• Tidak ada hasil yang ditemukan

SI TJANTIK KETJIL

Dalam dokumen 1 0 L 1. ' / DONGENG2 ANDERSEN (Halaman 23-38)

O EKALI peristiwa, adalah se-

v- ' orang anak ketjil, tetapi ia tiada tahu dari mana ia akan mendapat anak itu. Kemudian pergilah ia kepada seorang perempuan tukang sihir jang telah tua dan berkata kepadanja : ,,Ingin sangat aku mendapat seorang anak ketjil, dapatkah nenek mengatakan kepadaku dari mana boleh ku- dapat anak itu ?"

,,0 , ja, keinginanmu itu tentu akan dapat kita laksanakan I"

kata perempuan tukang sihir itu. ,,Inilah untukmu sebutir gandum, tapi butir gandum ini sama sekali bukanlah dari matjam jang tumbuh ditanah-tanah- pak tani, dan tiada boleh diberikan kepada ajam.

Taruhkanlah sadja gandum ini dalam pot bunga, nanti akan adalah jang kaulihat."

,,Terima kasih, ’nek !" kata perempuan itu dan diberikannja uang serupiah kepada perempuan sihir itu ; kemudian pulanglah ia dan ditanamnja butir gandum itu, dan dengan segera tumbuhlah sekun- tum bunga jang besar dan indah, jang serupa benar dengan bunga sedap malam, tetapi daun-daun bunganja amat rapat jang sehelai dengan jang sehelai, seolah-olah ia masih kuntjup.

,,Hai, alangkah indah bunga ini !" kata perempuan itu, dan di- ketjupnja bunga itu pada daun-bunganja jang merah dan kuning itu.

tetapi sedang ia berbuat demikian, kembanglah bunga itu dengan suara b e rd e ta r; sesungguhnjalah, bunga itu bunga tjulip, teta p i ditengah-tengah bunga itu, diatas benang sarinja jang hidjau,

duduk-lah seorang anak perempuan jang ketjil ; o, sangat manis dan halu.snja anak itu, tidak lebih besar dari pada ibu djari, dan oleh karena itu ia disebut ,,si Tjantik K e tjil".

Sebelah kulit katjang mendjadi buaiannja ; kasurnja dari pada daun-bunga jang lembajung dan selimutnja ialah daun-bunga bunga mawar ; disitulah ia tid u r pada malam hari, teta p i pada siang hari ia ber-main2 diatas medja. Diatas medja itu diletakkan perempuan itu sebuah piring, dan didalam piring itu diletakkannja sekarangan bunga jang besar ; tangkai-tangkai bunga itu terendarrTdidalam air.

Dan diatas air itu berhanjut-hanjutlah sehelai daun tju lip jang lebar, dan diatas itulah si Tjantik Ketjil boleh duduk dan b e r h a n ju t- h a n ju t

dari tepi jang satu ketepi jang satu lagi : dajungnja ialah dua lembar daun-bunga peliman putih. Tampaknja sangat indah. Dan pandai pula ia bernjanji, o, sangat halusnja njanji itu, belum pernah orang mendengar njanji jang sedemikian itu.

Pada suatu malam, ketika ia sedang berbaring dalam tem pat tidurnja jang bagus itu, datanglah seekor katak jang buruk masuk kedalam, melalui katja djendela jang petjah. Djidjik, besar dan lem- bab katak itu, dan benar ia merangkak diatas medja tem pat si Tjan- tik Ketjil itu sedang berbaring tid u r dibawah daun-bunga mawarnja.

..Seorang isteri jang baik bagi anakku !" kata katak itu, ditang- kapnja kulit katjang itu, lalu dibawanja melompat keluar kedalam kebun.

Dalam kebun itu ada air jang lebar, teta p i pada tepinja benar ada rawa-rawa dan penuh lum p u r; disitulah tem pat tinggal katak itu bersama-sama dengan anaknja. Anak katak itupun sama kotor dan buruknja seperti ibunja djuga.

,,Krekkkrekkkrekkrek ! inilah sadja jang dapat dikatakan oleh anak katak itu.

