BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Respon 10 klon abaka terhadap infeksi Foc
Percobaan ini mengevaluasi munculnya gejala, rataan skor gejala dan intensitas penyakit layu Fusarium pada 10 klon abaka (Banjar, BL Manado, Cilacap, Cirebon, Layahan, Mb B, Sangihe-1, Sangihe-2, Tangongon dan UB3) setelah diinokulasi Foc isolat Banyuwangi. Satuan percobaan terdiri atas empat bibit abaka dan untuk masing- masing klon diulang 3 kali sehingga digunakan total 12 bibit abaka untuk setiap klon.
direndam selama 2 jam dalam suspensi konidia Foc dengan kerapatan 106 konidia/ml. Selanjutnya bibit abaka ditanam dalam kantong plastik berisi media tanam sebagaimana telah diuraikan sebelumnya. Bibit abaka yang tidak diinokulasi digunakan sebagai pembanding. Pengamatan dilakukan pada saat 30 dan 60 HSI terhadap persentase bibit yang bergejala layu, rataan skor gejala layu dan intensitas penyakit.
Skoring Gejala dan Intensitas Penyakit.
Skoring gejala layu pada bibit abaka akibat infeksi Foc (skor 0 – 4) dilakukan mengikuti kriteria yang dikembangkan Epp (1987), yaitu: skor 0 – bibit sehat dan tidak menunjukkan gejala layu; skor 1 – daun bagian bawah sedikit menguning dan mengering; skor 2 – peningkatan jumlah daun yang menguning dan bibit mulai layu; skor 3 – seluruh bibit mengering kecuali daun yang baru atau belum membuka; skor 4 – bibit mati (Gambar 2.c-g). Gejala nekrosis pada bonggol bibit abaka ditandai dengan perubahan warna bonggol dari putih kehijauan menjadi coklat kehitaman. Skoring gejala nekrosis pada bonggol abaka dilakukan sebagai berikut: skor 0 – tidak terjadi perubahan warna bonggol; skor 1 – nekrosis antara 0-5%; skor 2 – nekrosis 5-35%; skor 3 – nekrosis 35-50%; skor 4 – nekrosis 50-75%; dan skor 5 – nekrosis 75-100% dari lingkar batang (Mak et al. 2004b).
Intensitas penyakit (IP) untuk gejala layu dan nekrosis bonggol ditentukan dengan rumus sebagai berikut: IP=[? (ni x si)/(N x S)] x 100%; dengan ni: jumlah bibit dengan skor gejala i, si: skor gejala i, N: jumlah total bibit yang diamati, S: skor gejala tertinggi (Cachinero et al. 2002). Penentuan respon bibit abaka yang diuji terhadap infeksi Foc dilakukan dengan kriteria sebagai berikut: imun (I) – jika IP=0%; tahan (T) – jika IP antara 0-5%; agak tahan (AT) – jika IP antara 5-10%; agak rentan (AR) – jika IP antara 10-25%; rentan (R) – jika IP antara 25-50%; dan sangat rentan (SR) – jika IP>50% (Yusnita & Sudarsono 2004).
Pengamatan Anatomis Akar.
dengan air, dan diawetkan dengan larutan formalin acetic acid (FAA). Contoh akar diiris melintang menggunakan pisau silet dan diamati gejala kerusakannya akibat infeksi Foc, yang ditandai dengan warna lebih gelap pada jaringan yang rusak (Nasir et al. 2003).
HASIL
Efektivitas Metode Inokulasi.
Bibit abaka yang tidak diinokulasi tidak menunjukkan gejala layu sedangkan yang diinokulasi menunjukkan berbagai tingkatan gejala layu pada 30 HSI. Hasil reisolasi dari bibit yang bergejala layu menggunakan media PDA menghasilkan biakan Foc, yang mengindikasikan keterkaitan antara gejala layu dan patogen Foc.
