BAB II KAJIAN TEORI
2.2 Landasan Teori
2.2.2 Kohesi dalam Wacana
Sebuah teks (terutama teks tertulis) memerlukan unsur pembentuk teks.
Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk teks yang penting. Kohesi
merupakan konsep semantik yang juga merujuk kepada perkaitan kebahasaan
yang didapati pada suatu ujaran yang membetuk wacana. Kohesi merupakan satu
set kemungkinan yang terdapat dalam bahasa untuk menjadikan suatu ‘teks’ itu memiliki kesatuan. Hal ini berarti bahwa hubungan makna baik makna leksikal
maupun makna gramatikal, perlu diwujudkan secara terpadu dalam kesatuan yang
membentuk teks. Kohesi ialah ikatan-ikatan dan hubungan-hubungan yang ada
dalam teks.
Kohesi merupakan salah satu unsur pembentuk teks yang penting. Unsur
pembentuk teks itu yang membedakan sebuah rangkaian kalimat itu sebagai
sebuah teks atau bukan teks Brown dan Yule (dalam Rani, 2006:87). Kohesi
adalah hubungan antar bagian dalam teks yang ditandai oleh penggunaan unsur
bahasa. Suladi (2000:13) mengatakan bahwa kohesi adalah keserasian hubungan
antara unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana, sehingga tercipta
pengertian yang apik atau koheren. Jadi, pengertian tersebut dapat diartikan
menjadi bentuk gramatikal dan leksikal, selanjutnya diwujudkan menjadi satu
ekspresi dalam bentuk bunyi atau tulisan.
Kohesi dalam waacana diartikan sebagai kepaduan bentuk yang secara
struktural membentuk ikatan sintaktikal. Anton M. Moeliono (dalam Mulyana,
2005:26) menyatakan bahwa wacana yang baik dan utuh mensyaratkan
kalimat-kalimat yang kohesif. Kohesi wacana terbagi dalam dua aspek yaitu kohesi
gramatikal dan kohesi leksikal. Kohesi gramatikal anatara lain referensi,
substitusi, elipsis, konjungsi, sedangkan yang termasuk kohesi leksikal adalah
sinonim, repetisi, kolokasi. Menurut Anton (dalam Mulyana, 2005), untuk
memperoleh wacana yang baik dan utuh, maka kalimat-kalimatnya harus kohesif.
Hanya dengan hubungan kohesif seperti itulah suatu unsur dalam wacana dapat
diinterpretasikan, sesuai dengan ketergantungannya dengan unsur-unsur lainnya.
Hubungan kohesif dalam wacana sering ditandai oleh kehadiran pemarkah
(penanda) khusus yang bersifat lingual-formal.
Konsep kohesi pada dasarnya mengacu pada hubungan bentuk. Artinya,
unsur-unsur wacana (kata atau kalimat) yang digunakan untuk menyusun suatu
wacana memiliki keterkaitan secara padu dan utuh. Wacana yang ideal adalah
wacana yang mengandung seperangkat proposisi yang saling berhubungan untuk
menghasilakn rasa kepaduan atau rasa kohesi. Disamping itu juga butuh
keteraturan atau kerapian susunan yang menumbulkan rasa koherensi. Menurut
Anton (dalam Mulyana, 2005:26) kohesi merupakan keserasian hubungan antara
unsur yang satu dengan unsur yang lain dalam wacana atau paragraph sehingga
Kohesi dapat juga dipakai sebagai alat interpretasi wacana dari segi struktur
kalimat. Apabila suatu kalimat memiliki keruntutan hubungan struktur
antarkalimat, kalimat tersebut disebut kohesi. Jadi kohesif adalah keruntutan
hubungan antarkalimat (Pranowo, 2014: 147).
Menurut Abidin (dalam Aliah, 2014:52) , paragraf dianggap memiliki kohesi
jika kalimat-kalimat dalam paragraf itu tidak terlepas dari topiknya atau selalu
relevan dengan topiknya. Dengan demikan kohesi dalam sebuah paragraf
dititikberatkan pada huungan antarkalimat. Artinya, paragraf yang baik adalah
paragraf yang dibangun atas kalimat-kalimatnya yang saling berhubungan dengan
satu ide pokok sebagai benang merah penghubungnya.