,,Djanganlah bertjakap-tjakap begitu keras, nanti ia terbangun!"

kata induk katak itu, ,,boleh nanti lari ia dari kita, karena ia sangat ringan, sebagai bulu angsa undan jang halus ! Marilah kita letakkan dia diatas salah sehelai dari daun-daun teratai jang lebar diatas a n a k

!j air itu, karena ia begitu ketjil maka baginja seolah-olah ia berada j diatas sebuah pulau. Disitu ia tak dapat lari dan dalam antara itu,

| djauh didalam lumpur, ditem pat engkau berdua nanti akan tinggal,

| kita siapkan bangsal untuk pesta."

! Agak ketengah diatas air itu banjak teratai tumbuh, daunnja lebar-lebar dan hidjau-hidjau. Tampaknja seolah-olah teratai itu dju­

ga mengalir dengan air. Daun jang paling djauh ialah daun jang paling besar. Kesitulah katak tua itu berenang, dan diletakkannja kulit katjang tem pat si Tjantik Ketjil itu.

Anak perempuan jang ketjil dan malang itu bangunlah waktu te- rang pagi mulai benderang, dan ketika dilihatnja dimana ia ada, menangislah ia dengan sedihnja, karena daun jang lebar dan hidjau itu pada segala tepinja dikelilingi air ; baginja tidaklah mungkin untuk pergi kedarat.

Didalam lumpur katak tua menghiasi biliknja dengan pimping dan daun-daun teratai jang sudah kuning, karena untuk menantunja segala sesuatu haruslah dibuat dengan seindah-indahnja. Sesudah itu berenanglah ia dengan anaknja jang mendjidjikkan itu kedaun tem pat si Tjantik Ketjil duduk ; mereka itu hendak mengambil tempat tidur si Tjantik Ketjil ; tem pat tidur itu harus sudah ada didalam bi- lik mempelai sebelum anak perempuan ketjil itu tiba. Katak tua itu membungkuk memberi salam kepadanja didalam air dan berkata :

• ■ Ini. kuperkenalkan anakku, ia akan mendjadi suamimu, dan engkau berdua hendaklah tinggal bersama-sama didalam lumpur, disitu enak dan bagus."

,,Kwak, kwak, krekkrekek !" itulah sadja jang dapat dikatakan oleh anak katak itu.

Kemudian diambil mereka tem pat tidur jang tjantik itu, dan berenanglah mereka dengan benda itu, tetapi si Tjantik Ketjil ting­

gal seorang diri sambil menangis diatas daun jang hidjau itu, karena ia tidak mau tinggal dengan katak jang buruk itu dan tak mau mempunjai suami anak katak jang mendjidjikkan. Ikan-ikan jang be- renang-renang didalam air ada melihat katak itu, dan mereka men- dengar apa jang telah dikatakan oleh katak itu, dan oleh karena itu

mereka mengeluarkan kepalanja diatas air sebab ingin sekali menge- tahui siapakah anak perempuan jang ketjil itu. Dan ketika dilihat oleh ikan-ikan itu akan dia demikian manisnja, mereka merasa ka- sihan kepadanja, bahwa ia harus serta dengan katak itu kedalam lumpur ; tidak, jang demikian itu tak boleh terdjadi ! Dan mereka itu berkumpul semuanja didalam air disekeliling tangkai daun jang hidjau tem pat anak perempuan itu duduk, dan mereka menggigit- g ig it tangkai daun itu hingga putus, dan achirnja hanjutlah daun itu bersama-sama dengan si Tjantik Ketjil, djauh-diauh ; djauh, sangat sekali hanjutnja, sehingga katak2 itu tak dapat mengedjarnja lagi.

Si Tjantik Ketjil itu berlajarlah melalui berbagai-bagai tem pat.

Didalam hutan-hutan ketjil bertenggerlah burung-burung ketjil, dan mereka bernjanji-njanji ketika melihat dia : ,,0 , alangkah manis anak perempuan itu !"

Daun itu hanjutlah terus, terus sadja bersama-sama dia ; dan dengan demikianlah si Tjantik Ketjil berlajar dinegeri-negeri asing.

