu si Tjantik Ketjil jang malang itu hidup dengan seorang dirinja sadia didalam hutan jang lebat itu, Dianjamnja tem pat tidurnja dari rumput-rumputan, tem pat tidur itu digantungkannja dibawah daun jang lebar, dan dengan demikian ia tidak akan basah kehudjanan ; dimakannja madu dari bunga- bungaan, dan diminumnja air embun jang pada tiap-tiap pagi ter- genang diatas daun-daunan ; demikianlah keadaannja dimusim pa- nas, dan djuga dimusim gugur ; tetapi kemudian datanglah musim

(28)

dingin, musim dingin jang lama. *) Semua burung jang telah ber- njanji dengan indah bagi si Tjantik Ketjil, terbang meninggalkan dia, daun-daunan dan bunga-bungaan mendjadi laju. Daun jang lebar te m p a t dia tinggal dibawahnja untuk sekian lamanja itu lalu menge- riu t dan tiadalah jang tinggal lagi dari pada gagang jang kuning m ati ; dan ia kedinginan dengan sangat, karena pakaiannja sudah mendjadi usang dan ia sendiri begitu lembut dan halus, demikianlah si Tjantik Ketjil jang malang itu ; tentu haruslah ia mati karena beku kedinginan. Saldjupun mulailah berdjatuhan, dan setiap saldju jang mendjatuhi dirinja sudah merupakan satu sekop saldju bagi kita, ka­

rena kita besar-besar dan si tja n tik Ketjil hanjalah sepandjang djari sadja. Kemudian menggulung dirilah ia dengan daun kering, tetapi daun kering itu tidak menghangatkan dia ; ia menggigil kedinginan.

Dekat pada hutan tem pat dia itu, ada ladang padi jang luas ; padinja telah lama dituai orang, hanja rumpun-rumpun jang gundul kering sadja lagi jang tinggal keluar dari tanah jang beku itu. Seolah- olah si Tjantik Ketjil berdjalan didalam hutan, o, alangkah dinginnja terasa olehnja ! Kemudian sampailah ia pada rumah seekor tikus ladang, suatu lubang jang ketjil dibawah rumpun-rumpun padi. Di-

■situlah tinggal seekor tikus ladang, hangat dan senang, seluruh ru­

mahnja penuh dengan padi dan sebuah dapur jang enak dan bilik tem pat menjimpan makanari.

Si Tjantik Ketjil jang malangpun tegaklah dimuka pintu rumah tikus ladang itu seolah-olah ia seorang anak pengemis sadja, dan meminta-minta sepotong ketjil butiran padi ; selama dua hari tak ada ia memakan apa-apa.

,,Anak jang malang ! kata tikus ladang itu, karena tikus ladang Itu adalah tikus tua jang baik hati. ,,Marilah masuk kedalam bilikku jang hangat, dan makanlah bersama-sama dengan aku." Dan karena la ada djuga merasa senang kepada si Tjantik Ketjil itu, maka kata- nja ‘ ,iSelama musim dingin ini bolehlah kautinggal disini, tapi kau harus memelihara rumahku bersih-bersih dan mentjeritakan dongeng- dongeng bagiku, karena aku suka sekali mendengar dongeng," dan

*) Lihat tjatatan dikaki halaman 36.

(29)

si Tjantik Ketjil melakukan apa jang dikehendaki tikus ladang tua itu dan hidupnjapun baiklah.

,,Kita segera akan kedatangan tamu !" kata tikus tua itu. ,,Te- tanggaku setiap pagi datang berkundjung kepadaku. Rumahnja le­

bih hangat lagi dari rumahku ; ia tinggal dalam bilik jang besar-besar dan pakaiannja dari beledu hitam jang bagus ; asal dapat sadja eng­

kau mempersuamikan dia, selamatlah engkau ; tapi ia tak dapat melihat. Kau harus mentjeritakan kepadanfa dongeng-dongeng jang sei'ndah-indahnja jang kau ketahui."

Tetapi kepada jang demikian itu si Tjantik Ketjil sama sekali tak suka, ia tak suka kepada tetangga tikus tua itu, karena tetangga itu ialah seekor tikus mondok *)

Kemudian datanglah tikus mondok itu berkundjun'g memakai pakaian beledu hitamnja ; ia sangat kaja dan sangat pandai, kata tikus tua itu. Rumahnjapun sampai dua puluh kali lebih besar dari pada rumah tikus ladang itu, dan pandainja bukan buatan !