Metode INO-2 mampu menghasilkan rataan skor gejala dan nilai IP yang lebih tinggi dibandingkan metode inokulasi lainnya untuk tiga isolat Foc yang digunakan. Selain itu, hanya metode INO-2 yang secara konsisten menghasilkan 100% bibit bergejala (Tabel 1). Isolat Foc yang berasal dari Banyuwangi, Malang dan Bojonegoro mampu menginfeksi dan menimbulkan gejala layu pada bibit abaka yang diinokulasi dengan metode INO-2. Untuk perlakuan INO-1 atau INO- 3, selain tidak semua isolat mampu menghasilkan tanaman bergejala 100% juga menghasilkan intensitas penyakit yang lebih rendah dibandingkan INO-2.
Pengaruh Kerapatan Konidia Foc.
Perendaman bibit abaka dalam suspensi konidia Foc dengan kerapatan 105 konidia/ml (KON-1) atau 106 konidia/ml (KON-2) sama-sama mampu menyebabkan munculnya gejala layu pada 3 klon abaka yang diuji. Pada 30 HSI, bibit abaka yang diinokulasi menunjukkan rataan skor gejala layu lebih kecil dari 2 (Tabel 2). Kecuali untuk klon Tangongon pada 30 HSI, perlakuan KON-2 menghasilkan persentase bibit bergejala, rataan skor gejala, dan nilai IP yang lebih tinggi dibandingkan KON-1. Pada 60 HSI, perlakuan KON-1 dan KON-2 sama- sama mampu menyebabkan 100% bibit klon Tangongon bergejala layu. Sedangkan untuk klon Sangihe-1 dan UB-3 pada 60 HSI, perlakuan KON-2
Tabel 1. Pengaruh metode inokulasi F. oxysporum f.sp. cubense isolat Banyuwangi (Bw), Bojonegoro (Bn) atau Malang (Ml) terhadap persentase tanaman bergejala, rataan skor gejala kelayuan dan intensitas penyakit pada bibit abaka klon Tangongon. Pengamatan dilakukan pada 30 hari setelah inokulasi.
Tanaman bergejala (%) Rataan skor gejala Intensitas penyakit (%)
Metode inokulasi Bw Bn Ml Bw Bn Ml Rataan Bw Bn Ml Kontrol 0 0 0 0 0 0 0 c* 0 0 0 INO-1 73 100 100 1.5 1.0 1.8 1.4b 37 25 45 INO-2 100 100 100 2.0 2.0 2.0 2.0a 50 50 50 INO-3 100 60 100 1.6 1.0 1.4 1.3b 40 25 35
Keterangan: *Angka dengan huruf yang sama, tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda
Duncan dengan α=5%.
menghasilkan persentase gejala layu yang lebih tinggi dibandingkan KON-1. Selain itu pada 60 HSI, KON-2 juga menghasilkan rataan skor gejala dan nilai IP yang lebih tinggi dibandingkan KON-1 untuk tiga klon abaka yang diuji (Tabel 2). Perlakuan 106 konidium/ml juga menyebabkan persentase bonggol bibit abaka bergejala nekrosis dan nilai intensitas penyakit yang lebih tinggi dibandingkan perlakuan 105 konidium/ml (Tabel 3). Tetapi kedua perlakuan mempunyai rataan skor gejala nekrosis yang sama.
Tabel 2. Pengaruh kerapatan konidia F. oxysporum f.sp. cubense isolat Banyuwangi yang digunakan untuk menginokulasi bibit abaka klon Tangongon (Tg), Sangihe-1 (Sh), atau UB-3 (Ub) terhadap persentase bibit bergejala, rataan skor gejala kelayuan (SGK), dan intensitas penyakit (IP).
