• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III LEGAL STANDING KOMISI PEMBERANTASAN

3.3. Legal Standing KPK dalam Sengketa Kewenangan Lembaga

3.3.2. Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Hubungannya

Negara

a. Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai Pemohon

Dalam hukum acara Mahkamah Konstitusi yang boleh mengajukan permohonan untuk berperkara di MK ditentukan dalam Pasal 61 Undang-Undang No. 24 Tahun 2003, yang bunyinya sebagai berikut:

(1) Pemohon adalah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Republik Indonesia Tahun 1945 yang mempunyai kepentingan langsung terhadap kewenangan yang dipersengketakan.

(2) Pemohon wajib menguraikan dengan jelas dalam permohonannya tentang kepentingan langsung pemohon dan menguraikan kewenangan yang dipersengketakan serta menyebutkan dengan jelas lembaga negara yang menjadi termohon.

Hal yang perlu diingat bahwa pemohon harus mampu menguraikan dalam permohonannya mengenai hak dan kewenangan konstitusionalnya yang dirugikan. Kepentingan hukum saja tidak cukup untuk menjadi dasar legal standing dalam mengajukan permohonan di Mahkamah Konstitusi, tetapi terdapat

dua hal yang harus diuraikan dengan jelas. Dua kriteria dimaksud adalah:126

a. Kualifikasi pemohon apakah sebagai (i) perorangan Warga Negara Indonesia (termasuk kelompok orang yang mempunyai kepentingan yang sama); (ii) kesatuan masyarakat hukum adat sepanjang masih hidup dan sesuai dengan perkembangan masyarakat dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia yang diatur dalam undang-undang; (iii) badan hukum publik atau privat, atau (iv) lembaga negara;

b. Anggapan bahwa dalam kualifikasi demikian terdapat hak dan/atau kewenangan konstitusional pemohon yang dirugikan oleh berlakunya undang-undang.

Permohonan pemohon dalam perkara sengketa kewenangan lembaga negara di Mahkamah Konstitusi harus menguraikan secara jelas tiga hal yaitu:127

1. Pemohon adalah lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945,

2. Mempunyai kepentingan langsung terhadap kewenangan yang dipersengketakan,

3. Ada hubungan kausal kerugian yang dialami kewenangannya langsung dengan kewenangan yang dilaksanakan oleh lembaga lain.

126Manuar Siahaan, Op.Cit, h. 67.

Komisi Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (KPK) dibentuk berdasarkan undang-undang tetapi KPK memiliki sifat constitutional importance128 yang sama dengan kepolisian. Artinya KPK yang meskipun belum ditentukan kewenangannya dalam UUD NRI Tahun 1945 melainkan hanya dalam undang-undang, tetapi dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum juga memiliki constitutional important berdasarkan Pasal 24 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945.

b. Komisi Pemberantasan Korupsi sebagai Termohon

Sengketa kewenanga lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD diatur dalam Pasal 61 ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi lembaga Negara yang dapat mengajukan permohonan sengketa kewenangan lembaga negara adalah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD dan lembaga tersebut memiliki kepentingan langsung terhadap kewenangan yang dipersengketakan. Dari ketentuan tersebut ada tiga kriteria untuk mengajukan sengketa kewenangan lembaga negara di Mahkamah Konstitusi; yaitu, pertama, menyangkut sengketa kewenangan dan bukan sengketa lain. Kedua, yang menjadi pihak adalah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD. Dan yang ketiga, lembaga Negara yang dimaksud memiliki kepentingan langsung dnegan kewenangan yang akan dipesengketakan. Secara lebih jelas dalam 128

Pasal 61 ayat (1) dijelaskan bahwa “baik pemohon maupun

termohon harus merupakan lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945”.

