• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V SIMPULAN DAN SARAN

B. Saran

Berdasarkan fenomena di atas, penulis menyarankan kepada rekan-rekan mahasiswa untuk lebih giat melakukan penelitian tentang kohesi referensi persona terhadap karya sastra (novel) karena nantinya akan diperoleh hasil penelitian yang lebih luas tentang seluk-beluk karakter manusia yang tercermin dalam karya sastra. Bagi pembaca diharapkan dapat memperoleh manfaat dari hasil penelitian ini.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan dkk. 2003. Tata Bahasa Baku Bahasa Indonesia. Jakarta: Balai pustaka.

Andi, Hermin. 2013. “Kohesi Referensi Persona dalam Berita Olahraga Harian Fajar “.Makassar: Skripsi Fakultas Ilmu Budaya Universitas Hasanuddin.

Badara, Aris. 2012. Analisis Wacana. Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Djajasudarna, Fatimah. 1994. Wacana. Bandung : Eresco.

Halliday, dkk. 1992. Bahasa, Konteks dan Teks.Yogyakarta : UGM Press.

Harahap, dkk.2011. Telaah Wacana Teori dan Penerapannya.Depok : Komodo Box.

Musdalifah. 2008. “Kohesi Referensial pada Majalah Aneka Yess”. Makassar:

Skripsi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.

Mulyana. 2005. Kajian wacana. Yogyakarta: Tiara wacana

Muthmainnah, St. 2012.Analisis Unsur Intrinsik dalam Novel Cinta di Dalam Gelas Karya Andrea Hirata. Makassar: Skripsi Fakultas keguruan dan Ilmu PendidikanUniversitas Muhammadiyah Makassar.

Rahmil, Andi.2o13. “Penggunaan Kohesi Referensial pada Naskah Drama Matahari di sebuah Jalan Kecil karya Arifin C. Noor”.Makassar:

Skripsi Fakultas Sastra Universitas Hasanuddin.

Ramlan, M. 1993. Kepaduan Bahasa Indonesia.Jakarta : Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Ramdayani, Siti.2013. Jenis-jenis wacana narasi deskripsi.

(Online),( http://ramdayanisiti.blogspot.com/2013/02/jenis-jenis-wacana-narasi-deskripsi.html. diakses, 11 juni 2014).

Sumarlam. 2003. Teori dan Praktik Analisis Wacana. Surakarta : Pustaka Caraka. Sumarlam, dkk. 2004. Analisis Wacana. Surakarta : CV Pakar Raya.

Tarigan, Henri Guntur. 1987.Pengkajian Wacana. Bandung : Angkasa. Tarigan, Henri Guntur. 1993. Pengajaran Wacana. Bandung: Angkasa. Wiadji, Kezia Evi. 2012. Love To Love You. Yogyakarta : Media Pressindo.

3. “ Boleh saya masuk? Saya pimpinan baru di tempat Anton bekerja.” “ Nama saya Delila.” (LTLY :69)

4. “Saya dengar dari suami saya kalau Ibu sementara ini magang di Jakarta.” (LTLY : 70)

5. “A-apakah suami saya melakukan kesalahan di kantor?” Suara Lia terdengar gugup.” (LTLY :71)

6. “Aku ingin membuat perjanjian denganmu, perjanjian yang saling menguntungkan. Aku akan memenuhi semua kebutuhanmu. Makananmu, pakaianmu, tempat tinggalmu, sampai dengan biaya kuliahmu. Aku akan membuatmu menjadi seorang yang berhasil. Apa yang kau cita-citakan, bisa kau raih. Sebagai ungkapan terima kasihmu, aku hanya minta satu hal...kau harus ada saat aku membutuhkanmu.” (LTLY : 91)

7. “Mana aku tahu kalau itu kantor suaminya? Dari dulu aku dan para pembantu di rumah itu tidak tahu nama suaminya, selain dipanggil dengan nama Bapak. Aku tidak tahu usaha suaminya. Aku juga tidak tahu kalau kantor ini ternyata milik suaminya yang sekarang diwariskan kepadanya. Sebegitu banyak perusahaan yang aku datangi saat aku di Jakarta, celakanya aku bekerja di perusahaan suaminya.” (LTLY : 100)

8. “Aku tahu kamu jijik padaku. Kamu juga marah karena aku nggak cerita sebelumnya. Oh Lia, aku sangat mencintaimu. Aku takut kalau kau tahu masa laluku, kau akan lari meninggalkanku. Saat pertama kali aku bertemu denganmu, aku tahu aku menemukan seorang wanita yang baik. Wanita yang berbeda. Saat itu aku berjanji pada diriku sendiri, aku akan hidup benar, tidak menyimpang lagi.”(LTLY : 101)

