• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pernah Mengalami Kehidupan di Masa yang Lain

Dalam dokumen Dinie Ratri Buku Psikologi ABK 2016 (Halaman 84-89)

Menurut Walker, dkk (dalam Mangunsong 2011) anak, keluarga dan sekolahnya melekat pada budaya yang mempengaruhi mereka Nilai dan standar tingkah laku telah

3. Pernah Mengalami Kehidupan di Masa yang Lain

Nancy Ann Tappe (dalam Carroll & Tober, 1999 dalam Mangunsong, 2011) mengatakan bahwa sebagian anak Indigo baru pertama kali ada di dunia, sebagian lain sudah pernah ke dimensi ketiga, dan sebagian lainnya datang dari planet lain, yaitu mereka yang termasuk indigo interdimensional. Mereka mungkin datang bersama karma. Ketika Anda melihat anak Indigo baru dilahirkan sampai 2 tahun, mereka mungkin dapat mengingat masa kehidupan mereka yang lain.

Selain ketiga kemampuan spiritual di atas, anak-anak Indigo umumnya juga memiliki kemampuan merasakan perasaan yang sebenarnya. Anak Indigo dapat mengetahui perasaan seseorang yang disembunyikan atau bahkan tidak disadari oleh orang tersebut. Hal ini terjadi pada anak laki-laku berusia 2,5 tahun yang terus bertanya pada ibunya apakah ibunya marah. Setelah berusaha menganalisis, memang benar bahwa sang ibu memiliki perasaan kecewa dan kesal yang telah ia sembunyikan baik-baik. Anak- anak Indigo juga dapat berbicara mengenai Tuhan dan kemanusiaan meskipun usianya masih kecil. Ketika ditanya oleh ibunya mengenai apakah Tuhan itu, seorang Indigo berusia 4 tahun menjawab. “Tuhan adalah sebuah bola yang sangat besar dan bersinar serta bermahkota – bola tersebut menyentuh semuanya dan menjadi baik!” (Carroll & Tober, 2001 dalam Mangunsong, 2011).

3.6.3 Identifikasi Anak Indigo

Sumarlis (2003, dalam Mangunsong, 2011) menyebutkan empat hal yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi anak Indigo, yaitu:

1. Lapangan Aura

Foto aura dapat digunakan untuk melihat lapangan aura yang mengelilingi anak, anak memiliki warna indigo (biru tua/nila) atau tidak. Foto dapat dilakukan melalui aura video station.

2. Kecerdasan

Tes IQ dengan skala Wechsler dapat digunakan untuk mengetahui kecerdasan anak sebagai salah satu ciri anak Indigo, yaitu kecerdasan di atas rata-rata. McCloskey (dalam Mangunsong, 2011) mengatakan bahwa tidak semua anak Indigo tergolong berbakat, tetapi hampir semua memiliki kecerdasan sangat superior minimal pada satu subtes.

3. Prestasi Belajar

McCloskey (dalam Mangunsong, 2011) mengatakan bahwa hasil tes prestasi belajar anak Indigo melalui tes prestasi belajar yang terstandardisasi minimal berada dalam kategori rata-rata. Namun, perlu diingat bahwa ketidaksesuaian karakteristik sekolah dapat menyebabkan anak Indigo tidak berprestasi optimal secara akademis.

4. Perilaku

Anak Indigo terkadang tidak berespon terhadap instruksi langsung (McCloskey dalam Mangunsong, 2011) dan bertingkah laku seakan destruktif.

Virtue (2001 dalam Mangungsong, 2011) memberikan 17 karakteristik Indigo, jika seseorang memiliki minimal 14 diantaranya, kemungkinan besar orang tersebut adalah Indigo. Jika seseorang memiliki 11-13 diantaranya, kemungkinan besar orang tersebut adalah “Indigo in training”, yaitu mereka yang sedang dalam pengembangan karakteristik-karakteristik indigo-nya, atau individu indigo yang dijauhkan dari talenta spiritualnya melalui pengaruh otoritas atau Ritalin. Ketujuh belas karakteristik tersebut adalah:

