BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.3 Kompetensi Sumber Daya Manusia
Sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan pelaksanaan organisasi yang efektif (Griffin dan Ebert, 2010:321). Kompetensi sumber daya manusia melukiskan suatu karakteristik yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan, serta perilaku dan pengalaman yang dimiliki oleh manusia dalam melakukan suatu pekerjaan atau peran tertentu secara efektif.
Dalam organisasi publik, peran SDM lebih ditekankan pada kemampuan memberikan pelayanan yang terbaik bagi masyarakat, sehingga organisasi tetap memiliki reputasi kinerja yang unggul dan akuntabel dimata masyarakat.Oleh karenanya, kompetensi SDM pada setiap level manajemen menjadi urgen baik level pimpinan maupun staf pemerintahan. (Syarifudin Akhmad, 2014).
Undang-undang No. 13 tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan pasal 1 ayat 10 menyatakan bahwa Kompetensi adalah kemampuan kerja setiap individu yang mencakup aspek pengetahuan, keterampilan dan sikap kerja yang sesuai dengan standar yang ditetapkan. UU No. 20/2003 tentang Sisdiknas penjelasan pasal 35(1): “Kompetensi lulusan merupakan kualifikasi kemampuan lulusan yang mencakup sikap, pengetahuan, dan keterampilan sesuai dengan standar nasional yang telah disepakati”.
Lebih lanjut dijelaskan dalam Keputusan Kepala Badan Kepegawaian Negara Nomor 46a tahun 2003 Kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh seorang Pegawai Negeri Sipil berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya, sehingga Pegawai Negeri Sipil tersebut dapat melaksanakan tugasnya secara profesional, efektif dan efisien.
Seseorang yang memiliki kompetensi akan bekerja dengan pengetahuan dan keterampilannya sehingga dapat bekerja dengan mudah, cepat, intuitif dan dengan pengalamannya bisa meminimalkan kesalahan. Tiga kecenderungan ini juga selaras dengan pengertian kompetensi dalam penjelasan pasal 3 PP No.101 Tahun 2000 tentang Pendidikan dan Pelatihan Jabatan Pegawai Negeri Sipil
bahwa, yang dimaksud dengan kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh PNS berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya.
Dalam pengelolaan keuangan daerah yang baik, SKPD harus memiliki sumber daya yang berkualitas, didukung dengan latar belakang pendidikan akuntansi, sering mengikuti pendidikan dan pelatihan, dan mempunyai pengalaman dibidang keuangan hal tersebut diperlukan untuk menerapkan sistem akuntansi yang ada. Sumber daya manusia (SDM) yang kompeten tersebut akan mampu memahami logika akuntansi dengan baik. Kegagalan sumber daya manusia di Pemerintahan Daerah dalam memahami dan menerapkan logika akuntansi tentu akan berdampak pada kekeliruan dalam laporan keuangan yang dibuat dan ketidaksesuaian laporan dengan standar yang ditetapkan oleh pemerintah.
Dengan adanya sumber daya manusia yang kompeten maka waktu yang dibutuhkan dalam pembuatan laporan keuangan akan dapat dihemat. Semakin cepat suatu laporan keuangan disajikan maka akan semakin baik dan semakin dapat digunakan dalam hal pengambilan suatu keputusan.
Menurut PSAP 1 Paragraf 24 dikatakan bahwa, kegunaan laporan keuangan berkurang bilamana laporan tidak tersedia bagi pengguna dalam suatu periode tertentu setelah tanggal pelaporan. Faktor-faktor yang dihadapi seperti kompleksitas operasi suatu entitas pelaporan bukan merupakan alasan yang cukup atas kegagalan pelaporan yang tepat waktu.
2.1.4 Penerapan Sistem Pengedalian Internal
Pasal 33 ayat 1 PP Nomor 8 tahun 2006 tentang pelaporan keuangan dan kinerja instansi pemerintah, mengatakan untuk meningkatkan keandalan Laporan Keuangan dan Kinerja, setiap Entitas Pelaporan dan Akuntansi wajib menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern. Dijelaskan lebih lanjut dalam PP No. 60 Tahun 2008 tentang Sistem Pengendalian Internal Pemerintah (SPIP), bahwa:
Sistem Pengendalian Intern adalah proses yang integral pada tindakan dan kegiatan yang dilakukan secara terus menerus oleh pimpinan dan seluruh pegawai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien, keandalan pelaporan keuangan, pengamanan aset negara, dan ketaatan terhadap peraturan perundang-undangan.
