BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PIKIR
A. Kajian Pustaka
4. Kohesi Referensi Persona
Kohesi adalah suatu konsep semantik yang menampilkan hubungan makna antarunsur teks, dan menyebabkannya dapat disebut sebagai teks. Kohesi terjadi apabila interprestasi salah satu unsur teks tergantung dari unsur lainnya. Unsur yang satu berkaitan dengan unsur yang lainnya, sehingga unsur tersebut tidak dapat benar-benar dipahami tanpa yang lain. Kaitan makna ini disebut
kohesi. Jadi, kohesi merupakan keterkaitan semantik antarunsur pembentuk wacana (Halliday & Hasan, 1976: 4).
Lebih lanjut Harahap dan Zaimar (2011: 18) mengemukakan bahwa:
“Kohesi keterkaitan unsur-unsur lahiriah suatu teks misalnya kata-kata yang kita lihat atau dengar, saling berkaitan dalam satu sekuen. Unsur-unsur tersebut saling tergantung sesuai dengan bentuk dan konvensi gramatikalnya,sedemikian rupa sehingga teks menjadi padu”.
Konsep kohesi mengacu pada serangkaian kemungkinan makna yang ada untuk menghubungkan suatu unsur teks dengan apa yang disebutkan.
a. Jenis-jenis Kohesi
Halliday dan Hasan membagi alat kohesi menjadi lima bagian, yaitu kata ganti, subtitusi (penyulihan), konjungsi (penyambungan), elipsis (pelesapan), dan leksikal. Bagian-bagian tersebut dapat dirinci sebagai berikut :
1) Kata Ganti
Kata ganti terdiri atas tiga jenis, yakni kata ganti diri, kata ganti penunjuk, dan kata ganti perbandingan. Kata ganti diri dan penunjuk merupakan kata ganti yang sudah lazim digunakan dalam bahasa Indonesia.Tetapi kategori perbandingan belum lazim digunakan dalam tata bahasa Indonesia. Kata ganti dalam bahasa Indonesia adalah :
a) Saya, aku, kita, kami.
b) Engkau, kamu, kau, kalian, anda. c) Dia, nya, mereka.
Contoh penggunaan kata ganti diri atau pronominal dalam novel Love To Love You:
“Dia...dia berusaha mengajakku melakukan...hmm,” Anton terlihat sangat gugup. “...ya seperti itulah. Dia memaksaku dan melepas dasiku. Tapi aku langsung pulang. Aku lupa dasiku tertinggal disana. Kau bisa mempercayaiku untuk hal ini.” (LTLY:82)
2) Subtitusi
Subtitusi adalah hasil penggantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan suatu struktur tertentu. Subtitusi merupakan hubungan gramatikal, lebih bersifat hubungan kata dan makna. Subtitusi dalam bahasa Indonesia dapat bersifat nominal, verbal, klausa, atau campuran.
3) Elipsis
Elipsis adalah peniadaan kata atau satuan lain yang wujud asalnya dapat diramalkan dari konteks bahasa atau luar bahasa. Elipsis dapat pula dikatakan pengganti nol, sesuatu yang ada tetapi tidak diucapkan atau tidak dituliskan ( Andi Rahmil,2013:11).
Menurut Lubis, elipsis adalah penghilangan satu bagian dari unsur kalimat itu (Lubis, 1993:38). Berikut ini adalah contoh elipsis menurut Lubis :
a) Kami berangkat hari ini. Mereka juga.
b) Mahasiswa sedang mempelajari analisis wacana. Semantik juga.
Konjugsi adalah yang dipergunakan untuk menggabungkan kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat, atau paragraph dengan paragraf, Kridalaksana (dalam Andi rahmil, 2013: 11).