Kohesi berkenaan dengan hubungan bentuk antara bagian-bagian dalam
suatu wacana. Berdasarkan perwujudan lingualnya, Halliday dan Hassan (dalam
Baryadi, 2002:17) membedakan dua jenis kohesi, yaitu kohesi gramatikal dan
kohesi leksikal. Unsur kohesi gramatikal terdiri dari reference (referensi),
substitution (substitusi), ellipsis (elipsis), dan conjunction (konjungsi), sedangkan
kohesi leksikal terdiri atas reiteration (reiterasi) dan collocation (kolokasi).
Berdasarkan kajian di atas, dapat disimpulkan pengertian kohesi. Kohesi
adalah perpaduan bentuk antara unsur yang satu dengan unsur yang lain sehingga
terciptalah perpaduan yang utuh dan pembaca dapat memahaminya dengan
mudah.
1. Kohesi Gramatikal
Kohesi gramatikal adalah keterkaitan gramatikal antara bagian-bagian wacana
melibatkan penggunaan unsur-unsur kaidah bahasa. Piranti kohesi gramatikal
yang digunakan untuk menghubungkan ide antarkalimat cukup terbatas ragamnya.
Pada umumnya, dalam bahasa Indonesia ragam tulis, digunakan piranti kohesi
gramatikal. Kohesi gramatikal kemudian dapat dirinci menjadi beberapa macam.
Macam-macam kohesi gramatikal akan dijelaskan sebagai berikut:
a. Referensi
Referensi (penunjuk) adalah salah satu jenis kohesi gramatikal yang berupa
satuan lingual tertentu yang menunjuk satuan lingual yang mendahului atau
mengikutinya. Referensi (penunuk) merupakan bagian kohesi gramatikal yang
berkaitan dengan penggunaan kata atau kelompok kata untuk menunjuk kata atau
kelompok kata atau satuan gramatikal lainnya. Perujukan dapat dilihat dari dua
sudut, yaitu perujukam eksoforik dan endoforik (Ramlan, dalam Mulyana,
2005:27).
a) Perujukan Eksoforik
Eksoforik berasal dari kata “ekso” yaitu “keluar” yang berarti apabila kita tidak dapat menemukan rujukan dalam teks maka kita akan keluar dari teks agar
dapat memahami teks tersebut. Selain itu perujukan eksoforik ini digunakan untuk
merujuk kepada hal-hal yang mempunyai kaitan dengan situasi yang berkembang
di depan penutur ataupun pendengar yang menerima pesan ataupun informasi
yang telah disampaikan kepadanya (Aliah,2014: 55). Halliday dan Hasan (dalam
Aliah, 204:55) mengatakan bahwa perujukan eksoforik ini menerangkan tentang
situasi yang merujuk kepada sesuatu yang telah diidentifikasi dalam sesuatu
yang menunjukan kembali kepada sesuatu yang ada di luar daripada sebuah
situasi. Hal ini berarti bahwa perujukan eksoforik ini adalah merujuk kepada
hal-hal di luar konteks (Kridalaksana, dalam Aliah, 2014:55). Dalam situasi ini kaidah
perujuk eksoforik itulah yang digunakan bagi merujuk sesuatu yang telah berlaku
pada saat ujuaran itu disampaikan. Perujukan eksoforik ini mengandung tiga
perkara, yaitu konteks segera, pengetahuan bersama, dan pengetahuan dalam satu
wacana (Aliah, 2014: 55). Jadi dapat disimpulkan bahwa perujujukan eksoforik
merupakan perujukan yang menerangkan keadaan di luar teks.
b) Perujukan Endoforik
Menurut Halliday dan Hasan (dalam Aliah, 2014:56) mengatakan bahwa
perujukan endoforik ini merujuk hanya kepada teks, yaitu merujuk semata-mata
hanya kepada teks. Sementara itu, Kridalaksana (dalam Aliah, 2014:56)
memberikan pendapat bahwa perujukan endoforik ini adalah hal atau fungsi yang
menunjukan kembali pada hal-hal yang ada dalam wacana, mencakup perujukan
anaforik dan perujukan kataforik. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perujukan
endoforik adalah merujuk situasi yang ada dalam teks.
