• Tidak ada hasil yang ditemukan

KISAH SEORANG IBU

Dalam dokumen 1 0 L 1. ' / DONGENG2 ANDERSEN (Halaman 51-60)

DA seorang ibu duduk dekat anaknja ; hatinja penuh kesedihan dan ketakutan, kalau-kalau anaknja itu akan meninggal dunia. Putjat sangat anak itu, matanja terkatup, dan nafasnja lambat benar, ka- dang-kadang sangat dalam seolah-olah ia mengeluh, dan djika de­

mikian maka ibunjapun lalu merenung kekasihnja itu dengan penuh kekuatiran jang bertambah-tambah sadja.

Kemudian terdengarlah orang menokok pintu, dan seorang laki-laki tua masuk kedalam ; ia berselimut dengan sematjam selimut jang biasa dipakai untuk menjelimuti kuda ; selimut itu menje- lubungi dirinja ra p a t-ra p a t; dan ini memang perlu, karena pada waktu itu ialah musim dingin. Diluar rumah tidak ada apa-apa selain dari pada es dan saldju dan anginpun terlalu dinginnja, seolah-olah ia merigiris-iris sebagai pisau.

\Dan karena orang tua itu rnenggigil kedinginan sedang anak ketjil itupun tidur pula untuk seketika, bangkitlah ibu itu dan didje- rangkannja bir dalam sebuah pantji ketjil diatas api pediangan, supaja orang.tua itu dapatlah meminum sesuatu jang hangat. Dan]

^ a n g tua itu membuai-buai anak itu dan ibu lalu duduk diatas se­

buah kursi dan dilihatnja anaknja itu bernafas dalam-dalam.dan di- angkatnja tangan ketjil fang halus i\ y f

,,Pertjajakah engkau bahwa anak ini akan meninggalkan aku ? tanja ibu itu. ,,Tuhan kita jang Pengasih bukankah tidak akan meng- ambil dia dari padaku !"

Dan orang tua itu, — ia itu ialah Sang Maut sendiri meng- anggukkan kepalanja dengan tjara jang aneh sekali, sehingga ^ang- guknja itu dapat berarti ,,ja" tapi djuga dapat berarti ,,tidak . Ibu '+u duduklah sambil merenung, dan air mata mengalir dipipinja ; kepalanja mendjadi berat, tiga hari tiga malam ia tak tidur-tidur,

Dongeng-dangeng Adersen 4

Djauh didalam hutan djalan ho l

kemana ia harus pergi (h l 52j. ^ b™9~tjabang dan lbu fftj }agi

dan sekarang tertiduriah ia, tapi hanja untuk sekedjap sadja ; ke­

mudian terdjagalah ia dengan terkedjut dan menggigil karena ke- dinginan. ,.Apakah itu ?" katanja, dan melihatlah ia kesegala pihak, tetapi orang tua itu telah menghilang, dan anaknjapun hilang djugar

! anak itu dibawa orang itu pergi./Disudut bilik berderak-derak dan m e n tjitjit-tjitjit lontjeng tua ; batu-batunja jang besar dan berat tergantung hingga sampai dilantai. Bum ! Kini terhentilah djuga lontjeng itu.

Tetapi ibu jang malang itu keluar dari rumahnja dan memang- gil-manggil akan anaknja.

Diluar, ditengah-tengah saldju, duduk seorang perempuan me- rmakai pakaian jang pandjang dan hitam. Perempuan itu berkata :

"M aut telah datang kerumahmu tadi ; kulihat dia lekas-lekas pergi dengan anakmu ; djalannja lebih tjepat dari pada angin, dan apa jang dibawanja serta, tidaklah lagi dikembalikannja.

i.Katakanlah sadja kepadaku kearah mana ia pergi itu ! kata 'bu itu, ,,katakanlah kepadaku kemana ia pergi, tentulah akan kutjari djuga ia itu !"