1. Berkemauan kuat

2. Lahir pada tahun 1978 atau setelahnya

3. Keras kepala

4. Kreatif, dengan gaya artistic dalam bidang musik, membuat perhiasan, puisi, dan seni.

5. Mudah teradiksi

6. Memiliki “old soul”. Misalnya mereka berusia 13 tahun, seakan 43 tahun

7. Intuitif atau spiritualis, pernah melihat malaikat atau orang mati 8. Isolasionis, melalui bertingkah laku agresif atau introversi yang rapuh

9. Independen dan bangga, meskipun mereka sering meminta uang kepada orang lain 10. Memiliki hasrat mendalam untuk membantu dunia dengan cara yang besar

11. Berada di antara harga diri yang rendah dan perasaan besar (grandiosity) 12. Mudah bosan

13. Mungkin pernah didiagnosa ADD atau ADHD

14. Mudah insomnia/sulit tidur, mimpi buruk, atau tidur tidak enak

15. Memiliki sejarah depresi, atau bahkan percobaan atau keinginan bunuh diri 16. Mencari persahabatan yang dalam, riil, dan abadi

17. Mudah menjalin hubungan dengan tanaman atau binatang

3.6.4 Dampak Perkembangan Anak Indigo

Karakteristik-karakteristik unik yang dimiliki anak Indigo membuat mereka berbeda dan sering dipandang “aneh” oleh orang biasa. Hal inilah yang membuat anak-anak Indigo mengalami masalah terutama dalam hubungannya dengan orang lain. Tiga masalah yang seringkali terlihat dalam kehidupan anak Indigo (Gerard dalam Mangunsong, 2011), adalah:

1. Anak indigo menuntut perhatian lebih dan merasa bahwa hidup terlalu berharga untuk dilewati begitu saja. Biasanya menginginkan hal-hal tertentu terjadi dan seringkali memaksakan situasi upaya sesuai dengan harapan mereka. Orang tua seringkali jatuh dalam “jebakan” ini dengan memilih untuk mengikuti keinginan anak mereka daripada menjadi role model atau berbagi dengan anak. Ketika ini terjadi, maka hampir dapat dipastikan bahwa anak akan mengikuti orang tuanya kemanapun seakan tidak dapat dilepaskan, dengan kata lain akan terbentuk insecure attachment.

2. Anak indigo seringkali merasa dikecewakan oleh teman-temannya yang tidak memahami fenomena indigo. Mereka mengalami kesulitan menyesuaikan diri dengan anak-anak lain. Mereka sebenarnya mau membantu teman yang kesulitan, tetapi tawaran membantu tersebut sering ditolak.

3. Anak indigo sering dicap sebagai anak yang mengalami ADHD atau bentuk-bentuk hiperaktivitas lainnya. Hal ini dapat membuat anak merasa tidak mampu dan tidak menyadari kelebihan-kelebihan dalam dirinya.

3.6.5 Intervensi terhadap Anak Indigo

Mengingat adanya masalah-masalah yang dimiliki oleh anak Indigo, maka orang tua, guru, serta orang- orang yang terlibat dalam kehidupan anak Indigo perlu memggunakan cara-cara khusus pula dalam merawat dan membesarkan anak-anak Indigo. Carrol & Tober (1999, dalam Mangunsong, 2011) memberikan 10 dasar yang penting digunakan dalam membesarkan anak Indigo, yaitu:

1. RESPEK. Perlakukan anak Indigo dengan hormat. Hargai keberadaan mereka dalam keluarga. Terkadang biarkan mereka yang memiliki kontrol. Jika kita mengisolasi mereka, mereka akan menggambari dinding rumah atau merobek karpet kita. Jika ingin anak Indigo bersikap kooperatif, kita tidak bisa mengisolasinya. Anak Indigo akan berkata, “Saya adalah bagian dari keluarga ini dan saya ingin dilibatkan.” Jika kita berkata bahwa kita mencintainya, tetapi kita tidak memperlakukan mereka dengan hormat, mereka tidak akan mempercayai kita.