Tetapi matahari dan bunga-bungaan jang indah-indah diben- tjinja benar-benar; dikatakannja matahari dan bunga-bungaan itu djelek, karena belum pernah ia melihatnja.

Si Tjantik Ketjil disuruh bernjanji untuk tikus mondok itu, dan iapun bernjanjilah : ,,Kambing ketjil, mengapa engkau mengembik- embik !" dan ,,Dinegeri umbi jang hidjau-hidjau !" Kemudian djatuh tjintalah tikus mondok itu kepadanja, karena suaranja jang bagus Itu ; tapi tentang tjintanja itu tikus mondok tidak mengatakan suatu- pun, karena ia itu sangat pandjang pikirannja.

la baru sadja menggali gang jang pandjang dari rumahnja ke- rumah tikus ladang itu, dan dalam gang itu mereka diizinkannja untuk berdjalan-djalan sekehendak hati mereka, Tapi dikatakannja kepada mereka, bahwa mereka djanganlah takut kepada burung mati jang

*) Tikus mondok, ,,mol’’ dalam bahasa Belandanja, ialah sematjam tikus jang tidak didapat di Indonesia. Kakinja jang didepan lebih pendek dari kakinja jang dibelakang, dan kaki depan ini seperti terlekat sadja pada dadanja. Mondok tinggalnja dalam liang-liang didalam tanah, ditempat gelap. Ditjahaja matahari ia tak dapat

Melihat.

(30)

terbaring dalam gang itu ; burung mati itu masih berbulu dan ber- paruh lengkap, dan ia baru sadja mati ketika musim dingin mulai,.

dan pada ketika itu ia ada te p a t benar ditem pat tikus mondok itu mulai menggali liangnja.

Tikus mondok itu mengambil sepotong kaju mati dimakan bu- buk, dimasukkannja kedalam mulutnja, karena jang demikian itu menjebabkan te rd jad i tjahaja didalam gelap, dan dengan benda itu diteranginja gang jang pandjang dan gelap itu. Ketika mereka sam- pai pada burung mati itu, tikus mondok itu mendorongkan hidungnja keloteng, dan diseget-segetnja tanah sehingga terdjadilah lubang te m p a t tjahaja dapat masuk kedalam. Ditengah-tengah gang itu terbaringlah seekor burung lajang-lajang jang telah mati, sajapnja jang bagus berdekap rapat-rapat pada badannja, kaki dan kepala­

nja didalam bulunja ; burung jang malang itu tentu mati karena kedinginan.

Hal ini membuat si Tjantik Ketjil lalu bersedih hati ; kepada se­

mua burung ia sangat sajang ; mereka telah bernjanji-njanji buat dia sepandjang musim panas dengan sangat indahnja ; ta p i tikus mondok itu menjepakkan burung itu dengan kakinja jang pendek sambil berkata : „Sekarang tak dapat lagi ia bersiul ! Memang s u a tu

bent|ana benar d,ika kita dilahirkan sebagai burung. Alhamdulillah.

tak ada seorangpun dan anak-anakku jang dapat mendjadi burung ; burung ja n g begitu tak ada mempunjai apa-apa lagi ketjuali „kw it- kwit -n|a dan d,musim dingin ia hams pula mati kelaparan.”

,,Ja, in, dapatlah tuan katakan sebagai seorang jang bidjak- sana, kata ficus ladang itu. „Apakah jang boleh didapat oleh se­

ekor burung dengan seluruh „kw it-kw it"-nja djika musim dingin datang. apar dan dmgm jang hams dideritanja ; tapi burung jang semat|am itu ingm djuga dipandang sangat mulia !"

Si Tjantik Ketjil tiada berkata apa-apa, teta p i ketika kedua tikus itu dengan punggungnja berdiri membelakangi burung itu, si Tjantik Ketjil membungkuk, dikuakkannja bulu-bulu jang menutupi kepalan(a dan d,ket|upn|a akan burung itu pada matanja jang ter- katup itu.

(31)

,,Barangkali burung inilah jang bernjanji-njanji untukku dengan indahnja dimusim panas," pikir si Tjantik Ketjil, ,,alangkah banjaknia ia memberikan bahagia kepadaku, burung jang manis ini."