..Aku tahu djalannja !" kata perempuan jang berpakaian hitam 'tu, ,,tapi sebelum kukatakan kepadamu, haruslah engkau menjanjikan dulu untukku semua njanjian jang telah kaunjanjikan untuk anakmu itu.

N u s benar njanjian-njanjian itu ; sering aku mendengarkann,a da- 1u,u £)sku ini Sang Malam. Aku telah melihat engkau menangis da-arn er|gkau menjanjikannja !"

..Akan kunjanjikan semuanja, semuanja !" kata ibu itu, tapi 'ianganlah aku ditahan-tahan ; aku harus menjusul dia, aku hams ner>dapat anakku kembali."

Tetapi Sang Malam tinggal diam dan membisu, kemudian ibu u ^eremas-remas tangannja sendiri dan menjanjilah la sambil me- ari9is ;lbanjak njanjian itu, tetapi lebih ban,ak lag, air m atajang leng a li3 D a n setelah ia menjanjikan semua njanpan itu, berkata a an9 Malam : „Pergilah kesebelah kanan dalam hutan (ang gelap itu.

iS|tulah aku lihat M aut itu pergi dengan anakmu.

Djauh didalam hutan djalan bertjabang-tjabang dan ibu itu tak tahulah lagi kemana ia harus pergi. Kemudian dilihatnja belukar-duri, jiam a sekali g u n d ijljtid a k berdaun atau berbunga, karena pada ke­

tika itu ialah dipertengahan musim dingin, tjabang-tjabangnja putih kebekuan.

,,Adakah kaulihat M aut lalu dengan anakku ?"

uTentu !" kata belukar-duri itu, ,,tapi tak akan kukatakan kepa- damu djalan mana jang telah diambilnja, sebelum engkau memanasi aku pada dadamu, sebab aku sedang akan mati kebekuan :'aku ten­

tulah akan mendjadi es sama sekali.'^

Dan ibu itu lalu menekankan belukar-duri itu pada dadanja kuat-kuat, supaja belukar-duri itu merasa hangat ; duri-duri terbenam sampai pada dagingnja, dan tetesan darah jang besar-besar keluar- lah dari dadanja. Tapi belukar-duri itu lalu mendapat daun-daun hidjau dan bunga-bunga jang segar dalam malam musim dingin itu ; demikianlah hangatnja hati seorang ibu jang sedang berdukatjita itu.

Dan belukar-duri itu berkata kepadanja, djalan mana jang harus di- tempuhnja.

Kemudian sampailah ia ketepi ^danau jang besar, disana tidak te rlih a t satupun, kapal atau perahuj Danau itu tidak tjukup bekunja untuk dapat berdjalan diatasnja, dan tidak pula tjukup tja ir dan d&xvgkal untuk diseberangi dengan berdjalan kaki. Meskipun demi­

kian ia harus djuga keseberang untuk mendapa'tkan anaknja^ Maka menelungkuplah ia untuk meminum air danau itu sampai habis, -tapi hal itu tidaklah mungkin bagi seorang manusia ; tapi ibu jang malang itu berpikir barangkali djuga akan terdjadi sesuatu keadjaiban.

,,Tidak, ini tak mungkin," kata danau itu, ,,lebih baik kita tjoba apakah boleh kita mendapat kata mufakat ! Aku senang sekali me- ngumpulkan mutiara, dan matamu itu ialah jang paling indah jang pernah aku lihat. Djika engkau mau menangis hingga matamu itu keluar dan kauberikan dia kepadaku, engkau dapatlah kuseberang- kan kegedung bunga-bungaan jang besar tem pat Sang M aut tinggal dan memelihara tanam-tanamannja ; setiap tanaman dalam gedung itu ialah satu djiwa manusia."