Pengawasan Intern adalah seluruh proses kegiatan audit, reviu, evaluasi, pemantauan, dan kegiatan pengawasan lain terhadap penyelenggaraan tugas dan fungsi organisasi dalam rangka memberikan keyakinan yang memadai bahwa kegiatan telah dilaksanakan sesuai dengan tolok ukur yang telah ditetapkan secara efektif dan efisien untuk kepentingan pimpinan dalam mewujudkan tata kepemerintahan yang baik. Pengendalian intern ini diselenggarakan secara menyeluruh di lingkungan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. Untuk mencapai pengelolaan keuangan negara yang efektif, efisien, transparan, dan akuntabel, menteri/pimpinan lembaga, gubernur, dan bupati/walikota wajib melakukan pengendalian atas penyelenggaraan kegiatan pemerintahan.
Dengan adanya Sistem Pengendalian Intern diharapkan dapat menciptakan kondisi dimana terdapat budaya pengawasan terhadap seluruh organisasi dan kegiatan sehingga dapat mendeteksi terjadinya sejak dini
kemungkinan penyimpangan serta meminimalkan terjadinya tindakan yang dapat merugikan negara.
Sistem Pengendalian Internal Pemerintah sebagaimana tercantum dalam PP No. 60 Tahun 2008 terdiri atas unsur:
1) Lingkungan Pengendalian
Dalam hal ini, pimpinan Instansi Pemerintah wajib menciptakan dan memelihara serta menjaga lingkungan pengendalian yang menimbulkan perilaku positif dan kondusif untuk penerapan Sistem Pengendalian Intern dalam lingkungan kerjanya melalui, penegakan integritas dan nilai etika, komitmen para pegawai, kepemimpinan yang kondusif, pembentukan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan, pendelegasian wewenang dan tanggung jawab yang tepat, penyusunan dan penerapan kebijakan yang sehat dan pembinaan sumber daya manusia, perwujudan peran aparat pengawasan intern pemerintah yang efektif, serta hubungan kerja yang baik dengan Instansi Pemerintah terkait.
2) Penilaian Resiko
Dalam hal penilaian resiko, pimpinan instansi pemerintahan terlebih dahulu menetapkan visi dan misi dan serta tujuan dalm instansi pemerintahn tersebut, selanjutnya Instansi Pemerintah mengidentifikasi secara efisien dan efektif risiko yang dapat menghambat pencapaian tujuan tersebut, baik yang bersumber dari dalam maupun luar instansi Penilaian risiko sebagaimana dimaksud terdiri atas, identifikasi risiko dan analisis risiko.
3) Kegiatan Pengendalian
Kegiatan pengendalian ialah serangkaian prosedur-prosedur dan tindakan-tindakan dalam rangka dilakukannya pengendalian dan meyakini instruksi pimpinan terlaksana dengan baik. Kegiatan pengendalian harus efisien dan efektif dalam pencapaian tujuan organisasi.Kegiatan pengendalian terdiri atas reviu atas kinerja Instansi Pemerintah yang bersangkutan, adanya pembinaan sumber daya manusia, pengendalian atas pengelolaan sistem informasi, adanya pengendalian fisik atas aset, penetapan indikator dan ukuran kinerja, adanya pemisahan fungsi, adanya otorisasi atas transaksi dan kejadian yang dianggap penting, pencatatan yang akurat dan tepat waktu atas transaksi dan kejadian, akuntabilitas dan dokumentasi yang baik atas Sistem Pengendalian Intern serta transaksi dan kejadian penting.
4) Informasi dan Komunikasi
Pimpinan Instansi Pemerintah wajib mengidentifikasi, mencatat, dan mengkomunikasikan informasi dalam bentuk dan waktu yang tepat dalam instansi pmerintah tersebut, untuk menyelenggarakan komunikasi yang efektif sebagaimana, pimpinan Instansi Pemerintah harus sekurang-kurangnya, menyediakan dan memanfaatkan berbagai bentuk dan sarana komunikasi serta, mengelola, mengembangkan, dan memperbarui sistem informasi secara terus menerus.Instansi Pemerintah harus memiliki informasi yang relevan dan dapat diandalkan baik informasi keuangan maupun nonkeuangan, yang berhubungan dengan peristiwa-peristiwa eksternal serta internal.Instansi Pemerintah mengelola,
mengembangkan, dan memperbarui sistem informasi untuk meningkatkan kegunaan dan keandalan komunikasi informasi secara terus menerus.
