• Tidak ada hasil yang ditemukan

Lampiran 6. Kesiapan Cakup Nilai (Value Capture) di Indonesia

Table A6.1: Analisis Kesiapan Cakup Nilai (Value Capture) Berbasis Pajak

Regulasi Teknis Kelembagaan Potensi Saluran Cakup Nilai (Value

Capture) Pajak Bumi dan

Bangunan • Indonesia menggunakan rezim pajak properti (tanah dan bangunan) dan pajak atas transaksi perolehan properti yang dipungut oleh pemerintah daerah; dan

• Rezim perpajakan Indonesia tidak menggunakan

“pembiayaan dari peningkatan pajak”

• Untuk valuasi, Indonesia menggunakan NJOP, namun demikian metode penentuan nilainya perlu untuk dikembangkan; dan

• Kementerian Agraria dan Tata Ruang telah menyiapkan metodologi untuk mengembangkan NJOP yang nilainya masih relatif berada di bawah nilai pasar yang sebenarnya.

• Kerangka kelembagaan perpajakan sudah berjalan dengan baik; namun masih terdapat beberapa tantangan seperti sulitnya mengganti rezim perpajakan yang ada saat ini, dikarenakan peningkatan pajak dan penambahan instrumen perpajakan merupakan hal yang kurang populer.

• Pajak properti dapat dihubungkan dengan Pembiayaan Dari Peningkatan Pajak dengan memperbaharui NJOP yang diperngaruhi oleh peningkatan pajak, yang selanjutnya akan digunakan untuk mendanai kebutuhan awal investasi. Peningkatan pajak di awal kurang dimungkinkan untuk dilakukan, dikarenakan NJOP harus berdasarkan nilai saat ini. Oleh karena itu dibutuhkan proyeksi nilai NJOP yang kuat, dan harus dilakukan saat rencana pelakasanaan proyek pemerintah akan dibiayai melalui skema ini.

Bea Perolehan Hak atas Tanah dan Bangunan (Pengalihan Hak) - BPHTB

• Pajak atas transaksi perolehan properti digunakan dalam peraturan perundang-undangan di Indonesia, dan dikelola oleh pemerintah daerah.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum mengenai pungutan pendapatan daerah.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda)

• BPHTB dihitung berdasarkan NJOP sehingga transaksi yang terjadi antara penjual dan pembeli menggunakan harga yang relatif rendah (di bawah harga pasar)

• Perhitungan berdasarkan nilai akuisisi (daftarnya tersedia bergantung pada mekanisme pengalihan, seperti nilai transaksi pengalihan melalui mekanisme jual beli, atau nilai pasar jika pengalihan dilakukan melalui hibah, dan lain-lain); dan

• Jika nilai di atas tidak diketahui, maka perhitungannya didasarkan pada NJOP, dengan besaran tarif yang ditentukan oleh pusat.

• Tidak setiap pemerintah daerah dapat memperbaharui nilai NJOP setiap tahun

• Pajak atas keuntungan penjualan aset dapat dilakukan dengan memperbaharui formula perhitungan transaksi tanah dan bangunan

Pajak

Penghasilan • Pajak penghasilan dikelola oleh pemerintah pusat, sedangkan pemerintah daerah hanya memiliki kewenangan yang relatif kecil untuk mengelola pajak, sehingga pemerintah daerah harus menegosiasikan alokasi hasil penerimaan pajak tersebut.

• Pajak tersebut biasanya dipotong dari gaji

bulanan pekerja formal. • Kerangka kelembagaan perpajakan sudah berjalan dengan baik, dan dana tersebut dikelola melalui mekanisme melting-pot, tidak langsung dibelanjakan secara prioritas (earmaked), dan menjadi relatif sulit untuk mematok pajak penghasilan yang peningkatannya dipengaruhi oleh peningkatan lapangan pekerjaan yang tercipta dari pembangunan di wilayah tertentu; dan

• Pemerintah daerah hanya memiliki kewenangan yang kecil atas pajak penghasilan, karena pengelolaan utamanya dilakukan oleh pemerintah pusat.