2. KREATIF DAN FLEKSIBEL. Bantu anak Indigo untuk membuat solusi sendiri dalam mendisiplinkan diri. Untuk dapat melakukan ini, kita harus memiliki fleksibilitas dalam sudut pandang serta harapan terhadap anak kita. Hal ini tidak mudah, karena insting sebagai orang tua pada umumnya selalui ingin melindungi anak-anaknya. Secara otomatis orang tua selalu ingin memperjuangkan anak untuk sukses sehingga seringkali bertengkar dengan anak ketika orang tua

mendorong anak untuk mengerjakan pekerjaan rumah. Untuk itu kita harus kreatif serta melibatkan anak dalam membuat batas atau aturan-aturan. Minta anak untuk membantu menemukan batas-batas bagi dirinya sendiri.

3. BERIKAN PILIHAN. Anak Indigo haruslah diberikan pilihan-pilihan, tetapi sebelumnya berikan pengarahan terlebih dahulu kepada mereka. Katakan, “Sewaktu saya seumurmu, saya melakukan ini, dan itu terjadi. Bagaimana kamu akan mengatasi hal semacam itu?”. Atau, “Hari ini saya mengalami hari yang berat dan melelahkan sehingga saya sangat membutuhkan kerjasamamu. Jadi, kalau kamu mulai mendorong saya, saya akan berteriak. Kamu tidak suka kan kalau saya berteriak? Saya pun tidak suka berteriak. Oleh karena itu, begini perjanjian kita: kamu membantuku dan bekerjasama denganku, setelah selesai kita akan pergi membeli es krim. Bagaimana?”. Orang tua pun sebaiknya mengingat janjinya tersebut.

4. JANGAN PERNAH BIARKAN MEREKA DOWN. Ketika kita mencintai anak dan mengakui keberadaannya, maka anakIndigoakan terbuka kepada kita.

5. PENJELASAN. Selalu berikan penjelasan ketika menginstruksikan sesuatu. Sekedar memberi perintah tidaklah efektif. Disinilah sistem sekolah mengalami kegagalan, karena sistem sekolah seringkali memiliki peraturan absolut tanpa penyimpangan sedikit pun, yaitu “jangan bertanya, jangan memberitahu.” Anak-anak ini akan bertanya dan memberitahu. Mereka akan bertanya, “Mengapa? Mengapa aku harus melakukan itu?” atau “Jika aku harus melakukannya, aku akan melakukannya dengan caraku sendiri.” Anak-anak ini memiliki aturan dunia yang ideal. Mereka sungguh-sungguh mengharapkan kita untuk menjadi orang tua mereka. Mereka ingin kita duduk dan meluangkan waktu dengan mereka.

6. PARTNER. Jadikan anak partner dalam membesarkan diri mereka sendiri. Ajaklah anak bicara, jangan sekedar berkata, “Jawabannya adalah tidak!”. Anak-anak ini tidak akan menerima jawaban seperti itu. jika orangtua berkata, “Tidak, kamu tidak boleh bertanya”, maka anak-anak ini akan keluar dan mencari jawabannya sendiri. Mereka akan merasa bahwa orangtua tidak mengetahui jawabannya.

7. Ketika anak indigo masih bayi, jelaskan kepada anak apa yang sedang orangtua lakukan. Anak tidak akan memahami orangtua, tetapi kesadaran dan penghormatan orangtua atas anak yang akan dirasakan. Contohnya, “tunggu ya nak, sekarang ibu akan membuatkan makanan ringan kesukaanmu. Ibu ingin kamu senang, ibu juga senang, dan kita bisa menghabiskan waktu bersama setelah selesai makan…”.

Hegerle (1999 dalam Mangunsong, 2011) menambahkan bahwa orang tua perlu bersikap jujur dan mencegah anak Indigo mengalami kebosanan, sebab anak Indigo sangat menghargai kejujuran dan tidak menyukai kebosanan. Kejujuran adalah kekuatan mereka. Jika orangtua tidak jujur dan terbuka terhadap anak indigo, anakpun akan demikian dan tidak akan menghormati orangtua. Bagi anak indigo, hal tersebut adalah sesuatu yang serius. Anak indigo akan bertahan dengan integritasnya sampai orangtua menyadarinya, menyerah, atau menerima. Mereka tidak menghargai orang yang tidak mau bekerja melalui proses, dan menyerah berarti orangtua tidak melakukan tugasnya. Jika menerima, berarti orangtua sedang tetap mengerjakan isu tersebut dan anak indigo menghargai hal itu. Jika orangtua dapat menyadari dan mengakui talenta yang luar biasa ini, itu yang sangat diharapkan anak indigo dan perkembangannya akan berjalan dengan baik.