Konjungsi atau kata sambung adalah kata tugas yang menghubungkan dua klausa atau lebih, seperti dan, kalau, dan atau, Tata Bahasa Baku (dalam Hermin Andi, 2013 : 18). Contoh :
a) Saya mau pergi kalau pekerjaan rumah saya sudah selesai. b) Saya harus pergi dan kau mesti menunggu.
b. Kohesi Referensi
Pengacuan atau referensi adalah satu jenis kohesi gramatikal atau berupa satuan lingual tertentu yang mengacu pada satuan lingual lain (atau suatu acuan) yang mendahului atau mengikutinya (sumarlam 2003:23)
Referensi atau pengacuan menampilkan hubungan antara bahasa dan dunia. Dalam setiap bahasa, ada unsur-unsur bahasa yang tidak dipahami berdasarkan dirinya sendiri, melainkan merujuk (mengacu) pada hal lain untuk pemahamannya, informasi yang diberikannya tergantung pada hal lain. Ini adalah salah satu alat kohesi yang disebut referensi (Harahap dan Zaimar 2011: 121)
Menurut Ramlan (1993 :12) yang dimaksud referensi (penunjukan) adalah penggunaan kata atau frasa untuk menunjuk atau mengacu kata, frasa, atau mungkin juga satuan gramatikal yang lain. Djajasudarma (2006 :48) menambahkan bahwa lebih luas lagi referensi adalah hubungan bahasa dengan dunia. Dengan demikian, dalam penunjuk terdapat dua unsur, yaitu unsur
penunjuk dan unsur tertunjuk. Kedua unsur itu haruslah mengacu pada referen yang sama.
c. Jenis-jenis Kohesi Referensi 1) Referensi Persona
Referensi persona direalisasikan melalui pronomina persona (kata ganti orang). Pronomina persona adalah pronomina yang dipakai untuk mengacupada orang. Pronomina persona dapat mengacu pada diri sendiri (pronominal persona pertama), mengacu pada orang yang diajak bicara (pronomina persona kedua), atau mengacu pada orang dibicarakan( pronomina persona ketiga). Di antara pronomina itu, ada yang mengacu pada jumlah satu atau lebih dari satu. Berikut ini adalah pronomina persona yang disajikan dalam bentuk tabel.
Tabel 1 : Pronominal Persona
Pronomina
Makna
Tunggal Jamak
Pertama Saya, aku, ku-, -ku Kami, kita
Kedua
Engkau, kamu, dikau, anda, kau-, -mu
Kalian
Ketiga Ia, dia, beliau, -nya Mereka
Contoh jenis kohesi referensi persona yang terdapat dalam novel Love To Love You:
Anton mengambil napas panjang dan berkata dengan lembut.”Sayang, kamu tahu ‘kan, aku selalu mendahulukan kebahagiaanmu. Tapi untuk adopsi anak, kita harus memikirkan
matang-matang. Ini bukan seperti kita membeli mobil, setelah bosan bisa kita jual lagi. Ini mengenai tanggung jawab seumur hidup. Sekali mengadopsi anak, kau tidak bisa memulangkannya lagi kepanti
asuhan.” (LTLY: 50) 2) Referensi Demonstratif
Pronomina demonstratif adalah pronominal yang dipakai untuk menunjukkan atau menggantikan nomina. Dilihat dari segi bentuknya, pronominal demonstratif dibedakan atas:
a) pronomina demonstratif tunggal, ditandai dengan pemarkah ini dan itu. b) Pronomina demonstratif turunan, ditandai dengan pemarkah berikut dan
sekian.
c) Pronomina demonstratif gabungan, ditandai pemarkah di sini, di situ, di sana, dan
d) Pronomina demonstratif reduplikasi, ditandai pemarkah begitu-begitu, Kridalaksana (dalam Hermin Andi, 2013: 23).
3) Referensi Komparatif
Pengacuan komparatif (perbandingan) ialah salah satu jenis kohesi gramatikal yang bersifat membandingkan dua hal atau lebih yang memunyai kemiripan atau kesamaan dari segi bentuk/wujud, sikap, sifat, watak, perilaku, dan sebagainya( Sumarlam 2003: 26). Kata-kata yang biasa digunakan untuk membandigkan misalnya seperti, bagai, bagaikan, laksana, sama dengan, tidak
berbeda dengan, persis seperti, dan persis sama dengan.
Selanjutnya menurut Kridalaksana (dalam Musdalifah, 2008: 24-25).
“Pronomina komparatif adalah pronomina yang menjadi bandingan bagi antasedennya. Pemarkahnya sama, persis, identik, serupa,selain berbeda, dan sebagainya”.