• TBD

Pajak Kendaraan • Indonesia menerapkan beberapa jenis pajak kendaraan yang dikenakan kepada perorangan, atau dinamakan pajak kepemilikan kendaraan bermotor, pajak BPKB/

STNK, dan pajak bahan bakar kendaraan bermotor.

• Dihitung berdasarkan tabel harga Nilai Jual Kendaraan Bermotor (NJKB).

• Kendaraan didaftarkan berdasarkan alamat pemegang hak kepemilikan kendaraan bermotor.

• Kantor bersama dengan kantor pajak di daerah, dan polisi lalu lintas adalah pihak yang mengelola jenis pajak ini.

• Biaya pendaftaran kendaraan pada wilayah target Cakup nilai (value capture) dapat ditingkatkan, dengan peningkatan yang ditujukan bagi pos belanja yang berhubungan dengan Cakup nilai (value capture)

NJKB = motor vehicle sales value, NJOP = sales value of a taxable object.

Sumber: Penulis.

Tabel A6.2: Analisis Kesiapan Cakup Nilai (Value Capture) Berbasis Pajak

Jenis Pajak Kesiapan Regulasi Kesiapan Teknis Kesiapan Institusi Saluran Cakup Nilai Potensial

Public Service Fee (Retribusi Jasa Umum) Retribusi Jasa

Pengelolaan Limbah Padat

• Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda)

• ‘Obyek’ retribusi: jasa pengelolaan limbah yang disediakan oleh pemerintah; dan

• Potensi hambatan: tempat umum dibebaskan dari retribusi ini; jika pembangunan oleh pihak swasta dikategorikan sebagai tempat umum, maka akan ada alasan untuk pembebasan retribusi (masih dalam kajian ahli hukum).

• Umumnya memerlukan komite pelaksana kecil untuk mengatur subscriptions (obyek dan besaran retribusi) pada level pengguna.

• Retribusi pengelolaan limbah padat pada wilayah target Cakup nilai (value capture) dapat ditingkatkan, dengan peningkatan yang ditujukan bagi pos belanja yang berhubungan dengan Cakup nilai (value capture)

Retribusi Parkir Pada

Badan Jalan • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: hanya pada area parkir

yang ditunjuk oleh pemerintah. • Retribusi parkir dikelola oleh pemerintah daerah

• Pada beberapa wilayah retrubis ini dikelola oleh BUMD, dan (masih dalam kajian ahli hukum) dapat menciptakan peluang lebih luas untuk penciptaan sumber pendapatan lain yang lebih kreatif.

• Retribusi parkir pada badan jalan (On-street parking fees) pada wilayah target Cakup nilai (value capture) dapat ditingkatkan untuk meningkatkan aksesibilitas sistem transportasi publik terdekat, dengan peningkatan yang ditujukan bagi pos belanja yang berhubungan dengan Cakup nilai (value capture).

• Sementara itu, biaya fasilitas parkir di luar badan jalan (off-street) dapat dikurangi untuk memberikan insentif pemanfaatannya sebagai jalur masuk kantung parkir (park-and-ride) menuju transportasi publik terdekat.

Retribusi Jasa Pasar • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: fasilitas (termasuk warung, pelataran, dan pertokoan) yang langsung dipertuntukkan hanya bagi penjual yang ada di pasar tradisional; dan

• Potensi hambatan: pasar yang dioperasional oleh BUMD atau pihak swasta dibebaskan dari retribusi ini.

• (masih dalam kajian

• Tidak cocok untuk Cakup nilai (value capture) dikarenakan berpotensi dijustifikasi sebagai kebijakan kapitalistik; dan

• Namun demikian, perseipsi publik dapat berubah jika pemerintah daerah dapat memberikan bukti nyata bahwa pemerintah daerah telah menginvestasikan kembali dana yang dikumpulkan dari masyarakat untuk peningkatan infrastruktur publik.

