• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kolaborasi Pemangku Kepentingan dan Rekomendasi Penguatan

Barry Calvin Ginting

4. Hasil dan pembahasan

4.3. Kolaborasi Pemangku Kepentingan dan Rekomendasi Penguatan

Undang-undang nomor 5 tahun 2014 telah mengamatkan agar ASN tidak terlibat dalam kegiatan politik praktis, baik itu menjadi anggota partai politik atau menjadi bagian dari tim pemenangan kepala daerah saat pemilu atau pilkada berlangsung. Selama ini secara regulasi, pengawasan dititik beratkan kepada Badan pangawas Pemilu atau Bawaslu dalam mengontrol setiap kegiatan pelanggaran pilkada. Namun, jika hanya membiarkan kontrol terhadap ASN agar tidak terlibat dalam politik praktis hanya berada di pundak Bawaslu tentu tidak akan efektif. Pemerintah melalui DPR harus membentuk sebuah kelembagaan sifatnya kolaboratif dalam mengakomodir semua kepentingan terkait kesuksesan pilkada serentak tahun 2018 yang berintegritas dan bermartabat. Melalui para pemangku kepentingan seperti partai politik, tim sukses, KPUD, Bawaslu, Media, NGO, akademisi dan masyarakat.

Partisipasi politik masyarakat dalam mengawasi setiap ASN ketika pilkada berlangsung juga sangat diperlukan. Masyarakat dalam fungsi pengawasan ini bagian terpenting untuk memperhatikan setiap ASN yang terlibat dalam politik praktis. Agar ASN yang terlibat dalam politik praktis ini dapat ditindak dan diberikan sanksi yang tegas.

Para stakeholders perlu dilibatkan dalam beberapa agenda pengawasan agar ASN jangan terlibat dalam pilkada. Dimana tugas stakeholder itu, terutama masyarakat memberikan pelaporan yang rutin tentang kondisi di lapangan baik sebelum pilkada ataupun masa kampanye. Sebab, sanksinya sudah tegas

bila terlibat dalam kegiatan politik praktis ASN bisa di pecat”. (wawancara dengan Nazir Salim Manik, 28/10/2017)

Wa l a u p u n ko l a b o ra s i a n t a r

stakeholder (pemangku kepentingan)

dalam pengawasan terhadap ASN agar tidak berpolitik merupakan permasalahan yang rumit namun dengan adanya regulasi yang mengatur agar ASN bersikap profesional terhadap kinerjanya dan wajib tunduk hanya pada kegiatan birokrasi yang sistematis, terstuktur, pengelolaan APBD dan eksekusi kebijakan publik maka ASN terbebas dari politik praktis.

Selanjutnya, rekomendasi lain agar pilkada serentak 2018 lebih berintegritas adalah mendesain ulang model birokrasi

political apointe di pemerintah daerah

provinsi dan kabupaten/kota dan mengubah pembinaan karir ASN pusat dan daerah berdasarkan pangkat/ golongan. ASN daerah yang memiliki golongan IVA keatas misalnya sebaiknya kewenangannya dipindahkan ke pusat karena golongan ini yang rentan terhadap politisasi terhadap birokrasi ASN.

Tidak hanya itu, langkah lainnya adalah perlunya memperbaiki sistem perekrutan di tingkatan ASN dengan menempatkan kapasitas, integritas dan kapasitas dalam memperjelas posisi ASN di birokrasi. Solusinya adalah dengan menetapkan sistem reward dan

punishment serta kenaikan pangkat dan

promosi di lingkungan birokrasi.

5. Kesimpulan

Perdebatan mengenai netralitas ASN pada saat pilkada merupakan permasalahan utama yang hadir sejak diselenggarakannya pilkada langsung pertama pada tahun 2005 yang lalu. Namun, agar pemilu berintegritas

terwujud, ASN harus lepas dari kegiatan politik praktis karena birokrasi merupakan acuan yang ideal dalam mewujudkan administrasi negara yang adil, stabil, efektif, efisien dan bersih yang bebas dari kepentingan politik praktis.

Artinya Netralitas ASN dalam Pilkada merupakan sesuatu yang sangat penting untuk memperkuat dan mematangkan demokrasi di daerah. Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Aparatur Sipil Negara jelas menginstruksikan kepada seluruh ASN untuk bersikap netral ketika pemilihan umum berlangsung baik itu pemilihan legislatif, pemilihan presiden dan pemilihan kepala daerah.

Namun, regulasi tanpa di dukung implementasi merupakan sesuatu yang masih abstrak. Netralitas Aparatur Sipil Negara (ASN) seharusnya bekerja pada

prinsip-prinsip netralitas untuk melayani masyarakat dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan (stakeholders).