,iA p a k a h jang tid a k akan kuberikan untuk m e n da p a tka n k e m b a li anakku itu !" kata ibu jang m alang itu jang te la h b e g itu banjak m e- nangis. T e ta p i sekarang ia m enangis lebih banjak lagi ; ia m enangfs b e g itu Jam a sam pai kedua belah m atanja keluar dan d ja tu h kedasar a ir itu . D isitu m a ta itu m e n d ja d i dua b u tir m u tia ra jang mahal ; dan danaupun lalu m e n g a n g ka t ibu itu, dan sebagai d ia ta s buaian maka' de ng a n sekali ajun sadja sam pailah ia keseberang. Disitu_ada sebuah rum ah jan g a d ja ib , b e rm il-m il p a n d ja ng n ja rum ah itu . Sebenarnja ta k d a p a t o ra n g m engatakan apakah ge du n g itu sebuah gunung d engan h u ta n -h u ta n dan gua-gua, atau sebuah rumah jang d id irik a n d e n g a n se n ga d ja. T a p i ibu jang m alang itu ta k d a p a t m e lih a tn ja ; bukankah kedua belah m atanja tela h ditangiskannja h ingga keluar !

..D im anakah akan k u d a p a ti M a u t jang tela h m em baw a anakku itu ? " k a ta n ja .

,,la belum ada d is in i," d ja w a b perem puan tu a jang d iw a d jib k a n m e m elih ara g e d u n g b u nga-bungaan jan g besar, kepunjaan M a u t itu.

,,B agaim anakah dja la nn ja maka d a p a t engkau sam pai kem ari ini, dan siapakah jan g te la h m enolong engkau ? "

,,Tuhan kita jang Pengasih jang te la h m enolong aku !" kata ibu itu . ,,D ia b e rs ifa t Rahim, dan s ifa t dem ikianlah pula jang harus kau- p u n ja i. K atakanlah kepadaku, dim ana d a p a t aku m e n ga m b il kem bali anakku it u . "

,,Tak d a p a t aku m e n ga ta ka n n ja !" kata perem puan itu , ,,dan engkaupun ta k d a p a t pula m e lih a t ! — Tad) m alam banjak b u nq a - b u ng a a n ja n g laju ; Sang M a u t te n tu la h akan lekas d a ta n g untuk m e- m in d a h ka n n ja . Engkau te n tu ta h u , bahw a se tia p orang ada m em ­ p u n ja i p o h o n -h id u p n ja dan b u n g a -h id u p n ja sendiri m enurut susunan d irin ja s e n d iri ? Pohon dan bu ng a itu da la m segala hal sama b e n a r d e n g a n tu m b u h -tu m b u h a n jang lain, hanja bedanja ialah karena p o h o n -h id u p dan b u n g a -h id u p itu m e m pu n jai detikan darah. Djan- tu n g kanak-kanak b e rd e tik d ju g a ! T jo b a la h dengarkan, b a ran g ka li d a p a t e n gka u m e n g e ta h u i jang mana d e tik d ja n tu n g anakmu. Tapi apakah ja n g akan kauberikan kepadaku d jika kukatakan kepadam u a p a la g i ja n g harus k a u p e rb u a t seterusnja ? "

,,Tak ada lagi jang akan kuberikan !" ka+a ibu jang berdukatjii , ,,tapi aku bersedia pergi uniukmu sampai diudjung dunia si

in n n .i I

itu kalipun.

..Itu tak ada gunanja bagiku," kata perempuan itu, ,,tapi enc kau dapat memberikan kepadaku rambutmu jang hitam dan par djang itu. Engkau tahu, betapa bagus rambutmu itu, dan ingin ak m endapafnfaj Bolehlah kaudapat rambutku jang putih ini sebage gantinja ; ini ada djugalah artinja sedikit."

"Tak ada jang kaukehendaki jang lain lagi ?" kata ibu itu ,.dengan senang hati mau aku memberikan rambutku ini !" Dan di berikannja rambutnja jang bagus pandjang itu dan ia sendiri men-dapat rambut perempuan jang telah putih sebagai kapas sebagai gantinja.

