• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penelitian ini dilakukan di Sulawesi Selatan, Kabupaten Sinjai dengan sasaran masyarakat multilingual, terutama masyarakat tutur Konjo yang berada di Kecamatan Sinjai Tengah. Penelitian ini terfokus pada multikompetensi bahasa

yang terdapat pada masyarakat tutur yang diteliti. Oleh karena itu, penulis memilih untuk menggunakan metode penelitian kualitatif untuk dapat mengungkap makna dari gejala penggunaan bahasa pada latar yang alami. Dengan menggunakan metode ini, sumber data berlatar alami dengan peneliti berfungsi sebagai human instrument (Moleong, 1995: 121 – 125; Duranti, 1997: 85 – 88). Prosedur penelitian dengan metode tersebut menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata tertulis atau pun lisan dari orang-orang dan perilaku yang dapat diamati.

Penelitian ini memanfaatkan metode kualitatif etnografi (Spradley, 1997 dan Muhadjir, 1996), yaitu dengan melibatkan peneliti dalam pergaulan dengan masyarakat tutur Konjo di Sinjai. Penelitian dalam pandangan etnografi bermakna memahami gejala yang bersifat alamiah atau wajar sebagaimana adanya tanpa dimanipulasi dan diatur dengan eksperimen atau tes (Muhadjir, 1996: 96). Gejala yang dimaksud dalam penelitian ini adalah gejala pemilihan bahasa pada masyarakat tutur Konjo di Sinjai.

1.7.1 Pengumpulan Data

Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode pengamatan partisipatif “participant-observation”, 11 yaitu berada di lokasi penelitian dan mengamati perilaku berbahasa masyarakat tutur yang dijadikan objek penelitian, kemudian merekam contoh penggunaan bahasa. Saville-Troike (2003: 97) menyatakan bahwa metode yang paling umum digunakan dalam pengumpulan data etnografi dalam ranah budaya adalah pengamatan partisipatif.       

11

Kunci keberhasilan dari metode ini adalah membebaskan diri sebanyak mungkin secara manusiawi dari batas pengalaman budaya sendiri. Hal tersebut membutuhkan relativisme budaya, pengetahuan mengenai kemungkinan perbedaan kultural dan kepekaan serta keobjektifan dalam mengamati orang lain.

Data mengenai penggunaan bahasa yang direkam meliputi beberapa ranah, misalnya: keluarga, pendidikan, pemerintahan, agama, transaksi, kekariban (pertemanan), dan pergaulan dalam masyarakat. Agar diperoleh data yang akurat, peneliti berupaya agar informan tidak menyadari bahwa dirinya sedang diteliti atau percakapannya sedang diamati, sehingga ujaran-ujaran yang digunakan bersifat wajar dan alamiah, dalam hal ini penulis memadukan metode tersebut dengan teknik observer’s paradoks (Wardhaugh, 1986: 18).

Agar proses pengumpulan data dapat berjalan dengan lancar dan dapat diperoleh data-data yang diinginkan, peneliti menggunakan alat bantu rekam. Dalam hal ini, peneliti menggunakan recorder digital Sony type ICD-PX 312 dan jika diperlukan, memanfaatkan catatan lapangan. Catatan lapangan ini dimaksudkan jika sekiranya terjadi suatu peristiwa tutur yang menarik perhatian dan alat perekam yang seharusnya digunakan mengalami gangguan teknis. Jadi, teknik catat sebagai teknik cadangan saja.

Data yang diperoleh melalui pengamatan partisipatif dapat disimak dan diuji kebenarannya ketika wawancara bersemuka dilakukan dengan para informan. Menurut Feagin (2002: 31 dalam Chong, 2002: 24) wawancara yang dilakukan harus disesuaikan dengan keadaan lokal daerah penelitian. Oleh karena itu, daftar pertanyaan yang sesuai dengan situasi lokal di Kabupaten Sinjai telah

disusun (lihat lampiran). Data kuesioner yang diberikan dimaksudkan sebagai data pendukung untuk memperoleh gambaran situasi kebahasaan di wilayah penelitian. Penelitian yang dilakukan ini tidak mengkhususkan parameter tertentu untuk memilih sampel penelitian. Informan dipilih berdasarkan mudahnya peneliti mendapatkan informan yang bersedia diwawancarai (Subakir, 1998: 59). Secara keseluruhan, sebanyak 40 orang informan diwawancarai tanpa mengkhususkan komposisi jumlah informan perempuan dan informan laki-laki.

1.7.2 Analisis Data

Data yang diperoleh melalui pengamatan partisipatif dalam penelitian ini kemudian dianalisis. Analisis data merupakan upaya mencari dan menata data secara sistematis untuk meningkatkan pemahaman peneliti tentang kasus yang diteliti dan menyajikannya sebagai temuan bagi orang lain. Proses analisis data dalam penelitian kualitatif dimulai dengan menelaah seluruh data yang terkumpul dari berbagai sumber, misalnya dari data rekaman, wawancara, pengamatan yang sudah dituliskan dalam catatan lapangan, dokumen pribadi, dan dokumen resmi.

Setelah dibaca, dipelajari, dan ditelaah maka langkah berikutnya adalah mengadakan reduksi data dengan jalan membuat abstraksi. Abstraksi merupakan usaha membuat rangkuman yang inti, proses, dan pernyataan-pernyataan yang perlu dijaga sehingga tetap berada di dalamnya. Reduksi data (data reduction), yaitu melakukan identifikasi keragaman pemilihan bahasa, baik yang berhubungan dengan ranah sosial berlangsungnya peristiwa tutur maupun komponen tutur.

