BAB II : LANDASAN TEORI
B. Komunikasi Kelompok
3. Klasifikasi Kelompok
Jalaluddin Rahmat dalam bukunya Psikologi Komunikasi, mengklasifi-kasikan kelompok berdasarkan pendapat ahli psikologi dan sosiologi sebagai berikut:
a. Kelompok Primer dan Kelompok Sekunder
Charles Harton Cooley mengatakan, “kelompok primer seperti hubungan keluarga, kawan-kawan sepermainan, tetangga dekat, terasa lebih akrab dan lebih personal dan menyentuh hati. Komunikasi kelompok primer bersifat dalam dan meluas menembus kepribadian yang paling tersembunyi.49”
Hal di atas senada dengan apa yang dikatakan oleh Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss dalam bukunya “Human Communication” tentang komunikasi primer. “Menurutnya komunikasi primer adalah unit sosial mendasar tempat kita bernaung. Keluarga kita merupakan kelompok primer kita yang pertama. Teman-masa teman kecil kita merupakan kelompokkecil lainnya.50”
Jika kelompok primer pada pengertian di atas adalah kelompok yang anggota-anggotanya berhubungan akrab, personal, dan menyentuh hati dalam asosiasi dan kerja sama, maka yang disebut dengan kelompok sekunder secara sederhana adalah lawan dari kelompok primer, yaitu kelompok yang hubungan anggotanya tidak akrab, tidak personal dan tidak menyentuh hati kita, seperti organisasi massa, serikat buruh dan sebagainya.
Jalaludin Rakhmat membedakan kelompok ini berdasarkan karakteristik komunikasinya, sebagai berikut:
1) “Kualitas komunikasi pada kelompok primer bersifat dalam dan meluas. Dalam, artinya menembus kepribadian kita yang paling tersembunyi, menyingkap unsur-unsur backstage (perilaku yang kita tampakkan dalam suasana privat saja). Meluas, artinya sedikit sekali kendala yang menentukan rentangan dan cara berkomunikasi. Pada kelompok sekunder komunikasi bersifat dangkal dan terbatas.”
49 Jalaluddin Rahmat, Psikologi Komunikasi, h., 142
50 Stewart L. Tubbs dan Sylvia Moss, Human Communication: Konteks-Konteks
2) “Komunikasi pada kelompok primer bersifat personal, sedangkan kelompok sekunder nonpersonal.”
3) “Komunikasi kelompok primer lebih menekankan aspek hubungan daripada aspek isi, sedangkan kelompok sekunder adalah sebaliknya.”
4) “Komunikasi kelompok primer cenderung ekspresif, sedangkan kelompok sekunder instrumental.”
5) “Komunikasi kelompok primer cenderung informal, sedangkan kelompok sekunder formal.51”
b. Kelompok Ingroup dan Outgroup
“Ingroup adalah kelompok kita, dan outgroup adalah kelompok
mereka. Ingroup dapat berupa kelompok primer maupun sekunder. Keluarga kita adalah ingroup yang kelompok primer. Fakultas kita adalah ingroup yang kelompok sekunder. Perasaan ingroup di-ungkapkan dengan kesetiaan, solidaritas, kesenangan, dan kerjasama. Untuk membedakan ingroup dan
outgroup, kita membuat batas (boundaries), yang menentukan siapa masuk
orang dalam, dan siapa orang luar. Batas-batas ini dapat berupa lokasi geografis (Indonesia, Malaysia), suku bangsa (Sunda, Jawa), pandangan atau ideologi (kaum Muslimin, kaum Nasrani, Marxis), pekerjaan atau profesi (dokter, tukang becak), bahasa (Jerman, Spanyol), status sosial (kelompok menengah, elit), dan kekerabatanm (keluarga, clans).52”
c. Kelompok Keanggotaan dan Kelompok Rujukan
Bila Cooley membagi kelompok primer dan sekunder, dan Sumner membagi kelompok menjadi kelompok ingroup dan outgroup, maka tahun 1930-an Theodore Newcomb membagi kelompok menjadi kelompok ke-anggotaan (membership group) dan kelompok rujukan (reference group).
Kelompok keanggotaan adalah kelompok yang anggota-anggotanya secara administrasi dan fisik menjadi anggota kelompok itu. Contohnya adalah tempat kuliah atau kampus misalnya Universitas Islam Negeri Sumatera Utara (UINSU) yang mana mahasiswa-mahasiswi itu semua adalah anggota civitas
51 Jalaluddin Rahmat, Psikologi …., h. 142-143.
academica UINSU. “Sedangkan kelompok rujukan adalah kelompok yang digunakan sebagai alat ukur (standard) untuk menilai diri sendiri atau membentuk sikap. Jika anda menggunakan kelompok itu sebagai teladan bagaimana seharusnya bersikap, maka kelompok itu menjadi kelompok rujukan positif; dan jika anda menggunakannya sebagai teladan bagaimana seharusnya kita tidak bersikap, maka kelompok itu menjadi kelompok rujukan negatif. 53”
Menurut teori kelompok rujukan mempunyai dua fungsi yaitu, fungsi komparatif, dan fungsi normatif. Fungsi kelompok rujukan mejadi tiga fungsi setelah Tamotsu Shibutani menambahkan satu fungsi lagi yaitu fungsi perspektif.