Bibit bergejala (%) Skor gejala layu Intensitas
penyakit (%) Hari pengamatan &
jumlah konidium/ml
Tg Sh Ub Tg Sh Ub Rataan Tg Sh Ub
Pengamatan saat 30 hsi:
0 (KON-0) 0 0 0 0 0 0 0 b* 0 0 0
105 (KON-1) 56 22 33 1.3 0.7 0.3 0.7a 33 17 8
106 (KON-2) 44 67 67 1.3 1.7 1.0 1.3a 33 42 25
Pengamatan saat 60 hsi:
0 (KON-0) 0 0 0 0 0 0 0 c 0 0 0
105 (KON-1) 100 89 44 2.3 1.7 1.1 1.7b 58 42 28
106 (KON-2) 100 100 89 3.3 3.7 3.0 3.3a 83 92 75
Keterangan: *Angka dengan huruf yang sama, tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda
Tabel 3. Pengaruh kerapatan konidia F. oxysporum f.sp. cubense isolat Banyuwangi yang digunakan untuk menginokulasi bibit abaka klon Tangongon (Tg), Sangihe-1 (Sh), atau UB-3 (Ub) terhadap persentase bibit bergejala, rataan skor gejala nekrosis (SGN) pada bonggol bibit, dan intensitas penyakit (IP). Pengamatan dilakukan pada 60 hari sesudah inokulasi.
Bibit bergejala (%) Rataan SGN IP (%)
Kerapatan
(konidia/ml) Tg Sh Ub Tg Sh Ub Rataan Tg Sh Ub
0 (KON-0) 0 0 0 0 0 0 0 b* 0 0 0
105 (KON-1) 60 90 70 2.8 2.8 1.8 2.4a 56 56 36
106 (KON-2) 80 100 60 3.2 4.1 2.7 3.3a 65 82 54
Keterangan: *Angka dengan huruf yang sama, tidak berbeda nyata berdasarkan uji jarak berganda
Duncan dengan α=5%.
Hasil pengamatan anatomis akar pada 30 HSI menunjukkan bibit yang diinokulasi Foc mengalami kerusakan jaringan epidermis dan korteks yang ditandai dengan adanya warna coklat kehitaman (Gambar 2.h). Pengamatan pada 30 HSI yang dilakukan menunjukkan kerusakan jaringan belum mencapai jaringan pengangkut (xylem, phloem dan empulur). Pada Gambar 2.i disajikan penampang melintang akar bibit abaka yang tidak diinokulasi Foc sebagai standar.
Respon 10 klon abaka terhadap infeksi Foc.
Semua klon abaka yang diinokulasi menunjukkan persentase dan rataan skor gejala serta intensitas penyakit lebih besar dibandingkan yang tidak diinokulasi (Tabel 4). Berdasarkan nilai IP (Tabel 4), 10 klon abaka yang diuji tergolong sangat rentan (SR, 9 klon) atau rentan (R, 1 klon).
PEMBAHASAN
Keberhasilan infeksi Foc merupakan proses kompleks yang melibatkan beberapa tahapan, yaitu: (1) pendeteksian signal dari akar pisang yang terluka oleh Foc, (2) penempelan Foc pada permukaan akar dan penetrasi hifa Foc ke jaringan akar, (3) penetrasi hifa Foc ke dalam korteks dan degradasi sistem pertahanan fisik jaringan akar untuk mencapai jaringan pembuluh, (4) proliferasi hifa Foc dan produksi mikrokonidia dalam jaringan xilem, dan (5) sekresi senyawa toksin dan ensim hidrolisis oleh Foc yang menyebabkan kerusakan lebih lanjut jaringan tanaman (Di Pietro et al. 2003). Adanya luka pada jaringan
Tabel 4. Respon 10 klon abaka terhadap infeksi Fusarium oxysporum f.sp.
cubense isolat Banyuwangi. Pengamatan dilakukan pada 60 hari sesudah inokulasi.