Selanjutnya, setelah data direduksi, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan metode etnografi komunikasi. Pada tahap ini, dilakukan identifikasi data berdasarkan analisis komponen tutur, kemudian dilakukan penafsiran atau memberikan makna terhadap data, yaitu penafsiran pola pemilihan bahasa dalam masyarakat tutur Konjo di Sinjai. Mengidentifikasi dan menjelaskan fungsi bahasa yang digunakan dalam masyarakat tutur Konjo di Sinjai serta faktor-faktor penentu pemilihan bahasanya, seperti: kemampuan bahasa penutur dan lawan tutur; tempat dan situasi (dinas – tak dinas); partisipan dalam interaksi (status sosial, jarak sosial, latar belakang etnis, usia, dan hadirnya orang ketiga); serta maksud dan kehendak tutur (mengajar, menawarkan, mempertegas, melestarikan budaya, mengkritik, dan bercanda/humor). Agar kredibilitas hasil penafsiran dapat terjaga, maka ditempuh langkah: (a) diskusi dengan kolega profesi, (b) pengecekan ulang pada informan, dan (c) konsultasi pada pembimbing.

1.7.3 Penyajian Data

Penyajian hasil analisis data dalam penelitian ini, yakni berupa deskripsi dan penjelasan yang merupakan jawaban dari rumusan masalah yang diajukan. Seperti yang telah dinyatakan pada bagian sebelumnya, terkait dengan penggunaan pendekatan dalam penelitian ini, bahwa pendekatan kualitatif selain memiliki karakter alamiah, juga menghasilkan data deskriptif. Deskripsi dan penjelasan tersebut didasarkan pada analisis komponen seperti yang terdapat dalam kajian etnografi komunikasi.

Penyajian data dalam penelitian ini juga menggunakan simbol-simbol, lambang-lambang kebahasaan, singkatan-singkatan, dan transliterasi bahasa daerah ke dalam bahasa Indonesia secara terperinci cara penulisan dan pemaknaannya. Kaidah penyajian data dibedakan menjadi dua model, yaitu informal dan formal. Model penyajian informal diwujudkan dengan menguraikan kaidah secara kebahasaan, sedangkan model penyajian formal diwujudkan dengan menjelaskan kaidah melalui rumus-rumus. Model penyajian informal dipaparkan langsung dalam setiap analisis, sedangkan model penyajian formal disampaikan pada akhir analisis sekelompok permasalahan (bandingkan dengan Sudaryanto, 1993: 144 – 157).

1.7.4 Sumber Data

Sumber data dalam penelitian ini adalah masyarakat tutur Konjo yang berada di Kecamatan Sinjai Tengah dalam berbagai peristiwa tutur. Pemilihan lokasi penelitian ini didasarkan atas pertimbangan situasi kebahasaan di wilayah tersebut dengan khazanah bahasa Konjo dan dialek Bugis Sinjai yang memiliki keunikan. Masyarakat tutur Konjo yang berada di wilayah Kecamatan Sinjai Tengah sebagai titik pengamatan yang utama karena potensi multilingualisme yang dimiliki oleh masyarakatnya.

Data dalam penelitian ini terdiri atas data primer dan data sekunder. Data primer, yaitu data yang berupa tuturan atau bagian tutur lisan dari berbagai peristiwa tutur dalam berbagai ranah atau domain. Sehubungan dengan itu, data primer disertasi ini berupa tuturan lisan dari berbagai peristiwa tutur yang

dilakukan oleh masyarakat tutur Konjo di Sinjai. Adapun yang menjadi data sekunder dalam penelitian ini adalah berupa informasi atau keterangan yang terkait dengan konteks tutur, baik berupa konteks sosial, konteks budaya, maupun kondisi situasional dalam masyarakat, yang menjadi penentu terjadinya peristiwa tutur. Sesuai dengan tujuan dan ruang lingkup penelitian ini, data primer diambil dari tuturan atau bagian tuturan dalam bahasa-bahasa yang digunakan oleh masyarakat tutur Konjo di Sinjai. Sementara itu, data sekunder diperoleh dari keterangan penutur mengenai bahasa-bahasa tersebut di dalam masyarakat serta informasi atau keterangan dalam bentuk laporan atau tulisan.

Menurut Lofland dan Lofland (1984: 47), sumber data dalam penelitian kualitatif adalah kata-kata dan tindakan, sedangkan selebihnya adalah data tambahan seperti dokumen dan lain-lain. Sumber data dalam penelitian ini juga diperoleh dari narasumber yang dianggap memiliki pengetahuan yang cukup mengenai penggunaan bahasa-bahasa yang akan diteliti. Selain itu, narasumber juga mengetahui latar belakang sejarah daerah penelitian, misalnya para ketua adat dan pemangku adat. Daerah tempat tinggal penutur dan aktivitas mereka sehari-hari yang berupa aktivitas verbal dan non-verbal dapat sangat membantu untuk menentukan kaitan bahasa, budaya, dan geografi dalam kasus multilingual yang terjadi dalam masyarakat tutur dari bahasa yang diteliti.

Populasi penelitian ini adalah seluruh peristiwa tutur yang dilakukan oleh masyarakat tutur Konjo di Sinjai dalam berbagai ranah dan dalam berbagai peristiwa tutur. Data dikumpulkan sebanyak mungkin, yang dianggap mewakili beberapa ranah kebahasaan. Kemudian contoh dalam penelitian ini ditarik dengan

teknik sampel bertujuan atau purposive sampling, yang ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut. Pertama, sampel tidak dapat ditentukan atau ditarik terlebih dahulu. Kedua, tiap satuan sampel dipilih untuk memperluas informasi, dan ketiga, sampel dipilih bedasarkan fokus penelitian (Moleong, 2000: 165).

Dokumen terkait