1) Referensi Anaforis
Referensi anaforis ditandai oleh adanya konstituen yang menunjuk konstituen
di sebelah kiri (Baryadi, 2002: 18). Dengan kata lain referensi anaforis menunjuk
pada konstituen sebelum kata yang ditunjuk. Referensi anaforis ditunjuk oleh kata
itu, ini, begini, begitu, tersebut, di atas, demikian. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perujukan anaforik adalah perujukan yang letaknya terdapat dibelakang
Ahmad tidak banyak tahu tentang arti bahasa kebangsaan dan sejauh mana
sudah perjuangan hendak mendaulutkan bahasa Melayu sebagai bahasa resmi negara ini. Tetapi yang ia dapat berfikir mengapa bahasa yang sekian lama terpakai itu mau diperjuangkan lagi untuk memakainya (Aliah. 2014: 56).
Kalimat tersebut dapat dikatakan berkohesi dengan penanda referensi anaforis.
Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kehadiran kata ia di kalimat kedua yang
mengacu kepada Ahmad di kalimat pertama.
2) Referensi Kataforis
Referensi kataforis ditandai oleh adanya konstituen yang mengacu kepada
konstituen yang disebelah kanan (Baryadi, 2002:19). Dengan kata lain referensi
kataforis mengacu pada konstituen sesudah kata yang menunjuk. Referensi
kataforis ditandai oleh kata berikut, berikut ini, yakni, yaitu. Aliah (2014: 56)
mengatakan letak “perujuk” dalam perujukan kataforik adalah di depan “penganjur”. Jadi, dapat disimpulkan bahwa perujukan kataforik adalah perujuk yang terdapat di depan penganjur atau sebelum penganjur. Contoh referensi
kataoris dapat dicermati dalam kalimat berikut ini:
Berdasarkan penelitian dan pembahasan, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
a. Pupuk menjadi bagian penting dalam bidang pertanian.
b. Pemeliharaan tanaman tergantung banyak faktor. (Mulyana, 2005: 27)
Kalimat tersebut dapat dikatakan berkohesi dengan penanda referensi
kataforis. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kehadiran kata berikut yang
b. Substitusi
Substitusi adalah proses dan hasil penggantian unsur bahasa oleh unsur lain
dalam satuan yang lebih besar. Penggantian dilakukan untuk memperoleh unsur
pembeda atau menjelaskan struktur tertentu (Kridalaksana, dalam Mulyana,
2005:28). Proses substitusi merupakan hubungan gramatikal, dan lebih bersifat
hubungan kata dan makna. Substitusi (penggantian) adalah proses dan hasil
penggantian unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar.
Penggantian dilakukan untuk memperoleh unsur pembeda atau menjelaskan unsur
tertentu (Mulyana, 2005:28). Substitusi adalah proses atau hasil penggantian
unsur bahasa oleh unsur lain dalam satuan yang lebih besar untuk memperoleh
unsur-unsur pembeda atau untuk menjelaskan unsur tertentu.
Substitusi berwujud pronomina, yang terbagi menjadi dua, yaitu pronomina
persona dan pronomina petunjuk. Pronomina persona adalah pronomina yang
dipakai untuk mengacu pada orang. Misalnya: saya, aku, kami, ia, beliau.
Pronomina penunjuk dalam bahasa Indonesia dibedakan menjadi tiga macam,
yaitu (1) pronomina penunjuk umum, yaitu ini, itu (2) pronomina penunjuk
tempat, yaitu sini, situ, sana (3) pronomina penunjuk ihwal adalah pronomina
yang dipakai sebagai pemarkah pertanyaan. Substitusi atau penggantian adalah
pertukaran bagi suatu segmen kata, frasa, atau klausa oleh kata ganti yang lainnya.
Penggantian ini juga ada penggantian nomina, penggantian verba, dan
penggantian klausa (Aliah, 2014:57). Jadi dapat disimpulkan bahwa substiusi atau
penggantian adalah pertukaran frasa atau klausa dengan kata ganti lainnya.
