• Tidak ada hasil yang ditemukan

Perkembangan Sosial, Emosi, dan Kepribadian

Dalam dokumen Dinie Ratri Buku Psikologi ABK 2016 (Halaman 105-108)

KASUS DAN PEMBAHASAN

2. Perkembangan Sosial, Emosi, dan Kepribadian

a. Perkembangan Sosial Anak Tunadaksa

Faktor utama terjadinya hambatan sosial ini bersumber pada sikap keluarga, teman-teman dan masyarakat. Ahmad Toha Muslim dan Sugiarmin (1996) menjelaskan bahwa sikap, perhatian keluarga dan lingkungan terhadap anak tunadaksa dapat mendorong anak untuk meningkatkan kemampuan bersosialisasi. Sikap-sikap positif yang ditunjukkan orang tua maupun teman-temannya akan lebih membantu anak dalam penerimaan diri terhadap kenyataan yang dihadapi, sehingga masalah-masalah perkembangan sosial dapat diatasi.

b. Perkembangan Emosi Anak Tunadaksa

Ketunaan yang ada pada anak tunadaksa secara khusus tidak akan menghambat dalam perkembangan emosi pada anak tunadaksa. Hambatan ini dialami setelah anak mengadakan interaksi dengan lingkungannya. Seringnya ditolak, seringnya mengalami kegagalan, ditambah kurangnya dukungan dari orangtua, menyebabkan anak tunadaksa sering nampak muram, sedih dan jarang menampakkan rasa senang.

c. Perkembangan Kepribadian Anak Tunadaksa

Perkembangan kepribadian anak banyak dimatangkan melalui pengalaman usia dini, terkait dengan keadaan fisik dan hal-hal yang mempengaruhi yaitu kesehatan, pemberian cap/labelling dari orang lain, intelegensi, pola asuh orangtua dan sikap masyarakat. Pada usia dini anak tunadaksa mengalami gangguan dalam fungsi mobilitas, gangguan pada waktu merangkak, berguling, berdiri dan berjalan. Kondisi ini apabila didukung dengan sikap yang negatif dari keluarga maupun masyarakat akan menjadikan pengalaman di usia dini yang sangat menyakitkan, dan dapat menjadikan pengalaman- pengalaman yang traumatis pada anak. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Tin (2008) dengan menggunakan tes grafis, ternyata ditemukan sebagian besar anak tunadaksa mempunyai perasaan rendah diri (minder), kurang percaya diri, kematangan sosialnya kurang, memiliki kondisi emosional negatif, menentang lingkungan, tertutup, mengalami kekecewaan hidup, dan kompensensi.

4.4 CEREBRAL PALSY

4.4.1 Pengertian Cerebral Palsy

Cerebral palsy menurut asal katanya berasal dari dua kata, yaitu cerebral atau cerebrum yang berarti otak, dan palsy yang berarti kekakuan. Menurut arti kata, cerebral palsy berarti kekakuan yang disebabkan oleh adanya kerusakan yang terletak di dalam otak.

Dapat disimpulkan bahwa cerebral palsy merupakan bagian dari tunadaksa, yaitu adanya kelainan gerak, sikap, ataupun bentuk tubuh, gangguan koordinasi dan bisa disertai gangguan psikologis dan sensoris, yang disebabkan oleh adanya kerusakan atau kecacatan pada masa perkembangan otak.

4.4.2 Karakteristik Cerebral Palsy

Anak cerebral palsy mengalami kerusakan pada pyramidal tract dan extrapyramidal. Kedua sistem tersebut berfungsi mengatur sistem motorik manusia. Oleh karena itu, anak mengalami gangguan fungsi motoriknya. Gangguan tersebut berupa kekakuan, kelumpuhan, gerakan-gerakan yang tidak dapat dikendalikan, gerakan ritmis, dan gangguan keseimbangan.

Selain gangguan motorik, anak tunadaksa juga ada yang mengalami gangguan pada fungsi sensoris. Gangguan itu berupa penglihatan, pendengaran, perabaan, dan kemampuan kesan gerak dan raba (tactile- kinesthetic).

Tingkat kecerdasan anak cerebral palsy pun berentang, mulai dari tingkat yang paling dasar, yaitu idiocy sampai gifted. Pengungkapan kemampuan tingkat kecerdasan anak cerebral palsy banyak mengalami kesukaran dan hambatan. Hambatan itu terjadi karena anak cerebral palsy mengalami gangguan bicara sehingga sukar mengemukakan jawaban saat menjalani tes, selain itu perangkat tes juga bisa memberikan hasil yang tidak valid.

