Latar Belakang Perkotaan
Fitur/Karakteristik Perkotaan
Fitur perkotaan pada beberapa kota yang mencakup:
[pola pembangunan tata ruang, masalah utama perkotaan – khususnya yang disebabkan oleh pembangunan perkotaan yang akhirnya berantung pada/menyebabkan tingginya mobilitas kendaraan
pribadi (kemacetan, polusi, dan kurangnya ketersediaan perumahan yang terjangkau dalam jarak 1 jam perjalanan, dan lain-lain) – dan strategi pembangunan wilayah perkotaan baik dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Bagian ini akan disajikan pada Sistem Informasi Geografis (Geographic Information System – GIS).
Gambar A2.1: Populasi Wilayah Metropolitan Jakarta
Bekasi
Depok Bogor
Tangerang TOD at the city level
Airport Seaport
Inner city toll road (plan) Railway network MRT network
This map was produced by the cartography unit of the Asian Development Bank.
The boundaries, colors, denominations, and any other information shown on this map do not imply, on the part of the Asian Development Bank, any judgment on the legal status of any territory, or any endorsement or acceptance of such boundaries, colors, denominations, or information.
Jakarta
Moda transportasi yang paling popular di DKI Jakarta adalah transportasi darat menggunakan kendaraan (mobil dan motor) baik kendaraan pribadi maupun umum. Jakarta memiliki jaringan jalan, tol lingkar dalam kota, dan tol lingkar luar kota yang terhubung satu sama lain. Pilihan transportasi masyarakat pinggiran perkotaan (suburban commuters) adalah jasa kereta commuter line yang memiliki jangkauan hingga ke pusat Kota Jakarta, termasuk juga menjangkau pusat kota BSD City, Bintaro Jaya, Pantai Indah Kapuk, dan Harapan Indah. Kereta commuter line terintegrasi
dengan BRT Transjakarta yang memiliki jasa dedicated lane dan shared lane. Bus tersebut juga terintegrasi dengan modal transportasi berbasis rel lainnya, seperti MRT dan LRT Jakarta, walaupun MRT dan LRT saat ini masih baru memiliki satu koridor layanan transit komersial penumpang.
Untuk 10 tahun mendatang, Jakarta telah merencanakan untuk membangun lapis kedua jalan tol lingkar luar, yang merupakan perluasan layanan koridor MRT Utara-Selatan yang ada saat ini serta layanan koridor MRT Timur-Barat, kelanjutan jalur operasi LRT Jakarta, serta jalur LRT Jabodebek metropolitan, untuk meredakan
MRT = Mass Rapid Transit, TOD = transit-oriented development.
Sumber: Bappeda Provinsi DKI, 2019; Penulis.
����,���
���,��� - ���,���
���,��� - ���,���
���,��� - ���,���
����,���
Non-Jakarta Metro
This map was produced by the cartography unit of the Asian Development Bank.
The boundaries, colors, denominations, and any other information shown on this map do not imply, on the part of the Asian Development Bank, any judgment on the legal status of any territory, or any endorsement or acceptance of such boundaries, colors, denominations, or information.
Gambar A2.2: Populasi Wilayah Metropolitan Jakarta
tingginya tekanan (permintaan) kereta commuter line yang sudah ada sebelumnya. Hal ini dikarenakan tingkat populasi pada wilayah sekitar pusat kota lebih tinggi dibandingkan pada pusat kota itu sendiri. Di sisi lain aktivitas ekonomi terpusat di pusat kota, kontradiksi dengan data populasi yang ada. Konsekuensinya adalah pembangunan infrastruktur penghubung antara wilayah perkotaan dan sekitar wilayah (penyangga) perkotaan, termasuk pada kawasan pusat bisnis tidak dapat terhindarkan. Dengan demikian, pembangunan seluruh infrastruktur penghubung ini menjadi sangat penting.