5) Pemantauan
Pemantauan Sistem Pengendalian Intern dilaksanakan melalui pemantauan berkelanjutan, evaluasi terpisah, dan tindak lanjut rekomendasi hasil audit dan reviu lainnya. Pemantauan berkelanjutan diselenggarakan melalui kegiatan pengelolaan rutin, supervisi, pembandingan, rekonsiliasi, dan tindakan lain yang terkait dalam pelaksanaan tugas. Evaluasi terpisah diselenggarakan melalui penilaian sendiri, reviu, dan pengujian efektivitas Sistem
Pelaksanaan audit intern di lingkungan Instansi Pemerintah dilakukan oleh pejabat yang mempunyai tugas melaksanakan pengawasan dan yang telah memenuhi syarat kompetensi keahlian sebagai auditor. Menurut PP Nomor 60 Tahun 2008 Pasal 49 mengatakan bahwa Aparat pengawasan intern pemerintah terdiri atas:
a. BPKP;
b. Inspektorat Jenderal atau nama lain yang secara fungsional melaksanakan pengawasan intern;
c. Inspektorat Provinsi; dan d. Inspektorat Kabupaten/Kota.
2.1.5 Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan
Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan (SAP) harus mengacu pada Peraturan Pemerintah yang berlaku, dalam hal ini Peraturan Pemerintah Nomor 71 Tahun 2010 tentang Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya disingkat SAP, adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah.
(Pasal 1 ayat 3 PP No 71 Tahun 2010). Penerapan standar akuntansi pemerintahan merupakan suatu proses dilaksanakannya standar akuntansi pemerintahan sebagaimana diatur dalam PP 71 Tahun 2010 oleh entitas atau instansi pemerintahan dalam rangka menyusun laporan keuangannya.
Menurut Halim dan Kusufi (2014:263) standar akuntansi merupakan pedoman dan prinsip-prinsip yang mengatur pelaksanaan akuntansi dalam penyusunan laporan keuangan untuk tujuan pelaporan kepada para pengguna laporan keuangan. Jika standar akuntansi yang memadai tidak ada maka akan menimbulkan implikasi yang negatif, yaitu berupa rendahnya reliabilitas dan objektivitas suatu informasi yang disajikan, inkonsistensi dalam pelaporan keuangan serta dapat menyulitkan dalam proses pengauditan.
Laporan Keuangan untuk tujuan umum adalah laporan keuangan yang ditujukan untuk memenuhi kebutuhan bersama sebagian besar pengguna laporan, untuk mencapai hal tersebut, Standar Akuntansi Pemerintahan menetapkan seluruh pertimbangan dalam rangka penyusunan dan penyajian suatu laporan keuangan, pedoman struktur laporan keuangan dan persyaratan minimum akan isi laporan keuangan tersebut.
Melalui penerapan SAP akan dapat disusun laporan keuangan yang useful. Kegunaan laporan keuangan ditentukan oleh isi informasi yang disajikan dalam laporan keuangan tersebut, agar laporan keuangan berisi informasi yang bermakna maka laporan keuangan harus disusun berpedoman pada SAP (Adhi dan Suhardjo, 2013).
Dengan diterbitkannya PP Nomor 71 Tahun 2010 tentang standar akuntansi keuangan, maka komponen laporan keuangan pemerintah terdiri atas tujuh laporan yang terbagi dalam pelaporan pelaksanaan anggaran yaitu laporan realisasi anggaran dan Laporan perubahan saldo anggaran lebih, dan laporan finansial yaitu neraca, laporan operasional, laporan arus kas dan laporan perubahan ekuitas ditambah catatan atas laporan keuangan. (Halim dan Kusufi, 2014:263).
2.1.6 Pemanfaatan Teknologi Informasi
Menurut Aini (2017), Teknologi informasi dapat diartikan sebagai suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara untuk menghasilkan informasi yang berkualitas, yaitu informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu, yang digunakan untuk keperluan pribadi, bisnis, dan pemerintahan dan merupakan informasi yang strategis untuk pengambilan keputusan.
Dalam PP Nomor 56 Tahun 2005 tentang sistem informasi keuangan daerah dikatakan bahwa, Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah berkewajiban untuk mengembangkan dan memanfaatkan kemajuan teknologi informasi untuk meningkatkan kemampuan mengelola keuangan daerah, dan menyalurkan Informasi Keuangan Daerah kepada pelayanan publik. Pemerintah perlu mengoptimasikan pemanfaatan kemajuan teknologi informasi untuk membangun jaringan sistem informasi manajemen dan proses kerja yang memungkinkan
pemerintahan bekerja secara terpadu dengan menyederhanakan akses antar unit kerja.