Rataan skor gejala
kelayuan Intensitas penyakit (%)
Klon dan karakter unggul abaka:
Bibit ber- gejala (%)
INO Tanpa INO INO Tanpa INO
Respon terhadap Foc Banjar TT > 2 m, RS > 3% 90 2.2 0.8 55.0 20.0 SR BL Manado TT > 2 m, RK >70% 100 3.5 0.9 87.5 22.5 SR Cilacap TT > 3 m, RS > 3% 100 2.8 1.2 65.0 30.0 SR Cirebon TT > 2 m, RS > 3% 100 3.9 0.4 97.5 10.0 SR Layahan JA > 25 80 2.1 0.8 52.5 20.0 SR MbB 90 1.6 0.8 40.0 20.0 R Sangihe -1 TT > 2 m, RK > 70% 100 3.7 0.8 93.0 20.0 SR Sangihe -2 TT > 2 m, RS > 3% 100 3.5 0.6 87.5 15.0 SR Tangongon 100 3.3 0.8 82.0 20.0 SR UB 3 85 3.0 0 75.0 0 SR
Keterangan: Deskripsi karakter unggul kultivar abaka sesuai dengan yang dipublikasikan oleh
Setyo-Budi et al. (2001); TT: tinggi tanaman di lokasi Kebun Percobaan
Karangploso, Malang; RS: rendemen serat; RK: rendemen kertas; JA: jumlah anakan; SR: sangat rentan; R: rentan.
akar merupakan salah satu proses awal infeksi Foc pada tanaman pisang.
Di lapangan, pelukaan jaringan tanaman dapat terjadi antara lain akibat pemangkasan anakan, aktivitas serangga penusuk, atau aktivitas infeksi nematoda (Ploetz 2000). Djatnika et al. (2003) menyebutkan bahwa Foc bersifat tular tanah, menginfeksi tanaman melalui akar rambut lateral, dan dapat menginfeksi jaringan melalui luka yang disebabkan oleh nematoda Radopholus similis.
Dalam penelitian ini, metode INO-2 dilakukan dengan memberikan pelukaan pada akar bibit abaka yang diuji, diikuti dengan perendaman bibit dalam suspensi konidium Foc. Sebaliknya, dalam perlakuan INO-1 dan INO-3 tidak ada tindakan pelukaan terhadap bibit abaka yang diuji, meskipun bibitnya diberi inokulum Foc dengan konsentrasi inokulum yang tinggi.
Bibit abaka yang diinokulasi dengan metode INO-2 menunjukkan gejala layu dan intensitas penyakit yang lebih tinggi. Hal ini sejalan dengan tahapan proses infeksi Foc pada tanaman abaka yang harus dilewati, yaitu adanya luka
pada jaringan akar. Pada metode INO-2, pelukaan jaringan akar yang dilakukan dan perendaman bibit pada suspensi konidia Foc menjamin terjadinya proses awal infeksi. Pada metode INO-1 dan INO-3 masih terjadi infeksi meskipun tidak terlalu parah. Hal ini disebabkan karena patogen secara aktif dapat melukai jaringan tanaman secara kimia yaitu mengeluarkan enzim untuk mendegradasi dinding sel tanaman atau secara mekanik menggunakan kapak penetrasi. Namun terjadinya pelukaan oleh Foc membutuhkan waktu dan ada kemungkinan gagal sehingga perlu dibantu dengan perlakuan pelukaan buatan. Perlakuan pelukaan jaringan tanaman yang diuji telah dilaporkan membantu penetrasi inokulum cendawan ke dalam sel/jaringan tanaman yang diinokulasi (Yusnita & Sudarsono 2004; Sakamoto & Gordon 2006).
Sesuai dengan tahapan infeksi, kerusakan jaringan akar yang terjadi akibat infeksi Foc dimulai dari jaringan epidermis, diikuti jaringan korteks dan akhirnya jaringan pembuluh (xylem). Tahapan proses infeksi Foc dimulai dari penempelan dan penetrasi jaringan akar dan diikuti penyebaran ke jaringan pembuluh (Mak et al. 2004a; Salerno 2000). Gejala layu yang diamati pada tajuk tanaman terjadi akibat tersumbatnya jaringan pembuluh akar oleh miselia cendawan dan akibat induksi tilosis atau kerusakan jaringan parenkimatis oleh enzim dan asam fusarat yang diproduksi Foc.