Seekor kupu-kupu ketjil putih dan sangat manis selalu sadja terbang-terbang sekeliling dia dan melajang hinggap diatas daun itu, sebab baginja si Tjantik Ketjil itu sangat manisnja ; dan si Tjan­

tik Ketjilpun bersenang hati djuga karena sekarang katak-katak itu tak dapat mendekatinja, dan dimana-mana ia berlajar semuanja sama mdahnja ; matahari bersinar diatas air, berkilat-kilat sebagai emas.

Ditanggalkannja pita pengikat pinggangnja dan dengan udjungnja jang satu diikatnja kupu itu dan udjungnja jang satu lagi diikatkannja pada daun teratai itu. Daun itupun hanjutlah djauh lebih tje p a t d i­

atas air, dan demikian pula si Tjantik Ketjil, karena ia tegak diatas daun itu.

Kemudian terbanglah kesitu seekor kumbang : ketika dilihatnja akan anak perempuan itu, lalu dengan tiba-tiba dipegangnja a na k

itu pada pinggangnja jang ramping itu lalu diterbangkannja keatas sebatang pokok kaju, tapi daun hidjau itu hanjut bersama air dan kupu-kupupun terbawa djuga serta sebab ia diikatkan pada daun itu dan tak dapat lagi terlepas.

Ah, alangkah takutnja si Tjantik Ketjil ketika kumbang itu .te r- bang membawa dia kepohon kaju, teta p i lebih lagi susahnja meng®'

nangkan rama-rama jang diikatkannja kepada daun itu ; djika rama2 itu tak dapat terlepas, ia akan mati kelaparan. Tetapi hal itu sama I sekali tidak dipedulikan oleh kumbang itu. Dengan si Tjantik Ketiil ia duduk diatas daun kaju jang paling besar, dan si Tjantik Ketjil di- berinja makanan jang manis-manis jang diperolehnja pada bunga- bungaan, dan dikatakannja, bahwa si Tjantik Ketjil itu sangat manis- nja, sekalipun tidak menjerupai kumbang. Dan semua kumbang i dipohon itu datanglah berkundjung, mereka memeriksai si Tjantik i Ketjil dengan teliti, dan kumbang-kumbang jang masih gadis meng- angkat-angkat misai-perabanja dan berkata : ,,Hanja dua kakinja, alangkah buruknja !"

,,Djuga misai-peraba ia tak punja."

,,Dan alangkah ketjil pinggangnja, rupanja sebagai manusia. O, alangkah buruknja !" kata semua kumbang-kumbang gadis itu pada achirnja bersama-sama ; tetapi meskipun demikian si Tjantik Ketjil masih djuga sangat manis.

Dan begitulah djuga kumbang jang membawa dia keatas po- hon kaju itu, tetapi ketika semua kumbang jang lain mengatakan, bahwa ia buruk, achirnja mulailah ia pertjaja bahwa si Tjantik Ketjil itu buruk, dan tiadalah ia mau memperdulikan dia lagi, dan si Tjantik Ketjil bolehlah pergi kemana ia suka. Mereka membawa dia terbang kebawah dan diletakkannja diatas bunga seruni dan disitulah ia du­

duk menangis, karena ia demikian buruknja sehingga kumbang-kum­

bang tak suka kepadanja ; padahal ialah jang setjantik-tjantiknja jang dapat dipikirkan orang, demikian halus dan ringannja laksana daun-bunga bunga mawar.

Sepandjang musim kemarau itu si Tjantik Ketjil jang malang itu hidup dengan seorang dirinja sadia didalam hutan jang lebat itu, Dianjamnja tem pat tidurnja dari rumput-rumputan, tem pat tidur itu digantungkannja dibawah daun jang lebar, dan dengan demikian ia tidak akan basah kehudjanan ; dimakannja madu dari bunga- bungaan, dan diminumnja air embun jang pada tiap-tiap pagi ter- genang diatas daun-daunan ; demikianlah keadaannja dimusim pa- nas, dan djuga dimusim gugur ; tetapi kemudian datanglah musim