Tersedianya teknologi informasi diharapkan dapat membantu dalam proses pelaporan keuangan sehingga dapat menghasilkan laporan keuangan yang handal dan tepat waktu (Pamungkas, 2017)
2.2 Tinjauan Penelitian Terdahulu
Tabel 2.1 Tinjauan Penelitian Terdahulu Nama terhadap kualitas laporan keuangan
Inapty,
2) Kompetensi Aparatur tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas informasi laporan keuangan
3) Peran Audit Internal tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan
2) Pemanfaatan Teknologi Informasi berpengaruh terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah
2) Sistem Pengendalian Internal berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan pemerintah daerah
3) Teknologi Informasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan pemerintah daerah.
Synthia
1) Human resources positive influence on the quality of local government
Sumber : Diolah dari penelitian terdahulu
Adhi dan Suhardjo (2013) melakukan penelitian tentang Pengaruh penerapan standar akuntansi pemerintahan dan kualitas aparatur pemerintah daerah terhadap kualitas laporan keuangan (studi kasus pada pemerintah kota Tual), dengan melakukan analisis regresi linear berganda, didapat hasil yaitu Penerapan Standar Akuntansi pemerintahan dan aparatur pemerintah daerah berpengaruh postif terhadap kualitas laporan keuangan baik secara simultan maupun parsial.
Budiawan dan Purnomo (2014) meneliti tentang Pengaruh Sistem Pengendalian Internal dan Kekuatan Koersif Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Studi Pada Pemerintah Daerah Kabupaten/ Kota di wilayah I BogorProvinsi Jawa Barat.Hasil peneitian tersebut ialah Sistem Pengendalian Internal tidak berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah, dan Kekuatan Koersif berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah.
Inapty, dan Martiningsih (2016) meneliti Pengaruh Penerapan Standar Akuntansi Pemerintah, Kompetensi Aparatur dan Peran Audit Internal Terhadap Kualitas Informasi Laporan Keuangan yang dilakukan pada SKPD Provinsi NTB adapun hasil penelitian tersebut ialah, Penerapan Standar Akuntansi Pemrintahan tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas informasi laporan keuangan, Kompetensi Aparatur tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas informasi laporan keuangan dan Peran Audit Internal tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas informasi laporan keuangan.
Pamungkas (2017) meneliti Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah studi Empiris pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan danAset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Boyolali dengan uji regresi linear berganda maka hasil dari penelitian ini ialah, Kompetensi Sumber Daya Manusia dan Pemanfaatan Teknologi Informasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah baik secara simultan maupun parsial.
Wijayanti (2017) malakukan penelitian tentang Pengaruh Kompetensi Sumber Daya Manusia, Sistem Pengendalian Intern, dan Teknologi Informasi Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah DaerahstudiEmpiris pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Sukoharjo, dengan analisis regresi linear berganda maka didapat hasil yaitu, Kompetensi Sumber Daya Manusia tidak berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah daerah, Sistem Pengendalian Internal berpengaruh
signifikan terhadap kualitas laporan pemerintah daerah dan Teknologi Informasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan pemerintah daerah.
Synthia (2017) meneliti tentang The Effect of Human Resources Competence and Application of Regional Financial Accounting Systems on Quality of Financial Report (SKPD Batam Government) hasil penelitian tersebut ialah Human resources positive influence on the quality of local government financial statements Batam, The regional financial accounting system positive influence on the quality of local government financial statements Batam
2.3 Kerangka Konseptual
Kerangka konseptual dimaksudkan sebagai konsep untuk menjelaskan mengungkapkan keterkaitan antara variabel yang akan diteliti berdasarkan latar belakang dari kajian-kajian teori yang telah dikemukakan di atas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada atau tidak adanya pengaruh hubungan antara variabel bebas yaitu Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Sistem Pengendalian Internal, Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap variabel terikat yaitu Kualitas Laporan Keuangan baik secara parsial maupun secara simultan. Adapun kerangka konseptual penelitian ini digambarkan pada model berikut ini:
Variabel Independen Variabel dependen
Variabel Dependen
Gambar 2.1 Kerangka Konseptual Sumber : Diolah oleh peneliti 2018
2.4 Pengembangan Hipotesis
2.4.1 Hubungan Kompetensi Sumber Daya Manusia Terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Sumber daya manusia menjadi faktor penentu keberhasilan pelaksanaan organisasi yang efektif (Griffin, dan Ebert, 2010:321). Laporan keuangan pemerintah yang berkualitas tentu dihasilkan oleh Sumber Daya Manusia yang berkualitas pula, dengan adanya kompetensi sumber daya manusia maka waktu pembuatan laporan keuangan akan dapat dihemat. Semakin cepat laporan keuangan disajikan maka akan semakin baik dalam hal pengambilan keputusan (Mardiasmo, 2009: 146). Dalam penelitian Pamungkas (2017) yang dilakukan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten
Penerapan Sistem Pengendalian Internal (X2)
Kualitas Laporan Keuangan Pemerintah Daerah
(Y) Kompetensi Sumber Daya
Manusia (X1)
Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan(X3)
Pemanfaatan Teknologi Informasi (X4)
Boyolali mengatakan bahwa kompetensi sumber daya manusia berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Hasil penelitian tersebut juga didukung oeh penelitian yang dilakukan oleh Riandani (2017) yang dilakukan pada SKPD Kab.Limapuluh Kota juga mengatakan hal yang demikian.