Pada penelitian yang dilakukan pada bibit abaka ini, kerusakan jaringan akar yang terjadi baru mencapai jaringan korteks setelah 30 HSI. Pengamatan anatomis menunjukkan jaringan akar yang mengalami kerusakan akibat infeksi Foc menjadi berwarna gelap atau coklat kehitaman (Gambar 2.h). Warna gelap pada jaringan akar yang rusak terjadi sebagai akibat penguraian senyawa fenol menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana oleh enzim fenol oksidase yang dihasilkan Foc dan penyerapan senyawa-senyawa tersebut oleh dinding sel jaringan akar (Semangun 1996). Dengan demikian, perubahan warna jaringan yang diinokulasi menjadi coklat atau kehitaman (gelap) pada preparat anatomis mengindikasikan terjadinya kerusakan pada jaringan akar tanaman abaka yang diinokulasi.
Dalam penelitian ini, meskipun pada 30 HSI kerusakan akar yang terjadi baru mencapai jaringan korteks, bibit abaka yang diuji telah menunjukkan gejala
layu dengan rataan skor 0.3-1.7. Korteks merupakan jaringan penyusun akar yang terdiri atas sel-sel parenkimatis dan berperan dalam pengangkutan dan penyimpanan oksigen untuk proses respirasi. Meskipun tidak langsung berfungsi dalam proses pengangkutan air, kerusakan jaringan korteks dapat berpengaruh terhadap pengangkutan air dari akar ke jaringan tajuk sehingga menyebabkan munculnya gejala layu.
Pada 60 HSI, persentase bibit bergejala, rataan skor gejala kelayuan dan intensitas penyakit yang diamati menjadi lebih tinggi. Meningkatnya keparahan gejala infeksi Foc pada 60 HSI tersebut diduga sebagai akibat hifa Foc sudah mulai merusak jaringan stele (xylem) akar, yang berperan dalam pengangkutan air dan hara yang diserap dari dalam tanah. Kerusakan yang terjadi pada jaringan
xylem berdampak langsung terhadap pengangkutan air dari jaringan akar ke tajuk sehingga gejala layu yang terjadi semakin meningkat.
Pada kondisi infeksi yang parah, Foc juga menyebabkan terjadinya nekrosis pada jaringan bonggol tanaman pisang. Dalam penelitian ini, gejala nekrosis pada bonggol bibit abaka yang diinokulasi Foc belum menghasilkan nilai intensitas penyakit yang tinggi, terutama pada klon Tangongon. Hal ini mengindikasikan bahwa infeksi Foc pada bibit abaka hingga 60 HSI menyebabkan terjadinya kerusakan sistem perakaran dan belum mencapai jaringan pembuluh batang.
Kerapatan konidia Foc yang lebih tinggi untuk menginokulasi bibit abaka terbukti meningkatkan munculnya gejala layu bibit dan nekrosis bonggol. Hal ini sesuai dengan yang diharapkan karena semakin banyak inokulum yang digunakan berpotensi lebih besar untuk menimbulkan gejala penyakit (Agrios 1997). Ben- Yephet et al. (1996) melaporkan adanya korelasi positif antara konsentrasi inokulum awal dengan timbulnya penyakit layu Fusarium pada tanaman anyelir, sedangkan Mak et al. (2004b) melaporkan perbedaan kerapatan inokulum yang digunakan dapat menghasilkan perbedaan respon tanaman yang diuji. Pada tanaman pisang, penggunaan inokulum spora Foc dengan kerapatan 5x102 spora/ml menyebabkan munculnya gejala penyakit ringan, 5x104 spora/ml - gejala sedang, dan pada 5x106 spora/ml - gejala parah (Mak et al. 2004b).
