Analisis kesiapan cakup nilai (value capture) berbasis pajak dan retribusi
5. Kerangka Pendanaan Nilai (Value Funding)
5.1. Komitmen antarpemerintahan dalam kerangka perpajakan
tradisional
Komitmen antar pemerintahan/lembaga pemerintahan dalam kerangka perpajakan tradisional relevan dengan kondisi di mana pemerintah/lembaga negara tertentu memiliki tanggung jawab atas pengandaan infrastruktur, dan pemerintah/lembaga negara lainnya dalam kondisi normal akan menerima manfaat atas peningkatan ekonomi.
Siklus nilai manfaat menyajikan proses berbasis kebijakan dan perencanaan di mana entitas sektor publik yang melakukan pengajuan (program pembangunan infrastruktur) menggunakan pinjaman sektor publik untuk membiayai infrastruktur tersebut.
Infrastruktur kemudian memberikan manfaat kepada
yang lainnya. Terdapat kesepakatan kontraktual (alokasi pembiayaan atas infrastruktur yang berasal dari pendapatan tertentu (earmarking revenue) antarentitas sektor publik yang memberikan manfaat, biasanya perantara melalui Kementerian Keuangan, dan entitas sektor publik yang melakukan pengajuan menerapkan mekanisme cakup nilai (value capture) yang sesuai (tanggungan pengguna (user-pays), tanggungan pemerintah (government-pays), dan tanggungan penerima manfaat (beneficiary-pays), dan mempersiapkan mekanisme pendanaan untuk membiayai investasi awal atas infrastruktur.
Sebagai ilustrasi, semisal ada sebuah area yang rentan mengalami banjir selama bertahun-tahun.
Bappenas/Bappeda dan Kementerian PUPR kemudian memperbaharui daerah tersebut dengan upaya-upaya berkelanjutan untuk mengurangi risiko banjir.
Diperkirakan bahwa nilai lahan pada daerah yang diperbaharui akan mengalami peningkatan, sehingga pendapatan negara akan naik dari adanya peningkatan pendapatan pajak atas bumi dan bangunan. Kisaran peningkatan pendapatan ini kemudian dikomitmenkan untuk dibayarkan kembali demi membiayai atau mendanai infrastruktur yang pembangunannya memang bertujuan untuk mengurangi risiko banjir tersebut. Karena Indonesia menggunakan mekanisme melting-pot dalam pengumpulan pajak (dikumpulkan pada rekening pemerintah pusat kemudian dibagikan kepada daerah secara proporsional), maka kontrak ini juga harus melampirkan persetujuan dari anggota dewan perwakilan rakyat daerah (DPRD).
Untuk menerapkan skema ini, terdapat beberapa ketentuan umum yang harus dipenuhi sebagaimana disajikan pada Tabel 5.1.
Mekanisme cakup nilai (value capture) memiliki potensi untuk menciptakan saluran untuk mendukung skema berikut ini:
• Pajak properti. Secara umum, nilai properti – yang berimplikasi pada besaran penerimaan pajak atas kepemilikan maupun transaksi perolehan properti – diharapkan dapat mendorong peningkatan pembangunan infrastruktur baru.
Kepadatan bangunan gedung yang tinggi juga dapat meningkatkan pendapatan pajak atas kepemilikan properti maupun transaksi perolehan properti lainnya.
Gambar 5.1: Komitmen Sektor Publik
Sumber: Penulis.
Tabel 5.1: Analisis Kesiapan Komitmen Pemerintahan Faktor
• Kontrak yang jelas antarbadan penerimaan negara untuk mengalokasikan pendanaan dari jenis pendapatan pajak tertentu untuk pelunasan hutang.
• Konsensus dan political will yang jelas antar pemerintahan.
• Jika berkenaan dengan pajak daerah, maka penerbitan peraturan baru perundang-undangan daerah dibutuhkan untuk menjaga komitmen politik dari anggota legislatif.
Rencana Induk (Master Plan) Ekonomi yang Visioner
• Strategi zona/koridor ekonomi yang jelas dilampirkan/dicantumkan pada implementasi proyek, yang juga mengidentifikasi penerima manfaat (beneficiaries) atas proyek infrastruktur ini.
RTRW dan Kerangka Regulasi Jangka Panjang
• Rencana Tata Ruang (RTRW) yang jelas dan sah untuk tujuan khusus.
Pembangunan Perkotaan dan Transportasi Terintegrasi
• Rencana induk transportasi yang jelas dan sah serta terintegrasi dengan perencanaan penggunaan lahan (RTRW).
• Pemerintah daerah diberikan kewenangan untuk mengatur besaran pajak properti dan pajak transaksi perolehan properti sepanjang tarifnya tidak lebih tinggi dari tarif maksimum yang diatur dalam undang-undang.
• Peningkatan pendapatan pajak dan penerima manfaat (beneficiaries) yang jelas atas proyek infrastruktur harus diidentifikasi dengan baik.
• Komitmen anggaran lintas periode untuk mendanai proyek yang akan dialokasikan dari pendapatan penerimaan pajak yang telah disiapkan sebelumnya.
a Penilaian kesiapan berdasarkan hasil analisis pada Jakarta, Makassar, dan Palembang serta tinjauan pada kerangka peraturan perundang-undangan yang ada saat ini. Detail mengenai kesiapan masing-masing kota disajikan pada lampiran kajian ini.
Sumber: Penulis.