Setelah empat lima kali mendatangi suatu desa, barulah dr. Rien merasa diterima oleh rakyat setempat. Ia pun merasa berani sedikit-sedikit berbicara tentang kesehatan, kebersihan, dan keluarga berencana.
Kalimat tersebut berkohesi dengan penanda substitusi. Hal tersebut dapat
dilihat dari penggunaan kata ia di kalimat kedua yang menggantikan dr. Rien di
kalimat pertama atau kalimat sebelumnya.
c. Elipsis
Penghilangan merupakan salah satu kohesi gramatikal yang berupa pelepasan
unsur tertentu yang telah disebutkan. Elipsis adalah proses penghilangan kata atau
satuan kebahasaan-kebahasaan lain (Mulyana, 2005:28). Elipsis juga merupakan
unsur kosong (zero) yaitu suatu unsur yang sebenarnya ada tetapi sengaja
dihilangkan atau disembunyikan. Tujuan pemakaian elipsis ini salah satunya yang
terpenting ialah untuk mendapatkan kepraktikan bahasa, yaitu agar bahasa yang
digunakan menjadi lebih singkat, padat, mudah dimengerti, dengan cepat.
Sejalan dengan pengertian di atas, Lubis (2011:38) mengatakan elipsis yaitu
penghilangan satu bagian dari unsur kalimat itu. Jadi dapat disimpulkan bahwa
elipsis atau pengghilangan adalah pelepasan suatu unsur bahasa dan bertujuan
agar kalimat lebih efektif dan mudah dipahami. Contoh penggunaan elipsis dapat
dicermati dalam kalimat berikut ini:
Kentang dikukus sampai matang, lalu … dikupas kemudian ... dihaluskan. Setelah ... halus, kentang dicampur susu, pala, lada, keju parut, garam. ... Dimasak di atas api kecil sampai agak kering (Baryadi, 2002).
Kalimat tersebut, berkohesi dengan penanda elipsis. Hal tersebut dapat
dibuktikan dengan konstituen ... pada kalimat pertama memiliki referensi yang
memiliki referensi yang sama dengan hasil dari perbuatan yang dinyatakan oleh
kalimat pertama. Konstituen ... pada kalimat ketiga memiliki referen yang sama
dengan hasil perbuatan yang dinyatakan pada kalimat pertama dan kedua.
d. Konjungsi
Konjungsi adalah bentuk atau satuan kebahasaan yang berfungsi sebagai
penyambung, perangkai, atau penghubung antara kata dengan kata, frasa dengan
frasa, klausa dengan klausa, kalimat dengan kalimat dan seterusnya. Konjungsi
adalah bentuk atau satuan kebahasaan yang berfungsi sebagai penyambung,
perangkai, atau penghubung anatara kata dengan kata, frasa dengan frasa, klausa
dengan klausa, kalimat dengan kalimat, dan seterusnya. konjungsi disebut juga
sarana perangkaian unsur-unsur kewacanaan (Kridalaksana, dalam Mulyana
2014:28).
Konjungsi dapat meliputi hubungan sebab akibat (sebab, karena, makanya,
maka), konjungsi pertentangan (namun, tetapi), konjungsi kelebihan (malah),
konjungsi perkecualian (kecuali), konjungsi konsesif (walaupun, meskipun),
konjungsi tujuan (agar, supaya), konjungsi penambahan (dan, juga, serta),
konjungsi pilihan (atau, apa), konjungsi harapan (semoga), konjungsi waktu
(setelah, selesai, sesudah), konjungsi urutan (apabila, jika), dan konjungsi cara
(dengan). Jadi dapat disimpulkan bahwa konjungsi adalah penghubung antara
kata dengan kata, klausa dengan klausa dan kalimat dengan kalimat. Alwi (1999)
membagi konjungsi menjadi beberapa macam. Konjungsi-konjungsi tersebut akan
a) Konjungsi Koordinatif
Konjungsi koordinatif merupakan konjungsi yang menghubungkan dua unsur
yang sejajar. Konjungsi yang dimaksud yaitu konjungsi dan, atau, tetapi.
