KASUS DAN PEMBAHASAN
8. Cacat Anggota Tubuh
4.4.6 Layanan Pendidikan dan Rehabilitasi Anak Tunadaksa
Layanan pendidikan anak tunadaksa memiliki subtansi-subtansi, diantaranya mengenai tujuan pendidikan anak tunadaksa, tempat pendidikan, sistem pendidikan, dan pelaksanaan kegiatan belajar mengajar bagi anak tunadaksa.
1. Tujuan Pendidikan Anak Tunadaksa
Tujuan pendidikan anak tunadaksa mengacu pada Peraturan Pemerintah No. 72 Tahun 1991 agar peserta didik mampu mengembangkan sikap, pengetahuan, dan keterampilan sebagai pribadi maupun anggota masyarakat dalam mengadakan hubungan timbal balik dengan lingkungan sosial, budaya, dan alam sekitar serta dapat mengembangkan kemampuan dalam dunia kerja atau mengikuti pendidikan lanjutan. Sasaran pendidikan pada tunadaksa bersifat dual purpose (ganda), yaitu berkaitan dengan pemulihan fungsi fisik dan pengembangan dalam pendidikannya. Tujuan utamanya adalah terbentuknya kemandirian dan keutuhan pribadi anak tunadaksa.
Pendidikan anak tunadaksa perlu mengembangkan 7 aspek, yaitu: a. Pengembangan Intelektual dan Akademik
Dapat dilaksanakan secara formal di sekolah melalui kegiatan pembelajaran. Di sekolah khusus anak tunadaksa (SLB-D) tersedia seperangkat kurikulum dengan semua pedoman pelaksanaannya, namun hal yang lebih penting adalah pemberian kesempatan dan perhatian khusus pada anak tunadaksa untuk mengoptimalkan perkembangan intelektual dan akademiknya.
b. Membantu Perkembangan Fisik
Dalam proses pendidikan, guru turut bertanggung jawab terhadap pengembangan fisiknya dengan cara bekerja sama dengan staf medis. Hambatan utama dalam belajar adalah adanya gangguan motorik, sehingga guru membantu memelihara kesehatan fisik anak, mengoreksi gerakan anak yang salah dan mengembangkan ke arah gerak yang normal.
c. Meningkatkan Perkembangan Emosi dan Penerimaan Diri Anak
Dalam proses pendidikan, para guru bekerja sama dengan psikolog untuk menanamkan konsep diri yang positif terhadap ketunaan agar dapat menerima dirinya. Hal ini dapat dilakukan dengan menciptakan lingkungan sekolah yang kondusif sehingga dapat mendorong terciptanya interaksi yang harmonis.
d. Mematangkan Aspek Sosial
Aspek sosial meliputi kegiatan kelompok dan kebersamaan yang perlu dikembangkan melalui pemberian peran kepada anak tunadaksa agar turut serta bertanggung jawab atas tugas yang diberikan serta dapat bekerja sama dengan kelompoknya.
e. Mematangkan Moral dan Spiritual
Dalam proses pendidikan perlu diajarkan kepada anak tentang nilai-nilai, norma kehidupan, dan keagamaan. Hal ini perlu ditanamkan agar anak tunadaksa memiliki kematangan moral dan spiritual, menerima secara ikhlas keadaan dirinya dan mau terus berupaya untuk mandiri dan mengembangkan potensinya serta bermanfaat bagi lingkungan.
f. Meningkatkan ekspresi diri
Ekspresi diri anak tunadaksa perlu ditingkatkan melalui kegiatan kesenian, keterampilan atau kerajinan.
g. Mempersiapkan Masa Depan Anak
Dalam proses pendidikan, guru dan personel lainnya bertugas untuk menyiapkan masa depan anak. Hal tersebut dapat dilakukan dengan cara membiasakan anak bekerja sesuai dengan kemampuannya, membekali mereka dengan latihan keterampilan yang menghasilkan sesuatu yang dapat dijadikan bekal hidupnya.
2. Rehabilitasi Anak Tunadaksa
Rehabilitasi bagi penyandang tunadaksa yang dimaksud adalah agar anak memiliki kesanggupan untuk berbuat sesuatu yang berguna baik bagi dirinya maupun orang lain. Kelainan pada fungsi anggota tubuh, baik yang tergolong pada tunadaksa ortopedi maupun neurologis akan berpengaruh terhadap kemampuan fisik, mental, dan sosial dalam meniti tugas perkembangannya. Oleh karena itu, tekanan rehabilitasi penderita tunadaksa hendaknya menitikberatkan kepada aspek-aspek tersebut. Jenis rehabilitasi bagi penyandang tunadaksa menurut kebutuhannya, antara lain:
a. Rehabilitasi Medis
Dalam rehabilitasi medis ada beberapa teknik yang dapat digunakan, antara lain operasi ortopedi, fisioterapi, actives in daily living (ADL), occupational therapy atau terapi tugas, pemberian protease, pemberian alat-alat ortopedi, dan bantuan teknis lainnya. Operasi ortopedi dilakukan sebagai usaha untuk memperbaiki salah bentuk dan salah gerak dengan mengurangi atau menghilangkan bagian yang menyebabkan terjadinya kesalahan bentuk atau gerak.