Dari sepuluh klon abaka yang diuji dalam percobaan ini tidak satupun yang tergolong tahan terhadap infeksi Foc. Sembilan klon abaka yang diuji tergolong
sangat rentan (SR) dan 1 klon tergolong rentan (R). Basuki (2003) menyatakan tanaman pisang (termasuk abaka) dan kapas diketahui tidak mempunyai gen ketahanan terhadap layu Fusarium. Sebaliknya pada tanaman tomat (Lycopersicon esculentum) dilaporkan mempunyai beberapa gen ketahanan terhadap infeksi F. oxysporum f.sp. lycopersici (Fol). Demikian pula pada tanaman melonterhadap
Fusarium oxysporum f.sp. melonis (Burge et al. 2003).
Tanaman abaka di Indonesia diketahui mempunyai keragaman genetik rendah dan hal ini telah dibuktikan dari hasil studi marka molekuler (Hadipoentyanti et al. 2001). Secara umum Roux et al. (1999) menyatakan bahwa tanaman yang diperbanyak secara vegetatif seperti Musa spp. pada umumnya memiliki keraga man genetik terbatas karena sifat tanamannya yang mandul jantan dan poliploid. Dengan demikian, respon sepuluh klon abaka yang semuanya terinfeksi Foc diduga mengindikasikan tidak adanya gen ketahanan terhadap Foc
dan sempitnya keragaman genetik abaka di Indonesia.
SIMPULAN
Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa metode inokulasi dengan cara melukai akar bibit abaka diikuti dengan perendaman dalam suspensi konidia Foc
dengan kerapatan 106 konidia/ml dapat digunakan untuk penapisan respon plasma nutfah abaka terhadap Foc. Berdasarkan nilai IP yang diamati, 10 klon abaka yang ditanam di Indonesia tergolong sangat rentan terhadap infeksi Foc. Untuk itu, peningkatan keragaman genetik abaka, terutama yang membawa sifat ketahanan terhadap infeksi Foc perlu dilakukan. Karena abaka merupakan tanaman yang berkembangbiak secara vegetatif, induksi keragaman genetik melalui mutasi atau induksi variasi somaklonal merupakan alternatif cara yang dapat digunakan. Metode ini akan lebih berhasil dan terarah apabila dikombinasikan dengan seleksi
Gambar 2. (a) Biakan Fusarium oxysporum f.sp. cubense (Foc) dalam media PDB; (b) Bibit abaka umur 2 bulan yang digunakan dalam penelitian dan siap diinokulasi dengan Foc; (c) Fenotipe bibit dengan gejala layu skor 0, (d) skor 1, (e) skor 2, (f) skor 3, dan (g) skor 4, sesuai dengan kriteria yang dikembangkan oleh Epp (1986); (h) Fotomikrograf penampang melintang akar abaka pada 30 hari sesudah inokulasi dengan Foc (200x) menunjukan adanya kerusakan jaringan penyusun akar yang ditunjukkan oleh warna coklat kehitaman pada jaringan epidermis dan korteks; (i) penampang melintang akar abaka sehat, yang tidak diinokulasi dengan Foc. (ep) – epidermis, (kt) – korteks, dan (st) – jaringanstele.
a
b
c
d
e
f
g
ep
kt
st
ep
kt
st
h
i
DAFTAR PUSTAKA
Agrios GN. 1997. Plant Pathology. San Diego: Academic Press, Inc.
Bastasa GN, Baliad AA. 2005. Biological control of Fusarium wilt of abaka (Fusarium oxysporum) with Trichoderma and yeast. Philippines J Crops Sci
30:29-37.
Basuki S. 2003. Identification of DNA markers and recombinations events in the vinicity of the Fusarium oxysporum f.sp. licopersici resistance gene I-3 of tomato (Lycopersicon esculentum) [Thesis]. Brisbane: School of Land & Food Sciences and School of Molecular & Microbiology Sciences, The University of Queensland.