Warisman (2013) yang mengatakan konjungsi koordinatif di samping
menghubungkan klausa juga dapat menghubungkan kata. Sebagai contoh, Adik
tertawa dan kakaknya pun turut terbahak-bahak.
Konjungsi koordinatif berfungsi sebagai penghubung dua buah kalimat
sehingga terpadu dengan erat, sedangkan kedua kalimat berkedudukan setaraf.
Jika dilihat dari segi arti konjungsinya, hubungan semantik antar klausa dalam
kalimat majemuk setara ada tiga macam, yaitu hubungan penjumlahan (aditif),
hubungan perlawanan (adservatif), dan hubungan pemilihan (alternatif).
Hubungan penjumlahan/penambahan (aditif) adalah hubungan yang
menyatakan penjumlahan atau gabungan kegiatan, keadaan, peristiwa, atau proses
(Alwi, 1999:43). Konjungsi dan, kemudian, dan lalu merupakan konjungsi yang
menunjukan hubungan penjumlahan yang menyatakan urutan waktu. Konjungsi
aditif menghubungkan dua unsur bahasa yang mempunyai kedudukan yang sama.
Oleh karena itu, konjungsi aditif termasuk konjungsi yang koordinatif. Contoh
kalimat yang menggunakan penanda aditif sebagai berikut:
Mengomentari tanggapan pemerintah itu, peneliti senior INDEF, Dr Bustanul Arifin, menilai dampak pernyataan tersebut mungkin tidak terasa dan hanya terkesan sebagai pembelaan terhadap kelompok Salim.
Hubungan perlawanan (adversatif) adalah hubungan yang menyatakan bahwa
apa yang menyatakan bahwa apa yang dinyatakan dalam klausa pertama
(Alwi, 1999:47). Hubungan perlawana tersebut ditandai dengan adanya konjungsi
tapi atau tetapi, melainkan, dan namun. Contoh kalimat yang menggunakan penanda adversatif sebagai berikut: Dia terus saja berjalan, namun adiknya
hanya mengikuti saja.
Hubungan alternatif atau pilihan adalah hubungan yang menyatakan pilihan di
antara dua kemungkinan atau lebih yang dinyaakan oleh oleh klausa-klausa yang
dihubungkan (Alwi, 1999:50). Hubungan pemilihan tersebut dilakukan di kedua
kalimat yang berkedudukan setaraf. Konjungsi yang digunakan untuk
menghubungkan dua pernyataan tersebut adalah atau. Berikut ini adalah contoh
pemakaian penanda hubung alternatif: Kau yang pergi atau aku yang
meninggalkan tempat ini.
Dalam hubungan alternatif, dua klausa yang dihubungkan dengan konjungsi
atau merupakan dua hal yang merupakan pilihan. Kedua klausa yang dihubungkan itu mengandung pernyataan yang berisi pilihan. Dalam hubungan
alternatif itu pernyataan yang dihubungkan dapat pula mengandung pengertian
bahwa kedua pernyataan itu merupakan dua hal yang sama sehingga dapat dipilih
salah satunya.
b) Konjungsi Subordinatif
Konjungsi subordinatif adalah sebuah konjungsi yang menghubungkan dua
klausa atau lebih yang memiliki status sintaksis yang tidak sama (Warsiman,
2013:37). Konjungsi subordinatif dapat juga disebut sebagai kata penghubung
yang tidak setara. Menurut Lubis (2011:41) konjungsi subordinatif terbagi
1) Hubungan Waktu
Suatu tuturan yang diikuti oleh konjungsi penanda hubungan waktu bertujuan
untuk menyatakan waktu terjadinya peristiwa atau keadaan. Hubungan waktu
ini dibedakan menjadi empat, yaitu (1) hubungan batas waktu permulaan, (2)
hubungan waktu bersamaan, (3) hubungan waktu berurutan, (4) waktu batas
akhir terjadinya peristiwa atau keadaan. (Alwi, 1999:52).
a) Hubungan batas waktu permulaan
Hubungan yang menunjukan batas waktu permulaan pada umumnya
menggunakan konjungsi sejak, semenjak, dan sedari (Alwi, 1999:52).