Termohon adalah lembaga Negara yang dianggap telah mengambil, mengurangi, menghalangi, mengabaikan, dan/atau merugikan pemohon.129

Namun, undang-undang Mahkamah Konstitusi tidak menjelaskan dan merinci lembaga Negara mana saja yang dapat menjadi pihak di Mahkamah Konstitusi terkait dengan sengketa kewenangan lembaga negara. Sebaliknya Mahkamah Konstitusi berdasarkan ketentuan Pasal 61 ayat (1) UU Nomor 4 Tahun 2003 Tentang Mahkamah Konstitusi malah memberikan pembatasan tambahan, yang pembatasan tersebut tidak diatur dalam UUD, yaitu ketentuan yang menyatakan Mahkamah agung tidak dapat menjadi pihak dalam sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD di Mahkamah Konstitusi.

Perdebatan yang dapat saja muncul adalah bagaiman jika lembaga Negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD bersengketa dengan lembaga Negara yang kewenangannya diperoleh dari selain UUD. Bisa saja sengketa tersebut diajukan ke Mahkamah Konstitusi, tetapi lembaga Negara yang

kewenangannya diberikan oleh UUD yang berhak mengajukan permohonan, sedangkan lembaga Negara yang kewenangannya diperoleh dari selain UUD sebagai pihak terkait. Dalam hal ini KPK yang meskipun belum ditentukan kewenangannya dalam UUD NRI Tahun 1945 melainkan hanya dalam undang-undang, tetapi dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum juga memiliki constitutional important berdasarkan Pasal 24 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945,130 dapat menjadi pihak termohon apabila KPK menjadi pihak terkait sebagai pihak termohon salah satu lembaga negara dalam sengketa kewenangan lembaga negara di Mahkamah Konstitusi.

3.3.3. Persoalan Terkait dengan Legal Standing Komisi Pemberantasan Korupsi dalam Sengketa Kewenangan Lembaga Negara

Perkara Permohonan Sengketa Kewenangan Lembaga Negara Yang Kewenangannya Diberikan Oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, diajukan oleh Komisi Penyiaran Indonesia sebagai Pemohon mengajukan gugatan terhadap Presiden Republik Indonesia qq Menteri Komunikasi dan informatika, yang dalam hal ini diwakili oleh Menteri Hukum Dan Hak Asasi Manusia, Menteri Komunikasi Dan Informatika, baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama untuk

dan atas nama Presiden Republik Indonesia berdasarkan Surat Kuasa Khusus tanggal 13 Februari 2007; sebagai termohon.

Duduk perkara yang terjadi yaitu: Menimbang bahwa Pemohon telah mengajukan permohonan dengan surat permohonannya bertanggal 22 Desember 2006 yang diterima oleh Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi tanggal 29 Desember 2006 dan diregistrasi tanggal 29 Desember 2006 dengan Nomor 030/SKLN-IV/2006, yang telah diperbaiki dan diterima di Kepaniteraan Mahkamah Konstitusi tanggal 22 Januari 2007, mengemukakan hal-hal sebagai berikut:

1. Bahwa kewenangan konstitusional Mahkamah Konstitusi menurut Pasal 24C Ayat (1) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 (UUD NRI Tahun 1945) adalah mengadili pada tingkat pertama dan terakhir yang putusannya bersifat final antara lain, untuk memutus sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar, kewenangan tersebut juga ditegaskan kembali dalam Pasal 10 Ayat (1) huruf b Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2003 tentang Mahkamah Konstitusi (UU MK);

2. Penjabaran ketentuan tersebut terdapat dalam ketentuan Pasal 61 UU MK yang mengatur:

(1) Pemohon adalah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang mempunyai kepentingan langsung terhadap kewenangan yang dipersengketakan;

(2) Pemohon wajib menguraikan dengan jelas dalam permohonannya tentang kepentingan langsung pemohon dan menguraikan kewenangan yang dipersengketakan serta menyebutkan dengan jelas lembaga negara yang menjadi termohon;

3. Dari ketentuan Pasal 61 UU MK tersebut di atas, beberapa hal yang perlu dijelaskan, adalah Pertama, Pemohon maupun Termohon adalah lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945. Kedua, adanya kewenangan konstitusional yang dipersengketakan antara Pemohon kepada Termohon, yang mana kewenangan tersebut merupakan kewenangan konstitusional Pemohon yang diambil alih dan/atau terganggu oleh tindakan Termohon, serta adanya kepentingan langsung dengan kewenangan konstitusional yang dimohonkan tersebut.