Tikus mondok itu lalu menutupi lubang itu, dari tem pat tjahaja masuk dan dibawanja kedua tamunja itu kedalam rumah'. Tapi pada malam hari si Tjantik Ketjil itu tak dapat tid u r ; lalu bangunlah ia dari tem pat tidurnja, dianjamnja rumput-rumput kering sehingga mendjadi sehelai pakaian jang bagus dan besar, dan pakaian itu dibawanja kebawah dan ditutupkannja kepada burung jang telah mati itu, serta dilefakkannja pula kapas-kapas halus jang didapatnja dalam rumah tikus ladang itu kebadan burung itu, supaja dapatlah burung itu merasa hangat diatas tanah jang dingin.

,,Selamat djalan, burung jang bagus," katanja, ,,selamat djalan dan terima kasih untuk njanjimu jang bagus dimusim panas ketika semua pokok kaju menghidjau-hidjau dan matahari memantjarkan panasnja jang enak sekali itu !" Sudah itu diletakkannfa kepalanja kepada dada burung itu, tetapi dengan tiba-tiba terkedjutlah ia, karena sebagai ada fang berdetik-detik didalam dada burung itu.

Jang berdetik itu ialah djantung burung itu. Burung itu tidak mati, ia hanja pingsan sadja, dan panas telah menjebabkan ia hidup kembali.

Dalam musim guglir semua burung lajang-lajang terbang pergi kenegeri-negeri jang panas-panas, tapi djika salah seekor dari me­

reka itu terlambat, maka dinginpun mendjadikan dia kaku, sehingga djatuhlah ia sebagai mati, dan tinggallah ia ditem pat ia djatuh itu.

dan saldju jang dinginpun lalu menimbuni dia.

Si Tjantik Ketjil menggigil oleh terkedjut, karena burung itu sangat besar, sangat besarnja, dan dia sendiri hanja sepandjang djari sadja ; tapi meskipun demikian diberanikannja dirinja, diletak- kannja kapas lebih rapat lagi disekeliling badan lajang-lajang jang malang itu, dan diambilnja daun kaju jang dipakainja sendiri sebagai selimut, untuk menjelimuti kepalanja.

Pada malam jang berikutnja ia pergi lagi kepada burung itu, dan pada ketika itu burung itu sudah kembali hidup benar-benar,

(32)

tapi masih sangat letih dan lemah, sehingga hanja sebentar sadja ia dapat membuka matanja untuk melihat si Tjantik Ketjil ; dan si Tjantik K etjil berdiri disitu dengan memegang sepotong kaju ka­

rena lampu jang lain tak ada lagi padanja.

,,Aku berterim a kasih kepadamu, anak manis jang ketjil !" kata burung jang sakit itu. ,,Sekarang aku merasa hangat, segera aku akan kembali kuat lagi, dan dapatlah nanti aku segera terbang keluar ketjahaja matahari jang panas sedap itu."

Dibawakan si Tjantik Ketjil akan lajang-lajang itu air dalam se- helai daun, dan lajang-lajangpun minumlah, dan ditjeriterakannja kepadanja, bagaimana sajapnja jang sebelah luka karena belukar duri, dan oleh karena itu terbangnja tak begitu kuat sebagai lajang- lajang jang la in , jang terbang begitu djauh, djauh k e n e g e r i- n e g e r i

jang panas. Dan pada achirnja djatuhlah ia ditanah, tapi lain dari pada itu ia tak ingat lagi ; bagaimana ia sampai disitu tidaklah h tahu.

Sepandjang musim dingin itu ia tinggal didalam tanah itu dan si Tjantik Ketjil memelihara dia dengan sangat baik dengan sangat sajang pula kepada lajang-lajang itu ; teta p i tikus mondok dan tikus ladang itu tidak mengetahui suatupun tentang hal itu.

Dan ketika tibalah musim semi dan dibawah, didalam tanah, mendjadi panas, rnaka lajang-lajangpun mengutjapkan selamat tin g ­ gal kepada si Tjantik Ketjil jang membuka lubang itu kembali lubang jang digali oleh tikus mondok dulu.. Matahari meman+jar dengan sedap keddlam, dan lajang-lajang bertanjalah kepada si Tjantik Ke- t|il, apakah si Tjantik Ketjil itu tidak mau tu ru t serta dengan dia, dan apakah si Tjantik Ketjil tidak mau duduk diatas punggung lajang- lajang itu ; mereka akan terbang djauh-djauh kehutan jang hidjau.

te ta p i si Tjantik K e tjil tahu bahwa ia akan menjedihkan hati tikus ladang |ang tua itu, dpka 1a dengan d|alan demikian dengan tiba-tiba meninggalkan dia.

