• Tidak ada hasil yang ditemukan

Klasifikasi Berdasarkan Jenis dan Penyimpangannya

Dalam dokumen Dinie Ratri Buku Psikologi ABK 2016 (Halaman 69-72)

GANGGUAN PERILAKU

2. Klasifikasi Berdasarkan Jenis dan Penyimpangannya

Anak tunalaras dibagi dari segi jenis dan derajat penyimpangannya, yaitu:

a. Berdasarkan Jenis

 Dilihat dari aspek kepribadian, yaitu terdapat anak tunalaras emosi yang mengalami kelainan

dalam perkembangan emosi, dan anak tunalaras sosial yang mengalami kelainan dalam penyesuaian diri dalam lingkungan.

 Dilihat dari aspek kesehatan jiwa: terdapat anak tunalaras psikopat yaitu anak yang memiliki

penyimpangan emosi dan penyesuaian yang dipengaruhi faktor genetik (endogen) yang tidak dapat disembuhkan, dan anak tunalaras sementara yaituanak yang mempunyai penyimpangan emosi dan penyesuaian, yang dipengaruhi oleh faktor lingkungan dan dapat disembuhkan.

b. Berdasar Derajat Penyimpangan

 Anak tunalaras taraf ringan: menunjukkan penyimpangan emosi dan penyesuaian masih dalam

taraf permulaan dan ringan, namun ada gangguan dalam perkembangan dirinya. Pada taraf ini anak masih berada dalam lingkungan keluarga dan sekolah biasa, anak membutuhkan usaha bimbingan dan penyuluhan sekolah dasar, menengah, dan keluarga. Contoh perilakunya adalah membolos sekolah, malas mengerjakan PR, tidak mau mengikuti upacara.

 Anak tunalaras taraf sedang: menunjukkan penyimpangan emosi dan penyesuaian terhadap

lingkungan bertaraf sedang. Pada taraf ini anak memerlukan pelayanan tersendiri dalam belajarnya. Anak ada yang masih dalam lingkungan keluarga dan ada yang harus masuk asrama untuk keperluan penyembuhan. Namun dalam kegiatan belajarnya harus dipisah dengan anak normal.Contoh perilakunya adalah mencuri di sekolah dan di luar sekolah, merusak fasilitas umum, tergabung dalam gank tertentu.

 Anak tunalaras taraf berat: menunjukkan pelanggaran hukum karena mengganggu ketertiban masyarakat dan disebut delinkuensi. Hal ini mecakup anak yang sudah terlibat narkotika dan tindakan kriminal. Taraf ini mengharuskan anak dipisahkan dengan keluarga dan sekolah umum. Dapat dimasukkan dalam asrama atau lembaga pemasyarakatan/rehabilitasi khusus.

Tunalaras Emosi dan Tunalaras Sosial

Anak yang dikategorikan memiliki kelainan emosi adalah anak yang mengalami kesulitan menyesuaikan perilakunya dengan lingkungan sosial, karena adanya tekanan dari dalam oleh adanya hal-hal yang bersifat neurotis dan psikotis. Hal ini dapat dipantau dari tekanan jiwa yang ditunjukkan dari kecemasan yang mendalam. Perilaku anak penyandang kelainan emosi dalam konteks yang lebih besar mengalami penyimpangan penyesuaian perilaku sosial.Macam-macam gejala hambatan emosi, antara lain:

 Gentar: suatu reaksi terhadap suatu ancaman yang tidak dipelajari.

 Takut: reaksi kurang senang terhadap sesuatu.

 Gugup: rasa cemas yang tampak dalam perbuatan-perbuatan aneh.

 Iri hati: selalu merasa kurang senang apabila orang lain memperoleh keuntungan dan kebahagiaan.

 Perusak: memperlakukan benda-benda di sekitarnya menjadi hancur dan tidak berfungsi.

 Malu: sikap yang kurang matang dalam menghadapi tuntutan kehidupan.

Pada anak dengan kelainan emosi, ekspresinya dapat berupa:

 Kecemasan mendalam tetapi kabur dan tidak menentu arah kecemasan yang dituju. Kondisi ini

digunakan sebagai alat untuk mempertahankan diri melalui represi.

 Kelemahan seluruh jasmani dan rohani yang disertai dengan berbagai keluhan sakit pada beberapa

bagian badannya. Kondisi ini terjadi akibat konflik batin atau tekanan emosi yang sukar diselesaikan.

 Gejala yang merupakan tantangan balas dendam karena adanya perlakuan yang kasar. Kondisi ini

terjadi akibat perlakuan kasar yang diterima sehingga ia juga akan berlaku kasar terhadap orang lain sebagai balas dendam untuk kepuasan dirinya.

Emosi dari penderita tunalaras tidak selalu menunjukkan tingkah laku seperti yang terjadi pada tunalaras sosial. Terdapat pendapat bahwa perilaku tunalaras emosi tidak dapat disamakan dengan perilaku tunalaras sosial sepanjang tingkah laku tersebut tidak menimbulkan konflik terhadap kehidupan orang lain.

Anak yang dikategorikan kelainan penyesuaian perilaku sebagai bentuk kelainan penyesuaian sosial adalah anak yang mempunyai tingkah laku yang tidak sesuai dengan adat yang berlaku di lingkungan. Bentuk kelainan penyesuaian ini adalah delinkuen. Delinkuen hanya diberikan jika anak terlibat dalam konflik atau pelanggaran hukum.Anak dengan kesulitan penyesuaian sosial dapat dikelompokkan, sebagai berikut:

1. Anak agresif yang sukar bersosialisasi adalah anak yang sama sekali tidak dapat menyesuaikan diri, baik di lingkungan rumah, sekolah, maupun teman sebaya. Sikap anak ini dimanifestasikan dalam bentuk memusuhi otoritas (guru, orangtua, polisi), suka balas dendam, berkelahi, senang curang, senang mencela.