Tabel A2.2 menunjukkan ringkasan data pengelolaan lahan dan nilai lahan (land value) pada wilayah sekitar
pembangunan stasiun MRT, di mana sebagian besar tujuan pemanfaatannya adalah untuk perumahan/
tempat tinggal. Tingginya permintaan atas perumahan
Tabel A2.2: Pengelolaan Lahan dan Nilai Lahan di Sekitar Stasiun MRT
Stasiun MRT Area Hijau (%)
Area Perumahan
(%)
Area Komersil
(%)
Nilai Zona Nilai Tanah (ZNT) pada radius 50 m (Rp juta/m2)
Nilai Zona Nilai Tanah (ZNT) pada radius 700 m (Rp juta/m2)
Bundaran HI 1 68 31 130 54
Senayan 48 25 27 72.5 82
Cipete Raya 4 83 13 49 18
Fatmawati 2 86 12 32 21
Lebak Bulus Grab 7 76 17 14.7 19
HI = Hotel Indonesia, m = meters, m2 = square meters, MRT = Mass Rapid Transit, Rp = Indonesian rupiah (national currency), ZNT = land value zoning, Sumber: Penulis.
Sumber: Penulis.
mendorong tingginya peningkatan harga lahan dan gentrifikasi pada wilayah tersebut, memberikan manfaat (ekonomi) kepada pemilik swasta dan mendorong masyarakat berpendapatan rendah untuk mencari perumahan/tempat tinggal pada wilayah yang lebih terjangkau, yang relatif jauh dari pusat kota. Tantangan bagi pemerintah adalah bagaimana menyediakan layanan publik kepada masyarakat terlepas dari tingginya biaya yang dibutuhkan, seperti penyediaan perumahan yang terjangkau pada pusat kota dan mencakup peningkatan nilai lahan untuk digunakan mendanai tujuan pembangunan infrastruktur tersebut.
Peraturan Gubernur yang terbaru memberikan mandat kepada MRT Jakarta (MRTJ) untuk mengelola wilayah yang ada di sekitar stasiun MRT dalam bentuk Pembangunan Berorientasi Transit (Transit Oriented Development (TOD)). MRTJ memiliki otoritas untuk mengkoordinasikan pemilik lahan/gedung pada wilayah TOR (dalam radius 700 meter) dan mendorong para pemilik tersebut untuk menyelaraskan program pembangunannya dengan pedoman rancang perkotaan TOD yang telah disusun oleh MRTJ. Namun demikian, tidak seperti MTR Hong Kong, China yang memiliki otoritas khusus untuk menyelenggarakan fungsi koordinasi pada sekitar wilayah koridor MTR dan menciptakan sumber pendapatan (dapat dilihat pada bagian kisah keberhasilan negara lain), otoritas baru ini justru bertentangan dengan lembaga-lembaga yang ada. Peraturan Gubernur yang memberikan otoritas baru pada MRTJ ini memiliki kewenangan berdasarkan peraturan tingkat provinsi yang juga diatur oleh otoritas/lembaga daerah lain yang berkenaan dengan pekerjaan umum, perumahan, serta tata ruang. Hal ini berimplikasi pada lemahnya kekuatan MRTJ sebagai BUMD untuk mengkoordinasikan lembaga-lembaga yang mengelola wilayah pembangunan. Konflik kepentingan yang berkenaan dengan pengelolaan TOD disajikan pada Gambar A2.3.
Palembang
Wilayah Kota Palembang terhubung dengan jalan nasional dan jalan provinsi, di maan BRT TransMusi
beroperasi pada rute layanan shared-lane. Jalan tol yang ada saat ini adalah jalan tol metropolitan yang menghubungkan Palembang – Indralaya dan Pelembang – Kayu Agung. Kota Palembang sendiri terbagi menjadi wilayah utara dan selatan, yang dipisahkan oleh Sungai Musi, yang hanya dihubungkan oleh tiga jembatan, yaitu Jembatan Ampera, Jembatan Musi II, dan Jembatan Musi IV. Sebagai bentuk dukungan penyelenggaraan Asian Games 2018, pemerintah pusat membangun layanan LRT dari bandara yang berada di wilayah paling utara Kota Palembang, hingga ke Gelanggang Olah Raga Jakabaring yang berada di wilayah paling selatan Kota Palembang.
Kota Palembang memiliki rencana besar untuk membangun kawasan pusat bisnis tematik TOD pada stasiun transit LRT-nya, dan pembangunan fasilitas perumahan pada setiap ujung pemberhentian LRT.
Rencana ini ditujukan untuk meningkatkan okupansi LRT dan menyediakan perumahan bagi penduduk Kota Palembang pada wilayah yang lebih terjangkau dibandingkan pada pusat kota. Pemerintah daerah juga mendorong pertumbuhan wilayah pinggiran kota dengan menghubungkan daerah pinggiran Kota Palembang dengan jalan lingkar, serta dihubungkan dengan Jalan Tol Trans Sumatera.