Dalam amar putusan yang sama Mahkamah Konstitusi menyatakan:

a. Mahkamah berpendapat bahwa dalam sistem ketatanegaraan Indonesia istilah lembaga negara tidak selalu dimaksudkan sebagai lembaga negara yang disebutkan dalam UUD yang keberadaannya atas dasar perintah konstitusi, tetapi juga ada lembaga negara yang dibentuk atas perintah UU dan bahkan ada lembaga negara yang dibentuk atas dasar Keppres. KPI yang oleh UU Penyiaran disebut lembaga negara tidak menyalahi dan tidak bertentangan dengan UUD 1945,131

b. Permasalahannya terletak pada apakah kewenangan Pemohon diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945? Untuk itu perlu ditegaskan bahwa kata “disebutkan” tidaklah sama dengan “diberikan”. Karenanya, secara a contrario “tidak

disebutkan” juga bukan berarti “tidak diberikan”.

Penyebutan memerlukan pencantuman secara langsung (letterlijk), sedangkan pemberian tidak berarti harus secara langsung tetapi dapat juga tidak secara langsung. Artinya, tidak disebutkannya nama Komisi Penyiaran Indonesia di dalam UUD NRI Tahun 1945, bukan berarti tidak terdapat kewenangan Komisi Penyiaran Indonesia (Pemohon) dalam UUD NRI Tahun 1945;

131 Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi (vide Putusan MK Nomor 005/PUU-I/2003, halaman 79).

c. Pemikiran di atas menemukan korelasinya jika dipadankan dengan Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor

004/SKLN-IV/2006 yang menyebutkan bahwa “Dalam menetapkan

siapa yang dimaksud dengan lembaga negara oleh Pasal 24C Ayat (1) UUD NRI Tahun 1945, Mahkamah berlandaskan pada uraian di atas bahwa kewenangan Mahkamah adalah untuk memutus sengketa kewenangan yang diberikan oleh UUD NRI Tahun 1945, sehingga untuk menentukan apakah sebuah lembaga sebagai lembaga negara sebagaimana dimaksud Pasal 24C Ayat (1) UUD NRI Tahun 1945, maka yang pertama-tama harus diperhatikan adalah adanya kewenangan-kewenangan tertentu dalam Undang-Undang Dasar dan baru kemudian kepada lembaga apa kewenangan-kewenangan tersebut diberikan”,132

d. Artinya, MK lebih memperhatikan ke kewenangan dan bukan ke lembaganya. Bahkan, MK juga kemudian lebih

menegaskan bahwa “Mahkamah berpendapat bahwa

pengertian kewenangan yang diberikan oleh Undang-Undang Dasar dapat ditafsirkan tidak hanya yang tekstual saja tetapi juga termasuk didalamnya kewenangan implisit yang terkandung dalam suatu kewenangan pokok dan

132Lihat Putusan Mahkamah Konstitusi (vide Putusan MK Nomor 004/SKLN-IV/2006 halaman 88)

kewenangan yang diperlukan guna menjalankan

kewenangan pokok...”,

e. Berdasarkan hal-hal di atas, Pemohon mendalilkan bahwa meski Komisi Penyiaran Indonesia walau tidak disebutkan di dalam UUD NRI Tahun 1945, tetapi sesungguhnya kewenangan itu diberikan melalui UUD NRI Tahun 1945. Kewenangan ini merupakan derivasi dari perintah konstitusi yang menjaminkan kemerdekaan menyampaikan pendapat dan memperoleh informasi melalui penyiaran sebagai perwujudan hak asasi manusia dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, dilaksanakan secara bertanggung jawab, selaras dan seimbang antara kebebasan dan kesetaraan menggunakan hak berdasarkan Pancasila dan UUD NRI Tahun 1945;