H1 : Kompetensi sumber daya manusia berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan pemerintah Daerah Kabupaten Dairi
2.4.2 Hubungan Penerapan Sistem Pengendalian Internal Terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Pasal 33 ayat 1 PP Nomor 8 tahun 2006 tentang pelaporan keuangan dan kinerja instansi pemerintah, mengatakan Untuk meningkatkan keandalan Laporan Keuangan dan Kinerja sebagaimana diatur dalam Peraturan Pemerintah ini, setiap Entitas Pelaporan dan Akuntansi wajib menyelenggarakan Sistem Pengendalian Intern. Hasil penelitian Wijayanti (2017) yang dilakukan pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Sukoharjo mengatakan bahwa sistem pengendalian internal berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Senada dengan hasil penelitian Rahayu dkk (2017) yang dilakukan pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Gianyar juga mengatakan bahwa sistem pengendalian internal berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan.
H2 : Penerapan sistem pengendalian internal berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Dairi
2.4.3 Hubungan Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan Terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Halim dan Kusufi (2014) mengemukakan bahwa tidak adanya standar akuntansi yang memadai akan menimbulkan implikasi negatif berupa rendahnya reliabilitas dan objektivitas informasi yang disajikan, inkonsistensi dalam pelaporan keuangan serta menyulitkan dalam pengauditan. Standar tersebut penting agar laporan keuangan lebih berguna, dapat dimengerti dan dapat diperbandingkan serta tidak menyesatkan. Hasil penelitian Adhi dan Suardjo (2013) yang dilakukan pada SKPD Kabupaten Tual mengatakan bahwa penerapan standar akuntansi pemerintahan berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Hal yang sama juga didukung oleh hasil penelitian Munasyir (2015) yang dilakukan pada SKPD Kabupaten Aceh Utara yang menyatakan bahwa penerapan standar akuntansi pemerintahan berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan.
H3 :Penerapan standar akuntasi pemerintahan berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Dairi 2.4.4 Hubungan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kualitas
Laporan Keuangan
Teknologi informasi yang terus berkembang dewasa ini tentu dapat dimanfaatkan oleh entitas pemerintah sebagai alat bantu dalam menyusun dan menghasilkan laporan keuangan yang berkualitas secara efektif, efisien dan ekonomis, dengan adanya sistem komputer dapat membantu entitas pemerintah dalam menghasilkan laporan keuangan yang tepat waktu. Penelitian yang
dilakukan oleh Pamungkas (2017) pada Dinas Pendapatan Pengelolaan Keuangan dan Aset Daerah (DPPKAD) Kabupaten Boyolali mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan.Hasil penelitian tersebut juga didukung oleh hasil penelitian Rahayu dkk (2017) yang dilakukan pada Dinas Pendapatan Kabupaten Gianyar yang juga mengatakan bahwa pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh signifikan terhadap kualitas laporan keuangan. Maka dari penjelasan tersebut dapat ditarik hipotesis
H4 :Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh positif terhadap kualitas laporan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Dairi
2.4.5 Hubungan Kompetensi Sumber Daya Manusia, Penerapan Sistem Pengendalian Internal, Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan, dan Pemanfaatan Teknologi Informasi terhadap Kualitas Laporan Keuangan
Hasil penelitian dari Munasyir (2015) yang meneliti tentang pengaruh Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan dan Sistem Pengendalian Internal terhadap Kualitas Laporan Keuangan pada SKPD Kabupaten Aceh Utara menunjukkan bahwa secara simultan Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan dan Sistem Pengendalian Internal berpengaruh terhadap Kualitas Laporan Kuangan. Penelitian Rahayu dkk (2017) yang meneliti Pengaruh Profesionalisme Pengelolaan Keuangan Daerah, Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Pengendalian Internal Terhadap Kualitas Laporan Keuangan Pada Dinas Pendapatan Daerah Kabupaten Gianyar juga menunjukkan hasil yang mengatakan bahwa secara simultan variabel
Profesionalisme Pengelolaan Keuangan Daerah, Pemanfaatan Teknologi Informasi, dan Pengendalian Internal memiliki pengaruh terhadap kualitas laporan keuangan.