Retribusi Pengelolaan

Limbah Cair • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: pengelolaan limbah cair kawasan pemukiman, perkantoran, atau industri, yang menggunakan fasilitas pengelolaan limbah cair yang dimiliki/

dioperasikan oleh pemerintah daerah;

dan

• Potensi hambatan: obyek retribusi yang langsung menghubungkan/menyalurkan limbah cairnya ke sungai, selokan, maupun saluran lain dibebaskan dari retribusi ini.

• Membutuhkan sosialisasi kepada operator bangunan gedung.

• Mekanisme insentif dan disinsentif dapat dipertimbangkan untuk memberukan insentif kepada operator bangunan gedung untuk membangun fasilitas pengolahan limbah mereka sendiri atau mengembangkannya dengan bekerjasama dengan operator gedung lain yang lokasinya berdekatan, yang akan diberikan kompensasi melalui tambahan KLB (dengan pertimbangan batasan lingkungan); dan

• Dengan perhitungan yang hati-hati dan setara, biaya retribusi ini dapat dialokasikan untuk meningkatkan infrastruktur pengelolaan limbah cair dan jasa pendukungnya.

Retribusi Kontrol Menara Telekomunikasi

• Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• Obyek’ retribusi: wilayah di mana menara telekomunikasi berdiri; dan

• Parameter yang digunakan sebagai basis perhitungan adalah luas area pembangunan menara tersebut.

Pembangunan Menara ini mungkin tidak akan langsung berkorelasi dengan manfaat yang diterima oleh pengguna dikarenakan pemilik menara dapat meningkatkan pendapatannya dengan mengakomodasi lebih banyak pengguna tanpa harus meningkatkan pemakaian luasan lahan, dikarenakan antenanya terpasang pada menara tersebut.

• Membutuhkan koordinasi antar kementerian/lembaga negara

Hal di bawah ini dapat dipertimbangkan:

• (a) Pengenaan tarif yang lebih tinggi pada biaya kendali menara (tower control fees) yang berada pada wilayah target Cakup Nilai (Value Capture)

• (b) Memodifikasi basis perhitungan biaya retribusi, yang tidak hanya mempertimbangkan luas area pembangunan menara, tapi juga jumlah operator yang menggunakan menara tersebut.

(bersambung ke halaman berikut)

(bersambung ke halaman berikut) Tabel A6.2: Analisis Kesiapan Cakup Nilai (Value Capture) Berbasis Pajak

Jenis Pajak Kesiapan Regulasi Kesiapan Teknis Kesiapan Institusi Saluran Cakup Nilai Potensial

Public Service Fee (Retribusi Jasa Umum) Retribusi Jasa Usaha

Retribusi Pemakaian

Kekayaan Daerah • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan (termasuk pembaharuan tarif berdasarakan index harga dan pembangunan ekonomi) diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: seluruh aset pemerintah daerah.

• Potensi hambatan: pemanfaatan aset lahan yang tidak mengubah fungsinya dibebaskan dari retribusi ini (masih dalam kajian ahli hukum); dan

• Isu ini termasuk valuasi pemanfaatan aset fisik di bawah atau di atas aset milik negara (contoh: pihak swasta membangun struktur konstruksi di bawah tanah pemerintah, atau di atas jalan milik publik)

• Berpotensi dikembangkan sebagai saluran Cakup nilai (value capture), dikarenakan banyak contoh penerapan yang telah dilakukan sebelumnya, namun belum diatur dalam kerangka peraturan yang jelas (hingga saat ini belum ada peraturan yang jelas mengenai hak pembangunan di bawah/di atas wilayah lahan tertentu)

Retribusi Pasar Grosir

dan/atau Pertokoan • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: Lahan yang diperuntukkan bagi prasar grosir (termasuk melalui skema sewa) oleh pemerintah daerah; dan

• Potensi hambatan: fasilitas yang dimiliki/dioperasikan oleh BUMD dan pihak swasta dibebaskan dari retribusi ini.