f. Berkait dengan hal ini, ada beberapa Pasal UUD NRI Tahun 1945 yang menjadi bagian “Mengingat” dari UU Penyiaran yakni untuk bagian formil UU Penyiaran berlandaskan pada Pasal 20 Ayat (1), Ayat (2), dan Ayat (4), Pasal 21 Ayat (1), sedangkan untuk bagian materiil UU Penyiaran dilandaskan Pasal 28F, Pasal 31 Ayat (1), Pasal 32, Pasal 33 Ayat (3), dan Pasal 36;

g. Karenanya Komisi Penyiaran Indonesia sebagai lembaga negara di bidang penyiaran seharusnya diartikan ikut

bertanggung jawab secara penuh dalam hal pemajuan, penegakan, dan pemenuhan hak-hak warga negara di Pasal 28F UUD NRI Tahun 1945 yakni “Setiap orang berhak untuk berkomunikasi dan memperoleh informasi untuk mengembangkan pribadi dan lingkungan sosialnya, serta berhak untuk mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi dengan

menggunakan segala jenis saluran yang tersedia”, terkhusus

yang melalui penyiaran;

h. Pasal 28F UUD NRI Tahun 1945 yang mengatur masalah kebebasan memperoleh informasi sepatutnya bisa dianggap sebagai dasar kewenangan konstitusional Komisi Penyiaran Indonesia (Pemohon). Karena sebagaimana diputuskan sendiri dalam pertimbangan hukum Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 005/PUU-I/2003 halaman 78 menyatakan bahwa:

a. Menimbang bahwa salah satu perwujudan ketentuan Pasal 28 UUD 1945 adalah lahirnya UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers yang dalam konsideransnya juga merujuk Ketetapan MPR Nomor XVII/MPR/1998 tentang Hak Asasi Manusia. Sementara itu, UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran konsiderans mengingatnya merujuk Pasal

28F UUD 1945, UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia, dan UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers;

b. Menimbang bahwa dengan demikian, kelahiran UU Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers dan UU Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran tidak lepas kaitannya dengan jaminan pengakuan dan perlindungan hak asasi manusia mengenai kemerdekaan mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan serta hak akan informasi sebagaimana tercantum dalam Pasal 28 dan Pasal 28F UUD 1945; c. Dengan pertimbangan hukum Mahkamah Konstitusi

demikian, jelaslah ada hubungan antara lahirnya Undang-Undang Penyiaran yang juga menjadi dasar konstitutional kehadiran Pemohon dengan Pasal 28F UUD 1945. Karena itu sepatutnya Pasal 28F UUD 1945 dibaca sebagai dasar konstitusional eksistensi dan fungsi Pemohon.

d. Kedudukan hukum (legal standing) pemohon:

e. Berdasarkan ketentuan Pasal 61 Ayat (1) UU MK, Pemohon dalam sengketa kewenangan lembaga negara yang kewenangannya diberikan oleh UUD

diberikan oleh UUD 1945 yang mempunyai kepentingan langsung terhadap kewenangan yang dipersengketakan”;

f. Pemohon dalam permohonannya pada pokoknya mendalilkan sebagai berikut:

g. bahwa Pemohon selaku Anggota KPI, menganggap berhak bertindak untuk dan atas nama KPI;

h. bahwa KPI sebagaimana ditentukan dalam Pasal 1 Angka 13 dan Pasal 7 Ayat (2) Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran (selanjutnya disebut UU Penyiaran) adalah lembaga negara;

i. bahwa walaupun KPI tidak disebutkan secara eksplisit dalam UUD 1945, akan tetapi secara derivative diberikan wewenang oleh UUD 1945 melalui Pasal 28F UUD 1945, yang dicantumkan dalam

“Konsiderans Mengingat

"

UU Penyiaran.

Dengan demikian dalam amar putusan dinyatakan bahwa Menyatakan permohonan Pemohon tidak dapat diterima.