H5 : Kompetensi sumber daya manusia Penerapan system pengendaliian internal, Penerapan standar akuntansi pemerintahan dan Pemanfaatan teknologi informasi berpengaruh simultan terhadap kualitas laporan keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Dairi
BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Jenis Penelitian
Penelitian ini ialah penelitian asosiatif kausal. Penelitian asosiatif kausal merupakan penelitian yang bertujuan untuk mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih dimana hubungan tersebut bersifat sebab akibat (Sugiyono, 2014:11-12).
3.2 Defenisi Operasional dan Skala Pengukuran Variabel 3.2.1 Kualitas Laporan Keuangan
Dalam PP Nomor 71 Tahun 2010 dijelaskan Kualitas laporan keuangan ialah ukuran-ukuran normatif yang perlu diwujudkan dalam informasi akuntansi, sehingga dapat memenuhi tujuannya. Ada empat karakteristik yang merupakan prasyarat normatif yang diperlukan agar laporan keuangan pemerintah dapat memenuhi kualitas yang dikehendaki yaitu relevan, andal, dapat dibandingkan dan dapat dipahami. Skala yang digunakan adalah skala Likert Interval
3.2.2 Kompetensi Sumber Daya Manusia
Kompetensi sumber daya manusia adalah melukiskan suatu karakteristik yang terdiri dari pengetahuan, keterampilan, serta prilaku dan pengalaman yang dimiliki manusia dalam melakukan suatu pekerjaan atau peran tertentu secara efektif. Pasal 3 PP No.101 Tahun 2000 bahwa, yang dimaksud dengan kompetensi adalah kemampuan dan karakteristik yang dimiliki oleh PNS berupa pengetahuan, keterampilan, dan sikap perilaku yang diperlukan dalam pelaksanaan tugas jabatannya. Indikator yang digunakan ialah pemahaman
pegawai akan tugas dan fungsi, pelatihan yang diikuti, serta pengalaman. Skala yang digunakan adalah skala Likert Interval
3.2.3 Penerapan Sistem Pengendalian Internal
Indikator penerapan sistem pengendalian internal menurut Peraturan Menteri Dalam Negeri (Permendagri) Nomor 13 Tahun 2006 Pasal 313 Ayat 3 yaitu sekurang-kurangnya memenuhi kriteria, terciptanya lingkungan pengendalian yang sehat, terselenggaranya penilaian risiko, terselenggaranya aktivitas pengendalian, terselenggaranya sistem informasi dan komunikasi, dan terselenggaranya kegiatan pemantauan pengendalian. Skala yang digunakan adalah skala Likert Interval.
3.2.4 Penerapan Standar Akuntansi Pemerintahan
Standar Akuntansi Pemerintahan. Standar Akuntansi Pemerintahan, yang selanjutnya disingkat SAP, adalah prinsip-prinsip akuntansi yang diterapkan dalam menyusun dan menyajikan laporan keuangan pemerintah. (Pasal 1 ayat 3 PP No 71 Tahun 2010). Variabel ini diukur dengan ada atau tidaknya Laporan realisasi anggaran (LRA), laporan perubahan saldo anggaran lebih (LPSAL), neraca, laporan operasional (LO), laporan perubahan ekuitas, Laporan Arus Kas (LAK) dan Catatan atas laporan keuangan (CALK), koreksi . Skala yang digunakan adalah skala Likert Interval
3.2.5 Pemanfaatan Teknologi Informasi
Menurut Aini (2017), Teknologi informasi dapat diartikan sebagai suatu teknologi yang digunakan untuk mengolah data, termasuk memproses, mendapatkan, menyusun, menyimpan, memanipulasi data dalam berbagai cara