Fisioterapi adalah melatih otot-otot bagian badan yang mengalami kelainan. Fisioterapi ini dilakukan sebelum dan sesudah dilakukan tindakan medis. Dalam latihan ini melibatkan otot atau gerak secara aktif melalui berbagai kegiatan fisik, latihan berjalan, latihan keseimbangan, dan dengan bantuan alat. Untuk latihan fisioterapi ini sarana dan metode yang digunakan sangat bervariasi, meliputi pengunaan air (bydrotherapy), penggunaan panas sinar (thermotherapy), penggunaan listrik (electric therapy), penggunaan gerak-gerak (kinesiotherapy), atau melalui pemijatan (massage).
Activities daily living adalah latihan berbagai kegiatan sehari-hari, dengan maksud untuk melatih penderita agar mampu melakukan gerakan atau perbuatan menurut keterbatasan kemampuan fisiknya. Latihan kegiatan sehari-hari dapat dikaitkan dengan aktivitas di lingkungan rumah maupun dalam hubungannya dengan pekerjaan dan kehidupan sosialnya.
Occupational therapy adalah bentuk usaha atau aktifitas bersifat fisik dan psikis dengan tujuan membantu penderita tunadaksa agar menjadi lebih baik dan kuat dari kondisi sebelumnya melalui sejumlah tugas atau pekerjaan tertentu. Sarana yang dapat digunakan dalam kegiatan terapi tugas ini antara lain melukis, memahat, membuat kerajinan tangan, menyulam, merajut, untuk melatih kemampuan tangan.
Pemberian protease adalah pemberian perangkat tiruan untuk mengganti bagian-bagian dari tubuh yang hilang atau cacat, misalnya kaki tiruan, tangan tiruan, mata tiruan, gigi tiruan. Dilihat dari kegunaannya protease bagi penyandang tunadaksa dapat bersifat fungsional (mampu menggantikan fungsi tubuh lain) dan bersifat kosmetik (sebagai pelengkap untuk menambah kepantasan atau keindahan). Perangkat ortopedi adalah perangkat yang berfungsi untuk menguatkan bagian-bagian tubuh yang lemah atau layu.
b. Rehabilitasi Vokasional
Rehabilitasi vokasional atau karya adalah rehabilitasi penderita tunadaksa yang bertujuan untuk memberi kesempatan mereka untuk bekerja. Metode atau pendekatan yang lazim digunakan dalam rehabilitasi vokasi ini, antara lain:
1) Counseling, adalah penyuluhan yang bertujuan untuk menumbuhkan keberanian atau kemauan
penderita tunadaksa yang diperoleh setelah lahir.
2) Revalidasi, merupakan upaya mempersiapkan fisik, mental, dan sosial anak tunadaksa untuk
memperoleh bimbingan jabatan dan latihan kerja.
3) Vocasional guide, adalah pemberian bimbingan kepada penderita tunadaksa dalam kaitannya
pemilihan jabatan yang sesuai dengan kondisinya.
4) Vocasional assessment, merupakan penilaian terhadap kemampuan penyandang kelainan melalui
5) Team work, adalah kerjasama antar berbagai ahli yang tergabung dalam tim rehabilitasi, seperti kedokteran, ahli terapi fisik, pekerja sosial, konselor, psikolog, ortopedagog.
6) Vocasional training, adalah pemberian kesempatan latihan kerja agar penyandang tunadaksa
mandiri dan produktif, serta berguna bagi masyarakat di sekitarnya.
7) Selective placement, adalah penempatan para penyandang tunadaksa pada jabatan setelah selesai
menjalani pendidikan dan latihan selama rehabilitasi.
8) Follow up, adalah tindak lanjut yang dilaksanakan setelah penyandang tunadaksa menempati
jabatan pekerjaan.
c. Rehabilitasi Psikososial
Rehabilitasi psikososial adalah rehabilitasi untuk mengurangi dampak psikososial yang kurang menguntungkan bagi perkembangan anak tunadaksa. Pelaksanaan rehabilitasi psikososial dalam kaitannya dengan program rehabilitasi yang lain dilakukan secara bersamaan dan terintegrasi. Sasaran yang hendak dicapai dalam program rehabilitasi psikososial ini secara khusus, yaitu:
1) Meminimalkan dampak psikososial sebagai akibat kelainan yang dideritanya, seperti rendah diri, putus asa, mudah tersinggung, cemas, lekas marah, dan depresi.