Konjungsi sejak dipakai untuk menunjukukan bahwa peristiwa dimulai
ketika suatu pernyataan yang menyertai konjungsi itu terjadi. Contoh
kalimatnya sebagai berikut:
Menurutnya, akan beda nuansanya jika fungsi transparasi pemerintah dilakukan sejak kasus ini terungkap dan ditanggapi publik.
Kalimat tersebut berkohesi dengan penanda konjungsi subordinatif
hubungan waktu permulaan. Hal itu dibuktikan dengan kehadiran penanda
hubung sejak sebagai hubungan waktu dan berfungsi menghubungkan
kedua kalimat yang berkedudukan tidak setara.
b) Hubungan batas waktu bersamaan
Hubungan waktu bersamaan menunjukan bahwa peristiwa atau keadaan
yang dinyatakan dalam klausa utama dan klausa subordinatif terjadi pada
waktu yang bersamaan atau hampir bersamaan (Alwi, 1999:53). Konjungsi
tatkala, selagi, selama dan saat. Contoh kalimat yang menggunakan
konjungsi hubungan waktu bersamaan sebagai berikut:
“Kami membahas nilai tukar rupiah yang tadi siang memanjat sampai Rp.3000 per dolar AS. Kami tengah memikirkan berbagai langkah pengetatan lebih lanjut likuiditas perekonomian melalui kebijakan fiksal dan moneter,” ungkap Menko Ekkuwasbang Saleh Afif, ketika dicegat wartawan usai pertemuan, kemarin di Jakarta.
Kalimat tersebut dapat dikatakan berkohesi dengan penanda konjungsi
subordinatif waktu bersamaan. Hal tersebut dapat dilihat dari kehadiran kata
ketika yang berfungsi sebagai penanda hubung untuk kalimat yang berkedudukan tidak setara.
c) Hubungan batas waktu berurutan
Hubungan waktu berurutan menunjukan bahwa yang dinyatakan dalam
klausa utama lebih dahulu atau lebih kemudian daripada yang dinyatakan
dalam klausa subordinatifnya (Alwi, 1999:55). Konjungsi yang biasanya
dipakai adalah sebelum, sesudah, setelah, seusai, dan sehabis. Contoh
kalimat yang menggunakan konjungsi hubungan waktu berurutan sebagai
berikut:
Potensi bakal terjadinya perpecahan dan pergulatan kekuatan dalam kabinet koalisi enam partai yang berkuasa itu sendiri sudah muncul sejak hari keempat setelah Chavalit disumpah sebagai PM, yakni ketika ia menunjuk Chatichai Choonhavan sebagai penasehat senior bidang ekonomi.
Kalimat tersebut dapat dikatakan berkohesi dengan penanda konjungsi
penanda kata setelah yang berfungsi menghubungkan kalimat yang
berkedudukan tidak setara.
d) Waktu batas akhir terjadinya peristiwa
Hubungan waktu batas akhir dipakai untuk menyatakan ujung suatu proses
(Alwi, 1999:57). Konjungsi yang biasanya dipakai dalam hubungan ini
adalah hingga. Contoh kalimat yang menggunakan konjungsi hubungan
waktu batas akhir sebagai berikut:
Sementara dolar Singapura jatuh hingga titik terendah selama 33 bulan ini,
hingga mencapai angka 1,4785.
Kalimat tersebut berkohesi dengan penanda konjungsi subordinatif
hubungan waktu batas akhir. Hal tersebut dibuktikan dengan kehadiran
penanda hubung hingga, yang berfungsi menghubungkan kedua kalimat
yang berkedudukan tidak setara.
2) Hubungan Syarat
Hubungan syarat terjadi dalam kalimat yang klausa subordinatifnya
menyatakan syarat terlaksananya apa yang disebut dalam klausa utama. Untuk
menyatakan hubungan syarat dalam wacana, pada umumnya digunakan
konjungsi jika, jikalau, asal (kan), (apa)bila, dan bilamana. Berikut ini adalah
contoh pemakaian kalimat yang menggunakan konjungsi hubungan syarat:
Mereka tetap harus membayar pungutan tersebut atau menerima sanksi jika membandel.