9. Anton. Aku harus pergi, aku harus menenangkan diriku. Memikirkan dengan jernih masalah kita. Supaya kemarahan tidak memengaruhi pikiranku. Aku tidak tahu untuk berapa lama, tapi jika kau mau menemuiku, kau pasti tahu di mana aku berada. Aku berharap saat kita bertemu nanti, keadaan akan berubah menjadi lebih baik. Walaupun itu hanya cara pandangku padamu. Aku selalu berharap yang terbaik untuk kita berdua. Apakah kau juga? (LTLY :115)

12. “ Ini tidak terjadi kalau kamu mengikuti keinginanku. Aku jamin berikutnya istrimu yang akan menerima teleponku.”(LTLY: 51)

13. Ya Tuhan, saat hidupku mulai tenang dan mapan, kenapa Kau izinkan masalah ini datang lagi menghampiriku? Aku sangat takut kalau wanita itu akan menghancurkan rumah tangga dan masa depanku. (LTLY :54)

14. “Aku mencari Ray. Aku menceritakan masalahku. Dia memberiku solusi, “lanjut Anton, suaranya berubah serius. (LTLY :158)

15. “Tenang honey, kau bisa mempercayaiku. Aku ingin kau menemaniku saat bertemu dengan anakku nanti.” (LTLY :159)

16. “Saya hanya minta kerelaanmu untuk mengizinkan Anton menemui anaknya, anak kami. Jeremy harus mengenal siapa ayah kandungnya.” (LTLY:73) 17. “Oya, saya juga ingin mengembalikan barang Anton, tertinggal di hotel saat

kami bertemu untuk membahas Jeje.” (LTLY: 74)

18. “Ada!” sanggah Lia. “Kalau kami punya anak sendiri, nggak mungkin Anton menginginkan anak itu.”(LTLY:111)

19. “Hati Lia terlanjur sakit, Ma. Delila pasti akan terus menggangu. Dia seperti duri dalam daging bagi rumah tangga kami.” (LTLY :121)

20. “Omong kosong! Kau lihat buktinya, golongan darah kami sama. Kami memiliki golongan darah paling langka dan kau sekarang berkata DAI BUKAN ANAKKU?!” (LTLY:172)

21. “Kita periksa lagi setelah hasil cek darah selesai. Jangan lupa bawa hasil pengukuran suhu tubuh.” (LTLY :23)

22. “Kita lanjut dengan pemeriksaan berikutnya. Tapi, kita berharap semoga bulan depan Ibu sudah hamil.” (LTLY :25)

23. “Laporan ini kita bahas nanti saja. Aku ingin tahu keadaanmu. Kita sudah lama tidak bertemu, bukankah begitu?!” (LTLY :44)

27. “ Kamu sekarang berubah. Kerjaan melulu yang dipikirin,” omel Lia. (LTLY :54)

28. “Ibu. Kamu harus memanggil Ibu. Sama seperti dulu. Ingat?” (LTLY: 57) “Ekspresi wajah yang sama, saat pertama kali kamu tahu keinginanku.” (LTLY : 57)

29. “Jangan keraskan hatimu, Nak. Kalau kamu dan Anton berniat baik, Tuhan pasti akan menunjukkan jalan keluar. Kamu harus percaya itu.”(LTLY :121) 30. “Kamu tidak mungkin mengganggu, kamu ‘kan istriku. Aku ingin kamu

ikut. Aku ingin kamu memberiku kekuatan.” (LTLY :162)

31. “Apa yang ingin kau bahas denganku? Ini laporan yang kau minta.” (LTLY : 44)

32. “ Kau laki-laki, Ton. Kau pasti tahu maksudku.” (LTLY :92) 33. “Kau jahat, kau tidak jujur padaku.” (LTLY :98)

34. “Mana buktinya kalau dia anakmu. Bisa jadi dia anak dari laki-laki lain. Kau dijebaknya. Kau hanya takut kalau kau tidak memenuhi harapan bos-mu, kau akan dipecat, karirmu kandas. Egomu yang kau pertaruhkan di sini ‘kan?” (LTLY :102)

35. “Lia, kamu anak perempuan Papa satu-satunya. Kau pasti tahu apa pun yang terjadi dalam hidupmu, kau tetap anak Papa.” (LTLY : 145)

36. “Kamu memaki siapa? Delila?karena telah jujur padaku? Atau kepada dirimu sendiri karena belangmu ketahuan?”suara Lia meninggi.(LTLY :81)

37. “Kau masih muda. Hanya badanmu saja yang menipu. Postur tubuhmu tinggi dan gagah.”(LTLY :84)

40. Rini terkejut.” Apa maksudmu, Lia. Hal ini tidak ada hubungannya denganmu. (LTLY :111)

41. “Kalau Anton keluar kota, sekali-kali kamu menyusul. Siapa tahu kalian pulang bertiga,” Ray mengedipkan matanya. (LTLY:16)

