• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6 Kerangka Teori

1.6.3 Kode dan Alih Kode

Berbagai kode tersedia dalam masyarakat multilingual, yaitu sebuah istilah yang dapat mengacu pada bahasa, dialek, variasi, maupun ragam bahasa yang digunakan dalam interaksi sosial. Dengan adanya kode-kode tersebut, anggota masyarakat akan menggunakan kode yang tersedia sesuai dengan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Untuk keperluan interaksi sehari-hari, anggota masyarakat secara konstan mengubah variasi penggunaan bahasanya.

Kode dapat didefinisikan sebagai suatu sistem tutur yang penerapan unsur bahasanya mempunyai ciri khas sesuai dengan latar belakang penutur, relasi penutur dengan mitra tutur serta situasi tutur yang ada. Kode biasanya berbentuk varian bahasa yang secara nyata dipakai berkomunikasi anggota suatu masyarakat bahasa (Poedjosoedarmo, 1978: 30). Sejalan dengan pendapat tersebut, Wardhaugh (1988: 86) mengemukakan bahwa kode memiliki sifat yang netral. Dikatakan netral karena kode tidak memiliki kecenderungan interpretasi yang menimbulkan emosi. Kode adalah semacam sistem yang dipakai oleh dua orang atau lebih untuk berkomunikasi.

Sebuah kode, yang biasanya berupa varian bahasa, pada umumnya ditandai oleh unsur-unsur pokok bahasa yang menyangkut sistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan leksikon yang terdapat dalam suatu wacana. Namun, penanda yang paling penting dalam hal ini adalah unsur yang ada pada sistem

fonologi dan leksikon. Hal tersebut disebabkan karena kedua unsur itu yang paling mudah terjadi perubahan dan tentu saja hal demikian juga terkait dengan hakikat bahasa sebagai sistem bunyi yang pertama kali. Tidak semua bahasa memiliki kosa kode yang sama dalam inventarisasinya.

Terkait dengan gejala alih kode, seringkali muncul kontroversi dalam membedakan konsep “pertukaran kode” dangan konsep “pinjaman” (Scotton, 2000: 143).9 Sebagian ahli mengemukakan bahwa fenomena ini harus dibedakan, sedangkan sebagian ahli justru berpendapat sebaliknya, yaitu bahwa konsep ini tidak seharusnya ditafsirkan sebagai entitas yang berlainan. Muysken (1995:189) mendefinisikan dengan jelas kedua konsep ini, yaitu “pertukaran kode” merupakan penggunaan dua bahasa dalam satu klausa atau ujaran” sedangkan “pinjaman” leksikal melibatkan penyerapan (incorporation) elemen leksikal dari satu bahasa ke dalam leksikon bahasa lain.

Alih kode melibatkan peralihan atau pergantian kode, percampuran kode, dan peminjaman kode. Penelitian tentang alih kode dapat dikatakan suatu paradigma dalam mempelajari linguistik bilingualisme (Gumperz: 1970: 131). Peralihan kode ditafsirkan sebagai alternasi dalam penggunaan dua bahasa atau lebih dalam pertuturan yang sama (Muysken dan Milroy, 1995: 7). Sementara itu, Scotton (2000: 142) mendefinisikan pertukaran atau peralihan kode sebagai “penggunaan dua atau lebih jenis unsur linguistik dalam satu pertuturan yang       

9

Menurut Chloros (1995:73, dalam Chong, 2012: 13), terdapat tiga kategori yang tidak membedakan antara pertukaran kode dan pinjaman, yaitu: (a) berlakunya integrasi morfofonemik dengan bahasa sekitar – pinjaman danpertukaran kode dapat berintegrasi secara morfologi dan fonologi bahasa sekitarnya maupun sebaliknya, bergantung dari faktor linguistik danindividu; (b) penggantian kata sinonim yang asli oleh bahasa sekitar; dan (c) kategori dalam tata bahasa berpotensi untuk meminjam dan tidak terbatas pada kategori tertentu.

sama tanpa asimilasi yang nyata dari segi fonologi”. Selain itu, definisi Poplack (2000: 224) tentang alih kode adalah alternasi dua bahasa di dalam suatu wacana, kalimat, dan bagian yang tunggal.

Auer (1995: 124) telah mendeskripsikan empat bentuk pemilihan bahasa dalam pertuturan, yaitu: pertama, pertukaran yang berkaitan dengan wacana – pertukaran dari kode A ke kode B. Pada awal tuturan, kedua penutur menggunakan bahasa matriks.10 Kemudian, seseorang beralih ke bahasa B, yang selanjutnya diikuti oleh penutur kedua dengan menggunakan bahasa B.

Bentuk pemilihan bahasa yang kedua, pertukaran yang berkaitan dengan pilihan (preference-related) atau negosiasi bahasa, antara kedua partisipan mencari persetujuan dalam menggunakan suatu kode untuk pertuturan. Artinya, pada awalnya kedua penutur menggunakan bahasa yang berbeda (bahasa A dan bahasa B). Kemudian salah satu dari penutur tersebut mengubah bahasa dan akhirnya, keduanya menggunakan satu bahasa saja (baik itu bahasa A atau bahasa B).