Kemudian pergilah mereka itu bersama-sama masuk kedalam bangsal tanam-tanaman Sang M aut itu, tem pat pohon-pohonan dan bunga-bungaan tumbuh tjampur-baur dengan indah dan rmengheran- kan. A d a bunga leli jang halus-halus didalam tudung-tudung g elaS dan ada bunga piun jang kasar-kasar dan kuat-kuat. A d a pula turn- buh-tumbuhan air, setengahnja segar dan sehat, jang s e te n g a h n j3

lagi sakit-sakit , disitulah ular-ular air melingkar-lingkar pada tumbuh tumbuhan itu, dan kepiting jang hitam-hitam berdjepitan pad3 batang-batangnjay^Ada batang palm jang tin g g i-tin g g i d af1 ramping-ramping, dan pokok-pokok beringin dan pokok-poko^

kaju jang besar-besar jang lain lagi, te ta p i ketjuali itu ada djuga batang-batang daun seladeri dan ram bat-ram bat hiasan jang wangi' wangi. Setiap pohon dan setiap bunga mempunjai namanja sendiri I semuanja itu masing-masing satu hidup-manusia ; dan manusia itu masihlah hidup : jang seorang di Tion^kok, jang lain lagi d i Pu'aU Hidjau ; barang dimana dinegeri asing.jAda pokok-pokok kaju dais111 p o t jang ketjil-ketjil, sehingga akar-akarnja sama sekali kesempit90 dan tak d a pa t bernafas dan menekan p o t itu hampir-hampir p e t i ^ 1 ta p i ada djuga pohon jang ketjil-ketjil dan buruk-buruk dalam tan9^

jang subur, dihangati dan dipeliharajlbu jang berdukatjita itu bungkuk kepada batang jang paling ketjil dan didengarkannja baik

baik bagaimana dalam tumbuh-tumbuhan itu djantung manusia berdetik-detik ; diantara jang berdjuta-djuta itu dikenalnja kembali detik djantung anaknja sendiri.

Jnilah dia !" serunja, dan ditudungkannja kedua belah tangan- nja diatas batang bunga bawang-bawang jang ketjil biru, jang laju dan sakit-sakit serta miring tumbuhnja itu.

,,Djangan disentuh bunga itu !" kata perempuan tua itu ,,te- gaklah disini, dan djika Sang Maut nanti tiba, djanganlah dibiarkan.

ia mentjabut bunga itu, sebslum aku mengetahuinja, dan antjamlah dia, bahwa engkau akan mentjabut bunga-bunga jang lain lagi ; maka iapun akan ketakutanlah, karena ia harus bertanggung djawab tentang semua itu terhadap Tuhan kita jang Pengasih ; tak boleh sebatangpun jang ditjabut sebelum ia mendapat izin dari pada-Nja."

Tiba-tiba berhembuslah angin didalam ruang itu dengan dingin- nja jang sebagai es ; ibu jang buta itu merasa bahwa Sang Maut tiba.

,,Bagaimanakah djalannja maka kau dapat sampai kemari ?"

tanja M aut itu, ..bagaimanakah maka dapat engkau leb.h t,epat sampai kemari dari pada aku sendiri ?

.,Aku seorang ibu !" kata perempuan itu.

Dan Sang M aut merentangkan djarinja jang pandjang-pandjang J«n kurus-kurus itu kepada bunga ketjil jang halus ’+u : +®P‘ lb“ ,tu

"elindunginja dengan tangannja, demikian ta b tn ,a kalau-kalau Sang

<«ut akan melukainja. Kemudian Sang Mautpun menghembus kedua

°ngan ibu itu, dan dinginnja lebih la g i dari pa a angi fingin es, dan tangannjapun terkulailah dengan lema n,a.

..Bagaimana djuga engkau tiada akan dapat berbuat apa-apa Srhadap aku !" kata Maut itu.