2. Anak agresif yang mampu bersosialisasi adalah anak yang kurang mampu menyesuaikan diri di lingkungan rumah, sekolah, ataupun masyarakat. Akan tetapi mereka masih memiliki bentuk penyesuaian diri yang khusus, yaitu dengan teman sebaya yang senasib (geng). Sikap anak tipe ini dimanifestasikan dalam bentuk agresivitas, memusuhi otoritas, setia pada kelompok, suka melakukan kejahatan pengeroyokan, serta pembunuhan.

3. Anak yang menutup diri berlebihan (over inhibited children) adalah anak yang tidak dapat menyesuaikan diri karena neurosis. Sikap anak tipe ini dimanifestasikan dalam bentuk over sensitive, sangat pemalu, menarik diri dari pergaulan, mudah tertekan, rendah diri.

Sebagaimana jenis ketunaan yang lain, anak yang dikategorikan berkelainan perilaku dapat dikelompokkan dalam jenjang, mulai jenjang sangat ringan sampai sangat berat. Meskipun demikian, hal itu tidak tersusun secara eksplisit sebab batas antara jenjang yang satu dengan yang lain sangat tipis dan samar. Berikut ini beberapa hal yang dapat digunakan untuk menentukan intensitas berat ringannya ketunalarasan (Riadi, 1978; Patton, 1991; Efendi 2006).

1. Besar kecilnya gangguan emosi. Semakin dalam perasaan negatif yang ada pada anak, semakin berat penyimpangan anak.

2. Frekuensi tindakan. Semakin sering dan tidak menunjukkan penyesalan dalam melakukan perbuatan

tidak baik, semakin dianggap berat penyimpangannya.

3. Berat ringannya kejahatan yang dilakukan. Dengan pertimbangan peraturan hukum pidana dapat diketahui berat ringannya pelanggaran, termasuk sanksi hukumnya.

4. Tempat dan situasi pelanggaran atau kenakalan dilakukan. Anak yang berani berbuat kenakalan di rumah, di sekolah atau di masyarakat sudah menunjukkan tingkat kenakalan yang berbeda mengingat konsekuensi-konsekuensi yang bisa diterimanya.

5. Mudah sulitnya dipengaruhi untuk bertingkah laku baik. Para pendidik atau orangtua dapat mengetahui seberapa jauh tingkat penyimpangan melalui cara yang digunakan untuk memperbaiki anak.

6. Tunggal atau gandanya ketunaan yang dialami. Jika anak tunalaras mempunyai ketunaan lain, ia termasuk dalam kategori berat dalam pembinaannya.

3.4.5 Asesmen Tunalaras

Secara sistematis, berikut ini ada beberapa cara untuk menetapkan tunalaras:

1. Psikotes

Psikotes dilakukan untuk mengetahui kematangan sosial dan gangguan emosi. Adapun alat tes lain yaitu tes proyektif yang memiliki beberapa jenis, yaitu:

Tes rorshach. Tes ini memberikan gambaran mengenai keseluruhan kepribadian, kelainan, dan perlunya psikoterapi. Gambaran ini ditafsirkan dari reaksi anak terhadap gambar-gambar yang terbuat dari tetesan tinta.

Thematic Apperception Test (TAT). Tes ini memperlihatkan berbagai situasi-emosi dalam bentuk gambar-gambar. Gambaran kepribadian Nampak dari tafsiran anak mengenai situasi emosi tersebut. Untuk itu, disediakan skala khusus.

Tes gambar orang (Draw A Person). Dalam tes ini, persoalan-persoalan emosi nampak dari gambar orang yang harus dibuat oleh anak.

Dispert fable tes. Tes ini memberikan gambaran mengenai iri hati, rasa dosa, rasa cemas, tanggapan terhadap diri sendiri, ketergantungan kepada orangtua, ungkapan protes terhadap lingkungan.

Psikotes dan tes kepribadian melalui tes proyektif dilakukan dan dianalisis oleh psikolog dan dilakukan tindak lanjut melalui kerjasama dengan psikiater, konselor dan terapis. Pemeriksaan dan terapi komprehensif biasa dilakukan di bawah lembaga resmi seperti fakultas psikologi, fakultas kedokteran, lembaga kesehatan jiwa, balai bimbingan dan penyuluhan, biro konsultasi psikologi dan tempat praktek individu.

2. Sosiometri

Sosiometri adalah alat tes yang digunakan untuk mengetahui suka atau tidaknya seseorang. Caranya ialah tanyakan kepada para anggota kelompoknya yang mereka sukai. Setiap anggota hendaknya memilih menurut pilihannya sendiri. Dari jawaban itu akan diketahui orang lain yang disukai oleh para anggota. Yang perlu diketahui bahwa hasil-hasil sosiometri adalah hasil sementara yang perlu ditelaah lebih lanjut. Anak yang terpencil dari suatu kelompok masyarakat belum tentu anak yang tunalaras, bahkan mungkin tidak terpencil lagi dalam sosiometri berikutnya. Walaupun demikian, sosiometri dapat dipakai bersama- sama dengan cara yang lain.

Dalam dokumen Dinie Ratri Buku Psikologi ABK 2016 (Halaman 69-72)