2) Meningkatkan kemampuan dan kepercayaan diri, memupuk semangat juang dalam meraih kehidupan dan penghidupan yang lebih baik, serta menyadarkan pada tanggung jawab diri sendiri, keluarga, masyarakat dan negara.
3) Mempersiapkan mental penyandang kelainan kelak setelah terjun di masyarakat sehingga dapat berperan aktif tanpa harus merasa canggung atau terbebani oleh ketunaan atau kelainannya.
KASUS
Pada tanggal 27 Agustus 2013 pasien datang bersama ibunya ke Instalasi Rehabilitasi Medik Rumah Sakit Abdul Malik dengan keluhan belum bisa duduk dan berjalan sesuai dengan usianya. Menurut keterangan dari ibu pasien, saat berusia 3 bulan pasien dapat menggenggam jari tangan ibunya dengan kuat dan benda-benda yang diberikan kepadanya. Pasien juga dapat tengkurap dengan kepala diangkat saat usia 6 bulan. Pada usia 9 bulan pasien diajari untuk duduk, merangkak dan berjalan, namun pasien tidak melakukannya. Pasien dibantu berjalan oleh ibunya dengan memegang kedua tangannya, saat berjalan kedua kaki pasien tampak lurus dan suka menyilang saat melangkah, dan ketika ibu melepaskan tangannya, pasien pun jatuh.
Pasien hanya bisa mengucapkan 1 kata yaitu “mama” namun kurang jelas. Ibu pasien menyadari bahwa anaknya mengalami keterlambatan bicara, duduk dan berjalan yang seharusnya dapat dilakukan sesuai usianya. Pasien selalu dalam posisi tengkurap dan menyeret kakinya dalam kesehariannya. Pasien sulit bergaul dengan teman-teman sebayanya karena yang keadaannya sehingga pasien lebih sering bermain di rumah.
Pada riwayat prenatal, pemeriksaan saat kehamilan teratur dengan bidan dan merupakan kehamilan yang diinginkan. Ibu tidak memiliki riwayat penyakit saat hamil. Selama hamil ibu mengkonsumsi suplemen vitamin (tablet zat besi dan kalsium) yang didapatkan dari bidan. Ibu juga mendapatkan imunisasi tetanus toksoid sebanyak 2 kali. Ibu mengaku tidak minum jamu atau obat selama hamil. Sebelumnya Ibu menggunakan pil kontrasepsi.
Pada riwayat perinatal, persalinan pada saat usia kehamilan 8 bulan dengan berat badan 2700 gram dan panjang badan 38cm. Persalinan dibantu oleh bidan. Ibu mengalami ketuban pecah dini dengan lama persalinan 30 menit. Bayi lahir normal melewati jalan lahir dengan posisi letak kepala. Air ketuban jernih dan tidak berbau. Keadaan setelah dilahirkan langsung menangis kuat.
Pada riwayat postnatal, setelah satu hari lahir bayi tampak kuning dan langsung dibawa ke RSAM dan dirawat diruang neonatus. Sedangkan pada sosial ekonomi, kepala keluarga memiliki penghasilan sebesar Rp. !.500.000–Rp. 2.000.000/bulan. Jika ditinjau dari riwayat makanan, pasien mendapatkan ASI eksklusif selama 6 bulan dan makanan pendamping ASI. Ketika dilakukan pemeriksaan fisik. Keadaan umum pasien baik dengan frekuensi nadi 96×/menit, nafas 24×/menit, suhu 36,8C, berat badan 13kg, dan panjang badan 89cm, lingkar kepala 48cm, lingkar lengan 15cm, dan status gizi baik.
Pada pemeriksaan mata, didapatkan starbismus konvergen, pada pemeriksaan ekstremitas superior didapatkan reflek primitif yaitu grasping reflex yang positif pada kedua tanga. Pada ekstremitas inferior, didapatkan tonus otot hipertonus, spastik, dan scissor gait’s phenomena pada kedua kaki saat berjalan.
Pasien didiagnosa cerebral palsy. Insidensi dari Cerebral palsy sebanyak 2 kasus per 1000 kelahiran hidup, dimana 5 dari 1000 anak memperlihatkan defisit motorik yang sesuai dengan Cerebral palsy (Rudolf CD et al; 2003). Sekitar 50% kasus termasuk ringan dan 10% termasuk kasus berat. 25% memiliki intelegensia (IQ) rata-rata normal sementara 30% kasus menunjukkan IQ dibawah 70, 35% disertai kejang dan 50% menunjukan gangguan bicara. Laki-laki lebih banyak dari perempuan (1,4 : 1,0), dengan rata-rata 70 % ada pada tipe spastik, 15% tipe atetotic, 5% ataksia, dan sisanya campuran (Rudolf CD et al; 2003; Saharso D, 2006). Etiologi dari Cerebral palsy dapat dibagi menjadi 3 bagian yaitu prenatal, perinatal, dan pascanatal (Staf Pengajar IKA FKUI, 2007).