Contoh fungsi komparatif adalah apabila ada orang yang mengatakan “Saya menjadikan Islam sebagai kelompok rujukan saya untuk mengukur dan menilai keadaan status saya sekarang”.Adapun jika ia menambahkan perkataan, “sedangkan Islam juga memberikan kepada saya norma-norma dan sejumlah sikap yang harus saya miliki kerangka rujukan untuk membimbing prilaku saya. Perkataan tersebut disebut sebagai fungsi normatif. Selanjutnya apabila ia menambahkan perkataanya,“Islam juga memberikan saya cara memandang dunia ini, cara mendefinisikan situasi, mengorganisasikan pengalaman, dan memberikan makna pada berbagai objek, peristiwa dan orang yang saya temui. Perkataan tersebut dinamakan fungsi perspektif.
Para ahli persuasi sudah lama menyadari peranan kelompok rujukan dalam memperteguh atau mengubah sikap dan perilaku. Pada tahun 1973, Erwin P. Betinghaus menyebutkan cara-cara menggunakan kelompok rujukan dalam persuasi:
1) “Jika kita mengetahui kelompok rujukan khalayak kita, hubungkanlah pesan kita dengan kelompok rujukan itu, dan fokuskanlah perhatian mereka kepadanya. Gunakanlah kelompok rujukan positif yang dapat mendukung pesan kita jika ingin pesan kita diterima.”
2) “Kelompok-kelompok itu mempunyai nilai yang bermacam-macam sebagai kelompok rujukan. Contohnya yaitu mungkin bagi sebagian
53Ibid, h. 146.
orang, keluarga mungkin lebih penting dari organisasi masa, namun bagi orang lain mungkin dapat sebaliknya yaitu organisasi massa lebih penting daripada keluarga.”
3) “Kelompok keanggotaan jelas menentukan serangkaian perilaku yang baku bagi anggota-anggotanya. Untuk menambah peluang diterimanya pesan kita sebaiknya gunakan standar perilaku yang baku bagi anggota-anggotanya.”
4) “Suasana fisik komunikasi dapat menunjukkan kemungkinan satu kelompok rujukan didahulukan dari kelompok rujukan yang lain. Misalnya bagi para penonton bioskop, kelompok artis lebih baik ditonjolkan daripada kelompok para kiai. Sebaliknya di Masjid, para penonton rock tidak baik untuk dijadikan rujukan.”
5) “Kadang-kadang kelompok rujukan yang positif dapat dikutip langsung dalam pesan, untuk mendorong respons positif dari khalayak. Menurut Kiai Yazid, memilih PPP tidak wajib, begitu ujar juru kampanye Golkar di depan para santri sebuah pesantren.54”
Sarlito Wirawan Sarwono dalam bukunya “Psikologi Sosial Psikologi
Kelompok dan Psikologi Terapan”, menjelaskan bahwa jenis kelompok itu
sangat beragam sehingga sulit dibuat penggolongan yang baku. Penggolongan jenis kelompok tergantung pada tujuan penggolongan itu sendiri yaitu :
1) “Kelompok formal yaitu organisasi militer, perusahaan, kantor kecamatan. Kelompok nonformal yaitu arisan, geng, kelompok belajar, teman-teman bemain golf.”
2) “Kelompok kecil yaitu : dua sahabat, keluarga, dan kelas. Kelompok besar yaitu : divisi tentara, suku bangsa, bangsa.”
3) “Kelompok jangka pendek yaitu panitia, penumpang sebuah kendaraan umum. Kelompok jangka panjang yaitu bangsa, keluarga, tentara, dan sekolah.”
4) “Kelompok kohesif yaitu keluarga, panitia, romobongan haji atau umrah, geng, dan sahabat. Kelompok non kohesif yaiut penonton
54Ibid, h. 147.
bioskop, pembaca majalah, pengunjung pusat pertokoan, jamaah shalat Jumat.”
5) “Kelompok agresif yaitu pelajar tawuran, penumpang bus mengeroyok pencopet, demonstran. Kelompok konvensional (menaati peraturan) yaitu jamaah haji, penonoton bioskop, pengendara kendaraan di jalan raya.”
6) “Kelompok dengan identitas bersama yaitu keluarga, kesatuan militer, perusahaan, sekolah, universitas. Kelompok tanpa identitas bersama yaitu penonton, jamaah, penumpang bus.”
7) “Kelompok individual-otonomus yaitu masyarakat kota besar. Kelompok kolektif-relational yaitu masyarakat pedesaan.”
8) “Kelompok berbudaya tunggal yaitu masyarakat pedesaan tradisional, keluarga dari lingkungan budaya yang sama. Kelompok berbudaya majemuk yaitu masyarakat perkotaan, partai politik, keluarga antar agama.”
9) “Kelompok laki-laki yaitu tim sepak bola laki-laki, pasukan komando, jamaah shalat jumat. Kelompok wanita yaitu tim sepakbola wanita, polisi wanita, himpunan wanita karya. Kelompok wanita terbentuk karena kurangnya penghargaan jika kaum wanita bergabung dengan kelompok campuran pria-wanita.”
10) “Kelompok konsumen yaitu yayasan lembaga konsumen, kelompok ibu rumah tangga. Kelompok produsen yaitu pengusaha atau profesi, ikatan dokter, ikatan sarjana ekonomi.”
11) “Kelompok persahabatan yaitu arisan, teman bermain, kumpulan sahabat, kelompok golf, paguyuban alumni SMA. Kelompok yang telibat dalam tujuan bersama yaitu perusahaan, yayasan, dan instansi pemerintah.55”
Dari beberapa pengklasifikasian atau penggolongan dari jenis-jenis kelompok di atas, maka peneliti berpendapat bahwa kelompok teman sebaya termasuk dalam kelompok kohesif yaitu kelompok yang memiliki hubungan yang sangat erat antar anggotanya.
55 Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Sosial Psikologi Kelompok dan Psikologi