dingin, musim dingin jang lama. *) Semua burung jang telah ber- njanji dengan indah bagi si Tjantik Ketjil, terbang meninggalkan dia, daun-daunan dan bunga-bungaan mendjadi laju. Daun jang lebar te m p a t dia tinggal dibawahnja untuk sekian lamanja itu lalu menge- riu t dan tiadalah jang tinggal lagi dari pada gagang jang kuning m ati ; dan ia kedinginan dengan sangat, karena pakaiannja sudah mendjadi usang dan ia sendiri begitu lembut dan halus, demikianlah si Tjantik Ketjil jang malang itu ; tentu haruslah ia mati karena beku kedinginan. Saldjupun mulailah berdjatuhan, dan setiap saldju jang mendjatuhi dirinja sudah merupakan satu sekop saldju bagi kita, ka­

rena kita besar-besar dan si tja n tik Ketjil hanjalah sepandjang djari sadja. Kemudian menggulung dirilah ia dengan daun kering, tetapi daun kering itu tidak menghangatkan dia ; ia menggigil kedinginan.

Dekat pada hutan tem pat dia itu, ada ladang padi jang luas ; padinja telah lama dituai orang, hanja rumpun-rumpun jang gundul kering sadja lagi jang tinggal keluar dari tanah jang beku itu. Seolah- olah si Tjantik Ketjil berdjalan didalam hutan, o, alangkah dinginnja terasa olehnja ! Kemudian sampailah ia pada rumah seekor tikus ladang, suatu lubang jang ketjil dibawah rumpun-rumpun padi. Di-

■situlah tinggal seekor tikus ladang, hangat dan senang, seluruh ru­

mahnja penuh dengan padi dan sebuah dapur jang enak dan bilik tem pat menjimpan makanari.

Si Tjantik Ketjil jang malangpun tegaklah dimuka pintu rumah tikus ladang itu seolah-olah ia seorang anak pengemis sadja, dan meminta-minta sepotong ketjil butiran padi ; selama dua hari tak ada ia memakan apa-apa.

,,Anak jang malang ! kata tikus ladang itu, karena tikus ladang Itu adalah tikus tua jang baik hati. ,,Marilah masuk kedalam bilikku jang hangat, dan makanlah bersama-sama dengan aku." Dan karena la ada djuga merasa senang kepada si Tjantik Ketjil itu, maka kata- nja ‘ ,iSelama musim dingin ini bolehlah kautinggal disini, tapi kau harus memelihara rumahku bersih-bersih dan mentjeritakan dongeng- dongeng bagiku, karena aku suka sekali mendengar dongeng," dan

*) Lihat tjatatan dikaki halaman 36.

si Tjantik Ketjil melakukan apa jang dikehendaki tikus ladang tua itu dan hidupnjapun baiklah.

,,Kita segera akan kedatangan tamu !" kata tikus tua itu. ,,Te- tanggaku setiap pagi datang berkundjung kepadaku. Rumahnja le­

bih hangat lagi dari rumahku ; ia tinggal dalam bilik jang besar-besar dan pakaiannja dari beledu hitam jang bagus ; asal dapat sadja eng­

kau mempersuamikan dia, selamatlah engkau ; tapi ia tak dapat melihat. Kau harus mentjeritakan kepadanfa dongeng-dongeng jang sei'ndah-indahnja jang kau ketahui."

Tetapi kepada jang demikian itu si Tjantik Ketjil sama sekali tak suka, ia tak suka kepada tetangga tikus tua itu, karena tetangga itu ialah seekor tikus mondok *)

Kemudian datanglah tikus mondok itu berkundjun'g memakai pakaian beledu hitamnja ; ia sangat kaja dan sangat pandai, kata tikus tua itu. Rumahnjapun sampai dua puluh kali lebih besar dari pada rumah tikus ladang itu, dan pandainja bukan buatan !

Tetapi matahari dan bunga-bungaan jang indah-indah diben- tjinja benar-benar; dikatakannja matahari dan bunga-bungaan itu djelek, karena belum pernah ia melihatnja.