Makassar
Pelabuhan Kota Makassar merupakan salah satu kontributor utama perekonomian pada wilayah tersebut, apalagi pelabuhan baru yang telah direklamasi dan menjadi wilayah komersil. Jalan tol sepanjang 6 km menghubungkan pelabuhan ke dalam Kota Makassar, dengan persimpangan yang mengarah ke bandara yang berada jauh di wilayah utara Kota Makassar. Wilayah pinggiran Kota Makassar dapat diakses hanya dengan jalan provinsi. Belum ada kereta maupun LRT yang beroperasi menghubungkan wilayah pinggiran kota dengan pusat kota.
Saat ini proyek kereta KPBU sedang dibangun untuk menghubungkan Parepare–Maros–Makassar, walaupun kemajuan pembangunannya belum mencapai
Gambar A2.3: Potensi Konflik Kepentingan dalam Pengelolaan Wilayah TOD Seluruh Stasiun MRT Perusahaan MRT JakartaPeraturan Gubernur No. 140 Tahun 2017
Mengkoordinasikan pemilik lahan dan/atau pemilik gedung dalam perencanaan Pembangunan Berorientasi Transit (TOD) dan pembangunan
Mendorong upaya percepatan pembangunan infrastruktur dan fasilitas umum yang sejalan dengan RTBL untuk TOD
Mengkoordinasikan persiapan Rencana Tata Ruang Wilayah
(RTRW), Rencana Pembangunan Jangka Panjang Daerah (RPJPD), Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD), dan Rencana Kerja Pemerintah Pembangunan Daerah (RKPD);
Implementasi perencanaan infrastruktur jalan, pembangunan, pemeliharaan, pengawasan, dan evaluasi. -Mengatur dan mengembangkan rencana tata ruang dan
pengelolaan pemanfaatan lahan yang sejalan dengan
rencana perkotaan;
Implementasi rencana, pembangunan, pemeliharaan, pengawasan, dan evaluasi perumahan dan pemukiman
Potensi konflik kepentingan pada wilayah (tangkapan nilai ekonomi) TOD di seluruh stasiun MRT
Implementasi perencanaan, pembangunan, pemeliharaan, pengawasan, dan evaluasi infrastruktur sumber daya air (infrastruktur air minum, sanitasi, drainase, dan air limbah)
Mengkoordinasikan perencanaan kebijakan pembangunan ekonomi, pembangunan infrasruktur, dan pembangunan fasilitas umum, pembangunan masyarakat, pembangunan pamong praja, termasuk pembangunan sumber daya manusia dan keuangan;
Mengkoordinasikan pemilik lahan dan/atau pemilik gedung, penyewa, serta pemangku kepentingan lain dalam pengelolaan, pemeliharaan,
dan pengawasan TOD
Pengawasan implementasi Pembangunan Berorientasi
Transit (TOD)
Peraturan Daerah (Perda) No. 5 Tahun 2017 Bappeda Provinsi
Badan Pengatur Infrastruktur Jalan
Balai Pengelola Sumber Daya Air
Dinas Sarana/Prasarana, Rencana Tata Ruang, dan Dinas Perumahan dan PemukimanPemanfaatan Lahan Sumber: Penulis.
Tingkat kekuatan hukum
Gambar A2.4: Rencana Transportasi Palembang
LRT = Light Rail Transit.
Sumber: Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Sumatera Selatan; Penulis.
Gambar A2.5: Rencana Infrastruktur Transportasi Makassar
Sumber: Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Makassar; Penulis.
Bus station Airport Seaport Road Toll road Railway network LRT network
This map was produced by the cartography unit of the Asian Development Bank.
The boundaries, colors, denominations, and any other information shown on this map do not imply, on the part of the Asian Development Bank, any judgment on the legal status of any territory, or any endorsement or acceptance of such boundaries, colors, denominations, or information.
20-0634e
Maros Regency
Gowa Regency Bus station
Airport Seaport Road
Inner city toll road (plan) Railway network (plan) Monorail network (plan) This map was produced by the cartography unit of the Asian Development Bank.
The boundaries, colors, denominations, and any other information shown on this map do not imply, on the part of the Asian Development Bank, any judgment on the legal status of any territory, or any endorsement or acceptance of such boundaries, colors, denominations, or information.