• Beberapa pasar yang didirikan oleh pemerintah daerah dikelola/dioperasikan oleh BUMD, dan oleh karena itu mencegah implementas instrumen Cakup nilai (value capture) melalui retribusi.

• Perlu dipertimbangkan penerapan besaran tarif berbeda berdasarkan jarak/

kedekatan fasilitas pasar grosir dengan wilayah target Cakup nilai (value capture)

Retribusi Terminal • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: lahan yang diperuntukkan bagi kendaraan dan bus umum, termasuk aktifitas komersil yang ada di area terminal bus;

• Dikenakan pada pengemudi mobil/bus (masih dalam kajian ahli hukum); dan

• Potensi hambatan: pembebasan retribusi untuk terminal bus yang disediakan, dimiliki, atau dioperasikan oleh pemerintah pusat, BUMN, dan pihak swasta.

• Jenis entitas operator yang mengoperasikan bus ke Badan Layanan Umum (“BLU”) yang memungkinkan pengelolaan kas secara lebih fleksibel

• Bepotensi dikembangkan sebagai saluran Cakup nilai (value capture), di mana operator layanan bus premium dapat dikenakan tarif yang lebih tinggi saat mencakup wilayah operasi yang permintaannya tinggi;

• Pemeritah daerah harus menunjukkan dengan jelas bahwa mereka

menginvestasikan kembali dana tersebut untuk meningkatkan akses menuju terminal, oleh karena itu dibutuhkan seluruh keberlanjutan jasa layanan bus;

dan

• Bepotensi untuk menyediakan jasa depot/bengkel pada terminal bus di mana tersedia tambahan luas lahan, untuk menciptakan potensi pendapatan tambahan bagi pemerintah.

Retribusi Tempat

Khusus Parkir • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: pengadaan lahan parkir yang dilakukan oleh pemerintah daerah; dan

• Potensi hambatan: lahan parkir yang disediakan, dimiliki, atau dioperasikan oleh pemerintah pusat, BUMN, dan pihak swasta yang dibebaskan dari kewajiban retribusi.

• Pungutan retribusi parkir ini sering

• Fakta di mana masih banyak masyarakat yang memarkir kendaraan pribadinya di jalan depan rumah mereka, hal ini akhirnya berdampak pada kapasitas jalan, sehingga berpeluang bagi diterapkannya retribusi parkir bagi pemilik kendaraan seperti mekanisme tambahan pajak kendaraan tahunan.

Retribusi Tempat Penginapan/

Pesanggrahan/Villa

• Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: pengadaan jasa penginapan oleh pemerintah daerah;

• Potensi hambatan: penginapan yang dan disediakan, dimiliki, atau dioperasikan oleh pemerintah pusat, BUMN, dan pihak swasta dibebaskan dari retribusi ini.

• Retribusi dikelola oleh pemerintah

• Dengan perhitungan yang hati-hati dan setara, hasil pungutan retribusi ini dapat berpotensi untuk dialokasikan bagi peningkatan infrastruktur pada wilayah sekitar pariwisata

Retribusi Pelayanan

Kepelabuhanan • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: pengadaan jasa kepelabuhanan oleh pemerintah daerah; dan

• Potensi hambatan: Jasa kepelabuhanan yang disediakan, dimiliki, atau dioperasikan oleh pemerintah pusat, BUMN, dan pihak swasta dibebaskan dari retribusi ini.

• Retribusi ini dikelola oleh pemerintah daerah atau dikelola oleh otoritas pelabuhan

• Tidak terdapat peluang signifikan saluran Cakup nilai (value capture)

Tabel A6.2: Analisis Kesiapan Cakup Nilai (Value Capture) Berbasis Pajak

Jenis Pajak Kesiapan Regulasi Kesiapan Teknis Kesiapan Institusi Saluran Cakup Nilai Potensial

Retribusi Tempat

Rekreasi dan Olahraga • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan (termasuk pembaharuan tarif berdasarkan indeks harga dan pembangunan ekonomi) (diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: pengadaan fasilitas rekreasi/olah raga oleh pemerintah daerah; dan

• Potensi hambatan: fasilitas rekreasi/

olah raga yang disediakan, dimiliki, atau dioperasikan oleh pemerintah pusat, BUMN, dan pihak swasta dibebaskan dari retribusi ini.