,,Tidak, tak dapat aku berbuat demikian !" kata si Ketjil.

,.Selamat tinggal, selamat tinggal, anakku jang manis !" kata lajang-lajang itu, lalu terbanglah ia dalam tjahaja matahari. Si Tjan*

(33)

tik Ketjil mengikuti dia dengan pandangnja, iapun mengeluarkan air mata ; sajang sangat ia kepada burung lajang-lajang jang malang itu.

,,Kwit, kwit !" njanji burung itu dan terbanglah ia menudju hutan jang hidjau.

Si Tjantik Ketjil hatinja sangat sedih. Keluar sadja dipanas ma- tahari ia sudah tak boleh ; gandum jang ditebarkan disawah dan diatas rumah tikus ladang tua itu telah tinggi tumbuhnja ; sudah merupakan hutan jang besar dan rapat, tak mudah dilalui anak jang malang itu, anak jang hanja sebesar djari itu.

,,Dimusim panas kau harus mendjahit pakaian pengantinmu,'1 kata tikus ladang itu kepadanja, karena tetangganja, tikus mondok jang buruk itu, dalam badju beledunja jang indah, telah meminta dia mendjadi isterinja.

,,Kain wol dan lenan jang harus kaupunjai, semuanja dari pada matjam jang paling baik dan paling halus, djika kau hendak men­

djadi isteri tikus mondok !"

Dan si Tjantik Ketjilpun haruslah bertenun, dan tikus ladang itu mengupah empat ekor laba-laba jang harus membantu dia ber­

tenun. Setiap malam datanglah tikus mondok itu dan ia selalu me- rengek-rengeklah, bahwa djika sekiranja lebih djauh sadja dimusim panas, matahari tentulah tidak lagi demikian panasrija, karena se­

karang panas matahari membakar. Tanah mendjadi demikian kering- nja sehingga seperti batu rasanja ; ja, djika musim panas telah lalu ia akan merajakan nikahnja dengan si Tjantik Ketjil. Tapi si Tjantik Ketjil tidaklah ada senang akan perkawinan itu, karena ia tak suka kepada tikus.mondok jang buruk itu. Setiap pagi, djika matahari naik, dan setiap sore pada waktu matahari terben'am, keluarlah ia dari pintu. Djika angin meniup batang-batang gandum jang kering itu hingga terkuak dan terlihat olehnja setjarik langit jang biru, maka berpikirlah ia, alangkah terang dan sedapnja diluar itu, dan sangat- inginnja dapat melihat lajang-lajang jang manis itu sekali lagi, tapi burung itu tak pernah lagi datang-datang. Burung itu tentulah telah terbang djauh-djauh, djauh kedalam hutan jang hidjau itu.

(34)

Ketika tibalah musim gugur, maka pakaian nikah si Tjantik Ke- tjilpun selesaiiah.

nEmpat minggu lagi, dan perajaan kawinpun akan dilangsung- kan ! k'ata tikus ladang itu kepadanja ; ta p i si Tjantik Ketjii mena- ngis dan berkata, bahwa ia tak suka kepada tikus mondok itu.

,,Omong kosong !" Kata tikus ladang itu, ..djanganlah berkeras kepala, nanti kugigit kau dengan gigiku jang putih ini. H ebat laki- 1aki jang kaudapat itu ; badju bulu beledu hitam jang sematjam itu

^ bahkan radjapun tidak punja ! Dan bukan main pula kajanja ! Engkau haruslah bersjukur kepada Tuhan."

Demikianlah mereka akan merajakan pernikahan itu. Tikus mondok itu telah datang mendjemput si Tjantik Ketjil. Djauh didalam tanah si Tjantik Ketjil harus tinggal dengan dia, karena tikus mondok itu tak tahan akan tjahaja matahari. Dan anak ketjil jang malang itu sangatlah bersedih hati ; sekarang ia harus mengutjapkan selamat tinggal kepada matahari. Dirumah tikus ladang, dipintunja, paling sedikit la masih dapat melihat matahari.

,,Selamat tinggal, matahari jang terang !" Dan direntakkannja

ar!r,'V 9T 1 Per9i'al’ !° 'ebih <*«*> ^ lub^

n a iano ° ran9 ^ te l° h d,P° t ° n'3' ha" i° bekas-bekas batang- I lan9 kering sadla lang masih tinggal.