Si Tjantik Ketjil disuruh bernjanji untuk tikus mondok itu, dan iapun bernjanjilah : ,,Kambing ketjil, mengapa engkau mengembik- embik !" dan ,,Dinegeri umbi jang hidjau-hidjau !" Kemudian djatuh tjintalah tikus mondok itu kepadanja, karena suaranja jang bagus Itu ; tapi tentang tjintanja itu tikus mondok tidak mengatakan suatu- pun, karena ia itu sangat pandjang pikirannja.

la baru sadja menggali gang jang pandjang dari rumahnja ke- rumah tikus ladang itu, dan dalam gang itu mereka diizinkannja untuk berdjalan-djalan sekehendak hati mereka, Tapi dikatakannja kepada mereka, bahwa mereka djanganlah takut kepada burung mati jang

*) Tikus mondok, ,,mol’’ dalam bahasa Belandanja, ialah sematjam tikus jang tidak didapat di Indonesia. Kakinja jang didepan lebih pendek dari kakinja jang dibelakang, dan kaki depan ini seperti terlekat sadja pada dadanja. Mondok tinggalnja dalam liang-liang didalam tanah, ditempat gelap. Ditjahaja matahari ia tak dapat

Melihat.

terbaring dalam gang itu ; burung mati itu masih berbulu dan ber- paruh lengkap, dan ia baru sadja mati ketika musim dingin mulai,.

dan pada ketika itu ia ada te p a t benar ditem pat tikus mondok itu mulai menggali liangnja.

Tikus mondok itu mengambil sepotong kaju mati dimakan bu- buk, dimasukkannja kedalam mulutnja, karena jang demikian itu menjebabkan te rd jad i tjahaja didalam gelap, dan dengan benda itu diteranginja gang jang pandjang dan gelap itu. Ketika mereka sam- pai pada burung mati itu, tikus mondok itu mendorongkan hidungnja keloteng, dan diseget-segetnja tanah sehingga terdjadilah lubang te m p a t tjahaja dapat masuk kedalam. Ditengah-tengah gang itu terbaringlah seekor burung lajang-lajang jang telah mati, sajapnja jang bagus berdekap rapat-rapat pada badannja, kaki dan kepala­

nja didalam bulunja ; burung jang malang itu tentu mati karena kedinginan.

Hal ini membuat si Tjantik Ketjil lalu bersedih hati ; kepada se­

mua burung ia sangat sajang ; mereka telah bernjanji-njanji buat dia sepandjang musim panas dengan sangat indahnja ; ta p i tikus mondok itu menjepakkan burung itu dengan kakinja jang pendek sambil berkata : „Sekarang tak dapat lagi ia bersiul ! Memang s u a tu

bent|ana benar d,ika kita dilahirkan sebagai burung. Alhamdulillah.

tak ada seorangpun dan anak-anakku jang dapat mendjadi burung ; burung ja n g begitu tak ada mempunjai apa-apa lagi ketjuali „kw it- kwit -n|a dan d,musim dingin ia hams pula mati kelaparan.”

,,Ja, in, dapatlah tuan katakan sebagai seorang jang bidjak- sana, kata ficus ladang itu. „Apakah jang boleh didapat oleh se­

ekor burung dengan seluruh „kw it-kw it"-nja djika musim dingin datang. apar dan dmgm jang hams dideritanja ; tapi burung jang semat|am itu ingm djuga dipandang sangat mulia !"

Si Tjantik Ketjil tiada berkata apa-apa, teta p i ketika kedua tikus itu dengan punggungnja berdiri membelakangi burung itu, si Tjantik Ketjil membungkuk, dikuakkannja bulu-bulu jang menutupi kepalan(a dan d,ket|upn|a akan burung itu pada matanja jang ter- katup itu.

,,Barangkali burung inilah jang bernjanji-njanji untukku dengan indahnja dimusim panas," pikir si Tjantik Ketjil, ,,alangkah banjaknia ia memberikan bahagia kepadaku, burung jang manis ini."

Tikus mondok itu lalu menutupi lubang itu, dari tem pat tjahaja masuk dan dibawanja kedua tamunja itu kedalam rumah'. Tapi pada malam hari si Tjantik Ketjil itu tak dapat tid u r ; lalu bangunlah ia dari tem pat tidurnja, dianjamnja rumput-rumput kering sehingga mendjadi sehelai pakaian jang bagus dan besar, dan pakaian itu dibawanja kebawah dan ditutupkannja kepada burung jang telah mati itu, serta dilefakkannja pula kapas-kapas halus jang didapatnja dalam rumah tikus ladang itu kebadan burung itu, supaja dapatlah burung itu merasa hangat diatas tanah jang dingin.