..Tapi Tuhan kita jang Pengasih itu dapat I k“ tani° '

,,Aku hanja mendjalankan apa jang dit^ dok; ^ a' k“

W . i,Aku Ini tukang kebunnja. Aku h a r j h b n ^ semua Unga-bungaan dan +anam-tanamann|a kedaiam i

didalam surga, dalam negeri jang tak dikenal itu. Tapi bagaim ana tum buh-tum buhan itu tumbuh disana, dan bagaimana keadaannja disana, itu tak boleh kutjeritakan kepadam u."

,,Pulangkanlah kembali anakku!" udjar ibu itu memohon-mohon;

te ta p i tib a -tib a dipegangnja dengan kedua belah tangannja dua batang tanaman jang ada didekatnja, lalu berkata kepada Sang M a u t : ,,K u tjab u t semua bunga-bungamu, karena aku telah kehilang- an akalku."

,,Djanganlah disentuh bunga-bunga itu !" kata Sang M aut, ,,katamu engkau orang jang malang, dan sekarang engkau ingin m em buat malang ibu jang lain pula ?"

,.Seorang ibu jang lain pula ?" kata ibu jang malang itu, dan dilepaskannja kembali kedua bunga itu.

J n ila h matamu itu kukembalikan," kata M a u t itu, ,,telah kuam- bil dari dasar danau itu, ia bertjahaja-tjahaja b egitu keras ; aku tak tahu bahwa mata itu matamu ; ambillah dia kembali ; akan kusebut nama kedua bunga jang hendak kautjabut ta d i. Engkau akan da pa t m elihat seluruh masa-depan kedua bunga itu, seluruh hidup-manusia, dan engkau akan mengetahui apa jang hendak kaualang-alangi dan kaumusnahkan ta d i itu ."

Dan ibu itu menengoklah kedalam sumur ; dan dilihatnja kein- dahan suatu hidup, jang mendjadi rahm at bagi jang ada disekeli- lingnja, te m p a t te rd a p a t kebahagiaan dan kegembiraan. T etapi ia- pun m elihat pun m elihat djuga hidup jang lain : hidup itu penuh kesukaran dan kesakitan, sakit dan melarat, lain dari itu tid a k.

,,Kedua hidup itu adalah Kehendak Tuhan," kata'S ang M aut.

,,Jang manakah dari kedua bunga itu bunga-kebahagiaan dan

|ang mana bunga-kemelaratan ?" tanjanja.

" Itu tak kukatakan," kata Sang M aut, ,,tapi ketahuilah, bahwa satu dari pada kedua hidup itu ialah hidup anakmu sendiri ; itulah nasib masa-depan anakmu sendiri-jang telah kaulihat."

Kemudian berteriaklah ibu itu : ,,Jang mana dari pada kedua- nja anakku itu ? Katakanlah kepadaku ! Tolonglah jang malang itu !

Tolonglah anak jang tiada berdosa itu ! O, tolonglah anakku dari- pada kemelaratan itu ! Lebih baik bawalah dia ! Bawalah dia ke- Keradjaan Tuhan ! Lupakanlah permohonanku itu, lupakanlah a ir mataku! Lupakanlah semua jang telah kukatakan dan kuperbuat itu!

,,Aku tak d a p a t m engerti apa kehendakmu in i," kata Sang M uat itu. ,.Apakah engkau menghendaki anakmu itu kembali lagi atau engkau ingin aku membawanja kenegeri jang tak dikenal itu ?

Kemudian ibu itu meremas-remas tangannja sendiri, dan ber- lututlah ia serta bermohon kepada Tuhan : ..Djanganlah dikabulkan permohonanku, djika permohonan itu berlawanan dengan Kehendak- Ivlu ! Kehendak-Mu jang berlaku ! Djanganlah dikabulkan permohon­

anku, djanganlah dikabulkan !

Dan kepalanja ditundukkannja rendah-rendah. Dan Sang Maut- pun pergilah dengan anaknja kenegeri jang tak dikenal itu.

Dalam dokumen 1 0 L 1. ' / DONGENG2 ANDERSEN (Halaman 51-60)

Dokumen terkait