,,Selamat tinggal selamat tinggal !" katanja dan dipelukkannja 1engann|a kepada se u n t™ bunga merah jang ketjil dekat dia.

1 100 rnpa i ka n la h sa amku k s n ^ r J ^ i * i**i -a

kau melihat d ia ." " '=iang-la|«ng ,ang manis itu d , ^

„Kw ,t, kwit !" dHengarnja dengan tib a -tiba diatas kepalanja.

la menengok keatas: burung lajang-lajangnja jang baru sad,a ter- bang lalu d.s.tu- Burung itu suka sangat hatmja ketika melihat si T|ant,k Ket|il ; si Tjantik Ketjil mentjeritakan kepadanja betapa ben- t|,n (a akan dikawinkan dengan tikus mondok jang buruk itu dan bahwa la harus tinggal djauh didalam tanah, matahari tak pernah lag, bertiahaja sampai ketempatnja jang baru itu. Dan ketika ia b e rtje rita itu iapun menangislah.

(35)

,,Sekarang tiba musirri dingin !" kata lajang-lajang itu," aku akan terbang djauh kenegeri jang panas ; maukah engkau turut de­

ngan aku ? Dapat kaududuk dipunggungku ; ikat sadjalah dirimu dengan pita pada pinggangku, dan kita terbang djauh dari tikus mondok jang buruk itu, dan dari rumahnja jang gelap, djauh melalui gunung-gunung kenegeri jang panas, tem pat matahari bersinar lebih gembira, tem pat selamanja musim panas dengan bunga-bungaan jang bagus. Oh, ikutlah terbang dengan aku, anak ketjil manis, ka­

rena engkau telah menolong djiwaku, ketika aku terbaring kekakuan dalam lubang didalam tanah jang gelap itu !"

nO, ja, aku turut !" kata si Tjantik Ketjil, dan duduklah ia di­

atas punggung burung lajang-lajang itu dengan kakinja diatas sajap jang dikembangkan, dan diikatnja dirinja pada salah sehelai dari pada bulu-bulu jang paling k u a t; dan kemudian terbang tinggilah burung lajang-lajang itu diudara, melalui hutan dan laut, melampaui gunung jang tinggi-tinggi, tem pat jang selalu ada saldju ; dan si Tjantik Ketjil itupun merasa dinginlah diatas itu, dan hanja kepalanja sadja jang dikeluarkannja untuk melihat segala jang bagus itu, jang berada dibawahnja.

Dan mereka itu sampailah dinegeri jang panas itu. Disitulah matahari bersinar dengan amat terang, langit amat tinggi ; dan di- bukit-bukit tumbuhlah rambat-rambat anggur dengan buahnja jang berkilau-kilauan, biru dan kuning. Didalam hutan tumbuhlah ber- matjam-matjam limau dan djeruk, baunja sedap, dan didjalan-djalan besar anak-anak jang bagus-bagus bermain-main dengan kupu-kupu jang besar-besar dan berwarna-warna. Tapi burung lajang-lajang itu terbang lebih djauh lagi dan segala-galanja bertambah bagus djuga.

Dibawah pokok-pokok kaju jang hidjau-hidjau tua ditepi laut jang biru ada sebuah puri pualam jang putih berkilauan jang berasal dari zaman-zaman jang telah lam.pau ; rambat-rambat batang anggur berlingkar-lingkar dikeliling tiang-tiang jang besar-besar; dan di- atasnja sekali banjak sarang burung lajang-lajang, dan dalam salah sa+u dari sarang-sarang itu, disitulah tinggal burung lajang-lajang jang membawa si Tjantik Ketjil itu.

^ ongeng_dongeng Andersen

33

3

(36)

Jnilah rumahku !" kata burung lajang-lajang itu ; ,,dan seka rang hendaklah kaupilih salah satu dari pada bunga-bungaan jane indah-indah itu, jang tumbuh dibawah itu, disitulah engkau haru:

tinggal, dan nanti engkau tentu akan sangat bersenang hati seba- gaimana jang dapat kaupikirkan !"

,,0 , alangkah sedapnja !" Dan iapun bertepuk-tepuklah dengan tangannja jang ketjil itu.