Ben-Yephet Y, Reuven M, Zviebil A, Shtienberg D. 1996. Effects of initial inoculum and cultivar resistance on incidence of Fusarium wilt and population densities of Fusarium oxysporum F.sp. dianthi on carnation and in soil. Phytopathology 86:751-756.
Burge Y, Katzir N, Tzuri G, Portnoy V, Saar U, Shriber S, Perl- Treves R, Cohen R. 2003. Variation in thense of melon genotypes to Fusarium oxysporum
f.sp. melonis race 1 determine by inoculation tests and molecular markers.
Plant Pathol 52:204-211.
Cachinero JM, Hervas A, Jimenez-Diaz RM, Tena M. 2002. Plant defence reactions against Fusarium wilt in chickpea induced by incopatible race 0 of
Fusarium oxysporum f.sp. ciceris and non- host isolates of F. oxysporum.
Plant Pathol 51:765-776.
Di Pietro A, Madrid MP, Caracuel Z, Delgado-Jarana J, Roncero MIG. 2003.
Fusarium oxysporum: exploring the molecular arsenal of a vascular wilt fungus. Mol Plant Pathol 4:315-325.
Djatnika I, Hermanto C, Eliza. 2003. Pengendalian hayati layu Fusarium pada tanaman pisang dengan Pseudomonas fluorescens dan Gliocladium sp. J Hort 13:205-211.
Epp D. 1987. Somaclonal variation in banana: a case study with Fusarium wilt. Di dalam: Persley GJ, De Langhe EA (ed). Banana and Plantain Breeding Strategies. Canbera: ACIAR Publ, hlm140-150.
Hadipoentyanti E, Ratnadewi D, Solihat L. 2001. Variabilitas genetic berbagai varietas abaka (Musa textilis Nee) dan kerabat liar melalui ana lisis RAPD.
Zuriat 12:93-106.
Hwang SC, Ko WH. 2004. Cavendish banana cultivars resistant to Fusarium wilt acquired through somaclonal variation in Taiwan. Plant Dis 88:580-588.
Ishak, Dwimahyani I. 2005. Evaluasi pertumbuhan dan ketahanan galur mutan pisang terhadap F. oxysporum fsp. Cubense (FOC). J Stigma XIII:26-30. Mak C, Ho YW, Liew KW, Asif JM. 2004 a. Biotechnology and in vitro
mutagenesis for banana improvement. Di dalam: Jain SM, Swennen R (ed).
Banana Improvement: Cellular, Molecular Biology, and Induced Mutations.
Enfield: Sci Pub, Inc. hlm. 51-68.
Mak C, Mohamed AA, Liew KW, Ho YW. 2004 b. Early screening technique for Fusarium wilt resistance in banana micropropagated plants. Di dalam: Jain SM, Swennen R (ed). Banana Improvement: Cellular, Molecular Biology, and Induced Mutations. Enfield: Sci Publ, Inc. hlm. 11-20
Nasir N, Jumjunidang. 2003. Karakterisasi ras Fusarium oxysporum f.sp. cubense
dengan metode vegetative compatibility group test dan identifikasi kultivar pisang yang terserang. J. Hort. 13(4): 276-284.
Nasir N, Jumjunidang, Eliesti F, dab Meldia Y. 2003. Penyakit Layu Panamapada pisang: observasi ras 4 Fusarium oxysporum f.sp. cubense di Jawa Barat. J. Hort 13:269-275.
Ploetz RC.2000. Banana disease: a classic and destructive disease of banana. Online Plant Health Progress. www.plantmanagementnetwork.org. Diakses tanggal: 23/2/2006.
Roux N, Toloza A, Dolezel J, Swennen R, Lepoivre P, Zapata-Arias FJ. 1999. Usefulness of embriogenic cell suspension for the induction and selection of mutants in Musa spp. Promusa 4:18-19.