Ditelaah dari contoh kasus tersebut maka terdapat kemiripan antara kasus tersebut dengan legal standing KPK dalam sengketa kewenangan lembaga Negara di Mahkamah Konstitusi. Namun dalam hal pengajuan sengketa kewenangan lembaga negara, Komisi Pemberantasan Tindak

Pidana Korupsi (KPK) tidak dapat menjadi pihak yang bersengketa di Mahkamah Konstitusi terkait dengan sengketa kewenangan lembaga negara, hal tersebut dikarenakan KPK bukanlah lembaga Negara yang diatur secara tegas dalam UUD 1945. KPK merupakan lembaga negara pendukung yang dibentuk berdasarkan undang-undang tetapi KPK memiliki sifat constitutional importance133 yang sama dengan kepolisian. Artinya KPK yang meskipun belum ditentukan kewenangannya dalam UUD NRI Tahun 1945 melainkan hanya dalam undang-undang, tetapi dalam menjalankan tugasnya sebagai penegak hukum juga memiliki constitutional important berdasarkan Pasal 24 ayat (3) UUD NRI Tahun 1945. Disamping itu jika dilihat dari segi kewenangannya, KPK memiliki kewenangan atribusi. Perolehan kekuasaan secara atributif menyebabkan terjadinya pembentukan kekuasaan, karena berasal dari keadaan yang belum ada menjadi ada. Kekuasaan yang timbul karena pembentukan secara atributif bersifat asli dan menyebabkan adanya kekuasaan yang baru.134 KPK merupakan lembaga negara yang memiliki kewenangan atributif yang diperoleh berdasarkan Undang-Undang No. 30 Tahun 2002 tentang KPK. Kewenangan KPK disebut sebagai kewenangan atributif karena kewenangan KPK bersifat asli, artinya kewenangan KPK merupakan kewenangan yang tidak berasal dari wewenang lembaga negara lain yang telah ada sebelumnya melainkan merupakan wewenang baru yang diberikan melalui undang-undang. Dengan demikian KPK tidak

133

Tim Penyusun Hukum Acara Mahkamah Konstitusi, Op. Cit, h. 160. 134

dapat menjadi pihak dalam sengketa kewenangan lembaga Negara di Mahkamah Konstitusi baik sebagai pihak pemohon maupun sebagai pihak termohon, karena KPK bukanlah lembaga Negara yang diatur secara tegas dalam UUD 1945.

139

LEMBAGA NEGARA YANG BERSENGKETA DI MAHKAMAH KONSTITUSI DALAM KAITAN DENGAN PRINSIP PEMISAHAN

KEKUASAAN NEGARA 4.1. Hakikat Pemisahan Kekuasaan Negara

Gagasan untuk menerapkan prinsip pemisahan kekuasaan yang tegas anatara cabang-cabang kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudisial ke dalam institusionalisasi organ-organ negara yang sederajad sekaligus saling kontrol dan mengimbangi satu sama lain (checks and balances) diwujudkan dalam dasar konstitusi.

Sebagaimana umumnya, diketahui bahwa dalam rangka demokratisasi dan pembatasan kekuasaan, dikenal adanya prinsip pemisahan kekuasaan (separation of power) yang dikembangkan oleh Montesquieu. Menurutnya, kekuasaan Negara haruslah dipisah-pisahkan dalam fungsi-fungsi legislatif, eksekutif, dan yudisial.135

Menurut Montesquieu, dalam sistem suatu pemerintahan Negara, ketiga jenis kekuasaan itu terpisah, baik mengenai fungsi (tugas) maupun mengenai alat perlengkapan (organ) yang melaksakan. Kekuasaan legislatif adalah kekuasaan yang membentuk undang-undang yang dilaksanakan oleh parlemen; kekuasaan eksekutif adalah kekuasaan yang melaksanakan undang-undang yang

135

Soimin dan Mashuriyanto, 2013, Mahkamah Konstitusi dalam Sisstem Ketatanegaraan Indonesia, UII Press, Yogyakarta, h. 141.