Bentuk yang ketiga berupa pertukaran di antara dua bahasa. Akan tetapi, tidak satu pun bahasa (baik bahasa A maupun bahasa B) yang dapat diputuskan sebagai bahasa dasar. Dalam hal ini, penutur mungkin menukar kode dari kalimat ke kalimat atau klausa ke klausa dalam kalimat yang sama. Dengan demikian, pemilihan bahasa adalah “terbuka” dan salah satu dari penutur yang mungkin

       10

Scotton (1992) menggunakan istilah bahasa sematan (embedded language) untuk merujuk pada percampuran kode bahasa dan bahasa matriks (matrix language) untuk merujuk bahasa dasar dalam kalimat.

akan mengambil keputusan untuk memilih salah satu bahasa (baik bahasa A atau bahasa B), penutur yang lain akan menuruti bahasa pilihannya.

Bentuk yang keempat berupa penyisipan (insertion), yaitu: elemen bahasa B (misalnya, kata atau struktur bahasa lain) disisipkan ke dalam bahasa dasar (bahasa A). Alih kode yang demikian itu sering didasarkan pada pengetahuan “etnografi”, misalnya, latar belakang interaksi dan konteks budaya penutur.

Alih kode, oleh Gumperz (1982: 59, 1976 dalam Troike, 2003:48) didefinisikan sebagai pergantian bahasa dalam sebuah peristiwa tutur atau penggunaan dua buah sistem gramatikal atau bagian-bagiannya dalam satu tuturan secara bergantian. Hymes (1971: 103) memunculkan batasan mengenai alih kode, yakni istilah umum untuk menyebut pergantian atau peralihan pemakaian dua bahasa atau lebih, beberapa variasi bahasa dari satu bahasa, atau bahkan beberapa gaya dari suatu ragam. Menurutnya, alih kode intern (internal code-switching) terjadi antarbahasa daerah dalam suatu bahasa nasional, antardialek dalam satu bahasa daerah, atau antara beberapa ragam dan gaya yang terdapat dalam suatu dialek. Selanjutnya, alih kode ekstern (external code-switching), yaitu apabila yang terjadi adalah antara bahasa asli dan bahasa asing.

Poedjosoedarmo (1975: 45) menjelaskan bahwa pada waktu bercakap, seorang pembicara sering mengganti kode bahasanya, baik disadari maupun tidak disadari oleh O1. Akibatnya, dia telah menyuguhkan arti kode yang bermacam-macam pula. Hal itu sangat bisa terjadi karena gejala alih kode timbul disebabkan oleh faktor komponen bahasa yang bermacam-macam. Kadang-kadang karena

kehendak serta suasana hati O1 tiba-tiba berganti, yang akibatnya lalu menimbulkan pergantian kode yang sedang dipakainya. Selain itu, apabila ternyata ada O3 yang tiba-tiba muncul di dalam percakapan, maka kode yang dipakai harus diganti pula. Pergantian kode juga sering terjadi karena adanya pengaruh kalimat-kalimat atau kode yang baru saja terucapkan yang macamnya berbeda dengan kode semula.

Lebih lanjut, dijelaskan bahwa adakalanya penggantian kode bahasa yang dipakai, berlangsung sebentar saja yang diistilahkan dengan alih kode sementara (temporary code-switching). Selain alih kode sementara, ada juga alih kode permanen (permanent code-switching), yaitu peralihan bahasa yang berlangsung secara permanen, kendati pun sebenarnya hal ini tidak mudah untuk dilakukan (Poedjosoedarmo, 1979:38).

Alih kode yang disadari biasanya terjadi karena pembicara mempunyai maksud-maksud tertentu. Alih kode yang terjadi biasanya bergantung pada beberapa faktor, yaitu: situasi bicara, derajat keakraban antara penutur dan mitra tutur, kemantapan hubungan antara penutur dan mitra tutur, masalah yang dibicarakan, penguasaan atas kode yang digunakan, dan tingkat kesadaran pembicara. Dalam situasi formal, alih kode sangat jarang terjadi. Sebaliknya, dalam situasi tidak formal atau dalam situasi bicara yang santai, frekuensi alih kode dapat tinggi sekali.

Dengan demikian, alih kode dalam tulisan ini dapat dikatakan sejalan dengan apa yang disampaikan oleh Poedjosoedarmo maupun oleh Hymes, bahwa alih kode merupakan pemakaian secara bergantian antara dua bahasa atau lebih,

variasi-variasi bahasa dalam bahasa yang sama atau mungkin gaya bahasanya dalam suatu masyarakat tutur bilingual ataupun multilingual. Namun demikian, fokus perhatian yang akan diberikan adalah pada pemakaian kode yang bergantian atas variasi bahasa yang menyangkut penggunaan beberapa bahasa.

Dokumen terkait