Dari hasil penelitian ditemukan bahwa penyesuaian sosial anak-anak cerebral palsy rendah. Penyesuaian sosial seseorang berkaitan erat dengan konsep diri (Sawrey dan Telfold, dalam Widati, 2013). Konsep diri merupakan penilaian seseorang terhadap dirinya. Konsep diri bukan merupakan bawaan, tetapi diperoleh anak melalui interaksi dirinya dengan lingkungan.

4.4.3 Klasifikasi Cerebral Palsy

Cerebral palsy dapat digolongkan menjadi beberapa bagian, di antaranya: 1. Menurut Derajat Kecacatan

a. Golongan ringan (Mild)

Anak-anak yang termasuk ke dalam golongan ini adalah mereka yang dapat berjalan tanpa menggunakan alat, berbicara tegas, dapat menolong dirinya sendiri dalam kehidupan sehari-hari. Meskipun cacat, tapi tidak akan mengganggu kehidupannya sehingga dapat beraktifitas dengan anak- anak normal lainnya.

b. Golongan sedang (Moderate)

Golongan sedang dicirikan dengan mereka yang memerlukan latihan khusus untuk berbicara, berjalan, dan mengurus dirinya sendiri. Golongan ini memerlukan alat-alat khusus seperti brace, crutches untuk memperbaiki cacatnya.

c. Golongan berat (Severe)

Yang termasuk ke dalam golongan ini adalah anak-anak yang tetap membutuhkan perawatan tetap dalam ambulasi, bicara, dan menolong dirinya sendiri. Prognosis hasil usaha peningkatan jelek, sehingga mereka tidak dapat hidup sendiri di tengah-tengah masyarakat.

2. Menurut Topografi

a. Monoplegia, yaitu hanya satu anggota gerak yang lumpuh. Misalnya kaki kiri, kaki kanan dan kedua tangan normal.

b. Hemiplegia, yaitu lumpuh anggota gerak atas dan bawah pada sisi yang sama. Misalnya tangan kanan dan kaki kanan, tangan kiri dan kaki kiri.

c. Paraplegia, yaitu lumpuh pada kedua buah tungkai atau kakinya.

d. Diplegia, yaitu lumpuh kedua tangan kanan dan kiri atau kedua kaki kanan dan kiri (untuk kaki disebut juga paraplegia).

e. Triplegia, yaitu tiga anggota gerak mengalami kelumpuhan. Misalnya, tangan kanan dan kedua kakinya lumpuh, atau tangan kiri dan kedua kakinya lumpuh.

f. Quadriplegia, yaitu menderita kelumpuhan pada seluruh anggota geraknya, yang disebut juga dengan

tetraplegia.

3. Menurut Fisiologi

Berdasarkan fungsi letaknya (motorik), digolongkan: a. Spastik

Anak yang mengalami sistem ini menunjukkan kekejangan pada otot-ototnya, yang disebabkan oleh gerakan-gerakan kaku dan akan hilang dalam keadaan diam (tidur). Pada umumnya kekejangan ini akan menjadi hebat jika anak dalam keadaan marah atau sebaliknya dalam keadaan tenang.

b. Athetoid

Anak yang mengalami athetoid, tidak mengalami kekejangan atau kekakuan. Otot-ototnya dapat bergerak dengan mudah, malah sering terjadi gerakan-gerakan yang timbul di luar kendalinya. Gerakan ini terdapat pada tangan, kaki, lidah, bibir dan mata.

c. Tremor

Anak yang mengalami tremor sering melakukan gerakan-gerakan kecil yang berulang-ulang. Sering dijumpai anak yang salah satu anggota tubuhnya selalu bergerak.

d. Rigid.

Gerakan-gerakannya golongan ini tampak sangat lambat dan kasar. e. Ataxia

Kelainannya terletak di otak kecil (cerebellum) sehingga penderita mengalami gangguan keseimbangan.

Klasifikasi lain berdasarkan letak kerusakannya: 1. Kerusakan Kulit Otak (Cortex Otak)

Fungsi korteks berhubungan dengan fungsi pergerakan otot, perasaan dan pikiran. Anak dengan Cerabral Palsy tipe ini memperlihatkan kelumpuhan atau kelemahan otot yang sering disertai gangguan pertumbuhan dan perkembangan. Kelumpuhan bersifat spastik atau berbentuk kaku. Kelumpuhan ini bisa mengenai satu atau dua tungkai, separuh tubuh kiri/kanan, atau mengenai keempat anggota tubuh.

Dalam dokumen Dinie Ratri Buku Psikologi ABK 2016 (Halaman 105-108)