,,Selamat djalan, burung jang bagus," katanja, ,,selamat djalan dan terima kasih untuk njanjimu jang bagus dimusim panas ketika semua pokok kaju menghidjau-hidjau dan matahari memantjarkan panasnja jang enak sekali itu !" Sudah itu diletakkannfa kepalanja kepada dada burung itu, tetapi dengan tiba-tiba terkedjutlah ia, karena sebagai ada fang berdetik-detik didalam dada burung itu.

Jang berdetik itu ialah djantung burung itu. Burung itu tidak mati, ia hanja pingsan sadja, dan panas telah menjebabkan ia hidup kembali.

Dalam musim guglir semua burung lajang-lajang terbang pergi kenegeri-negeri jang panas-panas, tapi djika salah seekor dari me­

reka itu terlambat, maka dinginpun mendjadikan dia kaku, sehingga djatuhlah ia sebagai mati, dan tinggallah ia ditem pat ia djatuh itu.

dan saldju jang dinginpun lalu menimbuni dia.

Si Tjantik Ketjil menggigil oleh terkedjut, karena burung itu sangat besar, sangat besarnja, dan dia sendiri hanja sepandjang djari sadja ; tapi meskipun demikian diberanikannja dirinja, diletak- kannja kapas lebih rapat lagi disekeliling badan lajang-lajang jang malang itu, dan diambilnja daun kaju jang dipakainja sendiri sebagai selimut, untuk menjelimuti kepalanja.

Pada malam jang berikutnja ia pergi lagi kepada burung itu, dan pada ketika itu burung itu sudah kembali hidup benar-benar,

tapi masih sangat letih dan lemah, sehingga hanja sebentar sadja ia dapat membuka matanja untuk melihat si Tjantik Ketjil ; dan si Tjantik K etjil berdiri disitu dengan memegang sepotong kaju ka­

rena lampu jang lain tak ada lagi padanja.

,,Aku berterim a kasih kepadamu, anak manis jang ketjil !" kata burung jang sakit itu. ,,Sekarang aku merasa hangat, segera aku akan kembali kuat lagi, dan dapatlah nanti aku segera terbang keluar ketjahaja matahari jang panas sedap itu."

Dibawakan si Tjantik Ketjil akan lajang-lajang itu air dalam se- helai daun, dan lajang-lajangpun minumlah, dan ditjeriterakannja kepadanja, bagaimana sajapnja jang sebelah luka karena belukar duri, dan oleh karena itu terbangnja tak begitu kuat sebagai lajang- lajang jang la in , jang terbang begitu djauh, djauh k e n e g e r i- n e g e r i

jang panas. Dan pada achirnja djatuhlah ia ditanah, tapi lain dari pada itu ia tak ingat lagi ; bagaimana ia sampai disitu tidaklah h tahu.

Sepandjang musim dingin itu ia tinggal didalam tanah itu dan si Tjantik Ketjil memelihara dia dengan sangat baik dengan sangat sajang pula kepada lajang-lajang itu ; teta p i tikus mondok dan tikus ladang itu tidak mengetahui suatupun tentang hal itu.

Dan ketika tibalah musim semi dan dibawah, didalam tanah, mendjadi panas, rnaka lajang-lajangpun mengutjapkan selamat tin g ­ gal kepada si Tjantik Ketjil jang membuka lubang itu kembali lubang jang digali oleh tikus mondok dulu.. Matahari meman+jar dengan sedap keddlam, dan lajang-lajang bertanjalah kepada si Tjantik Ke- t|il, apakah si Tjantik Ketjil itu tidak mau tu ru t serta dengan dia, dan apakah si Tjantik Ketjil tidak mau duduk diatas punggung lajang- lajang itu ; mereka akan terbang djauh-djauh kehutan jang hidjau.

te ta p i si Tjantik K e tjil tahu bahwa ia akan menjedihkan hati tikus ladang |ang tua itu, dpka 1a dengan d|alan demikian dengan tiba-tiba meninggalkan dia.

,,Tidak, tak dapat aku berbuat demikian !" kata si Ketjil.

,,Tidak, tak dapat aku berbuat demikian !" kata si Ketjil.

Dalam dokumen 1 0 L 1. ' / DONGENG2 ANDERSEN (Halaman 23-38)

Dokumen terkait