H a ra p a n nya p a ra p e m a n g ku kepentingan seperti pemerintah, KPU, Bawaslu, partai politik, akademisi, LSM dan masyarakat dapat bersama-sama mengawasi ASN ketika pilkada berlangsung. Sehingga saat ini kita memerlukan sebuah kebijakan dalam lindungan satu payung hukum sebagai penyempurnaan Undang-undang nomor 5 tahun 2014 tentang ASN.

Tujuannya adalah memastikan agar pilkada bebas dari keterlibatan politik praktis. Harapannya, penyempunaan ini semakin menguatkan posisi administrasi birokrasi agar tetap netral demi terwujudnya penyelenggaraan pemilu yang substansi dan berintegritas di pilkada serentak tahun 2018 nanti.

DAFTAR PUSTAKA

Fligstein, N. (2001). Organizations: Theoretical Debates and the Scope of Organizational Theory, Department of Sociology. University of California, Berkeley.

Khan, M. M. (2013). Bureaucracy: A Reformist Perspective. Dhaka: BRAC University Press.

Manan, Bagir, (2004), Menyongsong Fajar Otonomi Daerah, Yogyakarta : FH UII Press. Masiud, Mohtar dan Collin MacAndrews, (2008), Perbandingan Sistem Politik,

Yogyakarta : Gajah Mada University Press.

Rasyid, Ryaas, (2005), Desentralisasi dan Otonomi Daerah, Jakarta: LIPI Press. Santoso, (1997), Birokrasi Pemerintah Orde Baru: Perspektif Kultural dan Struktural,

Jakarta: Raja Grafindo Persada

Olsen, J.P. (2010) Governing Through Institutional Building. Oxford: Oxford University Press.

Ellis, D.C. (2011), The organizational turn in international organization theory,” Theorizing International.https://pdfs.semanticscholar.org /ccea/ c9c1a0fde750300f49a564759ae28d390733.pdf

Fukuoka , Yuki and Chanintira Thalang, (2014), The Legislative and Presidential Elections

in Indonesia in 2014, Electoral Studies 36.

Ferdous, Jannatul, (2016), Organization Theories: From Classical Perspective, International Journal of Business, Economics and Law, Vol. 9, Issue 2 (Apr.) ISSN 2289-1552.

Higashikata, Takayuki and Koichi Kwamura, 2015, Voting behavior in Indonesia from

1999 to 2014 Religious Cleavage or Economic Performance ?, Ide Discussion

paper 152, hal.45-64.

Laode, Ida, (2014), Election And Political Evil Ambition In Indonesia’s Reformasi Era, International Journal of Politics and Good Governance Volume 5, No. 5.4 Quarter IV 2014, hal. 4

Jati, Wasisto Raharjo, (2012), Kultur Birokrasi Patrimonialisme Dalam Pemerintah

Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta, Jurusan Politik Dan Pemerintahan, Fisipol

Ugm Jurnal Borneo Administrator | Volume 8 | No. 2 | 2012

Mili, B. R. & Nasrullah, A. M. (2014). Fundamentals of Public Administration. Dhaka: Bangladesh Institute of Islamic Thought.

Norris, Pippa, (2016) Electoral Integrity in East Asia, Taiwan Journal of Democracy, Volume 12,No.1:1-25.http://www.tfd.org.tw/export/sites/tfd/files/publication/ journal/001-025Electoral-Integrity-in-East-Asia.pdfOrganizations.

Saragih, Anwar, (2016), Penyalahgunaan Wewenang Aparatur Sipil Negara pada

Pilkada Serentak 2015 di Sumatera Utara, Jurnal Bawaslu Volume II Edisi I

tahun 2016 ISSN hal 128-143.

KPU Resmikan Pelaksanaan Pilkada Serentak 2015 http://news.liputan6.com/ read/2215484/kpu-resmikan-pelaksanaan-pilkada-serentak-2015 diakses tanggal 6 November 2017 pukul 13.00 wib.

Pilkada Serentak 2017 dan Permasalahan Aktualnya https://news.detik.com/ kolom/d-3404925/pilkada-serentak-2017-dan-permasalahan-aktualnya diakses tanggal 6 November 2017 pukul 13.00 wib.

Bawaslu Sumut: Ada Indikasi Calon Petahana Mobilisasi PNS Senin, 3 Agustus 2015 16:40 WIB http://www.tribunnews.com/nasional/2015/08/03/bawaslu-sumut-ada-indikasi-calon-petahana-mobilisasi-pns diunduh tanggal 16 november 2017, pukul 23.05 wib.

Kadis di Riau Ikut Rapat Golkar, KemenPAN: PNS Dilarang Berpolitik https://news.detik. com/berita/3661591/kadis-di-riau-ikut-rapat-golkar-kemenpan-pns-dilarang-berpolitik diunduh tanggal 18 november 2017 pukul 23.00 wib.

Data dari KPUD Sumatera Utara Data dari Bawaslu Sumatera Utara

Hasanah,K.

Vol.3 No. 3 2017, Hal. 363-374

EVALUASI PEMUNGUTAN SUARA DI TPS