Dibawah, melintang tiang besar dari pada batu pualam putih, jang roboh patah mendjadi tiga potong ; diantara ketiga potongan itu tumbuhlah bunga-bungaan jang putih-putih jang seindah-indah- nja. Burung lajang-lajang itu turunlah melajang dengan si T ja n tik

Ketjil, dan diletakkannja anak perempuan itu diatas salah satu dari pada daun jang lebar-lebar itu. O, apakah jang dilibat anak pererrv puan itu ? Ditengah bunga itu duduklah seorang laki-laki ketjil, ringan dan membajang sebagai katja ; sebuah mahkota terletak dikepala- nja, dan pada kedua belah bahunja terlekat dua sajap jang putih i laki-laki itu tidaklah lebih besar dari pada si Tjantik Ketjil sendiri. la itu adalah seorang malak bunga itu. Dalam setiap bunga ada malak sematjam itu, seorang laki-laki atau seorang perempuan, ta p i malak, ini ialah radja dari sekalian malak bunga-bungaan jang lain. j

,,0 , alangkah indahnja 1a itu !" bisik si Tjantik Ketjil. Anak radja' mala ,tu terkedjut oleh burung lajang-lajang itu, karena burung itu seolah-olah raksasa dibandingkan dengan dirinja ; malak itu ketjil I dan ha us s a n g a t; tetapi ketika ia melihat si Tjantik Ketjil itu, maka I sangatlah la bersenang h a ti; si Tjantik Ketjil itu adalah anak pe- rem puanjang paling manis jang pernah dilihatnja. Diambilnja mah"

-kota ketjil itu dari kepalanja, dan diletakkannja diatas kepala si Tjantik Ketjil ; ditanjanja siapa namanja, dan apakah ia suka m e n ', djadi isterinja, dan djika suka maka ia djadi ratu dari sekalian bunga' bungaan.

Ja, malak itu lain lagi dari pada anak katak dan tikus mondok dengan badju beledu hitamnja. Sebab itu ia berkata : „J a " kepada anak radja jang indah itu, dan dari pada setiap bunga keluarlah seorang bidadari ketjil, demikian bagus dan manis sehingga senang'

(37)

lah melihatnja, dan setiap mereka itu mempersembahkan persem- bahan kepada si Tjantik Ketjil ; tetapi hadiah jang paling indah ialah sepasang sajap seekor lalat jang besar dan putih ; sajap itu dilekat- kan pada bahu si Tjantik Ketjil, dan sekarang iapun dapatlah ter- bang-terbang dari bunga kebunga ; keadaan itu menjebabkan ia amat berbahagia ; lajang-lajang duduk diatas sarangnja dan ber- njanji dengan seindah-indah njanji, tapi meskipun demikian dalam hatinja ia bersedih hati, karena ia sangat kasih kepada si Tjantik Ketjil dan ingin sekali ia tidak pergi-pergi dari padanja.

,,Kau djangan bernama ,,si Tjantik Ketjil" !" kata seorang bida- dari bunga, ,,nama itu buruk ; kami akan menjebut engkau ,,M aja".

,,Selamat tinggal, selamat tinggal !" kata burung lajang-lajang itu, dan terbang pulalah ia dari negeri jang panas itu, djauh keutara kembali ; disana ia mempunjai sarangnja didjendela seorang laki-laki jang pandai mentjeritakan dongeng-dongeng dan untuk orang tua ini ia bernjanji : ,,kwit, kwit !" Demikianlah dongeng itu !

Referensi

Dokumen terkait

Fraktur yang terjadi biasanya bersifat komunitif dan jaringan lunak ikut mengalami kerusakan sedangkan trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang lebih jauh

dilakukan perhitungan dengan menggunakan software AGA3 dapat dilihat pada Gambar 18. Untuk memudahkan melihat pengaruh suhu gas alam terhadap perhitungan flow yang

Kurikulum pendidikan HAM di perguruan tinggi yang secara sistematis mengintegrasikan Hak Asasi Perempuan adalah Hak Asasi Manusia akan dapat menghasilkan suatu kondisi

Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan pengembangan multimedia interaktif yang layak digunakan dalam pembelajaran IPS Materi Koperasi bagi Siswa Kelas IV SD

Penetapan dan penerapan Strategi Anti Fraud sebagai bagian dari penerapan Manajemen Risiko dalam rangka pencegahan dan pengelolaan kejadian fraud di BRI mencakup 4 (empat)

Hasil penelitian adalah (1) Langkah langkah penyiapan penilaian guru bersertifikat pendidik di sekolah merupakan salah komponen yang mendukung keberhasilan pembelajaran,

Dengan telah ditetapkannya Undang-Undang Nomor 40 Tahun 2004 tentang Sistem Jaminan Sosial Nasional (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 150, Tambahan