42. Lia mendesah panjang . Perkataan ibunya mengusik pikirannya. Tidak adil menyalahkan Anton sekarang. Peristiwa itu terjadi sebelum kalian saling kenal. Sebelum kalian menikah. Semua orang punya masa lalu, memang masa lalu Anton buruk, tapi setelah itu kau membuktikan sendiri bahwa dia baik dan bertanggung jawab. (LTLY : 152)

43. “Keadaan Jeje sekarang sudah stabil. Kalian boleh kembali ke Jakarta. Terima kasih sudah menjadi donor bagi anakku.” (LTLY:172)

44. Nama yang telah terukir kuat di pikirannya, di benaknya. Nama yang sudah ia kenal bertahun-tahun lalu. Nama yang semula ia ucapkan dengan penuh rasa hormat dan terima kasih, tetapi di kemudian hari ia ucapkan dengan penuh kegetiran dan sakit hati : (LTLY: 40)

45. Ia hanya terpaku pada seseorang di balik pintu ini. Ia tahu benar, Delila memanggilnya bukan karena urusan pekerjaan. (LTLY : 43)

46. Anton tersenyum. Ia beranjak ke lemari pakaian. (LTLY:60)

47. Lia terkejut bukan kepalang. Ia memandang wanita di depannya dengan tidak percaya. Pikirannya masih berusaha mencerna kata-kata itu. Sejenak ia seperti orang linglung.(LTLY: 71)

48. Dalam perjalanan, Anton merenungi nasibnya. Tujuh tahun silam, ia lari meninggalkan kota ini. Waktu itu ia berjanji kepada dirinya sendiri, ia tidak akan pernah menginjakkan kaki di kota ini lagi. Sepanjang yang bisa diingat Anton, di kota ini, hidupnya selalu dirudung duka dan berakhir dengan kenangan pahit. Ironisnya, sekarang ia kembali ke kota ini lagi, mengikuti kembali jejak masa lalunya. (LTLY: 163)

51. “Lia, aku baru tahu setelah dia pindah kemari. Dia menggantikan posisi suaminya, dan celakanya dia memilih kantor cabang di tempatku bekerja.” (LTLY : 99)

52. “Sekarang aku takut anakku anak direnggut dariku. Dia adalah kebahagiaanku satu-satunya. Kebahagiaan nyata, bukan kebahagiaan semu seperti yang biasa aku kejar.”(LTLY: 167)

53. “Bisakah kau berkata jujur satu kali saja dalam hidupmu? Dia anak kandungku atau bukan?!” suara Anton terdengar putus asa. (LTLY: 173) 54. Pelan-pelan Lia membuka matanya, dilihatnya hasil tes kehamilan di

depannya dengan seksama. Terlihat satu garis vertikal. (LTLY : 29)

55. Anton terkejut, ia membuka matanya lalu mengembalikan gagang telepon di tempatnya. Ia was-was apakah Lia sempat mendengar pembicaraannya di telepon. (LTLY : 52)

56. “Masuk dan kunci pintunya!” (LTLY : 56)

57. Aku hanya ingin melihat suamiku bahagia, jika artinya aku harus mengakui anaknya, menerima keberadaan anaknya, anak suamiku dari wanita lain. Aku rela...karena aku sangat mencintai suamiku, aku akan mampu memaafkannya dan menerima masa lalunya. (LTLY :159)

58. “Aku tahu siapa ayahnya, karena aku mengandungnya,”sahut Delila, suaranya terdengar gugup. (LTLY :173)

59. Beberapa menit kemudian, dia telah duduk di sebelah Anton. Mereka berdua mengamati dalam diam saat dokter mengisi beberapa informasi di kartu pasien. Setelah selesai, dokter mengalihkan pandangannya dan tersenyum hangat. (LTLY :22)

60. Tertinggal di hotel! Mereka bertemu di hotel? Apa yang mereka lakukan di sana?! (LTLY : 75)

laboratorium, Anton, Delila, dan Jeje ditempatkan di ruangan terpisah. (LTLY: 177)

63. Mereka berempat beriringan keluar dari laboratorium. Setelah Delila mengucapkan salam perpisahan. Tiba-tiba Jeje memeluk pinggang Lia dengan satu tangannya. Lia berjongkok dan balas memeluk Jeje sambil membisikkan sesuatu di telinga anak itu. Anton dan Delila hanya diam memandang adegan di depan mereka. (LTLY: 179).

1991, dari pasangan Ayahanda Baharuddin S. dan Ibunda Baji. Penulis masuk sekolah dasar pada tahun 1998 di SD Negeri Tassese Kabupaten Gowa dan tamat tahun 2003, masuk sekolah SMP pada tahun 2003 di SMP Negeri 1 Tinggimoncong Malino Kabupaten Gowa dan tamat pada tahun 2006, dan tamat SMA Taman Siswa Makassar pada tahun 2009. Pada tahun 2010, penulis melanjutkan pendidikan pada program Strata Satu (S1) Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Muhammadiyah Makassar. Menikah dengan Muh. Ridwan Makmur pada 27 juni tahun 2014.

Dokumen terkait