• Retribusi pengembang. Pengembang utama yang menerima manfaat atas proyek infrastruktur dapat dibebankan retribusi awal sebagai bagian atas pemberian izin pembangunan mereka.
Pendapatan dari retribusi ini akan digunakan untuk membiayai atau mendanai pembangunan infrastruktur tersebut.
Mitigasi hukum:
• Proses penyusunan undang-undang yang ada saat ini sebenarnya telah mengenal konsep alokasi belanja langsung atas pendapatan tertentu (earmarking), walaupun penerapannya masih bergantung pada jenis penerimaan negara.
• Dana yang terkumpul dari retribusi daerah harus diprioritaskan (earmarked) untuk mendanai kegiatan yang berkenaan dengan layanan publik tertentu (UU N0. 28 Tahun 2009 Pasal 161.1). Pendapatan yang bersumber dari pajak tidak diprioritaskan (earmarked), kecuali yang bersumber dari pajak atas kepemilikan kendaraan, cukai rokok, pajak penerangan jalan yang akan diprioritaskan untuk aktivitas tertentu pemerintah (UU No. 28 Tahun 2009, Pasal 8 Ayat 5, Pasal 31, dan Pasal 56 Ayat 3).
• Pendapatan yang bersumber dari pajak pemerintah pusat tidak diprioritaskan (earmarked). Pendapatan pajak yang bersumber dari pajak penghasilan, pajak atas properti yang mencakup perkebunan, tambang, hutan, dan cukai produk rokok dibagikan kepada pemerintah daerah dengan besaran sebagaimana diatur di dalam undang-undang. Pemerintah daerah memiliki kewenangan untuk menentukan alokasi maupun tujuan pemanfaatan dari dana bagi hasil tersebut (berdasarkan persetujuan anggaran dari parlemen).
• Perumusan undang-undang tidak secara jelas mengatur bahwa dana yang didapatkan dari Penerimaan Negara Bukan Pajak (NBP) dapat diprioritaskan (earmarked). Namun demikian, proses perumusan undang-undang mengadopsi mekanisme tertentu, yaitu kementerian yang relevan
yang menghasilkan PNBP dapat mengajukan alokasi pemanfaatan dana tersebut berdasarkan persetujuan dari Kementerian Keuangan.
Kementerian bersangkutan juga dapat melakukan kesepakatan kontraktual untuk memprioritaskan belanja dari dana yang terhimpun dari PNBP.
• Tanpa adanya perubahan/amendemen atas undang-undang yang ada saat ini, maka dapat disimpulkan bahwa prioritisasi belanja (earmarking) atas pendapatan tertentu sangat mungkin untuk dilakukan. Untuk beberapa jenis pendapatan, prioritisasi belanja (earmarking) dimandatkan oleh undang-undang tersebut, dan oleh karenanya pemangku kepentingan yang bersangkutan terikat secara hukum untuk mengalokasikan belanja prioritas (earmarked) pada penyusunan anggaran tahunan.
• Untuk jenis pendapatan lain, belanja prioritas (earmarking) masih dapat dimungkinkan melalui kesepakatan kontraktual antarpemangku kepentingan. Untuk menerapkannya, dibutuhkan keinginan/dorongan politik (political will) yang kuat. Oleh karena belanja prioritas (earmarking) atas pendapatan lainnya tidak diatur dalam undang-undang, maka skema belanja prioritas (earmarking) ini harus mendapatkan persetujuan dari anggota parlemen. Perubahan/amandemen atas undang-undang dibutuhkan untuk memberikan kejelasan peraturan atas skema belanja prioritas (earmarking) ini.
• Pemerintah daerah umumnya memiliki kewenangan untuk mengatur dan mengelola keuangannya. Oleh karena itu pemerintah daerah dapat mengalokasikan secara langsung belanja prioritas (earmark) dari peningkatan pendapatan pajaknya untuk mendanai beberapa proyek tertentu. Pendanaan ini harus dialokasikan pada anggaran daerah, yang membutuhkan persetujuan dari parlemen di daerah tersebut untuk penyusunan/penetapan anggaran tahunan.
Menjaga komitmen politik parlemen dalam jangka panjang adalah kunci utamanya, dan
Kota Milton Keynes di Inggris dapat mengajukan pinjaman dana kepada Homes and Communities Agency untuk mendanai infrastruktur, dengan perkiraan penerimaan tarif atas pembangunan infrastruktur tersebut karena HM Treasury yakin akan ada penerimaan terus-menerus dalam jangka panjang. Pada 2004, Kota Milton Keynes memberlakukan retribusi bangunan gedung, yang disebut sebagai Strategic Land and Infrastructure Contract, dananya digunakan untuk mendanai infrastruktur fisik maupun sosial di dalam wilayah pengembangan strategis. Pengembang setuju untuk membayar standar kontribusi sebesar £18,500 untuk setiap pembangunan perumahan dan sebesar £260,000 untuk setiap hektar lahan komersil sesuai kerangka peraturan yang berlaku.
Pengembang membayar 75% hingga masa pembangunan proyek selesai, dan tidak membayar seluruhnya di muka untuk mengurangi ketergantungan mereka terhadap utang, serta memberikan kepastian (profit) bagi kedua belah pihak. Sistem pembayaran yang sama dapat dilakukan jika pengembang menyediakan infrastruktur bagi ruang publik.
dapat dilakukan melalui penerbitan peraturan daerah (Perda) yang baru.