• Retribusi ini dikelola oleh pemerintah daerah atau dikelola oleh BUMN yang memang mengelola aset tersebut.

• Tidak terdapat peluang signifikan untuk saluran Cakup nilai (value capture). Harga yang terjangkau dapat dibebankan (kepada pengguna) untuk menanggung biaya operasional.

Retribusi Izin Khusus Izin Mendirikan

Bangunan • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan (termasuk pembaharuan tarif berdasarkan indeks harga dan pembangunan ekonomi) (diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: pemberian izin oleh pemerintah daerah untuk melaksanakan kegiatan konstruksi;

• Proses perizinan melibatkan tinjauan terhadap desain (rancangan), konstruksi, dan pengawasan, untuk memastikan kepatuhan terhadap aturan rancangan teknis bangunan maupun rencana pemanfaatan lahan, dengan memasukkan aspek Koefisien Dasar Bangunan (KDB), Koefisien Lantai Bangunan (KLB), dan Koefisien Ketinggian Bangunan (KKB), serta pengawasan terhadap pemanfaatan gedung yang termasuk kepatuhan terhadap aturan keselamatan penghuni;

dan

• Potensi hambatan: proyek konstruksi pemerintah pusat dan daerah dibebaskan dari kewajiban retribusi ini.

• Retribusi tersebut dikelola oleh pemerintah daerah, dan berpotensi menjadi instrumen Cakup nilai (value capture) yang paling siap, oleh karena kerangka peraturan perundang-undangan telah dipahami secara luas oleh pasar.

• Terdapat potensi terjadinya praktik kecurangan dengan skala yang berbeda-beda, di mana pejabat yang bersangkutan dan

• Fungsi dari retribusi izin mendirikan bangunan berpotensi untuk dikembangkan untuk memfasilitasi Retribusi Dampak Pembangunan (Development Impact Fee); dan

• (Masih dalam kajian ahli hukum) Terdapat peluang untuk menerapkan retribusi berbasis tarif yang didasarkan pada peningkatan/penambahan pembangunan/proyek konstruksi, tidak hanya pada saat pengajuan pembangunan di awal (misalnya biaya retribusi pemberian izin penambahan ruangan seluas 100 m2 pada bangunan yang awalnya memiliki luas 200 m2 tentunya akan berbeda dengan bangunan yang awalnya memilki luas 500 m2)

Retribusi Izin Trayek • Individu/entitas yang mendapatkan manfaat atas penggunaan jasa tersebut harus membayar retribusi.

• UU No. 28 Tahun 2009 Tentang Pajak Daerah dan Retribusi Daerah mengatur ketentuan umum pengumpulan pendapatan.

• Detil peraturan (termasuk pembaharuan tarif berdasarkan indeks harga dan pembangunan ekonomi) (diatur di dalam Peraturan Daerah (Perda).

• ‘Obyek’ retribusi: pemberian izin layanan transportasi publik penumpang pada satu atau lebih trayek.

• Potensi tumpang tindih dengan peraturan diatur dalam UU No.22 Tahun 2009 Tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan.

• Peningkatan tarif retribusi pemberian izin trayek dapat dipertimbangkan pada wilayah operasi dengan permintaan tinggi atau merupakan wilayah target Cakup Nilai (Value Capture); dan

• Dukungan kepada kontribusi pembiayaan infrastruktur yang berkenaan dengan Cakup Nilai (Value Capture) juga dapat dikaitkan dengan perluasan trayek/peningkatan armada untuk memberikan insentif kepada pengelola (operator) transportasi umum.

m2 = square meters, SOE = state-owned enterprise.

Source: Penulis.