dilaksanakan oleh presiden; sedangkan kekuasaan yudisial adalah kekuasaan yang menjatuhkan hukuman atas kejahatan dan yang memberikan putusan apabila terjadi perselisihan anatara para warga, yang dilaksanakan oleh badan peradilan.136 UUD NRI Tahun 1945 dalam pasal-pasalnya tersendiri membagi mengenai tiap-tiap perlengkapan negara (kekuasaan eksekutif, legislatif dan yudisial) tetapi dengan tidak menekankan kepada pemisahannya. UUD NRI Tahun 1945 tidak menganut pemisahan kekuasaan dalam arti material (separation of power), tetapi mengenal pemisahan kekuasaan dalam arti formal (division of power), karena pemisahan kekuasaan itu tidak dipertahannya secara prinsipil.137

4.1.1. Pemisahan Kekuasaan Negara Dalam Hubungan Dengan Ajaran Negara Hukum

Awal mula gagasan negara hukum sudah berkembang sejak 1800 SM. Akar terjauh mengenai perkembangan awal pemikiran negara hukum adalah pada masa Yunani Kuno yang dikemukakan oleh Plato ketika mengintroduksi konsep nomoi. Plato mengemukakan bahwa penyelenggaraan negara yang baik ialah yang didasarkan pada pengaturan hukum yang baik. Gagasan Plato semakin tegas ketika didukung oleh muridnya yang bernama Aristoteles dalam bukunya Politicos. Menurut Aristoteles, suatu negara yang baik ialah negara yang diperintah dengan konstitusi dan berkedaulatan hukum. Terdapat tiga unsur pemerintahan yang berkonstitusi, yaitu suatu pemerintahan yang dilaksanakan:

136 H. Jawade Hafidz Arsyad, 2013, Korupsi dalam Perspektif HAN (Hukum Administrasi Negara), Sinar Grafika, Jakarta, h. 79-80.

1. Untuk kepentingan umum

2. Menurut hukum berdasarkan ketentuan-ketentuan umum, bukan hukum yang dibuat secara sewenang-wenang yang mengesampingkan konvensi dan konstitusi

3. Atas kehendak rakyat, bukan berupa paksaan atau tekanan yang dilaksanakan oleh pemerintahan despotik.138

Dalam kenyataannya, isi aturan hukum tidak selalu berupa penuangan pikiran-pikiran ideal yang dikemukakan oleh ahli hukum, melainkan berupa apa yang ditetapkan sebagai aturan di dalam konstitusi atau peraturan perundang-undangan lainnya. Adakalanya orang menyalahkan suatu aturan hukum karena aturan itu tidak sesuai dengan pikiran ideal atau tak sesuai dengan teori. Padahal, apapun yang dituangkan di dalam bentuk dan dengan cara tertentu oleh pembentuk hukum itulah yang sebenarnya hukum yang berlaku, termasuk hukum tata Negara.139

Konstitusi negara hukum Indonesia menganut asas rule of law dalam menjalankan sistem pemerintahan negara dengan menjunjung tinggi supremasi hukum yang harus ditaati baik oleh setiap warga negara meupun penguasa, dimana semua warga

138Jasim Hamidi, dkk, 2012, Teori Hukum Tata Negara: A Turning Point of The State, Sinar Grafika,Jakarta, h. 143.

139 Mahfud MD, 2010, Membangun Politik Hukum Menegakkan Konstitusi, Rajawali Pers, Jakarta, h. 134.

negara bersamaan kedudukannya dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecuali (Pasal 27 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945). Konstitusi merupakan hukum dasar dalam sistem perundang-undangan dan dalam menjalankan pemerintahan. Kenyataan ini dapat dilihat dari ketentuan UUD NRI Tahun 1945 yang menyebutkan “Kedaulatan di tangan rakyat dan dilaksanakan menurut Undang-Undang

Dasar” (Pasal 1 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945), dan “Presiden

Republik Indonesia memgang kekuasaan pemerintahan menurut Undang-Undang Dasar” (Pasal 4 ayat (1) UUD NRI Tahun 1945). Namun demikian, supremasi hukum yang memegang peran sentral dalam menjalankan pemerintahan tidak selalu akan berjalan seperti yang diharapkan, sebab dalam penyelenggaraan negara bisa terjadi timbulnya pengaruh kekuasaan yang mengakibatkan tidak berfungsinya lembaga-lembaga negara dengan baik, yaitu terjadinya penyalahgunaan kekuasaan yang bernaung pada hukum atau rule of man by using law dan tindakan Pemerintahan dilakukan secara arbitary atau sewenang-wenang belaka, maka fungsi-fungsi lembaga negara harus berjalan sesuai dengan konstitusi dan ketentuan perundang-undangan.