Sakamoto JM, Gordon TR. 2006. Factors influencing infection of mechanical wounds by Fusarium cincinatum on Monterey pines (Pinus radiata). Plant Pathol 55:130-136.
Salerno MI, Gianinazzi S, Gianinazzi-Pearson V. 2000. Effects on growth and comparison of root tissue colonization pattern of Eucaliptus viminalis by pathogenic and non-pathogenic strains of Fusarium oxysporum. New Pythol
146:317-324.
Semangun H. 1996. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada Press.
Setyo-Budi U, Sudjindro, Purwati RD. 2001. Status plasma nutfah abaca: “Menyongsong program agribisnis abaca di Indonesia”. Di dalam: Kasno A
et al., editor. Kontribusi Pemuliaan dalam Inovasi Teknologi Ramah
Lingkungan. Malang, 28 Agustus 2001. Bandung: PERIPI. hlm 254-258. Yusnita, Sudarsono. 2004. Metode inokulasi dan reaksi ketahanan 30 genotipe
BAB IV
INDUKSI MUTAN SOMAKLONAL DENGAN PERLAKUAN
EMS PADA KULTUR KALUS EMBRIOGEN
ABAKA (Musa textilis Nee)
ABSTRAK
Pene litian ini bertujuan untuk (1) mengetahui konsentrasi EMS yang tepat untuk menginduksi variasi somaklonal, (2) meregenerasikan populasi plantlets
varian dari kalus embriogen abaka (Musa textilis Nee) yang diberi perlakuan dengan EMS, dan (3) mengevaluasi tipe dan frekuensi keragaman fenotipe diantara plantlets yang diregenerasi tersebut. Kalus embriogen abaka klon Tangongon dan Sangihe-1 setelah diberi perlakuanethylmethane sulfonate (EMS), diproliferasikan dan diregenerasikan menjadi plantlets. Genotoksisitas EMS diukur berdasarkan daya hambatnya terhadap proliferasi kalus embriogen. Evaluasi tipe dan frekuensi varian somaklon diantara plantlets hasil regenerasi dari kalus embriogen yang diperlakukan dengan EMS dilakukan saat plantlets
berumur 3-4 bulan setelah dipindahkan ke polybag di rumah kaca. Hasil penelitian mengindikasikan bahwa perlakuan EMS pada kalus embriogen abaka menghambat proliferasi tunas dan meningkatkan tipe maupun frekuensi variasi somaklonal diantara populasi plantlets hasil regenerasi. Tipe variasi fenotipe yang diamati antara lain: daun variegata, daun berkerut, pelepah berwarna hitam, pelepah menyatu dan batang ramping. Keberadaan variasi somaklonal diantara plantlets abaka yang diregenerasi menunjukkan meningkatnya keragaman genetika abaka; dengan demikian membuka peluang untuk melakukan induksi variasi somaklonal kalus embriogen abaka menggunakan EMS hingga diperoleh genotipe mutan yang diinginkan seperti tahan penyakit layu Fusarium. Untuk itu perlu didukung dengan teknik seleksi in vitro yang menggunakan filtrat kultur
Foc atau asam fusarat sebagai agens penyeleksi.
INDUCTION OF SOMACLONAL MUTANTS BY COMBINING EMS TREATMENTS ON EMBRYOGENIC CALLI OF
ABACA [Musa textilis Nee]
ABSTRACT
The objectives of this study were (1) to determine suitable concentration of EMS to induce somaclonal variation, (2) to regenerate population of plantlet variants from EMS treated embryogenic calli of abaca (Musa textilis Nee), and (3) to evaluate types and frequencies of fenotypic variance among regenerated plantlets. Embryogenic calli of abaca clone Tangongon and Sangihe-1 were treated with ethyl methanesulphonate (EMS), proliferated and regenerated into plantlets. The genotoxycity of EMS were measured based on its inhibition effects on shoot proliferation of embryogenic calli. The regenerated plantlets were evaluated for the presence and frequency of somaclonal variants 3-4 months after