Kalimat tersebut dapat dikatakan berkohesi dengan penanda konjungsi
yang berfungsi sebagai penanda hubung kalimat yang memiliki kedudukan
tidak setara.
3) Hubungan Tujuan
Menurut Alwi (1999:60), hubungan tujuan adalah kalimat yang klausa
subordinatifnya menyatakan suatu tujuan atau harapan dari apa yang disebut
dalam klausa utama. Konjungsi yang biasa dipakai untuk menyatakan
hubungan itu antara lain: supaya, agar, dan untuk. Berikut ini adalah contoh
kalimat yang menggunakan konjungsi subordinatif hubungan tujuan:
Belajarlah sungguh-sungguh, agar kau berhasil.
Kalimat tersebut dapat dikatakan berkohesi dengan penanda konjungsi
subordinatif hubungan tujuan. Hal tersebut dapat dikbuktikan dengan
kehadiran kata agar, yang berfungsi sebagai penanda hubung kedua kalimat
yang berkedudukan tidak setara.
4) Hubungan Konsesif
Konsesif merupakan klausa yang menyatakan keadaan atau kondisi yang
berlawanan dengan sesuatu yang dinyatakan dalam klausa utama. Menurut
Alwi (1999:63), hubungan konsesif terdapat dalam sebuah kalimat yang klausa
subordinatifnya memuat pernyataan yang tidak akan mengubah apa yang
dinyatakan dalam klausa utama. Konjungsi yang biasanya dipakai pada
hubungan ini adalah walau(pun), meski(pun), sekalipun, biar(pun),
kendati(pun), dan sungguh(pun). Berikut ini adalah contoh kalimat yang menggunakan konjungsi subordinatif hubungan konsesif.
Walaupun prosesi itu gagal, ternyata 55 orang yang mengaku pendukung
Kalimat tersebut dapat dikatakan berkohesi dengan penanda konjungsi
subordinatif hubungan konsesif. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan
kehadiran kata walaupun.
5) Hubungan Pengandaian
Dalam konjungsi subordinatif yang menyatakan hubungan pengandaian
terdapat empat macam bentuk kata. Keempat macam bentuk kata itu adalah
andaikan, andaikata, seandainya, dan seumpama (Alwi, 1995:55). Contoh kalimat yang menggunakan konjungsi subordinatif pengandaian sebagai
berikut:
Pertemuan ini benar-benar meriah andaikan Rudi tidak membatalkan kedatangannya.
Kalimat tersebut berkohesi dengan penanda konjungsi subordinatif hubungan
pengandaian. Hal ini dapat dibuktikan dengan kehadiran kata andaikan, yang
berfungsi menghubungkan kedua kalimat yang berkedudukan tidak setara.
6) Hubungan Pembandingan
Hubungan pembandingan adalah hubungan yan memperlihatkan kemiripan
antara pernyataan yang diutarakan dalam klausa utama dan klausa subordinatif,
serta anggapan bahwa isi klausa utama lebih baik atau lebih buruk daripada isi
klausa subordinatif (Alwi, 1999:65). Hubungan antar klausa yang menunjukan
makna pembandingan ini biasanya menggunakan kata hubung seperti, laksana,
bak, dan sebagaimana. Contoh kalimat yang menggunakan konjungsi hubungan pembandingan sebagai berikut:
Kita tidak lagi harus menunggu dan berjuang selama bertahun-tahun seperti yang pernah terjadi pada waktu sebelumnya.
Kalimat tersebut dapat dikatakan berkohesi dengan penanda konjungsi
subordinatif pembandingan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan kehadiran
kata seperti, dan berfungsi menghubungkan kedua kalimat yang berkedudukan
tidak setara.
7) Hubungan Penyebapan
Dalam hubungan penyebabpan, klausa subordinatifnya menyatakan sebab atau
alasan terjadinya sesuatu yang dinyatakan dalam klausa utama (Alwi,
1999:67). Konjungsi yang biasanya dipakai untuk menandai hubungan
penyebabpan ini antara lain, karena dan sebab. Contoh kalimat yang
menggunakan konjungsi subordinatif penyebapan sebagai berikut: