BAB II TINJAUAN UMUM PEMBERANTASAN TINDAK
2.3. Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi dalam Instrumen
2.3.1. Pengaturan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di
Tindak Pidana Korupsi tidak hanya merupakan persoalan di tingkat nasional (Indonesia) namun juga mendapat perhatian di tingkat Internasional, sehingga perlu diatur dalam bentuk Instrumen Hukum Internasional.
Konvensi mengenai pemberantasan korupsi di bawah pengawasan PBB telah diadopsi dalam sidang ketujuh Panitia ad hoc negosiasi atas draft konvensi tersebut pada tanggal 1 Oktober 2003 yang lampau. Adopsi atas konvensi tersebut merupakan babak baru dalam pemberantasan korupsi secara internasional, dan juga merupakan perkembangan yang sangat signifikan dalam pengembangan studi hukum mengenai korupsi; dan saat ini korupsi sudah merupakan kejahatan transnasional, bukan lagi semata asalah nasional masing-masing Negara. Hal ini ditegaskan di dalam mukamahdimah Konvensi Wina 2003 yang berbunyi sebagai berikut: “Convinced also that the globalization of the world’s economic has led to a situation where corruption is no longer a local matter but a transnational phenomenon that affects all societies and economies, making international cooperation to prevent and control it essential”.85
Hukum internasional yang menjadi payung hukum yang berkaitan dengan kurupsi adalah United Nations Conventions Againtsn Corruption. Instrumen hukum internasional ini wajib ditaati oleh semua negara-negara
seluruh Negara anggota PBB yang telah menandatangani dan meratifikasi aturan Konvensi PBB tentang Korupsi tahun 2003, termasuk di dalamnya Indonesia yang telah diratifikasi dengan Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Againns Coruption (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Tahun Anti Korupsi 2003).
United Nations Conventions Againtsn Corruption 2003 dibentuk pada awalnya di tahun 2000 dalam sidang ke-55 melalui Resolusi Nomor 55/61 pada tanggal 6 Desember 2000. Instrumen hukum internasional tersebut amat diperlukan untuk menjembatani sistem hukum yang berbeda dan sekaligus memajukan upaya pemberantasan tindak pidana korupsi secara efektif.86
Konfensi internasional tentang anti korupsi mengatur 8 (delapan) Bab yaitu: tentang general povisioan, preventive measure, criminalizations and law enforcement, international coopration, asset recovery, techicalo assistance and informations exchange, mechanisms for implementation, dan Final provision.87
Melalui peraturan secara hukum internasional hal penting yang dapat dipetik adalah adanya kerja sama Internasional dalam rangka memerangi dan memberantas korupsi sebagaimana diatur dalam bab VI UNCAC tentang techical techicalo assistance and informations exchange
86 Lihat Penjelasan atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 7 Tahun 2006 tentang Pengesahan United Nations Convention Against Corruption, 2003 (Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa Anti Korupsi, 2003), Bagian Pokok-Pokok Pikiran yang mendorong Lahirnya Konvensi
87 United Nations, 2004, United Nations Conventions Againtsn Corruption, United Nations office on drugs and crime Viena, New York, p. 7.
(bantuan teknis dan pertukaran informasi) mengenai langkah-langkah yang dapat ditembuh untuk melakukan upaya pemberantasan korupsi.88
Salah satu pertimbangan Indonesia meratifikasi UNCAC 2003 adalah bahwa korupsi tidak lagi merupakan masalah lokal, tetapi merupakan fenomena transnasional yang mempengaruhi seluruh masyarakat dan perekonomian, sehingga penting adanya kerjasama Internasional untuk pencegahan dan pemberantasannya termasuk pemulihan atau pengembalian asset-aset hasil korupsi.89 Ratifikasi UNCAC 2003 menampilkan Indonesia sebagai salah satu Negara di Asia yang memiliki komitmen pemberantasan korupsi melalui kerjasama Internasional. Selain itu, Indonesia juga wajib menyesuaikan berbagai peraturan perundang-undangan tentang pemberantasan korupsi dengan isi dari UNCAC 2003 tersebut.
2.3.2. Pengaturan Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi di Tingkat Regional
Pemberantasan Korupsi tidak hanya diatur di tingkat internasional tetapi juga diatur di tingkat regional, diantaranya diatur di tingkat regional yaitu dalam Inter American Convention Agains Corruption 1996.
Pasal 1 Inter American Convention Agains Corruption 1996 menjelaskan tentang definisi dari fungsi publik, pejabat publik dan properti.
88United Nations, Op.Cit, p 89
Article 2 menjelaskan tentang tujuan dari konvensi ini yaitu:90
1. To promote and strengthen the development by each of the States Parties of the mechanisms needed to prevent, detect, punish and eradicate corruption; and
2. To promote, facilitate and regulate cooperation among the States Parties to ensure the effectiveness of measures and actions to prevent, detect, punish and eradicate corruption in the performance of public functions and acts of corruption specifically related to such performance.
Pasal 2 tersebut menjelaskan bahwa tujuan dari konvensi ini secara garis besarnya yaitu Untuk mempromosikan dan memperkuat pengembangan oleh masing-masing Negara Pihak mekanisme yang diperlukan untuk mencegah, mendeteksi, dan menghukum memberantas korupsi; dan untuk mempromosikan, memfasilitasi dan mengatur kerjasama antar Negara Pihak untuk memastikan efektifitas kebijakan dan tindakan untuk mencegah, mendeteksi, dan menghukum memberantas korupsi dalam pelaksanaan fungsi publik dan tindakan korupsi secara khusus terkait dengan kinerja tersebut.
Pasal 3 tentang tindakan pencegahan (Preventive Measures). Tindakan pencegahan seperti yang dimaksudkan dalam Pasal 3 konvensi ini dilakukan antara lain dengan Standar perilaku bagi pemenuhan yang
90 Adopted at the third plenary session, 1996, Inter-American Convention Agains Corruption, p. 2.
benar, terhormat, dan tepat fungsi publik dan Studi tentang langkah-langkah pencegahan lebih lanjut yang memperhitungkan hubungan antara kompensasi yang adil dan kejujuran dalam pelayanan publik.
Pasal 5 tentang Jurisdiction, hal tersebut berkaitan erat dengan eksistensi Negara untuk memberantas korupsi melalui tindakan-tindakan pemerintah.
Pasal VII menjelaskan tentang Domestic Law¸yaitu:91
The States Parties that have not yet done so shall adopt the necessary legislative or other measures to establish as criminal offenses under their domestic law the acts of corruption described in Article VI(1) and to facilitate cooperation among themselves pursuant to this Convention. Yang artinya yaitu Negara-Negara Pihak yang belum melakukannya harus mengadopsi diperlukan langkah-langkah legislatif atau lainnya untuk menetapkan sebagai kejahatan pidana berdasarkan hukum nasional mereka tindakan korupsi yang dijelaskan dalam Pasal VI (1) dan untuk memfasilitasi kerja sama di antara mereka sendiri sesuai dengan Konvensi ini.
Selanjutnya Pasal penting dalam konvensi ini terkait dengan korupsi yaitu dalam Pasal XIV tentang Assistance and Cooperatoin, yang menjelaskan tentang bantuan dan kerjasama yang dilakukan dengan hukum domestik dan perjanjian yang berlaku.92
91Ibid, p. 3