Tujuan utama lahirnya konsep rechsstaat ialah bagaimana membatasi kekuasaan itu agar tidak menjadi sewenang-wenang. Untuk membatasi kekuasaan tersebut muncullah berbagai

pandangan sebagaimana dikemukakan oleh J.J. Rosseau, Jhon Locke, maupun Montesquieu yaitu membagi atau memisahkan kekuasaan itu. Dengan membagi kekuasaan ke dalam tiga cabang kekuasaan, yakni kekuasaan legislatif atau kekuasaan membentuk undang-undang, kekuasaan eksekutif atau kekuasaan melaksanakan undang-undang, dan kekuasaan yudisial atau kekuasaan kehakiman (mengadili), maka diharapkan penyelenggaraan pemerintahan itu bisa dijalankan sesuai dnegan tuntutan rakyat yang bertumpu kepada adanya egalite (kesamaan), liberte (kebebasan), dan fraterrite (kemanusiaan).140

Konsep negara hukum merupakan hal yang diterapkan oleh banyak negara-negara modern di masa sekarang, termasuk di Indonesia. Negara hukum dalam pandangan Mochtar Kusumaatmadja mengandung makna bahwa kekuasaan negara dan setiap orang kedudukannya sama di mata hukum dan tunduk pada hukum.141

Dalam suatu negara hukum, baik dalam bentuk Rechtstaat maupun Rule of Law, mengedepankan pengakuan dan perlindungan terhadap hak asasi manusia. Begitu pula Indonesia yang menyatakan sebagai negara hukum melalui salah satu ketentuan pasal dalam UUD NRI Tahun 1945, juga harus melaksanakan pengakuan dan perlindungan HAM tersebut dalam

140Aminudin Ilmar, Op.Cit, h. 58. 141

Abdul Rasyid Thalib, 2006, Wewenang Mahkamah Konstitusi dan Implikasinya dalam Sistem Ketatanegaraan Republik Indonesia, Citra Aditya Bakti, Bandung, hal. 45.

peraturan perundang-undangan, dalam setiap tingkatan hierarkinya.142 Perlindungan terhadap HAM di Indonesia dalam konstitusi diatur secara khusus dalam Bab XA UUD NRI Tahun 1945 serta tersebar pula dalam beberapa ketentuan Batang Tubuh UUD NRI Tahun 1945 lainnya.

Konsep Negara dengan supremasi hukum yang dianut oleh Negara Kesatuan Republik Indonesia mengedepankan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 sebagai hukum tertinggi yang harus dipakai sebagai rujukan semua peraturan perundang-undangan di bawahnya. Oleh karena itu, diperlukan penjaga dan penafsir undang-undang dasar agar tetap berwibawa keberadaannya yang kemudian memunculkan lembaga yang dimaksud, yaitu Mahkamah Konstitusi Indonesia.

Pembicaraan tentang sengketa antar lembaga negara dalam konteks kewenangan Mahkamah Konstitusi dalam UUD NRI Tahun 1945 setelah perubahan, sesungguhnya harus dilakukan dalam rangka pembahasan organisasi dan kelembagaan negara. Pembicaraan demikian hanya dapat dimasuki dengan tepat apabila kita juga membicarakan hakikat kekuasaan negara, yang disusun dalam struktur organisasi secara melembaga. Hal tersebut erat kaitannya dengan filsafat hukum dan negara serta perkembangan sejarah baik secara umum maupun secara nasional

Dokumen terkait