Hal kedua adalah mengenai kebosanan. Anak Indigo akan mudah menjadi arogan jika bosan. Ketika bertingkah arogan, berarti anak indigo membutuhkan tantangan dan batasan baru. Membiarkan otak anak indigo bekerja adalah cara terbaik untuk mencegah mereka melakukan hal-hal yang tidak baik. Jika orangtua telah melakukan ini tetapi anak tetap bertingkah arogan, mungkin anak hanya sedang mencari pengalaman yang memperkaya pengalaman hidup mereka dan sebaiknya orangtua membiarkan hal itu terjadi.Pada dasarnya, anak-anak Indigo sangat butuh merasa dipahami, dicintai, dan dihargai, sehingga dapat menjadi diri sendiri dan menggunakan apa yang dimiliki untuk kebaikan banyak orang.

Kasus Indigo

Setelah pernah mendapat cap sebagai anak indigo, Vincent Liong yang lahir pada tanggal 20 Mei 1985 mengaku hidupnya menjadi kurang nyaman. Gerak-geriknya selalu jadi bahan sorotan. Yang menyebalkan, “Saya dibilang anak aneh dan selalu disalahkaprahi,” kata dia. “Tidak ada yang ajaib dari anak indigo,” katanya dengan tegas. Sejak dipublikasikan media massa pada 2004, label indigo serta merta melekat dalam diri Vincent. Kebebasannya terenggut. Vincent pun mulai berhenti menulis soal-soal metafisika.Ia merasa terus disorot dan dalam kadar tertentu merasa terusik.

Vincent yang ketika duduk di bangku kelas dua sebuah sekolah menengah umum ini sudah menulis artikel psikologi dan spiritual dalam sudut pandang tak biasa sejak sekolah dasar. Ia dikarunia kecerdasan filosofis yang tinggi. Bukunya diluncurkan oleh penerbit terkemuka dan dikagumi banyak kalangan. Bahkan, tulisannya pernah dimuat di halaman pembuka buku dari sastrawan terkemuka Indonesia, Pramudya Ananta Toer. Dua karangan filosofis lainnya juga siap beredar.

Mungkin karena minatnya yang sangat besar pada dunia tulis-menulis, dahulu Vincent tidak terlalu berminat dengan beberapa mata pelajaran di sekolahnya. Orangtuanya yang tergolong demokratis pun sering tidak mengerti apa yang diingini anaknya yang ber-IQ antara 125-130 ini. “Dia keras kepala. Ketika dibangku sekolah ia tidak mau ikut ujian matematika,” sambung Liong, ayahnya.

Vincent mengaku “takut” pada matematika sejak kecil, tapi mengaku disiplin pada aturan mainnya sendiri. “Sejak kecil aku bingung pada dogma satu tambah satu sama dengan dua. Aku juga bingung dengan ilmu ekonomi karena dalam realitas sosial berbeda,” tegas Vincent. Toh sang ibu sudah menengarai keistimewaan anaknya sejak bayi. Waktu SD, Vincent biasa bergaul dengan gurunya, dan orang-orang setua gurunya. Pertanyaannya banyak dan sangat kritis. “Saya langganan dipanggil guru bukan hanya karena anak itu sulit. tetapi juga karena karangan-karangannya membuat guru-gurunya kagum,” ujar Ny. Ina.

Vincent sudah menulis tentang teleskop berdasarkan pengamatan dan referensi pada usia SD. “Di rumah ia membawa ensiklopedi yang besar-besar itu ke kamarnya,” ujar Ny Ina. “Kamarnya kayak kapal pecah. Tidurnya dini hari karena menulis,” sambung Liong. “Saya sering meminta agar ia menyelesaikan pendidikan formalnya dulu, karena bagaimanapun itu sangat penting,” lanjut Liong.

BAB 4

Dalam dokumen Dinie Ratri Buku Psikologi ABK 2016 (Halaman 84-89)